Showing posts with label PASTORAL KETUAAN. Show all posts
Showing posts with label PASTORAL KETUAAN. Show all posts

Thursday, March 26, 2026

Minggu Palma: Sejarah dan Makna Mendalam Umat Katolik

diambil dari https://www.kompas.com/skola/read/2025/04/13/090000769
Kompas.com, 13 April 2025, 09:00 WIB
Serafica Gischa 
Editor

Sejumlah umat Katolik mengikuti Misa Minggu Palma di Gereja Santo Thomas, Seyegan, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (10/4/2022). Misa yang dilaksanakan dengan pembatasan jumlah umat karena Pandemi COVID-19 itu menjadi rangkaian perayaan Paskah serta guna memperingati datangya Yesus di Yerusalem.(ANTARA FOTO/ANDREAS FITRI ATMOKO)

KOMPAS.com
- Setiap tahun, di hari Minggu menjelang Paskah, gereja Katolik di seluruh dunia bahkan Indonesia dipenuhi umat dengan membawa daun palma atau palem.  

Kebanyakan dari mereka membawanya dari rumah. Daun-daun itu diangkat tinggi saat imam memberkatinha, dan suasna misa terasa berbeda. 

Khidmat, meriah, sekaligus menyentuh. Hari itu disebut Minggu Palma.  

Apa sebenarnya arti Minggu Palma? Kenapa para umat Katolik membawa daun palma? Apa hubungannya dengan Paskah? Yuk, kita cari tahu.

Asal-usul Minggu Palma  

Melansir dari situs resmi Vatican.va, Minggu Palma mengenang peristiwa Yesus memasuki Kota Yerusalem, beberapa hari sebelum penyaliban-Nya. 

Peristiwa tersebut tercatat dalam keempat injil, yaitu Matius 21:1-11, Markus 11:1-11, Lukas 19:28-44, dan Yohanes 12:12-19.  

Yesus Kristus memasuki Kota Yerusalem dengan penuh kemuliaan. Umat menyambut-Nya dengan daun palma dan sorak "Hosana". Karena mereka percaya Yesus adalah Mesias yang mereka nantikan. 

Seruan Hosana dalam bahasa Ibrani yang ditujukan kepada Yesus artinya "selamatkanlah" atau "tolonglah kami".  

Peristiwa tercatat dalam Kitab Suci dan menjadi simbol besar dalam umat Katolik, bahwa Yesus datang sebagai Raja Damai.  

Datang bukan dengan kuda perang seperti penguasa, tetapi dengan menunggangi keledai, lambang kerendahan hati. 

Mengapa daun palma?  

Merangkum dari buku Memahami Rabu Abu, Prapaskah, dan Minggu Palma (2017) karya I Marsana Windhu, tumbuhan palma banyak tumbuh di Israel dan negara lain, termasuk Indonesia.  

Daun palma dipakai sebagai lambang kemenangan bagi para martir. Para martir adalah orang-orang yang mati suci karena mempertahankan iman akan Yesus.  

Bagi umat Katolik, makna daun palma, yakni: 
  • Daun palma melambangkan kemenangan rohani, bahwa Yesus akan mengalahkan maut. 
  • Dalam tradisi gereja, daun palma yang diberkati pada hari Minggu Palma sering dibawa pulang untuk disimpan di rumah sebagai lambang perlindungan dan pengingat akan kerendahan hati Kristus. 
  • Setahun kemudian, daun-daun tersebut dibakar dan abunya digunakan dalam perayaan Rabu Abu, membuka masa Prapaskah berikutnya. 
Tradisi Minggu Palma  

Di Indonesia, perayaan Minggu Palma sangat hidup. Di kota-kota besar, proses daun palma biasanya digelar sebelum misa, diikuti umat dari berbagai usia.  

Di beberapa daerah, Minggu Palma sering dirayakan dengan drama perjalan Yesus memasuki Kota Yerusalem atau proses yang menyentuh hati. 

Umat dari berbagai latar belakang sosial ikut terlibat. Ini menunjukkan bahwa Minggu Palma adalah perayaan iman bersama, bukan hanya urusan pribadi. 

Minggu Palma yang menjadi awal Pekan Suci merupakan Minggu terpenting dalam kehidupan umat Katolik yang berpuncak pada Paskah. 

Peristiwa ini mengajak umat untuk:  
  • Merenungkan arti pengorbanan 
Yesus tidak hanya disambut, tapi juga ditolak dan disalibkan. Kita diingatkan bahwa hidup tidak hanya soal pujian, tapi juga kesetiaan dalam penderitaan. 
  • Melatih kerendahan hati
Dalam dunia yang penuh persaingan, Yesus datang tidak untuk menang sendiri, tapi untuk memberi diri. Ini menjadi inspirasi untuk hidup lebih rendah hati, lebih melayani. 
  • Menjalani iman dengan sadar 
Minggu Palma bukan seremoni, tapi momen untuk memperbarui komitmen kita kepada Allah—bahwa kita ikut dalam jalan salib-Nya, bukan hanya dalam kemuliaan-Nya.

Thursday, March 12, 2026

Ikut Tuhan Yesus di Tengah Dunia

Ibu-ibu Paroki Muntilan meminta saya mengisi rekoleksi pada Senin 9 Maret 2026. Tema yang dikirim tertulis lewat WA adalah
Melayani Dengan Hati Maria, Bekerja Dengan Semangat Marta. Ini tentu berkaitan Maria dan Marta yang punya saudara bernama Lazarus. Mereka tinggal di Betania dan punya hubungan dekat dengan Tuhan Yesus Kristus. Berkaitan dengan tema pertemuan, saya membuka Injil Lukas 10:38-42 :

38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. 39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, 40 sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." 41 Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, 42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."

Semua Dekat Tuhan Yesus Lhooo

Kalau tak hati-hati kita bisa mempertentangkan Marta dan Maria. Kita bisa menganggap Marta mengutamakan kegiatan duniawi dan Maria mengutakan hidup rohani. Kita bisa menilai berdasarkan Marta yang sibuk menyiapkan jamuan dan Maria yang tekun mendengarkan sabda Tuhan Yesus. Yang jelas, kalau kita membuka-buka Kitab Suci, kita juga akan menemukan bagaimana Marta juga amat mengandalkan Tuhan Yesus. Coba kita perhatikan bagaimana keduanya sama-sama dekat Tuhan Yesus ketika berhadapan dengan kematian Lazarus saudaranya dalam Injil Yohanes 11:1-36 :


1 Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta. 2 Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya. 3 Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: "Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit." 4 Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan." 5 Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. 6 Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada; 7 tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Mari kita kembali lagi ke Yudea." 8 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?" 9 Jawab Yesus: "Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini. 10 Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya." 11 Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: "Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya." 12 Maka kata murid-murid itu kepada-Nya: "Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh." 13 Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa. 14 Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: "Lazarus sudah mati; 15 tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya." 16 Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain: "Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia." 17 Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. 18 Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira dua mil jauhnya. 19 Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. 20 Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. 21 Maka kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. 22 Tetapi sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya." 23 Kata Yesus kepada Marta: "Saudaramu akan bangkit." 24 Kata Marta kepada-Nya: "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman." 25 Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, 26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" 27 Jawab Marta: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia." 28 Dan sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: "Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau." 29 Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus. 30 Tetapi waktu itu Yesus belum sampai ke dalam kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia. 31 Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ. 32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati." 33 Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata: 34 "Di manakah dia kamu baringkan." Jawab mereka: "Tuhan, marilah dan lihatlah!" 35 Maka menangislah Yesus. 36 Kata orang-orang Yahudi: "Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!"

Dari paparan Injil Yohanes itu kita bisa tahu bahwa baik Marta maupun Maria sama-sama sungguh beriman kepada Tuhan Yesus. Keduanya percaya bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dan hidup. Bahkan sekeluarga bersama Lazarus sama-sama mengalami kasih Kristus.

Ora et Labora

Bagi mereka yang kerap omong sikap kerohanian, tampilnya Marta dan Maria sering dikatakan sajian 2 model penghayatan iman. Santa Marta kerap dijadikan model orang yang menekankan aktivitas, dan Maria menekankan model kontemplatif yang banyak hidup dalam keheningan seperti pertapa. Ketika saya merenungkannya, saya bertanya apakah yang banyak aktivitas kadar renung heningnya minim? Sebaliknya, apakah yang hidup dalam lingkungan renung hening seperti pertapaan adalah orang-orang kurang ativitas?

Dalam menimbang-nimbang pertanyaan itu, saya teringat salah satu semboyan hidup dalam menghayati kekatolikan. Yaitu Ora et Labora (Berdoa dan Bekerja). Ini adalah semboyan yang berasal dari Santo Benediktus di abad V yang menghidupi dan mengembangkan model pertapaan. Yosef MLHello dalam judul Mengenal Tradisi Ora et Labora dalam Bingkai Kehidupan Manusia yang saya ketemukan dalam https://www.kompasiana.com mengatakan :


Bagi Benediktus, kata 'labora' digunakan untuk mengungkapkan 'kerja tangan' atau 'opus manual'.  Dalam 'opus manual', kerja mendapatkan arti atau makna baru yang berarti berdoa, meditasi, membaca dan bekerja. 

