Friday, February 20, 2026

Berdoa

 

“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (6:5-6)

Bukan Eksposisi

Ternyata doa juga dapat menjadi kemunafikan. Kalau sikap munafik adalah nafsu penonjolan diri, kemunafikan doa menjadi tindakan menunjukkan diri kepada khalayak bahwa seseorang adalah pendoa bahkan pendoa hebat. Untuk saat ini mungkin kemunafikan doa tidak terjadi “dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya”. Tetapi orang dapat saja berlama-lama berada di gedung Gereja atau kapel dengan niatan agar dilihat sedang berdoa. Sehingga di situ hanya sekedar duduk-duduk atau sebagai orang yang sudah berlanjut usia bosan dengan keadaan rumah. Bisa saja di situ orang hanya ber-HP-ria asyik sana-sini jumpa dengan banyak orang di dunia maya. Barangkali dengan HP dia tetap berada dalam kesibukan doa, yaitu dengan menuliskannya. Dan kemudian ditayangkan lewat dunia media sosial. Bahkan mungkin orang menyampaikan keberhasilannya lewat doa-doa tertentu.

Sebenarnya doa di dalam tempat ibadat dan menuliskannya sebagai sharing dalam media sosial bukan hal yang tidak terpuji. Di sini yang perlu dicermati dalam hati adalah dorongan batin dari yang dilakukan. Kalau itu sungguh untuk ungkapan relasi dengan Tuhan tentu saja menjadi keutamaan. Tetapi kalau untuk mengekspos diri agar dilihat atau diketahui orang sebagai “Nih, aku berdoa”, itulah yang dilarang oleh Tuhan Yesus. Kewajiban keagamaan bukan untuk mencari untung duniawi sekalipun itu berupa sanjungan atau pengakuan yang dapat menaikkan gengsi dalam hidup bersama.

Jalan Tol Doa Lanjut Usia

Dalam kesendirian

Orang sering begitu saja menyamakan doa dengan ibadat. Ibadat itu menyangkut kebersamaan dalam mengungkapkan hubungan denganTuhan. Karena menjadi tindakan bersama, dalam ibadat biasa ada panduan atau doa-doa tradisi agar semua dapat terlibat. Lain halnya dengan doa. Doa adalah hubungan personal orang dengan Tuhan. Ini adalah relasi yang sungguh pribadi antara “aku insani” dengan “Aku ilahi”. Hubungan pribadi dengan Allah akan mendasari segala kebaikan dalam hidup termasuk dalam hidup keagamaan. Peribadatan akan sungguh bermakna kalau dilandasi oleh masing-masing peserta yang memiliki kebiasaan kontak personal dengan Allah. Bahkan doa tradisi, yang diucapkan dalam doa pribadi, akan sungguh bermakna karena adanya kebiasaan kontak personal dengan Allah.

Karena doa pada dasarnya merupakan hubungan personal dengan Allah, layaklah bila Tuhan Yesus berkata “jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.” Hubungan pribadi dengan Allah mengkondisikan orang berhubungan dengan Allah seperti dengan orang tua atau sosok yang mencinta dan jadi topangan jiwani. Ini adalah tindakan yang dihayati dalam kesendirian. Yesus menggambarkan doa sejati ada di tempat tersembunyi yang tidak diketahui oleh orang lain. Bagi kaum lanjut usia untuk masuk dalam kesendirian adalah hal yang amat leluasa dapat dialami. Pada umumnya orang yang masuk lanjut usia sudah tidak banyak aktif dalam kebersamaan. Hidupnya sudah banyak berada dalam kesendirian. Bila tinggal di rumah tua, dia akan berjumpa dengan orang serumah hanya dalam jam-jam tertentu dalam acara bersama seperti makan atau ibadat. Bila hidup serumah dengan anak cucu, orang lanjut usia banyak ditinggal sendiri karena mereka memiliki kesibukan sendiri-sendiri. Apalagi kalau berada di rumah sementara anak cucu tidak tinggal bersama, dia akan berjumpa dengan orang lain bila masih dapat ikut aktif dalam pertemuan-pertemuan. Kaum lanjut usia yang beriman akan menghayati kondisi kesendirian itu justru menjadi anugerah istimewa sehingga bisa mendapatkan jalan leluasa memesrakan hidup berhubungan dengan Allah.

