Wednesday, February 4, 2026

Lamunan Peringatan Wajib

Santa Agata, Perawan dan Martir

Kamis, 5 Februari 2026

Markus 6:7-13

7 Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, 8 dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, rotipun jangan, bekalpun jangan, uang dalam ikat pinggangpun jangan, 9 boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju. 10 Kata-Nya selanjutnya kepada mereka: "Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. 11 Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka." 12 Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, 13 dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, menjalani pewartaan iman berarti omong tentang agama. Maka pewarta baik akan mempelajari ajaran dan apapun yang ada dalam agama.
  • Tampaknya, menjalani pewartaan iman berarti siap omong memberi penjalasan berdasar agama kalau ada yang mempertanyakan imannya. Maka pewarta baik akan tidak berhenti memperdalam ajaran-ajaran agama.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun menguasai ajaran-ajaran agama bisa mendukung agamawan untuk mewartakan iman, pewartaan iman sejati berupaya membuat kehadiran seorang pewarta sekalipun tanpa omong apapun telah membuat banyak orang melihat diri dalam renung hati. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati pewarta iman akan menghadirkan aura kedamaian dan kegembiraan dalam setiap perjumpaan dengan orang yang membuat kaum papa dan menderita terperhatikan.

Ah, untuk jadi oewarta iman orang harus jadi guru agama.

Tuesday, February 3, 2026

Kesaksian Kebersamaan dalam Khotbah


Peristiwanya terjadi dalam Misa Ulang Tahun Imamat 4 rama Domus Pacis Santo Petrus pada Sabtu sore 31 Januari 2026. Misa itu dipimpin oleh Rm. Bambang. Sehari sebelumnya Rm. Bambang memang sudah minta Rm. Saptaka dan Rm. Andika memberikan khotbah. Pada waktu itu kutipan Injil adalah Matius 5:1-12a : 

"Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga."

Pembuka

Rm. Bambang membuka bagian homili sesudah membacakan Injil. "Sebetulnya saya tidak enak dengan kata Tuhan berbahagialah yang miskin. Yang menjadi soal adalah karena saya kaya (ternyata umat tertawa). Yang miskin itu rama-rama lain misalnya Rm. Suntara. Ini yang dduduk di kanan saya. Dia pernah bilang 'Sesenpun aku tak punya uang'. Maka saya berjanji untuk memberikan uang kepadanya. (Lalu kepada Rm. Suntara) Nih, terimalah janjiku". (Rm. Bambang memberikan 2 amplop kecil berisi uang kepada Rm. Suntara). "Apa iki?" (Apa iki?)" tanya Rm. Suntara yang langsung dijawab oleh Rm. Bambang "Aku kan udah janji kasih uang. Kamu bilang asal memberikannya tidak di kamar makan. Maka sekaranglah aku memberikannya". Rm. Suntara menerima dengan tersenyum disertai ledakan tawa dari umat. Kemudian Rm. Bambang meneruskan bicaranya "Dari Injil itu saya memfokuskan diri di kata-kata Tuhan 'Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.' Yang jadi soal, saya adalah tukang mengejek dan memfitnah. Dalam makan bersama saya sring mengadu domba antara Rm. Saptaka dan Rm. Suntara. Kalau rama-rama ramai berbicara sesuatu dan Rm. Suntara, (diucapkan bisik-bisik tetapi pakai mike) yang sudah budheg, bertanya 'omong apa?', saya bilang Saptaka, yang sebetulnya omong tentang PETSI yaitu metode pembelajaran untuk pendidikan pengembangan, omong tentang PEPSI. Itu lho teman Sarparela sahabat cocacola." Mendengar keterangan saya Rm. Suntara langsung omong bernada membentak 'Aku sudah tahu apa itu Pepsi. Hanya Pepsi saja dijadikan tema omongan'". Umat tertawa mendengarnya. Kemudian Rm. Bambang mengakhiri ceritanya dengan mengatakan "Saya tukang mengejek dan memfitnah di Domus. Mengapa saya tetap bahagia dan makin bahagia? Tolong Rm. Andika atau Rm. Sapta memberikan penjelasan." 

