Friday, March 27, 2026

Rm. Heru dan Rm. Saptaka

Rm. St. Heruyanto adalah pastor yang bertugas di Paroki Salam. Karena menderita stroke, sepulang dari RS Panti Rapih beliau untuk sementara tinggal di Domus Pacis Santo Petrus sejak 13 Feberuari 2026. Sekalipun urusan pelayanan untuk Rm. Heru dilakukan oleh tenaga Domus Pacis, setiap hari pagi dan siang serta malam selalu ada umat Salam yang bergilir ikut menunggu. Akhir-akhir ini perkembangan beliau cukup membaik. Kalau sebelumnya hanya banyak tidur dan tiduran, akhir-akhir ini sudah bisa duduk di kursi roda. Bahkan ketika harus kontrol 2 kali sehari pada Jumat 27 Maret 2026, beliau sudah bisa dilayani untuk duduk di mobil dan dalam mobilisasi membawa kursi roda dari Domus. Bahkan hari Sabtu 28 Maret 2026 beliau bisa berkeliling Domus duduk di kursi roda dan ada yang mendorong. Memang, dalam berwicara beliau masih harus terus menerima terapi. Hingga kini beliau belum bisa mengucapkan kata-kata dengan jelas.

Tetapi hari ini ada berita lain dari Domus Pacis Santo Petrus. Sudah lebih seminggu Rm. Saptaka menderita mriyang, yaitu kondisi badan tidak enak badan disertai demam. Dalam beberapa hari pertama beliau masih ikut Misa Harian dan makan bersama 3 kali sehari. Diajak periksa dokter beliau berkata "Tak nggo turu wae" (Aku tidur saja). Lama-lama beliau tak hanya tak tampak dalam Misa Harian. Dalam makan bersama juga sudah absen. Tetapi beliau tetap tak mau diajak ke rumah sakit. Kebetulan saja pada Sabtu 28 Maret 2026, seperti biasa setiap hari Sabtu, ada perawat home care RS Panti Rapih datang disertai oleh seorang dokter untuk memeriksa kondisi para rama Domus. Ternyata akhirnya Rm. Saptaka mau dibawa ke RS Panti Rapih atas anjuran dokter. Mas Siswanto dan Mas Bayu, 2 orang tenaga Domus, mengantarnya dengan mobil. Ketika makan siang Rm. Bambang bertanya kepada karyawan "Piye Rama Saptaka?" (Bagaimana kabar Rm. Saptaka?). Seorang karyawan mendapat berita bahwa beliau masih harus menunggu hasil laboratorium dari cek darah. Tiba-tiba, barangkali karena mendapatkan berita dari pengantar Rm. Saptaka, pada jam 12.26 Rm. Bambang mendapatkan pesan WA Mas Haryono, salah satu karyawan "Info kondisi Rm saptoko dari hasil lab di haruskan opname rencana di Lukas 203".

Santo Tutilo

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 05 Agustus 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014 Hits: 11790

  • Perayaan
    28 Maret
  •  
  • Lahir
    Hidup pada Abad ke-9
  •  
  • Kota asal
    Swiss
  •  
  • Wafat
  •  
  • Tahun 915 di Biara Saint Gall Switzerland | Oleh sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Tutilo hidup di akhir abad kesembilan dan awal abad kesepuluh. Ia mendapatkan pendidikan di Biara Benediktine Saint-Gall. Dua teman sekelasnya telah digeari “beato”. Ketiga orang ini menjadi biarawan di biara di mana mereka mengenyam pendidikan.

St. Tutilo adalah seorang dengan banyak bakat. Ia seorang penyair, pelukis potret, pematung, orator dan arsitek. Ia juga seorang ahli mesin. Bakatnya yang terutama adalah musik. Ia dapat memainkan semua alat musik yang dipergunakan para biarawan untuk liturgi mereka. Ia dan temannya, Beato Notker, menggubah lagu-lagu tanggapan liturgi. Hanya tiga puisi dan satu nyanyian tersisa dari seluruh karya Tutilo. Tetapi lukisan dan patung-patungnya masih dapat ditemukan sekarang di beberapa kota di Eropa. Lukisan-lukisan dan patung-patungnya diidentifikasikan sebagai karyanya karena ia senantiasa menandai karyanya dengan sebuah motto.