Sendiri berhening diri

Doa sebagai perjumpaan dengan Allah di tempat tersembunyi mengarahkan orang dalam kesendiriannya masuk dalam hubungan dengan relung hati. Di dalam relung hati orang tidak berjumpa dengan dirinya tetapi dengan Allah sendiri karena setiap orang adalah “bait dari Allah yang hidup” (2Kor 6:16). Sekalipun hati hanyalah bagian dari unsur jasmaniah tetapi tubuh manusia adalah “bait Roh Kudus” (1Kor 6:19).

Satu hal yang bisa menjadi soal adalah kenyataan kesendirian kaum lanjut usia membuat orang mengalami suasana sepi yang bisa membuat kesepian. Dari sini kaum lanjut usia memang harus mengolah suasana sepi sendiri menjadi kesempatan leluasa untuk berhening diri. Ketika ada liburan Hari Raya Nyepi Selasa 12 Maret 2013 saya teringat ketika mengalami Hari Raya itu di Bali pada tahun 2006. Dengan ingatan itu saya membuat catatan berkaitan dengan kenyataan kaum lanjut usia. “Bukankah kaum tua pada umumnya banyak mengalami kesendirian? Bukankah kaum tua banyak mengalami suasana sepi karena sendiri? Kalau begitu, bukankah Hari Raya Nyepi dapat menyadarkan kaum tua akan ANUGERAH SUASANA SEPI yang dimiliki secara berlebihan?” Yang saya sebut anugerah suasana sepi adalah kesempatan berhening diri. Santa Theresa dari Calcuta mengatakan bahwa keheningan adalah as atau poros kekudusan karena lewat keheningan orang akan selalu tersambung secara personal dengan Allah. Secara umum pola dinamika olah rohani Santa Theresa adalah “Dengan hening aku berdoa; Dengan doa aku beriman; Dengan iman aku mengasih; Dengan kasih kualami kedamaian”. Kedamaian adalah suasana orang yang selalu mengalami keheningan dalam dirinya. Di dalam catatan itu saya mengetengahkan olah rohani mencapai keheningan dengan merujuk pada religiusitas Jawa.

 

Berkaitan dengan kemampuan hening diri, hal ini mudah terjadi kalau orang dapat mengalami suasana sepi sendiri. Dalam suasana seperti ini orang akan meNeng (diam). Kalau suasana diam ini dijalani, orang dapat mengalami suasana weNing (hening, jernih) sehingga dapat menyadari banyak hal yang terjadi dalam kehidupannya dengan jernih atau jelas. Kejernihan diri akan membuat orang duNung (paham) apa yang sebaiknya dilakukan untuk pengembangan dan kalau perlu perubahan diri. Proses ini membuat orang meNang (mampu bersusah payah melakukan yang bermakna untuk dirinya). Suasana sepi kalau diterima dan dijalani secara alami akan membawa orang berbudi pekerti luhur karena proses Neng, Ning, Nung, Nang. Dalam hidup keagamaan, ini semua membawa orang berproses menjadi orang kerabat ilahi.

