Saturday, March 14, 2026

Dominikanes Awam Chapter Martinus de Porres

 Kongregasi dan ordo adalah hidup membiara yang para anggotanya pada umumnya mengikrarkan 3 kaul, yaitu kemurnian (selibat), ketaatan, dan kemiskinan. Para anggota terikat dalam hidup membiara bahkan menjadi komunitas-komunitas biara. Tetapi dalam perkembangan kemudian ada awam-awam yang mempersekutukan diri dengan sama-sama menghayati spiritualitas atau model kerohanian ordo tertentu. Mereka biasa masuk dalam persekutuan yang sering disebut ordio ketiga. Satu di antaranya mengalir dari kehidupan biarawan-biarawati Odo Praedicatorum (OP) atau Ordo Pengkhotbah. Karena didirikan oleh Santo Dominicus, biarawan-biarawatinya juga biasa disebut Dominican dan Dominicanes. Kini ada kelompok awam yang bernaman Dominikanes Awam. Google memberikan keterangan "Dominikanes Awam (dulu Ordo Ketiga Dominikan) adalah kumpulan umat Katolik yang dibaptis, berpartisipasi dalam spiritualitas Ordo Pewarta (OP), dan berkomitmen menghidupi karisma Santo Dominikus. Mereka berfokus pada pewartaan, doa, studi, dan persaudaraan di tengah dunia. Di Indonesia, komunitas ini resmi didirikan, salah satunya di Jakarta pada 2017.


Dominikanes Awam Indonesia berpusat di Jakarta. Wilayahnya juga mencakup Dominikanes Awam Provinsi Filipina. Sementara itu di Indonesi ada chapeter-chapter Dominikanes Awam di Jakarta, Surabaya, Pontianak, Yogyakarta, Cirebon, dan Cimahi. Masing capter memiliki nama sesuai Santo Pelindung. Satu di antaranya adalah Chapter Santo Martinus de Porres, yaitu Dominikanes Awam di Yogyakarta. Pada Jumat 13 Maret 2026 Dominikanes Awam Yogyakarta berkunjung ke Domus Pacis Santo Petrus. Ada 10 orang yang ikut berkunjung. Pada umumnya mereka datang berdua suami-istri. Katanya di Yogyakarta ada sekitar 26 orang anggota Dominikanes Awam. Di Domus Pacis selain Rm. Andika Bhayangkara sebagai Direktur Domus, para rama sepuh ikut ikut menyambut adalah Rm. Ria, Rm. Djoko Setyo, Rm. Jarot, Rm. Yadi, Rm. Suhartana, dan Rm. Bambang. Yang terjadi dalam pertemuan itu adalah duduk-duduk santai sambil omong-omong biasa. Tetapi suasana kelakar amat mewarnai sehingga terjadi suasana akrab persaudaraan. Pertemuan ditutup dengan penyerahan oleh-oleh beberapa hal kebutuhan Domus, foto bersama, doa dari tamu, dan berkat dari Rm. Andika. 

Santo Longinus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 27 Mei 2014 Diperbaharui: 22 Oktober 2019 Hits: 56583

  • Perayaan
    15 Maret (Gereja Barat)
    16 Oktober (Gereja Orthodox Timur)
    22 Oktober (Gereja Apostolik Armenia)
  •  
  • Lahir
    Hidup pada abad pertama
  •  
  • Kota asal
    Lanciano, Italia
  •  
  • Wilayah karya
    Yerusalem - Israel
  •  
  • Wafat
  •  
  • (Versi 1) Martir - Dipancung pada abad pertama di Cappadocia Turki
    (Versi 2) Martir - Dipancung pada abad pertama di Mantua Italia
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Menurut tradisi, Santo Longinus adalah prajurit Romawi yang menikam lambung Yesus dengan tombak saat Yesus wafat di bukit Golgota.  Nama lengkapnya adalah Gaius Cassius Longinus. Ia adalah seorang perwira militer dan orang kepercayaan Pontius Pilatus, wali negeri Yudea pada Jaman Yesus.  Pilatus mempercayakan kepadanya tugas mengawasi segala sesuatu yang terjadi dan melaporkan kepadanya. Longinus seorang perwira militer Romawi sejati. Ia setia pada atasan,  dapat dipercaya dan siap sedia melaksanakan tugasnya. Namun matanya yang juling membuat ia sering dijadikan bahan olok-olokan oleh rekan-rekannya.

Longinus mungkin adalah komandan dari para prajurit yang melaksanakan Penyaliban Yesus. Kitab Suci menulis : 

Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. (Yoh 19:32-34)

Tradisi menambahkan bahwa Darah dan Air dari Tubuh Tuhan muncrat  membasahi wajah dan sekujur tubuh Longinus.  Matanya yang juling tersiram Darah Yesus dan seketika itu secara ajaib menjadi sembuh.  Longinus lalu meloncat dari kudanya, dengan gemetar ia jatuh berlutut, memukuli dadanya, dan menyatakan rasa penyesalannya. Ketika beberapa saat kemudian gempa bumi mengguncang bukit Golgota;  Longinus dengan penuh keyakinan bersaksi :

........ "Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah." (Mat 27:54)

Setelah peristiwa ini Longinus bertobat. Perwira Romawi ini  bersama dengan dua orang prajurit lain yang juga terlibat dalam proses penyaliban; meninggalkan ketentaraan dan bergabung dengan para rasul. Mereka dibabtis setelah Pentakosta dan menjadi saksi-saksi Kritus yang sangat terpercaya. Para rasul kemudian mentahbiskan Longinus menjadi seorang diakon dan ikut melayani dalam pewartaan iman.  

