Saturday, March 7, 2026

Lamunan Pekan Prapaskah III

Minggu, 8 Maret 2026

Yohanes 4:5-42

5 Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. 6 Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. 7 Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum." 8 Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) 10 Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." 11 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? 12 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?" 13 Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, 14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." 15 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air." 16 Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini." 17 Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, 18 sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar." 19 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi. 20 Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah." 21 Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. 22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. 23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. 24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." 25 Jawab perempuan itu kepada-Nya: "Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami." 26 Kata Yesus kepadanya: "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau." 27 Pada waktu itu datanglah murid-murid-Nya dan mereka heran, bahwa Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan. Tetapi tidak seorangpun yang berkata: "Apa yang Engkau kehendaki? Atau: Apa yang Engkau percakapkan dengan dia?" 28 Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: 29 "Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?" 30 Maka merekapun pergi ke luar kota lalu datang kepada Yesus. 31 Sementara itu murid-murid-Nya mengajak Dia, katanya: "Rabi, makanlah." 32 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal." 33 Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain: "Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepada-Nya untuk dimakan?" 34 Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. 35 Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. 36 Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita. 37 Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai. 38 Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka." 39 Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: "Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat." 40 Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal pada mereka; dan Iapun tinggal di situ dua hari lamanya. 41 Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya, 42 dan mereka berkata kepada perempuan itu: "Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, orang dapat yakin dengan beragama orang akan mendapatkan ketenangan batin. Itu semua karena orang dekat Tuhan.
  • Tampaknya, makin rajin menjalani kewajiban-kewajiban agama orang tak akan ada dalam keburukan hidup. Orang akan selalu bahagia.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun dalam agama orang biasa didekatkan ke Tuhan sumber segala kebahagiaan, orang baru sungguh dekat menyatu dengan Tuhan kalau dalam beragama melandaskan diri pada relung hati yang tak hanya membuat orang teraliri keceriaan batin tetapi juga menjadi sumber kebahagiaan bagi banyak orang. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang tak hanya mengalami kepuasan hidup tetapi juga mampu mengalirkan bagi kehausan-kehausan sekitarnya akan terpenuhinya kebutuhan hidup.

Ah, asal menjalani agama orang akan bahagia.

Friday, March 6, 2026

Rencana Kunjungan UBK Semarang

Domus Pacis Santo Petrus, sebagai rumah para rama sepuh, memang berada dalam Kompleks Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan. Kalau hanya memakai sharelock untuk datang ke Domus Pacis, orang dengan kendaraannya akan dituntun lewat Jalan Timor Timur. Tetapi sekalipun kemudian bolak balik, orang hanya akan berada di balik tembok tanpa pintu masuk ke Domus Pacis. Kalau mau masuk bagaimanapun juga orang harus lewat pintu gerbang Seminari Tinggi. Begitu masuk orang akan berjumpa pos satpam dan akan ditunjukkan arah ke Domus Pacis yang gedungnya ada di bagian belakang Seminari Tinggi. Tampaknya, posisi Domus Pacis yang berada dalam satu kompleks dengan Seminari Tinggi membuat beberapa orang dan atau kelompok memandang Domus Pacis adalah bagian dari Seminari Tinggi. Bahkan karena biasa berkunjung ke Seminari Tinggi ada yang omong bahwa dia biasa ke Domus Pacis. Orang itu bisa heran karena ada yang biasa ke Domus tetapi tidak mengenal rama-rama Seminari.

