Sunday, March 15, 2026

Lingkungan Tangkisan Pos

"Dina niki libur nggih?" (Ini hari libur, ya?) salah seorang rama nyeletuk ketika sedang makan pagi Minggu 15 Maret 2026. Di dalam pembicaraan pagi itu kata "libur" memiliki 2 arti. Pertama, hari libur adalah hari Minggu. Para rama sering berkata "Hari Minggu adalah hari libur untuk Domus, karena pada umumnya di hari Minggu tak ada Misa". Misa Domus adalah Misa Komunitas Rama Sepuh yang biasa terjadi pada Senin sampai Sabtu setiap sore. Tetapi pada Sabtu sore Komunitas Domus biasa menggunakan Liturgi Hari Minggu. Dengan demikian di Domus tak biasa ada Misa di hari MInggu. Seandainya terjadi ada, misalnya karena even tertentu atau ada umat yang minta pelayanan ujub tertentu, Misa Sabtu sore ditiadakan. Yang kedua, kalau ucapan "Ini hari libur" muncul di Minggu 15 Maret 2026, itu berarti tak ada rombongan tamu berkunjung.


Para rama Domus maklum kalau sekalipun Minggu tak terjadi ada rombongan tamu berkunjung. Bukankah hari itu termasuk Masa Prapaskah? Bukankah di Masa Prapaskah umat sibuk mempersiapkan perayaan Paskah? Bukankah di Masa Prapaskah umat juga punya kegiatan-kegiatan khusus di Lingkungan seperti pertemuan Aksi Puasa Pembangunan (APP)? Maka layaklah kalau para rama santai-santa berada di kamar masing-masing. Pada jam 08.00, karena biasa bangun di dini hari, Rm. Bambang sudah tertidur dan hanya terbangun karena ada snak di antar di kamarnya. Tiba-tiba menjelang jam 10.00 seorang karyawan masuk kamarnya dan berkata "Rama, wonten rombongan tamu mendadak. Saking Gondang" (Rama, ini mendadak ada rombongan tamu berkunjung dari Gondang). Ternyata pada jam 09.44 dalam HP Rm. Bambang ada pesan WA dari Rm. Andika yang sedang tak ada di Domus. Isi WA adalah "Romo dinten punika wonten kunjungan kula kesupen nyerat. Saking lingkungan paroki Gondangwinangun. ..... Matur nuwun 🙏🏻 (Rama, hari ini ada kunjungan. Saya lupa menuliskan. Dari Paroki Gondangwinangun. ..... Trima kasih). Ternyata yang datang adalah umat Lingkungan Tangkisan Pos yang masuk wilayah Paroki Gondang. Kedatangan mereka dalam rangka merayakan Pesta Pelindung, yaitu Santo Yusup. Mereka mengisi dengan kerja bakti bersih gereja Gondang pada Rabu 11 Maret 2026, kunjungan ke rama sepuh Domus Pacis npada hari itu, dan Perayaan Misa khusus besok pada tanggal 19 Maret 2026. Lima orang rama sepuh ikut menyambut rombongan tamu, yaitu Rm. Yadi, Rm. Suhartana, Rm. Ria, Rm. Jarot, dan Rm. Bambang. Bagaimanapun juga acara yang bagi Domus mendadak tak mengurangi suasana penuh kegembiraan dengan banyak kelakar. 

Beato Torello

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 03 Agustus 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014 Hits: 7586

  • Perayaan
    16 Maret
  •  
  • Lahir
    Tahun 1201 atau 1202
  •  
  • Kota asal
    Poppi, Tuscany, Italy
  •  
  • Wafat
  •  
  • Antara Tahun 1281 - 1292 di Poppi, Tuscany, Italy | Oleh sebab alamiah causes
  •  
  • Beatifikasi
    Oleh Paus Benediktus XIV
  •  
  • Kanonisasi

Hidupnya pada semasa kanak-kanak di desa biasa-biasa saja. Tetapi, setelah ayahnya meninggal dunia, Torello mulai mengubah seluruh cara hidupnya. Ia bergaul dengan teman-teman yang suka mabuk. Mereka bukannya bekerja, malahan berkeliaran di kota sepanjang hari. Torello menyukai teman-teman barunya ini dan berusaha keras mendapatkan pengakuan mereka.

