Thursday, March 26, 2026

Minggu Palma: Sejarah dan Makna Mendalam Umat Katolik

diambil dari https://www.kompas.com/skola/read/2025/04/13/090000769
Kompas.com, 13 April 2025, 09:00 WIB
Serafica Gischa 
Editor

Sejumlah umat Katolik mengikuti Misa Minggu Palma di Gereja Santo Thomas, Seyegan, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (10/4/2022). Misa yang dilaksanakan dengan pembatasan jumlah umat karena Pandemi COVID-19 itu menjadi rangkaian perayaan Paskah serta guna memperingati datangya Yesus di Yerusalem.(ANTARA FOTO/ANDREAS FITRI ATMOKO)

KOMPAS.com
- Setiap tahun, di hari Minggu menjelang Paskah, gereja Katolik di seluruh dunia bahkan Indonesia dipenuhi umat dengan membawa daun palma atau palem.  

Kebanyakan dari mereka membawanya dari rumah. Daun-daun itu diangkat tinggi saat imam memberkatinha, dan suasna misa terasa berbeda. 

Khidmat, meriah, sekaligus menyentuh. Hari itu disebut Minggu Palma.  

Apa sebenarnya arti Minggu Palma? Kenapa para umat Katolik membawa daun palma? Apa hubungannya dengan Paskah? Yuk, kita cari tahu.

Asal-usul Minggu Palma  

Melansir dari situs resmi Vatican.va, Minggu Palma mengenang peristiwa Yesus memasuki Kota Yerusalem, beberapa hari sebelum penyaliban-Nya. 

Peristiwa tersebut tercatat dalam keempat injil, yaitu Matius 21:1-11, Markus 11:1-11, Lukas 19:28-44, dan Yohanes 12:12-19.  

Yesus Kristus memasuki Kota Yerusalem dengan penuh kemuliaan. Umat menyambut-Nya dengan daun palma dan sorak "Hosana". Karena mereka percaya Yesus adalah Mesias yang mereka nantikan. 

Seruan Hosana dalam bahasa Ibrani yang ditujukan kepada Yesus artinya "selamatkanlah" atau "tolonglah kami".  

Peristiwa tercatat dalam Kitab Suci dan menjadi simbol besar dalam umat Katolik, bahwa Yesus datang sebagai Raja Damai.  

Datang bukan dengan kuda perang seperti penguasa, tetapi dengan menunggangi keledai, lambang kerendahan hati. 

Mengapa daun palma?  

Merangkum dari buku Memahami Rabu Abu, Prapaskah, dan Minggu Palma (2017) karya I Marsana Windhu, tumbuhan palma banyak tumbuh di Israel dan negara lain, termasuk Indonesia.  

Daun palma dipakai sebagai lambang kemenangan bagi para martir. Para martir adalah orang-orang yang mati suci karena mempertahankan iman akan Yesus.  

Bagi umat Katolik, makna daun palma, yakni: 
  • Daun palma melambangkan kemenangan rohani, bahwa Yesus akan mengalahkan maut. 
  • Dalam tradisi gereja, daun palma yang diberkati pada hari Minggu Palma sering dibawa pulang untuk disimpan di rumah sebagai lambang perlindungan dan pengingat akan kerendahan hati Kristus. 
  • Setahun kemudian, daun-daun tersebut dibakar dan abunya digunakan dalam perayaan Rabu Abu, membuka masa Prapaskah berikutnya. 
Tradisi Minggu Palma  

Di Indonesia, perayaan Minggu Palma sangat hidup. Di kota-kota besar, proses daun palma biasanya digelar sebelum misa, diikuti umat dari berbagai usia.  

Di beberapa daerah, Minggu Palma sering dirayakan dengan drama perjalan Yesus memasuki Kota Yerusalem atau proses yang menyentuh hati. 

Umat dari berbagai latar belakang sosial ikut terlibat. Ini menunjukkan bahwa Minggu Palma adalah perayaan iman bersama, bukan hanya urusan pribadi. 

Minggu Palma yang menjadi awal Pekan Suci merupakan Minggu terpenting dalam kehidupan umat Katolik yang berpuncak pada Paskah. 

