Showing posts with label HISTORIA DOMUS. Show all posts
Showing posts with label HISTORIA DOMUS. Show all posts

Tuesday, March 31, 2026

Penyumbang Maret 2026

Tampaknya hingga hari ini masih ada yang menggambarkan terjauhnya Domus Pacis Santo Petrus dengan umat. Tentu saja itu berarti juga terjauhnya para rama sepuh dari umat. Padahal Domus tetap banyak terhampiri oleh umat Katolik. Perhatian umat sungguh tampak dengan adanya sumbangan snak dan juga sumbangan dana untuk terlaksananya hajatan-hajatan yang mengundang umat dan keluarga para rama sepuh.


Tetapi perhatian umat tak hanya terbatas pada terlaksananya sajian snak dan konsumsi untuk hajatan-hajatan yang membuat para rama Domus tetap merasakan ada dalam topangan umat. Ternyata topangan umat juga terjadi dalam mencukupi kebutuhan-kebutuhan demi pelayanan atas kondisi kongkret para rama sepuh dan kebutuhan-kebutuhan lain untuk penyelenggaraan Domus Pacis. Kondisi kelansiaan para rama sungguh diperberat dengan disabilitas dan penyakit-penyakit yang terus membutuhkan pengawasan. Bahkan 5 orang di antaranya sudah harus mendapatkan penjagaan 24 jam. Sementara rama-rama sepuh lainnya juga sudah membutuhkan pelayanan bahkan, kecuali 1 orang, dalam hal urusan kamar mandi dan WC sudah harus dibantu. Apalagi kalau ada yang harus opname, seperti kini ada 1 orang, itu berarti harus ada yang menjaga. Semua ini membutuhkan tenaga karyawan yang harus bekerja dengan komitmen dan ketenangan pelayanan. Untuk semua ini Domus harus punya dana untuk menambah honor karyawan dengan tunjangan dan bonus-bonus tertentu. Selain itu untuk pemeliharaan gedung dan fasilitas-fasilitasnya, Domus Pacis juga harus punya persediaan dana. Memang, Domus Pacis adalah milik Keuskupan Agung Semarang. Tetapi dana rutin dari Keuskupan sungguh belum mencukupi. Puji Tuhan, selalu saja sejak pertengahan Juli 2021 ada warga-warga umat Katolik yang mengirimkan sumbangan. Untuk bulan Maret 2026 Rm. Bambang mencatat sumbangan sebesar Rp. 17.200.000 dari nama-nama penyumbang sebagai berikut :

1. Ibu Dicky, 2. PUPIP Ungaran, 3. Ibu Ida, 4. Anna Maria (Ibu-ibu Bernardus Babadan), 5. Ibu Niken, 6. Maria Kristina Dannie, 7. Bapak Sudjono Keman, 8. Ibu Christine, 9. Ibu Wartini, 10. Ibu Tantiana Windy, 11. Ibu Tri Nor Prasetyawan, 12. Ibu Dewi Anggraeni, 13. Ibu Liem, 14. Ibu dr. Wara Aris Wakiman, 15. Ibu Mamik, 16. Ibu Malya, 17. PUPIP DIY, 18. Ibu Harno, 19. Ibu Yuliana Sutarni, 20. Devosan Kerahiman Mungkid, 21. Ibu Bernadet Suwarni, 22. Ibu Istijono, 23. Ibu Christin, 24. Ibu Lili Herawati, 25. Ibu Eny Bernadette, 26. Ibu ML Setiyani Indrawati.

Sumbangan Snak dan Even Maret 2026

Sebenarnya para rama tampak biasa-biasa berhadapan dengan yang biasa-biasa. Yang biasa itu termauk dengan menu santapan harian. Yang tidak biasa terjadi kalau ada even. Pada bulan Maret 2026 ini ada peringatan 2 tahun wafat Rm. Jaka Sistiyanto dan ulang tahun ke 63 Rm. Saptaka. Secara praktis sajian menu menjadi khusus karena ada tamu-tamu undangan. Tentu saja semua penghuni Domus juga ikut menikmati. Kebetulan saja mulai Minggu terakhir sebagai Komunitas Iman Katolik, para rama Domus masuk ke Pen Suci. Kebetulan saja, pada tahun ini Perayaan Minggu Palma, Kamis Putih, dan Jumat Adi, Domus Pacis mendapatkan bantuan petugas-petugas Liturgi baik nyanyian maupun para pembaca Kitab Suci terutama Kisah Sengsara. Agar peristiwa ini terasa istimewa, walau tak sebesar dan semeriah di paroki, Domus mengupayakan dengan makan bersama dengan menu tidak biasa. Tentu saja tetap dengan tataran level golongan ekonomi menengah. Meskipun demikian semua ini bisa terlaksana karena ada umat yang mengulurkan perhatian berupa dana uang ke Domus. Tentu saja Domus juga berterima kasih dengan mereka yang biasa mengirimkan snak sehingga untuk 15 hari selalu ada variasi sajian. Dalam catatan Rm. Bambang para penyumbang untuk kebutuhan konsumsi Domus pada Maret 2026 adalah sebagai berikut :

  • Penyumbang Snak. 1. Ibu Siwi Janong, 2. Ibu Rini, 3. Ibu Roni, 4. Ibu Rachel, 5. Ibu Hera, 6. Ibu Sintari, 7. Ibu Andreas, 8. Ibu Kanti, 9. Ibu Endang Prayitno, 10. Ibu Joni, 11. Ibu Jatmiko, 12. Ibu Titik Waluyanti, 13. Ibu Septi, 14. Ibu Lucinda, 15. Ibu Dalyono, 16. Ibu Tutik, 17. Ibu Debby, 18. Ibu Novi, 19. Ibu Atik, 20. Ibu Daniek, 21. Ibu Emma, 22. Ibu Setyowati, 23. Ibu Elly, 24. Ibu Dewa, 25. Ibu Wahyu, 26. Ibu Yustina.
  • Penyumbang Hajatan. 1. Lingkungan Ngepos Srumbung, 2. Ibu Bernadet Bintari, 3. Ibu Sri Daruningsih, 4. Ibu Yinni Tjia, 5. Ibu Brigita, 6. Bapak Donie Basuki, 7. Ibu Theresia Beni, 8. Ibu Coleta Tanti Sanvero, 9. Ibu Put Istri, 10. Ibu Endah, 11. Ibu Ambar, 12. Ibu Nadya, 13. Keluarga Patuk, 14. Ibu Umi, 15. Ibu Ratmi, 16. Ibu Mardanu, 17. Bapak Blasius Chasto, 18. Ibu Sri Purwaningsih, 19. Ibu Agnes Trijoko, 20. Ibu Yucha, 21. Ibu Rini Wahyudi, 22. Apotek Jaya Sehat, 23. Ibu Eni.

