Friday, February 20, 2026

Lamunan Sesudah Rabu Abu

Sabtu, 21 Februari 2025

Lukas 5:27-32

27 Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!" 28 Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia. 29 Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. 30 Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: "Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" 31 Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; 32 Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, ada gambaran bahwa beriman berarti beragama. Hidup keagamaan adalah tanda orang ikut Tuhan.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa dengan sungguh beriman orang taat menjalani agama. Segala wajib keagamaan bahkan berbagai kegiatan keagamaan dijalani.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, meskipun penghayatan iman dalam ungkapan tampak dalam hidup keagamaan, iman sejati berakar pada kesediaan terbuka dan mengikuti suara relung hati. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar bahwa agama tanpa hubungan batin dengan suara kalbu hanya jadi pertunjukan baik tanpa peduli pada kaum papa jasmani rohani.

Ah, beriman itu yang pokok adalah jalani wajib-wajib agama.

Thursday, February 19, 2026

Rm. Suntara Berulang Tahun

Rm. Fransiscus Assisi Suntara termasuk rama sepuh yang dulu juga menjadi anggota Komunitas Domus Pacis Puren dan pada 1 Juni 2021 ikut dipindahkan di Domus Pacis Santo Petrus. Beliau lahir pada 20 Februari 1945 sehingga pada tanggal 20 Februari tahun ini beliau berulang tahun ke 81. Sebenarnya Rm. Suntara tidak suka peringatan ulang tahun. Kata informasi dari Paroki Pringgolayan, karena sebelum masuk Domus Rm. Suntara berkarya di Pringgolayan, ada pengalaman tidak nyaman. Ayah beliau meninggal berdekatan dengan hari ulang tahunnya. Tetapi Domus Pacis Santo Petrus tetap melaksanakan pesta kecil-kecilan untuk ulang tahunnya. Dulu beliau pernah berkata kepada Rm. Bambang "Aku ora sah diulangtauni" (Aku tak usah pakai ulang tahun) yang dijawab oleh Rm. Bambang "Kowe mung nggo alat ben rama-rama isa seneng-seneng" (Kamu hanya alat untuk senang-senangnya para rama). Karena sekarang Rm. Suntara biasa ikut kelompok berjemur di pagi hari bersama Rm. Sapta, Rm. Djoko, Rm. Andika, Rm. Ria, dan sering juga Rm. Supriyanto dan Rm. Suhartana, Rm. Bambang menyediakan snak khusus untuk para rama nggota kelompok berjemur. Selain itu Rm. Bambang juga berkidung untuk Rm. Suntara :


Santo Eucherius dari Orleans

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 27 Juli 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014 Hits: 10762

  • Perayaan
    20 Februari
  •  
  • Lahir
    Hidup pada Abad ke-8
  •  
  • Kota asal
    Orleans - Perancis
  •  
  • Wafat
  •  
  • 20 February 743 di Biara Sint-Tuiden Belgia | Oleh sebab alamiah.
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

St. Eucherius hidup di Orleans, Perancis, pada abad kedelapan. Ia diasuh dan dididik secara Kristiani. Satu kalimat dari surat pertama St. Paulus kepada jemaat di Korintus menimbulkan kesan mendalam padanya: “Dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu” (1 Korintus 7:31).

Pernyataan ini membuat Eucherius sadar bahwa hidup kita di dunia ini amat singkat. Ia sadar bahwa surga dan neraka akan berlangsung selamanya. Ia bertekad untuk menemukan sukacita surgawi dengan hidup hanya bagi Tuhan saja.

Pada tahun 714, St. Eucherius meninggalkan rumahnya yang mewah untuk masuk ke sebuah biara Benediktin. Di sana ia melewatkan tujuh tahun dalam persatuan yang erat dengan Tuhan. Setelah wafat pamannya, Uskup Orleans, pada tahun 721, Eucherius dipilih untuk menggantikannya. Pada waktu itu Eucherius masih berusia duapuluh lima tahun dan amat rendah hati. Ia tak hendak meninggalkan biara yang sangat dikasihinya. Dengan berurai airmata ia memohon agar diijinkan tetap tinggal sendirian bersama Tuhan dalam biara. Tetapi, pada akhirnya ia menyerah atas nama ketaatan. Eucherius menjadi seorang uskup yang bijaksana dan kudus. Ia banyak berbuat baik bagi para imam dan umatnya.

