Monday, March 9, 2026

Omongan Domus Pacis di Belakang Seminari Tinggi

Dalam makan siang Selasa 10 Maret 2026 di rumah para rama sepuh Domus Pacis Santo Petrus, terjadi omongan yang menunjukkan bahwa Domus Pacis bukanlah hal yang jelas diketahui oleh sementara warga Keuskupan Agung Semarang. Rm. Andika, Direktur Domus, pernah ditanya temannya dari Ungaran "Kowe saiki neng ngendi?" (Di mana kamu kini berguhas?). Ketika Rm. Andika menjawab bahwa beliau kini di Domus Pacis, temannya bertanya "Ngendi kuwi?" (Di mana itu?). Rm. Andika menjelaskan bahwa Domus Pacis Santo Petrus berada di belakang gedung Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan. Tetapi temannya langhsung berkata "Lho, mburi Seminari ki lapangan bal-balan" (Belakarng Seminari itu adalah lapangan sepak bola). Pada saat Rm. Andika bertanya "Kapan kowe neng Seminari?" (Kapan kamu di Seminari Tinggi?), ternyata temannya mengatakan "Tahun 1995". Pengetahuan teman itu memang tidak slah. Duluuuu .....

Sementara itu Rm. Bambang bercerita pengalaman baru saja pada 9 Maret 2026. Pada sore hari dia diundang Ibu-ibu Paroki Muntilan. Dia sampai di kompelks Pastoran Muntilan cukup awal. Ketika menuju aula tempat pertemuan, Rm. Bambang berjumpa Rm. Thomas Sarju Munarsa SY. Pertemuan itu sungguh amat mengesankan sekali dan Rm. Sarju tampak amat bergembira. Kepada ibu-ibu beliau bilang "Rama Bambang ki biyen aspriku neng Seminari Menengah Mertoyudan" (Rm. Bambang dulu adalah asisten pribadiku di Seminari Mertoyudan). Pada tahun 1977 Rm. Bambang, ketika menjalani Tahun Orientasi Pastoral sebagai calon imam, memang di Seminari Meroyudan bersama Rm. Sarju yang sudah seorang imam. Keduanya dulu amat akrab mengadakan gerakan-gerakan di Seminari. Ketika Rm. Sarju bertanya di mana kini Rm. Bambang tinggal, Rm. Bambang menjawab "Teng Domus Pacis Kentungan" yang membuat Rm. Sarju bertanya "Nggon apa kuwi?" (Itu tempat apa?). Rm. Bambang menjawab "Niku Emause rama-rama praja Keuskupan Agung Semarang" (Itu seperti Emaus tempat rama sepuh Yesuit yang diperuntukkan bagi para rama praja sepuh Keuskupan Agung Semarang). Ketika ditanya lokasinya, Rm. Bambang menunjuk di belakang Seminari. Rm. Sarju langsung berkata "Mburi Seminari ki kuburan" (Belakang Seminari Tinggi itu makam). Ketika dijawab "Depan kuburan" Rm. Sarju bingung depan itu arah mana. Maklumlah bangunan Seminari termasuk Fakultas Teologi bisa membuat orang bingung menghadap ke mana. Akhirnya Rm. Sarju baru tampak jelas ketika Rm. Bambang berkata "Gedung Domus berada di sebelah utara makam".

Santo Paus Simplisius

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 03 Agustus 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014 Hits: 12004

  • Perayaan
    10 Maret
  •  
  • Lahir
    Hidup pada Abad ke-5
  •  
  • Kota asal
    Tivoli, Italy
  •  
  • Wafat
  •  
  • 10 Maret 483 | Oleh sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Simplisius dipilih menjadi paus pada tahun 468. Terkadang, tampak baginya, ia sama sekali sendirian dalam upaya meluruskan kejahatan yang merajalela. Para penakluk telah mengambil alih wilayah yang luas. Bahkan Roma sendiri telah diduduki oleh penyerang.

Penduduk kelaparan dan miskin. Mereka telah dibebani pajak yang berat dan dirampok oleh para pejabat Romawi sebelumnya. Kemiskinan berkuasa di jalan-jalan dan menghalau segala sukacita. Para penakluk yang baru setidak-tidaknya tidak membebani mereka dengan pajak. Paus Simplisius mengusahakan segala daya upaya guna mengangkat taraf hidup masyarakat dan berkarya demi kebaikan mereka. Ia senantiasa ada di sana bagi mereka, tak peduli betapa kecil upaya yang dirasa dilakukannya. Dan sebab ia seorang yang kudus, ia tak pernah menyerah. Lebih dari sekedar perkataan, ia mengajar melalui teladan hidupnya yang kudus.