Sunday, March 29, 2026

Perayaan Liturgi Minggu Palma 2026 di Domus


Sabtu sore 28 Maret 2026 Domus Pacis sungguh merasakan kesemarakan. Kesemarakan ini berkaitan dengan peristiwa keagamaan bagi umat Katolik. Umat Katolik masuk ke Pekan Suci dari Perayaan Minggu Palma menuju Trihari Suci (Kamis Putih, Jumat Agung, Paskah). Pada Sabtu sore itu Domus Pacis Santo Petrus mengalami kesemarakan khusus :

  • Kehadiran Kor Pajeksan. Ketika makan pagi Minggu 29 Maret 2026 para rama Domus mengatakan bahwa kor telah menyanyi dengan indahnya. Rm. Bambang bercerita bahwa umat Pajeksan sudah biasa mendukung Misa dengan kor sejak tahun 2019. Ternyata dalam perkembangan umat Lingkungan Pajeksan, Paroki Kumetiran, mendapatkan pelatih sekaligus dirigen yang mumpuni. Itulah mengapa kini keindahan nyanyinya membuat Rm. Suntara mengatakan "Le nyanyi profesional" (Menyanyinya sungguh profesional). 
  • Kehadiran Suster Yuniorat OP. Khusus untuk Perayaan Liturgi Minggu Palma Domus pada hari itu ada bantuan dari Komunitas Suster OP di Pandega, Paroki Banteng. Mereka membantu Domus dengan melaksanakan tugas pembacaa Kisah Sengsara. Bahakn 2 orang suster bisa membantu untuk menerimakan Komuni 70an orang peserta Misa.
  • Ramah Tamah Sesudah Misa. Sesudah Misa semua yang hadir dan para penghuni Domus duduk-duduk dan omong-omong penuh keakraban. Semua dilakukan sambil makan bersama. Sebenarnya sajiannya sederhana, hanya bakmi dan nasi goreng. Tetapi dari suasana yang ada, tampak adanya kegembiraan mewarnai hingga mereka semua tamu meninggalkan Domus.

Saturday, March 28, 2026

Calon Peserta Malam Paskah Domus Pacis 2026

Peristiwa Malam Paskah menjadi salah satu yang bagi Domus Pacis Santo Petrus dipandang khusus. Malam Paskah, tentu juga Malam Natal, masuk dalam peristiwa hajatan karena sesudah Misa selalu ada makan bersama. Perayaan Malam Paskah/Natal selalu dibuka untuk umat Katolik siapapun dari paroki manapun. Tetapi yang ikut harus mendaftarkan diri dengan mengirimkan nama-nama dan paroki asal ke Rm. Bambang. Untuk Malam Paskah tanggal 4 April 2026 yang dimulai pada jam 17.30, pendaftaran terakhir pada hari Sabtu 28 Maret 2026. Rm. Bambang mencatat ada 113 orang pendaftar yang berasal dari 18 paroki. Bersama anggota kor dan warga Domus Pacis, Bu Rini relawan Domus menyiapkan sajian untuk 175 orang dengan mendatangkan catering. Kor yang akan datang adalah The Blero Choir pimpinan Bapak Loly dari Lingkungan Nologaten, Paroki Pringwulung. Sedang 117 orang yang mendaftarkan diri adalah sebagai berikut :

  • Kevikepan Yogyakarta Timur (7 Paroki, 29 orang). Paroki Pringgolayan (1. Ibu Nani Han, 2. Chosa, 3. Pipit, 4. Ibu Mardi); Paroki Minomartani (1. Bapak Gunawan, 2. Ibu Mercy, 3. FA Sandy Mariatna, 4. Berilla S Surbakti), Paroki Kalasan (1. Wiwik Vasthi, 2. Yuniarti, 3. Arza,  4. Titus Pulunggono, 5. Yulia Pulunggono, 6.  Pudentiana Sumbangsih, 7. Pierrette Clument, 8. Pak Yos, 9. Bu Yos); Paroki Pringwulung (1. Bu Atik, 2. De EL, 3. Ariel, 4. Bu Ratna, 5. Pak Ardi); Paroki Kotabaru (1.  FX. Handoko, 2. Rinawati); Paroki Kumetiran (1. Antonius Agung Nugroho, 2. Theresia Surya, 3. Mikael Pradipta Brilian, 4. Gabriela Brilianka); Paroki Nandan (1. Ira Nova)

  • Kevikepan Yogyakarta Barat (5 Paroki, 66 orang). Paroki Banteng (1. Bapak Sigit Sudarmadi, 2. Ibu Sigit, 3. Bp.Anton Soedjarwo, 4. Ibu.Kartika Kumala, 5. Ank. Erika Soedjarwo, 6. Romy Sulistiono, 7. Cucu Ivana Sulistiono, 8. Bapak Paulus Subiyanto, 9. Elleanora Gina C, 10. Ign BP Dian Krishna, 11. Bapak Unanto, 12. Ibu Septi, 13. Ari Puspo, 14. D Anna S, 15. B Widyatmoko. 16. F David P, 17. KS Indranandita, 18. D Dimas A, 19. Antonius Iwan  Kurniawan, 20. Fransiska jenny Irawati, 21. Josse William, 22. Ruth Meliana, 23. Y Karel Harianto, 24. V Yena, 25. Bu Anna, 26. Hengky, 27. Vera, 28. Bu Eni, 29. Pak Anton); Paroki Klepu (1. Djuwadi, 2. Retno, 3. Hartiyo, 4. Bu Ida, 5. Paiman, 6. Bonikem, 7. Ninik Mujiono, 8. Eka BP, 9. Sutrisni, 10. Suparta, 11. Suwarni, 12. Lita, 13. Mbah Saein, 14. Mbah Seno Kakung, 15. Mbah Seno Putri, 16. Ibu Murbaningsih, 17. Ibu Painah, 18. Yanti, 19. Zora, 20. Ibu Anna, 21. Yogi, 22. Yohani, 23. Bapak Sapari, 24. Ibu Sapari, 25. Ibu Sugiyarti, 26. Bapak Kholil); Paroki Gamping (1.  Maria Junianti, 2.  Johanes Heri, 3. Maria Audrey, 4. Vincentius Max); Paroki Medari (1.   Mbak Nunuk, 2. Bu Upik, 3. Suami Bu Upik, 4. Mbak Christin, 5. Suami Mbak Christin); Paroki Warak (1. Tri Harsono, 2. Lindyawati)

  •  Kevikepan Kedu (2 Paroki, 6 Orang). Paroki Ignatius Magelang (1. Stph. Rohani, 2. Th Sri Rahayu, 3.  Ag Ronny , 4.  D. Nugroho, 5. Mariani); Paroki Borobudur (1. Hilda)
  • Kevikepan Surakarta (2 Paroki, 13 orang). Paroki Gondang  (1. Dono Budoyo, 2. Niken, 3. Terania, 4. Hardono, 5 Anik Setyawati, 6. Elgiva, 7. Ratna Kriswidyastuti, 8. Nesia Amadea); Paroki  Boyolali (1. Yacobus Raditya Krisna Setiawan, 2. Scholastica Sitha Wardhani, 3. Antonius Mario Aria Ananda, 4. Gabriel Adhi Nayantaka, 5. Yosef Anantadana Rahadian Pramudito)

  • Kevikepan Semarang (1 Paroki, 2 orang). Tanah Mas (1.  Maria Endah W 2. Agustinus Vembriant)
  •  Keuskupan Agung Jakarta (1 Paroki, 1 orang). Paroki Maria Karmel (1. Galih)

Friday, March 27, 2026

Rm. Heru dan Rm. Saptaka

Rm. St. Heruyanto adalah pastor yang bertugas di Paroki Salam. Karena menderita stroke, sepulang dari RS Panti Rapih beliau untuk sementara tinggal di Domus Pacis Santo Petrus sejak 13 Feberuari 2026. Sekalipun urusan pelayanan untuk Rm. Heru dilakukan oleh tenaga Domus Pacis, setiap hari pagi dan siang serta malam selalu ada umat Salam yang bergilir ikut menunggu. Akhir-akhir ini perkembangan beliau cukup membaik. Kalau sebelumnya hanya banyak tidur dan tiduran, akhir-akhir ini sudah bisa duduk di kursi roda. Bahkan ketika harus kontrol 2 kali sehari pada Jumat 27 Maret 2026, beliau sudah bisa dilayani untuk duduk di mobil dan dalam mobilisasi membawa kursi roda dari Domus. Bahkan hari Sabtu 28 Maret 2026 beliau bisa berkeliling Domus duduk di kursi roda dan ada yang mendorong. Memang, dalam berwicara beliau masih harus terus menerima terapi. Hingga kini beliau belum bisa mengucapkan kata-kata dengan jelas.