Ada beberapa Tradisi yang berbeda tentang perjalanan Longinus selanjutnya.

Sebuah versi mengatakan bahwa Longinus mengikuti petunjuk para rasul dan pergi menyebarkan Injil sampai ke Capadocia – Asia Kecil (Sekarang wilayah Turki).  Di sini ia menjadi termashyur karena khotbah-khotbahnya dan ia mempertobatkan banyak orang menjadi Kristen.  Karena imannya Ia kemudian ditangkap dan dipaksa murtad dengan cara mempersembahkan kurban kepada dewa-dewi pagan Romawi.  Ketika Longinus menolak memberikan persembahan, Gubernur Romawi memerintahkan agar gigi Longinus dirontokkan dan lidahnya dipotong, tetapi secara ajaib ia masih dapat terus berbicara membela iman. Ia bahkan merobohkan patung dewa-dewi kafir tersebut. Karena itu Longinus lalu dipenggal kepalanya. Keberanian dan ketulusan yang ditunjukkan Longinus membuat sang gubernur pun akhirnya bertobat dan dibabtis menjadi Kristen.

Tradisi lain mengatakan Longinus dan kedua temannya itu kembali ke tanah asal mereka di Italia. Di sana mereka giat mewartakan nama Kristus dan menyampaikan, sebagai seorang saksi mata, kisah Sengsara dan Kebangkitan Kristus. Ia mempertobatkan banyak orang  sehingga membuat komunitas Yahudi di sana menjadi geram. Atas hasutan orang-orang Yahudi, Longinus dan kedua sahabatnya ditangkap lalu dipenggal kepalanya di kota Mantua. 

Tombak St. Longinus yang digunakannya untuk menikam Tuhan Yesus juga menurunkan legenda yang menarik untuk disimak. Beberapa versi Legenda tentang tombak ini sangat berbeda satu dengan yang lain, dan susah untuk ditelusuri kebenaran sejarahnya. Kisah - kisah yang berkembang tentang Tombak St. Longinus kadar historisnya sangat lemah karena itu hendaklah kita menerimanya sebagai MITOS belaka.

Legenda mengisahkan bahwa tombak yang telah tersiram Darah Juru Selamat kita tersebut  menjadi rebutan bagi raja-raja Kristen dari masa ke masa karena dipercaya bahwa siapapun yang memiliki tombak ini akan menjadi seorang yang tidak terkalahkan.  Tombak bersejarah itu disebut dengan berbagai nama; antara lain : Lancea Et Clavus Domini, The Holy Lance (German: Heilige Lanze),  The Holy SpearSpear of DestinyLance of LonginusSpear of Longinus, Tombak  Pembunuh Anak Manusia.

Mitos tentang para pemilik tombak ini berkembang simpang-siur mulai dari kaisar Romawi Kristen Pertama Konstantinus, Kaisar Romawi Suci I Charlemagne, Fredrich Barbarosa, Napoleon, bahkan Hitler dan Jendral Patton dari USA.  Di tahun 921 dikisahkan Raja Heinrich I bersedia menukar sebagian besar dari tanah kerajaannya hanya untuk mendapatkan tombak suci ini. Di Jerman, berkembang ceritera bahwa Raja Charlemagne bisa memenangkan peperangan sampai 47 kali karena ia memegang tombak suci ini. Ia terbunuh pada saat berperang karena lupa membawa tombak suci ini bersamanya. Kaisar Fredrich Barbarosa juga dikatakan dapat sukses dalam berbagai kampanye militernya dan memenangkan banyak peperangan karena memiliki tombak suci ini.

Saat ini terdapat empat Relikwi Tombak yang sama-sama diklaim sebagai Tombak Santo Longinus. 

Relikwi Tombak St. Longinus di Roma - Vatican

Relikwi Tombak St. Longinus di Vienna - Austria

Relikwi Tombak St. Longinus di Echmiadzin - Armenia

Relikwi Tombak St. Longinus di Antiokhia (Sekarang Antakya-Turki)

Asal-usul dan keaslian relikwi-relikwi tersebut sudah tidak bisa ditelusuri lagi.  Relikwi Tombak St. Longinus “versi” Roma kini disimpan di Basilika Santo Petrus tepat dibawah patung Santo Longinus.  Namun sampai hari ini Vatican tidak pernah mengeluarkan klaim resmi bagi keaslian dari relikwi tersebut.

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja

Lamunan Pekan Prapaskah IV

Minggu, 15 Maret 2026

Yohanes 9:1-41

1 Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. 2 Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" 3 Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. 4 Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja. 5 Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia." 6 Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi 7 dan berkata kepadanya: "Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam." Siloam artinya: "Yang diutus." Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek. 8 Tetapi tetangga-tetangganya dan mereka, yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata: "Bukankah dia ini, yang selalu mengemis?" 9 Ada yang berkata: "Benar, dialah ini." Ada pula yang berkata: "Bukan, tetapi ia serupa dengan dia." Orang itu sendiri berkata: "Benar, akulah itu." 10 Kata mereka kepadanya: "Bagaimana matamu menjadi melek?" 11 Jawabnya: "Orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku: Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat." 12 Lalu mereka berkata kepadanya: "Di manakah Dia?" Jawabnya: "Aku tidak tahu." 13 Lalu mereka membawa orang yang tadinya buta itu kepada orang-orang Farisi. 14 Adapun hari waktu Yesus mengaduk tanah dan memelekkan mata orang itu, adalah hari Sabat. 15 Karena itu orang-orang Farisipun bertanya kepadanya, bagaimana matanya menjadi melek. Jawabnya: "Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat." 16 Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: "Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat." Sebagian pula berkata: "Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?" Maka timbullah pertentangan di antara mereka. 17 Lalu kata mereka pula kepada orang buta itu: "Dan engkau, apakah katamu tentang Dia, karena Ia telah memelekkan matamu?" Jawabnya: "Ia adalah seorang nabi." 18 Tetapi orang-orang Yahudi itu tidak percaya, bahwa tadinya ia buta dan baru dapat melihat lagi, sampai mereka memanggil orang tuanya19 dan bertanya kepada mereka: "Inikah anakmu, yang kamu katakan bahwa ia lahir buta? Kalau begitu bagaimanakah ia sekarang dapat melihat?" 20 Jawab orang tua itu: "Yang kami tahu ialah, bahwa dia ini anak kami dan bahwa ia lahir buta, 21 tetapi bagaimana ia sekarang dapat melihat, kami tidak tahu, dan siapa yang memelekkan matanya, kami tidak tahu juga. Tanyakanlah kepadanya sendiri, ia sudah dewasa, ia dapat berkata-kata untuk dirinya sendiri." 22 Orang tuanya berkata demikian, karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi, sebab orang-orang Yahudi itu telah sepakat bahwa setiap orang yang mengaku Dia sebagai Mesias, akan dikucilkan. 23 Itulah sebabnya maka orang tuanya berkata: "Ia telah dewasa, tanyakanlah kepadanya sendiri." 24 Lalu mereka memanggil sekali lagi orang yang tadinya buta itu dan berkata kepadanya: "Katakanlah kebenaran di hadapan Allah; kami tahu bahwa orang itu orang berdosa." 25 Jawabnya: "Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat." 26 Kata mereka kepadanya: "Apakah yang diperbuat-Nya padamu? Bagaimana Ia memelekkan matamu?" 27 Jawabnya: "Telah kukatakan kepadamu, dan kamu tidak mendengarkannya; mengapa kamu hendak mendengarkannya lagi? Barangkali kamu mau menjadi murid-Nya juga?" 28 Sambil mengejek mereka berkata kepadanya: "Engkau murid orang itu tetapi kami murid-murid Musa. 29 Kami tahu, bahwa Allah telah berfirman kepada Musa, tetapi tentang Dia itu kami tidak tahu dari mana Ia datang." 30 Jawab orang itu kepada mereka: "Aneh juga bahwa kamu tidak tahu dari mana Ia datang, sedangkan Ia telah memelekkan mataku. 31 Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya. 32 Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta. 33 Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa." 34 Jawab mereka: "Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?" Lalu mereka mengusir dia ke luar. 35 Yesus mendengar bahwa ia telah diusir ke luar oleh mereka. Kemudian Ia bertemu dengan dia dan berkata: "Percayakah engkau kepada Anak Manusia?" 36 Jawabnya: "Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepada-Nya." 37 Kata Yesus kepadanya: "Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!" 38 Katanya: "Aku percaya, Tuhan!" Lalu ia sujud menyembah-Nya. 39 Kata Yesus: "Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta." 40 Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya: "Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?" 41 Jawab Yesus kepada mereka: "Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, nasib buruk yang menimpa seseorang ada yang mengaitkan dengan perbuatan buruk atau keliru. Dengan berperilaku buruk orang akan mengalami hidup celaka.
  • Tampaknya, nasib buruk berkaitan dengan kondisi tubuh juga biasa dikaitkan dengan perbuatan salah bahkan dosa. Tubuh cacad juga bisa dikaitkan ke dosa entah siapapun yang berbuat.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun kondisi buruk seseorang sering dikaitkan dengan kesalahan bahkan dosa dari entah siapa, tetapi bagi yang biasa dekat dengan relung hati justru kondisi buruk bisa jadi tanda hadirnya karya ilahi secara khusus. Dalam yang ilahi karena kemesrtaannya dengan gema relung hati orang akan sadar bahwa dalam kondisi seburuk apapun karya Tuhan tak akan berkesudahan bagi si penderita.

Ah, bagaimanapun juga orang cacad itu selalu menanggung derita.

Friday, March 13, 2026

Rahmat Lewat Kasihnya Rm. Saptaka

Pada Jumat 13 Maret 2026 sore Rm. Djoko Setyo mendapatkan giliran memimpin Misa Komunitas Rama Sepuh Domus Pacis. Sesudah membaca Injil kurang lebih Rm. Djoko memulai kata-kata dalam homili "Berhadapan dengan hukum kasih ternyata berisi dua, yaitu kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia. Saya menemukan bahwa keduanya sebenarnya adalah satu. Yang pokok adalah mengasihi Allah. Kalau mengasihi Allah orang akan memiliki relasi baik dengan sesama. Di sini saya mengingat ketika Rm. Saptaka berulang tahun pada Rabu 11 Maret dua hari lalu, tamu berdatangan baik dari Semarang maupun dari Sala selain beberapa keluarga. Para tamu banyak membawa oleh-oleh. Bahkan, sebenarnya, masih ada yang disimpan oleh Rm. Saptaka". Tentu saja kata-kata terakhir membuat peserta Misa tertawa. 


Seperti biasa, seusai Misa para rama langsung ke kamar makan santap malam bersama. Ternyata Rm. Saptaka meminta salah satu karyawan masuk kamarnya dan kembali ke ruang makan membawa sesuatu dalam piring besar. Rm. Saptaka meminta untuk di bagi tiga disajikan di 3 kelompok meja para rama sepuh. Rm. Bambang melihat sajian menu khusus itu dan merasa baru sekali itu menemukan. Menu itu terdiri dari lempengan-lempengan tebal tapi melebar berwarna kehitaman dan masing-masing ditusuk  dengan tusukan untuk pegangan. "Napa niku jenenge" (Itu apa?) tanya Rm. Bambang yang mendapat jawaban "Satu babi". Rm. Suntara yang semeja dengan Rm. Bambang tampak senang sekali. Sehabis doa penutup makan dia meminta karyawan untuk menyimpan beberapa tusuk yang masih sisa di dalam lemari es. Ternyata Rm. Saptaka melakukan hal sama. Di pagi hari satu piring sisa sate babi disajikan di kelompok Rm. Saptoko. Rm. Bambang menghampiri untuk diambil gambar dengan HP. "Kula sek ngertos sepisan sing ngados ngaten" (Saya baru sekali ini melihat yang seperti ini) kata Rm. Bambang yang ditanggapi oleh Rm. Saptaka "Niki saking Sala" (Ini dari Sala) sambil meminta Rm. Bambang membawa ke mejanya sesudah beliau mengambil satu. Rm. Bambang menyodorkan ke Rm. Suntara. Sesudah makan pagi ternyata Rm. Suntara minta ke karyawan menyimpan yang tersisa dengan berkata "Nggo engko awan" (Untuk nanti siang). Rm. Bambang merasa senang melihat Rm. Suntara merasa senang. Dia sendiri tidak menyantapnya. Maklumlah Rm. Bambang untuk menu daging hanya daging ayam, itupun harus digoreng atau dibakar garing.

Santa Matilda

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 03 Agustus 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014 Hits: 22659

  • Perayaan
    14 Maret
  •  
  • Lahir
    Tahun 895
  •  
  • Kota asal
    Engern, Westphalia, Jerman
  •  
  • Wafat
  •  
  • 14 Maret 968 di Quedlinburg, Jerman | Oleh sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

St. Matilda dilahirkan sekitar tahun 895, sebagai putri dari seorang bangsawan Jerman. Ketika masih muda usianya, orangtuanya telah mengatur pernikahan baginya dengan seorang bangsawan bernama Henry. Segera setelah mereka menikah, Henry menjadi raja Jerman. Sebagai ratu, Matilda hidup sederhana dengan meluangkan banyak waktu untuk berdoa.

Setiap orang yang melihatnya akan melihat bagaimana lemah lembut serta baik hatinya ia. Ia berperan lebih sebagai ibu daripada sebagai ratu. Ratu suka mengunjungi serta menghibur mereka yang sakit. Ia menolong orang-orang di penjara. Matilda tidak mau memanjakan dirinya oleh karena kedudukannya, melainkan ia berusaha untuk memberikan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan.

Raja Henry menyadari bahwa isterinya adalah seorang yang luar biasa. Berulangkali dikatakan raja kepada isterinya bahwa ia menjadi orang yang lebih baik serta menjadi raja yang lebih baik oleh karena Matilda adalah isterinya. Walaupun perkawinan mereka direncanakan oleh orangtua mereka, namun Henry dan Matilda saling mengasihi satu sama lain.

Matilda diberi kebebasan mempergunakan kekayaan kerajaan untuk karya belas kasihnya dan Henry tidak pernah mempertanyakannya. Sebaliknya, raja menjadi lebih sadar akan kebutuhan rakyatnya. Raja sadar bahwa dengan kedudukannya, ia mempunyai kuasa untuk meringankan beban penderitaan rakyat. Pasangan tersebut hidup berbahagia selama duapuluh tiga tahun. Kemudian Raja Henry meninggal dunia secara tiba-tiba pada tahun 936. Ratu merasa teramat sedih atas kepergian suaminya. Ia kemudian memutuskan untuk hidup bagi Tuhan saja.

Demikianlah ratu meminta imam untuk mempersembahkan Misa bagi keselamatan jiwa Raja Henry. Lalu ratu memberikan seluruh perhiasan yang dikenakannya kepada imam. Dengan berbuat demikian, ia hendak menunjukkan tekadnya untuk sejak saat itu meninggalkan segala urusan duniawi.

Setelah tahun-tahun dilewatinya dengan melakukan karya belas kasih dan silih dosa, St. Matilda wafat dengan tenang pada tahun 968. Ia dimakamkan disamping suaminya.

Lamunan Pekan Prapaskah III

Sabtu, 14 Maret 2026

Lukas 18:9-14

9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, dengan beragama orang bisa merasa berada dalam lingkungan ilahi. Apalagi kalau rajin menjalani agama, Tuhan selalu tersenyum kepadanya.
  • Tampaknya, dengan menjalani wajib-wajib agama orang sudah bisa merasa mampu menyukakan Tuhan. Segala perbuatannya akan dibenarkan oleh Tuhan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun dengan menjalani wajib-wajib dan kegiatan lain dalam agama bisa membuat orang merasa baik, justru rasa diri baik itu bisa berasal dari daya pengaruh setan apalagi kalau membuat orang merendahkan orang yang tidak baik. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar bahwa kebaikan seseorang yang biasa berbuat amat banyak kebaikan apapun di hadapan Tuhan selalu sadar akan banyak kekurangan dan keburukannya.

Ah, asal rajin beragama pasti baik dan menyenangkan Tuhan.

Thursday, March 12, 2026

Ikut Tuhan Yesus di Tengah Dunia

Ibu-ibu Paroki Muntilan meminta saya mengisi rekoleksi pada Senin 9 Maret 2026. Tema yang dikirim tertulis lewat WA adalah
Melayani Dengan Hati Maria, Bekerja Dengan Semangat Marta. Ini tentu berkaitan Maria dan Marta yang punya saudara bernama Lazarus. Mereka tinggal di Betania dan punya hubungan dekat dengan Tuhan Yesus Kristus. Berkaitan dengan tema pertemuan, saya membuka Injil Lukas 10:38-42 :

38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. 39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, 40 sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." 41 Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, 42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."

