Thursday, February 12, 2026

Lamunan Pekan Biasa V

Jumat, 13 Februari 2026

Markus 7:31-37

31 Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. 32 Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu. 33 Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. 34 Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah! 35 Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. 36 Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. 37 Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, orang hebat akan mudah mengutarakan apa yang dipikir dan dirasakan kepada khalayak umum. Dia bisa menjadi pembicara publik yang diidolakan oleh banyak orang.
  • Tampaknya, kemampuan omong memang juga memudahkan orang untuk meraih yang diinginkan. Bahkan dengan kemampuan omong orang bisa mendapatkan nafkah berlimpah.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sekalipun kemampuan omong dapat mudah menjadi kekaguman banyak orang, kalau hanya menjadi tokoh omong tetapi miskin kemampuan mendengar orang tak menemukan kebaikan untuk dirinya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan mampu berkomunikasi dengan banyak orang dengan saling mendengar dan mengungkapkan kata-kata.

Ah, pokoknya kalau pintar omong pasti pintar cari uang.

Wednesday, February 11, 2026

Ulang Tahun Rm. Ria Winarta

Hari ini adalah Kamis tanggal 12 Februari 2026. Rm. Bambang sehari sebelumnya melihat kembali daftar nama-nama para rama anggota Komunitas Domus Pacis Santo Petrus. Ini untuk memastikan tahun kelahiran Rm. Ria Winarta. Sebetulnya kalau ditanya "Taun pira laire" (Tahun berapa Anda lahir), beliau biasa menjawab "Setahun bar taun kemerdekaan" (Setahun sesudah tahun Kemerdekaan RI). Tetapi ketika hitungan belum genap 80 tahun, kalau ditanya oleh rombongan tamu usia berapa kini, beliau biasa menjawab "Delapanpuluh tahun". Maklumlah, Rm. Ria adalah salah satu rama Domus yang sudah biasa lupa hari dan tanggal. Sehingga ketika ikut Misa, begitu masuk Kapel kerap terdengar suara Rm. Ria "Tanggal pira iki?" (Sekarang tanggal berapa?) sambil membuka-buka buku yang berisi doa dan bacaan Misa. Yang jelas pada Kamis 12 Februari 2026 Bu Rini menyiapkan menu khusus makan siang untuk santap bersama para rama dan karyawan Domus dengan mengundang keluarga. Yang mengundang keluarga adalah Rm. Bambang lewat Ibu Mercy, salah satu adik Rm. Ria. Undangan memang hanya lewat WA dengan mengatakan "Halo, buuuuu. Benjang Kamis 12 Februari 2026 Rm. Ria ulang tahun kelahiran lhooo. Domus Pacis nyuwun 10 tiyang saking keluarga rawuh dhahar siang sesarengan para rama lan karyawan Domus. Kasuwun jam 11.00 sampun omong-omong kaliyan Rm. Ria. Matur nuwun lan Berkah Daleeeeeem" (Halo, buuuu. Besok Kamis 12 Februari 2026 Rm. Ria ulang tahun kelahiran lhooo. Domus Pacis mohon 10 orang dari keluarga hadir makan siang bersama para rama dan karyawan Domus. Mohon datang jam 11.00 agar bisa omong-omong dulu dengan Rm. Ria. Terima kasih dan Berkah Daleeeem). Untuk hari lahir Rm. Ria tanggal itu Rm. Bambang melantunkan tembang macapat sebagai berikut :

Santo Meletius

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 27 Juli 2013 Diperbaharui: 23 Februari 2020 Hits: 12323

  • Perayaan
    12 Februari
  •  
  • Lahir
    Hidup pada awal Abad ke-4
  •  
  • Kota asal
    Melitene (sekarang Malatya, Turkey)
  •  
  • Wilayah karya
    Anthiokhia, Konstantinopel
  •  
  • Wafat
  •  
  • 12 Februari 381 | Oleh sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Pada abad keempat, Meletius dipanggil untuk menggembalakan Gereja. Penganiayaan Romawi telah usai dan Kaisar Konstantinus telah mengakui kekristenan sebagai agama yang sah pada tahun 315. Tapi awan badai berkumpul dalam Gereja yang saat itu sedang mengalami perpecahan. Sebagian menganggap diri Kristen, sebagian Arian.

