Monday, February 23, 2026

Lamunan Pekan Prapaskah I

Selasa, 24 Februari 2026

Matius 6:7-15

7 Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. 8 Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. 9 Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, 10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. 11 Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya 12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; 13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.) 14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. 15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, ada gambaran bahwa berdoa adalah omong dengan Tuhan. Dalam doa orang menyampaikan rasa syukur atau permohonan.
  • Tampaknya, orang bisa dipandang pintar doa karena mampu merangkai kata dan kalimat yang ditujukan kepada Tuhan. Dia biasa diminta untuk memimpin doa bersama.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun pintar menyusun kata dan kalimat untuk berdoa, orang baru sungguh berdoa kalau tak menjadikan Tuhan sebagai pendengar kata-kata tetapi kalau masuk dalam sambung hati dengan Tuhan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati dalam doa orang bersanding hati dengan Tuhan bisa saling omong dan bisa hanya diam menikmati kebersamaan batin.

Ah, untuk berdoa agama sudah menyediakan teks atau hafalan.

Sunday, February 22, 2026

100 Hari Wafat Bapak Joko Saptomo


Pada tanggal 14 Januari 2026 ada pesan masuk di HP Rm. Bambang "Selamat sore Romo Bambang... Romo...mau minta info.... klo kami 1 keluarga besar mau minta Misa peringatan Arwah kakak saya ...di kapel Domus ... saget mboten?" Ternyata pengirim adalah Ibu Ernawati, umat Katolik Paroki Kalasan dari Prambanan. Dulu ketika masih di Domus Pacis Puren Ibu Erna dan keluarganya sering datang mengunjungi Rm. Bambang. Kebetulan salah satu keluarga Ibu Erna, yaitu Ibu Dewa menjadi salah satu relawan penyedia sajian makan di Domus Pacis Puren, Pringwulung. Tetapi semenjak para rama Domus Pacis Puren dipindahkan ke Domus Pacis Santo Petrus, hubungan sudah tidak seperti dulu. Maklum saja, Rm. Bambang sudah tidak bisa bermobilisasi sendiri sehingga tak bisa datang sendiri untuk Misa Ujub Keluarga di daerah Prambanan seperti dulu.

Dari berbagai pembicaraan lewat WA, pada tanggal 15 Februari 2026 Ibu Erna mengirim WA di HP Rm. Bambang "Selamat pagi Romo.... maaf mengganggu.... Romo kembali mengingatkan njih Romo...besok Hari  : Sabtu, 21 Februari 26. Kami jadi sowan Romo di Domus untuk : 1. Misa peringatan  100 hari berpulangnya kakak saya Bpk Joko Saptomo. 2. Ramah tamah bersama Romo Sepuh. Kami sampai Domus jam 15.30 njih Romo. Untuk Liturgi Misa  kami siapkan berapa lagu Romo?" Itulah sebabnya pada Sabtu 21 Februari sore yang ikut Misa di Domus bertambah lebih dari 30 orang umat. Kakak-beradik almarhum Bapak Joko Saptomo bersama keluarga datang di Domus. Misa dipimpin oleh Rm. Andika Bhayangkara, Direktur Domus. Tetapi sebelum Misa rombongan keluarga ini berjumpa dengan para rama sepuh, yaitu Rm. Yadi, Rm. Djoko Setya, Rm. Suhartana, Rm. Ria, Rm. Jarot, Mgr. Blasius, dan Rm. Bambang. Omong-omong disertai snak dari keluarga sungguh menghadirkan keakraban.

Santo Polikarpus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 28 Juli 2013 Diperbaharui: 19 Oktober 2019 Hits: 33927

  • Perayaan
    23 Februari
  •  
  • Lahir
    Antara tahun 75 - 80
  •  
  • Kota asal
    Smyrna - Turki
  •  
  • Wafat
  •  
  • Sekitar tahun 155 di Smyrna | Martir
    Awalnya dibakar hidup-hidup; tapi karena tidak terbakar api ia lalu ditusuk dengan pedang sampai mati
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Polikarpus dilahirkan antara tahun 69 hingga 80. Ia adalah murid langsung dari Rasul Yohanes, saudara  Yakobus; dua bersaudara, yang sangat dikasihi Yesus. Ia dibabtis menjadi seorang Kristen oleh Rasul Yohanes ketika pengikut Kristus masih sangat sedikit jumlahnya. Apa yang telah dipelajarinya dari  Yohanes diajarkannya kepada yang lain. Polikarpus menjadi seorang imam dan kemudian diangkat menjadi Uskup Smyrna yang sekarang ini menjadi wilayah negara Turki. Ia menjadi Uskup Smyrna untuk masa yang cukup lama. Jemaat Kristiani perdana mengenalnya sebagai seorang gembala umat yang kudus serta pemberani.

