Friday, February 27, 2026

Lamunan Pekan Prapaskah I

Sabtu, 28 Februari 2026

Matius 5:43-48

43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. 44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. 45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. 46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? 47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? 48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, pada umumnya orang tahu bahwa Tuhan itu Mahakuasa Pencipta langit dan bumi. Manusia adalah salah satu wujud ciptaan-Nya.
  • Tampaknya, orang sadar bahwa tak ada yang sempurna selain Allah. Karena segala pengalaman cela, noda, dan dosa orang selalu tak akan bisa sempurna.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun berbagai kelemahan dan dosa menjadi penghalang meraih kebaikan, sejatinya orang selalu ada dalam jalan kesempurnaan ilahi kalau selalu mengembangkan diri jauh dari rasa benci apalagi denda" m terhadap orang yang memusuhi. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan berjuang meneladan Tuhan yang tetap membuka anugrah kebaikan kepada yang buruk sebagaimana disediakan kepada kaum baik.

Ah, orang akan melecehkan kita kalau kita selalu mengalah.

Thursday, February 26, 2026

Sumbangan untuk Even Rama Domus

Ada yang tertawa ketika bertanya untuk apa hasil jualan batik kepada Rm. Bambang. Ketertawaan itu muncul karena jawaban Rm. Bambang "Untuk senang-senang. Untuk menenuhi hiburan hidup". Barangkali ada yang berpikir sudah jadi rama kok masih mencari kesenangan dan hiburan. Tetapi bagi banyak orang yang sudah mengenal Domus Pacis Santo Petrus ternyata memaklumi bahkan mendukung yang dikatakan oleh Rm. Bambang. Upaya mencari senang dan hiburan itu adalah usaha untuk terjadinya suasana menggembirakan bagi para rama Domus yang sudah jauh dari derap kehidupan umat karena kondisi kelansiaan dengan segala kondisi fisik yang membuat sebagian besar hidupnya ada dalam kamar masing-masing. 


Upaya membuat suasana senang yang diharapkan jadi kebahagiaan dilakukan dalam 2 upaya. Pertama, dengan bantuan Bu Titik dan Bu Rini ada gerakan umat untuk ikut menyajikan snak menambah yang bisa disajikan sendiri oleh Domus dari anggaran Keuskupan yang mencukupi untuk setengah bulan untuk semua penghuni Domus termasuk karyawan. Kedua, pengadaan sajian konsumsi khusus untuk even khusus seperti ulang tahun kelahiran, ulang tahun imamat, peringatan arwah rama mantan penghuni Domus Pacis Santo Petrus, dan juga even Gerejawi terutama Malam Paskah/Natal. Even ulang tahun kelahiran memang hanya menghadirkan sedikit undangan dari keluarga dan atau orang dekat rama yang bersangkitan. Sedang yang lain menghadirkan banyak undangan dari sanak saudara dan umat. Semua ini adalah upaya agar para rama sepuh Domus tidak merasa terjauhkan bahkan tersingkir dari umat Katolik dan keluarga. Semua upaya untuk mengembangkan kehidupan Domus yang diwarnai kebahagiaan sungguh terlaksana karena hadirnya kepedulian yang menghadirkan sumbangan baik yang berupa snak maupun yang berupa sumbangan uang. Untuk bulan Februari 2026 Rm. Bambang mencatat nama-nama mereka yang menghadirkan sumbangan :

  • Penyumbang Snak : 1. Ibu Atik, 2. Ibu Rini, 3. Ibu Jondit, 4. Ibu Joni, 5. Ibu Iskak, 6. Ibu Rachel, 7. Ibu Lies Yatno, 8. Ibu Debby, 9. Ibu Kanti, 10. Kelompok Sta. Chatarina, 11. Ibu Sintari, 12. Ibu Satyawati, 13. Ibu Endang Purwani, 14. Ibu Tutik, 15. Ibi Ieneke, 16. Ibu Yustina, 17. Ibu Novi, 18. Ibu Septi Darto, 19. Ibu Lucinda, 20. Ibu Endang Prayitno, 21. Ibu Wahyu, 22. Ibu Daniek, 23. Ibu Septi Unanto, 24. Ibu Elly, 25. Ibu Jatmiko, 26. Ibu Titik.
  • Penyumbang Hajatan : 1. Ibu Yinni Tjia, 2. Legio Maria Pringwulung, 3. Ibu Septi Unanto, 4. Ibu Bernadet Bintari, 5. Ibu Sri Daruningsih, 6. Ibu Coleta Tanti Sanvero, 7. PUPIP DIY, 8. PUPIP Wates, 9. Ibu Retno Wiraksi, 10. Ibu Put, 11. Keluarga Ibu Erna, 12. Ibu Budi, 13. Ibu Ambar, 14. Ibu Nadya, 15. Ibu Umi, 16. Ibu Ratmi, 17. Ibu Mardanu, 18. Bapak Blasius Chasto, 19. Apotek Jaya Sehat, 20. Ibu Sri Purwaningsih, 21. Ibu Agnes Trijoko, 22. Ibu Yucha, 23. Ibu Retha (Klg. Kimy Haryanto, Klg. Marco Adityo), 24. Ibu Retno Willy.