Bidaah Arian menyangkal bahwa Yesus adalah Tuhan. Sebagian orang mempercayai kesesatan ini sebab hal-hal tidak begitu jelas bagi mereka pada waktu itu. Uskup Meletius (Gereja Orthodox menyebutnya : Patriark Meletius) mencintai Gereja dan setia kepada Yesus. Ia percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan sadar bahwa Gereja harus berbicara jelas mengenai siapa Yesus. Meletius ditahbiskan menjadi Uskup Antiokhia pada tahun 361. Kaum Arian menjadi berang. Selama duapuluh tahun berikutnya, Meletius adalah seorang uskup yang sabar dan penuh kasih. Tetapi hidupnya dipersulit oleh orang-orang yang tidak menerimanya. Ia kerap harus menyingkir ke tempat persembunyian sebab orang-orang lain mengklaim diri sebagai uskup di keuskupannya. Tetapi St. Meletius adalah uskup yang sebenarnya; dan ia akan dengan penuh kesabaran kembali sesegera mungkin. Ketika Kaisar Valens wafat pada tahun 378, kaum Arian mengakhiri penganiayaan mereka.

Pada tahun 381 diselenggarakanlah suatu pertemuan Gereja yang besar, yang dikenal sebagai Konsili Konstantinopel. Para uskup hendak membicarakan kebenaran-kebenaran penting iman kita. Uskup Meletius membuka pertemuan-pertemuan dalam Konsili Gereja dan memimpin sidang. Kemudian, menjadi kesedihan semua uskup, ia wafat di sana, di salah satu pertemuan.

Para bapa Gereja dan Santo-santo besar seperti Yohanes Krisostomus dan Gregorius dari Nazianzen ikut ambil bagian dalam Misa Pemakamannya bersama segenap uskup yang hadir dalam Konsili. Jemaat Konstantinopel berbondong-bondong datang ke gereja pula. St. Gregorius Nazianzen yang menyampaikan homili pemakaman. Ia berbicara mengenai seorang uskup yang lemah lembut, yang seperti Kristus, dan yang dikasihi semua orang. Ia benar; semua orang yang mencintai Gereja mengasihi St. Meletius. St. Gregorius berbicara mengenai ketenangan dan senyumnya yang hangat, suara kebapakan dan sentuhan kasih Uskup Meletius. Uskup kudus ini wafat pada tanggal 12 Februari 381.

Konsili Konstantinopel kemudian menghasilkan keputusan yang tegas dan jelas yang mengutuk Aranisme. Ajaran sesat ini akhirnya dengan sendirinya surut pengaruhnya dalam Gereja dan kemudian menghilang.

Lamunan Pekan Biasa V

Kamis, 12 Februari 2026

Markus 7:24-30

24 Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. 25 Malah seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya. 26 Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya. 27 Lalu Yesus berkata kepadanya: "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." 28 Tetapi perempuan itu menjawab: "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak." 29 Maka kata Yesus kepada perempuan itu: "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu." 30 Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, tidak sedikit agamawan yang memandang agama sebagai tanda iman. Orang yang percaya pada Tuhan pasti beragama.
  • Tampaknya, dengan rajin mengucapkan doa orang sudah menjalani agama. Orang dengan doa dan ibadat hidup dekat dengan Tuhan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun hidup keagamaan selalu bicara khasanah iman, orang baru sungguh beriman kalau bisa menjaga kerendahan hati dan tak sakit hati kalau direndahkan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar bahwa dengan kesediaan berendah diri orang ada harga di hadapan Tuhan.

Ah, Tuhan akan menista yang tak beragama.

Tuesday, February 10, 2026

Pertemuan Rama Rayon Sleman Jogja Barat


Ini terjadi pada hari Senin tanggal 9 Februari 2026. Ketika jarum jam sudah lewat angka 15 dan hampir sampai angka 30 jam 10.00 pagi, Pak Tukiran masuk kamar Rm. Bambang dan  berkata diminta oleh Rm. Andika, Direktur Domus, menjempputnya untuk ikut pertemuan. Ternyata pada jam 10.16 memang ada pesan WA dari Rm. Andika di HP Rm. Bambang "Romo punapa kersa nuweni para romo sekedap?" (Rama, apakah bersedia sebentar jumpa para rama?). Sebenarnya Rm. Bambang sudah tahu bahwa hari itu ada rama-rama Rayon Kabupaten Sleman pertemuan bertempat di Domus Pacis Santo Petrus. Beberapa hari sebelumnya, ketika masih di Papua, Rm. Andika sudah kontakan lewat WA dengan Bu Rini untuk menyiapkan konsumsi. Pertemuan terjadi di ruang lobi. Ketika Rm. Bambang datang para rama menyambut dengan ceria penuh tawa. Ternyata beberapa saat kemudian Rm. Djoko Setyo juga ikut bergabung. Kelakar saling ejek juga muncul antara para rama tamu dengan Rm. Bambang. Maklumlah, dulu Rm. Bambang termasuk aktif dan banyak rama-rama yang hadir dulu juga cukup akrab dengannya. Sebenarnya pertemuan rama rayon sudah beberapa kali terjadi selama 5 tahun di Domus Pacis Santo Petrus. Tetapi baru kali itu Rm. Bambang diminta ikut. Pada Senin itu acaranya ada 3 : 1) Bicara tentang keuangan Kas Rayon Sleman, 2) Kerjasama pelayanan Sakramen Tobat selama Prapaskah 2026, 3) Rencana piknik ke Lampung. Santap bersama disediakan di aula Domus dan para rama Sleman bisa berjumpa dan bersalaman dengan rama-rama Domus yang sedang di ruang makan menikmati sajian makan siang.