Peristiwa ini mengajak umat untuk:  
  • Merenungkan arti pengorbanan 
Yesus tidak hanya disambut, tapi juga ditolak dan disalibkan. Kita diingatkan bahwa hidup tidak hanya soal pujian, tapi juga kesetiaan dalam penderitaan. 
  • Melatih kerendahan hati
Dalam dunia yang penuh persaingan, Yesus datang tidak untuk menang sendiri, tapi untuk memberi diri. Ini menjadi inspirasi untuk hidup lebih rendah hati, lebih melayani. 
  • Menjalani iman dengan sadar 
Minggu Palma bukan seremoni, tapi momen untuk memperbarui komitmen kita kepada Allah—bahwa kita ikut dalam jalan salib-Nya, bukan hanya dalam kemuliaan-Nya.

Santo Rupertus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 27 Maret 2015 Diperbaharui: 03 Agustus 2016 Hits: 13227

  • Perayaan
    27 Maret
  •  
  • Lahir
    Hidup pada abad akhir abad ke-7 (tanggal dan tahun lahir tidak diketahui)
  •  
  • Kota asal
    Mungkin di Perancis
  •  
  • Wilayah karya
    Jerman, Austria
  •  
  • Wafat
  •  
  • Tahun 718 di Salzburg, Austria - Sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Menurut tradisi, Santo Rupertus adalah keturunan keluarga bangsawan Merovingian dari kerajaan Frank. Dia juga adalah paman dari Santa Ermentrude. Awalnya Rupertus adalah seorang biarawan Benediktin yang diangkat menjadi uskup di kota Worms. Namun belum lama berkarya di Worms, ia diusir keluar dari kota tersebut oleh orang-orang kafir pada tahun 697. Karena itu ia kemudian dikirim sebagai misionaris ke Regensburg di Bavaria. Di sana, ia berhasil membaptis Duke of Bavaria Theodo dan para bangsawan Bavaria. Setelah itu, Rupertus dikabarkan berkarya di kota AltΓΆtting dan Danube dimana ia berhasil membabtis banyak orang menjadi pengikut Kristus dan membangun sarana pendidikan bagi mereka.

Pada tahun 696, Duke of Bavaria Theodo menghadiahkan sebidang tanah bagi Rupertus di kota Juvavum (kini bernama Salzburg dan menjadi wilayah Austria), yang dipergunakannya untuk membangun sebuah biara Benediktin sebagai pusat kegiatan missionarisnya. Ia juga yang kemudian diangkat menjadi kepala biara tersebut. Untuk mendanai kehidupan dan karya mereka, Rupertus dan para biarawannya membangun tambak-tambak garam dan mendidik umat dalam memproduksi garam untuk dijual. Garam produksi mereka menjadi sangat terkenal sehingga kota itu kemudian diganti namanya menjadi “Salzburg” yang berarti “Bukit Garam”.

Santo Rupertus tutup usia pada hari Minggu Paskah di sekitar tahun 710. Relikwinya di semayamkan dalam sebuah Reliquary bersama dengan relikwi santo Virgilius di Katedral yang didedikasikan untuk mereka berdua; Katedral Santo Rupertus dan Virgilius di Salzburg Austria.

Di Katedral ini pula Komposer terkenal Wolfgang Amadeus Mozart dibabtis dengan nama babtis : Johannes Chrysostomus Wolfgangus Theophilus Mozart.

Lamunan Pekan Prapaskah V

Jumat, 27 Maret 2026

Yohanes 10:31-42

31 Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. 32 Kata Yesus kepada mereka: "Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?" 33 Jawab orang-orang Yahudi itu: "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah." 34 Kata Yesus kepada mereka: "Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? 35 Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah--sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan --, 36 masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? 37 Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, 38 tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa." 39 Sekali lagi mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka. 

40 Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. 41 Dan banyak orang datang kepada-Nya dan berkata: "Yohanes memang tidak membuat satu tandapun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar." 42 Dan banyak orang di situ percaya kepada-Nya. 