Suatu hari, ketika ia sedang bermain olahraga di tempat terbuka, seekor ayam jago terbang turun dari tempatnya bertengger dan mendarat di lengan Torello. Si jago lalu berkokok tiga kali; kokok yang panjang dan lantang. Torello terdiam kelu. Ia pergi dan tak hendak melanjutkan permainannya. Ia tidak dapat tidak berpikir bahwa apa yang dilakukan si ayam jago bukanlah suatu kebetulan belaka. Ia diperingatkan, dengan cara yang sama seperti St Petrus dulu diperingatkan. Cara hidup Torello yang tak bertanggung jawab akan menghantarnya jauh dari Yesus.

Sektika itu juga Torello berniat mengubah hidupnya. Ia pergi menemui Abbas San Fedele yang membantunya menyambut Sakramen Tobat dengan baik. Lalu Torello pergi ke suatu daerah hutan yang tenang dan memilih sebuah tempat dekat sebuah pohon besar. Ia melewatkan delapan hari lamanya dalam doa. Di akhir doa, ia memutuskan hendak menjadi seorang pertapa. Ia pulang ke Poppi dan menjual segala harta miliknya. Ia menyisakan bagi dirinya hanya cukup uang untuk membeli sepetak tanah dekat pohon besar yang ditemukannya di hutan. Di sebelah pohon besar ia mendirikan sebuah gubuk di mana ia menghabiskan sepanjang sisa masa hidupnya. Ia menanam sayur-mayur untuk makanannya dan mengambil air dari sungai. Ia berdoa dan mengamalkan mati raga, yang paling berat adalah tidur hanya tiga jam saja dalam semalam.

Torello merasa bahwa menjadi seorang pertapa adalah panggilan hidup yang Tuhan kehendaki baginya. Demikianlah ia melewatkan hidupnya dalam damai. Semasa ia masih hidup, sedikit saja orang yang tahu mengenai hidupnya sebagai seorang pertapa. Hanya seorang sahabat tahu akan kehidupan Torello yang tersembunyi di hutan. Torello wafat dalam usia delapanpuluh tahun sesudah melewatkan lebih dari limapuluh tahun hidup sebagai pertapa. Beato Torello wafat pada tahun 1282.

Lamunan Pekan Prapaskah IV

Senin, 16 Maret 2026

Yohanes 4:43-54

43 Dan setelah dua hari itu Yesus berangkat dari sana ke Galilea, 44 sebab Yesus sendiri telah bersaksi, bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri. 45 Maka setelah ia tiba di Galilea, orang-orang Galileapun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiripun turut ke pesta itu.

46 Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit. 47 Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. 48 Maka kata Yesus kepadanya: "Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya." 49 Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: "Tuhan, datanglah sebelum anakku mati." 50 Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, anakmu hidup!" Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. 51 Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. 52 Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: "Kemarin siang pukul satu demamnya hilang." 53 Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: "Anakmu hidup." Lalu iapun percaya, ia dan seluruh keluarganya. 54 Dan itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, yang namanya teguran biasa membuat tidak nyaman di hati. Teguran selalu berisi penyalahan.
  • Tampaknya, untuk orang yang mau minta pertolongan, kalau justru menerima sikap menyalahkan, orang bisa sakit hati. Orang bisa terlibat konflik satu sama lain.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun sudah menunjukkan kepercayaan tetapi justru mendapatkan teguran dan penilaian negatif dari yang diminta pertolongan bisa menimbulkan rasa benci, bagi orang yang biasa punya kepekaan relung hati, dia justru makin memiliki kepercayaan dan penghargaan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang tak akan kehilangan iman sekalipun mendapatkan sikap negatif meragukan kepercayaannya.

Ah, bagaimanapun juga kalau sudah baik dan tak dipercaya, putus aja hubungannya.

Saturday, March 14, 2026

Dominikanes Awam Chapter Martinus de Porres

 Kongregasi dan ordo adalah hidup membiara yang para anggotanya pada umumnya mengikrarkan 3 kaul, yaitu kemurnian (selibat), ketaatan, dan kemiskinan. Para anggota terikat dalam hidup membiara bahkan menjadi komunitas-komunitas biara. Tetapi dalam perkembangan kemudian ada awam-awam yang mempersekutukan diri dengan sama-sama menghayati spiritualitas atau model kerohanian ordo tertentu. Mereka biasa masuk dalam persekutuan yang sering disebut ordio ketiga. Satu di antaranya mengalir dari kehidupan biarawan-biarawati Odo Praedicatorum (OP) atau Ordo Pengkhotbah. Karena didirikan oleh Santo Dominicus, biarawan-biarawatinya juga biasa disebut Dominican dan Dominicanes. Kini ada kelompok awam yang bernaman Dominikanes Awam. Google memberikan keterangan "Dominikanes Awam (dulu Ordo Ketiga Dominikan) adalah kumpulan umat Katolik yang dibaptis, berpartisipasi dalam spiritualitas Ordo Pewarta (OP), dan berkomitmen menghidupi karisma Santo Dominikus. Mereka berfokus pada pewartaan, doa, studi, dan persaudaraan di tengah dunia. Di Indonesia, komunitas ini resmi didirikan, salah satunya di Jakarta pada 2017.