Lamunan iman

Sebetulnya keheningan berkaitan dengan suasana hati. Hati hening dapat dialami dalam keadaan apapun termasuk dalam kesibukan maupun dalam pertemuan-pertemuan. Dan karena hati hening orang tetap dapat membangun sambung batin dengan Tuhan lewat omongan-omongan singkat dalam hati seperti dalam ber-SMS-an. Tetapi dalam kesendirian, yang pada umumnya menjadi anugerah berlimpah bagi kaum lanjut usia, orang dapat makin memperdalam kemesraan dengan Tuhan. Dengan memanfaatkan proses rohani dalam religiusitas Jawa, hal itu dapat berada dalam kisaran sebagai berikut:

·       NENG. Karena banyak berada dalam kesendirian kaum lanjut usia sungguh mendapatkan keleluasaan untuk meneng (diam). Di dalam diam kita bisa mengulang-ulang kata-kata yang membuat hati kita terbukan pada Tuhan. Selayaknya kita memiliki kata-kata keagamaan yang bisa kita ucapkan seperti mantra. Kata-kata itu misalnya “Tuhan ... Tuhan ...” atau “Ya Tuhan, aku datang melakukan kehendak-Mu” atau kata-kata lain yang kita ketemukan dalam khasanah hidup beragama.

·       NING. Dari proses diam, kita dapat menyadari apa yang kita pikir, apa yang kita rasakan, dan apa yang kita kehendaki. Itu semua menjadi jelas dalam kesadaran diri. Di sinilah kita mengalami yang disebut wening (jernih bagaikan air kolam tak tercemar). Inilah keheningan. Dalam keadaan hening inilah segalanya menjadi seperti bayangan yang tampak jelas dalam benak. Dan dalam keheningan ini kita omongkan apapun yang terpikir atau terasa atau terkehendaki dengan Tuhan dalam hati. Dalam hati hening kita dapat asyik ngobrol dengan Dia.

·       NUNG. Dalam omongan asyik dengan Tuhan dalam hati, sadar atau tidak sadar kita mengalami bimbingan Roh. Dalam bimbingan Roh kita akan dunung (memahami) apa dan mengapa kita punya pikiran atau perasaan atau kehendak atau campuran (entah keduanya entah ketiganya) seperti itu. Di dalam bimbingan Roh kita dapat menimbang-nimbang banyak hal.

·       NANG. Karena memahami semua bayangan yang muncul dari pikiran, perasaan, dan kehendak, orang dapat menang. Kata menang memang ada konotasi dengan peristiwa mengalahkan. Sebagai murid Tuhan Yesus kita memang harus berjuang mengalahkan diri. Tuhan berkata “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Luk 9:23) Kita mampu menyangkal pikiran, perasaan, dan kehendak yang hanya membuat kita tak dapat menerima keadaan nyata lanjut usia. Dengan bimbingan Roh kita mampu dan menerima dengan ceria salib atau keadaan tidak enak harian karena kondisi lanjut usia. Ini semua terjadi karena kita orang yang ada dalam kuasa ilahi dan menang berhadapan dengan yang membuat kita berpaling dari Allah. Dengan demikian kita akan mengalami keceriaan batin (dalam religiusitas Jawa ada istilah pamudaran yang bermakna pencerahan) karena mempercayakan diri pada Injil, yaitu warta sukacita yang diamanatkan Kristus. Kita dapat menjalani warta utama Tuhan Yesus “Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:15)

Doa dalam sendiri berhening diri memang seperti peristiwa melamun. Tetapi ini adalah lamunan iman. Ini bukan lamunan yang membuat orang masuk dalam rimba aneka pikiran, perasaan, dan kehendak yang bisa menyesatkan. Ini adalah lamunan yang membawa kita untuk menghayati diri sebagai “bait Roh Kudus” (1Kor 6:19)

Penghalang Utama

 