Tetapi hari ini ada berita lain dari Domus Pacis Santo Petrus. Sudah lebih seminggu Rm. Saptaka menderita mriyang, yaitu kondisi badan tidak enak badan disertai demam. Dalam beberapa hari pertama beliau masih ikut Misa Harian dan makan bersama 3 kali sehari. Diajak periksa dokter beliau berkata "Tak nggo turu wae" (Aku tidur saja). Lama-lama beliau tak hanya tak tampak dalam Misa Harian. Dalam makan bersama juga sudah absen. Tetapi beliau tetap tak mau diajak ke rumah sakit. Kebetulan saja pada Sabtu 28 Maret 2026, seperti biasa setiap hari Sabtu, ada perawat home care RS Panti Rapih datang disertai oleh seorang dokter untuk memeriksa kondisi para rama Domus. Ternyata akhirnya Rm. Saptaka mau dibawa ke RS Panti Rapih atas anjuran dokter. Mas Siswanto dan Mas Bayu, 2 orang tenaga Domus, mengantarnya dengan mobil. Ketika makan siang Rm. Bambang bertanya kepada karyawan "Piye Rama Saptaka?" (Bagaimana kabar Rm. Saptaka?). Seorang karyawan mendapat berita bahwa beliau masih harus menunggu hasil laboratorium dari cek darah. Tiba-tiba, barangkali karena mendapatkan berita dari pengantar Rm. Saptaka, pada jam 12.26 Rm. Bambang mendapatkan pesan WA Mas Haryono, salah satu karyawan "Info kondisi Rm saptoko dari hasil lab di haruskan opname rencana di Lukas 203".

Wednesday, March 25, 2026

Rm. Djoko Berbelarasa ke Rm. Saptaka

Peristiwanya dari Misa Harian Domus Pacis Santo Petrus pada Rabu sore 25 Maret 2026. Pada saat itu yang mendapat giliran memimpin adalah Rm. Djoko Setyo Prakoso. Ketika masuk di Kapel, Rm. Bambang sudah melihat Rm. Djoko siaga di altar. Sebenarnya, melihat Rm. Djoko, yang langsung masuk di benak Rm. Bambang memunculkan pertanyaan dalam hatinya "Wela, kok saiki kaya aku. Langsung nganggo stola ora ngagem jubah" (Lho, sekarang kok seperti saya. Tanpa mengenakan jubah langsung pakai jubah). Tetapi yang dipikirkan Rm. Bambang langsung berubah ketika proses Misa berjalan. Hal ini diungkapkan oleh Rm. Bambang dalam makan bersama sesudah Misa "Rama Djoko, panjenengan nggih mriang napa?" (Rama Djoko, apakah Anda sedang tak enak badan?) tanya Rm. Bambang. Ternyata Rm. Djoko "Inggih" (Ya, benar). Rm. Bambang langsung berkomentar "Yen ngaten belarasa kalih Rama Saptaka, nggih" (Kalau begitu berbelarasa dengan Rm. Saptaka, ya). Rm. Djoko tertawa dan berkata "Kula kira kula luwih kuwat tinimbang Saptaka. Wingi kula ece" (Saya kira, saya lebih kuwat dari pada Saptaka. Kemarin dia saya ejek). Maklumlah beberapa hari belakangan Rm. Saptaka juga mengalami mriyang. Ternyata hari ini, Rabu 25 Maret 2026, Rm. Djoko juga mengalami. Kondisi Rm. Djoko tampak selama memimpin Misa kerap terbatuk-batuk.

Tuesday, March 24, 2026

Akan Terbit 2 Buku

Pada Senin 23 Maret 2026 sore Rm. Subali dari Seminari Tinggi mendapatkan giliran memimpin Misa Harian di Domus Pacis. Seperti biasa sesudah Misa langsung menuju ruang makan Domus untuk santap malam bersama. Sebetulnya ada pertanyaan Rm. Bambang dalam hati akan ditujukan ke Rm. Subali. Ini berkaitan dengan telepon dari Mas Yoyok dari Penerbit Pohon Cahaya. Rm. Bambang memang menyerahkan 2 tulisan ke Pohon Cahaya. Salah satu buku berisi renungan iman. Karena menyangkut ajaran Gereja, untuk bisa diterbitkan harus ada nihil obstat (tidak ada yang menghalangi) dan imprimatur, yaitu izin resmi dari otoritas Gereja. Nihil obstat dari seorang teolog dan imprimatur dari Keuskupan. Mas Yoyok pernah menelpon Rm. Bambang agar meminta Rm. Subali untuk segera memberikan tanda tangan nihil obstat. Tetapi pada waktu itu Rm. Bambang menjawab "Dipun sumanggaaken Rm. Subali mawon, mas. Sinten mangertos seratan kula mboten leres kangge iman Katolik lan saget damel umat sesat" (Diserahkan saja ke kebijakan Rm. Subali. Siapa tahu tulisan saya tidak benar dan bisa berbahaya menyesatkan umat). Itulah sebabnya Rm. Bambang mendiamkan 2 tulisan saya entah mendapatkan proses bagaimana.

"Rama, bukunipun sampun terbit dereng?" (Rama, apa bukunya sudah terbit?) tiba-tiba di tengah makan Rm. Subali bertanya kepada Rm. Bambang. "Rak tasih panjenengan waos, ta, kangge nliti saget mboten dipun paringi nihil obstat?" (Bukanlah masih Anda baca untuk diteliti bisa atau tidak untuk diberi nihil obstat?) jawab Rm. Bambang. Kemudian Rm. Bambang menceritakan anjuran dari Mas Yoyok untuk mendesak Rm. Subali. Ternyata Rm. Subali berkata "Kula pun cekap dangu nandatangi" (Sudah cukup lama saya sudah menandatangani). Ketika kembali ke kamarnya Rm. Bambang mengirim WA ke Mas Yoyok dari Pohon Cahaya "Mas, wau Kula kepanggih Rm Subali. Beliau mundhut pirsa buku pun terbit? Kanyata pun cekap dangu dipun tanda tangani 😇😇😇😇😇" (Mas, tadi saya berjumpa Rm. Subali. Beliau bertanya apakah buku sudah terbit. Ternyata sudah cukup lama sudah ditandatangani). Ternyata 16 menit kemudian datang jawaban dari Mas Yoyok bahwa untuk buku itu, yang berjudul Lamunan Seorang Lansia, menunggu imprimatur dari Keuskupan yang sudah datang pada 16 Maret 2026. Kini sudah masuk cetak dan sebelum Paskah sudah siap edar. Sementara itu, karena Rm. Bambang juga menyerahkan tulisan berjudul Tawa Tersembunyi di Tengah Rama-Rama Lansia, Mas Yoyok menerangkan buku ini sudah siap. Mas Yoyok menyampaikan pesan WA dengan bahasa Jawab berikut :

Sugeng dalu Romo...

Rm Subali sampun maringi Nihil Obstat .

    • Lajeng langkah salajengipun imprimatur.
    • Lan nembe mandap imprimatur 16 Maret
    • Lajeng 17-18 Maret proses pra cetak lan proses plat
    • Nyuwun pangapunten🙏🙏 lajeng libur lebaran dugi tgl 25 maret Romo
    • Buku Tawa Tersembunyi ingkang mboten ngagem Nihil Obstat sampun dados tgl 18 maret.
    • Buku Lamunan, target dados 31 Maret sa'derengipuun Paskah
    • Mekaten Romo...