Seorang tokoh politik yang berkuasa, Charles Martel, biasa mengambil uang Gereja untuk membiayai perang. Ketika Uskup Eucherius menegurnya, Martel menjebloskannya ke dalam penjara. Uskup pertama-tama dibuang ke Cologne, dan lalu ke sebuah benteng dekat Liege. Tetapi gubernur kepada siapa Martel mempercayakan pengasingan uskup, tergerak hatinya oleh kelemah-lembutan Eucherius terhadap para musuhnya. Beberapa waktu kemudian, sang gubernur dengan diam-diam membebaskan uskup dari penjara dan mengirimkannya ke sebuah biara di Belgia. Di sini, orang kudus kita melewatkan hari-harinya dengan tenang dalam doa hingga wafatnya pada tahun 743.

Lamunan Sesudah Rabu Abu

Jumat, 20 Februari 2025

Matius 9:14-15

14 Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" 15 Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, setiap agama memiliki wajib tradisional masing-masing. Puasa biasa ada pada semua agama dan kepercayaan.
  • Tampaknya, ada gambaran sama sikap dasar penganut agama berkaitan dengan kewajiban berpuasa. Puasa biasa dikaitkan dengan tindakan tidak makan dan tidak minum.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun setiap agama dan kepercayaan ada tradisi wajib berpuasa, kalau hidup terpusat pada hubungan mesra dengan relung hati tindakan berpuasa tidak pernah tergantung pada ketentuan kesamaan waktu dan cara pelaksanaan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati, sekalipun setiap agama dengan kepercayaan punya tradisi berpuasa, orang akan terbuka menghormat tatacara pada berbagai penghayatan dalam berbagai agama dan kepercayaan.

Ah, yang namanya berpuasa itu yang harus menjalani tidak makan minum.

Wednesday, February 18, 2026

Bersedekah


“Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6:2-4)

Pada zaman kini demi transparansi dana-berdana biasa dilakukan dengan pencatatan. Hal ini dapat terjadi misalnya ketika ada media membuka kesempatan menyumbang bencana alam. Di dalam Gereja hal itu juga terjadi. Uang dana yang dikumpulkan di Lingkungan atau kelompok umat juga dicatat dan dilaporkan. Namun demikian Tuhan Yesus dalam ayat-ayat itu tidak berbicara tentang kegiatan kebersamaan yang berkaitan dengan tata organisasi. Tuhan berbicara tentang tindakan personal dalam bersedekah sebagai salah satu kewajiban agama.

Menjadi Pribadi Utuh

Satu hal yang menarik adalah bahwa memberi sedekah dikaitkan dengan olah sikap agar tidak seperti orang munafik. Sikap munafik terungkap dalam tindakan penonjolan diri. Tindakan berdana tidak dilandasi oleh motivasi batin untuk menyumbang atau memberi secara cuma-cuma tanpa mengharapkan balasan. Pemberian derma dijadikan sarana atau alat untuk unjuk diri agar mendapatkan sanjungan dari banyak orang lain. Bagi kaum lanjut usia agar terbebas dari sikap munafik kiranya perlu menyadari kesejatian lansia. Kitab Suci berkata bahwa “Rambut putih adalah mahkota yang indah, yang didapat pada jalan kebenaran.” (Ams 16:31) Kaum lanjut usia sejatinya menjadi tanda keindahan bagi kehidupan bersama terutama di tengah generasi di bawahnya. Hal ini terjadi karena orang yang sungguh menghayati kesejatian lanjut usia akan menjadi sosok bijaksana (band. Mzm 90:12). Memang, kebijaksanaan kaum lanjut usia diperoleh karena ketekunannya menjalani hidup penuh perjuangan sehingga “kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan” (Mzm 90:10). Hal ini tentu cocok dengan ajaran Jawa bahwa ngèlmu (bukan “ilmu” yang berkaitan dengan pengetahuan, tetapi ngèlmu[1] adalah kebijaksanaan) itu adalah buah dari susah payah perjuangan hidup.

Perjuangan hidup itu tetap terjadi di masa lanjut usia, yaitu kalau kaum lanjut usia bersedia hidup dalam dampingan, bimbingan, dan petunjuk kaum muda. Hal ini dikatakan oleh Tuhan Yesus Kristus “jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” (Yoh 21:18) Orang yang sudah masuk lanjut usia seharusnya sudah sampai pada tahap mampu tidak hidup menurut kehendaknya sendiri. Sebagai pengikut Tuhan Yesus dia sudah sampai pada tahap endapan penghayatan hidup mengikuti kehendak Allah sebagaimana Ibu Maria yang berkata “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38) Orang yang dapat menghayati perkembangan diri di lanjut usia akan mengalami kepribadian utuh dan tak ada keretakan antara yang terungkap dan terwujud secara lahiriah dengan yang sebenarnya ada dalam batin. Seorang psikolog, H. Erikson, menyatakan bahwa kaum lanjut usia yang berkembang secara positif akan mengalami hidup bijaksana.

Sedekah Model Lanjut Usia

Berbicara tentang sedekah sebagai kewajiban beragama jelas berkaitan dengan masalah uang. Sedekah ini pada masa Prapaskah di banyak keuskupan biasa disebut sebagai dana APP (Aksi Puasa Pembangunan). Tetapi sebagai kewajiban beragama sedekah tidak hanya di masa Prapaskah. Dalam hal ini kaum lanjut usia pun termasuk yang kena wajib bersedekah. Berkaitan dengan kondisi ekonominya, merujuk ke Undang-undang Nomor 13 Tahun 1998, ada dua macam corak hidup kaum lanjut usia (lihat http://zelously.blogspot.com/2016/04): 1) Lanjut Usia Potensial adalah lanjut usia yang masih mampu melakukan aktivitas pekerjaan dalam kata lain masih mampu menghasilkan barang dan jasa; 2) Lanjut Usia Non Potensial adalah lanjut usia yang tidak bisa mencari nafkah sehingga hidupnya tergantung pada orang lain. 

Berkaitan dengan kekuatan ekonomi, yang perlu diperhatikan adalah berapa besar uang yang riil dimiliki secara tunai. Bisa jadi yang potensial besaran pemasukan secara nyata lebih kecil daripada yang non potensial karena dia mendapatkan pemberian lebih besar. Memang, bisa saja yang potensial pendapatannya masih ditambah pemberian rutin misalnya dari anak-anak atau sanak saudara bahkan mungkin masih ada dana pensiun. Meskipun demikian, sekalipun potensial atau bahkan potensial plus tambahan pemberian, hal yang harus dicermati adalah sebesar apa pengeluaran rutinnya. Barangkali dia harus menanggung sendiri pajak-pajak bulanan. Barangkali dia juga masih harus membeayai sendiri pengobatan-pengobatan karena kaum lanjut usia pada umumnya sudah rentan akan penyakit. Atau lebih berat lagi barangkali dia juga masih menanggung atau paling tidak membantu kehidupan anak dan atau cucu.

Dalam bersedekah kaum lanjut usia harus memperhitungkan kekuatan nyata yang bisa untuk ambil bagian dalam berdana. Besar atau kecilnya dana tidak ditentukan oleh Gereja. Tuhan Yesus hanya berkata “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut,” (Luk 12:48). Sesedikit apapun jumlah sedekah, yang paling pokok itu adalah wujud totalitas diri mempersembahkan hidup kepada Allah. Sekalipun memberi banyak kalau itu hanya sekedar memenuhi wajib lahiriah dan hanya bagian dari kelimpahan, dapat terjadi itu belum menyentuh lubuk hati rela berkorban. Inilah yang terjadi ketika Tuhan Yesus membandingkan sedekah janda miskin dan kaum kaya. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Mrk 12:43-44)

Penghalang Utama

Kemunafikan adalah hal yang menjadi peringatan utama dari Tuhan Yesus untuk bersedekah. Dari sini kaum lanjut usia perlu memiliki kesadaran batin akan hal-hal yang bisa membuatnya bersikap munafik, yaitu bersedekah untuk menonjolkan diri. Kalau dikuasai oleh rasa ingin terpandang karena tak ketinggalan dalam bersedekah, kaum lanjut usia bisa tidak memperhitungkan perkembangan situasi hidupnya. Barangkali dia memang punya uang banyak. Tetapi barangkali kali dia mengesampingkan kebutuhan-kebutuhan yang juga membutuhkan beaya besar seperti pajak dan obat-obat rutin.