Akan tetapi, Tutilo tidak dimaklumkan sebagai seorang kudus karena bakat-bakatnya yang banyak itu. Ia seorang rendah hati yang ingin hidup hanya untuk Tuhan. Ia memuliakan Tuhan dengan cara-cara yang ia tahu: dengan melukis, membuat patung dan menggubah musik.

Tutilo dimaklumkan sebagai seorang kudus sebab ia melewatkan hidupnya dengan memuji dan mengasihi Allah. St. Tutilo wafat pada tahun 915.

Lamunan Pekan Prapaskah V

Sabtu, 28 Maret 2026

Yohanes 11:45-56

45 Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. 46 Tetapi ada yang pergi kepada orang-orang Farisi dan menceriterakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu. 47 Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata: "Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat. 48 Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita." 49 Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa-apa, 50 dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa." 51 Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, 52 dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. 53 Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia. 54 Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi, Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya. 55 Pada waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. 56 Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain: "Bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah Ia ke pesta?"

Butir-butir Permenungan

  • Katanya, agama membutuhkan juru warta. Dalam agama adanya pewarta handal akan sungguh membuat semua semua senang.
  • Katanya, para pengurus dan tokoh agama akan menumbuhkembangkan hadirnya tokoh-tokoh pewarta. Kalau ada pewarta handal yang amat populer, ini akan sungguh dijaga keberadaannya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, sekalipun tokoh pewarta handal dan populer akan mampu mengembangkan dan menguatkan iman umat, kalau ternyata memiliki kepentingan politik, para pengurus dan tokoh agama justru bisa menjadi pembungkam utama. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati seorang pewarta iman handal justru akan menjadi cahaya terang hidup sejati amat banyak orang siapapun dan dari bangsa manapun kalau mengalami pembungkaman dengan alasan politik.

Ah, bagaimanapun juga agama harus tuntuk pada kebijakan negara.

Thursday, March 26, 2026

Minggu Palma: Sejarah dan Makna Mendalam Umat Katolik

diambil dari https://www.kompas.com/skola/read/2025/04/13/090000769
Kompas.com, 13 April 2025, 09:00 WIB
Serafica Gischa 
Editor

Sejumlah umat Katolik mengikuti Misa Minggu Palma di Gereja Santo Thomas, Seyegan, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (10/4/2022). Misa yang dilaksanakan dengan pembatasan jumlah umat karena Pandemi COVID-19 itu menjadi rangkaian perayaan Paskah serta guna memperingati datangya Yesus di Yerusalem.(ANTARA FOTO/ANDREAS FITRI ATMOKO)

KOMPAS.com
- Setiap tahun, di hari Minggu menjelang Paskah, gereja Katolik di seluruh dunia bahkan Indonesia dipenuhi umat dengan membawa daun palma atau palem.  

Kebanyakan dari mereka membawanya dari rumah. Daun-daun itu diangkat tinggi saat imam memberkatinha, dan suasna misa terasa berbeda. 

Khidmat, meriah, sekaligus menyentuh. Hari itu disebut Minggu Palma.  

Apa sebenarnya arti Minggu Palma? Kenapa para umat Katolik membawa daun palma? Apa hubungannya dengan Paskah? Yuk, kita cari tahu.

Asal-usul Minggu Palma  

Melansir dari situs resmi Vatican.va, Minggu Palma mengenang peristiwa Yesus memasuki Kota Yerusalem, beberapa hari sebelum penyaliban-Nya. 

Peristiwa tersebut tercatat dalam keempat injil, yaitu Matius 21:1-11, Markus 11:1-11, Lukas 19:28-44, dan Yohanes 12:12-19.  

Yesus Kristus memasuki Kota Yerusalem dengan penuh kemuliaan. Umat menyambut-Nya dengan daun palma dan sorak "Hosana". Karena mereka percaya Yesus adalah Mesias yang mereka nantikan. 

Seruan Hosana dalam bahasa Ibrani yang ditujukan kepada Yesus artinya "selamatkanlah" atau "tolonglah kami".  

Peristiwa tercatat dalam Kitab Suci dan menjadi simbol besar dalam umat Katolik, bahwa Yesus datang sebagai Raja Damai.  

Datang bukan dengan kuda perang seperti penguasa, tetapi dengan menunggangi keledai, lambang kerendahan hati. 