Dominikanes Awam Indonesia berpusat di Jakarta. Wilayahnya juga mencakup Dominikanes Awam Provinsi Filipina. Sementara itu di Indonesi ada chapeter-chapter Dominikanes Awam di Jakarta, Surabaya, Pontianak, Yogyakarta, Cirebon, dan Cimahi. Masing capter memiliki nama sesuai Santo Pelindung. Satu di antaranya adalah Chapter Santo Martinus de Porres, yaitu Dominikanes Awam di Yogyakarta. Pada Jumat 13 Maret 2026 Dominikanes Awam Yogyakarta berkunjung ke Domus Pacis Santo Petrus. Ada 10 orang yang ikut berkunjung. Pada umumnya mereka datang berdua suami-istri. Katanya di Yogyakarta ada sekitar 26 orang anggota Dominikanes Awam. Di Domus Pacis selain Rm. Andika Bhayangkara sebagai Direktur Domus, para rama sepuh ikut ikut menyambut adalah Rm. Ria, Rm. Djoko Setyo, Rm. Jarot, Rm. Yadi, Rm. Suhartana, dan Rm. Bambang. Yang terjadi dalam pertemuan itu adalah duduk-duduk santai sambil omong-omong biasa. Tetapi suasana kelakar amat mewarnai sehingga terjadi suasana akrab persaudaraan. Pertemuan ditutup dengan penyerahan oleh-oleh beberapa hal kebutuhan Domus, foto bersama, doa dari tamu, dan berkat dari Rm. Andika. 

Santo Longinus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 27 Mei 2014 Diperbaharui: 22 Oktober 2019 Hits: 56583

  • Perayaan
    15 Maret (Gereja Barat)
    16 Oktober (Gereja Orthodox Timur)
    22 Oktober (Gereja Apostolik Armenia)
  •  
  • Lahir
    Hidup pada abad pertama
  •  
  • Kota asal
    Lanciano, Italia
  •  
  • Wilayah karya
    Yerusalem - Israel
  •  
  • Wafat
  •  
  • (Versi 1) Martir - Dipancung pada abad pertama di Cappadocia Turki
    (Versi 2) Martir - Dipancung pada abad pertama di Mantua Italia
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Menurut tradisi, Santo Longinus adalah prajurit Romawi yang menikam lambung Yesus dengan tombak saat Yesus wafat di bukit Golgota.  Nama lengkapnya adalah Gaius Cassius Longinus. Ia adalah seorang perwira militer dan orang kepercayaan Pontius Pilatus, wali negeri Yudea pada Jaman Yesus.  Pilatus mempercayakan kepadanya tugas mengawasi segala sesuatu yang terjadi dan melaporkan kepadanya. Longinus seorang perwira militer Romawi sejati. Ia setia pada atasan,  dapat dipercaya dan siap sedia melaksanakan tugasnya. Namun matanya yang juling membuat ia sering dijadikan bahan olok-olokan oleh rekan-rekannya.

Longinus mungkin adalah komandan dari para prajurit yang melaksanakan Penyaliban Yesus. Kitab Suci menulis : 

Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. (Yoh 19:32-34)

Tradisi menambahkan bahwa Darah dan Air dari Tubuh Tuhan muncrat  membasahi wajah dan sekujur tubuh Longinus.  Matanya yang juling tersiram Darah Yesus dan seketika itu secara ajaib menjadi sembuh.  Longinus lalu meloncat dari kudanya, dengan gemetar ia jatuh berlutut, memukuli dadanya, dan menyatakan rasa penyesalannya. Ketika beberapa saat kemudian gempa bumi mengguncang bukit Golgota;  Longinus dengan penuh keyakinan bersaksi :

........ "Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah." (Mat 27:54)

Setelah peristiwa ini Longinus bertobat. Perwira Romawi ini  bersama dengan dua orang prajurit lain yang juga terlibat dalam proses penyaliban; meninggalkan ketentaraan dan bergabung dengan para rasul. Mereka dibabtis setelah Pentakosta dan menjadi saksi-saksi Kritus yang sangat terpercaya. Para rasul kemudian mentahbiskan Longinus menjadi seorang diakon dan ikut melayani dalam pewartaan iman.  