Ketika Masuk Keabadian

Tertnyata yang maju adalah Rm. Saptaka dengan kursi rodanya. Beliau memulai dengan kata-kata terkesan serius "Bapak, ibu, dan semua saja ..... (kemudian diam dan suasana jadi hening). Satu kata untuk Rama Bambang ..... (diam dan hening lagi)." Kemudian muncul ucapan Rm. Saptaka dengan penuh kewuibawaan "Rama Bambang DANCUK!" Meledaklah tawa umat. Ketika tawa menurun dan mereda, Rm. Saptaka melanjutkan "Karena kemarin Rm. Bambang meminta saya dan Rm. Andika menyampaikan khotbah, maka tadi malam saya melakukan meditasi. Dalam meditasi saya melihat rama-rama Domus mati dan satu per satu menuju pintu sorga yang dijaga Bapa Petrus". Kemudian Rm. Saptaka mengatakan ketika seorang rama mau masuk, Bapa Petrus membuka buka catatan kehidupan masing-masing. Misalnya, ketika Rm. Yadi datang Bapa Petrus membaca dan berkata "Oooo ... Kamu banyak diam dikomentari dan diejek apapun. Sana masuk." Umat tertawa. Lalu ketika Mgr. Blasius yang dihadapi Bapa Petrus berkata "Kamu orang tulus. Banyak membantu orang lain dengan ikhlas. Maka kamu banyak tertipu. Sana masuk." Kemudian ketika berbicara tentang Rm. Suntara, kata Rm. Saptakan "Ooooo .... Ini Suntara ya. Kamu itu orang polos dan lugu. Kalau berbicara apa adanya. Kamu mauk sorga". Ketika umat tertawa Rm. Suntara berkata kepada Rm. Bambang "Saptaka omong apa?" (Apa yang diomongkan Saptaka?). Ketika Rm. Bambang menjawab "Rama Suntara itu baguuuuuus. Tapi bajingan" ledakan tawa umat membahana. Umat makin tertawa ketika melihat reaksi Rm. Suntara yang meletakkan jari tangan kanan miring di dahinya. Umat juga tertawa ketika Rm. Saptaka berkata di akhir cerita "Naaaaah. Ini Bambang. Mulutmu memang tidak ketulungan. Tak ada satupun rama Domus yang tidak kena kejahatan omonganmu. Saptaka biasa kamu fitnah. Suntara kamu tipu. Rm. Harta kamu ejek. Rm. Ria kamu bingungkan. ..... Tetapi kamu masih murah hati mau menggunakan kekayaan uangmu untuk mentraktir orang serumah. Apalagi kamu sudah dipermandikan. Maka kamu tidak masuk neraka. Tetapi jangan harap sorga. Kamu di Api Penyucian yaaaa". Umat tertawa ngakak dan Rm. Saptaka menutup "Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus" yang dijawab umat "Seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan selama-lamanya".

Pelajaran Jadi Keluarga Bahagia

Rm. Andika ketika tampil menghadirkan semacam rangkuman termasuk landasan hidup bersama para rama Domus Pacis Santo Petrus. Beliau berkata "Inilah kehidupan kami para rama Domus Pacis. Apapun situasi dan kondisinya, ada KEBAHAGIAAN. Suasana saling ejek biasa terjadi, tetapi tak ada permusuhan. Saya membayangkan setiap rama adalah pemancar salah satu studio radio. Satu sama lain tahu gelombang masing-masing. Bagaimana siaran yang ada pada Rm. Joko Setyo, Rm. Saptaka, Rm. Suntara, Mgr. Blasius, Rm. Ria, Rm. Jarot, Rm. Yadi, Rm. Suhartana, Rm. Bambang, Pemancar saya, bahkan pemancar Rm. Supriyanto dan Rm. Tri Wahyono. Dalam berkomuniasi satu sama lain kami tinggal memutar tuning sehingga bisa sambung dengan gelombang-gelombang itu dengan enak." 

Rm. Bambang dalam hati melihat khotbah yang terjadi adalah kesaksian hidup bahagia dalam kebersamaan keluarga para rama Domus Pacis. Rm. Bambang berpikir "Apakah ini kebahagiaan bersama model masyarakat Jawa? Bahagia selalu diwarnai kesenangan berkelakar. Kelakar Jawa sungguh menggembirakan kalau bisa ada suasana saling ejek tetapi tak membuat sakit hati. Bukankah itu model Semar-Gareng-Petruk-Bagong dalam pewayangan?" Di pagi hari ketika sedang makan bersama Rm. Suntara berkata "Awake dhewe isa nyek-nyekan yang nyenengke, merga atine kosong" (Kita bisa saling ejek yang menyenangkan, karena hati kita kosong". Dalam hal ini saya ingat kata-kata Santo Paulus "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia" (Flp 2:5-7). Hati kosong atau pengosongan diri berarti tidak mengejar kedudukan, penghormatan, dan nafsu duniawi lain.