Dengan kata lain, tidak ada lagi pemisahan antara bekerja di satu pihak dengan berdoa di pihak lain, sehingga keduanya seharusnya dilakukan bersamaan.

Dari satu sisi kesejatian manusia adalah ciptaan Allah sehingga harus menjaga keeratan dengan-Nya lewat doa. Sementara itu tidak seperti hewan yang hanya hidup sesuai apapun yang disediakan oleh alam, manusia sungguh manusiawi kalau bekerja. Berkaitan dengan tokoh Marta dan Maria dalam pembicaraan ini, saya tak akan mengulas satu per satu riwayat hidupnya. Kalau ada yang yang menyoalkan apakah Maria saudari Marta sama dengan Maria Magdalena atau tidak, saya tak akan membicarakan. Bagi saya keduanya masuk dalam kalangan para perempuan yang biasa mengikuti Tuhan Yesus dan melayani Tuhan dan para rasul sebagaimana dikatakan oleh Santo Lukas bahwa “beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes,  Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.” (Luk 8:2-3) Marta dan Maria termasuk yang ikut aktif bersama Yesus dan para murid bahkan ikut ambil bagian dalam pembeayaan kegiatan. Bahkan Maria dan Marta sama-sama biasa jadi pendoa khusus dan di ketuaannya menjadi pendoa khusus. Saya menemukan ini dalam katakombe.org/para-kudus. Untuk Santa Maria Magdalena yang peringatannya pada tanggal 22 Juli ada catatan “Tradisi Perancis mengatakan bahwa Maria, Lazarus, dan beberapa sahabat Yesus datang ke Marseilles, Prancis, menginjili dan mengkristenan seluruh wilayah Provence, dan kemudian menyepi dan hidup sebagai pertapa sampai saat kematiannya  di La Sainte-Baume.” Sedang untuk Santa Marta yang peringatannya 29 Juli “Salah satu yang paling populer adalah Legenda tentang makam St. Martha si Tarascon Perancis. Dikatakan bahwa Marta meninggalkan Yudea dan pergi ke Tarascon, Prancis. Ia melalui hari-harinya di desa tersebut dengan berdoa dan berpuasa sampai pada akhir hidupnya. Masih menurut legenda; Marta meninggal di Tarascon, dan dimakamkan di ruang bawah tanah Gereja Collegiate di Tarascon.” Baik Maria maupun Marta sama-sama aktif menjadi pewarta iman dalam hidupnya. Mereka pasti juga selalu olah rohani sehingga di usia tuanya bisa hidup dalam kesendirian tak lepas dari kemesraan dengan Tuhan.

Bersama Tuhan di Tengah Dunia

Pada hemat saya untuk menjaga dan mengembangkan diri sebagai manusia sejati adalah menjaga kesadaran dan penghayatan untuk tetap bersama Tuhan di tengah-tengah kesibukan duniawi. Bukankah Tuhan Yesus pernah meminta Allah Bapa untuk para murid-Nya “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia” (Yoh 17:15-18). Ini bisa terjadi kalau kita selalu memelihara dan mengembangkan iman. Saya biasa berpegang pada rumusan dalam Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang (Ardas KAS) 1996-2000 yang mengatakan bahwa “Beriman berarti semakin mengikuti Tuhan Yesus Kristus dalam perkembangan situasi hidup dan budaya setempat”. Di sini saya mengetengahkan pengalaman yang merupakan derap batin terhadap 3 hal : sadar realita, sadar pegangan iman, rela dalam bertindak. Semua ini dijalani dengan pembiasaan sambung hatin dengan Tuhan dalam hati. Kalau saya biasa sambung dengan yang ada dalam hati, sadar atau tidak sadar saya jumpa Tuhan. Bukankah Santo Paulus berkata “tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah” (1Kor 6:19). Untuk menemukan kesadaran akan realita dan pegangan iman serta rela dalam bertindak, dalam olahan batin saya amat diwarnai pola budaya Jawa yang tertanam secara alami dalam diri saya sejak bayi.

Sadar realita

Bagi saya kesadaran akan realita tidak sekedar tahu kenyataan hidup yang saya hadapi. Tetapi itu harus menjadi kerelaan dan penerimaan serta kenyamanan berada di tengah-tengahnya. Saya meyakini ini sebagai upaya batin untuk bisa rila, nrima, dan sabar berhadapan dengan realita. Proses upaya batin ini bisa terjadi kalau selalu berjuang untuk selalu menjadikan segalanya dialog dengan Tuhan dalam hati. Bagi saya ini adalah model kerohanian Bunda Maria yang “menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (Luk 2:19).

  • Rila. Kata rila dalam bahasa Jawa berarti membiarkan yang ada sesuai adanya. Kalau yang ada itu menyenangkan atau cocok dengan diri, tentu saja itu tak akan menjadi soal. Yang jadi soal kalau adalah kalau saya tidak suka bahkan bisa sungguh tidak menghadirkan kenyamanan apalagi kalau sampai memuakkan. Bagi saya dalam hal inilah masuk dalam relung hati menjadi tuntutan. Kalau hal yang tak menghadirkan rasa nyaman itu mewarnai hari hari saya, saya memanfaatkan saat kesendirian untuk diam mengomongkan dengan Tuhan secara jujur dalam relung hati. Kalau rasa negatif itu muncul di tengah mengikuti acara atau di tengah jumpa orang atau di tengah kesibukan, saya akan langsung omong singkat dengan kata-kata seperti mengirim WA singkat kepada Tuhan di dalam hati. Bisa juga di tengah suasana seperti itu dalam hati saya hanya menyebut “Gusti .... Gusti” (Tuhan .... Tuhan) berkali-kali. Dalam pengalaman saya, itu sungguh membuat saya menemukan rasa tidak terganggu. Memang, dalam hal kecil yang mengganggu saya bisa menemukan rasa enak bisa dalam sesaat atau beberapa jam atau sehari. Tetapi dalam hal besar ketenangan batin bisa terjapai bisa berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Saya yakin itu semua sesuai dengan proses keterbukaan saya terhadap karya Roh dalam hati saya. Sepanjang waktu berapa lamapun, dengan terbuka pada bimbingan Roh Kudus dalam hati, saya akan mengalami ketenangan batin berhadapan dengan yang tidak saya cocoki. Paling tidak yang tidak saya cocoki tidak akan menghadirkan trauma batin.
  • Nrima. Kalau orang sudah punya sikap batin tenang membiarkan yang dihadapi, yang sebenarnya tidak dicocoki, ada sesuai adanya, sikap rila akan berkembang ke sikap nrima, yaitu bisa menerima dengan ikhlas apa yang sebenarnya tidak cocok bahkan berseberangan. Sikap nrima sebenarnya merupakan buah sikap batin tenang dari sikap rila.
  • Sabar. Sabar dalam sikap hidup orang Jawa sebenarnya adalah toleransi. Puncak kemampuan bersikap rila dan nrima membuat orang bisa berdampingan dan ada bersama dengan yang tidak dicocoki. Orang bisa tetap tidak cocok bahkan tidak setuju, tetapi bisa tidak terganggu kenyamanannya ada bersamanya.

Sadar pegangan iman

Ketika akan memulai permenungan tentang kesadaran pegangan iman, hati saya tersentak akan kesadaran bahwa yang kini saya sajikan adalah derap penghayatan iman secara pribadi. Sedang proses sesudah sadar akan pengalaman akan realita kemudian diteruskan ke terang iman seperti Kitab Suci atau ajaran Gereja atau hal-hal lain disekitar dokumen Gereja, itu terjadi dalam proses pendampingan. Ada kelompok berkumpul dengan didampingi seorang pemandu. Dalam proses bisa terjadi refleksi pengalaman, analisis, menemukan terang iman, dan diakhiri dengan apa yang direncanakan akan dibuat. Proses seperti ini juga bisa terjadi secara pribadi bagi yang mengadakan olah rohani khusus seperti retret. Meskipun demikian, sekedar sharing untuk pengetahuan, saya akan menyampaikan beberapa pokok yang barangkali bisa bermanfaat untuk cakrawala pegangan menghayati realita hidup dengan terang iman.