Butir-butir Permenungan

  • Katanya, yang namanya agama adalah pegangan berbuat baik. Untuk baik orang akan beragama.
  • Katanya, orang beragama akan selalu bersikap baik kepada siapapun. Dia tak akan menjadi penyebab celaka orang lain.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, sekalipun beragama membuat orang punya kehendak baik, kalau pandangan keagamaannya sempit hanya terpaku pada rumusan-rumusan, orang bisa menganggap sesat yang berbuat baik tetapi punya ungkapan rumusan beda. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan kedalaman hati dalam hidup beragama orang akan memahami rumusan-rumusan keagamaan dan menjalani kandungan iman di dalamnya.

Ah, semua perintah dan larangan dalam agama tak boleh diutak-atik rumusannya.

Wednesday, March 25, 2026

Rm. Djoko Berbelarasa ke Rm. Saptaka

Peristiwanya dari Misa Harian Domus Pacis Santo Petrus pada Rabu sore 25 Maret 2026. Pada saat itu yang mendapat giliran memimpin adalah Rm. Djoko Setyo Prakoso. Ketika masuk di Kapel, Rm. Bambang sudah melihat Rm. Djoko siaga di altar. Sebenarnya, melihat Rm. Djoko, yang langsung masuk di benak Rm. Bambang memunculkan pertanyaan dalam hatinya "Wela, kok saiki kaya aku. Langsung nganggo stola ora ngagem jubah" (Lho, sekarang kok seperti saya. Tanpa mengenakan jubah langsung pakai jubah). Tetapi yang dipikirkan Rm. Bambang langsung berubah ketika proses Misa berjalan. Hal ini diungkapkan oleh Rm. Bambang dalam makan bersama sesudah Misa "Rama Djoko, panjenengan nggih mriang napa?" (Rama Djoko, apakah Anda sedang tak enak badan?) tanya Rm. Bambang. Ternyata Rm. Djoko "Inggih" (Ya, benar). Rm. Bambang langsung berkomentar "Yen ngaten belarasa kalih Rama Saptaka, nggih" (Kalau begitu berbelarasa dengan Rm. Saptaka, ya). Rm. Djoko tertawa dan berkata "Kula kira kula luwih kuwat tinimbang Saptaka. Wingi kula ece" (Saya kira, saya lebih kuwat dari pada Saptaka. Kemarin dia saya ejek). Maklumlah beberapa hari belakangan Rm. Saptaka juga mengalami mriyang. Ternyata hari ini, Rabu 25 Maret 2026, Rm. Djoko juga mengalami. Kondisi Rm. Djoko tampak selama memimpin Misa kerap terbatuk-batuk.

Santo Ludger

 diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 05 Agustus 2013 Diperbaharui: 06 Maret 2017 Hits: 10873

  • Perayaan
    26 Maret
  •  
  • Lahir
    Tahun 743
  •  
  • Kota asal
    Zuilen, Friesland (Sekarang Netherlands)
  •  
  • Wafat
  •  
  • 26 Maret 809 | Oleh sebab alamiah
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

St. Ludger dilahirkan di Eropa utara (Belanda) pada abad kedelapan. Ia adalah Anak dari Thiadgrim dan Liafburg, keluarga bangsawan Frisian Kristen yang kaya raya namun juga saleh. Dua orang saudara St. Ludger juga dimaklumkan kudus yaitu St. Gerburgis dan St. Hildegrin dari Chalons.

Pada tahun 753 Ludger bertemu dengan St. Bonifasius dan mendengarkan khotbah dari orang Kudus tersebut. Ludger sangat tersentuh dengan kata-kata St. Bonifasius. Ia lalu masuk biara Benediktin dan mempersembahkan hidupnya untuk melayani Tuhan.  Setelah belajar dengan tekun selama beberapa tahun di Utrecht, Ludger melanjutkan pendidikannya di Inggris. Setelah ditahbiskan sebagai imam Ludger memutuskan untuk pulang ke Utrecht sebagai seorang misionaris  pada tahun 773. Ludger melakukan perjalanan hingga jauh untuk mewartakan Kabar Gembira. Ia amat gembira dapat membagikan apa yang telah ia ketahui tentang Tuhan kepada siapa saja yang mendengarkannya. Orang-orang kafir bertobat dan umat Kristiani memulai cara hidup yang jauh lebih baik. St. Ludger mendirikan banyak gereja serta biara.