Ada beberapa Tradisi yang berbeda tentang perjalanan Longinus selanjutnya.

Sebuah versi mengatakan bahwa Longinus mengikuti petunjuk para rasul dan pergi menyebarkan Injil sampai ke Capadocia – Asia Kecil (Sekarang wilayah Turki).  Di sini ia menjadi termashyur karena khotbah-khotbahnya dan ia mempertobatkan banyak orang menjadi Kristen.  Karena imannya Ia kemudian ditangkap dan dipaksa murtad dengan cara mempersembahkan kurban kepada dewa-dewi pagan Romawi.  Ketika Longinus menolak memberikan persembahan, Gubernur Romawi memerintahkan agar gigi Longinus dirontokkan dan lidahnya dipotong, tetapi secara ajaib ia masih dapat terus berbicara membela iman. Ia bahkan merobohkan patung dewa-dewi kafir tersebut. Karena itu Longinus lalu dipenggal kepalanya. Keberanian dan ketulusan yang ditunjukkan Longinus membuat sang gubernur pun akhirnya bertobat dan dibabtis menjadi Kristen.

Tradisi lain mengatakan Longinus dan kedua temannya itu kembali ke tanah asal mereka di Italia. Di sana mereka giat mewartakan nama Kristus dan menyampaikan, sebagai seorang saksi mata, kisah Sengsara dan Kebangkitan Kristus. Ia mempertobatkan banyak orang  sehingga membuat komunitas Yahudi di sana menjadi geram. Atas hasutan orang-orang Yahudi, Longinus dan kedua sahabatnya ditangkap lalu dipenggal kepalanya di kota Mantua. 

Tombak St. Longinus yang digunakannya untuk menikam Tuhan Yesus juga menurunkan legenda yang menarik untuk disimak. Beberapa versi Legenda tentang tombak ini sangat berbeda satu dengan yang lain, dan susah untuk ditelusuri kebenaran sejarahnya. Kisah - kisah yang berkembang tentang Tombak St. Longinus kadar historisnya sangat lemah karena itu hendaklah kita menerimanya sebagai MITOS belaka.

Legenda mengisahkan bahwa tombak yang telah tersiram Darah Juru Selamat kita tersebut  menjadi rebutan bagi raja-raja Kristen dari masa ke masa karena dipercaya bahwa siapapun yang memiliki tombak ini akan menjadi seorang yang tidak terkalahkan.  Tombak bersejarah itu disebut dengan berbagai nama; antara lain : Lancea Et Clavus Domini, The Holy Lance (German: Heilige Lanze),  The Holy SpearSpear of DestinyLance of LonginusSpear of Longinus, Tombak  Pembunuh Anak Manusia.

Mitos tentang para pemilik tombak ini berkembang simpang-siur mulai dari kaisar Romawi Kristen Pertama Konstantinus, Kaisar Romawi Suci I Charlemagne, Fredrich Barbarosa, Napoleon, bahkan Hitler dan Jendral Patton dari USA.  Di tahun 921 dikisahkan Raja Heinrich I bersedia menukar sebagian besar dari tanah kerajaannya hanya untuk mendapatkan tombak suci ini. Di Jerman, berkembang ceritera bahwa Raja Charlemagne bisa memenangkan peperangan sampai 47 kali karena ia memegang tombak suci ini. Ia terbunuh pada saat berperang karena lupa membawa tombak suci ini bersamanya. Kaisar Fredrich Barbarosa juga dikatakan dapat sukses dalam berbagai kampanye militernya dan memenangkan banyak peperangan karena memiliki tombak suci ini.

Saat ini terdapat empat Relikwi Tombak yang sama-sama diklaim sebagai Tombak Santo Longinus. 

Relikwi Tombak St. Longinus di Roma - Vatican

Relikwi Tombak St. Longinus di Vienna - Austria

Relikwi Tombak St. Longinus di Echmiadzin - Armenia

Relikwi Tombak St. Longinus di Antiokhia (Sekarang Antakya-Turki)

Asal-usul dan keaslian relikwi-relikwi tersebut sudah tidak bisa ditelusuri lagi.  Relikwi Tombak St. Longinus “versi” Roma kini disimpan di Basilika Santo Petrus tepat dibawah patung Santo Longinus.  Namun sampai hari ini Vatican tidak pernah mengeluarkan klaim resmi bagi keaslian dari relikwi tersebut.