Monday, March 23, 2026

Anugrah Dunia Maya

Orang bisa bilang tak bisa berbuat yang harus berjejaring dengan orang lain karena kondisi amat terbatas sekali dalam bermobilisasi. Kondisi itu kini dialami poleh Rm. Bambang yang sudah tak bisa bermobil dan bermotor sendiri. Kondisi itu diperkuat oleh realita bahwa kini hidupnya 90% lebih berada di kamar. Perjumpaan dengan orang lain terutama hanya terjadi dengan para rama serumah di Domus Pacis. Itupun hanya pada waktu makan 3 kali sehari dan dalam Misa Harian. Tetapi dia merasa tersadarkan mendapatkan anugrah besar dengan upaya ikut menghidupkan suasana menjelang Hari Raya Paskah 2026. 

Sebenarnya, selama berada di Domus Pacis Santo Petrus, kecuali Perayaan Misa Malam Paskah, Pekan Suci sungguh dirayakan dengan amat sederhana tanpa adanya bunyi keyboard. Lagu-lagu pengiring juga hanya amat terbatas sekali, misalnya "Lihat Salib" ketika akan menghormat salib di Jumat Agung. Bacaan Kisah Sengsara dilakukan oleh karyawan dan rama sepuh. Tetapi untuk tahun 2026 ini suasana akan ada perbedaannya. Karena sering melayani suster-suster OP, Rm. Andika sebagai Direktur Domus bisa mendapatkan bantuan untuk pembacaan Kisah Sengsara dalam Misa Perayaan Palma dan Jumat Agung. Untuk Minggu Palma, Bu Rini bisa mencarikan bantuan dari umat Tionghoa salah satu Lingkungan Paroki Kumetiran untuk Kor. Dalam hal ini Rm. Bambang dalam hati merasa tak sampai hati kepada rama yang akan memimpin Kamis Putrih dan Jumat Agung yang bisa tanpa bunyi keyboard dan lagu-lagu. Puji Tuhan, ternyata dalam keterbatasan 90% berada di kamar, dia masih bisa ke sana-sini lewat dunia maya. Bu Rini dan Bu Pur mempertemukan dia dengan Mas Galih dari Paroki Brayut. Ternyata Mas Galih tidak punya tugas paroki untuk Jumat Agung sehingga di hari itu bisa membantu Domus. Sementara itu dengan HP Rm. Bambang bisa menjumpai Bapak Loly dari Paroki Pringwulung yang bersedia mencarikan organis. Ketika tak menemukan organis bebas tugas paroki, ternyata Pak Loly akan datang sendiri membantu Domus untuk Kamis Putih. Dalam hal lagu-lagu yang akan dipakai, Rm. Bambang mengusahakan mengetik yang akan diperbanyak untuk umat Kamis Putih dan Jumat Agung. Kontakan dengan Mas Galih Pak Loly untuk pilihan lagu-lagu bisa berjalan. Semua lewat perjumpaan maya.

Sunday, March 22, 2026

Lebaran di Domus

Domus Pacis Santo Petrus adalah lembaga Katolik. Para rama yang tinggal di Domus Pacis dengan sendirinya beragama Katolik. Tetapi dengan datangnya Hari Raya Idul Fitri Domus juga mengalami auranya. Memang, dari 14 orang rama hanya seorang yang pergi ber-Lebaran. Lainnya tetap tinggal di Domus dengan irama hidup harian. Kesemuanya tetap membutuhkan pelayanan bukan hanya karena kelansiaannya tetapi juga karena kondisinya yang tak ada yang tak terendoni oleh penyakit. Kalau dikatakan juga mengalami aura lebaran, karena dari 15 orang karyawan yang ambil libur ada 8 orang. Yang bisa masuk adalah Mas Hari, Mas Bayu, Mas Enggar, Mas Ardi, Mas Abas, Mbak Sari, dan Mbak Paula. Dari 7 orang yang tak libur, 2 orang tidak ikut tugas malam. Dalam hal ini 2 orang relawan, Bu Titik dan Bu Rini, juga kena imbas Lebaran. Bu Titik ke Jakarta membantu keluarga anaknya, sementara Bu Rini juga harus mengganti segala pekerjaan ART yang ambil libur seminggu. Meskipun demikian, puji Tuhan, Domus Pacis masih boleh bersyukur. Selama Lebaran ini Rm. Andika, Direktur Domus Pacis, bisa mendapatkan bantuan tenaga dari seorang warga Katolik. Dialah yang sebelum Idul Fitri sudah datang dan tinggal di Domus. Dia adalah seorang gadis yang biasa dipanggil dengan nama INTAN. Nama lengkapnya adalah Paulina Mellani Intan Ayu Setiawati. Intan adalah warga Katolik Wilayah Samigaluh, Paroki Nanggulan. Tampaknya Mbak Intan juga seorang aktivis Gereja, karena dalam Misa Harian Domus dia juga bisa ikut jadi lektor bahkan termasuk menyanyikan lagu Pengantar Injil.

Saturday, March 21, 2026

Jadual Penyumbang Snak Tetap Isi


Sebenarnya seminggu sebelum datangnya Hari Raya Idul Fitri Rm. Bambang memiliki kesiagaan tertentu. Ini soal para rama Domus berkaitan dengan kebutuhan snak. Dia sudah berpikir untuk meminta Bu Rini, relawan Domus, untuk mempersiapkan makanan-makanan yang bisa disimpan di dalam lemari es untuk beberapa hari. Sebelum pemikiran itu diomongkan dengan Bu Rini, Rm. Bambang mengirimkan pesan WA "Besok tanggal ..... Idul Fitri je. Kalau berhalangan untuk snak bilang yaaaaa. Tenang aja, jangan ewuh pekewuh (sungkan). Pesan itu dikirimkan ke nama-nama warga Katolik peduli snak Domus sesuai tanggal giliran menyumbang makanan kecil. Itu diberikan ke mereka yang punya giliran antara tanggal 20 hingga 22 Maret 2026. Ternyata tak ada satupun yang memiliki kendala sehingga tak bisa menghadirkan snak ke Domus untuk tanggal yang bersangkutan. Ketika Rm. Bambang bertanya lanjut kepada Bu Daniek dari Ambarrukmo  yang berasal dari Madiun "Gak tilik Madiun ta?" (Apakah tidak mengunjungi keluarga di Madiun?), beliau menjawab "Mboten Mo, mudik ipun  mbenjing bibar paskah kemawon. Ibu lan sedherek2  mangertos sanget  kok" (Tidak, rama. Mudiknya besok saja sesudah Paskah. Ibu dan snak saudara sangat tahu, kok). Bu Daniek memang berasal dari Madiun tetapi bersuamikan warga Katolik Ambarrukmo Paroki Baciro.