Barangkali, salah satu kelompok yang kurang lebih berpikir satunya Domus dan Seminari adalah Kelompok Pendampingan Umat Berkebutuhan Khusus (UBK) dari Semarang. Kelompok ini akan membuat acara yang pelaksanaannya dikonsepkan baik di Seminari Tinggi maupun di Domus Pacis. Barangkali mereka ingin berjumpa khusus baik dengan para calon imam maupun dengan para imam usia senja. Barangkali mereka sudah berhubungan baik dengan Rm. Fajar, Misnister Seminari Tinggi, maupun dengan Rm. Andika yang menjadi Direktur Domus Pacis. Barangkali mereka sudah bicara acara pada hari tertentu yang pelaksanaannya bergantian tempat antara Seminari Tinggi dan Domus Pacis. Barangkali mereka sudah pernah memilih tanggal 19 April 2026 sebagai saat pelaksanaan tetapi Rm. Andika punya acara. Barangkali kemudian ada hari-hari lain tetapi belum diketemukan kecocokan antara Rm. Andika dan Rm. Fajar. Pada Rabu 4 Maret 2026 kelompok ini datang di Domus Pacis untuk surve. Karena baru ada acara, kalau kelompok ini datang dan Rm. Andika belum pulang, Rm. Bambang diminta untuk menemui. Dari pertemuan pada sekitar jam 13.00 hari itu, Rm. Bambang mengatakan “Pilih saja untuk tempat kegiatan UBK. Di Seminari Tinggi atau di Domus. Kalau di Seminari Tinggi, di Domus cukup jalan-jalan melihat tanpa ada acara kegiatan dengan melibatkan para rama sepuh. Demikian sebaliknya”. Kebetulan Rm. Andika datang. Ketika dari kelompok bertanya apa tanggal 14 Mei 2026, Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus, belum ada kelompok lain yang akan berkunjung, ternyata memang masih kosong. Ternyata tampaknya dari Tim UBK masih ada yang berpikir Seminari Tinggi. Maka Rm. Andika dan Rm. Bambang memberi kesempatan 1 minggu untuk menentukan mau pakai tanggal 14 Mei 2026 untuk acara UBK Semarang di Domus atau tidak. Kalau dalam seminggu belum ada ketentuan, bila ada kelompok umat lain akan berkunjung di Domus untuk tanggal itu, kelompok inilah yang akan diterima. Kelompok UBK setuju dan dalam waktu dekat akan berunding lebih dahulu. Ternyata 3 hari kemudian, yaitu Sabtu 7 Maret 2026, di tengah makan siang Rm. Andika berkata bahwa kelompok ini memilih tanggal 27 Mei 2026. Ini adalah hari libur Idul Adha.

Santa Perpetua

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 02 Agustus 2013 Diperbaharui: 04 Agustus 2017 Hits: 13143

  • Perayaan
    07 Maret
  •  
  • Lahir
    Hidup abad ke-3
  •  
  • Kota asal
    Kartago - Afraka Utara (sekarang Tunisia)
  •  
  • Wafat
  •  
  • Sekitar tahun 202 | Martir
    Dijadikan mangsa binatang buas lalu kemudian dipenggal kepalanya
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santa Perpetua hidup di Kartago, Afrika Utara (sekarang Negara Tunisia) pada abad ketiga. Pada masa itu terjadi penganiayaan yang hebat atas orang-orang Kristen oleh Kaisar Septimus Severus. Perpetua yang berusia duapuluh dua tahun adalah puteri seorang bangsawan kaya. Semenjak kecilnya ia selalu mendapatkan apa saja yang ia inginkan. Tetapi ia sadar bahwa ia mengasihi Yesus dan iman Kristianinya jauh lebih berharga dari apa pun yang dapat ditawarkan oleh dunia. Oleh karena imannya itulah ia menjadi seorang tahanan yang siap menghadapi hukuman mati.

Ayah Perpetua adalah seorang kafir. Ia melakukan segala daya upaya untuk membujuk puterinya agar mengingkari iman Kristianinya. Ia berusaha meyakinkan Perpetua akan betapa pentingnya menyelamatkan nyawanya. Tetapi, Perpetua tetap pada pendiriannya, meskipun ia tahu bahwa ia harus meninggalkan suami serta bayinya.

Santa Perpetua bersama pelayannya St. Felisitas menghadapi kemartiran mereka dengan gagah berani. Mereka dijadikan mangsa binatang-binatang buas dan kemudian dipenggal kepalanya. Mereka berdua wafat sekitar tahun 202.