Santa Anna Line

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 23 Maret 2017 Diperbaharui: 27 Oktober 2019 Hits: 16199

  • Perayaan
    27 Februari
  •  
  • Lahir
    Sekitar tahun 1563
  •  
  • Kota asal
    Dunmow Essex Inggris
  •  
  • Wafat
  •  
  • Martir | Digantung di Tyburn London Inggris pada tanggal 27 Februari 1601
  •  
  • Venerasi
    8 Desember 1929 oleh Paus Pius XI (decree of martyrdom)
  •  
  • Beatifikasi
    15 December 1929 oleh Paus Pius XI
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • 25 Oktober 1970 oleh Paus Paulus VI

Santa Anna Line hidup di Inggris pada masa Reformasi Anglikan, saat di mana agama Katolik dinyatakan terlarang dan para penganutnya akan dihukum mati. Ia lahir pada sekitar tahun 1563 di Dunmow Essex Inggris sebagai putri sulung dari William Higham of Jenkyn Maldon, seorang Calvinist Puritan (para pengikut fanatik tokoh reformasi Protestan; John Clavin) yang makmur dan berpengaruh. Nama kecilnya adalah  Alice Higham.

Disekitar tahun 1580 Alice dan adiknya William Higham, dalam terang Roh Kudus, mengambil keputusan berani untuk menjadi anggota gereja Katolik.  Akibat keputusan ini, mereka diusir dari rumah dan dicabut hak waris-nya. Namun semua itu sama sekali tidak menggoyahkan iman kedua bersaudara ini.  Alice dan William Higham telah menemukan Mutiara Surgawi dan mereka tidak akan melepaskannya lagi.

Dikalangan umat katolik Inggris yang sedang teraniaya, nama Alice Higham disamarkan menjadi “Anna”, untuk melindunginya dari kejaran polisi dan mata-mata keluarganya. Pada tahun 1583, Alice menikah dengan Roger Line, seorang pemuda Katolik Inggris yang saleh. Sejak saat itulah ia dikenal sebagai Anna Line, sesuai nama suaminya.

Roger Line bersama William Higham ditangkap saat sedang mengikuti misa hari minggu. Mereka berdua lalu disiksa dan dipenjarakan karena iman mereka. William Higham dapat dibebaskan dengan membayar uang jaminan, sementara Roger Line dibuang ke Flanders Belgia. Ia meninggal sebagai seorang martir Kristus di pengasingan tersebut pada tahun 1594.

Sejak suaminya dibuang ke Flanders, Anna membaktikan hidupnya untuk membantu para imam Katolik yang dikejar-kejar oleh polisi kerajaan. Ketika pater John Gerard, SJ membuka sebuah rumah perlindungan untuk menyembunyikan para imam Jesuit di Inggris, Anna menawarkan diri untuk mengelola rumah perlindungan tersebut. Walau ia sering sakit-sakitan, namun Anna Line mampu mengelola rumah perlindungan ini selama tiga tahun, dan telah menyelamatkan banyak imam Jesuit dari kejaran mata-mata kerajaan.

Ketika pater John Gerard, SJ tertangkap, Anna berkeras untuk tidak menutup rumah perlindungan tersebut.  Ia bahkan mengatur upaya pembebasan Jesuit tersebut dari penjara Tower of London yang terkenal itu.  Upayanya sukses dan pater John Gerard selamat dari hukuman mati. Di kemudian hari, John Gerard SJ menulis dalam biografinya :

Peristiwa penangkapan ini terjadi pada tanggal 2 Februari 1601. Saat polisi datang, pater Fransiskus Page, imam yang memimpin misa berhasil meloloskan diri dengan bersembunyi di ruangan rahasia yang sudah disiapkan. Anna bersama rekannya Margareth Gage, ditahan. Margareth kemudian dibebaskan dengan uang jaminan sedangkan Anna dipenjarakan di Newgate.

Anna Line lalu disidang dengan dakwaan menampung seorang imam Katolik dan dijatuhi hukuman mati.  Saat berada di tempat pelaksanaan hukuman mati, Anna diminta untuk mengucapkan kata-kata terakhir didepan rakyat Inggris.  Dengan lantang wanita pemberani ini mengulangi apa yang telah ia katakan di depan pengadilan :

Hari itu tanggal 27 Februari 1601, darah para martir Kristus kembali tumpah di tanah Inggris. Santa Anna Line, bersama seorang imam Jesuit, Beato Roger Filcock SJ, dan seorang imam Ordo BenediktinBeato Mark Barkworth OSB, tewas di atas tiang gantungan sebagai saksi iman yang tidak tergoyahkan.