Friday, March 20, 2026

Hari Raya Idul Fitri

Beberapa hari sebelum Libur Nasional Hari Raya Idul Fitri ada yang bertanya kepada Rm. Bambang "Rama, yen Bada napa sadherek-sadhereke rama-rama sami dateng" (Rama, apakah di hari Lebaran sanak keluarga rama-rama Domus datang?). Pada waktu itu Rm. Bambang menjawab "Biasane pas dina Lebaran dha saling kunjung antar keluarga, ta? Malah ana sing pertemuan trah" (Bukankah pada hari Lebaran terjadi saling kunjung antar keluarga ta? Malah juga ada yang pertemuan trah). Kemudian Rm. Bambang memberikan sharing bahwa tampaknya di masa kini kalau orangtua sudah wafat, ikatan dengan keluarga kandung dan kemenakan sudah kurang lekat. Dari pengalaman 5 tahun tinggal di Domus, Rm. Bambang menyaksikan bahkan juga mengalami ada kemenakan yang menengok. Dulu ketika Rm. Hartanta yang menjadi Direktur Domus, di hari besar Paskah, Natal, dan Idul Fitri selalu ditawarkan kalau ada yang ingin berlibur dengan pulang ke keluarga. Yang terjadi hanya Rm. Jarot yang pulang jumpa keluarga semalam untuk Natalan keluarga. Ternyata kini, sesudah Rm. Suhartana tinggal di Domus, beliau yang sering pergi ke keluarga dan menginap. Bahkan pada Idul Fitri 2026 ini beliau dijemput keluarga untuk pulang lebaran. Katanya beliau akan 6 hari di tengah cucu-cucu. Ternyata pada Jumat siang 20 Maret 2026 Rm. Djoko Setyo tidak ikut makan siang. Rm. Andika, Direktur Domus, mengatakan "Pepanggihan keluarga" (Ikut pertemuan keluarga). Meskipun demikian Domus akan mengadakan Syawalan mengundang para disabel fisik yang tergabung dalam grup WADIS (WA Disabel) besok 12 April 2026. Yang jelas para karyawan mendapatkan giliran liburan. Tentu saja 6 tenaga yang beragama Islam mendapatkan kesempatan khusus.

Thursday, March 19, 2026

Umat Memang Bisa Minta Misa Ujub

Ini terjadi ketika para rama sepuh mendapatkan kunjungan dari Lingkungan Santo Yusup Tangkisan Pos Paroki Gondang pada Minggu 15 Maret 2026. Ternyata tentang Misa di Domus menjadi pertanyaan khusus bertolak dari pertanyaan "Apakah para rama sepuh masih memimpin Misa?". Jawaban dari para rama mengatakan "Setiap Senin sampai Sabtu selalu ada Misa Harian di sore hari. Tetapi yang memimpin secara bergilir dari 14 rama tinggal Rm. Andika, Rm. Jarot, Rm. Djoko Setyo, Rm. Saptaka, dan Rm. Bambang". "Apakah umat juga boleh ikut?" Tentu saja jawabannya adalah "Selalu terbuka". Di sini kemudian dikatakan Minggu ada Misa kalau ada kelompok atau keluarga yang meminta karena punya hajat khusus misalnya peringatan arwah. Salah satu tamu bertanya "Kalau begitu apakah di Domus bisa dipakai untuk hajatan?" Kemudian rama Domus menjelaskan bahwa Domus sendiri biasa mengadakan hajatan seperti untuk ulang tahun imamat dan peringatan arwah. Dalam even seperti itu banyak umat diundang. Sebenarnya dalam Malam Paskah/Natal juga dijadikan hajatan, tetapi para peserta luar Domus harus mendaftarkan diri. Ternyata informasi bahwa umat juga bisa minta Misa Ujub Khusus dari keluarga atau kelompok dengan undangan banyak umat, hal itu dimungkinkan. Hal ini sudah sering terjadi. Memang, yang memimpin harus rama dari Domus Pacis. Dalam hajatan permintaan umat, konsumsi bisa membawa sendiri. Kalau akan meminta bantuan Domus bisa kontak dengan Bu Rini yang punya jaringan untuk penyediaan. "Tetapi dalam hal jumlah yang datang kalau ada permintaan ujub khusus keluarga atau kelompok, Domus minta tambahan untuk 20 orang. Bukankah kami warga Domus juga minta boleh ikut menikmati sajian?" kata Rm. Bambang menutup omongan yang disambut tawa para tamu.

Wednesday, March 18, 2026

Kiriman Lempeng Gendar dan Slondhok


Pada Rabu 18 Maret 2026 Rm. Bambang mendapatkan tamu para suster dari Komunitas Dominicanes Pandega yang masuk wilayah Paroki Banteng. Para suster datang untuk berbicara mempersiapkan batuan mereka sebagai pembaca Kisah Sengsara dalam Perayaan Minggu Palma di Domus Pacis yang akan dilaksanakan pada Sabtu 28 Maret 2026. Untuk menerima para suster yang duduk memenuhi 3 bangku menerima tamu depan Dapur Domus, Rm. Bambang meminta kehadiran Rm. Jarot yang akan memimpin Misa Perayaan Palma. Untuk para suster memang disajikan teh dan snak yang ada di Domus. Tetapi Bu Rini, relawan Domus, mengeluarkan 2 stoples besar. Satu diisi slondhok, yaitu makanan ringan tradisional dari singkong. Sedang stoples satunya diisi lempeng gendar, yaitu kerupuk yang terbuat dari nasi. Itu adalah camilan tradisional tetapi dalam kemasan khusus dan istimewa karena lebar dan rasanya. Bu Rini masih mengisikan 3 stoples besar diisi lempeng gendar yang disajikan di 3 kelompok meja makan para rama Domus. Bahkan di pagi hari berikutnya Mas Abas, tenaga Domus, mengisi 3 stoples dengan slondhok yang juga disajikan di 3 kelompok makan para rama. Bahwa Rm. Bambang mempunyai banyak lempeng gendar dan slondhok, ternyata itu adalah kiriman Ibu Christina Dhamayanti. Beliau mengirim pesan WA pada Rabu 18 Maret 2026 jam 20.40 di HP Rm. Bambang "Mo tadi saya suruhan antar kletik2 dan telur ayam kampung ..... Sebetulnnya mau saya antar sendiri tapi malah kakinya kesiram minyak panas waktu menggoreng  slondok.  Makasih Mo saya selalu minta mendoakan kami  skr cucu pertama saya sdh lulus s2 notaris yg no2 sdh dokter muda jg di gama  maturnuwun". Selain lempeng gendar dan slondhok, Bu Christina memang juga mengirim telur ayam kampung.

Tuesday, March 17, 2026

Pekan Suci 2026 di Domus Pacis

Bagaimanapun juga Domus Pacis Santo Petrus merasa gembira karena untuk Pekan Suci 2026 mengalami dukungan dari umat. Perayaan Liturgi Minggu Palma yang akan dirayakan pada Sabtu sore jam 17.30 akan didukung oleh Kor Lingkungan Pajeksan Paroki Kumetiran. Bahkan ada kelomppok dari susteran OP akan menjadi pembaca Kisah Sengsara. Rm. Jarot akan menjadi pemimpin Misa. Untuk Kamis Putih, Rm. Saptaka akan memimpinnya. Misa juga dilaksanakan pada jam 17.30. Bahkan Perayaan Jumat Suci juga akan dimulai jam 17.30 yang akan dipimpin oleh Rm. Djoko Setyo dengan para postulan suster OP sebagai pembaca Kisah Sengsara. Untuk Misa Malam Paskah, yang juga akan dimulai pada jam 17.30, Pak Loly dari Lingkungan Nologaten Paroki Pringwulung akan datang bersama rombongan Kor. Rm. Bambang akan memimpin Misa Malam Paskah. Ada yang bertanya "Apakah umat umum boleh ikut Misa di Domus Pacis?" Jawaban yang diberikan adalah "Boleh dan memang terbuka untuk siapapun yang ingin ikut. Tetapi khusus untuk Malam Paskah yang akan ikut harus mendaftarkan diri. Yang akan ikut harus mencatatkan nama-nama dan paroki asal dikirim ke HP Rm. Bambang lewat WA no. 087834991969. Pendaftaran paling lambat hari Sabtu tanggal 28 Maret 2026. Hingga kini tercatat ada 95 orang pendaftar Misa Malam Paskah di luar rombongan Kor. Rm. Bambang mencatat para pendaftar sebagai berikut :

  • Kevikepan Yogyakarta Timur (5 Paroki, 22 orang). Paroki Pringgolayan (1. Ibu Nani Han, 2. Chosa, 3. Pipit, 4. Ibu Mardi); Paroki Minomartani (1. Bapak Gunawan, 2. Ibu Mercy, 3. FA Sandy Mariatna, 4. Berilla S Surbakti), Paroki Kalasan (1. Wiwik Vasthi, 2. Yuniarti, 3. Arza,  4. Titus Pulunggono, 5. Yulia Pulunggono, 6.  Pudentiana Sumbangsih, 7. Pierrette Clument); Paroki Pringwulung (1. Bu Atik, 2. De EL, 3. Ariel, 4. Bu Ratna, 5. Pak Ardi); Paroki Kotabaru (1.  FX. Handoko, 2. Rinawati)
  • Kevikepan Yogyakarta Barat (3 Paroki, 52 orang). Paroki Banteng (1. Bapak Sigit Sudarmadi, 2. Ibu Sigit, 3. Bp.Anton Soedjarwo, 4. Ibu.Kartika Kumala, 5. Ank. Erika Soedjarwo, 6. Romy Sulistiono, 7. Cucu Ivana Sulistiono, 8. Bapak Paulus Subiyanto, 9. Elleanora Gina C, 10. Ign BP Dian Krishna, 11. Bapak Unanto, 12. Ibu Septi, 13. Ari Puspo, 14. D Anna S, 15. B Widyatmoko. 16. F David P, 17. KS Indranandita, 18. D Dimas A, 19. Antonius Iwan  Kurniawan, 20. Fransiska jenny Irawati, 21. Josse William, 22. Ruth Meliana); Paroki Klepu (1. Djuwadi, 2. Retno, 3. Hartiyo, 4. Bu Ida, 5. Paiman, 6. Bonikem, 7. Ninik Mujiono, 8. Eka BP, 9. Sutrisni, 10. Suparta, 11. Suwarni, 12. Lita, 13. Mbah Saein, 14. Mbah Seno Kakung, 15. Mbah Seno Putri, 16. Ibu Murbaningsih, 17. Ibu Painah, 18. Yanti, 19. Zora, 20. Ibu Anna, 21. Yogi, 22. Yohani, 23. Bapak Sapari, 24. Ibu Sapari, 25. Ibu Sugiyarti, 26. Bapak Kholil); Paroki Gamping (1.  Maria Junianti, 2.  Johanes Heri, 3. Maria Audrey, 4. Vincentius Max)  
  •  Kevikepan Kedu (2 Paroki, 5 Orang). Paroki Ignatius Magelang (1. Stph. Rohani, 2. Th Sri Rahayu, 3.  Ag Ronny , 4.  D. Nugroho); Paroki Borobudur (1. Hilda)
  • Kevikepan Surakarta (2 Paroki, 13 orang). Paroki Gondang  (1. Dono Budoyo, 2. Niken, 3. Terania, 4. Hardono, 5 Anik Setyawati, 6. Elgiva, 7. Ratna Kriswidyastuti, 8. Nesia Amadea); Paroki  Boyolali (1. Yacobus Raditya Krisna Setiawan, 2. Scholastica Sitha Wardhani, 3. Antonius Mario Aria Ananda, 4. Gabriel Adhi Nayantaka, 5. Yosef Anantadana Rahadian Pramudito)

  • Kevikepan Semarang (1 Paroki, 2 orang). Tanah Mas (1.  Maria Endah W 2. Agustinus Vembriant)
  •  Keuskupan Agung Jakarta (1 Paroki, 1 orang). Paroki Maria Karmel (1. Galih)

Monday, March 16, 2026

Rencana Syawalan Domus Pacis 2026

Sebentar lagi suasana masyarakat akan diwarnai kegembiraan khusus. Menurut penanggalan yang tertera pada tanggal 21 dan 22 Maret menjadi hari libur nasional. Dua hari itu menjadi Hari Raya Idul Fitri. Tak mengherankan kalau hari-hari sesudahnya akan ada perayaan-perayaan Syawalan. Domus Pacis sudah beberapa tahun juga mengadakan Syawalan bersama kaum disabel fisik, yaitu kaum cacad tubuh. Tetapi kaum disabel fisik yang diajak mengadakan Syawalan di Domus adalah para anggota grup WA yang bernama WADIS (WA Disabel). Tentu saja mereka bisa datang ke Domus bersama pengantarnya. Mereka akan bersama para rama Domus dan karyawan Domus. Karyawan Domus bisa mengajak keluarganya. Syawalan Persaudaraan WADIS - DOMUS PACIS sebenarnya biasa terjadi Minggu kedua sesudah tanggal Hari Raya Idul Fitri. Tetapi karena Minggu kedua adalah Hari Raya Paskah, maka Syawalan di Domus akan dilaksanakan pada MInggu 12 April 2026.  Para peserta memang harus mendaftarkan diri. Pendaftaran ke Rm. Bambang lewat WA di HP no. 087834991969. Pendaftaran ditutup pada pada 5 April 2026 sehingga paling lambat 4 April 2026. Sejak diumumkan pada 1 Maret, kini yang mendaftar sudah tercatat 103 orang.  

Jogja 23

1. Yosefin Meyliana, 2. Suratinah, 3. Lestari, 4. Nur Marjinah 5. Bu Bandiyah, 6. Agus suro, 7. Bu Ida Kenik, 8. MG Sri Kusdiyati, 9. Yuli Avianto, 10. Atik, 11. Niken, 12. Yusuf, 13. Nenti, 14. Otik, 15. Rini Rindawati, 16. Andreas P, 17. Magdalena Tri, 18. Sri Suyati, 19. Mbal Illah, 20. Subakir, 21. Sri Wahyunu, 22. Noviyanti, 23. Maria Veronika,

Bantul 13

1. Agus Suseno, 2. Zunardi, 3. Djaziri, 4. Siti Hibanah, 5. Ghufron, 6. Hudiono, 7. Feansiska Rikha, 8. Heriyanti Y, 9. Ispono, 10. Agus , 11. Farel, 12. Wiwik, 13. Farhan

Sleman 22

1. Yastuti Raharsih, 2. Lizara Richi, 3. Giyono, 4. Yunianto, 5. Ratna, 6. Adam, 7. Didin, 8. Endang, 9. Desi Listia, 10. Iswanto, 11. Tari, 12. Subardjo Y, 13. Lucia Djumini, 14. Parjono, 15. Mbak Tiwi, 16. Wakidah, 17. Sarwoto, 18. Sri Apeni, 19. Paryana, 20. Suharti, 21. Widodo, 22. Trimah

Kulon Progo 4

1. Lucia Haryanti, 2. Yopi, 3. Warso, 4. Tutik

Sala/Surakarta 7

1. Slamet, 2.Sulistyowati, 3.Dian, 4.Parni, 5.Kasno, 6. Meita, 7. Daud,

Klaten 21

1. Lusi, 2. Supri, 3. Sriyono, 4. Yayuk, 5. Endang, 6. V Suminah, 7. Sugiyo, 8. Bernardus, 9. Hubertus, 10. Maria, 11. Robert, 12. Ninik, 13. Maryono, 14. Harini, 15. Jumadi, 16. Alvin, 17. Tria, 18. Avca, 19. Juariyah, 20. Sri Lestari, 21. Juju Juliati

Magelang 11

1. Mariyat, 2. Ngatinem, 3. Nurdiyanto, 4. Indarti, 5. Mardi, 6. Sartini, 7. Muhzamrodin, 8. Sabar, 9. Wahyuni, 10. Naumi, 11. Nana

Gunung Kidul 2

1. Sudarmono, 2. Murwanti

Sunday, March 15, 2026

Lingkungan Tangkisan Pos

"Dina niki libur nggih?" (Ini hari libur, ya?) salah seorang rama nyeletuk ketika sedang makan pagi Minggu 15 Maret 2026. Di dalam pembicaraan pagi itu kata "libur" memiliki 2 arti. Pertama, hari libur adalah hari Minggu. Para rama sering berkata "Hari Minggu adalah hari libur untuk Domus, karena pada umumnya di hari Minggu tak ada Misa". Misa Domus adalah Misa Komunitas Rama Sepuh yang biasa terjadi pada Senin sampai Sabtu setiap sore. Tetapi pada Sabtu sore Komunitas Domus biasa menggunakan Liturgi Hari Minggu. Dengan demikian di Domus tak biasa ada Misa di hari MInggu. Seandainya terjadi ada, misalnya karena even tertentu atau ada umat yang minta pelayanan ujub tertentu, Misa Sabtu sore ditiadakan. Yang kedua, kalau ucapan "Ini hari libur" muncul di Minggu 15 Maret 2026, itu berarti tak ada rombongan tamu berkunjung.