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja

Lamunan Pekan Prapaskah IV

Minggu, 15 Maret 2026

Yohanes 9:1-41

1 Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. 2 Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" 3 Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. 4 Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja. 5 Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia." 6 Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi 7 dan berkata kepadanya: "Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam." Siloam artinya: "Yang diutus." Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek. 8 Tetapi tetangga-tetangganya dan mereka, yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata: "Bukankah dia ini, yang selalu mengemis?" 9 Ada yang berkata: "Benar, dialah ini." Ada pula yang berkata: "Bukan, tetapi ia serupa dengan dia." Orang itu sendiri berkata: "Benar, akulah itu." 10 Kata mereka kepadanya: "Bagaimana matamu menjadi melek?" 11 Jawabnya: "Orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku: Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat." 12 Lalu mereka berkata kepadanya: "Di manakah Dia?" Jawabnya: "Aku tidak tahu." 13 Lalu mereka membawa orang yang tadinya buta itu kepada orang-orang Farisi. 14 Adapun hari waktu Yesus mengaduk tanah dan memelekkan mata orang itu, adalah hari Sabat. 15 Karena itu orang-orang Farisipun bertanya kepadanya, bagaimana matanya menjadi melek. Jawabnya: "Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat." 16 Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: "Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat." Sebagian pula berkata: "Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?" Maka timbullah pertentangan di antara mereka. 17 Lalu kata mereka pula kepada orang buta itu: "Dan engkau, apakah katamu tentang Dia, karena Ia telah memelekkan matamu?" Jawabnya: "Ia adalah seorang nabi." 18 Tetapi orang-orang Yahudi itu tidak percaya, bahwa tadinya ia buta dan baru dapat melihat lagi, sampai mereka memanggil orang tuanya19 dan bertanya kepada mereka: "Inikah anakmu, yang kamu katakan bahwa ia lahir buta? Kalau begitu bagaimanakah ia sekarang dapat melihat?" 20 Jawab orang tua itu: "Yang kami tahu ialah, bahwa dia ini anak kami dan bahwa ia lahir buta, 21 tetapi bagaimana ia sekarang dapat melihat, kami tidak tahu, dan siapa yang memelekkan matanya, kami tidak tahu juga. Tanyakanlah kepadanya sendiri, ia sudah dewasa, ia dapat berkata-kata untuk dirinya sendiri." 22 Orang tuanya berkata demikian, karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi, sebab orang-orang Yahudi itu telah sepakat bahwa setiap orang yang mengaku Dia sebagai Mesias, akan dikucilkan. 23 Itulah sebabnya maka orang tuanya berkata: "Ia telah dewasa, tanyakanlah kepadanya sendiri." 24 Lalu mereka memanggil sekali lagi orang yang tadinya buta itu dan berkata kepadanya: "Katakanlah kebenaran di hadapan Allah; kami tahu bahwa orang itu orang berdosa." 25 Jawabnya: "Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat." 26 Kata mereka kepadanya: "Apakah yang diperbuat-Nya padamu? Bagaimana Ia memelekkan matamu?" 27 Jawabnya: "Telah kukatakan kepadamu, dan kamu tidak mendengarkannya; mengapa kamu hendak mendengarkannya lagi? Barangkali kamu mau menjadi murid-Nya juga?" 28 Sambil mengejek mereka berkata kepadanya: "Engkau murid orang itu tetapi kami murid-murid Musa. 29 Kami tahu, bahwa Allah telah berfirman kepada Musa, tetapi tentang Dia itu kami tidak tahu dari mana Ia datang." 30 Jawab orang itu kepada mereka: "Aneh juga bahwa kamu tidak tahu dari mana Ia datang, sedangkan Ia telah memelekkan mataku. 31 Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya. 32 Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta. 33 Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa." 34 Jawab mereka: "Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?" Lalu mereka mengusir dia ke luar. 35 Yesus mendengar bahwa ia telah diusir ke luar oleh mereka. Kemudian Ia bertemu dengan dia dan berkata: "Percayakah engkau kepada Anak Manusia?" 36 Jawabnya: "Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepada-Nya." 37 Kata Yesus kepadanya: "Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!" 38 Katanya: "Aku percaya, Tuhan!" Lalu ia sujud menyembah-Nya. 39 Kata Yesus: "Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta." 40 Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya: "Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?" 41 Jawab Yesus kepada mereka: "Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, nasib buruk yang menimpa seseorang ada yang mengaitkan dengan perbuatan buruk atau keliru. Dengan berperilaku buruk orang akan mengalami hidup celaka.
  • Tampaknya, nasib buruk berkaitan dengan kondisi tubuh juga biasa dikaitkan dengan perbuatan salah bahkan dosa. Tubuh cacad juga bisa dikaitkan ke dosa entah siapapun yang berbuat.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun kondisi buruk seseorang sering dikaitkan dengan kesalahan bahkan dosa dari entah siapa, tetapi bagi yang biasa dekat dengan relung hati justru kondisi buruk bisa jadi tanda hadirnya karya ilahi secara khusus. Dalam yang ilahi karena kemesrtaannya dengan gema relung hati orang akan sadar bahwa dalam kondisi seburuk apapun karya Tuhan tak akan berkesudahan bagi si penderita.