Semua Dekat Tuhan Yesus Lhooo

Kalau tak hati-hati kita bisa mempertentangkan Marta dan Maria. Kita bisa menganggap Marta mengutamakan kegiatan duniawi dan Maria mengutakan hidup rohani. Kita bisa menilai berdasarkan Marta yang sibuk menyiapkan jamuan dan Maria yang tekun mendengarkan sabda Tuhan Yesus. Yang jelas, kalau kita membuka-buka Kitab Suci, kita juga akan menemukan bagaimana Marta juga amat mengandalkan Tuhan Yesus. Coba kita perhatikan bagaimana keduanya sama-sama dekat Tuhan Yesus ketika berhadapan dengan kematian Lazarus saudaranya dalam Injil Yohanes 11:1-36 :


1 Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta. 2 Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya. 3 Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: "Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit." 4 Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan." 5 Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. 6 Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada; 7 tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Mari kita kembali lagi ke Yudea." 8 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?" 9 Jawab Yesus: "Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini. 10 Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya." 11 Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: "Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya." 12 Maka kata murid-murid itu kepada-Nya: "Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh." 13 Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa. 14 Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: "Lazarus sudah mati; 15 tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya." 16 Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain: "Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia." 17 Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. 18 Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira dua mil jauhnya. 19 Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. 20 Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. 21 Maka kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. 22 Tetapi sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya." 23 Kata Yesus kepada Marta: "Saudaramu akan bangkit." 24 Kata Marta kepada-Nya: "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman." 25 Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, 26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" 27 Jawab Marta: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia." 28 Dan sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: "Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau." 29 Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus. 30 Tetapi waktu itu Yesus belum sampai ke dalam kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia. 31 Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ. 32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati." 33 Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata: 34 "Di manakah dia kamu baringkan." Jawab mereka: "Tuhan, marilah dan lihatlah!" 35 Maka menangislah Yesus. 36 Kata orang-orang Yahudi: "Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!"

Dari paparan Injil Yohanes itu kita bisa tahu bahwa baik Marta maupun Maria sama-sama sungguh beriman kepada Tuhan Yesus. Keduanya percaya bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dan hidup. Bahkan sekeluarga bersama Lazarus sama-sama mengalami kasih Kristus.

Ora et Labora

Bagi mereka yang kerap omong sikap kerohanian, tampilnya Marta dan Maria sering dikatakan sajian 2 model penghayatan iman. Santa Marta kerap dijadikan model orang yang menekankan aktivitas, dan Maria menekankan model kontemplatif yang banyak hidup dalam keheningan seperti pertapa. Ketika saya merenungkannya, saya bertanya apakah yang banyak aktivitas kadar renung heningnya minim? Sebaliknya, apakah yang hidup dalam lingkungan renung hening seperti pertapaan adalah orang-orang kurang ativitas?

Dalam menimbang-nimbang pertanyaan itu, saya teringat salah satu semboyan hidup dalam menghayati kekatolikan. Yaitu Ora et Labora (Berdoa dan Bekerja). Ini adalah semboyan yang berasal dari Santo Benediktus di abad V yang menghidupi dan mengembangkan model pertapaan. Yosef MLHello dalam judul Mengenal Tradisi Ora et Labora dalam Bingkai Kehidupan Manusia yang saya ketemukan dalam https://www.kompasiana.com mengatakan :


Bagi Benediktus, kata 'labora' digunakan untuk mengungkapkan 'kerja tangan' atau 'opus manual'.  Dalam 'opus manual', kerja mendapatkan arti atau makna baru yang berarti berdoa, meditasi, membaca dan bekerja. 

Dengan kata lain, tidak ada lagi pemisahan antara bekerja di satu pihak dengan berdoa di pihak lain, sehingga keduanya seharusnya dilakukan bersamaan.

Dari satu sisi kesejatian manusia adalah ciptaan Allah sehingga harus menjaga keeratan dengan-Nya lewat doa. Sementara itu tidak seperti hewan yang hanya hidup sesuai apapun yang disediakan oleh alam, manusia sungguh manusiawi kalau bekerja. Berkaitan dengan tokoh Marta dan Maria dalam pembicaraan ini, saya tak akan mengulas satu per satu riwayat hidupnya. Kalau ada yang yang menyoalkan apakah Maria saudari Marta sama dengan Maria Magdalena atau tidak, saya tak akan membicarakan. Bagi saya keduanya masuk dalam kalangan para perempuan yang biasa mengikuti Tuhan Yesus dan melayani Tuhan dan para rasul sebagaimana dikatakan oleh Santo Lukas bahwa “beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes,  Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.” (Luk 8:2-3) Marta dan Maria termasuk yang ikut aktif bersama Yesus dan para murid bahkan ikut ambil bagian dalam pembeayaan kegiatan. Bahkan Maria dan Marta sama-sama biasa jadi pendoa khusus dan di ketuaannya menjadi pendoa khusus. Saya menemukan ini dalam katakombe.org/para-kudus. Untuk Santa Maria Magdalena yang peringatannya pada tanggal 22 Juli ada catatan “Tradisi Perancis mengatakan bahwa Maria, Lazarus, dan beberapa sahabat Yesus datang ke Marseilles, Prancis, menginjili dan mengkristenan seluruh wilayah Provence, dan kemudian menyepi dan hidup sebagai pertapa sampai saat kematiannya  di La Sainte-Baume.” Sedang untuk Santa Marta yang peringatannya 29 Juli “Salah satu yang paling populer adalah Legenda tentang makam St. Martha si Tarascon Perancis. Dikatakan bahwa Marta meninggalkan Yudea dan pergi ke Tarascon, Prancis. Ia melalui hari-harinya di desa tersebut dengan berdoa dan berpuasa sampai pada akhir hidupnya. Masih menurut legenda; Marta meninggal di Tarascon, dan dimakamkan di ruang bawah tanah Gereja Collegiate di Tarascon.” Baik Maria maupun Marta sama-sama aktif menjadi pewarta iman dalam hidupnya. Mereka pasti juga selalu olah rohani sehingga di usia tuanya bisa hidup dalam kesendirian tak lepas dari kemesraan dengan Tuhan.