Lamunan Pekan Prapaskah II

Sabtu, 7 Maret 2026

Lukas 15:1-3.11-32

1 Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. 2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." 3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: 

11 "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. 12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. 13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. 14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat. 15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. 16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya. 17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. 18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, 19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. 20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. 21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. 22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. 23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. 24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. 25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. 26 Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. 27 Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. 28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. 29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. 30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. 31 Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. 32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, ada gambaran untuk sungguh beriman agamawan akan menjaga kebaikan hidup. Dia akan banyak bergaul dengan orang baik-baik.
  • Tampaknya, ada gambaran untuk sungguh beriman orang akan menjadi jauh dari perilaku buruk. Dia akan menyingkiri pergaulan dengan kaum buruk dan pendosa.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun untuk beriman orang harus menjaga perilaku baik, dalam yang ilahi orang yang sungguh baik akan amat bergembira terbuka pada kaum buruk sebejat apapun yang berbalik mengejar kebaikan dan kebenaran. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan sungguh merasakan gembira dan bahagia menerima sambung hidup dengan pendosa seberat apapun yang berjuang kembali baik.

Ah, bagaimanapun pendosa itu ya tukang dosa.

Thursday, March 5, 2026

Penjualan Batik Domus

"Ada masa laku banyak dan ada masa sedikit, ya" kata Bu Rini pada Rm. Bambang. "Apa meneh mangsa Prapaskah dan ndilalah mangsa pasa. Umat akeh sibuk kegiatan neng Lingkungan lan Paroki. Mangsa pasa menjelang Idul Fitri akeh kebutuhan butuh ragat khusus" (Apalagi di Masa Prapaskah yang kebetulan bersamaan dengan masa puasa. Banyak umat sibuk kegiatan di Lingkungan dan Paroki. Masa puasa menjelang Hari Raya Idul Fitri banyak kebutuhan membutuhkan beaya khusus) jawab Rm. Bambang. Sebenarnya yang dibicarakan adalah penjualan kain batik di Domus untuk mencari dana. Penjualan batik terutama memang terjadi di Domus Pacis sehingga pembelinya adalah kelompok-kelompok pengunjung Domus. Memang, kalau kebetulan mendapatkan undangan untuk mengisi acara di Paroki-paroki, Bu Rini yang mengantar Rm. Bambang juga biasa membawa batik. Meskipun demikian, walaupun tidak ada kunjungan kelompok umat untuk para rama Domus Pacis, ada beberapa orang yang dalam kelompok kecil datang di Domus Pacis. Mereka datang untuk mengunjungi Rm. St. Heruyanto yang sekeluar dari RS Panti Rapih dititipkan di Domus Pacis karena kondisi stroke. Kini beliau adalah rama yang bertugas di Paroki Salam. Nah, dari mereka yang mengunjungi Rm. Heru ternyata ada yang membeli 1 atau 2 potong batik di kamar Rm. Bambang.

Santa Koleta

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 27 Juli 2013 Diperbaharui: 04 Februari 2020 Hits: 27029

  • Perayaan
    06 Maret (Roman Martyrology)
    07 Februari (Fransiskan dan Kapusin)
  •  
  • Lahir
    13 January 1381
  •  
  • Kota asal
    Picardy Perancis
  •  
  • Wilayah karya
    Ghent, Flander
  •  
  • Wafat
  •  
  • 6 Maret 1447 di Ghent, Belgia | Oleh sebab alamiah
    Disemayamkan di Monastère Sainte-Claire, Poligny, Perancis
  •  
  • Beatifikasi
    Tahun 1604 oleh paus Klemens VIII
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • 2 Mei 1807 oleh Paus Pius VII

Santa Koleta dilahirkan pada tahun 1381 dan diberi nama Nikoleta untuk menghormati St. Nikolaus dari Myra. Orangtuanya yang penuh kasih sayang memanggilnya Koleta sejak ia masih bayi. Ayah Koleta adalah seorang tukang kayu di sebuah biara di Picardy.  Ia seorang gadis yang pendiam dan rajin bekerja. Ia memberikan banyak bantuan kepada ibunya dalam melakukan pekerjaan rumah tangga. Orangtuanya memperhatikan bahwa puteri mereka senang berdoa, ia juga seorang yang peka serta penuh belas kasihan.