Santo Yohanes de Britto

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 04 November 2014 Diperbaharui: 23 Maret 2021 Hits: 20668

  • Perayaan
    4 Februari
  •  
  • Lahir
    1 Maret 1647
  •  
  • Kota asal
    Lisbon Portugal
  •  
  • Wilayah karya
    Tamil Nadu - India
  •  
  • Wafat
  •  
  • Martir - Dipenggal pada tanggal 4 February 1693 di Oreiour, India
  •  
  • Venerasi
    29 September 1851 oleh Paus Pius IX (decree of martyrdom)
  •  
  • Beatifikasi
    21 Agustus 1853 oleh Paus Pius IX
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • 22 Juni 1947 oleh Paus Pius XII

Santo Yohanes de Britto (João de Britto) lahir di Lisbon Portugal pada tanggal 1 Maret 1647 dalam sebuah keluarga bangsawan Portugal yang sangat berpengaruh. Ayahnya, Salvador de Britto Pereira, meninggal saat menjabat sebagai Viceroy (Gubernur) Portugis di Brasil.

De Britto bergabung dengan Serikat Yesus pada tahun 1662, dan melanjutkan studinya di Universitas Coimbra. Setelah ditahbiskan menjadi imam, de Britto dikirim ke daerah misi di Madurai, India Selatan (kini Tamil Nadu) pada tahun 1673. Misi yang dirintis para Jesuit ini dikenal sebagai The Madurai Misision atau Misi Madurai.

Misi Madurai adalah upaya yang cukup berani dari para Jesuit untuk membangun Gereja Katolik India yang bebas dari kultur budaya Eropa. Para missionaris mempelajari bahasa setempat, berusaha sedapat mungkin hidup seperti kaum Brahmana, dan menyesuaikan penginjilannya dengan pola pikir orang India Selatan. Hasilnya sangat menggembirakan; rakyat berbondong-bondong minta dibaptis.

Semula penguasa setempat bersikap acuh terhadap para missionaris. Sampai suatu saat datang keluhan dari anggota keluarga kerajaan. Ada seorang pangeran dari Marava yang memiliki beberapa orang istri, ingin dibaptis. Yohanes de Britto bersedia membabtis, namun memberi syarat agar ia hidup hanya dengan seorang istri dan melepaskan isteri-isterinya yang lain. Pangeran itu bersedia, namun salah seorang istrinya tidak dapat menerima perceraiannya. Sang mantan istri, yang adalah kemenakan raja Sethupathi Marava, mengadukan nasibnya kepada raja dan menunjuk Yohanes de Britto sebagai biang keladinya. Raja menjadi sangat marah, bukan saja kepada para missionaris, tetapi juga pada semua orang yang telah dibabtis.

Maka mulailah pengejaran dan penganiayaan atas umat Kristiani. De Britto ditangkap dan dijatuhi hukuman mati dengan tuduhan berusaha mengubah agama negara. Ia sempat menulis surat perpisahan yang amat mengharukan bagi rekan-rekan misionaris pada malam menjelang pelaksanaan hukuman mati.

Lamunan Pekan Biasa IV

Rabu, 4 Februari 2026

Markus 6:1-6

1 Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia. 2 Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: "Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? 3 Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. 4 Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya." 5 Ia tidak dapat mengadakan satu mujizatpun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka. 6 Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, karena hebatnya kemampuan, orang bisa dikenal oleh banyak orang. Popularitas menghadirkan kekaguman dari masyarakat luas.
  • Tampaknya, karena biasa menggunakan kemampuan demi banyak orang, orang menjadi sosok idola. Kebaikannya membuat dia selalu dielu-elukan ketika hadir di tengah banyak orang.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun populer dan amat dicintai oleh banyak orang karena jasa kepedulian yang berlimpah, di hadapan orang seasal termasuk keluarga sendiri yang feodalistik atau bahkan hanya kejar kepentingan diri, sosok baik seperti itu tak dipandang bermanfaat. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan relung hati sepopuler apapun kemampuan dan kebaikannya, orang siaga tak dipandang berharga di hadapan orang-orang serumah.

Ah, kalau punya kehebatan orang pertama-tama harus bisa mensejahterakan sanak keluarga.

Monday, February 2, 2026

Studi Banding?

Ternyata pada tanggal 1 Februari 2026 ada tamu datang di malam hari. Jumlah yang datang ada 3 orang. Mereka adalah rama-rama dari Keuskupan Malang, yaitu Rm. Pepe, Rm. Aan, dan Rm. Eko. Ketiganya menginap di Domus Pacis Santo Petrus. Pada waktu makan pagi mereka bergabung dengan para rama Domus. Kehadiran mereka memang sudah diinformasikan oleh Rm. Andika, Direktur Domus, yang saat itu sedang pergi ke Papua. Mereka datang untuk omong-omong tentang rumah tua untuk para rama praja di Domus. Katanya, Keuskupan Malang memang akan membangun rumah tua untuk rama-rama praja yang sudah sepuh. Pada jam 08.00 ketiga rama itu mengadakan jumpa khusus dengan Rm. Hartanta, mantan Direktur Domus yang kini menjadi Pastor Paroki Salam, dan Rm. Bambang. Dalam omong-omong itu Rm. Hartanta dan Rm. Bambang menyempaikan pengalamannya :

  • Rm. Hartanta : Beliau menyampaikan pengalaman memenejemen Domus. Berjejaring dengan rumah sakit menjadi penting sekali mengingat kebanyakan rama Domus sudah memiliki berbagai penyakit. Keberanian tegas juga ditekankan. Rm. Hartanta mengalami kegembiraan karena suasana hidup para rama diwarnai sikap taat. Ketegasan Rm. Hartanta untuk ketat dalam sajian makan bisa berjalan dengan baik. Para rama penghuni akan mentaati kebijakan Direktur termasuk kini kepada Rm. Andika yang punya sikap beda dengan Rm. Hartanta. Rm. Hartanta mengalami menjadi Direktur Domus selama 5 tahun. Untuk beliau yang menjadi catatan tidak enak adalah bangunan Domus Pacis Santo Petrus yang polanya mengambil contoh Ruang Lukas RS Panti Rapih. Sehingga para rama penghuni mendapatkan tempat bagaikan seorang pasien. Itu amat berbeda dengan Domus Pacis Puren tempat para rama tua sebelum dipindahkan di Domus Pacis Santo Petrus. Di Puren ada tempat duduk untuk mandi, rama bisa ambil air untuk mandi bisa shower dan bisa dengan bak mandi, pegangan untuk tangan juga ada. 
  • Rm. Bambang : Dia mengisahkan pengalaman sejak masuk pertama kali pada 1 Juli 2010. Sesudah 2 tahun bisa ikut mengembangkan Domus menjadi dekat dengan umat. Dia mengetengahkan pikiran yang ditulis pada tahun 2012. Harus ada pengurus yang memang ditugasi khusus untuk mengurus rumah rama tua dan tinggal bersama di rumah tua. Domus dikembangkan untuk menjadi salah satu tempat pastoral ketuaan. Para rama sepuh tak hanya jadi orang-orang yang sudah jauh dari umat bahkan seperti tersingkir dari kancah keumatan. Rm. Bambang memang ikut mengadakan seminar-seminar, pelayanan rekoleksi, dan kelompok lansia katolik. Para rama yang masih memiliki daya pikir dan wicara dilibatkan dalam pelayanan rombongan-rombongan yang datang entah minta misa ataupun minta rekoleksi. Jaringan dengan umat membuat Domus memiliki banyak relawan. Di sini Rm. Bambang memperjuangkan Gereja sebaga persekutuan paguyuban-paguyuban para murid Kristus. Domus  dikembangkan sebagai salah satu paguyuban Gereja tempat pastoral ketuaan. Rm. Bambang memberikan masing-masing kepada 3 rama Malang 3 buku yang berisi beberapa pengalaman pertama, semacam catatan hidtoris dari tahun 2010-2020, dan pengalaman pribadi menghayati keceriaan dalam usia kelansian di Domus Pacis. 

