38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. 39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, 40 sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." 41 Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, 42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."
Semua Dekat Tuhan Yesus Lhooo
Kalau tak hati-hati kita bisa mempertentangkan Marta dan Maria. Kita bisa menganggap Marta mengutamakan kegiatan duniawi dan Maria mengutakan hidup rohani. Kita bisa menilai berdasarkan Marta yang sibuk menyiapkan jamuan dan Maria yang tekun mendengarkan sabda Tuhan Yesus. Yang jelas, kalau kita membuka-buka Kitab Suci, kita juga akan menemukan bagaimana Marta juga amat mengandalkan Tuhan Yesus. Coba kita perhatikan bagaimana keduanya sama-sama dekat Tuhan Yesus ketika berhadapan dengan kematian Lazarus saudaranya dalam Injil Yohanes 11:1-36 :
1 Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta. 2 Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya. 3 Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: "Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit." 4 Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan." 5 Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. 6 Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada; 7 tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Mari kita kembali lagi ke Yudea." 8 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?" 9 Jawab Yesus: "Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini. 10 Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya." 11 Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: "Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya." 12 Maka kata murid-murid itu kepada-Nya: "Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh." 13 Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa. 14 Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: "Lazarus sudah mati; 15 tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya." 16 Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain: "Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia." 17 Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. 18 Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira dua mil jauhnya. 19 Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. 20 Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. 21 Maka kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. 22 Tetapi sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya." 23 Kata Yesus kepada Marta: "Saudaramu akan bangkit." 24 Kata Marta kepada-Nya: "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman." 25 Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, 26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" 27 Jawab Marta: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia." 28 Dan sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: "Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau." 29 Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus. 30 Tetapi waktu itu Yesus belum sampai ke dalam kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia. 31 Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ. 32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati." 33 Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata: 34 "Di manakah dia kamu baringkan." Jawab mereka: "Tuhan, marilah dan lihatlah!" 35 Maka menangislah Yesus. 36 Kata orang-orang Yahudi: "Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!"
Dari paparan Injil Yohanes itu kita bisa tahu bahwa baik Marta maupun Maria sama-sama sungguh beriman kepada Tuhan Yesus. Keduanya percaya bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dan hidup. Bahkan sekeluarga bersama Lazarus sama-sama mengalami kasih Kristus.
Ora et Labora
Bagi mereka yang kerap omong sikap kerohanian, tampilnya Marta dan Maria sering dikatakan sajian 2 model penghayatan iman. Santa Marta kerap dijadikan model orang yang menekankan aktivitas, dan Maria menekankan model kontemplatif yang banyak hidup dalam keheningan seperti pertapa. Ketika saya merenungkannya, saya bertanya apakah yang banyak aktivitas kadar renung heningnya minim? Sebaliknya, apakah yang hidup dalam lingkungan renung hening seperti pertapaan adalah orang-orang kurang ativitas?
Dalam menimbang-nimbang pertanyaan itu, saya teringat salah satu semboyan hidup dalam menghayati kekatolikan. Yaitu Ora et Labora (Berdoa dan Bekerja). Ini adalah semboyan yang berasal dari Santo Benediktus di abad V yang menghidupi dan mengembangkan model pertapaan. Yosef MLHello dalam judul Mengenal Tradisi Ora et Labora dalam Bingkai Kehidupan Manusia yang saya ketemukan dalam https://www.kompasiana.com mengatakan :
Bagi
Benediktus, kata 'labora' digunakan untuk mengungkapkan 'kerja tangan' atau
'opus manual'. Dalam 'opus manual', kerja mendapatkan arti atau makna
baru yang berarti berdoa, meditasi, membaca dan bekerja.
Dengan kata lain, tidak ada lagi pemisahan antara bekerja di satu pihak dengan berdoa di pihak lain, sehingga keduanya seharusnya dilakukan bersamaan.
