Saturday, February 14, 2026

Lamunan Pekan Biasa VI

Minggu, 15 Februari 2026

Matius 5:17-37

17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. 18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. 19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. 20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. 22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. 23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, 24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. 25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. 26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas. 27 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. 28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. 29 Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. 30 Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka. 31 Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya. 32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah. 33 Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. 34 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, 35 maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; 36 janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. 37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, yang aktif menjalani wajib-wajib agama bisa dipandang tokoh iman. Apalagi kalau jadi penggerak dan pengurus, orang bisa dianggap sebagai teladan hidup beriman.
  • Tampaknya, yang paham akan ajaran-ajaran agama bisa dipandang sebagai penjaga iman. Apalagi kalau terdidik dan terpelajar dalam ilmu ketuhanan, orang bisa sebagai pentuntun iman.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yag biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun rajin menjalani wajib-wajib agama dan paham berbagai ajaran agama, orang baru sungguh beriman kalau biasa mengomongkan sendiri yang ditangkap dalam agama dalam relung hati dan kemudian berjuang menjalaninya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar sebodoh apapun dalam keagamaan kalau biasa omong dengan relung hati bisa jauh lebih beriman daripada yang paham agama dan hanya menjalani yang formalistik wajib.

Ah, bagaimanapun juga ulama dan aktivis agama adalah teladan hidup ikut Tuhan.

Friday, February 13, 2026

Rm. Stefanus Heruyanto

Pada tanggal 3 Februari 2026 Mgr. Rubiyatmoko mengirim berita dalam WA Grup UNIO KAS NEWS "Para Romo, selamat malam. Mohon doa untuk Rama Heruyanto Pr yang sedang sakit dan dalam perjalanan menuju ke rumah sakit Panti Rahayu Wonosari. Semoga Rm Heruyanto diberikan rahmat kesehatan. Matur nuwun dan berkah Dalem." Kabarnya, Rm. Heru sedang perjalanan untuk piknik bersama para rama praja senior. Kalau tidak keliru katanya akan ke Pacitan. Sehari kemudian Mgr. Rubi mengirim info lagi "Para Romo, selamat pagi. Rama Heruyanto Pr dirawat di rumah sakit Panti Rahayu Wonosari. Beliau mengalami penyumbatan pembuluh darah saat mengikuti acara persaudaraan unio di Pacitan. Kita doakan semoga Rm Heruyanto lekas sehat dan pulih kembali. Matur nuwun dan berkah Dalem."


Ternyata setelah 2 hari dirawat di RS Panti Rahayu, Kelor Wonosari, pada tanggal 5 Februari 2026 beliau dipindahkan ke RS Panti Rapih. Hal ini juga diberitakan oleh Bapak Uskup "Para Romo, selamat siang. Rm Heruyanto sudah pindah ke Panti Rapih dan menjalani perawatan di sana. Mohon doanya ya semoga lekas sembuh dan sehat kembali. Matur nuwun dan berkah Dalem." Beberapa hari Rm. Stefanus Heruyanto dirawat di ruang bagian stroke dan tak boleh dikunjungi. Pada saat ini Rm. Heru adalah seorang imam praja Keuskupan Agung Semarang yang mendapatkan SK Keuskupan bertugas di Paroki Salam sebagai Wakil Pastor Paroki yang dijabat oleh Rm. Hartanta. Ternyata saat ini kondisi Rm. Heruyanto membutuhkan pelayanan khusus dalam keseharian. Hal ini tampaknya memunculkan kebijakan, ketika keluar dari RS Panti Rapih pada Jumat 13 Februari 2026, Rm. Heruyanto dibawa masuk Domus Pacis Santo Petrus. Sejak 2 hari sebelumnya Rm. Andika bersama karyawan sudah mempersiapkan kamar untuk Rm. Heru. 

Santo Valentinus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 11 Februari 2016 Diperbaharui: 16 Oktober 2020 Hits: 26151

  • Perayaan
    14 Februari
  •  
  • Lahir
    Hidup pada abad ke-3
  •  
  • Kota asal
    Roma
  •  
  • Wafat
  •  
  • Martir - di penggal di Via Flaminian Roma sekitar tahun 269
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santo Valentinus dari Roma (Valentine of Rome) adalah seorang Imam (kemungkinan besar seorang uskup) dan dokter yang tinggal di kota Roma. Ia menjadi martir karena menentang perintah kaisar Klaudius II (Marcus Aurelius Valerius Claudius Augustus juga dikenal sebagai Kaisar Claudius Gothicus, Kaisar Romawi dari tahun 268 sampai 270 Masehi) yang melarang adanya pernikahan di seluruh wilayah Kekaisaran. Valentinus ditangkap, dipenjarakan, lalu disiksa dan dihukum mati dengan cara dipenggal. Kemartiran Santo Valentinus, yang hari pestanya kini dikenal sebagai "Valentine Day" atau hari kasih sayang sedunia, terjadi pada tahun 269 di Via Flaminia Roma.