Bersama Tuhan di Tengah Dunia

Pada hemat saya untuk menjaga dan mengembangkan diri sebagai manusia sejati adalah menjaga kesadaran dan penghayatan untuk tetap bersama Tuhan di tengah-tengah kesibukan duniawi. Bukankah Tuhan Yesus pernah meminta Allah Bapa untuk para murid-Nya “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia” (Yoh 17:15-18). Ini bisa terjadi kalau kita selalu memelihara dan mengembangkan iman. Saya biasa berpegang pada rumusan dalam Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang (Ardas KAS) 1996-2000 yang mengatakan bahwa “Beriman berarti semakin mengikuti Tuhan Yesus Kristus dalam perkembangan situasi hidup dan budaya setempat”. Di sini saya mengetengahkan pengalaman yang merupakan derap batin terhadap 3 hal : sadar realita, sadar pegangan iman, rela dalam bertindak. Semua ini dijalani dengan pembiasaan sambung hatin dengan Tuhan dalam hati. Kalau saya biasa sambung dengan yang ada dalam hati, sadar atau tidak sadar saya jumpa Tuhan. Bukankah Santo Paulus berkata “tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah” (1Kor 6:19). Untuk menemukan kesadaran akan realita dan pegangan iman serta rela dalam bertindak, dalam olahan batin saya amat diwarnai pola budaya Jawa yang tertanam secara alami dalam diri saya sejak bayi.

Sadar realita

Bagi saya kesadaran akan realita tidak sekedar tahu kenyataan hidup yang saya hadapi. Tetapi itu harus menjadi kerelaan dan penerimaan serta kenyamanan berada di tengah-tengahnya. Saya meyakini ini sebagai upaya batin untuk bisa rila, nrima, dan sabar berhadapan dengan realita. Proses upaya batin ini bisa terjadi kalau selalu berjuang untuk selalu menjadikan segalanya dialog dengan Tuhan dalam hati. Bagi saya ini adalah model kerohanian Bunda Maria yang “menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (Luk 2:19).

  • Rila. Kata rila dalam bahasa Jawa berarti membiarkan yang ada sesuai adanya. Kalau yang ada itu menyenangkan atau cocok dengan diri, tentu saja itu tak akan menjadi soal. Yang jadi soal kalau adalah kalau saya tidak suka bahkan bisa sungguh tidak menghadirkan kenyamanan apalagi kalau sampai memuakkan. Bagi saya dalam hal inilah masuk dalam relung hati menjadi tuntutan. Kalau hal yang tak menghadirkan rasa nyaman itu mewarnai hari hari saya, saya memanfaatkan saat kesendirian untuk diam mengomongkan dengan Tuhan secara jujur dalam relung hati. Kalau rasa negatif itu muncul di tengah mengikuti acara atau di tengah jumpa orang atau di tengah kesibukan, saya akan langsung omong singkat dengan kata-kata seperti mengirim WA singkat kepada Tuhan di dalam hati. Bisa juga di tengah suasana seperti itu dalam hati saya hanya menyebut “Gusti .... Gusti” (Tuhan .... Tuhan) berkali-kali. Dalam pengalaman saya, itu sungguh membuat saya menemukan rasa tidak terganggu. Memang, dalam hal kecil yang mengganggu saya bisa menemukan rasa enak bisa dalam sesaat atau beberapa jam atau sehari. Tetapi dalam hal besar ketenangan batin bisa terjapai bisa berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Saya yakin itu semua sesuai dengan proses keterbukaan saya terhadap karya Roh dalam hati saya. Sepanjang waktu berapa lamapun, dengan terbuka pada bimbingan Roh Kudus dalam hati, saya akan mengalami ketenangan batin berhadapan dengan yang tidak saya cocoki. Paling tidak yang tidak saya cocoki tidak akan menghadirkan trauma batin.
  • Nrima. Kalau orang sudah punya sikap batin tenang membiarkan yang dihadapi, yang sebenarnya tidak dicocoki, ada sesuai adanya, sikap rila akan berkembang ke sikap nrima, yaitu bisa menerima dengan ikhlas apa yang sebenarnya tidak cocok bahkan berseberangan. Sikap nrima sebenarnya merupakan buah sikap batin tenang dari sikap rila.
  • Sabar. Sabar dalam sikap hidup orang Jawa sebenarnya adalah toleransi. Puncak kemampuan bersikap rila dan nrima membuat orang bisa berdampingan dan ada bersama dengan yang tidak dicocoki. Orang bisa tetap tidak cocok bahkan tidak setuju, tetapi bisa tidak terganggu kenyamanannya ada bersamanya.