Mengapa daun palma?  

Merangkum dari buku Memahami Rabu Abu, Prapaskah, dan Minggu Palma (2017) karya I Marsana Windhu, tumbuhan palma banyak tumbuh di Israel dan negara lain, termasuk Indonesia.  

Daun palma dipakai sebagai lambang kemenangan bagi para martir. Para martir adalah orang-orang yang mati suci karena mempertahankan iman akan Yesus.  

Bagi umat Katolik, makna daun palma, yakni: 
  • Daun palma melambangkan kemenangan rohani, bahwa Yesus akan mengalahkan maut. 
  • Dalam tradisi gereja, daun palma yang diberkati pada hari Minggu Palma sering dibawa pulang untuk disimpan di rumah sebagai lambang perlindungan dan pengingat akan kerendahan hati Kristus. 
  • Setahun kemudian, daun-daun tersebut dibakar dan abunya digunakan dalam perayaan Rabu Abu, membuka masa Prapaskah berikutnya. 
Tradisi Minggu Palma  

Di Indonesia, perayaan Minggu Palma sangat hidup. Di kota-kota besar, proses daun palma biasanya digelar sebelum misa, diikuti umat dari berbagai usia.  

Di beberapa daerah, Minggu Palma sering dirayakan dengan drama perjalan Yesus memasuki Kota Yerusalem atau proses yang menyentuh hati. 

Umat dari berbagai latar belakang sosial ikut terlibat. Ini menunjukkan bahwa Minggu Palma adalah perayaan iman bersama, bukan hanya urusan pribadi. 

Minggu Palma yang menjadi awal Pekan Suci merupakan Minggu terpenting dalam kehidupan umat Katolik yang berpuncak pada Paskah. 

Peristiwa ini mengajak umat untuk:  
  • Merenungkan arti pengorbanan 
Yesus tidak hanya disambut, tapi juga ditolak dan disalibkan. Kita diingatkan bahwa hidup tidak hanya soal pujian, tapi juga kesetiaan dalam penderitaan. 
  • Melatih kerendahan hati
Dalam dunia yang penuh persaingan, Yesus datang tidak untuk menang sendiri, tapi untuk memberi diri. Ini menjadi inspirasi untuk hidup lebih rendah hati, lebih melayani. 
  • Menjalani iman dengan sadar 
Minggu Palma bukan seremoni, tapi momen untuk memperbarui komitmen kita kepada Allah—bahwa kita ikut dalam jalan salib-Nya, bukan hanya dalam kemuliaan-Nya.

Santo Rupertus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 27 Maret 2015 Diperbaharui: 03 Agustus 2016 Hits: 13227

  • Perayaan
    27 Maret
  •  
  • Lahir
    Hidup pada abad akhir abad ke-7 (tanggal dan tahun lahir tidak diketahui)
  •  
  • Kota asal
    Mungkin di Perancis
  •  
  • Wilayah karya
    Jerman, Austria
  •  
  • Wafat
  •  
  • Tahun 718 di Salzburg, Austria - Sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Menurut tradisi, Santo Rupertus adalah keturunan keluarga bangsawan Merovingian dari kerajaan Frank. Dia juga adalah paman dari Santa Ermentrude. Awalnya Rupertus adalah seorang biarawan Benediktin yang diangkat menjadi uskup di kota Worms. Namun belum lama berkarya di Worms, ia diusir keluar dari kota tersebut oleh orang-orang kafir pada tahun 697. Karena itu ia kemudian dikirim sebagai misionaris ke Regensburg di Bavaria. Di sana, ia berhasil membaptis Duke of Bavaria Theodo dan para bangsawan Bavaria. Setelah itu, Rupertus dikabarkan berkarya di kota Altötting dan Danube dimana ia berhasil membabtis banyak orang menjadi pengikut Kristus dan membangun sarana pendidikan bagi mereka.

Pada tahun 696, Duke of Bavaria Theodo menghadiahkan sebidang tanah bagi Rupertus di kota Juvavum (kini bernama Salzburg dan menjadi wilayah Austria), yang dipergunakannya untuk membangun sebuah biara Benediktin sebagai pusat kegiatan missionarisnya. Ia juga yang kemudian diangkat menjadi kepala biara tersebut. Untuk mendanai kehidupan dan karya mereka, Rupertus dan para biarawannya membangun tambak-tambak garam dan mendidik umat dalam memproduksi garam untuk dijual. Garam produksi mereka menjadi sangat terkenal sehingga kota itu kemudian diganti namanya menjadi “Salzburg” yang berarti “Bukit Garam”.