Para rama Domus maklum kalau sekalipun Minggu tak terjadi ada rombongan tamu berkunjung. Bukankah hari itu termasuk Masa Prapaskah? Bukankah di Masa Prapaskah umat sibuk mempersiapkan perayaan Paskah? Bukankah di Masa Prapaskah umat juga punya kegiatan-kegiatan khusus di Lingkungan seperti pertemuan Aksi Puasa Pembangunan (APP)? Maka layaklah kalau para rama santai-santa berada di kamar masing-masing. Pada jam 08.00, karena biasa bangun di dini hari, Rm. Bambang sudah tertidur dan hanya terbangun karena ada snak di antar di kamarnya. Tiba-tiba menjelang jam 10.00 seorang karyawan masuk kamarnya dan berkata "Rama, wonten rombongan tamu mendadak. Saking Gondang" (Rama, ini mendadak ada rombongan tamu berkunjung dari Gondang). Ternyata pada jam 09.44 dalam HP Rm. Bambang ada pesan WA dari Rm. Andika yang sedang tak ada di Domus. Isi WA adalah "Romo dinten punika wonten kunjungan kula kesupen nyerat. Saking lingkungan paroki Gondangwinangun. ..... Matur nuwun 🙏🏻 (Rama, hari ini ada kunjungan. Saya lupa menuliskan. Dari Paroki Gondangwinangun. ..... Trima kasih). Ternyata yang datang adalah umat Lingkungan Tangkisan Pos yang masuk wilayah Paroki Gondang. Kedatangan mereka dalam rangka merayakan Pesta Pelindung, yaitu Santo Yusup. Mereka mengisi dengan kerja bakti bersih gereja Gondang pada Rabu 11 Maret 2026, kunjungan ke rama sepuh Domus Pacis npada hari itu, dan Perayaan Misa khusus besok pada tanggal 19 Maret 2026. Lima orang rama sepuh ikut menyambut rombongan tamu, yaitu Rm. Yadi, Rm. Suhartana, Rm. Ria, Rm. Jarot, dan Rm. Bambang. Bagaimanapun juga acara yang bagi Domus mendadak tak mengurangi suasana penuh kegembiraan dengan banyak kelakar. 

Saturday, March 14, 2026

Dominikanes Awam Chapter Martinus de Porres

 Kongregasi dan ordo adalah hidup membiara yang para anggotanya pada umumnya mengikrarkan 3 kaul, yaitu kemurnian (selibat), ketaatan, dan kemiskinan. Para anggota terikat dalam hidup membiara bahkan menjadi komunitas-komunitas biara. Tetapi dalam perkembangan kemudian ada awam-awam yang mempersekutukan diri dengan sama-sama menghayati spiritualitas atau model kerohanian ordo tertentu. Mereka biasa masuk dalam persekutuan yang sering disebut ordio ketiga. Satu di antaranya mengalir dari kehidupan biarawan-biarawati Odo Praedicatorum (OP) atau Ordo Pengkhotbah. Karena didirikan oleh Santo Dominicus, biarawan-biarawatinya juga biasa disebut Dominican dan Dominicanes. Kini ada kelompok awam yang bernaman Dominikanes Awam. Google memberikan keterangan "Dominikanes Awam (dulu Ordo Ketiga Dominikan) adalah kumpulan umat Katolik yang dibaptis, berpartisipasi dalam spiritualitas Ordo Pewarta (OP), dan berkomitmen menghidupi karisma Santo Dominikus. Mereka berfokus pada pewartaan, doa, studi, dan persaudaraan di tengah dunia. Di Indonesia, komunitas ini resmi didirikan, salah satunya di Jakarta pada 2017.


Dominikanes Awam Indonesia berpusat di Jakarta. Wilayahnya juga mencakup Dominikanes Awam Provinsi Filipina. Sementara itu di Indonesi ada chapeter-chapter Dominikanes Awam di Jakarta, Surabaya, Pontianak, Yogyakarta, Cirebon, dan Cimahi. Masing capter memiliki nama sesuai Santo Pelindung. Satu di antaranya adalah Chapter Santo Martinus de Porres, yaitu Dominikanes Awam di Yogyakarta. Pada Jumat 13 Maret 2026 Dominikanes Awam Yogyakarta berkunjung ke Domus Pacis Santo Petrus. Ada 10 orang yang ikut berkunjung. Pada umumnya mereka datang berdua suami-istri. Katanya di Yogyakarta ada sekitar 26 orang anggota Dominikanes Awam. Di Domus Pacis selain Rm. Andika Bhayangkara sebagai Direktur Domus, para rama sepuh ikut ikut menyambut adalah Rm. Ria, Rm. Djoko Setyo, Rm. Jarot, Rm. Yadi, Rm. Suhartana, dan Rm. Bambang. Yang terjadi dalam pertemuan itu adalah duduk-duduk santai sambil omong-omong biasa. Tetapi suasana kelakar amat mewarnai sehingga terjadi suasana akrab persaudaraan. Pertemuan ditutup dengan penyerahan oleh-oleh beberapa hal kebutuhan Domus, foto bersama, doa dari tamu, dan berkat dari Rm. Andika. 

Friday, March 13, 2026

Rahmat Lewat Kasihnya Rm. Saptaka

Pada Jumat 13 Maret 2026 sore Rm. Djoko Setyo mendapatkan giliran memimpin Misa Komunitas Rama Sepuh Domus Pacis. Sesudah membaca Injil kurang lebih Rm. Djoko memulai kata-kata dalam homili "Berhadapan dengan hukum kasih ternyata berisi dua, yaitu kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia. Saya menemukan bahwa keduanya sebenarnya adalah satu. Yang pokok adalah mengasihi Allah. Kalau mengasihi Allah orang akan memiliki relasi baik dengan sesama. Di sini saya mengingat ketika Rm. Saptaka berulang tahun pada Rabu 11 Maret dua hari lalu, tamu berdatangan baik dari Semarang maupun dari Sala selain beberapa keluarga. Para tamu banyak membawa oleh-oleh. Bahkan, sebenarnya, masih ada yang disimpan oleh Rm. Saptaka". Tentu saja kata-kata terakhir membuat peserta Misa tertawa. 


