Tuesday, March 10, 2026

Ulang Tahun Rm. Saptaka

"Hic et nunc" adalah bahasa Latin yang berarti "Kini dan di sini". Sekarang adalah hari Rabu tanggal 11 Maret 2026. Di sini dalam berita ini berarti di Domus Pacis Santo Petrus Kentungan. Hari ini di Domus Pacis ada peristiwa istimewa yang menghadirkan menu makan siang khusus. Yang terlibat makan siang adalah para rama dan karyawan termasuk relawan Domus Pacis ditambah sejumlah keluarga Rm. Robertus Saptaka. Semua ini menjadi pertanda bahwa Domus Pacis merayakan Ulang Tahun Kelahiran Rm. Saptaka. Rm. Saptaka memang sudah masuk dalam jajaran para rama sepuh Komunitas Domus Pacis. Dari segi usia beliau memang terhitung muda ketiga dari Rm. Andika (hampir 48 tahun tetapi menjadi Direktur Domus) dan kemudian Rm. Djoko Setyo yang akan genap 63 tahun besok 27 Desember 2026. Hari ini Rm. Saptaka genap 63 tahun. Rm. Saptaka termasuk memiliki tubuh semampai dengan wajah mempesona. Sekilas beliau tampak lebih banyak diam namun mudah senyum dan memang memiliki kebiasaan hening diri paling kuat di antara para rama Domus. Tetapi kalau sudah berbicara, sekalipun tidak berapi-api, tampilan segarnya menghadirkan kata-kata yang mudah menimbulkan gelak tawa. Dalam penilaian Rm. Bambang, khotbah Rm. Sapta, ketika mendapatkan giliran memimpin Misa Komunitas, adalah yang paling menyegarkan. Untuk menyambut Ulang Tahun ke 63 keliahiran beliau, Rm. Bambang pada waktu makan pagi bersama menyampaikan kidungan berikut :

Santo Sophronius

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 13 Maret 2016 Diperbaharui: 13 Maret 2016 Hits: 12349

  • Perayaan
    11 Maret
  •  
  • Lahir
    Hidup pada abad ke-7
  •  
  • Kota asal
    Damsyik (sekarang Damaskus - Suriah)
  •  
  • Wafat
  •  
  • Sekitar tahun 638 atau tahun 639 (sumber bervariasi) - penyebab kematian tidak diketahui.
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santo Sophronius berasal dari kota Damsyik (sekarang Damaskus – Suriah). Awalnya ia adalah seorang guru dan ahli retorika. Kerinduannya untuk menjadi seorang pelayan Tuhan membuat Sophronius meninggalkan Damsyik dan mulai mengembara ke pertapaan-pertapaan dan biara-biara di sekitar Asia kecil. Ia berkelana sampai ke tanah Mesir, di mana ia tinggal selama beberapa tahun dan dibimbing oleh Patriark Alexandria, Santo Yohanes Penderma. Di sekitar tahun 580, Sophronius pindah ke Yerusalem dan masuk biara santo Theodosius di dekat kota Bethlehem.

Ketika muncul ajaran sesat Monotelitisme, Sophronius dengan gigih melawan ajaran sesat yang menyatakan bahwa Kristus hanya memiliki satu kodrat Ilahi, dan menolak kodrat manusia-NYA. Ia menulis banyak buku demi membendung pengaruh ajaran ini. Buku-bukunya kini telah hilang. Pada tahun 633 Sophronius berangkat ke ibukota Kekaisaran Romawi Timur Konstantinopel demi memperingatkan para pemimpin Gereja agar tidak terpengaruh oleh monotelitisme yang ternyata mendapat dukungan dari Kaisar Heraklius (Kaisar Byzantium 610 – 641).

Meskipun misinya ke Konstantinopel tidak membuahkan hasil, namun Sophronius terpilih menjadi Patriark Yerusalem pada tahun 634. Segera setelah penobatannya, Sophronius menuliskan sebuah surat kepada Paus Honorius I dan para patriark gereja di wilayah Timur. Dalam suratnya ia menegaskan pandangannya akan dua kodrat Yesus, kodrat manusia dan kodrat ilahi. Ia kembali menyatakan penolakkannya terhadap ajaran Monotelitisme, yang menurutnya adalah wujud lain dari ajaran sesat Monofisit. Surat ini sekarang telah hilang; begitu juga dengan florilegium (Anthologi) dari sekitar 600 teks yang dikumpulkan Sophronius dari para Patriark Timur yang mendukungnya. Dokumen ini juga hilang. (Perjuangan Sophronius baru membuahkan hasil pada tahun 680, kurang lebih 40 tahun setelah kematiannya, saat diselenggarakannya konsili Konstantinopel III. Hasil konsili ini menolak ajaran Monotelitisme dan menyatakannya sebagai ajaran sesat.)

Ketika Yerusalem ditaklukkan oleh Khalif Umar bin Khatab (637), Patriark Sophronius menemani Umar saat ia mengunjungi tempat-tempat suci di Yerusalem. Ia berhasil menyakinkan Umar untuk tidak menghancurkan situs-situs suci umat Kristen khususnya Gereja Makam Suci, dan dapat berlaku murah hati terhadap umat kristen.

Santo Sophronius tutup usia di sekitar tahun 638 atau tahun 639.

Lamunan Pekan Prapaskah III

Rabu, 11 Maret 2026

Matius 5:17-19

17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. 18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. 19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, dalam agama memang ada tradisi warisan pendiri dan atau jemaat awal. Itu bisa berupa ajaran, tatacara ritual, dan peraturan.
  • Tampaknya, orang dianggap beriman kalau setia pada warisan tradisi. Yang sungguh beriman akan menghafal rumusan-rumusan awal dan menjalani sepersis mungkin dengan yang dilakukan oleh pendiri dan atau jemaat awal.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun dengan mempertahankan rumus dan tata apapun dalam tradisi keagamaan bisa dipandang sebagai kesetiaan iman, tetapi kesejatian kesetiaan iman adalah mempertahankan nilai terdalam pesan iman dalam setiap rumus dan bentuk warisan tradisi agama untuk dihayati sesuai dengan kehidupan kongkret. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati dengan terang Kitab Suci dan warisan tradisi orang akan mengungkapkan dan mewujudkan sikap batin mengikuti Tuhan sesuai dengan perkembangan situasi hidup dan budaya setempat.


Ah, untuk beriman orang harus berupaya menjalani agama sepersis mungkin dengan pendiri dan atau jemaat awal.

Monday, March 9, 2026

Omongan Domus Pacis di Belakang Seminari Tinggi

Dalam makan siang Selasa 10 Maret 2026 di rumah para rama sepuh Domus Pacis Santo Petrus, terjadi omongan yang menunjukkan bahwa Domus Pacis bukanlah hal yang jelas diketahui oleh sementara warga Keuskupan Agung Semarang. Rm. Andika, Direktur Domus, pernah ditanya temannya dari Ungaran "Kowe saiki neng ngendi?" (Di mana kamu kini berguhas?). Ketika Rm. Andika menjawab bahwa beliau kini di Domus Pacis, temannya bertanya "Ngendi kuwi?" (Di mana itu?). Rm. Andika menjelaskan bahwa Domus Pacis Santo Petrus berada di belakang gedung Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan. Tetapi temannya langhsung berkata "Lho, mburi Seminari ki lapangan bal-balan" (Belakarng Seminari itu adalah lapangan sepak bola). Pada saat Rm. Andika bertanya "Kapan kowe neng Seminari?" (Kapan kamu di Seminari Tinggi?), ternyata temannya mengatakan "Tahun 1995". Pengetahuan teman itu memang tidak slah. Duluuuu .....