Pada masa itu, umat Kristen mengalami penganiayaan serta pembantaian dalam masa pemerintahan Kaisar Markus Aurelius Karena orang-orang Kristen menolak menyembah kaisar dan dewa-dewa Romawi.  Orang-orang Smyrna bersama para prajurit memburu orang-orang Kristen dengan pekikan, "Enyahkan orang-orang kristen kafir."

Banyak sudah orang Kristen ditangkap dan dibunuh di arena. Polikarpus sebagai uskup dan pemimpin umat Kristen di kota itu, menjadi target utama dan dikejar-kejar oleh prajurit Smyrna.  Meskipun hamba Tuhan ini tidak takut mati, dan memilih tetap berdiam di kota;  umatnya meminta agar ia terus bersembunyi. Mereka takut kalau-kalau ia ditangkap dan dibunuh; maka kematiannya akan mempengaruhi ketegaran gereja dan umat di masa penganiayaan ini.

Polikarpus telah meninggalkan kota itu dan bersembunyi di sebuah ladang milik teman-temannya. Bila pasukan mulai menyergap, ia pun melarikan diri ke ladang lain.  Namun seseorang jemaat yang murtad kemudian mengkhianati Polikarpus dan melaporkannya kepada penguasa. Ketika orang-orang yang hendak menangkapnya datang, Polikarpus terlebih dulu mengundang mereka bersantap bersamanya. Kemudian ia meminta mereka untuk mengijinkannya berdoa sejenak. Ia kemudian berdoa dua jam lamanya.

Beberapa penangkap merasa sedih menangkap orang tua yang begitu baik ini. Dalam perjalanannya kembali ke Smyrna, kepala prajurit yang memimpin pasukan itu berkata, "Apa salahnya menyebut Kaisar sebagai Tuhan dan mempersembahkan bakaran kemenyan?"
Dengan tenang Polikarpus mengatakan bahwa ia tidak akan melakukannya.

Gubernur Romawi yang mengadilinya berusaha mencarikan jalan keluar untuk membebaskan uskup tua itu. "Hormatilah usiamu, Pak Tua," seru gubernur Romawi itu. "Bersumpahlah demi berkat Kaisar. Ubahlah pendirianmu serta berserulah, "Enyahkan orang-orang kristen kafir!"
Sebenarnya, gubernur Romawi itu ingin Polikarpus menyelamatkan dirinya sendiri dengan melepaskan dirinya dari orang-orang Kristen yang dianggap "kafir" itu. Namun, Polikarpus hanya memandang kerumunan orang yang sedang mencemohkannya. Sambil menunjuk ke arah mereka, ia berseru, "Enyahkan orang-orang kafir!"   Gubernur Romawi itu berusaha lagi: "Angkatlah sumpah dan saya akan membebaskanmu. Hujatlah Kristus!"

Polikarpus pun berdiri dengan tegar dan berkata : "Selama 86 tahun aku telah mengabdi kepada Kristus dan Ia tidak pernah menyakitiku. Bagaimana aku dapat mencaci Raja yang telah menyelamatkanku?" 

Pertukaran pendapat antara sang uskup dan gubernur Romawi berlanjut. Pada suatu saat, Polikarpus menghardik lawan bicaranya: "Jika kamu... berpura-pura tidak mengenal saya, dengarlah baik-baik: Saya adalah seorang Kristen. Jika Anda ingin mengetahui ajaran Kristen, luangkanlah satu hari khusus untuk mendengarkan saya."

Gubernur Romawi itu pun mengancam akan melemparkan dia ke binatang-binatang buas. "Panggil binatang-binatang itu!" seru Polikarpus. "Jika hal itu akan mengubah keadaan buruk menjadi baik, tetapi bukan keadaan yang lebih baik menjadi lebih buruk."
Ketika ia diancam akan dibakar, Polikarpus menjawab, "Apimu akan membakar hanya satu jam lamanya, kemudian akan padam, namun api penghakiman yang akan datang adalah abadi."

Akhirnya Polikarpus dinyatakan sebagai orang yang tidak akan menarik kembali pernyataan-pernyataannya. Rakyat Smyrna pun berteriak: "Inilah guru dari Asia, bapa orang-orang Kristen, pemusnah dewa-dewa kita, yang mengajar orang-orang untuk tidak menyembah (dewa-dewa) dan mempersembahkan korban sembelihan."

Gubernur Romawi menitahkan agar ia dibakar hidup-hidup. la diikat pada sebuah tiang pancang dan dibakar. Api berkobar namun, menurut para saksi mata, badan orang suci ini tidak termakan api.  "la berada di tengah, tidak seperti daging yang terbakar, tetapi seperti roti di tempat pemanggangan, atau seperti emas atau perak dimurnikan di atas tungku perapian. Kami mencium aroma yang harum, seperti wangi kemenyan atau rempah mahal."  Dan seperti yang dikatakan Polikarpus sebelumnya; api hanya menyala selama satu jam lalu padam, dan Uskup Polikarpus tetap segar-bugar berdiri diatas sisa-sisa kayu pembakaran.  Seorang algojo kemudian menikam sang uskup tepat dilambungnya; dan Polikarpus kemudian wafat sebagai martir.  Ia pergi untuk tinggal selama-lamanya bersama Raja Ilahi yang telah dilayaninya dengan gagah berani.

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja

Lamunan Pekan Prapaskah I

Senin, 23 Februari 2026

Matius 25:31-46

31 "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. 32 Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, 33 dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. 34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. 35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; 36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. 37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? 38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? 39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? 40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. 41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. 42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; 43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. 44 Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? 45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. 46 Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, manusia ciptaan Allah bisa dibedakan atas berbagai keragaman. Ada macam-macam ras dan macam-macam bangsa.
  • Tampaknya, sebuah bangsa dalam sebuah negara juga bisa terdiri dari berbagai macam suku termasuk adat istiadatnya. Maka ada negara yang semboyan kesatuan dalam keragaman penduduk atau rakyatnya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, sekalipun manusia di dunia bisa dibedakan dalam berbagai macam ras atau kebangsaan atau suku atau bahkan golongan, perbedaan sejati hanya ada dua macam yaitu yang peduli dan yang abai Tuhan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati di tengah berbagai macam perbedaan sosial dan kultural orang hanya akan membedakan orang berdasarkan sikap punya dan tidak punya kepedulian pada kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel.

Ah, bagaimanapun juga makin luas pergaulan seseorang makin pahamlah dia akan adanya amat banyak ragam perbedaan sosial dan kultural.

Saturday, February 21, 2026

Berpuasa


“Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6:16-18) 

Bukan Kebanggaan

Masa Prapaskah  adalah masa Retret Agung. Istilah lain dari retret adalah samadi. Di dalam olah rohani Jawa biasa disebut bertapa. Orang-orang yang menyingkir dari pergaulan harian umum disebut pertapa sebagaimana terjadi pada biarawan-biarawati Katolik yang menekankan kehidupan kontemplasi misalnya yang ada di Rawaseneng dan Gedana.

Secara umum pada masa seperti itu salah satu yang biasa dijalani adalah kegiatan berpuasa. Dan kegiatan berpuasa ini biasa dimengerti berkaitan dengan kegiatan tidak makan dan minum. Orang yang bisa tidak makan minum pada masa tertentu atau diakui keseriusannya dalam berpuasa sehingga akan diakui sebagai orang sungguh beragama. Karena tidak makan minum dalam kurun waktu tidak sebentar, orang dapat mengalami kondisi lemah paling tidak dalam tampilan ragawi. Karena tampilan seperti ini bisa membuat orang lain tahu bahwa dia sedang berpuasa dan akan sungguh mendapatkan pujian dan sanjungan sebagai orang yang serius beragama. Karena puasa dengan tanda-tanda seperti itu menghadirkan kebanggaan, bisa terjadi kalau tubuh tetap segar meski mengurangi atau tidakmakan minum, orang dapat merekayasa tampilan agar tampak berkondisi lemah. Tampilan-tampilan rekayasa seperti ini, apalagi kalau sebetulnya tidak menjalani puasa, amat dikecam oleh Tuhan Yesus. Kegiatan berpuasa bukanlah eksposisi kebaikan. Bahkan Tuhan Yesus menuntut agar dalam berpuasa memiyaki rambut dan mencuci muka sehingga tampak segar walau lapar dan haus.

Puasa alamiah kaum lanjut usia

Di dalam aturan tentang puasa ada aturan Gereja bahwa yang berusia 60 tahun keatas bebas dari kewajiban berpuasa. Gereja membedakan antara puasa dan pantang. Meskipun demikian secara rohaniah, karena Kitab Suci adalah landasan dasar hidup rohani, puasa adalah kewajiban untuk semua orang. Maka yang perlu dicari adalah bagaimana kaum lanjut usia harus menjalani kewajiban berpuasa.

Matiraga kembangkan “habitus baru”

Bagaimanapun juga puasa adalah tindakan yang mengakibatkan kondisi raga terasa tidak nyaman, tidak enak, dan tidak segar. Inilah mengapa puasa juga disebut matiraga. Puasa selalu menyangkut segi jasmaniah. Tetapi dalam masa Prapaskah puasa dijalani dalam rangka Retret Agung. Dan yang harus disadari adalah bahwa setiap retret, agung atau tidak agung, adalah latihan rohani, latihan hidup dalam bimbingan Roh Kudus. Orang beriman akan yakin dalam bimbingan Roh dia akan dinamis, selalu baru dan diperbarui, sehingga mengalami suasana damai sejahtera dalam hidupnya.

Puasa 40 hari sebagai Retret Agung terutama menjadi proses pengembangan diri untuk semakin mengikuti Tuhan Yesus Kristus sesuai dengan perkembangan situasi hidup dan budaya. Dalam hal ini kaum lanjut usia dalam puasa diajak untuk menyadari perkembangan situasi hidupnya secara kongkret kini dan di sini. Hal-hal apa yang saat ini sudah ada dalam keadaan baik? Hal-hal apa yang menjadikan diri ada dalam kondisi tidak baik? Dalam proses selama 40 hari lewat berbagai permenungan dan doa dengan terang iman selama Prapaskah, kaum lanjut usia melatih diri untuk mampu meneladan Tuhan Yesus yang mengalami kemuliaan Paskah lewat salib, yaitu derita dan wafat-Nya. Kalau kita sudah ada dalam keadaan baik, kita berupaya menemukan pengembangan sikap dan tindakan apa untuk mempertahankannya. Kalau keadaan kita tidak baik, kita berupaya menemukan perubahan dan melatih diri untuk menghayatinya. Dengan demikian puasa dalam masa Prapaskah menjadi proses melatih kebiasaan baru atau habitus baru untuk menjadi orang lanjut usia yang segar ceria sekalipun lewat susah derita selama 40 hari.

Limpahnya penghayatan puasa

Kalau puasa juga menjadi kegiatan matiraga, untuk hal ini kaum lanjut usia memiliki kesempatan yang amat luas. Sesehat apapun seorang lanjut usia, secara ragawi sudah mengalami pelemahan dibandingkan dengan usia-usia sebelumnya. Dia sudah harus mewaspadai kondisi badan agar tetap segar. Apalagi kalau dilihat secara umum, kaum lanjut usia sudah mengalami kerawanan fisik sehingga penyakit(-penyakit) mudah menjangkiti. Dalam hal ini kerap muncul yang disebut dengan diet atau pantang makanan atau minuman tertentu demi menjaga kondisi tubuh tidak dikuasai oleh perkembangan penyakit tertentu. Tentang pantang, yang sudah lanjut usia tanpa penyakit pun juga harus mulai mengurangi santapan ini dan itu agar terhindar dari penyakit yang biasa menjadi idapan lanjut usia.

Diet atau pantang asupan itu dapat dijalani sebagai tindakan berpuasa bagi kaum lanjut usia. Orang berlanjut usia selama masa Prapaskah melatih diri meninggalkan menu yang mungkin sebelumnya menjadi favorit tetapi kini membahayakan kondisi fisiknya. Dia berlatih membiasakan diri menyantap makanan-makanan yang dipandang amat sesuai untuk kebugaran tubuh sesuai dengan realitas masa kini. Ini adalah pelatihan menghayati kebiasaan atau habitus baru. Apalagi kalau makanan-makanan sehat untuk masa kini dulu tidak pernah masuk dalam seleranya. Di sini kegiatan santap menu baru menjadi jalan pertobatan karena berbalik mengikuti kehendak kebaikan. Dengan demikian, sekalipun secara yuridis formal sudah bebas berpuasa, kaum lanjut usia justru masuk dalam keleluasaan menjalani matiraga berlatih mengikuti Tuhan Yesus Kristus sesuai dengan perkembangan dirinya. Latihan rohani ini, karena tanpa penyangkalan batin orang tak akan mampu menjalani olah ragawi dalam berpuasa, akan membuat orang meraih kebiasaan baru yang menjadi kebiasaan perilaku sesudah masa Prapaskah.

Penghalang Utama

Bagaimanapun juga puasa menjadi ungkapan untuk tindakan menyangkal diri dan memikul salib berupa ketidakenakan. Ini dapat dihayati sebagai hal yang membuat orang merasa tidak bebas. Bagi orang lanjut usia yang inginnya mengikuti kehendak sendiri, dia dapat memperoleh alasan syah secara Gerejani. Dia bisa berkata bahwa “Aku kan sudah umur 60 tahun, jadi sudah bebas dari puasa”. Kaum lanjut usia memang sudah bebas dari puasa yang diatur oleh Keuskupan. Dan aturan ini dapat menjadi dalih untuk tidak bermatiraga.

Tetapi bagaimana dengan puasa sebagai bentuk pelaksanaan kewajiban beragama yang sesuai dengan realitas diri sebagai kaum lanjut usia? Untuk membangun kebiasaan baru yang menyegarkan badan ada hal yang menjadi hambatan besar. Kaum lanjut usia bisa memiliki selera berat terhadap makanan atau minuman tertentu. Jeratan selera ini dapat menggagalkan untuk membiasakan diri dengan menu lain bahkan baru di luar kebiasaan makan. Apalagi kalau yang baru itu amat bertentangan dengan selera lidah.

Santo Paus Petrus Rasul

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan01 September 2013 Diperbaharui: 13 Oktober 2019Hits: 54997

  • Perayaan
    29 Juni
    22 Februari (Pesta Tahta St.Petrus)
  •  
  • Lahir
    Hidup abad pertama
  •  
  • Kota asal
    Galilea - Israel
  •  
  • Wilayah karya
    Yerusalem, Asia Kecil, Roma
  •  
  • Wafat
  •  
  • Sekitar Tahun 67 - Martir. Disalibkan secara terbalik, Kepala dibawah dan kaki diatas
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Petrus adalah pemimpin para rasul dan Paus kita yang pertama. Nama asli rasul besar ini adalah Simon, tetapi Yesus mengubahnya menjadi Petrus, yang artinya batu karang, yang mengisyaratkan bahwa Yesus meletakkan landasan gereja-Nya di atas Petrus. “Engkaulah Petrus,” kata Yesus, “Dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku.” 

Petrus adalah seorang sederhana yang giat bekerja. Ia murah hati, jujur, polos seperti anak kecil dan amat dekat dengan Yesus.   Namun, Petrus juga seorang yang penakut. Beberapa kali Injil mencatat sifat petrus yang satu ini. Ketika melihat yesus berjalan diatas air Petrus dengan penuh iman berseru :

..... "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air. Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. --Mat 14:28

Namun ketika merasakan dinginnya tiupan angin yang menerpa wajahnya, dan melihat gelombang di sekelilingnya; Petrus mulai takut.  Imannya yang tadi bernyala-nyala seketika padam.

...... Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!"  --Mat 14:30

Dan atas sikap penakut dan kurang percayanya itu Petrus mendapat sebuah teguran dari Yesus.

..... "Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" --Mat 14:31

Ketika Yesus ditangkap, sekali lagi Petrus ketakutan. Saat itulah ia berbuat dosa dengan menyangkal Kristus sebanyak tiga kali. Petrus kemudian menyesali perbuatannya dengan sepenuh hati. Ia menangisi penyangkalannya sepanjang hidupnya. Yesus mengampuni Petrus.

Sesudah kebangkitan-Nya, Yesus bertanya tiga kali kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Sesungguhnya, Yesus memang tahu! Petrus benar. Dengan lembut Yesus berkata, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Yesus mengatakan kepada Petrus untuk mengurus Gereja-Nya, sebab Ia akan naik ke surga. Yesus menetapkan Petrus sebagai pemimpin para pengikut-Nya.