Sebaliknya, barangkali yang terjadi adalah realita keuangan amat minim. Tetapi demi dihargai oleh orang lain kaum lanjut usia menyumbang melebihi kekuatan dengan meminta uang tambahan dari anak dan atau cucu dengan desakan dan tekanan. Paling celaka kalau dia menyumbang dengan uang hasil berhutang. Tuhan berkata “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.” Larangan tangan kiri mengetahui yang diperbuat oleh tangan kanan barangkali juga dapat diperluas dengan larangan untuk mulut menceriterakan dan jari-jari menulis dijadikan kabar untuk orang lain.



[1] Dalam tembang pucung (salah satu model kidung tradisional Jawa) ada ajaran: Ngèlu iku; Kelakoné kanthi laku; Lekasé lawan kas; Tegesé kas nyantosani; Setya budya pangekesé dur angkara (Kebijaksanaan itu; Terjadi sebagai buah perjuangan hidup sehari-hari; Dasarnya adalah kas; Kata kas berarti daya batin; Kesetiaan dalam segala tindakan menjadi penangkal kejahatan).

Santo Gabinus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 30 Juli 2016 Diperbaharui: 22 Februari 2017 Hits: 12293

  • Perayaan
    19 Februari
  •  
  • Lahir
    Hidup pada abad ke-3
  •  
  • Kota asal
    Roma - Italia
  •  
  • Wafat
  •  
  • Martir | Dipenggal dalam rumahnya sendiri pada tahun 295
  •  
  • Venerasi
    -
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santo Gabinus adalah seorang bangsawan Romawi Kristen yang hidup di abad ketiga. Ia adalah saudara Santo Paus Caius dan ayah dari Santa Susana. Mereka bertiga tewas sebagai martir Kristus pada masa awal pemerintahan Kaisar Diocletianus; ketika kaisar keji ini mulai melancarkan penganiayaan terhadap umat kristen secara besar-besaran.

Kemartiran Santo Gabinus dan puterinya bermula ketika keluarga ini menolak lamaran Maximianus, putera kaisar Diokletianus, yang hendak mempersunting Susanna sebagai isterinya. Susanna menolak lamaran ini karena ia telah mengucapkan kaul kemurnian. Selain itu ia juga tidak mau menjadi bagian dari keluarga kaisar yang telah membantai saudara-saudaranya umat Kristiani.

Penolakan ini membuat Diokletianus murka. Ia lalu mengirimkan pasukan pembunuh ke rumah keluarga Gabinus yang kini sudah ketahuan sebagai orang Kristen. Santo Gabinus dan puterinya Santa Susana dipenggal di dalam rumah mereka sendiri pada tahun 295.  Setahun kemudian, saudaranya Paus Gaius juga tertangkap dan dihukum mati.

Setelah masa penganiayaan berlalu, rumah keluarga ini dipugar menjadi sebuah gereja yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Gereja ini dikenal dengan nama : Chiesa di Santa Susanna alle Terme di Diocleziano (The Church of Saint Susanna at the Baths of Diocletian)

Lamunan Sesudah Rabu Abu

Kamis, 19 Februari 2025

Lukas 9:22-25

22 Dan Yesus berkata: "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga." 23 Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. 24 Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. 25 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, pada umumnya orang ingin hidup selamat. Ucapan selamat biasa dikaitkan dengan peristiwa gembira.
  • Tampaknya, pada umumnya orang ingin selalu damai sejahtera. Itu berarti tak ada susah gelisah, selalu tenteram, dan segala keinginan tercapai.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun susah derita biasa dijauhi oleh pada umumnya orang, tetapi bagi yang ikhlas bersusah derita bahkan kehilangan berbagai kenikmatan duniawi demi mempertahankan kebaikan dan kebenaran serta keluhuran hidup, dia justru akan menikmati kesejatian hidup. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang yang tak pikir keselamatan diri tetapi keselamatan banyak orang, dia justru akan menghayati kesejatian keselamatan.

Ah, yang namanya selamat itu ya bebas dari hidup celaka.

Lamunan Sesudah Rabu Abu

Sabtu, 21 Februari 2025 Lukas 5:27-32 27 Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sed...