Sementara itu Rm. Bambang bercerita pengalaman baru saja pada 9 Maret 2026. Pada sore hari dia diundang Ibu-ibu Paroki Muntilan. Dia sampai di kompelks Pastoran Muntilan cukup awal. Ketika menuju aula tempat pertemuan, Rm. Bambang berjumpa Rm. Thomas Sarju Munarsa SY. Pertemuan itu sungguh amat mengesankan sekali dan Rm. Sarju tampak amat bergembira. Kepada ibu-ibu beliau bilang "Rama Bambang ki biyen aspriku neng Seminari Menengah Mertoyudan" (Rm. Bambang dulu adalah asisten pribadiku di Seminari Mertoyudan). Pada tahun 1977 Rm. Bambang, ketika menjalani Tahun Orientasi Pastoral sebagai calon imam, memang di Seminari Meroyudan bersama Rm. Sarju yang sudah seorang imam. Keduanya dulu amat akrab mengadakan gerakan-gerakan di Seminari. Ketika Rm. Sarju bertanya di mana kini Rm. Bambang tinggal, Rm. Bambang menjawab "Teng Domus Pacis Kentungan" yang membuat Rm. Sarju bertanya "Nggon apa kuwi?" (Itu tempat apa?). Rm. Bambang menjawab "Niku Emause rama-rama praja Keuskupan Agung Semarang" (Itu seperti Emaus tempat rama sepuh Yesuit yang diperuntukkan bagi para rama praja sepuh Keuskupan Agung Semarang). Ketika ditanya lokasinya, Rm. Bambang menunjuk di belakang Seminari. Rm. Sarju langsung berkata "Mburi Seminari ki kuburan" (Belakang Seminari Tinggi itu makam). Ketika dijawab "Depan kuburan" Rm. Sarju bingung depan itu arah mana. Maklumlah bangunan Seminari termasuk Fakultas Teologi bisa membuat orang bingung menghadap ke mana. Akhirnya Rm. Sarju baru tampak jelas ketika Rm. Bambang berkata "Gedung Domus berada di sebelah utara makam".

Santo Paus Simplisius

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 03 Agustus 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014 Hits: 12004

  • Perayaan
    10 Maret
  •  
  • Lahir
    Hidup pada Abad ke-5
  •  
  • Kota asal
    Tivoli, Italy
  •  
  • Wafat
  •  
  • 10 Maret 483 | Oleh sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Simplisius dipilih menjadi paus pada tahun 468. Terkadang, tampak baginya, ia sama sekali sendirian dalam upaya meluruskan kejahatan yang merajalela. Para penakluk telah mengambil alih wilayah yang luas. Bahkan Roma sendiri telah diduduki oleh penyerang.

Penduduk kelaparan dan miskin. Mereka telah dibebani pajak yang berat dan dirampok oleh para pejabat Romawi sebelumnya. Kemiskinan berkuasa di jalan-jalan dan menghalau segala sukacita. Para penakluk yang baru setidak-tidaknya tidak membebani mereka dengan pajak. Paus Simplisius mengusahakan segala daya upaya guna mengangkat taraf hidup masyarakat dan berkarya demi kebaikan mereka. Ia senantiasa ada di sana bagi mereka, tak peduli betapa kecil upaya yang dirasa dilakukannya. Dan sebab ia seorang yang kudus, ia tak pernah menyerah. Lebih dari sekedar perkataan, ia mengajar melalui teladan hidupnya yang kudus.

St. Simplisius harus banyak menderita sebagai seorang paus karena suatu alasan lain juga. Sebagian dari umat Kristianinya sendiri bersikukuh berpegang pada pendapat-pendapat mereka yang salah. Lalu, dengan pilu hati, St. Simplisius harus mengekskomunikasi mereka. Ia meluruskan mereka yang berbuat salah dengan kelemah-lembutan dan kerendahan hati. Simplisius melayani sebagai paus selama limabelas tahun dan sebelas bulan. Kemudian Tuhan memanggilnya untuk menerima ganjaran atas kerja kerasnya. St. Simplisius wafat pada tahun 483 dan dimakamkan di Basilika St. Petrus di Roma.

Lamunan Pekan Prapaskah III

Selasa, 10 Maret 2026

Matius 18:21-35

21 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" 22 Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. 23 Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. 24 Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. 25 Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. 26 Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. 27 Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. 28 Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! 29 Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. 30 Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. 31 Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. 32 Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. 33 Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? 34 Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. 35 Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, dalam hidup keagamaan ada gambaran tentang neraka dengan istilah apapun. Itu tempat siksa kekal bagi kaum pendosa.
  • Tampaknya, neraka biasa dipahami sebagai muara kaum jahat dan pendosa. Tentu saja dosa dan kejahatan itu terjadi pada orang yang masih di dunia.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun setiap dosa dan kejahatan terancam masuk neraka, kesejatian dosa yang membawa orang ke siksa kekal neraka adalah sikap dan tindakan orang yang tidak terbuka untuk mengampuni yang berdosa dan jahat kepadanya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar bahwa jiwa dan tindakan pengampun adalah pembersih dosa dan kejahatan apapun yang dilakukan seseorang.

Ah, pokoknya yang berdosa pasti masuk neraka.

Sunday, March 8, 2026

Mengenang 2 Tahun Wafat Rm. Joko Sistiyanto


Berbicara tentang almarhum Rm. Agustinus Joko Sistiyanto bagaimanapun juga harus dikaitkan dengan upaya penghidupan suasana rumah para rama sepuh yang bernama Domus Pacis. Beliau masuk Domus Pacis hanya terpaut 2 minggu sesudah Rm. Bambang pada Juli 2010. Pada waktu itu yang ditempati adalah Domus Pacis Puren, Pringwulung, dan belum terpikir bahwa akan ada Domus Pacis Santo Petrus di Kentungan. Rm. Jaka mendapatkan SK Keuskupan karena kondisi beberapa penyakitnya. Bersama Rm. Agoeng, salah satu pengurus Domus, dan Rm. Bambang, Rm. Joko terlibat ikut memulai gerakan penghidupan para rama Domus sebagai Komunitas. Rm. Joko terlibat dalam pengadaan hajatan pertama pada 21 Desember 2011 ketika para rama sepuh mengadakan ulang tahun imamat ke 40 almarhum Rm. Harjaya. Kebetulan saja pada waktu Pak Tukiran, karyawan Domus, sudah 26 tahun bekerja untuk para rama sepuh. Open House yang diisi dengan omongan tentang kelansiaan menjadi acara pertama yang membuat banyak umat hadir. Domus makin dikenal dan menjadi salah satu studi ketuaan yang mulai tahun 2013 dalam program Novena Ekaristi Seminar. Sajian makan dan snak yang tadinya biasa disajikan untuk para rama di kamar sendiri-sendiri, mulai Idul Fitri 2013 menjadi ajang jumpa serumah dalam makan bersama. 

Barangkali karena kondisi yang masih tampak segar dan masing bisa bermobil sendiri ke banyak tempat bahkan rutin ke Semarang untuk kontrol dan berobat di RS Elisabet, Rm. Joko pindah ke Bantul pada tahun 2017 menjadi pastor pembantu Paroki Bantul. Meskipun demikian, karena kondisi yang harus banyak terawasi penyakitnya, beliau pindah di Pastoran Pringwulung agar dekat dengan RS Panti Rapih. Ketika para rama Domus Pacis Puren dipindahkan ke Domus Pacis Santo Petrus pada 1 Juni 2021, sebulan kemudian Rm. Joko juga menyusul karena kondisi penyakitnya sudah membutuhkan pelayanan ekstra. Ternyata hampir 3 tahun kemudian pada Jumat Agung 29 Maret 2024, Rm. Joko menghadap Bapa di keabadian. Itulah sebabnya pada Jumat 6 April 2026 Domus Pacis mengadakan Peringatan Wafat Rm. Joko yang ke 2 tahun. Banyak anggota keluarga dari adik-adik dan kemenakan serta putra-putri almarhum datang ke Domus. Dari anggota keluarga lebih dari 40 orang ikut Misa yang dipimpin oleh Rm. Andika, Direktur Domus Pacis, diteruskan dengan santap malam bersama.

Ulang Tahun Rm. Saptaka

" Hic et nunc " adalah bahasa Latin yang berarti "Kini dan di sini". Sekarang adalah hari Rabu tanggal 11 Maret 2026. Di...