Ibu-ibu Paroki Muntilan meminta saya mengisi rekoleksi
pada Senin 9 Maret 2026. Tema yang dikirim tertulis lewat WA adalah Melayani
Dengan Hati Maria, Bekerja Dengan Semangat Marta. Ini tentu berkaitan Maria
dan Marta yang punya saudara bernama Lazarus. Mereka tinggal di Betania dan
punya hubungan dekat dengan Tuhan Yesus Kristus. Berkaitan dengan tema
pertemuan, saya membuka Injil Lukas 10:38-42 :
38
Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah
kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di
rumahnya. 39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria
ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan
perkataan-Nya, 40 sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan
berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku
melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." 41 Tetapi Tuhan
menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan
menyusahkan diri dengan banyak perkara, 42 tetapi hanya satu saja yang perlu:
Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari
padanya."
Semua Dekat Tuhan Yesus Lhooo
Kalau tak hati-hati kita bisa mempertentangkan Marta
dan Maria. Kita bisa menganggap Marta mengutamakan kegiatan duniawi dan Maria
mengutakan hidup rohani. Kita bisa menilai berdasarkan Marta yang sibuk
menyiapkan jamuan dan Maria yang tekun mendengarkan sabda Tuhan Yesus. Yang
jelas, kalau kita membuka-buka Kitab Suci, kita juga akan menemukan bagaimana
Marta juga amat mengandalkan Tuhan Yesus. Coba kita perhatikan bagaimana
keduanya sama-sama dekat Tuhan Yesus ketika berhadapan dengan kematian Lazarus
saudaranya dalam Injil Yohanes 11:1-36 :
1
Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung
Maria dan adiknya Marta. 2 Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki
Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya. 3 Dan Lazarus yang
sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus:
"Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit." 4 Ketika Yesus mendengar
kabar itu, Ia berkata: "Penyakit itu tidak akan membawa kematian,
tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu
Anak Allah akan dimuliakan." 5 Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya
dan Lazarus. 6 Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja
tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada; 7 tetapi sesudah itu Ia
berkata kepada murid-murid-Nya: "Mari kita kembali lagi ke
Yudea." 8 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Rabi, baru-baru ini
orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke
sana?" 9 Jawab Yesus: "Bukankah ada dua belas jam dalam satu
hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia
melihat terang dunia ini. 10 Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari,
kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya." 11 Demikianlah
perkataan-Nya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: "Lazarus,
saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia
dari tidurnya." 12 Maka kata murid-murid itu kepada-Nya: "Tuhan,
jikalau ia tertidur, ia akan sembuh." 13 Tetapi maksud Yesus ialah
tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang
tertidur dalam arti biasa. 14 Karena itu Yesus berkata dengan
terus terang: "Lazarus sudah mati; 15 tetapi syukurlah Aku tidak
hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat
belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya." 16 Lalu Tomas, yang
disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain:
"Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia." 17 Maka
ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring
di dalam kubur. 18 Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira
dua mil jauhnya. 19 Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan
Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. 20 Ketika
Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria
tinggal di rumah. 21 Maka kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya
Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. 22 Tetapi sekarangpun aku tahu,
bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya."
23 Kata Yesus kepada Marta: "Saudaramu akan bangkit." 24 Kata
Marta kepada-Nya: "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang
bangkit pada akhir zaman." 25 Jawab
Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup;
barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah
mati, 26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku,
tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal
ini?" 27 Jawab Marta: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah
Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia." 28 Dan sesudah
berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya:
"Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau." 29 Mendengar
itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus. 30 Tetapi waktu itu
Yesus belum sampai ke dalam kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta
menjumpai Dia. 31 Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di
rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke
luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur
untuk meratap di situ. 32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat
Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: "Tuhan,
sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati." 33 Ketika Yesus
melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama
dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan
berkata: 34 "Di manakah dia kamu baringkan." Jawab mereka:
"Tuhan, marilah dan lihatlah!" 35 Maka menangislah Yesus.
36 Kata orang-orang Yahudi: "Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!"
Dari paparan Injil Yohanes itu kita bisa tahu bahwa
baik Marta maupun Maria sama-sama sungguh beriman kepada Tuhan Yesus. Keduanya
percaya bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dan hidup. Bahkan sekeluarga bersama
Lazarus sama-sama mengalami kasih Kristus.
Ora et Labora
Bagi mereka yang kerap omong sikap kerohanian,
tampilnya Marta dan Maria sering dikatakan sajian 2 model penghayatan iman.
Santa Marta kerap dijadikan model orang yang menekankan aktivitas, dan Maria
menekankan model kontemplatif yang banyak hidup dalam keheningan seperti
pertapa. Ketika saya merenungkannya, saya bertanya apakah yang banyak aktivitas
kadar renung heningnya minim? Sebaliknya, apakah yang hidup dalam lingkungan
renung hening seperti pertapaan adalah orang-orang kurang ativitas?
Dalam menimbang-nimbang pertanyaan itu, saya teringat
salah satu semboyan hidup dalam menghayati kekatolikan. Yaitu Ora et Labora
(Berdoa dan Bekerja). Ini adalah semboyan yang berasal dari Santo Benediktus di
abad V yang menghidupi dan mengembangkan model pertapaan. Yosef MLHello dalam
judul Mengenal Tradisi Ora et Labora dalam Bingkai Kehidupan Manusia yang saya
ketemukan dalam https://www.kompasiana.com mengatakan :
Bagi
Benediktus, kata 'labora' digunakan untuk mengungkapkan 'kerja tangan' atau
'opus manual'. Dalam 'opus manual', kerja mendapatkan arti atau makna
baru yang berarti berdoa, meditasi, membaca dan bekerja.
Dengan
kata lain, tidak ada lagi pemisahan antara bekerja di satu pihak dengan berdoa
di pihak lain, sehingga keduanya seharusnya dilakukan bersamaan.
Dari satu sisi kesejatian manusia adalah ciptaan Allah
sehingga harus menjaga keeratan dengan-Nya lewat doa. Sementara itu tidak
seperti hewan yang hanya hidup sesuai apapun yang disediakan oleh alam, manusia
sungguh manusiawi kalau bekerja. Berkaitan dengan tokoh Marta dan Maria dalam
pembicaraan ini, saya tak akan mengulas satu per satu riwayat hidupnya. Kalau
ada yang yang menyoalkan apakah Maria saudari Marta sama dengan Maria Magdalena
atau tidak, saya tak akan membicarakan. Bagi saya keduanya masuk dalam kalangan
para perempuan yang biasa mengikuti Tuhan Yesus dan melayani Tuhan dan para
rasul sebagaimana dikatakan oleh Santo Lukas bahwa “beberapa orang perempuan
yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria
yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana
isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan
lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.”
(Luk 8:2-3) Marta dan Maria termasuk yang ikut aktif bersama Yesus dan para
murid bahkan ikut ambil bagian dalam pembeayaan kegiatan. Bahkan Maria dan
Marta sama-sama biasa jadi pendoa khusus dan di ketuaannya menjadi pendoa
khusus. Saya menemukan ini dalam katakombe.org/para-kudus. Untuk Santa Maria
Magdalena yang peringatannya pada tanggal 22 Juli ada catatan “Tradisi
Perancis mengatakan bahwa Maria, Lazarus, dan
beberapa sahabat Yesus datang ke Marseilles,
Prancis, menginjili dan mengkristenan seluruh
wilayah Provence, dan kemudian menyepi dan
hidup sebagai pertapa sampai saat kematiannya di
La Sainte-Baume.” Sedang untuk Santa Marta yang peringatannya 29 Juli “Salah satu yang paling populer
adalah Legenda tentang makam St. Martha si Tarascon Perancis. Dikatakan bahwa
Marta meninggalkan Yudea dan pergi ke Tarascon, Prancis. Ia melalui
hari-harinya di desa tersebut dengan berdoa dan berpuasa sampai pada akhir
hidupnya. Masih menurut legenda; Marta meninggal di Tarascon, dan dimakamkan di
ruang bawah tanah Gereja Collegiate di Tarascon.” Baik Maria maupun Marta sama-sama aktif menjadi
pewarta iman dalam hidupnya. Mereka pasti juga selalu olah rohani sehingga di
usia tuanya bisa hidup dalam kesendirian tak lepas dari kemesraan dengan Tuhan.
Bersama Tuhan di Tengah Dunia
Pada hemat saya untuk menjaga dan mengembangkan diri
sebagai manusia sejati adalah menjaga kesadaran dan penghayatan untuk tetap
bersama Tuhan di tengah-tengah kesibukan duniawi. Bukankah Tuhan Yesus pernah
meminta Allah Bapa untuk para murid-Nya “Aku tidak meminta, supaya Engkau
mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada
yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.
Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran. Sama seperti
Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus
mereka ke dalam dunia” (Yoh 17:15-18). Ini bisa terjadi kalau kita selalu
memelihara dan mengembangkan iman. Saya biasa berpegang pada rumusan dalam Arah
Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang (Ardas KAS) 1996-2000 yang mengatakan
bahwa “Beriman berarti semakin mengikuti Tuhan Yesus Kristus dalam perkembangan
situasi hidup dan budaya setempat”. Di sini saya mengetengahkan pengalaman yang
merupakan derap batin terhadap 3 hal : sadar realita, sadar pegangan iman, rela
dalam bertindak. Semua ini dijalani dengan pembiasaan sambung hatin dengan
Tuhan dalam hati. Kalau saya biasa sambung dengan yang ada dalam hati, sadar
atau tidak sadar saya jumpa Tuhan. Bukankah Santo Paulus berkata “tidak tahukah
kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang
diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah” (1Kor 6:19). Untuk
menemukan kesadaran akan realita dan pegangan iman serta rela dalam bertindak,
dalam olahan batin saya amat diwarnai pola budaya Jawa yang tertanam secara
alami dalam diri saya sejak bayi.
Sadar realita
Bagi saya kesadaran akan realita tidak sekedar tahu
kenyataan hidup yang saya hadapi. Tetapi itu harus menjadi kerelaan dan
penerimaan serta kenyamanan berada di tengah-tengahnya. Saya meyakini ini
sebagai upaya batin untuk bisa rila, nrima, dan sabar
berhadapan dengan realita. Proses upaya batin ini bisa terjadi kalau selalu
berjuang untuk selalu menjadikan segalanya dialog dengan Tuhan dalam hati. Bagi
saya ini adalah model kerohanian Bunda Maria yang “menyimpan segala perkara itu
di dalam hatinya dan merenungkannya” (Luk 2:19).
- Rila. Kata rila dalam bahasa Jawa berarti
membiarkan yang ada sesuai adanya. Kalau yang ada itu menyenangkan atau cocok
dengan diri, tentu saja itu tak akan menjadi soal. Yang jadi soal kalau adalah
kalau saya tidak suka bahkan bisa sungguh tidak menghadirkan kenyamanan apalagi
kalau sampai memuakkan. Bagi saya dalam hal inilah masuk dalam relung hati
menjadi tuntutan. Kalau hal yang tak menghadirkan rasa nyaman itu mewarnai hari
hari saya, saya memanfaatkan saat kesendirian untuk diam mengomongkan dengan
Tuhan secara jujur dalam relung hati. Kalau rasa negatif itu muncul di tengah
mengikuti acara atau di tengah jumpa orang atau di tengah kesibukan, saya akan
langsung omong singkat dengan kata-kata seperti mengirim WA singkat kepada
Tuhan di dalam hati. Bisa juga di tengah suasana seperti itu dalam hati saya
hanya menyebut “Gusti .... Gusti” (Tuhan .... Tuhan) berkali-kali. Dalam
pengalaman saya, itu sungguh membuat saya menemukan rasa tidak terganggu.
Memang, dalam hal kecil yang mengganggu saya bisa menemukan rasa enak bisa
dalam sesaat atau beberapa jam atau sehari. Tetapi dalam hal besar ketenangan
batin bisa terjapai bisa berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Saya yakin
itu semua sesuai dengan proses keterbukaan saya terhadap karya Roh dalam hati
saya. Sepanjang waktu berapa lamapun, dengan terbuka pada bimbingan Roh Kudus
dalam hati, saya akan mengalami ketenangan batin berhadapan dengan yang tidak
saya cocoki. Paling tidak yang tidak saya cocoki tidak akan menghadirkan trauma
batin.