Anna Line dibeatifikasi bersama Mark Barkworth OSB pada tanggal 15 Desember 1929 oleh Paus Pius XI, sedangkan Roger Filcock SJ dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II pada 22 November 1987. Anna kemudian dikanonisasi pada tanggal 25 Oktober 1970 oleh Paus Paulus VI.(qq)

Lamunan Pekan Prapaskah I

Jumat, 27 Februari 2026

Matius 5:20-26

20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. 22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. 23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, 24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. 25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. 26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, orang bisa dipandang baik dalam beragama karena tahu banyak macam-macam khasanah doa. Dia hafal banyak doa-doa yang ada dalam tradisi hidup keagamaan.
  • Tampaknya, orang bisa dipandang hebat dalam keagamaan karena banyak tahu ajaran hidup beragama. Dia hafal banyak rumus-rumus dogma dan penjelasannya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun hafal banyak tradisi doa dan rumus-rumus ajar agama bisa dipandang hebat, orang baru sungguh hidup sesuai dengan kehendak Tuhan kalau bisa menemukan dan menghayati nilai-nilai di balik hafalan lahiriah. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu menimbang dan merenungkan berbagai rumusan doa dan ajaran keagamaan sehingga sungguh memahami dan menjalani nilai sejati di balik rumusan harfiah.

Ah, asal banyak hafal rumusan doa dan ajaran agama, orang jelas beriman.

Wednesday, February 25, 2026

Bersama dan Dibersamai Tuhan Yesus

Pada Sabtu 21 Februari saya diminta mendampingi rekoleksi untuk lansia Katolik Paroki Bonoharjo. Tema yang disodorkan adalah Berjalan Bersama Tuhan Sepanjang Usia. Secara spontan dengan tema ini saya teringat salah satu kata-kata yang mengungkapkan iman Kristiani, yaitu Napak Tilas Pada Dalem Sang Kristus atau dalam bahasa Indonesia Mengikuti Jejak Kristus. Hal ini membuat benak saya langsung ke kata-kata Tuhan Yesus ketika pertama kali berjumpa Filipus ‘ ”Ikutlah Aku!” (Yoh 1:43). Semua ini bisa dimaknai bahwa umat sungguh beriman kalau selalu MEMBERSAMAI Tuhan Yesus. Saya juga teringat akan nyanyian untuk anak-anak Sekolah Minggu atau Pendampingan Iman Anak (PIA). Syairnya adalah sebagai berikut : 

Jalan serta Yesus

Jalan serta-Nya

Setiap hari

Jalan serta Yesus

Serta Yesus slamanya

Jalan dalam suka

Jalan dalam duka

Jalan serta-Nya setiap hari.

 

Jalan dalam suka

Jalan dalam duka

Serta Yesus slamanya.

Siapa Membersamai?

Bahwa hidup adalah perjalanan, sebagai orang Jawa saya cukup tahu. Segala yang baik harus memakai “laku” yang memang bisa diartikan sebagai perbuatan berprihatin atau memfokuskan diri pada kerohanian. Tetapi laku berkaitan dengan kata mlaku, yang berarti berjalan. Tembang pocung “Ngèlmu iku kelakoné kanthi laku” (Kebijaksanaan adalah buah perbuatan berprihatin) tentu juga bisa didekatkan dengan pandangan Jawa “Urip kuwi mung kaya mampir ngombé” (Hidup itu bagaikan mampir untuk minum dalam perjalanan). Di dunia ini orang menghayati perjalanan “Sangkan paraning dumadi” (Dari tempat awal berjalan untuk kembali ke tempat awal). Tentu saja hal ini mendapatkan peneguhan pandangan Gereja sebagai persekutuan orang-orang yang disatukan oleh Kristus yang dibimbing oleh Roh Kudus dalam peziarahan mereka menuju Kerajaan Bapa (GS 1). Hidup adalah perjalanan bersama Allah Tritunggal Mahakudus. Ketika saya merenungkan semua ini, muncul pertanyaan dalam hati “Bagaimana hal itu sungguh saya hayati?” Karena penghayatan hidup juga berkaitan dengan daya nalar dan daya hati, “Bagaimana saya menyadari dan menjaga kesadaran jalan bersama Tuhan?” Barangkali bagi santo dan santa termasuk beato dan beata, hal ini tidak menjadi soal. Tetapi untuk pengalaman dalam diri saya, saya kerap banyak berpikir atau merasa atau berkeinginan hal-hal duniawi yang terwarnai dengan berbagai hal yang sebenarnya tak terpuji. Memang, itu bisa teredam ketika dalam hati saya menyebut kata “Gusti” dan omongan spontan dengan-Nya. Jujur saja, ketika berdoapun termasuk Misa, pikiran dan perasaan serta keinginan bisa ke mana-mana. Dengan demikian, di dalam pengalaman, saya sungguh biasa punya hati tidak membersamai Tuhan.

Belajar dari Gereja

Di dalam permenungan tiba-tiba saya teringat kata-kata yang biasa muncul dalam doa bersama dan peribadatan. Itu adalah kata-kata yang diucapkan oleh pemimpin ibadat dan dijawab oleh umat peserta. Kerap muncul pemimpin mengatakan “Tuhan bersamamu” dan umat menjawab “Dan bersama rohmu”. Dulu yang kerap muncul “Tuhan sertamu” yang dijawab “Dan sertamu juga” atau juga “Tuhan beserta kita“ yang dijawab “Sekarang dan selama-lamanya”. Dari kata-kata ini hati saya berkata bahwa sebenarnya yang aktif dalam kebersamaan hubungan saya dan Tuhan adalah Tuhan. Tuhanlah yang selalu membersamai kita. Kita bisa belok sana-sini karena kesalahan dan dosa, tetapi Tuhan selalu setia tak pernah meninggalkan kita. Santo Paulus berkata “Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.” (1Kor 1:9) Di dalam Kitab Suci kita bisa membaca bagaimana setiap kali manusia jatuh dalam dosa dan lupa Allah. Tetapi dalam Kitab Suci pula kita bisa menemukan Allah yang tetap perhatian dan peduli pada umat apapun dan bagaimanapun keadaannya. 

Tuhan Membersamai Pewarta Iman

Penyertaan Tuhan dalam hidup ini bagi saya paling jelas dinyatakan oleh Injil pada hari Tuhan Yesus naik ke sorga. Sebelum naik ke sorga Tuhan berkata kepada para murid “..... ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:20) “Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.” (Mrk 16:20)

Para murid Tuhan Yesus memang mendapatkan tugas pokok untuk menjadi pewarta iman. Ini amat ditegaskan oleh Santo Paulus “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1Kor 9:16). Ketika menyatakan bahwa hidup kita sebagai Gereja adalah sebuah peziarahan iman dalam kebersamaan dengan Allah Tritunggal, saya mengambil domuken Konsili Vatikan II dalam ajarannya tentang Gereja di tengah dunia. Di situ saya katakan “Tentu saja hal ini mendapatkan peneguhan pandangan Gereja sebagai persekutuan orang-orang yang disatukan oleh Kristus yang dibimbing oleh Roh Kudus dalam peziarahan mereka menuju Kerajaan Bapa”. Sebenarnya persekutuan itu di dunia itu terjadi dalam tugas untuk menjadi pewarta keselamatan. Konsili mengatakan :


“KEGEMBIRAAN DAN HARAPAN, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Tiada sesuatu pun yang sungguh manusiawi, yang tak bergema di hati mereka. Sebab persekutuan mereka terdiri dari orang-orang, yang dipersatukan dalam Kristus, dibimbing oleh Roh Kudus dalam peziarahan mereka menuju Kerajaan Bapa, dan telah menerima warta keselamatan untuk disampaikan kepada semua orang.” (GS 1) 

Orang yang ikut Tuhan Yesus Kristus ambil bagian tugas Gereja terlibat untuk menghadirkan kabar sukacita di tengah kehidupan kongkretnya. Sebenarnya setiap orang telah menerima warta keselamatan yang kemudian juga harus disampaikan kepada semua orang. Ini adalah tugas misioner. Tuhan mengatakan “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15). Rm. Nurwidi, seorang ahli ilmu misi, mengatakan bahwa kata dunia berarti tempat seseorang berpijak. Karena warta keselamatan berkaitan dengan bimbingan Roh Kudus, saya menghubungkannya dengan karunia yang ada dalam setiap orang.

Karunia Bekal Pewartaan

Dalam bimbingan menuju Kerajaan Bapa sebagai bagian persekutuan dalam Kristus, setiap orang mendapatkan karunia Roh. Ini adalah bekal orang untuk ambil bagian ikut menghadirkan sukacita di tengah hidupnya. Bukankah Santo Paulus berkata “kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama” (1Kor 12:7). Penyertaan Kristus dalam tugas pewartaan bagi saya adalah lewat orang-orang yang menghadirkan anugrah-anugrah yang jadi bekal saya dalam penghayatan hidup. Karena pewartaan iman tak hanya omong agama bahkan tak hanya pengajaran agama, saya juga menyadari bahwa dalam pewartaan orang harus jadi saksi iman. Orang harus mengalami sendiri penyertaan Kristus. Dalam hal ini saya merasa perlu untuk menghadirkan beberapa pengalaman saya sebagai berikut :

  • Dari balita hingga remaja. Saya memang tak begitu merasakan secara mendalam dalam kaitan dengan bapak dan ibu saya. Saya lahir ketika bapak dan ibu saya sudah berpisah. Katanya, ketika saya yang sudah mulai bisa berjalan terkena sakit dan kena suntikan obat yang membuat saya tak bisa jalan. Pertumbuhan kaki kiri tak senormal kaki kanan. Pada sekitar umur 1 tahun inilah saya diambil oleh éyang (bahasa Jawa yang berarti nenek) putri saya, ibu dari bapak. Sejak ini saya tak pernah serumah dengan ibu kandung. Bahkan saya berjumpa ibu kandung menjelang umur 17 tahun. Dari bapak saya mengalami 3 kali ibu tiri. Yang jelas saya biasa dalam naungan nenek. Bahkan dari nenek saya mendapatkan warisan tanah langsung yang sebenarnya adalah bagian bapak. Ini terjadi ketika saya klelas III SR (Sekolah Rayat yang kini Sekolah Dasar atau SD). Bahkan ketika kelas VI SD, waktu bapak bercerai dari ibu tiri pertama, rumah juga diwariskan kepada saya dengan putusan pengadilan. Saya adalah anak tunggal bapak. Nenek meninggal pada tahun 1974 dan bapak wafat pada Desember 1980. Saya ditahbiskan pada 22 Januari 1981. Pada tahun 1990 semua warisan saya jual dan uangnya saya jadikan simpanan di bank. Ternyata saya kemudian menjadi imam yang harus mengembangkan kantor dan karya misioner Keuskupan Agung Semarang (KAS) dari Komisi Karya Misioner (KKM KAS), Karya Kepausan Indonesia (KKI KAS), hingga Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner (MMM PAM). Sekalipun tidak bertugas di paroki tertentu, saya punya hubungan cukup luas dengan umat. Apalagi dalam karya saya punya jejaring dengan banyak warga umat sebagai relawan misioner. Di dalam berkarya selamat 27 tahun saya tidak memiliki topangan keuangan memadahi seperti kalau di paroki. Memang, ada anggaran dari Keuskupan. Memang, ada honorarium yang sering saya terima. Tetapi dari berbagai program dan kegiatan, pembeayaan membutuhkan tambahan. Puji Tuhan, modal peninggalan éyang dan bapak sungguh amat bermakna. Peningalan itu tak hanya bisa menopang kekurangan anggaran keuangan karya. Itu juga bisa membantu banyak orang sakit yang berkekurangan dan harus membutuhkan perawatan dokter bahkan opname. Tak sedikit juga warga yang terbantu beaya pendidikannya. Ketika saya masuk rumah rama sepuh Domus Pacis, sisa-sia tabungan yang menipis juga bisa sedikit ikut membantu kehidupan Domus Pacis.
  • Dari awal jadi Katolik. Di masa lalu saya bukanlah anak dan remaja yang kerasan dan bangga dengan kondisi keluarga. Saya berada dalam keluarga dengan keibutirian. Saya jadi sosok “pelawan bapak”. Saya merasakan seorang bapak yang selalu berpihak pada ibu tiri. Ketika masuk SMP, saya mengalami ibu tiri ketiga. Bapak dan ibu tiri memutuskan tinggal di Kumetiran. Saya memilih tinggal di Ambarrukmo di tanah warisan éyang dan rumah warisan bapak. Ketika bapak dan istrinya menjadi Katolik, saya makin menjauh pula dengan alasan saya tak akan jadi Kristen. Tetapi kekatolikan bapak saya membuat saya jadi sering merasakan kedekatan dengan orang Katolik. Kebetulan saja peristiwa G30S terasa membuat hidup keagamaan menjadi semacam keharusan. Maka ketika SMP Kelas III saya ikut pelajaran agama Katolik. Sebagai calon baptis saya berkenalan dengan Pak Kaslan dan keluarganya. Banyak anak-anak kecil usia TK dan SD sering main di rumah pak Kaslan yang punya pekarangan luas termasuk lapangan badminton. Entah bagaimana saya menjadi tokoh anak-anak kecil yang kemudian diberi nama PUTAKA (Putra Cinta Kasih). Di sini pula saya jadi dekat dengan Mas Bejo, Mbak Warni, dan Murtini. Dulu kami sama-sama anggota GSNI (Gerakan Siswa Nasional Indonesia) kelompok ormas afiliasi Partai Nasional Indonesia (PNI). Ketika berkembang Orde Baru, PNI pecah karena ada yang dipimpin oleh Osa-Osep dan ada yang dipimpin Ali Sastroamijaya – Surachman. Kami berempat masuk golongan PNI Ali-Surachman yang kena pandangan Marxisme yang disesuaikan dengan situasi dan Kondisi Indonesia. Politik nasional Orde Baru membuat PNI kami terkucil. Kalangan Katolik pada umumnya terasa pro Orde Baru. Kebetulan saya menolak menjadi anggota Pemuda Katolik yang dalam pikiran saya jadi bawahan Partai Katolik. Dengan perkembangan politik waktu itu saya jadi agak anti partai politik. Karena tak mau ikut Pemuda Katolik saya termasuk yang sering kena cap Markatul (Marhen Katolik). Puji Tuhan, ketika saya SMA kelas I muncul gerakan Mudika (Muda-muda Katolik). Saya bersama Mas Bejo, Mbak Warni, dan Murtini masuk menjadi aktivis Mudika Kring (kini Lingkungan) Ambarrukmo, Paroki Baciro. Satu hal yang harus dicatat adalah dalam segala kegiatan Katolik saya dan ketiga teman itu biasa berpusat dalam keluarga Pak Kaslan. Kami biasa menyebut diri anak-anak Pak Kaslan. Secara pribadi saya jauh lebih dekat dan taat ke Pak Kaslan daripada ke bapak saya. Kami satu sama lain tak punya hubungan darah setetespun. Tetapi entah bagaimana hubungan kami satu sama lain membuat kami jauh lebih erat dan mendalam mengalahkan hubungan dengan keluarga kami masing-masing. Kebetulan saja saya senang main sana-sini. Pak Kaslan, yang pada waktu itu adalah karyawan perpustakaan Seminari Tinggi, juga mengenalkan kami dengan calon-calon imam yang pada waktu itu masih di Seminari Tinggi Code. Bahkan saya juga diajak melihat pembangunan Seminari Tinggi Kentungan. Kedekatan hubungan inilah yang membuat saya punya cakrawala hidup imamat. Kedekatan persaudaraan inilah yang membuat saya di dalam karya pastoral amat menekankan paguyuban persaudaraan yang harus ditampakkan dalam wajah berbagai institusi Gereja.
  • Ketika calon imam. Sebenarnya saya termasuk calon imam di Seminari Tinggi yang rasa-rasanya sering dipandang jadi soal di hadapan staf. Aktivitas saya yang saya jalani di luar Seminari kerap dipandang seakan-akan belum saatnya. Di dalam Seminari ada juga kegiatan-kegiatan yang tak begitu sesuai pakem kehidupan bersama. Dalam hal ini saya merasa selalu diselamatkan oleh sosok almarhum Rm. Kartasiswaya. Beliau dengar-dengar kerap membela saya. Perhatian terhadap saya sungguh besar. Dulu kaki kiri pincang saya dioperasi karena usulan beliau sehingga saya bisa naik sepeda motor dengan presneling kaki dan bahkan kemudian bisa mengendarai mobil yang pada waktu itu belum ada yang matic. Dulu untuk tahbisan diakon belum ada persiapan. Saya berinisiatif mengajak para calon diakon untuk mengadakan triduum di Kaliurang. Rm. Kartapun menyertai.
  • Ketika ada dalam dinas imamat. Pertama-tama saya mencatat nama almarhum Rm. Mikael Sugita dan Rm. Wedyawiratno. Rm. Gita adalah pastor kepala 2 tahun pertama imamat saya. Beliau adalah sosok yang membiarkan dan bahkan menyediakan berbagai fasilitas untuk kegiatan-kegiatan yang saya mulai sekalipun harus berhadapan dengan arus kebiasaan yang terlalu membuat mapan kehidupan pastoral. Setelah pindah karya, saya berada di bawah kepemimpinan Rm. Wedya. Kebetulan saja, selain sebagai pastor paroki, Rm. Wedya juga menjadi Ketua Komisi Karya Misioner Keuskupan Agung Semarang. Mulai saat itulah saya masuk karya dengan sistem kelembagaan Keuskupan. Saya banyak dipercaya oleh Rm. Wedya dalam pendampingan-pendampingan keterlibatan umat awam dalam Gereja terutama paroki. Saya juga banyak dipercaya untuk merancang program kegiatan dengan segala strateginya. Satu hal yang tampaknya konyol adalah beliau mempercayakan keuangan pastoran kepada saya. Ketika saya berkata “Dalam catat mencatat yang buruk”, beliau menjawab “Pokoké mboten nyolong” (Asal tak mencuri). Saya memang merasa berkembang sebagai tenaga khusus yang ikut derap karya Keuskupan sehingga selama 27 tahun tak pernah pindah bidang dan tempat karya hingga masuk rumah tua. Saya menjadi salah satu tenaga full timer Keuskupan untuk pelaksanaan berbagai program Keuskupan. Dalam hal ini peran Mgr. Ignatius Suharyo (Kini Kardinal Ignatius Suharyo). Beliau tampaknya sering mempercayakan beberapa program baru pada saya. Tentu saja saya kerap harus berhadapan dengan para rama yang kurang lebih terusik kemapanannya. Yang paling menonjol saya diserahi membangun dan menjalankan Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner. Beliau hanya meminta menjadikannya sebagai museum yang hidup. Ketika dalam 2 tahun saya belum menemukan bagaimana membuat museum yang hidup, saya bertanya kepada Mgr. Haryo “Museum yang hidup niku pripun, ta?” (Sebenarnya bagaimana museum yang hidup itu?”. Ternyata jawabanya adalah “Kula nggih mboten ngertos. Pun pokoké ditandangai mawon. Panjenengan pun kulina ngawur ta? Yèn leres, kula tumut remen. Yèn klèntu, kula apura” (Saya juga tidak tahu. Pokoknya jalani saja. Anda sudah biasa ngawur, kan? Kalau benar, saya ikut senang. Kalau keliru, saya ampuni). Kesemuanya itu membuat saya menjadi kerap berani membuat kegiatan-kegiatan yang belum biasa terjadi.
  • Kini di Domus Pacis Santo Petrus. Saya memang ikut ambil bagian dalam pengembangan hidup Domus Pacis sejak masih di Domus Pacis Puren, Pringwulung, hingga di Domus Pacis Santo Petrus, Kentungan. Pada 10 tahun pertama, terutama ketika masih di Puren, saya biasa ikut menanggung kekurangan beaya baik dari sumbangan umat, stipendium, dan sisa tabungan dari warisan éyang dan bapak. Selain itu tampaknya saya ikut membuat Domus makin dikenal oleh banyak umat sehingga banyak kunjungan. Kegiatan-kegiatan pastoral mewujudkan impian saya mengembangkan Domus juga menjadi salah satu tempat pastoral kaum tua dan lansia. Banyak warga Katolik sungguh hadir sebagai relawan tak hanya untuk penyelenggaraan kegiatan-kegiatan tetapi juga untuk kesejahteraan para penghuni Domus. Dari sini muncul 8 orang ibu yang bisa menggerakkan 89 keluaraga untuk menyajikan menu makan sehari 3 kali. Muncul pula relawan-relawan yang saya sebut relawan harian, relawan even, dan relawan momental. Tanpa mengesampingkan banyak nama, saya memang menghadirkan nama Bu Titik Waluyanti dan Bu Rini Kusparwati. Keduanya memang menjadi bagian para relawan sejak Domus Pacis Puren. Keduanya amat aktif memperhatikan, mempedulikan, dan terlibat dalam kebutuhan Domus Pacis. Keduanya tetap menjadi bagian kehidupan Domus Pacis hingga kini di Domus Santo Petrus. Hingga kini keduanya selalu terlibat dalam kebutuhan konsumsi seperti snak harian dan perayaan hajatan Domus. Usaha dana juga melibatkan 2 orang ibu ini. Tetapi di Domus Pacis sejak Puren hingga Santo Petrus, saya setiap hari memiliki kebiasaan bermedsos dengan tayangan Renungan Harian, Orang Kudus, Historia Domus atau Pastoral Ketuaan. Bahwa saya memiliki kemampuan ber-HP dan ber-Laptop, hal ini adalah hasil pelatihan dari Tuhan Yesus lewat Rm. Agoeng ketika masih di Domus Pacis Puren. Tuhan Yesus juga memakai Mas Fallah, salah satu tenaga Domus, untuk membuatkan Tik Tok.

Sebenarnya kalau dicermati lebih dalam, saya menemukan amat banyak nama yang sungguh ikut menyertai saya. Sebagai aktivis Lingkungan dan Paroki, gerakan-gerakan semasa calon imam, karya pastoral di Paroki Maria Assumpta Klaten, Paroki Santa Theresia Salam, masa berkantor di Magelang, berkantor di Muntilan, hingga di Domus Pacis, saya yakin bisa menemukan amat banyak nama. Bahwa dalam tulisan di atas hanya muncul nama-nama tertentu, hal itu tentu sesuai dengan prinsip penelusuran saya masa kini dan di sini. Orang dalam “masa kini dan di sini” kalau mengingat masa lalunya akan selalu diwarnai oleh apa yang bermakna secara kongkret di-“masa kini dan di sini”-nya. “Masa kini” saya adalah masa usia lansia dan sudah bebas dinas dari Keuskupan. “Di sini” saya ada di Domus Pacis Santo Petrus dengan keterlibatan saya ikut penghidupan Komunitas Rama Sepuh Keuskupan Agung Semarang dengan segala kondisinya. Maka kalau di antara pembaca tahu nama-nama lain yang berperan dalam hidup saya atau bahkan ikut sendiri menjadi penyerta saya, saya hanya bisa mohon maaf. Yang jelas, di samping nama-nama yang saya sajikan, amat banyak umat atau siapapun yang menjadi raga Tuhan Yesus Kristus menyertai saya sebagai salah satu murid-Nya yang ikut mewartakan kabar sukacita.