St. Simplisius harus banyak menderita sebagai seorang paus karena suatu alasan lain juga. Sebagian dari umat Kristianinya sendiri bersikukuh berpegang pada pendapat-pendapat mereka yang salah. Lalu, dengan pilu hati, St. Simplisius harus mengekskomunikasi mereka. Ia meluruskan mereka yang berbuat salah dengan kelemah-lembutan dan kerendahan hati. Simplisius melayani sebagai paus selama limabelas tahun dan sebelas bulan. Kemudian Tuhan memanggilnya untuk menerima ganjaran atas kerja kerasnya. St. Simplisius wafat pada tahun 483 dan dimakamkan di Basilika St. Petrus di Roma.

Lamunan Pekan Prapaskah III

Selasa, 10 Maret 2026

Matius 18:21-35

21 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" 22 Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. 23 Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. 24 Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. 25 Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. 26 Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. 27 Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. 28 Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! 29 Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. 30 Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. 31 Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. 32 Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. 33 Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? 34 Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. 35 Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, dalam hidup keagamaan ada gambaran tentang neraka dengan istilah apapun. Itu tempat siksa kekal bagi kaum pendosa.
  • Tampaknya, neraka biasa dipahami sebagai muara kaum jahat dan pendosa. Tentu saja dosa dan kejahatan itu terjadi pada orang yang masih di dunia.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun setiap dosa dan kejahatan terancam masuk neraka, kesejatian dosa yang membawa orang ke siksa kekal neraka adalah sikap dan tindakan orang yang tidak terbuka untuk mengampuni yang berdosa dan jahat kepadanya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar bahwa jiwa dan tindakan pengampun adalah pembersih dosa dan kejahatan apapun yang dilakukan seseorang.

Ah, pokoknya yang berdosa pasti masuk neraka.

Sunday, March 8, 2026

Mengenang 2 Tahun Wafat Rm. Joko Sistiyanto


Berbicara tentang almarhum Rm. Agustinus Joko Sistiyanto bagaimanapun juga harus dikaitkan dengan upaya penghidupan suasana rumah para rama sepuh yang bernama Domus Pacis. Beliau masuk Domus Pacis hanya terpaut 2 minggu sesudah Rm. Bambang pada Juli 2010. Pada waktu itu yang ditempati adalah Domus Pacis Puren, Pringwulung, dan belum terpikir bahwa akan ada Domus Pacis Santo Petrus di Kentungan. Rm. Jaka mendapatkan SK Keuskupan karena kondisi beberapa penyakitnya. Bersama Rm. Agoeng, salah satu pengurus Domus, dan Rm. Bambang, Rm. Joko terlibat ikut memulai gerakan penghidupan para rama Domus sebagai Komunitas. Rm. Joko terlibat dalam pengadaan hajatan pertama pada 21 Desember 2011 ketika para rama sepuh mengadakan ulang tahun imamat ke 40 almarhum Rm. Harjaya. Kebetulan saja pada waktu Pak Tukiran, karyawan Domus, sudah 26 tahun bekerja untuk para rama sepuh. Open House yang diisi dengan omongan tentang kelansiaan menjadi acara pertama yang membuat banyak umat hadir. Domus makin dikenal dan menjadi salah satu studi ketuaan yang mulai tahun 2013 dalam program Novena Ekaristi Seminar. Sajian makan dan snak yang tadinya biasa disajikan untuk para rama di kamar sendiri-sendiri, mulai Idul Fitri 2013 menjadi ajang jumpa serumah dalam makan bersama. 

Barangkali karena kondisi yang masih tampak segar dan masing bisa bermobil sendiri ke banyak tempat bahkan rutin ke Semarang untuk kontrol dan berobat di RS Elisabet, Rm. Joko pindah ke Bantul pada tahun 2017 menjadi pastor pembantu Paroki Bantul. Meskipun demikian, karena kondisi yang harus banyak terawasi penyakitnya, beliau pindah di Pastoran Pringwulung agar dekat dengan RS Panti Rapih. Ketika para rama Domus Pacis Puren dipindahkan ke Domus Pacis Santo Petrus pada 1 Juni 2021, sebulan kemudian Rm. Joko juga menyusul karena kondisi penyakitnya sudah membutuhkan pelayanan ekstra. Ternyata hampir 3 tahun kemudian pada Jumat Agung 29 Maret 2024, Rm. Joko menghadap Bapa di keabadian. Itulah sebabnya pada Jumat 6 April 2026 Domus Pacis mengadakan Peringatan Wafat Rm. Joko yang ke 2 tahun. Banyak anggota keluarga dari adik-adik dan kemenakan serta putra-putri almarhum datang ke Domus. Dari anggota keluarga lebih dari 40 orang ikut Misa yang dipimpin oleh Rm. Andika, Direktur Domus Pacis, diteruskan dengan santap malam bersama.

Santa Fransiska dari Roma

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 02 Agustus 2013 Diperbaharui: 23 Oktober 2020 Hits: 37033

  • Perayaan
    09 Maret
  •  
  • Lahir
    Tahun 1384
  •  
  • Kota asal
    Roma - Italia
  •  
  • Wafat
  •  
  • 9 Maret 1440 |
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Tahun 1608 oleh Paus Paulus V

Fransiska dilahirkan pada tahun 1384 dengan nama Francesca Bussa de’ Leoni. Orangtuanya, Paul Bussa dan Jacobella de' Roffredeschi, adalah bangsawan yang kaya raya, tetapi mereka mengajarkan pada Fransiska untuk menaruh perhatian pada sesama dan mengamalkan hidup Kristiani yang saleh. Ia adalah seorang gadis kecil yang cerdas.

Ketika usianya sebelas tahun, Fransiska memberitahukan kepada orangtuanya bahwa ia telah memutuskan untuk menjadi seorang biarawati. Namun, kedua orangtuanya malahan mendorong Fransiska untuk memikirkan hidup perkawinan. Seperti kebiasaan pada masa itu, mereka memilih seorang pemuda yang baik untuk menjadi suami Fransiska. Pemuda itu baru tigabelas tahun usianya.

Fransiska dan suaminya, Lorenzo Ponziano, saling jatuh cinta. Meski pernikahan mereka adalah karena perjodohan, mereka hidup bahagia dalam perkawinan selama empatpuluh tahun lamanya. Lorenzo mengagumi isterinya, dan juga saudari iparnya - Vannozza. Fransiska dan Vannozza berdoa setiap hari dan melakukan matiraga bagi Gereja Yesus, yang menghadapi banyak pencobaan pada masa itu. Kedua saudari ini juga mengunjungi mereka yang miskin dan merawat mereka yang sakit. Mereka membawakan makanan dan juga kayu bakar bagi orang-orang yang membutuhkannya. Para perempuan kaya lainnya terinspirasi oleh teladan kedua bersaudari ini untuk lebih memaknai hidup mereka pula. Sementara itu, Fransiska bertekun dalam doa. Ia semakin akrab bergaul dengan Yesus dan Maria dalam hidup sehari-hari.

Fransiska dan Lorenzo adalah orang-orang yang penuh belas kasih. Mereka tahu bagaimana rasanya menderita. Mereka kehilangan dua dari ketiga anak mereka karena wabah. Hal ini menjadikan mereka terlebih lagi peka terhadap kebutuhan mereka yang menderita. Semasa pertikaian antara paus yang sah dengan anti-paus, Lorenzo memimpin pasukan yang membela paus yang benar. Sementara ia pergi berperang, para musuh memusnahkan harta milik dan kekayaannya. Bahkan meski demikian, Fransiska membereskan satu bagian dari villa keluarga yang telah dirusak dan mempergunakannya sebagai rumah sakit. Hidup terasa berat bagi keluarganya, namun demikian orang-orang di jalanan jauh terlebih lagi membutuhkan pertolongan. Lorenzo terluka dan pulang ke rumah untuk dirawat oleh isterinya tercinta agar sehat kembali. Lorenzo wafat pada tahun 1438. Fransiska menghabiskan empat tahun sisa hidupnya dalam tarekat religius yang ia dirikan.

Santa Fransiska dari Roma wafat pada tanggal 9 Maret 1440. Ia dimaklumkan sebagai santa oleh Paus Paulus V pada tahun 1608. Pada pesta peringatannya, para imam biasa memberikan berkat pada mobil oleh sebab St. Fransiska dianggap sebagai pelindung mobil dan para pengemudi. Tentu saja St. Fransiska tidak pernah mengemudi, tetapi menurut kisah legenda, apabila ia pergi keluar pada malam hari, maka malaikat pelindung mendahuluinya menerangi jalan dengan sebuah lampu besar serupa lentera. Semasa hidupnya St. Fransiska mendiktekan 97 penglihatan, di mana ia melihat banyak siksa neraka.

Lamunan Pekan Prapaskah III

Senin, 9 Maret 2026

Lukas 4:24-30

24 Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. 25 Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. 26 Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. 27 Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu." 28 Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. 29 Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. 30 Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, orang yang beragama akan menjalani peribadatan. Bahkan ada yang diwajibkan beribadat bersama di rumah ibadat.
  • Tampaknya, dengan pergi beribadat di rumah ibadat orang bisa berkata pergi ke rumah Tuhan. Di situ orang yakin bisa mendatangkan ketenangan batin sehingga berbaikan dengan siapapun.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, sekali beribadat di rumah ibadat jadi jalan mengembangkan semangat persaudaraan, kalau tidak terbuka pada cakrawala ilahi yang berbeda dengan sudut pandangannya, orang justru bisa terbangkitkan sikap emosional dan bahkan bisa membuat tindakan anarkis. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar, kalau tak punya sikap terbuka pada bisikan nurani, suasana doa dan ibadatpun bisa jadi pemicu kebrutalan.

Ah, dengan beribadat orang akan menjadi alim.

Saturday, March 7, 2026

Misa Malam Paskah 2026 di Domus Pacis

Perayaan Malam Paskah 2026 memang masih besok tanggal 4 April. Tetapi untuk Domus Pacis itu menjadi peristiwa khusus yang membutuhkan persiapan cukup awal. Tentu saja intern Domus tak ada persiapan model Paroki seperti Kor dan latihan misdinar apalagi dengan membentuk panitia. Memang, pada Malam Paskah/Natal selalu juga ada Kor. Tetapi untuk Malam Paskah 4 April 2026 Kor akan disumbang oleh kelompok umat yang dipimpin oleh Bapak Loly dari Nologaten, Paroki Pringwulung.


Kekhususkan Perayaan Malam Paskah/Natal di Domus Pacis Santo Petrus adalah selalu ada makan malam untuk umat yang ikut bersama para rama dan karyawan sesudah Misa. Dalam hal ini pihak Domus harus tahu jumlah orang yang ikut bersama merayakannya. Inilah sebabnya siapapun warga Katolik bukan Domus harus mendaftarkan diri lebih dahulu. Yang mendaftar diminta menuliskan nama dan paroki asal dan dikirim lewat pesan WA ke HP Rm. Bambang no. 087-834-991-969. Untuk Perayaan Malam Paskah 4 April 2026 Domus Pacis sudah mulai menerima pendaftaran lewat pengumuman dalam medsos pada Sabtu tanggal 28 Februari 2026. Pengumuman akan ditutup besok Minggu tanggal 29 Maret 2026. Dalam Minggu pertama ini Rm. Bambang mencatat ada 42 orang pendaftar berikut ini :

  • Kevikepan Yogyakarta Timur (3 Paroki, 11 orang). Paroki Pringgolayan (1. Ibu Nani Han, 2. Chosa, 3. Pipit, 4. Ibu Mardi); Paroki Minomartani (1. Bapak Gunawan, 2. Ibu Mercy, 3. FA Sandy Mariatna, 4. Berilla S Surbakti), Paroki Kalasan (1. Wiwik Vasthi, 2. Yuniarti, 3. Arza)
  • Kevikepan Yogyakarta Barat (1 Paroki, 12 orang). Paroki Banteng (1. Bapak Sigit Sudarmadi, 2. Ibu Sigit, 3. Bp.Anton Soedjarwo, 4. Ibu.Kartika Kumala, 5. Ank. Erika Soedjarwo, 6. Romy Sulistiono, 7. Cucu Ivana Sulistiono, 8. Bapak Paulus Subiyanto, 9. Elleanora Gina C, 10. Ign BP Dian Krishna, 11. Bapak Unanto, 12. Ibu Septi)
  •  Kevikepan Kedu (2 Paroki, 5 Orang). Paroki Ignatius Magelang (1. Stph. Rohani, 2. Th Sri Rahayu, 3.  Ag Ronny , 4.  D. Nugroho); Paroki Borobudur (1. Hilda)
  • Kevikepan Surakarta (2 Paroki, 13 orang). Paroki Gondang  (1. Dono Budoyo, 2. Niken, 3. Terania, 4. Hardono, 5 Anik Setyawati, 6. Elgiva, 7. Ratna Kriswidyastuti, 8. Nesia Amadea); Paroki  Boyolali (1. Yacobus Raditya Krisna Setiawan, 2. Scholastica Sitha Wardhani, 3. Antonius Mario Aria Ananda, 4. Gabriel Adhi Nayantaka, 5. Yosef Anantadana Rahadian Pramudito)

  •  Keuskupan Agung Jakarta (1 Paroki, 1 orang). Paroki Maria Karmel (1. Galih)

Omongan Domus Pacis di Belakang Seminari Tinggi

Dalam makan siang Selasa 10 Maret 2026 di rumah para rama sepuh Domus Pacis Santo Petrus, terjadi omongan yang menunjukkan bahwa Domus Pacis...