Karena doa pribadi, yang sejatinya masuk dalam kesendirian mengalami kemesraan hubungan batin dengan Tuhan, penghalang utama adalah kalau orang tak mampu menghayati kesendirian. Untuk murid Kristus pada umumnya kesendirian iman dapat terjadi dalam kesempatan misalnya rekoleksi dan retret. Kalau orang tak tahan untuk masuk dalam diam sendiri, orang amat terhalang untuk sungguh berdoa. Ketidakmampuan diam sendiri ini dalam diri kaum lanjut usia akan membuat hidup kacau bukan main. Kaum lanjut usia yang sulit mengalami kesendirian akan mudah sangat diwarnai oleh keinginan banyak bepergian atau ikut banyak kumpulan. Dia dapat berdalih no man is an island (manusia itu bukan sebuah pulau yang terpisah dengan pulau-pulau lain). Atau yang lebih populer orang dapat berkata “manusia itu makhluk sosial”. Tetapi dalih atau alasan seperti itu, kalau melupakan bahwa manusia itu pribadi, justru hanya jadi hambatan dalam hidup bersama. Kaum lanjut usia seperti ini dalam kumpulan mudah tampil mengganggu orang-orang lain. Anak cucu yang tinggal serumah pun akan berusaha menyingkir. Dalam dirinya orang lanjut usia demikian jauh dari sambung batin dengan Allah. Dan kalau “Allah adalah kasih” (1Yoh 4:8), dia adalah orang lanjut usia yang kosong menghayatan kasih dan penuh dengan nafsu-nafsu egoistis.

Santo Petrus Damianus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 28 Juli 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014 Hits: 16616

  • Perayaan
    21 Februari
  •  
  • Lahir
    Tahun 1007
  •  
  • Kota asal
    Ravenna, Italy
  •  
  • Wafat
  •  
  • 22 February 1072 di Ravenna, Italy | Oleh sebab alamiah
    Makamnya dipindahkan beberapa kali; dan sejak tahun 1898 berada di Chapel of Saint Peter Damian di The catherdral of Faenza, Italy
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Tahun 1823 oleh Paus Leo XII

Petrus Damianus dilahirkan pada tahun 1007 dan menjadi yatim piatu sejak masih kanak-kanak. Ia diasuh oleh seorang kakaknya yang berwatak buruk. Kakaknya suka menganiaya dia serta membiarkannya kelaparan. Seorang kakaknya yang lain, Damianus yang adalah seorang pastor di Ravenna, mengetahui keadaannya yang sebenarnya. Ia membawa Petrus pulang ke rumahnya.

Sejak saat itulah hidup Petrus berubah sepenuhnya. Ia diperlakukan dengan penuh cinta, kasih sayang serta perhatian. Begitu bersyukurnya Petrus hingga kelak ketika ia menjadi seorang religius, ia memilih nama Damianus sebagai ungkapan kasih sayang kepada kakaknya.

Damianus mendidik Petrus serta memberinya semangat dalam belajar. Petrus kemudian mengajar di perguruan tinggi ketika usianya baru duapuluh tahunan. Ia menjadi seorang guru yang hebat. Tetapi Tuhan membimbingnya ke jalan yang tidak pernah terpikirkan olehnya.

Petrus hidup pada masa di mana banyak orang dalam Gereja terlalu dipengaruhi oleh tujuan-tujuan duniawi. Petrus sadar bahwa Gereja adalah ilahi dan Gereja memiliki rahmat dari Yesus Kristus untuk menyelamatkan semua orang. Ia ingin agar Gereja bersinar dengan kemuliaan Kristus.

Sekitar 1035, Petrus berhenti mengajar dan memutuskan untuk pensiun dari kehidupan dunia dan menjadi seorang biarawan Benediktin. Kesehatannya saat itu sangat buruk, apalagi karena ia tidak begitu mempedulikannya. Ia tetap berusaha untuk bermati raga dan mencoba untuk menggantikan tidur dengan doa.  Suatu saat ia akhirnya dapat dipaksa untuk menghabiskan beberapa waktu untuk menjalani pemulihan; yang mana ia pergunakan sepenuhnya untuk mendalami Kitab Suci. 

Petrus kemudian ditunjuk untuk menjadi prior di biara Fonte-Avellana, di mana ia berkarya selama sisa hidupnya.  Dia memperluas biara, sangat meningkatkan perpustakaan, dan mendirikan banyak tempat pertapaan; pertapaan di San Severino, Gamugno, Acerata, Murciana, San Salvatore, Sitria, dan OCRI. 

Pada sinode di Roma tahun 1047, Petrus mendorong Paus Gregorius VI untuk mendukung revitalisasi semangat Gereja dan disiplin administrasi.  Pada masa itu Petrus menulis  Liber Gomorrhianus, yang menggambarkan sifat buruk para imam, terutama dalam keprihatinannya akan kehidupan mereka  yang terikat dengan hal-hal duniawi, dengan uang, dan kejahatan simoni (penjualan jabatan Gerejani).

Petrus menghasilkan banyak karya tulis dalam bidang teologi untuk membantu umat memperdalam iman mereka. Dua kali pemimpin biara mengirimnya ke biara-biara tetangga. Ia membantu para biarawan untuk memulai pembaharuan yang mendorong mereka untuk hidup lebih dekat dengan Tuhan. Para biarawan amat bersyukur sebab Petrus adalah seorang yang lembut hati serta pantas dihormati.    

Petrus pada akhirnya ditarik dari biara. Ia diangkat menjadi Uskup dan kemudian Kardinal. Ia diutus dalam tugas-tugas yang amat penting oleh paus sepanjang hidupnya. St. Petrus Damianus wafat pada tahun 1072 dalam usia enampuluh lima tahun. Oleh karena ia seorang pahlawan kebenaran dan seorang pencinta perdamaian, ia dinyatakan sebagai Pujangga Gereja pada tahun 1828. Puisi Dante (yang hidup dari tahun 1265 hingga 1321) mengagumi kebesaran St. Petrus Damianus.  Dalam puisinya, “Komedi Ilahi” Dante menempatkan Petrus Damianus pada  "one of the highest circles of Paradiso" sebagai pendahulunya Santo Fransiskus dari Assisi.

Lamunan Sesudah Rabu Abu

Sabtu, 21 Februari 2025

Lukas 5:27-32

27 Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!" 28 Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia. 29 Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. 30 Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: "Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" 31 Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; 32 Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, ada gambaran bahwa beriman berarti beragama. Hidup keagamaan adalah tanda orang ikut Tuhan.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa dengan sungguh beriman orang taat menjalani agama. Segala wajib keagamaan bahkan berbagai kegiatan keagamaan dijalani.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, meskipun penghayatan iman dalam ungkapan tampak dalam hidup keagamaan, iman sejati berakar pada kesediaan terbuka dan mengikuti suara relung hati. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar bahwa agama tanpa hubungan batin dengan suara kalbu hanya jadi pertunjukan baik tanpa peduli pada kaum papa jasmani rohani.

Ah, beriman itu yang pokok adalah jalani wajib-wajib agama.

Thursday, February 19, 2026

Rm. Suntara Berulang Tahun

Rm. Fransiscus Assisi Suntara termasuk rama sepuh yang dulu juga menjadi anggota Komunitas Domus Pacis Puren dan pada 1 Juni 2021 ikut dipindahkan di Domus Pacis Santo Petrus. Beliau lahir pada 20 Februari 1945 sehingga pada tanggal 20 Februari tahun ini beliau berulang tahun ke 81. Sebenarnya Rm. Suntara tidak suka peringatan ulang tahun. Kata informasi dari Paroki Pringgolayan, karena sebelum masuk Domus Rm. Suntara berkarya di Pringgolayan, ada pengalaman tidak nyaman. Ayah beliau meninggal berdekatan dengan hari ulang tahunnya. Tetapi Domus Pacis Santo Petrus tetap melaksanakan pesta kecil-kecilan untuk ulang tahunnya. Dulu beliau pernah berkata kepada Rm. Bambang "Aku ora sah diulangtauni" (Aku tak usah pakai ulang tahun) yang dijawab oleh Rm. Bambang "Kowe mung nggo alat ben rama-rama isa seneng-seneng" (Kamu hanya alat untuk senang-senangnya para rama). Karena sekarang Rm. Suntara biasa ikut kelompok berjemur di pagi hari bersama Rm. Sapta, Rm. Djoko, Rm. Andika, Rm. Ria, dan sering juga Rm. Supriyanto dan Rm. Suhartana, Rm. Bambang menyediakan snak khusus untuk para rama nggota kelompok berjemur. Selain itu Rm. Bambang juga berkidung untuk Rm. Suntara :