Serbuan bangsa Saxon membuat segala kerja keras St. Ludger kelihatan akan menjadi sia-sia. Tetapi, ia pantang menyerah. St. Ludger mencari tempat yang aman bagi para muridnya lalu ia pergi ke Roma untuk berziarah dan sekaligus memohon petunjuk dari bapa suci Adrianus I mengenai apa yang harus ia lakukan.

Selama lebih dari tiga tahun di Roma, Ludger tinggal di sebuah biara Benediktin sebagai seorang rahib yang baik serta kudus. Namun demikian, ia tidak melupakan para murid di negerinya. Begitu ia dapat kembali ke tanah airnya, Ludger segera pulang serta melanjutkan karyanya. Ia bekerja tanpa kenal lelah dan mempertobatkan banyak orang Saxon.

Setelah ditahbiskan menjadi uskup, terlebih lagi Ludger memberikan teladan bagi umatnya dengan kelemah-lembutan serta belas kasihannya. Suatu kali, orang-orang yang iri hati kepadanya menyampaikan hal-hal yang buruk mengenai Ludger kepada Raja Charlemagne. Raja memerintahkan kepada Ludger untuk datang ke istana guna membela diri. Dengan taat Ludger datang ke istana. Keesokan harinya, ketika raja memanggilnya, Ludger mengatakan bahwa ia akan datang segera setelah ia menyelesaikan doa-doanya.

Pada mulanya Beato Raja Charlemagne amat marah. Tetapi, St. Ludger menjelaskan kepadanya bahwa meskipun ia mempunyai rasa hormat yang besar kepada raja, ia tahu bahwa Tuhan harus dinomor-satukan. “Baginda tidak akan marah kepada saya,” katanya, “sebab Baginda sendiri yang mengatakan kepada saya untuk selalu menomor-satukan Tuhan.” Mendengar jawaban yang bijaksana itu, raja menjadi sadar bahwa Ludger adalah seorang yang amat kudus. Sejak saat itu, Charlemagne mengagumi serta amat mengasihinya. St. Ludger wafat pada Hari Minggu Sengsara pada tahun 809. Ia melaksanakan segala tugas dan kewajibannya untuk melayani Tuhan, bahkan pada hari wafatnya.

Lamunan Pekan Prapaskah V

Kamis, 26 Maret 2026

Yohanes 8:51-59

51 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya." 52 Kata orang-orang Yahudi kepada-Nya: "Sekarang kami tahu, bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. 53 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabipun telah mati; dengan siapakah Engkau samakan diri-Mu?" 54 Jawab Yesus: "Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikitpun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami, 55 padahal kamu tidak mengenal Dia, tetapi Aku mengenal Dia. Dan jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, maka Aku adalah pendusta, sama seperti kamu, tetapi Aku mengenal Dia dan Aku menuruti firman-Nya. 56 Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita." 57 Maka kata orang-orang Yahudi itu kepada-Nya: "Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?" 58 Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." 59 Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, ada gambaran bahwa semua ciptaan itu memiliki keterbatasan. Semua memakai mati atau bahkan musnah.
  • Tampaknya, mungkin orang bisa bangga kalau mencapai usia 1000 tahun. Tetapi dengan perkiraan panjang zaman hingga kini sebanyak 5025 tahun, maka dia mengalami hidup di dunia ini sebesar lebih kecil dari 20% sejak Sebelum Masehi hingga kini.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun keberadaan di dunia fana manusia memiliki keterbatasan usia, tetapi karena kesejatiannya ditandai punya roh ilahi, asal selalu berpegang pada aura relung hati orang tak akan lepas dari Sang Sumber Hidup selama-lamanya sampai keabadian. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati dengan selalu berjuang taat nurani orang selalu ada dalam daya hidup selama-lamanya tanpa batas.

Ah, mana ada manusia bebas kematian.

Tuesday, March 24, 2026

Akan Terbit 2 Buku

Pada Senin 23 Maret 2026 sore Rm. Subali dari Seminari Tinggi mendapatkan giliran memimpin Misa Harian di Domus Pacis. Seperti biasa sesudah Misa langsung menuju ruang makan Domus untuk santap malam bersama. Sebetulnya ada pertanyaan Rm. Bambang dalam hati akan ditujukan ke Rm. Subali. Ini berkaitan dengan telepon dari Mas Yoyok dari Penerbit Pohon Cahaya. Rm. Bambang memang menyerahkan 2 tulisan ke Pohon Cahaya. Salah satu buku berisi renungan iman. Karena menyangkut ajaran Gereja, untuk bisa diterbitkan harus ada nihil obstat (tidak ada yang menghalangi) dan imprimatur, yaitu izin resmi dari otoritas Gereja. Nihil obstat dari seorang teolog dan imprimatur dari Keuskupan. Mas Yoyok pernah menelpon Rm. Bambang agar meminta Rm. Subali untuk segera memberikan tanda tangan nihil obstat. Tetapi pada waktu itu Rm. Bambang menjawab "Dipun sumanggaaken Rm. Subali mawon, mas. Sinten mangertos seratan kula mboten leres kangge iman Katolik lan saget damel umat sesat" (Diserahkan saja ke kebijakan Rm. Subali. Siapa tahu tulisan saya tidak benar dan bisa berbahaya menyesatkan umat). Itulah sebabnya Rm. Bambang mendiamkan 2 tulisan saya entah mendapatkan proses bagaimana.

"Rama, bukunipun sampun terbit dereng?" (Rama, apa bukunya sudah terbit?) tiba-tiba di tengah makan Rm. Subali bertanya kepada Rm. Bambang. "Rak tasih panjenengan waos, ta, kangge nliti saget mboten dipun paringi nihil obstat?" (Bukanlah masih Anda baca untuk diteliti bisa atau tidak untuk diberi nihil obstat?) jawab Rm. Bambang. Kemudian Rm. Bambang menceritakan anjuran dari Mas Yoyok untuk mendesak Rm. Subali. Ternyata Rm. Subali berkata "Kula pun cekap dangu nandatangi" (Sudah cukup lama saya sudah menandatangani). Ketika kembali ke kamarnya Rm. Bambang mengirim WA ke Mas Yoyok dari Pohon Cahaya "Mas, wau Kula kepanggih Rm Subali. Beliau mundhut pirsa buku pun terbit? Kanyata pun cekap dangu dipun tanda tangani πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡" (Mas, tadi saya berjumpa Rm. Subali. Beliau bertanya apakah buku sudah terbit. Ternyata sudah cukup lama sudah ditandatangani). Ternyata 16 menit kemudian datang jawaban dari Mas Yoyok bahwa untuk buku itu, yang berjudul Lamunan Seorang Lansia, menunggu imprimatur dari Keuskupan yang sudah datang pada 16 Maret 2026. Kini sudah masuk cetak dan sebelum Paskah sudah siap edar. Sementara itu, karena Rm. Bambang juga menyerahkan tulisan berjudul Tawa Tersembunyi di Tengah Rama-Rama Lansia, Mas Yoyok menerangkan buku ini sudah siap. Mas Yoyok menyampaikan pesan WA dengan bahasa Jawab berikut :

Sugeng dalu Romo...

Rm Subali sampun maringi Nihil Obstat .

    • Lajeng langkah salajengipun imprimatur.
    • Lan nembe mandap imprimatur 16 Maret
    • Lajeng 17-18 Maret proses pra cetak lan proses plat
    • Nyuwun pangapuntenπŸ™πŸ™ lajeng libur lebaran dugi tgl 25 maret Romo
    • Buku Tawa Tersembunyi ingkang mboten ngagem Nihil Obstat sampun dados tgl 18 maret.
    • Buku Lamunan, target dados 31 Maret sa'derengipuun Paskah
    • Mekaten Romo...

Minggu Palma: Sejarah dan Makna Mendalam Umat Katolik

diambil dari https://www.kompas.com/skola/read/2025/04/13/090000769 Kompas.com, 13 April 2025, 09:00 WIB Serafica Gischa  Editor Sejumlah um...