Santo Rupertus tutup usia pada hari Minggu Paskah di sekitar tahun 710. Relikwinya di semayamkan dalam sebuah Reliquary bersama dengan relikwi santo Virgilius di Katedral yang didedikasikan untuk mereka berdua; Katedral Santo Rupertus dan Virgilius di Salzburg Austria.

Di Katedral ini pula Komposer terkenal Wolfgang Amadeus Mozart dibabtis dengan nama babtis : Johannes Chrysostomus Wolfgangus Theophilus Mozart.

Lamunan Pekan Prapaskah V

Jumat, 27 Maret 2026

Yohanes 10:31-42

31 Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. 32 Kata Yesus kepada mereka: "Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?" 33 Jawab orang-orang Yahudi itu: "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah." 34 Kata Yesus kepada mereka: "Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? 35 Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah--sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan --, 36 masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? 37 Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, 38 tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa." 39 Sekali lagi mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka. 

40 Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. 41 Dan banyak orang datang kepada-Nya dan berkata: "Yohanes memang tidak membuat satu tandapun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar." 42 Dan banyak orang di situ percaya kepada-Nya. 

Butir-butir Permenungan

  • Katanya, yang namanya agama adalah pegangan berbuat baik. Untuk baik orang akan beragama.
  • Katanya, orang beragama akan selalu bersikap baik kepada siapapun. Dia tak akan menjadi penyebab celaka orang lain.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, sekalipun beragama membuat orang punya kehendak baik, kalau pandangan keagamaannya sempit hanya terpaku pada rumusan-rumusan, orang bisa menganggap sesat yang berbuat baik tetapi punya ungkapan rumusan beda. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan kedalaman hati dalam hidup beragama orang akan memahami rumusan-rumusan keagamaan dan menjalani kandungan iman di dalamnya.

Ah, semua perintah dan larangan dalam agama tak boleh diutak-atik rumusannya.

Wednesday, March 25, 2026

Rm. Djoko Berbelarasa ke Rm. Saptaka

Peristiwanya dari Misa Harian Domus Pacis Santo Petrus pada Rabu sore 25 Maret 2026. Pada saat itu yang mendapat giliran memimpin adalah Rm. Djoko Setyo Prakoso. Ketika masuk di Kapel, Rm. Bambang sudah melihat Rm. Djoko siaga di altar. Sebenarnya, melihat Rm. Djoko, yang langsung masuk di benak Rm. Bambang memunculkan pertanyaan dalam hatinya "Wela, kok saiki kaya aku. Langsung nganggo stola ora ngagem jubah" (Lho, sekarang kok seperti saya. Tanpa mengenakan jubah langsung pakai jubah). Tetapi yang dipikirkan Rm. Bambang langsung berubah ketika proses Misa berjalan. Hal ini diungkapkan oleh Rm. Bambang dalam makan bersama sesudah Misa "Rama Djoko, panjenengan nggih mriang napa?" (Rama Djoko, apakah Anda sedang tak enak badan?) tanya Rm. Bambang. Ternyata Rm. Djoko "Inggih" (Ya, benar). Rm. Bambang langsung berkomentar "Yen ngaten belarasa kalih Rama Saptaka, nggih" (Kalau begitu berbelarasa dengan Rm. Saptaka, ya). Rm. Djoko tertawa dan berkata "Kula kira kula luwih kuwat tinimbang Saptaka. Wingi kula ece" (Saya kira, saya lebih kuwat dari pada Saptaka. Kemarin dia saya ejek). Maklumlah beberapa hari belakangan Rm. Saptaka juga mengalami mriyang. Ternyata hari ini, Rabu 25 Maret 2026, Rm. Djoko juga mengalami. Kondisi Rm. Djoko tampak selama memimpin Misa kerap terbatuk-batuk.

Rm. Heru dan Rm. Saptaka

Rm. St. Heruyanto adalah pastor yang bertugas di Paroki Salam. Karena menderita stroke, sepulang dari RS Panti Rapih beliau untuk sementara ...