Ketika Koleta berusia tujuhbelas tahun, kedua orangtuanya meninggal dunia. Gadis itu kemudian diserahkan di bawah asuhan pemimpin biara di mana ayahnya dulu bekerja. Koleta meminta dan mendapatkan sebuah gubug kecil yang dibangun di samping gereja biara. Koleta tinggal di sana. Ia menghabiskan waktunya dengan berdoa dan melakukan silih bagi Gereja Kristus. Semakin lama semakin banyak orang mengetahui perihal gadis kudus ini. Mereka datang kepadanya untuk meminta nasehatnya dalam masalah-masalah penting. Mereka tahu bahwa Koleta seorang yang bijaksana oleh sebab hidupnya dekat dengan Tuhan. Koleta menerima semua orang dengan kelemahlembutan. Di akhir kunjungan, ia akan berdoa agar para tamunya menemukan kedamaian hati.

Koleta adalah anggota Ordo Ketiga St. Fransiskus. Ia tahu bahwa ordo religius bagi para wanita yang mengikuti cara hidup St. Fransiskus adalah Ordo Santa Klara. Ordo tersebut diberi nama sesuai dengan pendiri ordo mereka, St. Klara, yang adalah pengikut St. Fransiskus. Pada masa Koleta hidup, Ordo Santa Klara perlu kembali ke tujuan awal ordo mereka. St. Fransiskus dari Asisi menampakkan diri kepada Koleta serta memintanya untuk mengadakan pembaharuan dalam Ordo St. Klara. Tentu saja Koleta amat terkejut dan takut oleh sebab tugas yang demikian berat itu. Tetapi, ia percaya akan belas kasih Tuhan. Koleta pergi mengunjungi biara-biara St. Klara. Ia membantu para biarawati Klaris untuk hidup lebih sederhana dan meluangkan lebih banyak waktu untuk berdoa. Ordo St. Klara memperoleh semangat dari cara hidup St. Koleta.

St. Koleta memiliki devosi yang mendalam kepada Yesus dalam Ekaristi. Ia juga seringkali mengadakan waktu untuk merenungkan sengsara serta wafat Kristus. Ia amat mencintai Yesus dan panggilan religiusnya. Ia juga tahu dengan pasti kapan dan di mana ia akan meninggal. Ia wafat di salah satu biaranya di Ghent, Flanders, pada tahun 1447 dalam usia enampuluh tujuh tahun.

Lamunan Pekan Prapaskah II

Jumat, 6 Maret 2026

Matius 21:33-43.45-46

33 "Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. 34 Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. 35 Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu. 36 Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak dari pada yang semula, tetapi merekapun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. 37 Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. 38 Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. 39 Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. 40 Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?" 41 Kata mereka kepada-Nya: "Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya." 42 Kata Yesus kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. 43 Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu." 45 Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya. 46 Dan mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia nabi.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, umat beragama bisa mengalami keprihatinan karena para pengurus dan penggeraknya banyak yang tidak mengutamakan hidup rohani. Banyak tokoh yang mengejar uang berselubung slogan pelayanan iman sehingga selalu menyingkirkan tokoh yang menyuarakan iman.
  • Tampaknya, umat beragama juga dapat berprihatin karena banyak tokoh dan pengurusnya ambisi kedudukan. Bahkan ada beberapa tokoh yang mengejar kedudukan politik dengan memperalat agama sehingga selalu menentang yang memperjuangkan kebaikan umum.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun selalu disingkirkan dan ditentang oleh tokoh-tokoh keagamaan gila uang dan kekuasaan karena biasa menyuarakan iman dan kebaikan umum, yang tersingkir justru jadi pegangan damai sejahtera amat banyak orang. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar bahwa yang terbuang karena penetangan tokoh-tokoh pemuja uang dan kedudukan justru akan menjadi penghadir damai sejahtera banyak orang.

Ah, kalau tersingkir ya tak ada yang memperhatikan.

Lamunan Pekan Prapaskah III

Minggu, 8 Maret 2026 Yohanes 4:5-42 5 Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub ...