Saturday, March 28, 2026

Calon Peserta Malam Paskah Domus Pacis 2026

Peristiwa Malam Paskah menjadi salah satu yang bagi Domus Pacis Santo Petrus dipandang khusus. Malam Paskah, tentu juga Malam Natal, masuk dalam peristiwa hajatan karena sesudah Misa selalu ada makan bersama. Perayaan Malam Paskah/Natal selalu dibuka untuk umat Katolik siapapun dari paroki manapun. Tetapi yang ikut harus mendaftarkan diri dengan mengirimkan nama-nama dan paroki asal ke Rm. Bambang. Untuk Malam Paskah tanggal 4 April 2026 yang dimulai pada jam 17.30, pendaftaran terakhir pada hari Sabtu 28 Maret 2026. Rm. Bambang mencatat ada 113 orang pendaftar yang berasal dari 18 paroki. Bersama anggota kor dan warga Domus Pacis, Bu Rini relawan Domus menyiapkan sajian untuk 175 orang dengan mendatangkan catering. Kor yang akan datang adalah The Blero Choir pimpinan Bapak Loly dari Lingkungan Nologaten, Paroki Pringwulung. Sedang 117 orang yang mendaftarkan diri adalah sebagai berikut :

  • Kevikepan Yogyakarta Timur (7 Paroki, 29 orang). Paroki Pringgolayan (1. Ibu Nani Han, 2. Chosa, 3. Pipit, 4. Ibu Mardi); Paroki Minomartani (1. Bapak Gunawan, 2. Ibu Mercy, 3. FA Sandy Mariatna, 4. Berilla S Surbakti), Paroki Kalasan (1. Wiwik Vasthi, 2. Yuniarti, 3. Arza,  4. Titus Pulunggono, 5. Yulia Pulunggono, 6.  Pudentiana Sumbangsih, 7. Pierrette Clument, 8. Pak Yos, 9. Bu Yos); Paroki Pringwulung (1. Bu Atik, 2. De EL, 3. Ariel, 4. Bu Ratna, 5. Pak Ardi); Paroki Kotabaru (1.  FX. Handoko, 2. Rinawati); Paroki Kumetiran (1. Antonius Agung Nugroho, 2. Theresia Surya, 3. Mikael Pradipta Brilian, 4. Gabriela Brilianka); Paroki Nandan (1. Ira Nova)

  • Kevikepan Yogyakarta Barat (5 Paroki, 66 orang). Paroki Banteng (1. Bapak Sigit Sudarmadi, 2. Ibu Sigit, 3. Bp.Anton Soedjarwo, 4. Ibu.Kartika Kumala, 5. Ank. Erika Soedjarwo, 6. Romy Sulistiono, 7. Cucu Ivana Sulistiono, 8. Bapak Paulus Subiyanto, 9. Elleanora Gina C, 10. Ign BP Dian Krishna, 11. Bapak Unanto, 12. Ibu Septi, 13. Ari Puspo, 14. D Anna S, 15. B Widyatmoko. 16. F David P, 17. KS Indranandita, 18. D Dimas A, 19. Antonius Iwan  Kurniawan, 20. Fransiska jenny Irawati, 21. Josse William, 22. Ruth Meliana, 23. Y Karel Harianto, 24. V Yena, 25. Bu Anna, 26. Hengky, 27. Vera, 28. Bu Eni, 29. Pak Anton); Paroki Klepu (1. Djuwadi, 2. Retno, 3. Hartiyo, 4. Bu Ida, 5. Paiman, 6. Bonikem, 7. Ninik Mujiono, 8. Eka BP, 9. Sutrisni, 10. Suparta, 11. Suwarni, 12. Lita, 13. Mbah Saein, 14. Mbah Seno Kakung, 15. Mbah Seno Putri, 16. Ibu Murbaningsih, 17. Ibu Painah, 18. Yanti, 19. Zora, 20. Ibu Anna, 21. Yogi, 22. Yohani, 23. Bapak Sapari, 24. Ibu Sapari, 25. Ibu Sugiyarti, 26. Bapak Kholil); Paroki Gamping (1.  Maria Junianti, 2.  Johanes Heri, 3. Maria Audrey, 4. Vincentius Max); Paroki Medari (1.   Mbak Nunuk, 2. Bu Upik, 3. Suami Bu Upik, 4. Mbak Christin, 5. Suami Mbak Christin); Paroki Warak (1. Tri Harsono, 2. Lindyawati)

  •  Kevikepan Kedu (2 Paroki, 6 Orang). Paroki Ignatius Magelang (1. Stph. Rohani, 2. Th Sri Rahayu, 3.  Ag Ronny , 4.  D. Nugroho, 5. Mariani); Paroki Borobudur (1. Hilda)
  • Kevikepan Surakarta (2 Paroki, 13 orang). Paroki Gondang  (1. Dono Budoyo, 2. Niken, 3. Terania, 4. Hardono, 5 Anik Setyawati, 6. Elgiva, 7. Ratna Kriswidyastuti, 8. Nesia Amadea); Paroki  Boyolali (1. Yacobus Raditya Krisna Setiawan, 2. Scholastica Sitha Wardhani, 3. Antonius Mario Aria Ananda, 4. Gabriel Adhi Nayantaka, 5. Yosef Anantadana Rahadian Pramudito)

  • Kevikepan Semarang (1 Paroki, 2 orang). Tanah Mas (1.  Maria Endah W 2. Agustinus Vembriant)
  •  Keuskupan Agung Jakarta (1 Paroki, 1 orang). Paroki Maria Karmel (1. Galih)

Santo Berthold

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 29 Maret 2015 Diperbaharui: 19 Oktober 2020 Hits: 15311

  • Perayaan
    29 Maret
  •  
  • Lahir
    Sekitar tahun 1155
  •  
  • Kota asal
    Limoges, Perancis
  •  
  • Wilayah karya
    Yerusalem - Israel
  •  
  • Wafat
  •  
  • Tahun 1195 di Gunung Karmel Israel - Sebab alamiah
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Bila anda memiliki informasi tentang Kanonisasi Santo Berthold; dimohon menghubungi admin; Terimakasih.

Santo Berthold Calabria (Perancis : Berthold de Malifaye) awalnya adalah seorang Crusaders (Tentara Kristen dalam Perang Salib) yang berangkat ke Yerusalem untuk bertempur membebaskan kota itu dari tangan bangsa muslim Saracen. Namun saat berada di Anthiokia, Berthold menerima penglihatan dari Tuhan kita Yesus Kristus yang menuntunnya meninggalkan dunia kemiliteran dan menjadi seorang pertapa di Gunung Karmel.

Pada saat itu, ada sejumlah pertapa yang tersebar di seluruh wilayah Israel, dan Berthold mengumpulkan mereka bersama-sama, mendirikan sebuah komunitas pertapa yang menetap di puncak Gunung Karmel, dan menjadi Abbas mereka yang pertama. Komunitas kecil pertapa inilah yang dikemudian hari menjadi cikal-bakal dari Ordo Karmel.

Komunitas pertapa ini kemudian membangun sebuah biara dan gereja di Gunung Karmel dan mendedikasikan biara dan gereja tersebut untuk menghormati Nabi Elia, yang pernah mengalahkan nabi-nabi Baal di gunung tersebut (1Raj 18:20-46). Santo Berthold menjalani seluruh sisa umurnya di Gunung tersebut, dan memimpin komunitas pertapa yang telah dikumpulkannya selama empat puluh lima tahun sampai pada hari kematiannya ditahun 1195.

Teladan dan cara hidup suci dari para pertapa di Gunung Karmel menarik minat banyak pencari Tuhan untuk menggabungkan diri. Dan semakin hari jumlah mereka semakin bertambah. Pada tahun 1207, Santo Brocardus, yang menjadi pemimpin para Karmelit menggantikan Berthold, meminta Patriark Yerusalem, Santo Albertus dari Yerusalem, untuk menyusun sebuah aturan hidup membiara mereka. Aturan hidup yang disebut Regula Karmel atau Regula Santo Albertus ini selesai ditulis pada tahun 1210, dan disahkan oleh Paus Honorius III pada tahun 1226. Regula tersebut telah menjadi pedoman hidup bagi para Karmelit sampai hari ini.

Lamunan Hari Raya

Minggu Palma

Minggu, 29 Maret 2026

Matius 21:1-11

1 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah dekat Yerusalem dan tiba di Betfage yang terletak di Bukit Zaitun, Yesus menyuruh dua orang murid-Nya 2 dengan pesan: "Pergilah ke kampung yang di depanmu itu, dan di situ kamu akan segera menemukan seekor keledai betina tertambat dan anaknya ada dekatnya. Lepaskanlah keledai itu dan bawalah keduanya kepada-Ku. 3 Dan jikalau ada orang menegor kamu, katakanlah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya." 4 Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: 5 "Katakanlah kepada puteri Sion: Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda." 6 Maka pergilah murid-murid itu dan berbuat seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka. 7 Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan Yesuspun naik ke atasnya. 8 Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan. 9 Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!" 10 Dan ketika Ia masuk ke Yerusalem, gemparlah seluruh kota itu dan orang berkata: "Siapakah orang ini?" 11 Dan orang banyak itu menyahut: "Inilah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, yang namanya penguasa memang punya banyak pendukung. Bahkan seorang penguasa bisa kaya raya.
  • Tampaknya, seorang penguasa biasanya tampil dengan berbagai atribut megah dengan berbagai kebesaran. Fasilitas yang menyertai biasa mentereng penuh kekokohan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul mesra dengan kedalaman batin, sekalipun amat kaya raya punya kekuatan tak tertandingi, seorang penguasa sejati dalam tampilannya justru amat sederhana dan tak tampak daya kekuatannya yang amat besar. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati seorang penguasa sejati walau amat banyak pendukungnya dalam tampilan justru seperti orang tak punya kekuasaan.

Ah, yang namanya penguasa itu ya pasti tampil dengan fasilitas glamor.

Friday, March 27, 2026

Rm. Heru dan Rm. Saptaka

Rm. St. Heruyanto adalah pastor yang bertugas di Paroki Salam. Karena menderita stroke, sepulang dari RS Panti Rapih beliau untuk sementara tinggal di Domus Pacis Santo Petrus sejak 13 Feberuari 2026. Sekalipun urusan pelayanan untuk Rm. Heru dilakukan oleh tenaga Domus Pacis, setiap hari pagi dan siang serta malam selalu ada umat Salam yang bergilir ikut menunggu. Akhir-akhir ini perkembangan beliau cukup membaik. Kalau sebelumnya hanya banyak tidur dan tiduran, akhir-akhir ini sudah bisa duduk di kursi roda. Bahkan ketika harus kontrol 2 kali sehari pada Jumat 27 Maret 2026, beliau sudah bisa dilayani untuk duduk di mobil dan dalam mobilisasi membawa kursi roda dari Domus. Bahkan hari Sabtu 28 Maret 2026 beliau bisa berkeliling Domus duduk di kursi roda dan ada yang mendorong. Memang, dalam berwicara beliau masih harus terus menerima terapi. Hingga kini beliau belum bisa mengucapkan kata-kata dengan jelas.

Tetapi hari ini ada berita lain dari Domus Pacis Santo Petrus. Sudah lebih seminggu Rm. Saptaka menderita mriyang, yaitu kondisi badan tidak enak badan disertai demam. Dalam beberapa hari pertama beliau masih ikut Misa Harian dan makan bersama 3 kali sehari. Diajak periksa dokter beliau berkata "Tak nggo turu wae" (Aku tidur saja). Lama-lama beliau tak hanya tak tampak dalam Misa Harian. Dalam makan bersama juga sudah absen. Tetapi beliau tetap tak mau diajak ke rumah sakit. Kebetulan saja pada Sabtu 28 Maret 2026, seperti biasa setiap hari Sabtu, ada perawat home care RS Panti Rapih datang disertai oleh seorang dokter untuk memeriksa kondisi para rama Domus. Ternyata akhirnya Rm. Saptaka mau dibawa ke RS Panti Rapih atas anjuran dokter. Mas Siswanto dan Mas Bayu, 2 orang tenaga Domus, mengantarnya dengan mobil. Ketika makan siang Rm. Bambang bertanya kepada karyawan "Piye Rama Saptaka?" (Bagaimana kabar Rm. Saptaka?). Seorang karyawan mendapat berita bahwa beliau masih harus menunggu hasil laboratorium dari cek darah. Tiba-tiba, barangkali karena mendapatkan berita dari pengantar Rm. Saptaka, pada jam 12.26 Rm. Bambang mendapatkan pesan WA Mas Haryono, salah satu karyawan "Info kondisi Rm saptoko dari hasil lab di haruskan opname rencana di Lukas 203".

Santo Tutilo

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 05 Agustus 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014 Hits: 11790

  • Perayaan
    28 Maret
  •  
  • Lahir
    Hidup pada Abad ke-9
  •  
  • Kota asal
    Swiss
  •  
  • Wafat
  •  
  • Tahun 915 di Biara Saint Gall Switzerland | Oleh sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Tutilo hidup di akhir abad kesembilan dan awal abad kesepuluh. Ia mendapatkan pendidikan di Biara Benediktine Saint-Gall. Dua teman sekelasnya telah digeari “beato”. Ketiga orang ini menjadi biarawan di biara di mana mereka mengenyam pendidikan.

St. Tutilo adalah seorang dengan banyak bakat. Ia seorang penyair, pelukis potret, pematung, orator dan arsitek. Ia juga seorang ahli mesin. Bakatnya yang terutama adalah musik. Ia dapat memainkan semua alat musik yang dipergunakan para biarawan untuk liturgi mereka. Ia dan temannya, Beato Notker, menggubah lagu-lagu tanggapan liturgi. Hanya tiga puisi dan satu nyanyian tersisa dari seluruh karya Tutilo. Tetapi lukisan dan patung-patungnya masih dapat ditemukan sekarang di beberapa kota di Eropa. Lukisan-lukisan dan patung-patungnya diidentifikasikan sebagai karyanya karena ia senantiasa menandai karyanya dengan sebuah motto.

Akan tetapi, Tutilo tidak dimaklumkan sebagai seorang kudus karena bakat-bakatnya yang banyak itu. Ia seorang rendah hati yang ingin hidup hanya untuk Tuhan. Ia memuliakan Tuhan dengan cara-cara yang ia tahu: dengan melukis, membuat patung dan menggubah musik.

Tutilo dimaklumkan sebagai seorang kudus sebab ia melewatkan hidupnya dengan memuji dan mengasihi Allah. St. Tutilo wafat pada tahun 915.

Lamunan Pekan Prapaskah V

Sabtu, 28 Maret 2026

Yohanes 11:45-56

45 Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. 46 Tetapi ada yang pergi kepada orang-orang Farisi dan menceriterakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu. 47 Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata: "Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat. 48 Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita." 49 Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa-apa, 50 dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa." 51 Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, 52 dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. 53 Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia. 54 Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi, Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya. 55 Pada waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. 56 Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain: "Bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah Ia ke pesta?"

Butir-butir Permenungan

  • Katanya, agama membutuhkan juru warta. Dalam agama adanya pewarta handal akan sungguh membuat semua semua senang.
  • Katanya, para pengurus dan tokoh agama akan menumbuhkembangkan hadirnya tokoh-tokoh pewarta. Kalau ada pewarta handal yang amat populer, ini akan sungguh dijaga keberadaannya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, sekalipun tokoh pewarta handal dan populer akan mampu mengembangkan dan menguatkan iman umat, kalau ternyata memiliki kepentingan politik, para pengurus dan tokoh agama justru bisa menjadi pembungkam utama. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati seorang pewarta iman handal justru akan menjadi cahaya terang hidup sejati amat banyak orang siapapun dan dari bangsa manapun kalau mengalami pembungkaman dengan alasan politik.

Ah, bagaimanapun juga agama harus tuntuk pada kebijakan negara.

Thursday, March 26, 2026

Minggu Palma: Sejarah dan Makna Mendalam Umat Katolik

diambil dari https://www.kompas.com/skola/read/2025/04/13/090000769
Kompas.com, 13 April 2025, 09:00 WIB
Serafica Gischa 
Editor

Sejumlah umat Katolik mengikuti Misa Minggu Palma di Gereja Santo Thomas, Seyegan, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (10/4/2022). Misa yang dilaksanakan dengan pembatasan jumlah umat karena Pandemi COVID-19 itu menjadi rangkaian perayaan Paskah serta guna memperingati datangya Yesus di Yerusalem.(ANTARA FOTO/ANDREAS FITRI ATMOKO)

KOMPAS.com
- Setiap tahun, di hari Minggu menjelang Paskah, gereja Katolik di seluruh dunia bahkan Indonesia dipenuhi umat dengan membawa daun palma atau palem.  

Kebanyakan dari mereka membawanya dari rumah. Daun-daun itu diangkat tinggi saat imam memberkatinha, dan suasna misa terasa berbeda. 

Khidmat, meriah, sekaligus menyentuh. Hari itu disebut Minggu Palma.  

Apa sebenarnya arti Minggu Palma? Kenapa para umat Katolik membawa daun palma? Apa hubungannya dengan Paskah? Yuk, kita cari tahu.

Asal-usul Minggu Palma  

Melansir dari situs resmi Vatican.va, Minggu Palma mengenang peristiwa Yesus memasuki Kota Yerusalem, beberapa hari sebelum penyaliban-Nya. 

Peristiwa tersebut tercatat dalam keempat injil, yaitu Matius 21:1-11, Markus 11:1-11, Lukas 19:28-44, dan Yohanes 12:12-19.  

Yesus Kristus memasuki Kota Yerusalem dengan penuh kemuliaan. Umat menyambut-Nya dengan daun palma dan sorak "Hosana". Karena mereka percaya Yesus adalah Mesias yang mereka nantikan. 

Seruan Hosana dalam bahasa Ibrani yang ditujukan kepada Yesus artinya "selamatkanlah" atau "tolonglah kami".  

Peristiwa tercatat dalam Kitab Suci dan menjadi simbol besar dalam umat Katolik, bahwa Yesus datang sebagai Raja Damai.  

Datang bukan dengan kuda perang seperti penguasa, tetapi dengan menunggangi keledai, lambang kerendahan hati. 

Mengapa daun palma?  

Merangkum dari buku Memahami Rabu Abu, Prapaskah, dan Minggu Palma (2017) karya I Marsana Windhu, tumbuhan palma banyak tumbuh di Israel dan negara lain, termasuk Indonesia.  

Daun palma dipakai sebagai lambang kemenangan bagi para martir. Para martir adalah orang-orang yang mati suci karena mempertahankan iman akan Yesus.  

Bagi umat Katolik, makna daun palma, yakni: 
  • Daun palma melambangkan kemenangan rohani, bahwa Yesus akan mengalahkan maut. 
  • Dalam tradisi gereja, daun palma yang diberkati pada hari Minggu Palma sering dibawa pulang untuk disimpan di rumah sebagai lambang perlindungan dan pengingat akan kerendahan hati Kristus. 
  • Setahun kemudian, daun-daun tersebut dibakar dan abunya digunakan dalam perayaan Rabu Abu, membuka masa Prapaskah berikutnya. 
Tradisi Minggu Palma  

Di Indonesia, perayaan Minggu Palma sangat hidup. Di kota-kota besar, proses daun palma biasanya digelar sebelum misa, diikuti umat dari berbagai usia.  

Di beberapa daerah, Minggu Palma sering dirayakan dengan drama perjalan Yesus memasuki Kota Yerusalem atau proses yang menyentuh hati. 

Umat dari berbagai latar belakang sosial ikut terlibat. Ini menunjukkan bahwa Minggu Palma adalah perayaan iman bersama, bukan hanya urusan pribadi. 

Minggu Palma yang menjadi awal Pekan Suci merupakan Minggu terpenting dalam kehidupan umat Katolik yang berpuncak pada Paskah. 

Peristiwa ini mengajak umat untuk:  
  • Merenungkan arti pengorbanan 
Yesus tidak hanya disambut, tapi juga ditolak dan disalibkan. Kita diingatkan bahwa hidup tidak hanya soal pujian, tapi juga kesetiaan dalam penderitaan. 
  • Melatih kerendahan hati
Dalam dunia yang penuh persaingan, Yesus datang tidak untuk menang sendiri, tapi untuk memberi diri. Ini menjadi inspirasi untuk hidup lebih rendah hati, lebih melayani. 
  • Menjalani iman dengan sadar 
Minggu Palma bukan seremoni, tapi momen untuk memperbarui komitmen kita kepada Allah—bahwa kita ikut dalam jalan salib-Nya, bukan hanya dalam kemuliaan-Nya.

Calon Peserta Malam Paskah Domus Pacis 2026

Peristiwa Malam Paskah menjadi salah satu yang bagi Domus Pacis Santo Petrus dipandang khusus. Malam Paskah, tentu juga Malam Natal, masuk d...