Dari satu sisi kesejatian manusia adalah ciptaan Allah sehingga harus menjaga keeratan dengan-Nya lewat doa. Sementara itu tidak seperti hewan yang hanya hidup sesuai apapun yang disediakan oleh alam, manusia sungguh manusiawi kalau bekerja. Berkaitan dengan tokoh Marta dan Maria dalam pembicaraan ini, saya tak akan mengulas satu per satu riwayat hidupnya. Kalau ada yang yang menyoalkan apakah Maria saudari Marta sama dengan Maria Magdalena atau tidak, saya tak akan membicarakan. Bagi saya keduanya masuk dalam kalangan para perempuan yang biasa mengikuti Tuhan Yesus dan melayani Tuhan dan para rasul sebagaimana dikatakan oleh Santo Lukas bahwa “beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.” (Luk 8:2-3) Marta dan Maria termasuk yang ikut aktif bersama Yesus dan para murid bahkan ikut ambil bagian dalam pembeayaan kegiatan. Bahkan Maria dan Marta sama-sama biasa jadi pendoa khusus dan di ketuaannya menjadi pendoa khusus. Saya menemukan ini dalam katakombe.org/para-kudus. Untuk Santa Maria Magdalena yang peringatannya pada tanggal 22 Juli ada catatan “Tradisi Perancis mengatakan bahwa Maria, Lazarus, dan beberapa sahabat Yesus datang ke Marseilles, Prancis, menginjili dan mengkristenan seluruh wilayah Provence, dan kemudian menyepi dan hidup sebagai pertapa sampai saat kematiannya di La Sainte-Baume.” Sedang untuk Santa Marta yang peringatannya 29 Juli “Salah satu yang paling populer adalah Legenda tentang makam St. Martha si Tarascon Perancis. Dikatakan bahwa Marta meninggalkan Yudea dan pergi ke Tarascon, Prancis. Ia melalui hari-harinya di desa tersebut dengan berdoa dan berpuasa sampai pada akhir hidupnya. Masih menurut legenda; Marta meninggal di Tarascon, dan dimakamkan di ruang bawah tanah Gereja Collegiate di Tarascon.” Baik Maria maupun Marta sama-sama aktif menjadi pewarta iman dalam hidupnya. Mereka pasti juga selalu olah rohani sehingga di usia tuanya bisa hidup dalam kesendirian tak lepas dari kemesraan dengan Tuhan.
Bersama Tuhan di Tengah Dunia
Pada hemat saya untuk menjaga dan mengembangkan diri sebagai manusia sejati adalah menjaga kesadaran dan penghayatan untuk tetap bersama Tuhan di tengah-tengah kesibukan duniawi. Bukankah Tuhan Yesus pernah meminta Allah Bapa untuk para murid-Nya “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia” (Yoh 17:15-18). Ini bisa terjadi kalau kita selalu memelihara dan mengembangkan iman. Saya biasa berpegang pada rumusan dalam Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang (Ardas KAS) 1996-2000 yang mengatakan bahwa “Beriman berarti semakin mengikuti Tuhan Yesus Kristus dalam perkembangan situasi hidup dan budaya setempat”. Di sini saya mengetengahkan pengalaman yang merupakan derap batin terhadap 3 hal : sadar realita, sadar pegangan iman, rela dalam bertindak. Semua ini dijalani dengan pembiasaan sambung hatin dengan Tuhan dalam hati. Kalau saya biasa sambung dengan yang ada dalam hati, sadar atau tidak sadar saya jumpa Tuhan. Bukankah Santo Paulus berkata “tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah” (1Kor 6:19). Untuk menemukan kesadaran akan realita dan pegangan iman serta rela dalam bertindak, dalam olahan batin saya amat diwarnai pola budaya Jawa yang tertanam secara alami dalam diri saya sejak bayi.
Sadar realita
Bagi saya kesadaran akan realita tidak sekedar tahu kenyataan hidup yang saya hadapi. Tetapi itu harus menjadi kerelaan dan penerimaan serta kenyamanan berada di tengah-tengahnya. Saya meyakini ini sebagai upaya batin untuk bisa rila, nrima, dan sabar berhadapan dengan realita. Proses upaya batin ini bisa terjadi kalau selalu berjuang untuk selalu menjadikan segalanya dialog dengan Tuhan dalam hati. Bagi saya ini adalah model kerohanian Bunda Maria yang “menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (Luk 2:19).
- Rila. Kata rila dalam bahasa Jawa berarti membiarkan yang ada sesuai adanya. Kalau yang ada itu menyenangkan atau cocok dengan diri, tentu saja itu tak akan menjadi soal. Yang jadi soal kalau adalah kalau saya tidak suka bahkan bisa sungguh tidak menghadirkan kenyamanan apalagi kalau sampai memuakkan. Bagi saya dalam hal inilah masuk dalam relung hati menjadi tuntutan. Kalau hal yang tak menghadirkan rasa nyaman itu mewarnai hari hari saya, saya memanfaatkan saat kesendirian untuk diam mengomongkan dengan Tuhan secara jujur dalam relung hati. Kalau rasa negatif itu muncul di tengah mengikuti acara atau di tengah jumpa orang atau di tengah kesibukan, saya akan langsung omong singkat dengan kata-kata seperti mengirim WA singkat kepada Tuhan di dalam hati. Bisa juga di tengah suasana seperti itu dalam hati saya hanya menyebut “Gusti .... Gusti” (Tuhan .... Tuhan) berkali-kali. Dalam pengalaman saya, itu sungguh membuat saya menemukan rasa tidak terganggu. Memang, dalam hal kecil yang mengganggu saya bisa menemukan rasa enak bisa dalam sesaat atau beberapa jam atau sehari. Tetapi dalam hal besar ketenangan batin bisa terjapai bisa berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Saya yakin itu semua sesuai dengan proses keterbukaan saya terhadap karya Roh dalam hati saya. Sepanjang waktu berapa lamapun, dengan terbuka pada bimbingan Roh Kudus dalam hati, saya akan mengalami ketenangan batin berhadapan dengan yang tidak saya cocoki. Paling tidak yang tidak saya cocoki tidak akan menghadirkan trauma batin.
- Nrima. Kalau orang sudah punya sikap batin tenang membiarkan yang dihadapi, yang sebenarnya tidak dicocoki, ada sesuai adanya, sikap rila akan berkembang ke sikap nrima, yaitu bisa menerima dengan ikhlas apa yang sebenarnya tidak cocok bahkan berseberangan. Sikap nrima sebenarnya merupakan buah sikap batin tenang dari sikap rila.
- Sabar. Sabar dalam sikap hidup orang Jawa sebenarnya adalah toleransi. Puncak kemampuan bersikap rila dan nrima membuat orang bisa berdampingan dan ada bersama dengan yang tidak dicocoki. Orang bisa tetap tidak cocok bahkan tidak setuju, tetapi bisa tidak terganggu kenyamanannya ada bersamanya.
Sadar pegangan iman
Ketika akan memulai permenungan tentang kesadaran
pegangan iman, hati saya tersentak akan kesadaran bahwa yang kini saya sajikan
adalah derap penghayatan iman secara pribadi. Sedang proses sesudah sadar akan
pengalaman akan realita kemudian diteruskan ke terang iman seperti Kitab Suci
atau ajaran Gereja atau hal-hal lain disekitar dokumen Gereja, itu terjadi
dalam proses pendampingan. Ada kelompok berkumpul dengan didampingi seorang
pemandu. Dalam proses bisa terjadi refleksi pengalaman, analisis, menemukan
terang iman, dan diakhiri dengan apa yang direncanakan akan dibuat. Proses
seperti ini juga bisa terjadi secara pribadi bagi yang mengadakan olah rohani
khusus seperti retret. Meskipun demikian, sekedar sharing untuk pengetahuan,
saya akan menyampaikan beberapa pokok yang barangkali bisa bermanfaat untuk
cakrawala pegangan menghayati realita hidup dengan terang iman.
- Hening. Santa Theresa dari Kalkuta amat menekankan keheningan sebagai poros segala kegiatan untuk menjaga orang selalu ada dalam area kekudusan. Secara garis besar Santa Theresa yakin bahwa dengan hening orang berdoa, dengan doa orang beriman, dengan iman orang mengasihi, dengan kasih orang melayani, dan dalam melayani orang mengalami kedamaian batin dalam keheningannya. Bagi saya secara singkat keheningan dicapai kalau kita membiasakan diri membawa segalanya menjadi dialog batin, singkat atau leluasa, dalam relung hati. Seperti Bunda Maria, kita membiasakan diri memasukkan segalanya dalam hati dan merenungkannya entah sesaat entah leluasa. Dengan membiasakan intim dengan relung hati sadar atau tak sadar orang akan merasakan cahaya ilahi yang menjaga keberimanan hidup. Sebenarnya ketika berhadapan dengan realita, kalau sudah biasa menjaga keheningan hati, sikap rila akan cepat tercapai sehingga mudah untuk nrima dan sabar. Bahkan kebiasaan hening batin akan memudahkan orang bisa langsung nrima dan sabar ketika berhadapan dengan realita yang sebenarnya tidak dicocoki.
- Ingat butir iman. Dengan biasa mengikuti kegiatan keagamaan, paling tidak dengan ikut Misa Mingguan, orang bisa memetik ajaran iman sekecil apapun. Itu bisa berasal dari homili ataupun omongan lain misalnya dalam kumpulan pendalaman iman atau Kitab Suci. Bahkan dari omong-omong baik serius maupun sembronoan, orang bisa menemukan hal baik. Bukankah segala yang baik berasal dari Allah. Ingat segala yang diciptakan Allah selalu baik (bandingkan Kej 1:3-25). Bahkan Tuhan Yesus mengatakan bahwa “Hanya Satu yang baik” (Mat 19:17). Karena kata “Satu” dengan “S” huruf besar, saya yakin itu adalah Allah. Dengan ingat butir iman, baik itu hal baik ataupun dari yang secara jelas khasanah keagamaan, orang bisa mendapatkan terang iman dari realita yang dihadapi. Kalau orang sudah oke dengan realita yang dihadapi, butir iman bisa mengukuhkannya atau bahkan menghadirkan cakrawala baik lainnya.
- Baca Kitab Suci. Kitab Suci adalah dasar dalam penghayatan iman. Semua ajaran dan tatanan dalam kehidupan Gereja diturunkan dari semangat dasar pesan iman dalam Kitab Suci. Maka pembiasaan membaca Kitab Suci akan membuat orang mengakrabkan diri dengan apa yang dijadikan pegangan utama para rasul dan umat perdana. Tentu saja hal-hal yang tertangkap oleh pikiran atau perasaan atau kehendak dalam membaca harus menjadi bahan dialog batin dengan relung hati. Saya sendiri dalam keseharian hanya biasa membaca Kitab Suci bagian Injil yang menjadi bacaan Misa Harian. Tetapi keterbatasan saya kerap menghadirkan ingatan kata-kata iman ketika berhadapan dengan realita harian.
Tindakan iman
Ketika menyampaikan khotbah di bukit untuk massa pengikut (Mat 5-7), Tuhan Yesus menutup dengan kata-kata berikut :
"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."
Kalau tak hati-hati orang bisa puas karena bisa menjalani agama dengan segala kebiasaan keagamaannya. Kalau tak hati-hati orang bisa bangga karena memiliki berbagai pengetahuan Kitab Suci dan ajaran-ajaran serta tatanan dalam Gereja. Orang bisa mantap ketika mampu menyebut Tuhan dengan dukungan pemahaman akan Dia. Di sinilah Tuhan Yesus berkata “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 7:21). Dengan menjalani kehendak Allah kita akan ikut Allah tak hanya terbatas pada kegiatan lahiriah keagamaan. Di sini kita bisa ingat kata-kata Tuhan “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat 5:20).
Perbuatan lahiriah yang menjadi wujud hati bersekutu
dengan Allah sungguh menjadi tuntutan. Sebagai tuntutan iman tindakan kongkret
beriman bisa disebut pertobatan. Hal ini menjadi amanat pertama Tuhan Yesus
ketika tampil pertama di hadapan publik, yaitu “Bertobatlah dan percayalah kepada
Injil!” (Mrk 1:15) Di dalam kehidupan umat Katolik, iman kepada Injil berarti
iman kepada peristiwa Paskah, yaitu kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian.
Inilah dasar segala kehidupan beriman kepada Tuhan Yesus Kristus. Begitu besar
dan luhur serta bermaknanya peristiwa Paskah, untuk merayakan Hari Paskah umat
Katolik mengenal Masa Prapaskah, sebagai masa pembaruan dan pengembangan sikap
tobat, yaitu hidup berkiblat kepada Allah berdasarkan keyakinan akan
kebangkitan Kristus. Sebagai tanda tobat Katekismus Gereja Katolik
menyatakan “Tobat batin seorang Kristen dapat dinyatakan dalam
cara yang sangat berbeda-beda. Kitab Suci dan para Bapa Gereja berbicara
terutama tentang tiga bentuk: puasa, doa, dan memberi sedekah sebagai pernyataan
pertobatan terhadap diri sendiri, terhadap Allah, dan terhadap sesama.” (1434)
- Tobat terhadap diri sendiri. Ini berkaitan dengan puasa sebagai salah satu kewajiban keagamaan. Tindakan berpuasa selalu berkaitan dengan pengurangan kenyaman tubuh. Tetapi demi kenyamanan sejati tubuh dalam situasi kondisi kongkret orang harus berhadapan dengan mengikuti selera bahkan keenakan sesaat. Katanya, puasa tak makan dan tak minum selama sehari bisa membuat metabolisme tubuh membaik. Saya jadi ingat ada yang setiap hari hanya makan sore dan seharian hanya minum. Pada tahap-tahap pertama dia biasa mengeluh. Tetapi kini tubuhnya jadi segar dan tidak gembrot seperti sebelum terapi model makan sekali sehari. Saya sendiri biasa jauh dari makan nasi dan bahan makan yang mengandung karbo. Itu saya jalani sejak Januari 2012 karena diabetes. Saya kini biasa makan sayuran. Padahal sebelumnya saya tak suka segala sayuran. Sebetulnya hingga kini saya tak bisa menikmati sayuran. Sebenarnya yang saya sukai bakmi, gudeg, dan nasi goreng. Tetapi segala tindakan pantang kuliner demi tubuh sungguh membuat badan terasa nyaman dan segar. Di dalam permenungan saya menyadari bahwa tubuh manusia adalah tampilan lahiriah duniawi manusia, yang sebetulnya diciptakan sebagai gambaran Allah (bandingkan Kej 1:26). Dengan demikian puasa dan pantang menjadi jalan menghayati dan menyadari diri sebagai gambaran Allah. Dengan kesegaran fisik saya bisa menghayati sendiri kegembiraan Injili atau sukacita ilahi. Maka, dalam pewartaan Injil atau sukacita ilahi saya punya landasan bisa berbuat untuk diri saya sendiri dalam menghayati Injil.