- Nrima. Kalau orang sudah punya sikap batin tenang
membiarkan yang dihadapi, yang sebenarnya tidak dicocoki, ada sesuai adanya,
sikap rila akan berkembang ke sikap nrima, yaitu bisa menerima
dengan ikhlas apa yang sebenarnya tidak cocok bahkan berseberangan. Sikap nrima
sebenarnya merupakan buah sikap batin tenang dari sikap rila.
- Sabar. Sabar dalam sikap hidup orang Jawa sebenarnya
adalah toleransi. Puncak kemampuan bersikap rila dan nrima
membuat orang bisa berdampingan dan ada bersama dengan yang tidak dicocoki.
Orang bisa tetap tidak cocok bahkan tidak setuju, tetapi bisa tidak terganggu
kenyamanannya ada bersamanya.
Sadar pegangan iman
Ketika akan memulai permenungan tentang kesadaran
pegangan iman, hati saya tersentak akan kesadaran bahwa yang kini saya sajikan
adalah derap penghayatan iman secara pribadi. Sedang proses sesudah sadar akan
pengalaman akan realita kemudian diteruskan ke terang iman seperti Kitab Suci
atau ajaran Gereja atau hal-hal lain disekitar dokumen Gereja, itu terjadi
dalam proses pendampingan. Ada kelompok berkumpul dengan didampingi seorang
pemandu. Dalam proses bisa terjadi refleksi pengalaman, analisis, menemukan
terang iman, dan diakhiri dengan apa yang direncanakan akan dibuat. Proses
seperti ini juga bisa terjadi secara pribadi bagi yang mengadakan olah rohani
khusus seperti retret. Meskipun demikian, sekedar sharing untuk pengetahuan,
saya akan menyampaikan beberapa pokok yang barangkali bisa bermanfaat untuk
cakrawala pegangan menghayati realita hidup dengan terang iman.
- Hening. Santa Theresa dari Kalkuta amat menekankan
keheningan sebagai poros segala kegiatan untuk menjaga orang selalu ada dalam
area kekudusan. Secara garis besar Santa Theresa yakin bahwa dengan hening
orang berdoa, dengan doa orang beriman, dengan iman orang mengasihi, dengan
kasih orang melayani, dan dalam melayani orang mengalami kedamaian batin dalam
keheningannya. Bagi saya secara singkat keheningan dicapai kalau kita
membiasakan diri membawa segalanya menjadi dialog batin, singkat atau leluasa,
dalam relung hati. Seperti Bunda Maria, kita membiasakan diri memasukkan
segalanya dalam hati dan merenungkannya entah sesaat entah leluasa. Dengan
membiasakan intim dengan relung hati sadar atau tak sadar orang akan merasakan
cahaya ilahi yang menjaga keberimanan hidup. Sebenarnya ketika berhadapan
dengan realita, kalau sudah biasa menjaga keheningan hati, sikap rila
akan cepat tercapai sehingga mudah untuk nrima dan sabar. Bahkan
kebiasaan hening batin akan memudahkan orang bisa langsung nrima dan sabar
ketika berhadapan dengan realita yang sebenarnya tidak dicocoki.
- Ingat
butir iman. Dengan biasa
mengikuti kegiatan keagamaan, paling tidak dengan ikut Misa Mingguan, orang
bisa memetik ajaran iman sekecil apapun. Itu bisa berasal dari homili ataupun
omongan lain misalnya dalam kumpulan pendalaman iman atau Kitab Suci. Bahkan
dari omong-omong baik serius maupun sembronoan, orang bisa menemukan hal baik.
Bukankah segala yang baik berasal dari Allah. Ingat segala yang diciptakan
Allah selalu baik (bandingkan Kej 1:3-25). Bahkan Tuhan Yesus mengatakan bahwa
“Hanya Satu yang baik” (Mat 19:17). Karena kata “Satu” dengan “S” huruf besar,
saya yakin itu adalah Allah. Dengan ingat butir iman, baik itu hal baik ataupun
dari yang secara jelas khasanah keagamaan, orang bisa mendapatkan terang iman
dari realita yang dihadapi. Kalau orang sudah oke dengan realita yang dihadapi,
butir iman bisa mengukuhkannya atau bahkan menghadirkan cakrawala baik lainnya.
- Baca
Kitab Suci. Kitab Suci adalah
dasar dalam penghayatan iman. Semua ajaran dan tatanan dalam kehidupan Gereja
diturunkan dari semangat dasar pesan iman dalam Kitab Suci. Maka pembiasaan
membaca Kitab Suci akan membuat orang mengakrabkan diri dengan apa yang
dijadikan pegangan utama para rasul dan umat perdana. Tentu saja hal-hal yang
tertangkap oleh pikiran atau perasaan atau kehendak dalam membaca harus menjadi
bahan dialog batin dengan relung hati. Saya sendiri dalam keseharian hanya
biasa membaca Kitab Suci bagian Injil yang menjadi bacaan Misa Harian. Tetapi
keterbatasan saya kerap menghadirkan ingatan kata-kata iman ketika berhadapan
dengan realita harian.
Tindakan iman
Ketika menyampaikan khotbah di bukit untuk massa
pengikut (Mat 5-7), Tuhan Yesus menutup dengan kata-kata berikut :
"Setiap
orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang
yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah
hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu
tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar
perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang
mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah
banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah
kerusakannya."
Kalau tak hati-hati orang bisa puas karena bisa
menjalani agama dengan segala kebiasaan keagamaannya. Kalau tak hati-hati orang
bisa bangga karena memiliki berbagai pengetahuan Kitab Suci dan ajaran-ajaran
serta tatanan dalam Gereja. Orang bisa mantap ketika mampu menyebut Tuhan
dengan dukungan pemahaman akan Dia. Di sinilah Tuhan Yesus berkata “Bukan
setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan
Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di
sorga” (Mat 7:21). Dengan menjalani kehendak Allah kita akan ikut Allah tak
hanya terbatas pada kegiatan lahiriah keagamaan. Di sini kita bisa ingat
kata-kata Tuhan “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari
pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu
tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat 5:20).
Perbuatan lahiriah yang menjadi wujud hati bersekutu
dengan Allah sungguh menjadi tuntutan. Sebagai tuntutan iman tindakan kongkret
beriman bisa disebut pertobatan. Hal ini menjadi amanat pertama Tuhan Yesus
ketika tampil pertama di hadapan publik, yaitu “Bertobatlah dan percayalah kepada
Injil!” (Mrk 1:15) Di dalam kehidupan umat Katolik, iman kepada Injil berarti
iman kepada peristiwa Paskah, yaitu kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian.
Inilah dasar segala kehidupan beriman kepada Tuhan Yesus Kristus. Begitu besar
dan luhur serta bermaknanya peristiwa Paskah, untuk merayakan Hari Paskah umat
Katolik mengenal Masa Prapaskah, sebagai masa pembaruan dan pengembangan sikap
tobat, yaitu hidup berkiblat kepada Allah berdasarkan keyakinan akan
kebangkitan Kristus. Sebagai tanda tobat Katekismus Gereja Katolik
menyatakan “Tobat batin seorang Kristen dapat dinyatakan dalam
cara yang sangat berbeda-beda. Kitab Suci dan para Bapa Gereja berbicara
terutama tentang tiga bentuk: puasa, doa, dan memberi sedekah sebagai pernyataan
pertobatan terhadap diri sendiri, terhadap Allah, dan terhadap sesama.” (1434)
- Tobat
terhadap diri sendiri. Ini
berkaitan dengan puasa sebagai salah satu kewajiban keagamaan. Tindakan
berpuasa selalu berkaitan dengan pengurangan kenyaman tubuh. Tetapi demi
kenyamanan sejati tubuh dalam situasi kondisi kongkret orang harus berhadapan
dengan mengikuti selera bahkan keenakan sesaat. Katanya, puasa tak makan dan
tak minum selama sehari bisa membuat metabolisme tubuh membaik. Saya jadi ingat
ada yang setiap hari hanya makan sore dan seharian hanya minum. Pada
tahap-tahap pertama dia biasa mengeluh. Tetapi kini tubuhnya jadi segar dan tidak
gembrot seperti sebelum terapi model makan sekali sehari. Saya sendiri biasa
jauh dari makan nasi dan bahan makan yang mengandung karbo. Itu saya jalani
sejak Januari 2012 karena diabetes. Saya kini biasa makan sayuran. Padahal
sebelumnya saya tak suka segala sayuran. Sebetulnya hingga kini saya tak bisa
menikmati sayuran. Sebenarnya yang saya sukai bakmi, gudeg, dan nasi goreng.
Tetapi segala tindakan pantang kuliner demi tubuh sungguh membuat badan terasa
nyaman dan segar. Di dalam permenungan saya menyadari bahwa tubuh manusia
adalah tampilan lahiriah duniawi manusia, yang sebetulnya diciptakan sebagai
gambaran Allah (bandingkan Kej 1:26). Dengan demikian puasa dan pantang menjadi
jalan menghayati dan menyadari diri sebagai gambaran Allah. Dengan kesegaran
fisik saya bisa menghayati sendiri kegembiraan Injili atau sukacita ilahi.
Maka, dalam pewartaan Injil atau sukacita ilahi saya punya landasan bisa
berbuat untuk diri saya sendiri dalam menghayati Injil.
- Tobat
terhadap Allah. Kewajiban
keagamaan lain adalah berdoa. Dalam hal ini ada tingkat-tingkatan doa, yaitu
doa lisan, doa renung, dan doa batin. Doa lisan menekankan ucapan-ucapan
termasuk yang menjadi tradisi doa, ibadat, dan devosi dalam Gereja. Tetapi
kalau hanya sampai pada pengucapan, itu bisa tidak bermakna kalau tidak pernah
dimasukkan dalam hati dan direnungkan. Barangkali yang masuk dalam renungan
hanya sedikit. Tetapi yang sedikit itu akan memiliki daya besar dalam
penghayatan iman. Bukankah iman sebiji sesawi bisa membuat orang bisa memindah
gunung? Itulah ibarat yang dikatakan oleh Tuhan Yesus. Doa sungguh membuat
hidup berbinar kalau menjadi pengalaman batin yang membuat orang mesra dengan
Allah dalam relung hati sadar atau tidak sadar.
- Tobat
terhadap sesama. Ini adalah
amalan atau pewujudan iman, yaitu benjadi bentuk ikut Tuhan di tengah kehidupan
bersama. Bukankah hukum utama orang yang ikut Tuhan Yesus adalah mencintai
Tuhan Allah dan mencintai sesama seperti diri sendiri. Perbuatan iman ini
mencakup baik dalam keluarga, di tengah pekerjaan, dan pergaulan lainnya.
Dengan paparan kisah orang Samaria yang menolong orang Yahudi yang dianiaya
oleh penyamun (lihat Luk 10:25-37), itu menunjukkan bahwa tindakan baik orang
yang ikut Tuhan Yesus untuk sesama tak boleh dibatasi oleh perbedaan SARA
(suku, agama, ras, dan antar golongan). Pegangannya adalah yang dikatakan oleh
Tuhan Yesus “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang
dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat
25:40). Inilah latarbelakang mengapa dalam perjuangan menyejahterakan sesama
Keuskupan Agung Semarang mengutamakan KLMTD (kecil, lemah, miskin, tersingkir,
dan difabel).
Bukan Proses Sistematis
Olah rohani model Maria-Marta bukanlah tindakan
sistematis dengan tahap-tahapan didasarkan pemikiran-pemikiran teoritis. Memang
dalam kegiatan bersama seperti retret dan bimbingan bersama, pemandu akan
mendampingi dengan langkah-langkah sistematis. Namun untuk olah rohani pribadi
ini bisa terjadi secara spontan sesaat dan kalau dalam kesempatan leluasa
seperti akan dan bangun tidur bisa terjadi seperti lamunan. Tetapi satu hal
yang pada hemat saya amat penting adalah pembiasaan diri kontak dengan relung
hati. Tentu saja untuk kontak batin dengan hati kita harus meneng atau
diam. Diam sesaat di tengah kegiatan sudah cukup untuk omong singkat dengan
hati. Pembiasaan seperti ini sungguh membuat kita punya keheningan yang tak
akan merasa gelisah berhadapan dengan realita apapun. Keheningan bisa
menghadirkan butir iman secara spontan. Dari sini kita akan mudah untuk hidup
bersama siapapun dan berbuat demi kebaikan umum. Dalam kondisi diam pun kita
bisa hadir ikut jadi terang yang menyenangkan dalam kebersamaan.
Domus Pacis Santo
Petrus, 3 Maret 2026