Santo Eucherius dari Orleans

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 27 Juli 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014 Hits: 10762

  • Perayaan
    20 Februari
  •  
  • Lahir
    Hidup pada Abad ke-8
  •  
  • Kota asal
    Orleans - Perancis
  •  
  • Wafat
  •  
  • 20 February 743 di Biara Sint-Tuiden Belgia | Oleh sebab alamiah.
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

St. Eucherius hidup di Orleans, Perancis, pada abad kedelapan. Ia diasuh dan dididik secara Kristiani. Satu kalimat dari surat pertama St. Paulus kepada jemaat di Korintus menimbulkan kesan mendalam padanya: “Dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu” (1 Korintus 7:31).

Pernyataan ini membuat Eucherius sadar bahwa hidup kita di dunia ini amat singkat. Ia sadar bahwa surga dan neraka akan berlangsung selamanya. Ia bertekad untuk menemukan sukacita surgawi dengan hidup hanya bagi Tuhan saja.

Pada tahun 714, St. Eucherius meninggalkan rumahnya yang mewah untuk masuk ke sebuah biara Benediktin. Di sana ia melewatkan tujuh tahun dalam persatuan yang erat dengan Tuhan. Setelah wafat pamannya, Uskup Orleans, pada tahun 721, Eucherius dipilih untuk menggantikannya. Pada waktu itu Eucherius masih berusia duapuluh lima tahun dan amat rendah hati. Ia tak hendak meninggalkan biara yang sangat dikasihinya. Dengan berurai airmata ia memohon agar diijinkan tetap tinggal sendirian bersama Tuhan dalam biara. Tetapi, pada akhirnya ia menyerah atas nama ketaatan. Eucherius menjadi seorang uskup yang bijaksana dan kudus. Ia banyak berbuat baik bagi para imam dan umatnya.

Seorang tokoh politik yang berkuasa, Charles Martel, biasa mengambil uang Gereja untuk membiayai perang. Ketika Uskup Eucherius menegurnya, Martel menjebloskannya ke dalam penjara. Uskup pertama-tama dibuang ke Cologne, dan lalu ke sebuah benteng dekat Liege. Tetapi gubernur kepada siapa Martel mempercayakan pengasingan uskup, tergerak hatinya oleh kelemah-lembutan Eucherius terhadap para musuhnya. Beberapa waktu kemudian, sang gubernur dengan diam-diam membebaskan uskup dari penjara dan mengirimkannya ke sebuah biara di Belgia. Di sini, orang kudus kita melewatkan hari-harinya dengan tenang dalam doa hingga wafatnya pada tahun 743.

Lamunan Sesudah Rabu Abu

Jumat, 20 Februari 2025

Matius 9:14-15

14 Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" 15 Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, setiap agama memiliki wajib tradisional masing-masing. Puasa biasa ada pada semua agama dan kepercayaan.
  • Tampaknya, ada gambaran sama sikap dasar penganut agama berkaitan dengan kewajiban berpuasa. Puasa biasa dikaitkan dengan tindakan tidak makan dan tidak minum.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun setiap agama dan kepercayaan ada tradisi wajib berpuasa, kalau hidup terpusat pada hubungan mesra dengan relung hati tindakan berpuasa tidak pernah tergantung pada ketentuan kesamaan waktu dan cara pelaksanaan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati, sekalipun setiap agama dengan kepercayaan punya tradisi berpuasa, orang akan terbuka menghormat tatacara pada berbagai penghayatan dalam berbagai agama dan kepercayaan.

Ah, yang namanya berpuasa itu yang harus menjalani tidak makan minum.

Wednesday, February 18, 2026

Bersedekah


“Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6:2-4)

Pada zaman kini demi transparansi dana-berdana biasa dilakukan dengan pencatatan. Hal ini dapat terjadi misalnya ketika ada media membuka kesempatan menyumbang bencana alam. Di dalam Gereja hal itu juga terjadi. Uang dana yang dikumpulkan di Lingkungan atau kelompok umat juga dicatat dan dilaporkan. Namun demikian Tuhan Yesus dalam ayat-ayat itu tidak berbicara tentang kegiatan kebersamaan yang berkaitan dengan tata organisasi. Tuhan berbicara tentang tindakan personal dalam bersedekah sebagai salah satu kewajiban agama.

Menjadi Pribadi Utuh

Satu hal yang menarik adalah bahwa memberi sedekah dikaitkan dengan olah sikap agar tidak seperti orang munafik. Sikap munafik terungkap dalam tindakan penonjolan diri. Tindakan berdana tidak dilandasi oleh motivasi batin untuk menyumbang atau memberi secara cuma-cuma tanpa mengharapkan balasan. Pemberian derma dijadikan sarana atau alat untuk unjuk diri agar mendapatkan sanjungan dari banyak orang lain. Bagi kaum lanjut usia agar terbebas dari sikap munafik kiranya perlu menyadari kesejatian lansia. Kitab Suci berkata bahwa “Rambut putih adalah mahkota yang indah, yang didapat pada jalan kebenaran.” (Ams 16:31) Kaum lanjut usia sejatinya menjadi tanda keindahan bagi kehidupan bersama terutama di tengah generasi di bawahnya. Hal ini terjadi karena orang yang sungguh menghayati kesejatian lanjut usia akan menjadi sosok bijaksana (band. Mzm 90:12). Memang, kebijaksanaan kaum lanjut usia diperoleh karena ketekunannya menjalani hidup penuh perjuangan sehingga “kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan” (Mzm 90:10). Hal ini tentu cocok dengan ajaran Jawa bahwa ngèlmu (bukan “ilmu” yang berkaitan dengan pengetahuan, tetapi ngèlmu[1] adalah kebijaksanaan) itu adalah buah dari susah payah perjuangan hidup.

Perjuangan hidup itu tetap terjadi di masa lanjut usia, yaitu kalau kaum lanjut usia bersedia hidup dalam dampingan, bimbingan, dan petunjuk kaum muda. Hal ini dikatakan oleh Tuhan Yesus Kristus “jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” (Yoh 21:18) Orang yang sudah masuk lanjut usia seharusnya sudah sampai pada tahap mampu tidak hidup menurut kehendaknya sendiri. Sebagai pengikut Tuhan Yesus dia sudah sampai pada tahap endapan penghayatan hidup mengikuti kehendak Allah sebagaimana Ibu Maria yang berkata “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38) Orang yang dapat menghayati perkembangan diri di lanjut usia akan mengalami kepribadian utuh dan tak ada keretakan antara yang terungkap dan terwujud secara lahiriah dengan yang sebenarnya ada dalam batin. Seorang psikolog, H. Erikson, menyatakan bahwa kaum lanjut usia yang berkembang secara positif akan mengalami hidup bijaksana.

Sedekah Model Lanjut Usia

Berbicara tentang sedekah sebagai kewajiban beragama jelas berkaitan dengan masalah uang. Sedekah ini pada masa Prapaskah di banyak keuskupan biasa disebut sebagai dana APP (Aksi Puasa Pembangunan). Tetapi sebagai kewajiban beragama sedekah tidak hanya di masa Prapaskah. Dalam hal ini kaum lanjut usia pun termasuk yang kena wajib bersedekah. Berkaitan dengan kondisi ekonominya, merujuk ke Undang-undang Nomor 13 Tahun 1998, ada dua macam corak hidup kaum lanjut usia (lihat http://zelously.blogspot.com/2016/04): 1) Lanjut Usia Potensial adalah lanjut usia yang masih mampu melakukan aktivitas pekerjaan dalam kata lain masih mampu menghasilkan barang dan jasa; 2) Lanjut Usia Non Potensial adalah lanjut usia yang tidak bisa mencari nafkah sehingga hidupnya tergantung pada orang lain. 