- Tobat terhadap Allah. Kewajiban keagamaan lain adalah berdoa. Dalam hal ini ada tingkat-tingkatan doa, yaitu doa lisan, doa renung, dan doa batin. Doa lisan menekankan ucapan-ucapan termasuk yang menjadi tradisi doa, ibadat, dan devosi dalam Gereja. Tetapi kalau hanya sampai pada pengucapan, itu bisa tidak bermakna kalau tidak pernah dimasukkan dalam hati dan direnungkan. Barangkali yang masuk dalam renungan hanya sedikit. Tetapi yang sedikit itu akan memiliki daya besar dalam penghayatan iman. Bukankah iman sebiji sesawi bisa membuat orang bisa memindah gunung? Itulah ibarat yang dikatakan oleh Tuhan Yesus. Doa sungguh membuat hidup berbinar kalau menjadi pengalaman batin yang membuat orang mesra dengan Allah dalam relung hati sadar atau tidak sadar.
- Tobat terhadap sesama. Ini adalah amalan atau pewujudan iman, yaitu benjadi bentuk ikut Tuhan di tengah kehidupan bersama. Bukankah hukum utama orang yang ikut Tuhan Yesus adalah mencintai Tuhan Allah dan mencintai sesama seperti diri sendiri. Perbuatan iman ini mencakup baik dalam keluarga, di tengah pekerjaan, dan pergaulan lainnya. Dengan paparan kisah orang Samaria yang menolong orang Yahudi yang dianiaya oleh penyamun (lihat Luk 10:25-37), itu menunjukkan bahwa tindakan baik orang yang ikut Tuhan Yesus untuk sesama tak boleh dibatasi oleh perbedaan SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan). Pegangannya adalah yang dikatakan oleh Tuhan Yesus “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40). Inilah latarbelakang mengapa dalam perjuangan menyejahterakan sesama Keuskupan Agung Semarang mengutamakan KLMTD (kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel).
Bukan Proses Sistematis
Olah rohani model Maria-Marta bukanlah tindakan sistematis dengan tahap-tahapan didasarkan pemikiran-pemikiran teoritis. Memang dalam kegiatan bersama seperti retret dan bimbingan bersama, pemandu akan mendampingi dengan langkah-langkah sistematis. Namun untuk olah rohani pribadi ini bisa terjadi secara spontan sesaat dan kalau dalam kesempatan leluasa seperti akan dan bangun tidur bisa terjadi seperti lamunan. Tetapi satu hal yang pada hemat saya amat penting adalah pembiasaan diri kontak dengan relung hati. Tentu saja untuk kontak batin dengan hati kita harus meneng atau diam. Diam sesaat di tengah kegiatan sudah cukup untuk omong singkat dengan hati. Pembiasaan seperti ini sungguh membuat kita punya keheningan yang tak akan merasa gelisah berhadapan dengan realita apapun. Keheningan bisa menghadirkan butir iman secara spontan. Dari sini kita akan mudah untuk hidup bersama siapapun dan berbuat demi kebaikan umum. Dalam kondisi diam pun kita bisa hadir ikut jadi terang yang menyenangkan dalam kebersamaan.
Domus Pacis Santo Petrus, 3 Maret 2026