Pada hari Pentakosta Petrus dan para rasul lainnya menjadi penuh dengan kuasa Roh Kudus. Mereka berkata-kata dalam bahasa roh sehingga membingungkan orang-orang yang melihat mereka.  Maka bangkitlah Petrus dan menyampaikan kotbahnya yang pertama setelah kebangkitan Yesus. Para pendengarnya begitu terkesima dengan kata-kata nelayan dari Galilea  ini; yang penuh dengan hikmat dan kuasa. Dalam hari itu juga mereka memberikan diri untuk dibabtis. Jumlah orang yang dibabtis pada hari itu sungguh luar biasa; Tiga ribu orang. (Kis 2 : 14 - 41)

Di kemudian hari Petrus pergi mewartakan kabar gembira hingga ke kota Roma, kota terbesar dan juga ibukota dari Kerajaan Romawi. Petrus tinggal di sana dan mempertobatkan banyak orang. Ketika penganiayaan yang kejam terhadap orang-orang Kristen dimulai, umat memohon pada Petrus untuk meninggalkan Roma dan menyelamatkan diri. Dan sekali lagi Petrus ketakutan.

Menurut tradisi, ia memang sedang dalam perjalanan meninggalkan kota Roma ketika ia berjumpa dengan Yesus di tengah jalan.  Petrus bertanya kepada-Nya, "Domine, Quo vadis..? (Tuhan, hendak ke manakah Engkau pergi?)” Yesus menatapnya dan menjawab, “Aku hendak ke Roma untuk disalibkan lagi..”   Dan Petrus yang malang seketika jatuh tersungkur di kaki Yesus dan menangis tersedu-sedu.  Sama seperti saat ia menangisi penyangkalannya di Yerusalem puluhan tahun yang lalu, Petrus kini kembali harus menyesali rasa takutnya. Dengan berderai airmata ia berbalik dan kembali ke kota Roma.

Kembali ke Roma, Paus kita yang pertama ini segera ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.  Karena ia seorang Yahudi dan bukan warga negara Romawi, sama seperti Yesus, ia dapat disalibkan. Petrus kini sudah menguasai rasa takutnya. Kali ini Ia tidak lagi menyangkal Kristus. Ia tidak lagi melarikan diri dan siap untuk wafat sebagai saksi Kristus.  Petrus minta agar ia disalibkan dengan kepalanya di bawah, sebab ia merasa tidak layak menderita seperti Yesus. Para prajurit Romawi tidak merasa aneh akan permintaannya, sebab para budak disalibkan dengan cara demikian.

St. Petrus wafat sebagai martir di Bukit Vatikan sekitar tahun 67. Pada abad keempat, Kaisar Konstantinus membangun sebuah gereja besar di atas tempat sakral tersebut. Penemuan-penemuan kepurbakalaan baru-baru ini menegaskan kisah sejarah tersebut.

Lamunan Pekan Prapaskah I

Minggu, 22 Februari 2026

Matius 4:1-11

1 Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. 2 Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. 3 Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti." 4 Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." 5 Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, 6 lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." 7 Yesus berkata kepadanya: "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!" 8 Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, 9 dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku." 10 Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" 11 Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, ada gambaran bahwa Tuhan akan selalu menyertai orang-orang baik. Tuhan akan memberikan pelatihan-pelatihan untuk mengarungi kehidupan agar orang makin mendalam kebaikannya.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa bimbingan Tuhan juga bisa berupa ketidaknyamanan bahkan derita hidup. Orang baik-baik akan meyakininya sebagai cobaan dari Tuhan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, sekalipun ada keyakinan bahwa Tuhan bisa menghadirkan pencobaan untuk menatar dan memperdalam kebaikan seseorang, orang akan sadar bahwa keinginan hidup nyaman dan berkedudukan tanpa susah payah juga bisa jadi cobaan yang berasal dari roh jahat. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan hati-hati terhadapan tawaran jalan pintas untuk meraih keenakan karena itulah strategi Iblis.

Ah, kalau ada tawaran yang mengenakkan, mengapa harus ditolak?

Lamunan Pekan Prapaskah I

Selasa, 24 Februari 2026 Matius 6:7-15 7 Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele   seperti kebiasaan orang yang tidak menge...