Omong-omong tanya jawab interaktif terjadi cukup mendalam. Rm. Hartanta dan Rm. Bambang juga terbuka menyampaikan berbagai kendala dan tantangannya.

Santo Blasius

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 25 Juli 2013 Diperbaharui: 25 Januari 2020 Hits: 18507

  • Perayaan
    03 Februari
  •  
  • Lahir
    Hidup abad ke-4
  •  
  • Kota asal
    Armenia
  •  
  • Wilayah karya
    Armenia, Asia Kecil
  •  
  • Wafat
  •  
  • Sekitar tahun 316 | Martir
    Ditusuk dengan "wool combs" lalu dipenggal kepalanya
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

St. Blasius hidup pada abad keempat. Sebagian mengatakan bahwa ia berasal dari sebuah keluarga kaya dan menerima pendidikan Kristiani. Semasa remaja, Blasius memikirkan tentang segala permasalahan serta penderitaan yang terjadi pada masa itu. Ia mulai menyadari bahwa hanya sukacita rohani saja yang dapat membuat seseorang merasakan kebahagiaan sejati.

Blasius menjadi imam dan kemudian diangkat menjadi Uskup Sebaste di Armenia. Dengan segenap hati, Blasius bekerja keras untuk menghantar umatnya menjadi kudus dan bahagia. Ia berdoa dan berkhotbah; ia berusaha menolong semua orang.

Ketika Gubernur Licinius mulai menganiaya umat Kristiani, St. Blasius ditangkap. Ia dibawa untuk dijebloskan ke dalam penjara dan dihukum penggal. Dalam perjalanan, umat berkumpul di sepanjang jalan untuk melihat uskup mereka yang terkasih untuk terakhir kalinya. Blasius memberkati mereka semuanya, bahkan juga orang-orang kafir. Seorang ibu yang malang bergegas datang kepadanya. Ia memohon Blasius agar menyelamatkan anaknya yang hampir tewas tercekik duri ikan yang tertelan di tenggorokannya. Orang kudus itu membisikkan doa dan memberkati sang anak. Mukjizat terjadi, sehingga nyawa anak itu dapat diselamatkan. Oleh karena itulah St. Blasius dimohon bantuan doanya oleh semua orang yang menderita penyakit tenggorokan.

Dalam penjara, uskup yang kudus ini mempertobatkan banyak orang kafir. Tidak ada siksaan yang dapat membuatnya mengingkari imannya kepada Yesus. St. Blasius dihukum penggal kepalanya pada tahun 316. Sekarang ia ada bersama Yesus untuk selama-lamanya.

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja

Lamunan Pekan Biasa IV

Selasa, 3 Februari 2026

Markus 5:21-43

21 Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau, 22 datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya 23 dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup." 24 Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. 25 Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. 26 Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. 27 Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. 28 Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." 29 Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. 30 Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: "Siapa yang menjamah jubah-Ku?" 31 Murid-murid-Nya menjawab: "Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?" 32 Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. 33 Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya. 34 Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!" 35 Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?" 36 Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: "Jangan takut, percaya saja!" 37 Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. 38 Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. 39 Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: "Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!" 40 Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. 41 Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: "Talita kum," yang berarti: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!" 42 Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. 43 Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorangpun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, di dalam hidup ini orang bisa mengalami tanpa daya. Dia merasa tak dapat berbuat apapun terhadap yang dialami.
  • Tampaknya, sebagai orang baik karena sudah tak bisa berbuat apapun dia bisa bersikap pasrah. Sikap pasrah terjadi karena orang mengalami kebuntuan hidup.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun berhadapan dengan kebuntuan tak bisa berbuat apapun atas kenyataan hidup, asal tetap berjaga mendengar kata relung hati, orang akan mengalami kebangkitan menemukan jalan baru. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati seterpuruk apapun pengalaman hidupnya orang selalu bisa bangkit dan mengalami kebaharuan hidup.

Ah, layaklah orang mengalami putus asa kalau berhadapan dengan kebuntuhan hidup berhadapan dengan masalah.

Lamunan Peringatan Wajib

Santa Agata, Perawan dan Martir Kamis, 5 Februari 2026 Markus 6:7-13 7 Ia memanggil kedua belas murid   itu dan mengutus mereka berdua...