Santo Paus Gregorius II

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 02 Juni 2014 Diperbaharui: 21 Februari 2020 Hits: 15464

  • Perayaan
    11 Februari
  •  
  • Lahir
    Tahun 669
  •  
  • Kota asal
    Roma - Italia
  •  
  • Wafat
  •  
  • 11 Februari 731 di Roma, Italy - Oleh sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santo Paus Gregorius II adalah paus kita yang ke-89. Ia lahir di kota Roma pada tahun 669 dalam sebuah keluarga bangsawan.  Ayahnya bernama Marcellus dan ibunya adalah Honesta. Dalam usia muda, Gregorius sudah terlibat dalam berbagai urusan Gereja. Selama masa kepausan Paus Sergius I (687-701), Ia bekerja dalam istana kepausan sebagai sacellarius (bendahara) Kepausan. Kemudian ia ditempatkan sebagai kepala perpustakaan kepausan. Ia adalah pustakawan pertama di Tahkta Suci.

Pada masa kepausan Paus Konstantinus (708-715), Gregorius diangkat menjadi sekretaris kepausan. Dan Setelah kematian Paus Konstantinus pada tanggal 9 April 715, Gregorius terpilih menjadi paus, dan ditahbiskan pada tanggal 19 Mei 715.

Paus Gregorius II melakukan banyak hal luar biasa dalam memajukan misi gereja. Pada tahun 716, atas permintaan dari raja Theodorus, Paus Gregorius II mengirimkan sebuah delegasi misionaris ke Bavaria untuk menyebarkan iman Kristiani, membangun gereja dan mendirikan keuskupan di wilayah tersebut. Misi ini sangat sukses hingga dalam beberapa tahun kemudian Paus Gregorius II menunjuk Santo Corbinianus; seorang suci yang telah bertapa selama belasan tahun untuk menjadi Uskup di Keuskupan Agung Freising Bavaria. Awalnya Corbinianus menolak dan tidak mau meninggalkan pertapaannya karena telah terikat dengan kaul hidup monastik; namun melalui sebuah sinode, bapa suci berhasil meyakinkan Corbinianus untuk meninggalkan pertapaannya dan berangkat memenuhi panggilan barunya sebagai Uskup Agung Bavaria.

Kemudian Pada tahun 719, Paus Gregorius II mengutus Santo Bonafisius untuk mempertobatkan suku-suku di Jerman yang masih kafir. Santo Bonifasius berhasil dengan gemilang dalam misi tersebut hingga di tahun 722 Paus Gregorius mentabhiskannya menjadi Uskup pertama bagi bangsa Jerman.  Kepada Uskup Bonafasius, bapa suci Gregorius II memberikan sepucuk surat rekomendasi untuk diserahkan kepada Raja Charles Martel, seorang Raja Katolik Prancis yang saat itu menjadi penguasa atas suku-suku Jerman.  Karena  permohonan Paus ini, Raja Charles memberikan jaminan perlindungan kepada sang Uskup dalam karyanya mempertobatkan suku-suku Jerman itu.

Meskipun ada banyak keberhasilan dalam kepemimpinannya sebagai Paus, Gregorius pun tidak luput dari berbagai tantangan. Kekuatan kaum Lombardia bangkit lagi dan menguasai Hongaria, Austria hingga Italia Utara. Hubungan baik antara Paus Gregorius dengan Liutprand, Raja Lombardia menjadi retak bahkan terputus ketika Liutprand memulai kampanye militernya untuk menguasai Italia. Ketika kota Cumae di wilayah Naples jatuh ke tangan bangsa Lombardia, Paus memberikan bantuan finansial kepada Duke Yohanes I dari Naples untuk dapat bangkit melawan Raja Lombardia Liutprand. Dengan bantuan dari Takhta Suci ini akhirnya Duke Yohanes I  berhasil menghalau kaum Lombardia keluar dari Cumae.

Di tahun 725 orang-orang Lombardia kembali melancarkan kampanye militer untuk menguasai Italia utara. Mereka sempat berhasil menduduki kota Ravenna. Tetapi berkat bantuan Paus Gregorius II dan orang-orang Venesia, Kaisar dan bala tentaranya berhasil mengusir orang-orang Lombardia itu dari kota Ravenna.

Selain masalah dari luar, Paus Gregorius juga di hadapkan pada masalah internal Gereja yang pelik akibat konflik ICONOCLASM.  Konflik ini sudah dimulai sejak awal abad kedelapan oleh hasutan orang muslim dari kalifah Ummayah di Damaskus.  Kalifah ini pada tahun 722 mengeluarkan suatu peraturan yang melarang penghormatan gambar-gambar kudus di dalam gereja-gereja yang berada di wilayah yang telah ditaklukannya. Akibat peraturan ini, banyak gambar kudus dalam gereja-gereja yang dirusak; baik oleh orang-orang Islam maupun orang-orang Kristen sendiri.

Gerakan pengrusakan gambar-gambar kudus di dalam Gereja ini semakin meluas setelah didukung oleh Kaisar Romawi Timur, Leo III, dengan dekrit yang dikeluarkannya pada tahun 726.  Paus Gregorius kemudian dengan gigih menentang dekrit ini. Bapa suci Gregorius II mengeluarkan suatu intruksi yang dengan tegas menentang dekrit tersebut. Akibatnya Kaisar Leo III menjadi gusar dan menyusun suatu rencana pembunuhan atas diri Paus Gregorius. Tetapi rencana ini gagal total karena tidak seorang pun di Italia yang bersedia melakukan pembunuhan pada paus. Orang-orang di Italia malah semakin mendukung Paus dan melancarkan perlawanan terhadap Kaisar di Konstantinopel.  

Melalui sepucuk surat kepada Kaisar Leo III, Paus menerangkan tentang posisi Gereja dan tradisinya dalam hal penghormatan kepada gambar-gambar kudus. Ia pun mendesak Kaisar Leo III agar segera mencabut kembali dekrit itu sambil menegaskan agar hendaknya kaisar tidak lagi mencampuri urusan-urusan internal Gereja. Masalah gereja adalah urusan para pemimpin Gereja dan Kaisar sebaiknya memusatkan perhatiannya pada urusan-urusan kenegaraan saja. Kaisar Leo III, yang merasa mempunyai kekuasaan mutlak atas wilayah kekaisarannya, menolak mengikuti keinginan Paus. Karena itu, sekali lagi Paus menyurati Kaisar dan kembali menegaskan pandangan-pandangannya serta melarang kaisar untuk tetap ikut mencampuri urusan-urusan Gereja. Surat kedua yang dikirimkan kepada Kaisar itu ditutupnya dengan sebuah untaian doa bagi pertobatan Kiasar Leo III.

Ada juga sebuah legenda menarik tentang Paus Gregorius II dalam kisah kemenangan pasukan Kristen atas pasukan muslim dalam Pertempuran di Toulouse (721).  Menurut catatan dalam Liber Pontificalis, pada tahun 720 Paus Gregorius mengirimkan "tiga keranjang roti" yang telah diberkati kepada raja Eudes Agung (Odo The Great), pemimpin pasukan Kristen. Sebelum pertempuran dimulai, Eudes membagikan porsi kecil dari roti-roti tersebut kepada pasukannya. Pasukan Kristen kemudian memenangkan pertempuran ini. Setelah itu dilaporkan bahwa tidak ada seorangpun dari anggota pasukan yang telah makan roti tersebut menjadi terluka atau terbunuh dalam pertempuran.

Paus Gregorius tutup usia pada tanggal 11 Februari 731, dan dimakamkan di Basilika Santo Petrus. Pestanya dirayakan pada setiap tanggal 11 Februari.

Lamunan Pekan Biasa V

Rabu, 11 Februari 2026

Markus 7:14-23

14 Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: "Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. 15 Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya." 16 (Barangsiapa bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar!) 17 Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu. 18 Maka jawab-Nya: "Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, 19 karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?" Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal. 20 Kata-Nya lagi: "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, 21 sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, 22 perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. 23 Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, untuk menjaga tubuh orang harus waspada adanya makanan yang berbahaya. Itu bisa membuat tubuh menderita karena bisa merangsang daya kekuatan penyakit.
  • Tampaknya, ada kepercayaan bahwa makanan tertentu berbahaya merusak jiwa. Itu bisa membuat orang masuk jadi golongan abai Tuhan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sebahaya apapun makanan bisa membuat tubuh menderita bahkan merusak keluhuran jiwa, bahaya sejati dalam hidup manusia justru berada dalam sikap batin orang yang tidak taat pada relung hati untuk hidup wajar sesuai dengan realita kongkret dirinya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar bahwa semua menu makan disajikan untuk manusia dan kalau membahayakan itu terjadi karena kebutaan dan ketulian orang sendiri berhadapan dengan realita dirinya.

Ah, pokoknya agar tak berdosa ada makanan tertentu yang harus disingkiri.

Lamunan Pekan Biasa V

Jumat, 13 Februari 2026 Markus 7:31-37 31 Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus   dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galile...