  • Hening. Santa Theresa dari Kalkuta amat menekankan keheningan sebagai poros segala kegiatan untuk menjaga orang selalu ada dalam area kekudusan. Secara garis besar Santa Theresa yakin bahwa dengan hening orang berdoa, dengan doa orang beriman, dengan iman orang mengasihi, dengan kasih orang melayani, dan dalam melayani orang mengalami kedamaian batin dalam keheningannya. Bagi saya secara singkat keheningan dicapai kalau kita membiasakan diri membawa segalanya menjadi dialog batin, singkat atau leluasa, dalam relung hati. Seperti Bunda Maria, kita membiasakan diri memasukkan segalanya dalam hati dan merenungkannya entah sesaat entah leluasa. Dengan membiasakan intim dengan relung hati sadar atau tak sadar orang akan merasakan cahaya ilahi yang menjaga keberimanan hidup. Sebenarnya ketika berhadapan dengan realita, kalau sudah biasa menjaga keheningan hati, sikap rila akan cepat tercapai sehingga mudah untuk nrima dan sabar. Bahkan kebiasaan hening batin akan memudahkan orang bisa langsung nrima dan sabar ketika berhadapan dengan realita yang sebenarnya tidak dicocoki.
  • Ingat butir iman. Dengan biasa mengikuti kegiatan keagamaan, paling tidak dengan ikut Misa Mingguan, orang bisa memetik ajaran iman sekecil apapun. Itu bisa berasal dari homili ataupun omongan lain misalnya dalam kumpulan pendalaman iman atau Kitab Suci. Bahkan dari omong-omong baik serius maupun sembronoan, orang bisa menemukan hal baik. Bukankah segala yang baik berasal dari Allah. Ingat segala yang diciptakan Allah selalu baik (bandingkan Kej 1:3-25). Bahkan Tuhan Yesus mengatakan bahwa “Hanya Satu yang baik” (Mat 19:17). Karena kata “Satu” dengan “S” huruf besar, saya yakin itu adalah Allah. Dengan ingat butir iman, baik itu hal baik ataupun dari yang secara jelas khasanah keagamaan, orang bisa mendapatkan terang iman dari realita yang dihadapi. Kalau orang sudah oke dengan realita yang dihadapi, butir iman bisa mengukuhkannya atau bahkan menghadirkan cakrawala baik lainnya.
  • Baca Kitab Suci. Kitab Suci adalah dasar dalam penghayatan iman. Semua ajaran dan tatanan dalam kehidupan Gereja diturunkan dari semangat dasar pesan iman dalam Kitab Suci. Maka pembiasaan membaca Kitab Suci akan membuat orang mengakrabkan diri dengan apa yang dijadikan pegangan utama para rasul dan umat perdana. Tentu saja hal-hal yang tertangkap oleh pikiran atau perasaan atau kehendak dalam membaca harus menjadi bahan dialog batin dengan relung hati. Saya sendiri dalam keseharian hanya biasa membaca Kitab Suci bagian Injil yang menjadi bacaan Misa Harian. Tetapi keterbatasan saya kerap menghadirkan ingatan kata-kata iman ketika berhadapan dengan realita harian.

Tindakan iman

Ketika menyampaikan khotbah di bukit untuk massa pengikut (Mat 5-7), Tuhan Yesus menutup dengan kata-kata berikut :


"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya." 

Kalau tak hati-hati orang bisa puas karena bisa menjalani agama dengan segala kebiasaan keagamaannya. Kalau tak hati-hati orang bisa bangga karena memiliki berbagai pengetahuan Kitab Suci dan ajaran-ajaran serta tatanan dalam Gereja. Orang bisa mantap ketika mampu menyebut Tuhan dengan dukungan pemahaman akan Dia. Di sinilah Tuhan Yesus berkata “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 7:21). Dengan menjalani kehendak Allah kita akan ikut Allah tak hanya terbatas pada kegiatan lahiriah keagamaan. Di sini kita bisa ingat kata-kata Tuhan “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat 5:20).

Perbuatan lahiriah yang menjadi wujud hati bersekutu dengan Allah sungguh menjadi tuntutan. Sebagai tuntutan iman tindakan kongkret beriman bisa disebut pertobatan. Hal ini menjadi amanat pertama Tuhan Yesus ketika tampil pertama di hadapan publik, yaitu “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:15) Di dalam kehidupan umat Katolik, iman kepada Injil berarti iman kepada peristiwa Paskah, yaitu kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian. Inilah dasar segala kehidupan beriman kepada Tuhan Yesus Kristus. Begitu besar dan luhur serta bermaknanya peristiwa Paskah, untuk merayakan Hari Paskah umat Katolik mengenal Masa Prapaskah, sebagai masa pembaruan dan pengembangan sikap tobat, yaitu hidup berkiblat kepada Allah berdasarkan keyakinan akan kebangkitan Kristus. Sebagai tanda tobat Katekismus Gereja Katolik menyatakan “Tobat batin seorang Kristen dapat dinyatakan dalam cara yang sangat berbeda-beda. Kitab Suci dan para Bapa Gereja berbicara terutama tentang tiga bentuk: puasa, doa, dan memberi sedekah sebagai pernyataan pertobatan terhadap diri sendiri, terhadap Allah, dan terhadap sesama.” (1434)

  • Tobat terhadap diri sendiri. Ini berkaitan dengan puasa sebagai salah satu kewajiban keagamaan. Tindakan berpuasa selalu berkaitan dengan pengurangan kenyaman tubuh. Tetapi demi kenyamanan sejati tubuh dalam situasi kondisi kongkret orang harus berhadapan dengan mengikuti selera bahkan keenakan sesaat. Katanya, puasa tak makan dan tak minum selama sehari bisa membuat metabolisme tubuh membaik. Saya jadi ingat ada yang setiap hari hanya makan sore dan seharian hanya minum. Pada tahap-tahap pertama dia biasa mengeluh. Tetapi kini tubuhnya jadi segar dan tidak gembrot seperti sebelum terapi model makan sekali sehari. Saya sendiri biasa jauh dari makan nasi dan bahan makan yang mengandung karbo. Itu saya jalani sejak Januari 2012 karena diabetes. Saya kini biasa makan sayuran. Padahal sebelumnya saya tak suka segala sayuran. Sebetulnya hingga kini saya tak bisa menikmati sayuran. Sebenarnya yang saya sukai bakmi, gudeg, dan nasi goreng. Tetapi segala tindakan pantang kuliner demi tubuh sungguh membuat badan terasa nyaman dan segar. Di dalam permenungan saya menyadari bahwa tubuh manusia adalah tampilan lahiriah duniawi manusia, yang sebetulnya diciptakan sebagai gambaran Allah (bandingkan Kej 1:26). Dengan demikian puasa dan pantang menjadi jalan menghayati dan menyadari diri sebagai gambaran Allah. Dengan kesegaran fisik saya bisa menghayati sendiri kegembiraan Injili atau sukacita ilahi. Maka, dalam pewartaan Injil atau sukacita ilahi saya punya landasan bisa berbuat untuk diri saya sendiri dalam menghayati Injil.
  • Tobat terhadap Allah. Kewajiban keagamaan lain adalah berdoa. Dalam hal ini ada tingkat-tingkatan doa, yaitu doa lisan, doa renung, dan doa batin. Doa lisan menekankan ucapan-ucapan termasuk yang menjadi tradisi doa, ibadat, dan devosi dalam Gereja. Tetapi kalau hanya sampai pada pengucapan, itu bisa tidak bermakna kalau tidak pernah dimasukkan dalam hati dan direnungkan. Barangkali yang masuk dalam renungan hanya sedikit. Tetapi yang sedikit itu akan memiliki daya besar dalam penghayatan iman. Bukankah iman sebiji sesawi bisa membuat orang bisa memindah gunung? Itulah ibarat yang dikatakan oleh Tuhan Yesus. Doa sungguh membuat hidup berbinar kalau menjadi pengalaman batin yang membuat orang mesra dengan Allah dalam relung hati sadar atau tidak sadar.
  • Tobat terhadap sesama. Ini adalah amalan atau pewujudan iman, yaitu benjadi bentuk ikut Tuhan di tengah kehidupan bersama. Bukankah hukum utama orang yang ikut Tuhan Yesus adalah mencintai Tuhan Allah dan mencintai sesama seperti diri sendiri. Perbuatan iman ini mencakup baik dalam keluarga, di tengah pekerjaan, dan pergaulan lainnya. Dengan paparan kisah orang Samaria yang menolong orang Yahudi yang dianiaya oleh penyamun (lihat Luk 10:25-37), itu menunjukkan bahwa tindakan baik orang yang ikut Tuhan Yesus untuk sesama tak boleh dibatasi oleh perbedaan SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan). Pegangannya adalah yang dikatakan oleh Tuhan Yesus “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40). Inilah latarbelakang mengapa dalam perjuangan menyejahterakan sesama Keuskupan Agung Semarang mengutamakan KLMTD (kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel).

Bukan Proses Sistematis

Olah rohani model Maria-Marta bukanlah tindakan sistematis dengan tahap-tahapan didasarkan pemikiran-pemikiran teoritis. Memang dalam kegiatan bersama seperti retret dan bimbingan bersama, pemandu akan mendampingi dengan langkah-langkah sistematis. Namun untuk olah rohani pribadi ini bisa terjadi secara spontan sesaat dan kalau dalam kesempatan leluasa seperti akan dan bangun tidur bisa terjadi seperti lamunan. Tetapi satu hal yang pada hemat saya amat penting adalah pembiasaan diri kontak dengan relung hati. Tentu saja untuk kontak batin dengan hati kita harus meneng atau diam. Diam sesaat di tengah kegiatan sudah cukup untuk omong singkat dengan hati. Pembiasaan seperti ini sungguh membuat kita punya keheningan yang tak akan merasa gelisah berhadapan dengan realita apapun. Keheningan bisa menghadirkan butir iman secara spontan. Dari sini kita akan mudah untuk hidup bersama siapapun dan berbuat demi kebaikan umum. Dalam kondisi diam pun kita bisa hadir ikut jadi terang yang menyenangkan dalam kebersamaan.

Domus Pacis Santo Petrus, 3 Maret 2026

Wednesday, February 25, 2026

Bersama dan Dibersamai Tuhan Yesus

Pada Sabtu 21 Februari saya diminta mendampingi rekoleksi untuk lansia Katolik Paroki Bonoharjo. Tema yang disodorkan adalah Berjalan Bersama Tuhan Sepanjang Usia. Secara spontan dengan tema ini saya teringat salah satu kata-kata yang mengungkapkan iman Kristiani, yaitu Napak Tilas Pada Dalem Sang Kristus atau dalam bahasa Indonesia Mengikuti Jejak Kristus. Hal ini membuat benak saya langsung ke kata-kata Tuhan Yesus ketika pertama kali berjumpa Filipus ‘ ”Ikutlah Aku!” (Yoh 1:43). Semua ini bisa dimaknai bahwa umat sungguh beriman kalau selalu MEMBERSAMAI Tuhan Yesus. Saya juga teringat akan nyanyian untuk anak-anak Sekolah Minggu atau Pendampingan Iman Anak (PIA). Syairnya adalah sebagai berikut : 

Jalan serta Yesus

Jalan serta-Nya

Setiap hari

Jalan serta Yesus

Serta Yesus slamanya

Jalan dalam suka

Jalan dalam duka

Jalan serta-Nya setiap hari.

 

Jalan dalam suka

Jalan dalam duka

Serta Yesus slamanya.

Siapa Membersamai?

Bahwa hidup adalah perjalanan, sebagai orang Jawa saya cukup tahu. Segala yang baik harus memakai “laku” yang memang bisa diartikan sebagai perbuatan berprihatin atau memfokuskan diri pada kerohanian. Tetapi laku berkaitan dengan kata mlaku, yang berarti berjalan. Tembang pocung “Ngèlmu iku kelakoné kanthi laku” (Kebijaksanaan adalah buah perbuatan berprihatin) tentu juga bisa didekatkan dengan pandangan Jawa “Urip kuwi mung kaya mampir ngombé” (Hidup itu bagaikan mampir untuk minum dalam perjalanan). Di dunia ini orang menghayati perjalanan “Sangkan paraning dumadi” (Dari tempat awal berjalan untuk kembali ke tempat awal). Tentu saja hal ini mendapatkan peneguhan pandangan Gereja sebagai persekutuan orang-orang yang disatukan oleh Kristus yang dibimbing oleh Roh Kudus dalam peziarahan mereka menuju Kerajaan Bapa (GS 1). Hidup adalah perjalanan bersama Allah Tritunggal Mahakudus. Ketika saya merenungkan semua ini, muncul pertanyaan dalam hati “Bagaimana hal itu sungguh saya hayati?” Karena penghayatan hidup juga berkaitan dengan daya nalar dan daya hati, “Bagaimana saya menyadari dan menjaga kesadaran jalan bersama Tuhan?” Barangkali bagi santo dan santa termasuk beato dan beata, hal ini tidak menjadi soal. Tetapi untuk pengalaman dalam diri saya, saya kerap banyak berpikir atau merasa atau berkeinginan hal-hal duniawi yang terwarnai dengan berbagai hal yang sebenarnya tak terpuji. Memang, itu bisa teredam ketika dalam hati saya menyebut kata “Gusti” dan omongan spontan dengan-Nya. Jujur saja, ketika berdoapun termasuk Misa, pikiran dan perasaan serta keinginan bisa ke mana-mana. Dengan demikian, di dalam pengalaman, saya sungguh biasa punya hati tidak membersamai Tuhan.

Belajar dari Gereja

Di dalam permenungan tiba-tiba saya teringat kata-kata yang biasa muncul dalam doa bersama dan peribadatan. Itu adalah kata-kata yang diucapkan oleh pemimpin ibadat dan dijawab oleh umat peserta. Kerap muncul pemimpin mengatakan “Tuhan bersamamu” dan umat menjawab “Dan bersama rohmu”. Dulu yang kerap muncul “Tuhan sertamu” yang dijawab “Dan sertamu juga” atau juga “Tuhan beserta kita“ yang dijawab “Sekarang dan selama-lamanya”. Dari kata-kata ini hati saya berkata bahwa sebenarnya yang aktif dalam kebersamaan hubungan saya dan Tuhan adalah Tuhan. Tuhanlah yang selalu membersamai kita. Kita bisa belok sana-sini karena kesalahan dan dosa, tetapi Tuhan selalu setia tak pernah meninggalkan kita. Santo Paulus berkata “Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.” (1Kor 1:9) Di dalam Kitab Suci kita bisa membaca bagaimana setiap kali manusia jatuh dalam dosa dan lupa Allah. Tetapi dalam Kitab Suci pula kita bisa menemukan Allah yang tetap perhatian dan peduli pada umat apapun dan bagaimanapun keadaannya. 

Tuhan Membersamai Pewarta Iman

Penyertaan Tuhan dalam hidup ini bagi saya paling jelas dinyatakan oleh Injil pada hari Tuhan Yesus naik ke sorga. Sebelum naik ke sorga Tuhan berkata kepada para murid “..... ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:20) “Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.” (Mrk 16:20)

Para murid Tuhan Yesus memang mendapatkan tugas pokok untuk menjadi pewarta iman. Ini amat ditegaskan oleh Santo Paulus “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1Kor 9:16). Ketika menyatakan bahwa hidup kita sebagai Gereja adalah sebuah peziarahan iman dalam kebersamaan dengan Allah Tritunggal, saya mengambil domuken Konsili Vatikan II dalam ajarannya tentang Gereja di tengah dunia. Di situ saya katakan “Tentu saja hal ini mendapatkan peneguhan pandangan Gereja sebagai persekutuan orang-orang yang disatukan oleh Kristus yang dibimbing oleh Roh Kudus dalam peziarahan mereka menuju Kerajaan Bapa”. Sebenarnya persekutuan itu di dunia itu terjadi dalam tugas untuk menjadi pewarta keselamatan. Konsili mengatakan :


“KEGEMBIRAAN DAN HARAPAN, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Tiada sesuatu pun yang sungguh manusiawi, yang tak bergema di hati mereka. Sebab persekutuan mereka terdiri dari orang-orang, yang dipersatukan dalam Kristus, dibimbing oleh Roh Kudus dalam peziarahan mereka menuju Kerajaan Bapa, dan telah menerima warta keselamatan untuk disampaikan kepada semua orang.” (GS 1) 

Orang yang ikut Tuhan Yesus Kristus ambil bagian tugas Gereja terlibat untuk menghadirkan kabar sukacita di tengah kehidupan kongkretnya. Sebenarnya setiap orang telah menerima warta keselamatan yang kemudian juga harus disampaikan kepada semua orang. Ini adalah tugas misioner. Tuhan mengatakan “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15). Rm. Nurwidi, seorang ahli ilmu misi, mengatakan bahwa kata dunia berarti tempat seseorang berpijak. Karena warta keselamatan berkaitan dengan bimbingan Roh Kudus, saya menghubungkannya dengan karunia yang ada dalam setiap orang.

Karunia Bekal Pewartaan

Dalam bimbingan menuju Kerajaan Bapa sebagai bagian persekutuan dalam Kristus, setiap orang mendapatkan karunia Roh. Ini adalah bekal orang untuk ambil bagian ikut menghadirkan sukacita di tengah hidupnya. Bukankah Santo Paulus berkata “kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama” (1Kor 12:7). Penyertaan Kristus dalam tugas pewartaan bagi saya adalah lewat orang-orang yang menghadirkan anugrah-anugrah yang jadi bekal saya dalam penghayatan hidup. Karena pewartaan iman tak hanya omong agama bahkan tak hanya pengajaran agama, saya juga menyadari bahwa dalam pewartaan orang harus jadi saksi iman. Orang harus mengalami sendiri penyertaan Kristus. Dalam hal ini saya merasa perlu untuk menghadirkan beberapa pengalaman saya sebagai berikut :

  • Dari balita hingga remaja. Saya memang tak begitu merasakan secara mendalam dalam kaitan dengan bapak dan ibu saya. Saya lahir ketika bapak dan ibu saya sudah berpisah. Katanya, ketika saya yang sudah mulai bisa berjalan terkena sakit dan kena suntikan obat yang membuat saya tak bisa jalan. Pertumbuhan kaki kiri tak senormal kaki kanan. Pada sekitar umur 1 tahun inilah saya diambil oleh éyang (bahasa Jawa yang berarti nenek) putri saya, ibu dari bapak. Sejak ini saya tak pernah serumah dengan ibu kandung. Bahkan saya berjumpa ibu kandung menjelang umur 17 tahun. Dari bapak saya mengalami 3 kali ibu tiri. Yang jelas saya biasa dalam naungan nenek. Bahkan dari nenek saya mendapatkan warisan tanah langsung yang sebenarnya adalah bagian bapak. Ini terjadi ketika saya klelas III SR (Sekolah Rayat yang kini Sekolah Dasar atau SD). Bahkan ketika kelas VI SD, waktu bapak bercerai dari ibu tiri pertama, rumah juga diwariskan kepada saya dengan putusan pengadilan. Saya adalah anak tunggal bapak. Nenek meninggal pada tahun 1974 dan bapak wafat pada Desember 1980. Saya ditahbiskan pada 22 Januari 1981. Pada tahun 1990 semua warisan saya jual dan uangnya saya jadikan simpanan di bank. Ternyata saya kemudian menjadi imam yang harus mengembangkan kantor dan karya misioner Keuskupan Agung Semarang (KAS) dari Komisi Karya Misioner (KKM KAS), Karya Kepausan Indonesia (KKI KAS), hingga Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner (MMM PAM). Sekalipun tidak bertugas di paroki tertentu, saya punya hubungan cukup luas dengan umat. Apalagi dalam karya saya punya jejaring dengan banyak warga umat sebagai relawan misioner. Di dalam berkarya selamat 27 tahun saya tidak memiliki topangan keuangan memadahi seperti kalau di paroki. Memang, ada anggaran dari Keuskupan. Memang, ada honorarium yang sering saya terima. Tetapi dari berbagai program dan kegiatan, pembeayaan membutuhkan tambahan. Puji Tuhan, modal peninggalan éyang dan bapak sungguh amat bermakna. Peningalan itu tak hanya bisa menopang kekurangan anggaran keuangan karya. Itu juga bisa membantu banyak orang sakit yang berkekurangan dan harus membutuhkan perawatan dokter bahkan opname. Tak sedikit juga warga yang terbantu beaya pendidikannya. Ketika saya masuk rumah rama sepuh Domus Pacis, sisa-sia tabungan yang menipis juga bisa sedikit ikut membantu kehidupan Domus Pacis.
  • Dari awal jadi Katolik. Di masa lalu saya bukanlah anak dan remaja yang kerasan dan bangga dengan kondisi keluarga. Saya berada dalam keluarga dengan keibutirian. Saya jadi sosok “pelawan bapak”. Saya merasakan seorang bapak yang selalu berpihak pada ibu tiri. Ketika masuk SMP, saya mengalami ibu tiri ketiga. Bapak dan ibu tiri memutuskan tinggal di Kumetiran. Saya memilih tinggal di Ambarrukmo di tanah warisan éyang dan rumah warisan bapak. Ketika bapak dan istrinya menjadi Katolik, saya makin menjauh pula dengan alasan saya tak akan jadi Kristen. Tetapi kekatolikan bapak saya membuat saya jadi sering merasakan kedekatan dengan orang Katolik. Kebetulan saja peristiwa G30S terasa membuat hidup keagamaan menjadi semacam keharusan. Maka ketika SMP Kelas III saya ikut pelajaran agama Katolik. Sebagai calon baptis saya berkenalan dengan Pak Kaslan dan keluarganya. Banyak anak-anak kecil usia TK dan SD sering main di rumah pak Kaslan yang punya pekarangan luas termasuk lapangan badminton. Entah bagaimana saya menjadi tokoh anak-anak kecil yang kemudian diberi nama PUTAKA (Putra Cinta Kasih). Di sini pula saya jadi dekat dengan Mas Bejo, Mbak Warni, dan Murtini. Dulu kami sama-sama anggota GSNI (Gerakan Siswa Nasional Indonesia) kelompok ormas afiliasi Partai Nasional Indonesia (PNI). Ketika berkembang Orde Baru, PNI pecah karena ada yang dipimpin oleh Osa-Osep dan ada yang dipimpin Ali Sastroamijaya – Surachman. Kami berempat masuk golongan PNI Ali-Surachman yang kena pandangan Marxisme yang disesuaikan dengan situasi dan Kondisi Indonesia. Politik nasional Orde Baru membuat PNI kami terkucil. Kalangan Katolik pada umumnya terasa pro Orde Baru. Kebetulan saya menolak menjadi anggota Pemuda Katolik yang dalam pikiran saya jadi bawahan Partai Katolik. Dengan perkembangan politik waktu itu saya jadi agak anti partai politik. Karena tak mau ikut Pemuda Katolik saya termasuk yang sering kena cap Markatul (Marhen Katolik). Puji Tuhan, ketika saya SMA kelas I muncul gerakan Mudika (Muda-muda Katolik). Saya bersama Mas Bejo, Mbak Warni, dan Murtini masuk menjadi aktivis Mudika Kring (kini Lingkungan) Ambarrukmo, Paroki Baciro. Satu hal yang harus dicatat adalah dalam segala kegiatan Katolik saya dan ketiga teman itu biasa berpusat dalam keluarga Pak Kaslan. Kami biasa menyebut diri anak-anak Pak Kaslan. Secara pribadi saya jauh lebih dekat dan taat ke Pak Kaslan daripada ke bapak saya. Kami satu sama lain tak punya hubungan darah setetespun. Tetapi entah bagaimana hubungan kami satu sama lain membuat kami jauh lebih erat dan mendalam mengalahkan hubungan dengan keluarga kami masing-masing. Kebetulan saja saya senang main sana-sini. Pak Kaslan, yang pada waktu itu adalah karyawan perpustakaan Seminari Tinggi, juga mengenalkan kami dengan calon-calon imam yang pada waktu itu masih di Seminari Tinggi Code. Bahkan saya juga diajak melihat pembangunan Seminari Tinggi Kentungan. Kedekatan hubungan inilah yang membuat saya punya cakrawala hidup imamat. Kedekatan persaudaraan inilah yang membuat saya di dalam karya pastoral amat menekankan paguyuban persaudaraan yang harus ditampakkan dalam wajah berbagai institusi Gereja.
  • Ketika calon imam. Sebenarnya saya termasuk calon imam di Seminari Tinggi yang rasa-rasanya sering dipandang jadi soal di hadapan staf. Aktivitas saya yang saya jalani di luar Seminari kerap dipandang seakan-akan belum saatnya. Di dalam Seminari ada juga kegiatan-kegiatan yang tak begitu sesuai pakem kehidupan bersama. Dalam hal ini saya merasa selalu diselamatkan oleh sosok almarhum Rm. Kartasiswaya. Beliau dengar-dengar kerap membela saya. Perhatian terhadap saya sungguh besar. Dulu kaki kiri pincang saya dioperasi karena usulan beliau sehingga saya bisa naik sepeda motor dengan presneling kaki dan bahkan kemudian bisa mengendarai mobil yang pada waktu itu belum ada yang matic. Dulu untuk tahbisan diakon belum ada persiapan. Saya berinisiatif mengajak para calon diakon untuk mengadakan triduum di Kaliurang. Rm. Kartapun menyertai.
  • Ketika ada dalam dinas imamat. Pertama-tama saya mencatat nama almarhum Rm. Mikael Sugita dan Rm. Wedyawiratno. Rm. Gita adalah pastor kepala 2 tahun pertama imamat saya. Beliau adalah sosok yang membiarkan dan bahkan menyediakan berbagai fasilitas untuk kegiatan-kegiatan yang saya mulai sekalipun harus berhadapan dengan arus kebiasaan yang terlalu membuat mapan kehidupan pastoral. Setelah pindah karya, saya berada di bawah kepemimpinan Rm. Wedya. Kebetulan saja, selain sebagai pastor paroki, Rm. Wedya juga menjadi Ketua Komisi Karya Misioner Keuskupan Agung Semarang. Mulai saat itulah saya masuk karya dengan sistem kelembagaan Keuskupan. Saya banyak dipercaya oleh Rm. Wedya dalam pendampingan-pendampingan keterlibatan umat awam dalam Gereja terutama paroki. Saya juga banyak dipercaya untuk merancang program kegiatan dengan segala strateginya. Satu hal yang tampaknya konyol adalah beliau mempercayakan keuangan pastoran kepada saya. Ketika saya berkata “Dalam catat mencatat yang buruk”, beliau menjawab “Pokoké mboten nyolong” (Asal tak mencuri). Saya memang merasa berkembang sebagai tenaga khusus yang ikut derap karya Keuskupan sehingga selama 27 tahun tak pernah pindah bidang dan tempat karya hingga masuk rumah tua. Saya menjadi salah satu tenaga full timer Keuskupan untuk pelaksanaan berbagai program Keuskupan. Dalam hal ini peran Mgr. Ignatius Suharyo (Kini Kardinal Ignatius Suharyo). Beliau tampaknya sering mempercayakan beberapa program baru pada saya. Tentu saja saya kerap harus berhadapan dengan para rama yang kurang lebih terusik kemapanannya. Yang paling menonjol saya diserahi membangun dan menjalankan Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner. Beliau hanya meminta menjadikannya sebagai museum yang hidup. Ketika dalam 2 tahun saya belum menemukan bagaimana membuat museum yang hidup, saya bertanya kepada Mgr. Haryo “Museum yang hidup niku pripun, ta?” (Sebenarnya bagaimana museum yang hidup itu?”. Ternyata jawabanya adalah “Kula nggih mboten ngertos. Pun pokoké ditandangai mawon. Panjenengan pun kulina ngawur ta? Yèn leres, kula tumut remen. Yèn klèntu, kula apura” (Saya juga tidak tahu. Pokoknya jalani saja. Anda sudah biasa ngawur, kan? Kalau benar, saya ikut senang. Kalau keliru, saya ampuni). Kesemuanya itu membuat saya menjadi kerap berani membuat kegiatan-kegiatan yang belum biasa terjadi.
  • Kini di Domus Pacis Santo Petrus. Saya memang ikut ambil bagian dalam pengembangan hidup Domus Pacis sejak masih di Domus Pacis Puren, Pringwulung, hingga di Domus Pacis Santo Petrus, Kentungan. Pada 10 tahun pertama, terutama ketika masih di Puren, saya biasa ikut menanggung kekurangan beaya baik dari sumbangan umat, stipendium, dan sisa tabungan dari warisan éyang dan bapak. Selain itu tampaknya saya ikut membuat Domus makin dikenal oleh banyak umat sehingga banyak kunjungan. Kegiatan-kegiatan pastoral mewujudkan impian saya mengembangkan Domus juga menjadi salah satu tempat pastoral kaum tua dan lansia. Banyak warga Katolik sungguh hadir sebagai relawan tak hanya untuk penyelenggaraan kegiatan-kegiatan tetapi juga untuk kesejahteraan para penghuni Domus. Dari sini muncul 8 orang ibu yang bisa menggerakkan 89 keluaraga untuk menyajikan menu makan sehari 3 kali. Muncul pula relawan-relawan yang saya sebut relawan harian, relawan even, dan relawan momental. Tanpa mengesampingkan banyak nama, saya memang menghadirkan nama Bu Titik Waluyanti dan Bu Rini Kusparwati. Keduanya memang menjadi bagian para relawan sejak Domus Pacis Puren. Keduanya amat aktif memperhatikan, mempedulikan, dan terlibat dalam kebutuhan Domus Pacis. Keduanya tetap menjadi bagian kehidupan Domus Pacis hingga kini di Domus Santo Petrus. Hingga kini keduanya selalu terlibat dalam kebutuhan konsumsi seperti snak harian dan perayaan hajatan Domus. Usaha dana juga melibatkan 2 orang ibu ini. Tetapi di Domus Pacis sejak Puren hingga Santo Petrus, saya setiap hari memiliki kebiasaan bermedsos dengan tayangan Renungan Harian, Orang Kudus, Historia Domus atau Pastoral Ketuaan. Bahwa saya memiliki kemampuan ber-HP dan ber-Laptop, hal ini adalah hasil pelatihan dari Tuhan Yesus lewat Rm. Agoeng ketika masih di Domus Pacis Puren. Tuhan Yesus juga memakai Mas Fallah, salah satu tenaga Domus, untuk membuatkan Tik Tok.

Sebenarnya kalau dicermati lebih dalam, saya menemukan amat banyak nama yang sungguh ikut menyertai saya. Sebagai aktivis Lingkungan dan Paroki, gerakan-gerakan semasa calon imam, karya pastoral di Paroki Maria Assumpta Klaten, Paroki Santa Theresia Salam, masa berkantor di Magelang, berkantor di Muntilan, hingga di Domus Pacis, saya yakin bisa menemukan amat banyak nama. Bahwa dalam tulisan di atas hanya muncul nama-nama tertentu, hal itu tentu sesuai dengan prinsip penelusuran saya masa kini dan di sini. Orang dalam “masa kini dan di sini” kalau mengingat masa lalunya akan selalu diwarnai oleh apa yang bermakna secara kongkret di-“masa kini dan di sini”-nya. “Masa kini” saya adalah masa usia lansia dan sudah bebas dinas dari Keuskupan. “Di sini” saya ada di Domus Pacis Santo Petrus dengan keterlibatan saya ikut penghidupan Komunitas Rama Sepuh Keuskupan Agung Semarang dengan segala kondisinya. Maka kalau di antara pembaca tahu nama-nama lain yang berperan dalam hidup saya atau bahkan ikut sendiri menjadi penyerta saya, saya hanya bisa mohon maaf. Yang jelas, di samping nama-nama yang saya sajikan, amat banyak umat atau siapapun yang menjadi raga Tuhan Yesus Kristus menyertai saya sebagai salah satu murid-Nya yang ikut mewartakan kabar sukacita.

Domus Pacis Santo Petrus, 17 Februari 2026

Monday, February 23, 2026

Aku Percaya

Saya menyanggupi untuk mengisi omong-omong kerohanian untuk para tokoh dan penggerak umat Paroki Santa Theresia Salam pada tanggal 15 Februari 2025. Yang menjadi pusat omongan adalan ah “CREDO”. Dalam hal ini saya berpikir apakah saya harus menerangkan isi yang menjadi pegangan kepercayaan umat Katolik. Bukankah alokasi waktu hanya beberapa jam dtak akan penuh 3 jam? Ketika saya masih mendampingi kelompok-kelompok pendalaman keagamaan di beberapa paroki sebelum Covid-19, untuk berbicara “Aku Percaya” dibutuhkan 12 kali pertemuan dan 2 jam untuk masing-masing pertemuan. Bukankah yang terjadi adalah omong-omong? Itu berarti harus menggunakan metode interaksi. Ketika berpikir dan berpikir, merasakan dan merasakan, muncullah permenungan sebagaimana saya paparkan di bawah ini. 

Istilah-istilah

Kepada tim penyelenggara saya meminta agar kepada para peserta dibagikan teks Credo. Entah bagaimana saya teringat beberapa istilah lain untuk teks itu. Teks itu juga biasa disebut Syahadat Apostolik. Tetapi ada juga istilah yang diketemukan dalam buku Katekismus Gereja Katolik, yaitu Simbolo Iman.

  • Credo. Istilah Credo berasal dari bahasa Latin yang berarti “Aku percaya”. Hal ini berkaitan dengan isi yang terdapat dalam naskah. Karena di dalamnya berisi pernyataan iman, maka istilah Credo berkaitan dengan pengakuan iman. Naskah pengakuan iman dimulai dengan kata “Aku percaya” atau “Credo” dalam bahasa Latin.
  • Syahadat Apostolik. Kata “syahadat” berasal dari bahasa Arab yang berarti “kesaksian” atau “bersaksi”. Kemudian kata “Apostolik” berasal dari bahasa Yunani apostolos yang berarti “rasul”. Kalau naskah Credo disebut Syahadat Apostolik, hal itu dikarenakan isi naskah dilandaskan kesaksian iman para rasul yang diteruskan oleh para uskup sebagai pengganti-penggantinya. Inilah yang membuat gambaran 12 pokok isi Credo dianggap berasal dari pernyataan masing-masing orang dari 12 rasul. Itu berisi ajaran dan tradisi yang menjadi warisan iman dalam Gereja.
  • Simbolo Iman. Ini berasal dari bahasa Yunani sumbolon yang menggambarkan sebuah benda yang dipecah jadi dua dan kalau disatukan menjadi tanda pengenal. Secara sederhana sumbolon adalah tanda pengenal untuk sebuah persekutuan dan menjadi semacam lencana atau emblem. Kalau Credo atau Syahadat Iman juga disebut Simbolo Iman, karena isi yang ada dalam naskah menjadi identitas iman Gereja sebagai persekutuan orang-orang yang ikut Tuhan Yesus.

Pemakaian Credo

Kita biasa memakai Syahadat Iman atau Credo dalam Misa Minggu dan Misa Hari Raya. Isi Credo kita ucapkan sesuah homili atau khotbah. Memang, dalam pemakaian ada dua macam, yaitu syahadat singkat dan syahadat panjang. Tetapi pengucapan menjadi amat meriah dan istimewa dalam Misa Malam Paskah, yang juga bisa terjadi dalam Misa Minggu Paskah I. Kemeriahan terjadi karena tiga hal. Pertama, pengucapan terjadi dalam dialog antara imam dan umat. Kedua, sebelum masuk ke isi Credo ada pernyataan penolakan akan setan dengan segala kuasa jahatnya. Ketiga, sesudah pengucapan isi Credo ada percikan air suci. Rangkaian tiga hal ini disebut sebagai pembaharuan janji baptis.

Isi Credo pada dasarnya memang merupakan pengakuan iman yang diucapkan oleh seseorang ketika menerima Sakramen Permandian. Dengan Sakramen Permandian orang menyatakan secara resmi beriman kepada Tuhan Yesus Kristus dan menjadi anggota persekutuan dengan sesama umat Kristus. Apapun yang dimani dalam Gereja menjadi pegangan menghayati kehidupan kongkretnya. Sebagai orang Katolik setiap orang wajib mengikuti Misa Hari Minggu dan hari lain yang disamakan dengan hari Minggu. Itulah sebabnya dalam Misa Hari Minggu dan Hari Raya orang diingatkan akan janji-janji baptisnya dengan mengucapkan Syahadat Iman. 

Isi Kesaksian Iman

Rumusan Credo yang kita terima saat ini sebenarnya melewati proses panjang tidak sekali jadi. Itu berawal dari rumusan kesaksian iman para rasul dan umat perdana yang berkembang dalam kelompok-kelompok jemaat selanjutnya hingga beratus tahun sampai pada rumusan resmi yang dipakai untuk Gereja Universal hingga kini.

Zaman para rasul

Dari Kitab Suci kita menemukan rumusan pembaptisan “jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat 28:19). Tetapi kita juga mendapatkan rumusan lain dari ucapan Santo Petrus ketika menyampaikan khotbah pada hari turun-Nya Roh Kudus “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus” (Kis 2:38). Kisah Para Rasul ditulis oleh Santo Lukas murid Santo Paulus. Dari dua rumusan berbeda ini saya menggambarkan bahwa ada banyak kelompok umat yang kesemuanya mengikuti Tuhan Yesus Kristus. Semua mewartakan iman sama yaitu keyakinan akan Tuhan Yesus Kristus yang bangkit dari antara orang mati sebagai penyelamat manusia.

Barangkali yang dikatakan oleh Santo Paulus “jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan” (Rom 10:9) merupakan rumusan pertama dan utama. Itu menjadi dasar keyakinan yang mungkin diwartakan ke sana-sini dalam berbagai kelompok umat dengan rumusan penjelasan sesuai dengan situasi kongkret kehidupan umat. Dari alkitab.sabda.org/dictionary saya menemukan gelar-gelar untuk Tuhan Yesus Kristus sebagai berikut :


1. Adam yang akhir 1Kor 15:45, 2. Aku adalah aku Kel 3:14Yoh 8:58, 3. Alfa dan Omega Wahy 1:8; 22:13, 4. Allah Yes 40:9Yoh 20:28, 5. Allah, Tuhan, Yang Mahakuasa Wahy 15:3, 6. Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya Rom 9:5, 7. Allah yang perkasa Yes 9:5, 8. Amin Wahy 3:14, 9. Anak Allah Luk 1:35Yoh 1:49, 10. Anak Allah Yang Maha Tinggi Luk 1:32, 11. Anak dari Yang Terpuji Mr 14:61, 12. Anak Daud Mat 9:27 13. Anak Domba Wahy 5:6,12; 13:8; 21:22; 22:3, 14. Anak domba Allah Yoh 1:29,36, 15. Anak Domba Paskah kita 1Kor 5:7, 16. Anak manusia Yoh 5:27, 17. Anak sulung yang lebih utama dari segala yang diciptakan Kol 1:15, 18. Anak Tunggal Bapa Yoh 1:14, 19. Bapa yang kekal Yes 9:5, 20. Batu karang 1Kor 10:4, 21. Batu penjuru yang terpilih Ef 2:201Pet 2:6, 22. Bintang Bil 24:17, 23. Bintang timur yang gilang-gemilang Wahy 22:16, 24. Daud Yer 30:9Yeh 34:23, 25. Firman Yoh 1:11Yoh 5:7, 26. Firman Allah Wahy 19:13, 27. Firman hidup 1Yoh 1:1, 28. Gembala Agung 1Pet 5:4, 29. Gembala dan pemeliharaan jiwa 1Pet 2:25, 30. Gembala yang baik Yoh 10:14, 31. Hakim Yes 33:22, 32. Hamba Yes 42:1; 52:13, 33. Hidup Yoh 14:6Kol 3:41Yoh 1:2, 34. Hidup yang kekal 1Yoh 1:2; 5:20, 35. Hikmat Ams 8:12, 36. Imam Besar Agung Ibr 4:14, 37. Imanuel Yes 7:14Mat 1:23, 38. Jalan Yoh 14:6, 39. Jaminan Ibr 7:22, 40. Juruselamat 2Pet 2:20; 3:18, 41. Kebangkitan dan hidup Yoh 11:25, 42. Kebenaran Yoh 14:6, 43. Kemuliaan Tuhan Yes 40:5, 44. Kepala jemaat Ef 5:23Kol 1:18, 45. Kepunyaan segala bangsa Hag 2:8, 46. Keturunan Daud Wahy 22:16, 47. Malaikat Kej 48:16Kel 23:20,21, 48. Malaikat hadirat Tuhan Yes 63:9, 49. Malaikat perjanjian Mal 3:1, 50. Malaikat Tuhan Kel 3:2Hak 13:15-18, 51. Mesias (Kristus) Dan 9:25Yoh 1:41, 52. Mesias dari Allah Luk 9:20, 53. Nabi Luk 24:19Yoh 7:40, 54. Mesias dari Allah Luk 9:20, 55. Nabi, Luk 24:19Yoh 7:40, 56. Orang Benar Kis 7:52, 57. Orang yang paling karib kepada Allah, Za 13:7, 58. Orang Kudus Mazm 16:10Kis 2:27,31, 59. Orang Nazaret Mat 2:23, 60. Panglima Balatentara Tuhan Yos 5:14,15, 61. Pemerintah Yes 55:4, 62. Pemimpin Mat 2:6, 63. Pemimpin kepada hidup Kis 3:15, 64. Pemimpin keselamatan Ibr 2:10, 65. Penasihat Ajaib Yes 9:5, 66. Penebus Ayub 19:25Yes 59:20; 60:16Rom 11:26, 67. Pengantara 1Yoh 2:11Tim 2:5, 68. Penghibur bagi Israel Luk 2:25, 69. Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia 1Tim 6:15, 70. Perintis Ibr 6:20, 71. Permulaan dari ciptaan Allah Wahy 3:14, 72. Pilihan Allah Yes 42:1, 73. Pintu Yoh 10:7, 74. Pokok anggur yang benar Yoh 15:1, 75. Raja Za 9:9Mat 21:5, 76. Raja Damai Yes 9:5, 77. Raja dan Pemerintah Yes 55:4, 78. Raja di atas segala raja 1Tim 6:15Wahy 17:14, 79. Raja orang Israel Yoh 1:49, 80. Raja orang Yahudi Mat 2:2, 81. Raja segala bangsa Wahy 15:3, 82. Rasul Ibr 3:1, 83. Roti hidup Yoh 6:35,48, 84. Saksi Yes 55:4, 85. Saksi yang setia Wahy 1:5; 3:14, 86. Seorang yang memerintah Israel Mi 5:1, 87. Silo (yang berhak atasnya) Kej 49:10, 88. Singa dari suku Yehuda Wahy 5:4, 89. Surya kebenaran Mal 4:2, 90. Surya pagi Luk 1:78, 91. Taman kebahagiaan Yeh 34:29, 92. Tanduk keselamatan Luk 1:69, 93. Tangan Tuhan Yes 51:9; 53:1, 94. Taruk dari pangkal Isai Yes 11:10, 95. Tebusan 1Tim 2:6, 96. Terang dunia Yoh 8:12, 97. Terang yang sesungguhnya Yoh 1:9, 98. Tuhan Allah (Yehova) Yes 26:4, 99. Tuhan, Allah yang memberi roh kepada para nabi Wahy 22:6, 100. Tuhan dari semua orang Kis 10:36, 101. Tuhan keadilan kita Yer 23:6, 102. Tuhan yang maha mulia 1Kor 2:8, 103. Tunas Yer 23:5Za 3:8; 6:12, 104. Yang Awal dan Yang Akhir Wahy 1:17; 2:8, 105. Yang Benar 1Yoh 5:20, 106. Yang berhak menerima segala yang ada Ibr 1:2, 107. Yang berkuasa atas raja-raja di bumi ini Wahy 1:5, 108. Yang kudus dari Allah Mr 1:24, 109. Yang Mahakuasa Wahy 1:8, 110. Yang Mahakuasa, Allah Yakub Yes 60:16, 111. Yang Mahakudus, Allah Israel Yes 41:14, 112. Yang memimpin dan membawa iman kepada kesempurnaan Ibr 12:2, 113. Yang pertama bangkit dari antara orang mati Wahy 1:5, 114. Yesus Mat 1:211Tes 1:10.

Semua gelar itu terpusat dan terarah kepada satu Pribadi, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Tetapi gelar-gelar itu muncul dalam berbagai Kitab yang tentu juga dari berbagai kelompok umat. Dengan gelar-gelar tertentu pewarta atau saksi iman menyampaikan siapa Tuhan Yesus sesuai dengan sudut pengalaman imannya.

Risiko kebebasan

Satu hal yang harus diingat adalah sejarah Gereja dari awal hingga masuk abad IV selalu ada dalam penganiayaan. Umat Kristiani dipandang sebagai bahaya kehidupan sehingga selalu teraniaya dan amat banyak sekali yang dibunuh karena mempertahankan iman. Masa penganiayaan baru berhenti ketika yang berkuasa dalam Wilayah Kekaisaran Romawi adalah Kaisar Konstantinus. Dalam Perjanjian Milan agama penganut Tuhan Yesus mendapatkan kebebasan dan bahkan kemudian menjadi agama negara karena Kaisar Konstantinus sendiri mendapatkan pembabtisan.

Dengan bebasnya menghayati agama, tokoh-tokoh iman Kristiani juga bebas menghadirkan kesaksian iman ke mana-mana. Mereka dengan semangat berkobar menyampaikan imannya kepada Yesus tentu juga sesuai dengan sudut permenungannya. Dari sinilah muncul berbagai macam pandangan keyakinan yang juga menimbulkan pertentangan. Di dalam berbagai macam perbedaan dan pertentangan Uskup Roma memiliki peran khusus sebagai penerus tahta Santo Petrus yang dikenal sebagai Paus. Para Uskup dalam kesatuan dengan Paus memegang wibawa kebenaran pengajaran, yang disebut magisterium. Yang tidak sejalan dengan ajaran resmi Gereja dipandang sebagai bidaah atau ajaran sesat. Pada masa kebebasan beragama inilah muncul berbagai bidaah.

Menjelang rumusan definitif Syahadat Iman beberapa bidaah yang perlu diketahui saya paparkan sebagai berikut :


·       Arianisme. Dari https://katolisitas.org/tentang-ajaran-sesat-arianism kita mendapatkan uraian singkat bahwa “Arianism adalah bidaah/heresi yang sangat berbahaya, di awal abad ke -4 (319) karena mengajarkan ajaran sesat dalam hal Trinitas dan Kristologis. Bidaah ini diajarkan oleh Arius, seorang imam dari Alexandria, yang ingin menyederhanakan misteri Trinitas. Ia tidak bisa menerima bahwa Kristus Sang Putera Allah berasal dari Allah Bapa, namun sehakekat dengan Bapa. Maka Arius mengajarkan bahwa karena Yesus ‘berasal’ dari Bapa maka mestinya Ia adalah seorang ciptaan biasa, namun ciptaan yang paling tinggi. Arius tidak memahami bahwa di dalam satu Pribadi Yesus terdapat dua kodrat, yaitu kodrat Allah dan kodrat manusia.

·       Bidaah-bidaah lain. Saya mengambil dari https://www.google.com/search?q=Bidaah-bidaah+menjelang+Konsili+Nicea+dan+Konstantinopel&oq. Ada 3 bidaah :

-        Macedonianisme (Pneumatomachianisme): Menyatakan bahwa Roh Kudus tidak ilahi atau tidak setara dengan Bapa dan Putra, bahkan diciptakan. Ini menjadi fokus utama Konsili Konstantinopel I.

-        Apollinarianisme: Mengklaim bahwa Yesus memiliki tubuh manusia tetapi pikiran (logos) ilahi, bukan jiwa manusia sepenuhnya.

-        (Homoiousianisme): Kelompok moderat yang mencoba kompromi dengan Arianisme, percaya Putra sehakikat dengan Bapa, tetapi tidak menggunakan istilah 'homoousios' (sehakikat) yang lebih kuat.

  

Konsili

Kekacauan pandangan pengakuan iman menghadirkan krisis antar kelompok umat dalam Gereja. Berkaitan dengan kasus Arianisme dari https://www.kompasiana.com tulisan kreator S. Detianus Gea saya mendapatkan catatan yang melatarbelakangi terjadinya syahadat pendek sebagai berikut :


Santo (St) Alexander, Patriarkh Alexandria menanggapi ajaran pastor Arius karena masuk dalam wilayah keuskupannya. St. Alexander mengadakan Konsili Alexandria (sekitar 321) yang dihadiri kurang lebih 100 uskup yang berasal dari Mesir dan Libya. Konsili Alexandria mengecam ajaran Arius dan dinyatakan sesat. 

Namun, pastor Arius mempunyai pendukung baik dari pemerintahan maupun dari pejabat Gereja. Dua orang pendukung pastor Arius dari pejabat Gereja adalah Eusebius, Uskup Kaisarea, dan Uskup Eusebius dari Nikomedia (pemimpin penganut Arianisme sekaligus pelindung Arius). 

Karena pastor Arius telah diekskomunikasi oleh Konsili Alexandria, maka ia pergi ke Palestina dan Nikomedia. Oleh sebab itu, St. Alexander mengeluarkan surat Ensiklik (Epistola Encyclica). Ensiklik tersebut ditanggapi oleh Arius, sehingga menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat. Kegaduhan ini diperparah dengan pertikaian kaisar Konstantin dan Licinius (322-323). 

Kekisruhan keagamaan tentu bisa membuat kegaduhan krisis sosial dalam masyarakat. Maka Kaisar Konstantinus, karena menginginkan kedamaian dalam wilayah kekuasaannya, menulis surat kepada Santo Alexander dan Arius untuk secepatnya menyelesaikan masalah ini. Dari sini Kaisar dan Paus Sylvester I mengundang para uskup untuk menghadiri Konsili di Nicea. Maka pada tahun 325 terjadi Konsili di Nicea yang dihadiri oleh sekitar 300 orang Uskup. Dari sini disepakati rumusan syahadat pendek yang sering disebut dengan istilah Syahadat Para Rasul. Rumusannya adalah sebagai berikut :


Aku percaya akan Allah,
Bapa yang Mahakuasa,
pencipta langit dan Bumi
Dan akan Yesus Kristus,
PutraNya yang tunggal, Tuhan kita
Yang dikandung dari Roh Kudus,
dilahirkan oleh perwan Maria.
Yang menderita sengsara
dalam pemerintahan Ponsius Pilatus,
disalibkan wafat dan dimakamkan,
Yang turun ketempat penantian,
pada hari ketiga bangkit
dari antara orang mati
Yang naik kesurga,
duduk disebelah kanan
Allah bapa yang Mahakuasa.
Dari situ ia kan datang
mengadili orang hidup dan mati.
Aku percaya akan Roh Kudus,
Gereja katolik yang Kudus,
persekutuan para kudus
Pengampunan Dosa,
Kebangkitan badan,
Kehidupan kekal.
Amin.

Syahadat hasil Konsili Nicea memang menjadi pegangan hingga kini. Tetapi kemudian ada Konsili di Konstantinopel pada tahun 381 karena dalam Gereja muncul tokoh bernama Makedonius. Dalam salah satu artikel dalam internet dikatakan bahwa “Dalam Konsili Konstantinopel I (381) hal utama yang dibahas adalah ajaran Makedonius IPatriarkh Konstantinopel. Makedonius mengajarkan bahwa Roh Kudus bukanlah Allah, tetapi adalah makhluk ciptaan dan adalah pelayan Bapa dan Putra. Konsili Konstantinopel I menolak ajaran Makedonius dan menegaskan bahwa Roh Kudus adalah Tuhan dan Allah yang setara dengan Bapa dan Putra.” (https://id.wikipedia.org/wiki/Kredo_Nikea). Dari sinilah muncul Syahadat Panjang yang disebut Syahadat Nicea Konstantinopel :


Aku percaya akan satu Allah,
Bapa yang mahakuasa,
pencipta langit dan bumi,
dan segala sesuatu yang kelihatan
dan tak kelihatan;
dan akan satu Tuhan Yesus Kristus,
Putra Allah yang tunggal.
Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad,
Allah dari Allah,
Terang dari Terang,
Allah benar dari Allah benar.
Ia dilahirkan, bukan dijadikan,
sehakikat dengan Bapa;
segala sesuatu dijadikan oleh-Nya.
Ia turun dari surga untuk kita manusia
dan untuk keselamatan kita.
Ia dikandung dari Roh Kudus,
Dilahirkan oleh Perawan Maria, dan menjadi manusia.
Ia pun disalibkan untuk kita, waktu Pontius Pilatus;
Ia menderita sampai wafat dan dimakamkan.
Pada hari ketiga Ia bangkit menurut Kitab Suci.
Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa.
Ia akan kembali dengan mulia,
mengadili orang yang hidup dan yang mati;
kerajaan-Nya takkan berakhir.
aku percaya akan Roh Kudus,
Ia Tuhan yang menghidupkan;
Ia berasal dari Bapa dan Putra,
yang serta Bapa dan Putra,
disembah dan dimuliakan;
Ia bersabda dengan perantaraan para nabi.
aku percaya akan Gereja
yang satu, kudus, katolik dan apostolik.
aku mengakui satu pembaptisan
akan penghapusan dosa.
aku menantikan kebangkitan orang mati
dan hidup di akhirat.
amin.

 

Aku percaya akan Allah,
Bapa yang Mahakuasa,
pencipta langit dan Bumi
Dan akan Yesus Kristus,
PutraNya yang tunggal, Tuhan kita
Yang dikandung dari Roh Kudus,
dilahirkan oleh perwan Maria.
Yang menderita sengsara
dalam pemerintahan Ponsius Pilatus,
disalibkan wafat dan dimakamkan,
Yang turun ketempat penantian,
pada hari ketiga bangkit
dari antara orang mati
Yang naik kesurga,
duduk disebelah kanan
Allah bapa yang Mahakuasa.
Dari situ ia kan datang
mengadili orang hidup dan mati.
Aku percaya akan Roh Kudus,
Gereja katolik yang Kudus,
persekutuan para kudus
Pengampunan Dosa,
Kebangkitan badan,
Kehidupan kekal.
Amin.

Domus Pacis Santo Petrus, 5 Februari 2026

Santa Theodosia dari Tirus

diambil dari katakombe.org/para-kudus  Diterbitkan:  11 April 2015  Diperbaharui:  11 April 2015  Hits:  12199 Perayaan 02 April   Lahir Sek...