Seperti biasa, seusai Misa para rama langsung ke kamar makan santap malam bersama. Ternyata Rm. Saptaka meminta salah satu karyawan masuk kamarnya dan kembali ke ruang makan membawa sesuatu dalam piring besar. Rm. Saptaka meminta untuk di bagi tiga disajikan di 3 kelompok meja para rama sepuh. Rm. Bambang melihat sajian menu khusus itu dan merasa baru sekali itu menemukan. Menu itu terdiri dari lempengan-lempengan tebal tapi melebar berwarna kehitaman dan masing-masing ditusuk  dengan tusukan untuk pegangan. "Napa niku jenenge" (Itu apa?) tanya Rm. Bambang yang mendapat jawaban "Satu babi". Rm. Suntara yang semeja dengan Rm. Bambang tampak senang sekali. Sehabis doa penutup makan dia meminta karyawan untuk menyimpan beberapa tusuk yang masih sisa di dalam lemari es. Ternyata Rm. Saptaka melakukan hal sama. Di pagi hari satu piring sisa sate babi disajikan di kelompok Rm. Saptoko. Rm. Bambang menghampiri untuk diambil gambar dengan HP. "Kula sek ngertos sepisan sing ngados ngaten" (Saya baru sekali ini melihat yang seperti ini) kata Rm. Bambang yang ditanggapi oleh Rm. Saptaka "Niki saking Sala" (Ini dari Sala) sambil meminta Rm. Bambang membawa ke mejanya sesudah beliau mengambil satu. Rm. Bambang menyodorkan ke Rm. Suntara. Sesudah makan pagi ternyata Rm. Suntara minta ke karyawan menyimpan yang tersisa dengan berkata "Nggo engko awan" (Untuk nanti siang). Rm. Bambang merasa senang melihat Rm. Suntara merasa senang. Dia sendiri tidak menyantapnya. Maklumlah Rm. Bambang untuk menu daging hanya daging ayam, itupun harus digoreng atau dibakar garing.

Wednesday, March 11, 2026

Kunjungan Rm. Kartasudarma

"Aku saiki wis ora isa lunga-lunga dhewe" (Sekarang aku sudah tak bisa pergi-pergi sendiri) kata Rm. Kartasudarma kepada Rm. Bambang. Keduanya berjumpa di kamar Rm. Bambang di Domus Pacis Santo Petrus. Rm. Karta datang dituntun oleh sopirnya. Beliau memang tidak tampak lincah seperti beberapa tahun lalu. Rm. Bambang yang duduk di kursi roda menanggapi "Aku ya wis ra isa nengendi-endi dhewe. Wis ora nyopir lan motoran. Mripatku wis ora tajam meneh nggo berkendaraan neng dalan gedhe" (Aku juga sudah tak bisa ke mana-mana sendiri. Aku sudah tak bisa bermobil dan bermotor sendiri. Penglihatanku sudah tidak tajam untuk berkendaraan di tengah lalu lintas). "Tahun rong ewu patlikur aku wis tau sroke. Aku wis tau lumpuh. Pas Misa neng susteran tujune nganggo kursi nggo lungguh. Bar misa arep ngadeg wis ora isa. Langsung digawa neng Elisabet" (Tahun 2024 aku pernah stroke. Aku pernah menderita lumpuh. Itu terjadi ketika memimpin Misa di susteran yang untungnya pakai kursi untuk duduk. Sesudah Misa aku akan berdiri ternyata tidak bisa. Langsung saja aku dibawa ke RS Elisabet di Semarang) Rm. Karta menambahkan ceritanya. 


Rm. Kartasudarma datang ke Rm. Bambang pada Rabu 11 Maret 2026 dalam rangka mengunjungi Rm. Heruyanta yang kini ada di Domus Pacis Santo Petrus karena menderita stroke. Rm. Karta bilang bahwa omongan dengan Rm. Heru hanya sebentar dan tak bisa menangkap dengan jelas karena pelo. Kemudian Rm. Heru tertidur. Rm. Heru, Rm. Karta, dan Rm. Bambang adalah sesama angkatan tahbisan. Ketiganya ditahbisan menjadi imam pada 22 Januari 1981 oleh almarhum Bapak Kardinal Darmajuwana di Seminari Tinggi Kentungan. Kalau Rm. Bambang sudah menjadi penghuni Domus Pacis sejak 1 Juli 2010, Rm. Karta dan Rm. Heru hingga kini masih terhitung memiliki dinas dengan SK Keuskupan. Rm. Heruyanta adalah pastor rekan di Paroki Salam dan Rm. Kartasudarma pastor rekan di Paroki Weleri. Bahwa Rm. Heru kini ada di Domus Pacis, statusnya adalah semacam titipan karena di Domus tenaga karyawannya selain untuk melayani para rama sepuh juga punya ketrampilan mengurus para rama yang mengalami derita fisik karena penyakit-penyakit tertentu.  

Monday, March 9, 2026

Omongan Domus Pacis di Belakang Seminari Tinggi

Dalam makan siang Selasa 10 Maret 2026 di rumah para rama sepuh Domus Pacis Santo Petrus, terjadi omongan yang menunjukkan bahwa Domus Pacis bukanlah hal yang jelas diketahui oleh sementara warga Keuskupan Agung Semarang. Rm. Andika, Direktur Domus, pernah ditanya temannya dari Ungaran "Kowe saiki neng ngendi?" (Di mana kamu kini berguhas?). Ketika Rm. Andika menjawab bahwa beliau kini di Domus Pacis, temannya bertanya "Ngendi kuwi?" (Di mana itu?). Rm. Andika menjelaskan bahwa Domus Pacis Santo Petrus berada di belakang gedung Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan. Tetapi temannya langhsung berkata "Lho, mburi Seminari ki lapangan bal-balan" (Belakarng Seminari itu adalah lapangan sepak bola). Pada saat Rm. Andika bertanya "Kapan kowe neng Seminari?" (Kapan kamu di Seminari Tinggi?), ternyata temannya mengatakan "Tahun 1995". Pengetahuan teman itu memang tidak slah. Duluuuu .....

Sementara itu Rm. Bambang bercerita pengalaman baru saja pada 9 Maret 2026. Pada sore hari dia diundang Ibu-ibu Paroki Muntilan. Dia sampai di kompelks Pastoran Muntilan cukup awal. Ketika menuju aula tempat pertemuan, Rm. Bambang berjumpa Rm. Thomas Sarju Munarsa SY. Pertemuan itu sungguh amat mengesankan sekali dan Rm. Sarju tampak amat bergembira. Kepada ibu-ibu beliau bilang "Rama Bambang ki biyen aspriku neng Seminari Menengah Mertoyudan" (Rm. Bambang dulu adalah asisten pribadiku di Seminari Mertoyudan). Pada tahun 1977 Rm. Bambang, ketika menjalani Tahun Orientasi Pastoral sebagai calon imam, memang di Seminari Meroyudan bersama Rm. Sarju yang sudah seorang imam. Keduanya dulu amat akrab mengadakan gerakan-gerakan di Seminari. Ketika Rm. Sarju bertanya di mana kini Rm. Bambang tinggal, Rm. Bambang menjawab "Teng Domus Pacis Kentungan" yang membuat Rm. Sarju bertanya "Nggon apa kuwi?" (Itu tempat apa?). Rm. Bambang menjawab "Niku Emause rama-rama praja Keuskupan Agung Semarang" (Itu seperti Emaus tempat rama sepuh Yesuit yang diperuntukkan bagi para rama praja sepuh Keuskupan Agung Semarang). Ketika ditanya lokasinya, Rm. Bambang menunjuk di belakang Seminari. Rm. Sarju langsung berkata "Mburi Seminari ki kuburan" (Belakang Seminari Tinggi itu makam). Ketika dijawab "Depan kuburan" Rm. Sarju bingung depan itu arah mana. Maklumlah bangunan Seminari termasuk Fakultas Teologi bisa membuat orang bingung menghadap ke mana. Akhirnya Rm. Sarju baru tampak jelas ketika Rm. Bambang berkata "Gedung Domus berada di sebelah utara makam".

Santa Theodosia dari Tirus

diambil dari katakombe.org/para-kudus  Diterbitkan:  11 April 2015  Diperbaharui:  11 April 2015  Hits:  12199 Perayaan 02 April   Lahir Sek...