Saint Valentine dan Sejarah Hari Valentine

Sebelum Paus Gelasius I menetapkan tanggal 14 februari sebagai Saint Valentine Day (pesta santo Valentinus); bangsa Romawi kafir telah merayakan 14 Februari dengan sebuah tradisi cabul untuk memuja dewi cinta Romawi yang disebut Februata Juno. Para laki-laki akan menarik undian dari sebuah wadah berisi nama para wanita yang siap menjadi pasangan mereka dalam berbagai bentuk perayaan di tanggal tersebut. Setelah bangsa Romawi menjadi Kristen, Gereja dengan tegas mengutuk tradisi pagan tersebut. Salah seorang Imam yang berjuang keras menghapus tradisi ini adalah Santo Valentinus.

Pada masa itu pula, Bangsa Romawi terlibat dalam banyak peperangan dan Kaisar Klaudius mengumumkan wajib militer bagi para pemuda Romawi. Banyak pemuda yang menolak ikut wajib militer karena tidak mau meninggalkan kekasih yang mereka cintai. Hal ini membuat Kekaisaran sulit merekrut tentara. Kaisar lalu mengeluarkan dekrit kerajaan yang memerintahkan bahwa tidak boleh ada lagi upacara pernikahan. Perintah ini ditentang oleh imam Valentinus yang merasa kasihan kepada pasangan-pasangan yang dipaksa untuk berpisah. Hingga suatu hari, Valentinus dengan diam-diam menerimakan sakramen perkawinan bagi sebuah pasangan yang sudah siap hidup dalam janji suci perkawinan. Dengan segera imam-imam yang lain mengikuti jejaknya dan banyak pernikahan terjadi di kota Roma seolah-olah dekrit kaisar di atas tidak pernah dikeluarkan. Ketika berita ini sampai ke telinga Klaudius; sang Kaisar pun murka. Valentinus ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Ia dipenjara, dianiaya, lalu dipenggal di Via Flaminian.

Pesta untuk santo Valentinus ditetapkan pada setiap tanggal 14 Februari oleh Paus Gelasius I (Paus Gereja Katholik ke-49. Memimpin sejak 1 Maret 492 sampai 19 November 496) . Tanggal 14 Februari, yang pada masa pra-Kristen adalah hari untuk menghormati dewi cinta bangsa Romawi kafir, telah dirubah dan dikuduskan oleh Gereja menjadi perayaan untuk memperingati Santo Valentinus, seorang martir yang gugur membela cinta kasih dalam wujud Sakramen Pernikahan yang kudus.

Pada masa Romawi Kristen, Pesta Santo Valentinus akan dirayakan dengan menerimakan sakramen perkawinan bagi banyak pasangan yang sudah dinyatakan siap. Banyak cinta akan disatukan dalam janji suci perkawinan dan banyak pasangan muda memasuki hidup baru. Banyak pesta akan digelar dengan meriah di seluruh penjuru kota Roma.

Saat ini, pesta santo Valentinus telah menjadi sekular. Saint Valentine Day juga telah dimaknai serta dirayakan dengan cara yang sangat berbeda oleh berbagai kalangan, khususnya oleh kalangan di luar Gereja Katholik.(qq)

Lamunan Peringatan Wajib

Santo Sirilus, Rahib, dan Metodius, Uskup

Sabtu, 14 Februari 2026

Markus 8:1-10

1 Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: 2 "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. 3 Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh." 4 Murid-murid-Nya menjawab: "Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?" 5 Yesus bertanya kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" Jawab mereka: "Tujuh." 6 Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. 7 Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. 8 Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. 9 Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang. 10 Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, pada kini orang bisa mengandalkan pemenuhan kebutuhan dari berbagai macam pelayanan jasa. Ada jasa penyediaan pangan, sandang, dan papan.
  • Tampaknya, orang bisa menjamin kebutuhan banyak orang lain cukup dengan masuk dalam kancah para pebisnis. Itu bisa masuk ke mal-mal ke produser/pengrajin atau bahkan ke penyaji lewat media sosial.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, sekalipun berada jauh dari keramaian bahkan mengalami ketiadaan sinyal HP, dengan masuk dalam kesunyian batin orang justru mampu mengelaborasi yang ada seminim apapun untuk memenuhi kebutuhan bersama. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati dan akrab dengan kesunyian batin orang akan selalu mendapatkan jalan pemenuhan kebutuhan bahkan sampai berkelimpahan.

Ah, jaman kini orang harus mandiri.

Thursday, February 12, 2026

Rapat Pengurus UNIO KAS di Domus

Sebenarnya Rm. Bambang tak berjumpa dengan satupun rama yang pada Rabu 11 Februari 2026 datang di Domus Pacis Santo Petrus. Tetapi dari Rm. Andika, Direktur Domus yang hari itu sedang ke Salatiga rapat Tribunal, Rm. Bambang tahu bahwa hari itu ada pengurus UNIO KAS rapat di Domus. Dari dalam kamarnya pada sekitar jam 10.00 dia memang mendengar suara beberapa dari antara mereka. Rm. Bambang memang minta Mas Bayu, salah satu karyawan, untuk mengambil gambar mereka dari jauh dengan zoom lewat HPnya. Karyawan menyediakan tempat di lantai 2 termasuk minum dan snak. Para anggota pengurus, yang katanya berjumlah 7 orang, juga makan siang di Domus di ruang makan ketika para rama Domus sudah selesai makan dan kembali di kamar masing-masing. 


Tahu ada pengurus UNIO, yaitu persaudaraan para rama praja, mengadakan rapat di Domus, hati Rm. Bambang amat tersentuh dan ada kegembiraan khusus. Dia teringat di tahun 1970an dan 1980an ketika rama sepuh ada yang tinggal di Wisma UNIO bagian belakang Pastoran Paroki Jetis. Pada tahun 1970an Rm. Bambang masih calon imam yang kemudian tahbisan pada 22 Januari 1981. Dulu hari Rabu menjadi tradisi hari libur untuk para rama praja Keuskupan Agung Semnarang. Tak sedikit pada hari itu yang berkumpul di Wisma UNIO terutama untuk makan siang bersama. Bahkan ada juga yang menginap sejak Selasa malam. Ketika berada di Wisma UNIO ada juga kelompok rama-rama yang memiliki bidang karya sama mengadakan pertemuan. Bahkan dari situ muncul juga pertemuan para rama se-Kevikepan. Dari situ pula muncul istilah "Kolasi Kevikepan", karena sesudah pertemuan ada makan siang yang katanya dalam bahasa Latin adalah kolasi. Ingatan itu diperteguh dengan kata-kata Rm. Andika yang bilang ke teman-teman rama "Para rama akan rapat-rapat silahkan bisa pakai Domus. Akan menginap juga bisa". Dengan kata menginap Rm. Bambang teringat ketika masih di Domus Pacis Puren. Dulu sering ada rama-rama yang numpang menginap. Terutama para rama yang tugasnya di luar Keuskupan Agung Semarang. Mereka ketika libur juga menginap di Domus Puren bahkan juga pinjam kendaraan yang ada. Rapat rama-rama bidang karya atau persiapan khotbah juga pernah terjadi di Domus Pacis Puren, Pringwulung. Kehadiran pengurus UNIO KAS untuk rapat di Domus pada Rabu 11 Februari 2026 memang membuat Rm. Bambang bertanya dalam hati "Mungkinkah Domus Pacis Santo Petrus juga bisa jadi semacam Wisma UNIO KAS?"  

Beata Christina Spoleto

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 19 April 2017 Diperbaharui: 03 Januari 2021 Hits: 11714

  • Perayaan
    13 Februari
  •  
  • Lahir
    Tahun 1435
  •  
  • Kota asal
    Como, Milan , Italia
  •  
  • Wafat
  •  
  • 13 February 1458 di Spoleto Italia
    Sebab alamiah
  •  
  • Beatifikasi
    19 September 1834 oleh Paus Gregorius XVI
  •  
  • Kanonisasi

Agostina Camozzi lahir pada tahun 1435 di Como, Milan Italia. Ia adalah putri tunggal dokter Giovanni Camozzi, seorang dokter ternama dan kaya-raya di kota Milan. Agostina berwajah cantik dan anggun, membuat banyak pemuda jatuh hati dan ingin mempersuntingnya. Namun ia tidak pernah serius menanggapi isi hati mereka. Ia bangga akan kecantikannya dan gemar mempermainkan perasaan para lelaki yang jatuh hati padanya.

Agostina menikah pada usia belia, namun menjadi janda tidak lama setelah pernikahannya. Ia kemudian menjadi gundik seorang tentara dari Milan, dan melahirkan seorang anak laki-laki diluar nikah. Namun anaknya itu meninggal dunia saat masih bayi. Beberapa waktu kemudian Agostina kabur meninggalkan si tentara dan menikah lagi dengan seorang petani kaya di kota Mantua. Namun sekali lagi Agostina harus menjadi janda setelah suaminya yang kedua dibunuh oleh seorang lelaki yang tergila-gila pada kecantikannya.

Semua tragedi ini menyadarkan Agostina Camozzi akan cara hidupnya yang bergelimang dosa. Penyesalan kini menghantui dirinya dan kasih Tuhan mulai menyentuh hatinya. Ia mulai dapat melihat cara hidupnya yang kotor dengan rasa sesal dan malu.

Di suatu senja di tahun 1450, Agostina tengah berjalan melewati biara Susteran Agustinian. Sayup-sayup terdengar suara para biarawati memadahkan doa. Lantunan doa mereka mengetuk hati Agostina dan membawa langkahnya ke dalam biara. Ia masuk ke kapela dan ikut berdoa bersama para biarawati. Di dalam kapela tersebut, sebuah perasaan damai yang “indah” dan “tak terlukiskan” perlahan membelai jiwanya yang gersang. Rasa “Damai” itu begitu menghanyutkan, hingga Agostina tidak mampu lagi berpisah dengan-NYA. Ia ingin tetap di situ dan tidak kembali lagi pada dunia. Saat itu juga ia memutuskan untuk meninggalkan cara hidupnya yang lama dan menjadi seorang biarawati.

Namun untuk menjadi seorang biarawati,  Agostina harus menjalani masa persiapan yang lama dan berat. Walau banyak yang meragukan kesungguhannya, namun ia membuktikan pertobatannya dengan menjalani laku silih selama bertahun-tahun dengan penuh ketabahan. Ia juga mampu menjalani semua peraturan biara yang ketat dengan penuh disiplin. Akhirnya Agustina pun diperbolehkan untuk mengucapkan kaul sebagai seorang biarawati Agustinian.  Ia memilih nama biara, “Christina”.

Di dalam biara, Suster Chistina hidup bertapa dengan keras sebagai penitensi bagi dosa-dosanya di masa lalu. Ia hidup dalam meditasi dan berdevosi pada sengsara Yesus di Salib. Setelah bertahun-tahun hidup bermatiraga, rahmat Tuhan menyertai Suster Christina. Ia diberkati-NYA dengan berbagai karunia rohani.  Suster Christina menjadi terkenal sebagai seorang suster yang kudus, seorang penyembuh dan pembuat mujizat.

Pada tahun 1457 suster Christina bersama para biarawati Agustinian melakukan perjalanan ziarah ke kota Assisi, Roma dan Yerusalem. Setelah kembali ke Italia, Suster Christina memutuskan untuk tinggal di biara Spoleto Perugia, di mana ia mengabdikan dirinya untuk merawat warga yang sakit akibat wabah penyakit.  Ia tetap berkarya di Perugia sampai tutup usia pada tanggal 13 Februari 1458.  

Awalnya ia  dimakamkan di Gereja biara Agustinian di Spoleto, namun pada tahun 1921 makamnya dipindahkan ke Gereja Santo Gregorius Agung, juga masih di Spaleto.

Suster Christina dibeatifikasi pada tahun 1834 oleh paus Gregoriius XVI. Beatifikasi ini berlangsung setelah diadakan penyelidikan seksama selama ratusan tahun atas berbagai laporan mujizat yang terjadi melalui perantaraan Suster Christina.(qq)

Lamunan Pekan Biasa V

Jumat, 13 Februari 2026

Markus 7:31-37

31 Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. 32 Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu. 33 Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. 34 Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah! 35 Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. 36 Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. 37 Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, orang hebat akan mudah mengutarakan apa yang dipikir dan dirasakan kepada khalayak umum. Dia bisa menjadi pembicara publik yang diidolakan oleh banyak orang.
  • Tampaknya, kemampuan omong memang juga memudahkan orang untuk meraih yang diinginkan. Bahkan dengan kemampuan omong orang bisa mendapatkan nafkah berlimpah.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sekalipun kemampuan omong dapat mudah menjadi kekaguman banyak orang, kalau hanya menjadi tokoh omong tetapi miskin kemampuan mendengar orang tak menemukan kebaikan untuk dirinya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan mampu berkomunikasi dengan banyak orang dengan saling mendengar dan mengungkapkan kata-kata.

Ah, pokoknya kalau pintar omong pasti pintar cari uang.

Lamunan Pekan Biasa VI

Minggu, 15 Februari 2026 Matius 5:17-37 17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab par...