Domus Pacis Santo Petrus, 17 Februari 2026

Santo Porphyrius

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 28 Juli 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014 Hits: 9854

  • Perayaan
    26 Februari
  •  
  • Lahir
    Hidup pada abad ke-5
  •  
  • Kota asal
    Tesalonika - Yunani
  •  
  • Wafat
  •  
  • Tahun 420 | Oleh sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Porphyrius dilahirkan pada abad kelima dalam keluarga bangsawan yang kaya. Ia meninggalkan keluarganya ketika ia berusia duapuluh lima tahun. Porphyrius pergi ke Mesir untuk menggabungkan diri dalam sebuah pertapaan. Setelah lima tahun, ia mengadakan perjalanan ke Yerusalem. Ia ingin mengunjungi tempat-tempat di mana Yesus pernah berada semasa hidup-Nya di dunia.

Porphyrius amat terkesan dengan Tanah Suci. Kasihnya kepada Yesus membuatnya semakin sadar akan penderitaan kaum miskin. Di rumahnya di Tesalonika, ia tak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi miskin. Ia masih memiliki segala yang diwariskan orangtuanya kepadanya, tapi tidak untuk jangka waktu yang lama. Ia meminta temannya - Markus - untuk pergi ke Tesalonika dan menjual segala harta miliknya. Setelah tiga bulan, Markus kembali dengan uang. Porphyrius lalu membagi-bagikannya kepada mereka yang sungguh membutuhkannya.

Pada usia empatpuluh tahun Porphyrius ditahbiskan sebagai imam dan kepadanya diberikan tanggung jawab untuk memelihara relikwi Salib asli Yesus. Porphyrius selanjutnya ditahbiskan sebagai Uskup Gaza. Ia bekerja giat untuk menghantar banyak orang percaya kepada Yesus dan menerima iman. Tetapi, kerja kerasnya menghasilkan buah amat lambat dan membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Mayoritas penduduk pada waktu itu bertaut pada praktek-praktek kafir dan takhayul.

Meski Porphyrius dapat mengakhiri banyak dari praktek-praktek ini, ia juga mendapat banyak musuh yang membuatnya banyak menderita. Yang lain, yang adalah umat Kristiani, amat mengasihi dan mengagumi Porphyrius. Mereka berdoa dan bermatiraga untuknya. Mereka memohon Tuhan untuk menjaga dan melindunginya. Uskup Porphyrius menghabiskan bertahun-tahun lamanya guna memperkuat komunitas Kristiani di Palestina. Ia memaklumkan dengan tegas segala yang diyakini teguh umat Kristiani. St. Porphyrius wafat pada tahun 420.

Lamunan Pekan Prapaskah I

Kamis, 26 Februari 2026

Matius 7:7-12

7 "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. 8 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. 9 Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, 10 atau memberi ular, jika ia meminta ikan? 11 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."

12 "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. 

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, orang bisa yakin menjadi sungguh beriman kalau hidup sesuai dengan ajaran agama. Agama selalu mengajarkan hidup dekat dengan Tuhan.
  • Tampaknya, orang akan berjuang memahami ajaran-ajaran agama baik dari Kitab Suci maupun pegangan-pegangan turunannya agar jelas apa yang harus dijalani. Agamawan tahu bahwa agama tak hanya untuk dimengerti tetapi juga untuk dijalani.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun berbagai ajaran agama bisa menjadi pegangan untuk menjadi pelaku kebaikan iman, sejatinya dengan sadar akan harapan mendalam dalam relung hati akan kebaikan dari orang lain untuk dirinya, itulah rangkuman semua ajaran agama yang harus dijalani. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang menemukan intisari semua ajaran agama dalam relung hati yang berisi kerinduan mendalam memperoleh kebahagiaan dari siapapun yang harus dilakukan untuk siapapun.

Ah, asal sudah doa dan ibadat jelas orang sudah baik.

Lamunan Pekan Prapaskah I

Sabtu, 28 Februari 2026 Matius 5:43-48 43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. 44 Tetapi Aku b...