Peristiwanya terjadi dalam Misa Ulang Tahun Imamat 4 rama Domus Pacis Santo Petrus pada Sabtu sore 31 Januari 2026. Misa itu dipimpin oleh Rm. Bambang. Sehari sebelumnya Rm. Bambang memang sudah minta Rm. Saptaka dan Rm. Andika memberikan khotbah. Pada waktu itu kutipan Injil adalah Matius 5:1-12a : "Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga."
Pembuka
Rm. Bambang membuka bagian homili sesudah membacakan Injil. "Sebetulnya saya tidak enak dengan kata Tuhan berbahagialah yang miskin. Yang menjadi soal adalah karena saya kaya (ternyata umat tertawa). Yang miskin itu rama-rama lain misalnya Rm. Suntara. Ini yang dduduk di kanan saya. Dia pernah bilang 'Sesenpun aku tak punya uang'. Maka saya berjanji untuk memberikan uang kepadanya. (Lalu kepada Rm. Suntara) Nih, terimalah janjiku". (Rm. Bambang memberikan 2 amplop kecil berisi uang kepada Rm. Suntara). "Apa iki?" (Apa iki?)" tanya Rm. Suntara yang langsung dijawab oleh Rm. Bambang "Aku kan udah janji kasih uang. Kamu bilang asal memberikannya tidak di kamar makan. Maka sekaranglah aku memberikannya". Rm. Suntara menerima dengan tersenyum disertai ledakan tawa dari umat. Kemudian Rm. Bambang meneruskan bicaranya "Dari Injil itu saya memfokuskan diri di kata-kata Tuhan 'Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.' Yang jadi soal, saya adalah tukang mengejek dan memfitnah. Dalam makan bersama saya sring mengadu domba antara Rm. Saptaka dan Rm. Suntara. Kalau rama-rama ramai berbicara sesuatu dan Rm. Suntara, (diucapkan bisik-bisik tetapi pakai mike) yang sudah budheg, bertanya 'omong apa?', saya bilang Saptaka, yang sebetulnya omong tentang PETSI yaitu metode pembelajaran untuk pendidikan pengembangan, omong tentang PEPSI. Itu lho teman Sarparela sahabat cocacola." Mendengar keterangan saya Rm. Suntara langsung omong bernada membentak 'Aku sudah tahu apa itu Pepsi. Hanya Pepsi saja dijadikan tema omongan'". Umat tertawa mendengarnya. Kemudian Rm. Bambang mengakhiri ceritanya dengan mengatakan "Saya tukang mengejek dan memfitnah di Domus. Mengapa saya tetap bahagia dan makin bahagia? Tolong Rm. Andika atau Rm. Sapta memberikan penjelasan."
Ketika Masuk Keabadian
Tertnyata yang maju adalah Rm. Saptaka dengan kursi rodanya. Beliau memulai dengan kata-kata terkesan serius "Bapak, ibu, dan semua saja ..... (kemudian diam dan suasana jadi hening). Satu kata untuk Rama Bambang ..... (diam dan hening lagi)." Kemudian muncul ucapan Rm. Saptaka dengan penuh kewuibawaan "Rama Bambang DANCUK!" Meledaklah tawa umat. Ketika tawa menurun dan mereda, Rm. Saptaka melanjutkan "Karena kemarin Rm. Bambang meminta saya dan Rm. Andika menyampaikan khotbah, maka tadi malam saya melakukan meditasi. Dalam meditasi saya melihat rama-rama Domus mati dan satu per satu menuju pintu sorga yang dijaga Bapa Petrus". Kemudian Rm. Saptaka mengatakan ketika seorang rama mau masuk, Bapa Petrus membuka buka catatan kehidupan masing-masing. Misalnya, ketika Rm. Yadi datang Bapa Petrus membaca dan berkata "Oooo ... Kamu banyak diam dikomentari dan diejek apapun. Sana masuk." Umat tertawa. Lalu ketika Mgr. Blasius yang dihadapi Bapa Petrus berkata "Kamu orang tulus. Banyak membantu orang lain dengan ikhlas. Maka kamu banyak tertipu. Sana masuk." Kemudian ketika berbicara tentang Rm. Suntara, kata Rm. Saptakan "Ooooo .... Ini Suntara ya. Kamu itu orang polos dan lugu. Kalau berbicara apa adanya. Kamu mauk sorga". Ketika umat tertawa Rm. Suntara berkata kepada Rm. Bambang "Saptaka omong apa?" (Apa yang diomongkan Saptaka?). Ketika Rm. Bambang menjawab "Rama Suntara itu baguuuuuus. Tapi bajingan" ledakan tawa umat membahana. Umat makin tertawa ketika melihat reaksi Rm. Suntara yang meletakkan jari tangan kanan miring di dahinya. Umat juga tertawa ketika Rm. Saptaka berkata di akhir cerita "Naaaaah. Ini Bambang. Mulutmu memang tidak ketulungan. Tak ada satupun rama Domus yang tidak kena kejahatan omonganmu. Saptaka biasa kamu fitnah. Suntara kamu tipu. Rm. Harta kamu ejek. Rm. Ria kamu bingungkan. ..... Tetapi kamu masih murah hati mau menggunakan kekayaan uangmu untuk mentraktir orang serumah. Apalagi kamu sudah dipermandikan. Maka kamu tidak masuk neraka. Tetapi jangan harap sorga. Kamu di Api Penyucian yaaaa". Umat tertawa ngakak dan Rm. Saptaka menutup "Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus" yang dijawab umat "Seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan selama-lamanya".
Pelajaran Jadi Keluarga Bahagia
Rm. Andika ketika tampil menghadirkan semacam rangkuman termasuk landasan hidup bersama para rama Domus Pacis Santo Petrus. Beliau berkata "Inilah kehidupan kami para rama Domus Pacis. Apapun situasi dan kondisinya, ada KEBAHAGIAAN. Suasana saling ejek biasa terjadi, tetapi tak ada permusuhan. Saya membayangkan setiap rama adalah pemancar salah satu studio radio. Satu sama lain tahu gelombang masing-masing. Bagaimana siaran yang ada pada Rm. Joko Setyo, Rm. Saptaka, Rm. Suntara, Mgr. Blasius, Rm. Ria, Rm. Jarot, Rm. Yadi, Rm. Suhartana, Rm. Bambang, Pemancar saya, bahkan pemancar Rm. Supriyanto dan Rm. Tri Wahyono. Dalam berkomuniasi satu sama lain kami tinggal memutar tuning sehingga bisa sambung dengan gelombang-gelombang itu dengan enak."
Rm. Bambang dalam hati melihat khotbah yang terjadi adalah kesaksian hidup bahagia dalam kebersamaan keluarga para rama Domus Pacis. Rm. Bambang berpikir "Apakah ini kebahagiaan bersama model masyarakat Jawa? Bahagia selalu diwarnai kesenangan berkelakar. Kelakar Jawa sungguh menggembirakan kalau bisa ada suasana saling ejek tetapi tak membuat sakit hati. Bukankah itu model Semar-Gareng-Petruk-Bagong dalam pewayangan?" Di pagi hari ketika sedang makan bersama Rm. Suntara berkata "Awake dhewe isa nyek-nyekan yang nyenengke, merga atine kosong" (Kita bisa saling ejek yang menyenangkan, karena hati kita kosong". Dalam hal ini saya ingat kata-kata Santo Paulus "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia" (Flp 2:5-7). Hati kosong atau pengosongan diri berarti tidak mengejar kedudukan, penghormatan, dan nafsu duniawi lain.