Sadar pegangan iman

Ketika akan memulai permenungan tentang kesadaran pegangan iman, hati saya tersentak akan kesadaran bahwa yang kini saya sajikan adalah derap penghayatan iman secara pribadi. Sedang proses sesudah sadar akan pengalaman akan realita kemudian diteruskan ke terang iman seperti Kitab Suci atau ajaran Gereja atau hal-hal lain disekitar dokumen Gereja, itu terjadi dalam proses pendampingan. Ada kelompok berkumpul dengan didampingi seorang pemandu. Dalam proses bisa terjadi refleksi pengalaman, analisis, menemukan terang iman, dan diakhiri dengan apa yang direncanakan akan dibuat. Proses seperti ini juga bisa terjadi secara pribadi bagi yang mengadakan olah rohani khusus seperti retret. Meskipun demikian, sekedar sharing untuk pengetahuan, saya akan menyampaikan beberapa pokok yang barangkali bisa bermanfaat untuk cakrawala pegangan menghayati realita hidup dengan terang iman.

  • Hening. Santa Theresa dari Kalkuta amat menekankan keheningan sebagai poros segala kegiatan untuk menjaga orang selalu ada dalam area kekudusan. Secara garis besar Santa Theresa yakin bahwa dengan hening orang berdoa, dengan doa orang beriman, dengan iman orang mengasihi, dengan kasih orang melayani, dan dalam melayani orang mengalami kedamaian batin dalam keheningannya. Bagi saya secara singkat keheningan dicapai kalau kita membiasakan diri membawa segalanya menjadi dialog batin, singkat atau leluasa, dalam relung hati. Seperti Bunda Maria, kita membiasakan diri memasukkan segalanya dalam hati dan merenungkannya entah sesaat entah leluasa. Dengan membiasakan intim dengan relung hati sadar atau tak sadar orang akan merasakan cahaya ilahi yang menjaga keberimanan hidup. Sebenarnya ketika berhadapan dengan realita, kalau sudah biasa menjaga keheningan hati, sikap rila akan cepat tercapai sehingga mudah untuk nrima dan sabar. Bahkan kebiasaan hening batin akan memudahkan orang bisa langsung nrima dan sabar ketika berhadapan dengan realita yang sebenarnya tidak dicocoki.
  • Ingat butir iman. Dengan biasa mengikuti kegiatan keagamaan, paling tidak dengan ikut Misa Mingguan, orang bisa memetik ajaran iman sekecil apapun. Itu bisa berasal dari homili ataupun omongan lain misalnya dalam kumpulan pendalaman iman atau Kitab Suci. Bahkan dari omong-omong baik serius maupun sembronoan, orang bisa menemukan hal baik. Bukankah segala yang baik berasal dari Allah. Ingat segala yang diciptakan Allah selalu baik (bandingkan Kej 1:3-25). Bahkan Tuhan Yesus mengatakan bahwa “Hanya Satu yang baik” (Mat 19:17). Karena kata “Satu” dengan “S” huruf besar, saya yakin itu adalah Allah. Dengan ingat butir iman, baik itu hal baik ataupun dari yang secara jelas khasanah keagamaan, orang bisa mendapatkan terang iman dari realita yang dihadapi. Kalau orang sudah oke dengan realita yang dihadapi, butir iman bisa mengukuhkannya atau bahkan menghadirkan cakrawala baik lainnya.
  • Baca Kitab Suci. Kitab Suci adalah dasar dalam penghayatan iman. Semua ajaran dan tatanan dalam kehidupan Gereja diturunkan dari semangat dasar pesan iman dalam Kitab Suci. Maka pembiasaan membaca Kitab Suci akan membuat orang mengakrabkan diri dengan apa yang dijadikan pegangan utama para rasul dan umat perdana. Tentu saja hal-hal yang tertangkap oleh pikiran atau perasaan atau kehendak dalam membaca harus menjadi bahan dialog batin dengan relung hati. Saya sendiri dalam keseharian hanya biasa membaca Kitab Suci bagian Injil yang menjadi bacaan Misa Harian. Tetapi keterbatasan saya kerap menghadirkan ingatan kata-kata iman ketika berhadapan dengan realita harian.

Tindakan iman

Ketika menyampaikan khotbah di bukit untuk massa pengikut (Mat 5-7), Tuhan Yesus menutup dengan kata-kata berikut :


"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya." 

Kalau tak hati-hati orang bisa puas karena bisa menjalani agama dengan segala kebiasaan keagamaannya. Kalau tak hati-hati orang bisa bangga karena memiliki berbagai pengetahuan Kitab Suci dan ajaran-ajaran serta tatanan dalam Gereja. Orang bisa mantap ketika mampu menyebut Tuhan dengan dukungan pemahaman akan Dia. Di sinilah Tuhan Yesus berkata “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 7:21). Dengan menjalani kehendak Allah kita akan ikut Allah tak hanya terbatas pada kegiatan lahiriah keagamaan. Di sini kita bisa ingat kata-kata Tuhan “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat 5:20).

Perbuatan lahiriah yang menjadi wujud hati bersekutu dengan Allah sungguh menjadi tuntutan. Sebagai tuntutan iman tindakan kongkret beriman bisa disebut pertobatan. Hal ini menjadi amanat pertama Tuhan Yesus ketika tampil pertama di hadapan publik, yaitu “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:15) Di dalam kehidupan umat Katolik, iman kepada Injil berarti iman kepada peristiwa Paskah, yaitu kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian. Inilah dasar segala kehidupan beriman kepada Tuhan Yesus Kristus. Begitu besar dan luhur serta bermaknanya peristiwa Paskah, untuk merayakan Hari Paskah umat Katolik mengenal Masa Prapaskah, sebagai masa pembaruan dan pengembangan sikap tobat, yaitu hidup berkiblat kepada Allah berdasarkan keyakinan akan kebangkitan Kristus. Sebagai tanda tobat Katekismus Gereja Katolik menyatakan “Tobat batin seorang Kristen dapat dinyatakan dalam cara yang sangat berbeda-beda. Kitab Suci dan para Bapa Gereja berbicara terutama tentang tiga bentuk: puasa, doa, dan memberi sedekah sebagai pernyataan pertobatan terhadap diri sendiri, terhadap Allah, dan terhadap sesama.” (1434)

