Pada hari Minggu 29 Juni 2025 sesudah makan pagi Rm. Jarot berkata kepada Rm. Bambang "Dina Minggu mboten enten tamu nggih?" (Ini hari Minggu tetapi tak ada rombongan tamu, ya?). Tanggapan Rm. Bambang adalah "Malah isa ngalami Minggiu tenan" (Kita malah bisa sungguh menikmati sungguh-sungguh hari Minggu). Rm. Jarot memahami maksud Rm. Bambang dan mengatakan "Sungguh hari libur". Ternyata, ketika Rm. Hartanta, sesudah melihat HP, berkata "Niki mendadak onten rombongan ajeng berkunjung. Mangke titip, nggih. Kula ajeng kesah" (Ini mendadak ada rombongan akan berkunjung. Titip disambut, ya. Saya akan pergi).
Pada sekitar jam 09.30 rombongan tamu berdatangan. Rombongan terdiri dari bapak-bapak dan ibu-ibu yang tampak sudah masuk lansia. Para rama sepuh yang menyambut adalah Rm. Yadi, Rm. Jarot, Mgr. Blasius, dan Rm. Bambang. Pertemuan sungguh santai tanpa protokoler. Salah satu bapak sepuh memegang gitar kecil atau ukulele. Kadang-kadang para tamu mendedangkan lagu-lagu rohani. Omongan-omongan dengan para rama sepuh yang sering ngelantur kadang dihentikan oleh Rm. Bambang dengan berseru "Nyanyiiiii ....". Maka berlagulah para tamu dengan iringan ukulele. Omongan bisa berbacam-macam seperti umur dan hal yang paling menyebalkan ketika berkarya. Bahkan omongan-omongan sembrono juga muncul seperti pertanyaan "Apakah rama pernah pacaran?", dan kepada yang pernah muncul pertanyaan "Apakah pernah mencium?" Suasana akrab juga terdukung oleh salah satu anggota tamu yang pertanya kepada Rm. Bambang "Dulu rama siswa SMA de Britto, ya?". Ternyata penanya adalah adik kelas Rm. Bambang. Lebih meriah lagi ketika ada yang mengingatkan "Beliau kan Rm. Bambang yang dulu pernah membina Dewan Algon". Merekapun teringat bahwa ketika masih berkarya, Rm. Bambang pernah sampai Paroki Aloysius Gonzaga, Surabaya. Para ramapun sadar bahwa yang datang bukan dari Jakarta tetapi dari Surabaya. Mereka sedang dalam perjalanan Yubelum beberapa hari.
No comments:
Post a Comment