Ah, bagaimanapun juga orang cacad itu selalu menanggung derita.

Friday, March 13, 2026

Rahmat Lewat Kasihnya Rm. Saptaka

Pada Jumat 13 Maret 2026 sore Rm. Djoko Setyo mendapatkan giliran memimpin Misa Komunitas Rama Sepuh Domus Pacis. Sesudah membaca Injil kurang lebih Rm. Djoko memulai kata-kata dalam homili "Berhadapan dengan hukum kasih ternyata berisi dua, yaitu kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia. Saya menemukan bahwa keduanya sebenarnya adalah satu. Yang pokok adalah mengasihi Allah. Kalau mengasihi Allah orang akan memiliki relasi baik dengan sesama. Di sini saya mengingat ketika Rm. Saptaka berulang tahun pada Rabu 11 Maret dua hari lalu, tamu berdatangan baik dari Semarang maupun dari Sala selain beberapa keluarga. Para tamu banyak membawa oleh-oleh. Bahkan, sebenarnya, masih ada yang disimpan oleh Rm. Saptaka". Tentu saja kata-kata terakhir membuat peserta Misa tertawa. 


Seperti biasa, seusai Misa para rama langsung ke kamar makan santap malam bersama. Ternyata Rm. Saptaka meminta salah satu karyawan masuk kamarnya dan kembali ke ruang makan membawa sesuatu dalam piring besar. Rm. Saptaka meminta untuk di bagi tiga disajikan di 3 kelompok meja para rama sepuh. Rm. Bambang melihat sajian menu khusus itu dan merasa baru sekali itu menemukan. Menu itu terdiri dari lempengan-lempengan tebal tapi melebar berwarna kehitaman dan masing-masing ditusuk  dengan tusukan untuk pegangan. "Napa niku jenenge" (Itu apa?) tanya Rm. Bambang yang mendapat jawaban "Satu babi". Rm. Suntara yang semeja dengan Rm. Bambang tampak senang sekali. Sehabis doa penutup makan dia meminta karyawan untuk menyimpan beberapa tusuk yang masih sisa di dalam lemari es. Ternyata Rm. Saptaka melakukan hal sama. Di pagi hari satu piring sisa sate babi disajikan di kelompok Rm. Saptoko. Rm. Bambang menghampiri untuk diambil gambar dengan HP. "Kula sek ngertos sepisan sing ngados ngaten" (Saya baru sekali ini melihat yang seperti ini) kata Rm. Bambang yang ditanggapi oleh Rm. Saptaka "Niki saking Sala" (Ini dari Sala) sambil meminta Rm. Bambang membawa ke mejanya sesudah beliau mengambil satu. Rm. Bambang menyodorkan ke Rm. Suntara. Sesudah makan pagi ternyata Rm. Suntara minta ke karyawan menyimpan yang tersisa dengan berkata "Nggo engko awan" (Untuk nanti siang). Rm. Bambang merasa senang melihat Rm. Suntara merasa senang. Dia sendiri tidak menyantapnya. Maklumlah Rm. Bambang untuk menu daging hanya daging ayam, itupun harus digoreng atau dibakar garing.

Lingkungan Tangkisan Pos

" Dina niki libur nggih? " (Ini hari libur, ya?) salah seorang rama nyeletuk ketika sedang makan pagi Minggu 15 Maret 2026. Di dal...