  • Tobat terhadap diri sendiri. Ini berkaitan dengan puasa sebagai salah satu kewajiban keagamaan. Tindakan berpuasa selalu berkaitan dengan pengurangan kenyaman tubuh. Tetapi demi kenyamanan sejati tubuh dalam situasi kondisi kongkret orang harus berhadapan dengan mengikuti selera bahkan keenakan sesaat. Katanya, puasa tak makan dan tak minum selama sehari bisa membuat metabolisme tubuh membaik. Saya jadi ingat ada yang setiap hari hanya makan sore dan seharian hanya minum. Pada tahap-tahap pertama dia biasa mengeluh. Tetapi kini tubuhnya jadi segar dan tidak gembrot seperti sebelum terapi model makan sekali sehari. Saya sendiri biasa jauh dari makan nasi dan bahan makan yang mengandung karbo. Itu saya jalani sejak Januari 2012 karena diabetes. Saya kini biasa makan sayuran. Padahal sebelumnya saya tak suka segala sayuran. Sebetulnya hingga kini saya tak bisa menikmati sayuran. Sebenarnya yang saya sukai bakmi, gudeg, dan nasi goreng. Tetapi segala tindakan pantang kuliner demi tubuh sungguh membuat badan terasa nyaman dan segar. Di dalam permenungan saya menyadari bahwa tubuh manusia adalah tampilan lahiriah duniawi manusia, yang sebetulnya diciptakan sebagai gambaran Allah (bandingkan Kej 1:26). Dengan demikian puasa dan pantang menjadi jalan menghayati dan menyadari diri sebagai gambaran Allah. Dengan kesegaran fisik saya bisa menghayati sendiri kegembiraan Injili atau sukacita ilahi. Maka, dalam pewartaan Injil atau sukacita ilahi saya punya landasan bisa berbuat untuk diri saya sendiri dalam menghayati Injil.
  • Tobat terhadap Allah. Kewajiban keagamaan lain adalah berdoa. Dalam hal ini ada tingkat-tingkatan doa, yaitu doa lisan, doa renung, dan doa batin. Doa lisan menekankan ucapan-ucapan termasuk yang menjadi tradisi doa, ibadat, dan devosi dalam Gereja. Tetapi kalau hanya sampai pada pengucapan, itu bisa tidak bermakna kalau tidak pernah dimasukkan dalam hati dan direnungkan. Barangkali yang masuk dalam renungan hanya sedikit. Tetapi yang sedikit itu akan memiliki daya besar dalam penghayatan iman. Bukankah iman sebiji sesawi bisa membuat orang bisa memindah gunung? Itulah ibarat yang dikatakan oleh Tuhan Yesus. Doa sungguh membuat hidup berbinar kalau menjadi pengalaman batin yang membuat orang mesra dengan Allah dalam relung hati sadar atau tidak sadar.
  • Tobat terhadap sesama. Ini adalah amalan atau pewujudan iman, yaitu benjadi bentuk ikut Tuhan di tengah kehidupan bersama. Bukankah hukum utama orang yang ikut Tuhan Yesus adalah mencintai Tuhan Allah dan mencintai sesama seperti diri sendiri. Perbuatan iman ini mencakup baik dalam keluarga, di tengah pekerjaan, dan pergaulan lainnya. Dengan paparan kisah orang Samaria yang menolong orang Yahudi yang dianiaya oleh penyamun (lihat Luk 10:25-37), itu menunjukkan bahwa tindakan baik orang yang ikut Tuhan Yesus untuk sesama tak boleh dibatasi oleh perbedaan SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan). Pegangannya adalah yang dikatakan oleh Tuhan Yesus “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40). Inilah latarbelakang mengapa dalam perjuangan menyejahterakan sesama Keuskupan Agung Semarang mengutamakan KLMTD (kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel).

Bukan Proses Sistematis

Olah rohani model Maria-Marta bukanlah tindakan sistematis dengan tahap-tahapan didasarkan pemikiran-pemikiran teoritis. Memang dalam kegiatan bersama seperti retret dan bimbingan bersama, pemandu akan mendampingi dengan langkah-langkah sistematis. Namun untuk olah rohani pribadi ini bisa terjadi secara spontan sesaat dan kalau dalam kesempatan leluasa seperti akan dan bangun tidur bisa terjadi seperti lamunan. Tetapi satu hal yang pada hemat saya amat penting adalah pembiasaan diri kontak dengan relung hati. Tentu saja untuk kontak batin dengan hati kita harus meneng atau diam. Diam sesaat di tengah kegiatan sudah cukup untuk omong singkat dengan hati. Pembiasaan seperti ini sungguh membuat kita punya keheningan yang tak akan merasa gelisah berhadapan dengan realita apapun. Keheningan bisa menghadirkan butir iman secara spontan. Dari sini kita akan mudah untuk hidup bersama siapapun dan berbuat demi kebaikan umum. Dalam kondisi diam pun kita bisa hadir ikut jadi terang yang menyenangkan dalam kebersamaan.

Domus Pacis Santo Petrus, 3 Maret 2026

Dominikanes Awam Chapter Martinus de Porres

 Kongregasi dan ordo adalah hidup membiara yang para anggotanya pada umumnya mengikrarkan 3 kaul, yaitu kemurnian (selibat), ketaatan, dan k...