Berkaitan dengan kekuatan ekonomi, yang perlu diperhatikan adalah berapa besar uang yang riil dimiliki secara tunai. Bisa jadi yang potensial besaran pemasukan secara nyata lebih kecil daripada yang non potensial karena dia mendapatkan pemberian lebih besar. Memang, bisa saja yang potensial pendapatannya masih ditambah pemberian rutin misalnya dari anak-anak atau sanak saudara bahkan mungkin masih ada dana pensiun. Meskipun demikian, sekalipun potensial atau bahkan potensial plus tambahan pemberian, hal yang harus dicermati adalah sebesar apa pengeluaran rutinnya. Barangkali dia harus menanggung sendiri pajak-pajak bulanan. Barangkali dia juga masih harus membeayai sendiri pengobatan-pengobatan karena kaum lanjut usia pada umumnya sudah rentan akan penyakit. Atau lebih berat lagi barangkali dia juga masih menanggung atau paling tidak membantu kehidupan anak dan atau cucu.

Dalam bersedekah kaum lanjut usia harus memperhitungkan kekuatan nyata yang bisa untuk ambil bagian dalam berdana. Besar atau kecilnya dana tidak ditentukan oleh Gereja. Tuhan Yesus hanya berkata “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut,” (Luk 12:48). Sesedikit apapun jumlah sedekah, yang paling pokok itu adalah wujud totalitas diri mempersembahkan hidup kepada Allah. Sekalipun memberi banyak kalau itu hanya sekedar memenuhi wajib lahiriah dan hanya bagian dari kelimpahan, dapat terjadi itu belum menyentuh lubuk hati rela berkorban. Inilah yang terjadi ketika Tuhan Yesus membandingkan sedekah janda miskin dan kaum kaya. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Mrk 12:43-44)

Penghalang Utama

Kemunafikan adalah hal yang menjadi peringatan utama dari Tuhan Yesus untuk bersedekah. Dari sini kaum lanjut usia perlu memiliki kesadaran batin akan hal-hal yang bisa membuatnya bersikap munafik, yaitu bersedekah untuk menonjolkan diri. Kalau dikuasai oleh rasa ingin terpandang karena tak ketinggalan dalam bersedekah, kaum lanjut usia bisa tidak memperhitungkan perkembangan situasi hidupnya. Barangkali dia memang punya uang banyak. Tetapi barangkali kali dia mengesampingkan kebutuhan-kebutuhan yang juga membutuhkan beaya besar seperti pajak dan obat-obat rutin.

Sebaliknya, barangkali yang terjadi adalah realita keuangan amat minim. Tetapi demi dihargai oleh orang lain kaum lanjut usia menyumbang melebihi kekuatan dengan meminta uang tambahan dari anak dan atau cucu dengan desakan dan tekanan. Paling celaka kalau dia menyumbang dengan uang hasil berhutang. Tuhan berkata “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.” Larangan tangan kiri mengetahui yang diperbuat oleh tangan kanan barangkali juga dapat diperluas dengan larangan untuk mulut menceriterakan dan jari-jari menulis dijadikan kabar untuk orang lain.



[1] Dalam tembang pucung (salah satu model kidung tradisional Jawa) ada ajaran: Ngèlu iku; Kelakoné kanthi laku; Lekasé lawan kas; Tegesé kas nyantosani; Setya budya pangekesé dur angkara (Kebijaksanaan itu; Terjadi sebagai buah perjuangan hidup sehari-hari; Dasarnya adalah kas; Kata kas berarti daya batin; Kesetiaan dalam segala tindakan menjadi penangkal kejahatan).

Berdoa

  “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibad...