Showing posts with label Orang Kudus. Show all posts
Showing posts with label Orang Kudus. Show all posts

Sunday, February 22, 2026

Santo Polikarpus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 28 Juli 2013 Diperbaharui: 19 Oktober 2019 Hits: 33927

  • Perayaan
    23 Februari
  •  
  • Lahir
    Antara tahun 75 - 80
  •  
  • Kota asal
    Smyrna - Turki
  •  
  • Wafat
  •  
  • Sekitar tahun 155 di Smyrna | Martir
    Awalnya dibakar hidup-hidup; tapi karena tidak terbakar api ia lalu ditusuk dengan pedang sampai mati
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Polikarpus dilahirkan antara tahun 69 hingga 80. Ia adalah murid langsung dari Rasul Yohanes, saudara  Yakobus; dua bersaudara, yang sangat dikasihi Yesus. Ia dibabtis menjadi seorang Kristen oleh Rasul Yohanes ketika pengikut Kristus masih sangat sedikit jumlahnya. Apa yang telah dipelajarinya dari  Yohanes diajarkannya kepada yang lain. Polikarpus menjadi seorang imam dan kemudian diangkat menjadi Uskup Smyrna yang sekarang ini menjadi wilayah negara Turki. Ia menjadi Uskup Smyrna untuk masa yang cukup lama. Jemaat Kristiani perdana mengenalnya sebagai seorang gembala umat yang kudus serta pemberani.

Pada masa itu, umat Kristen mengalami penganiayaan serta pembantaian dalam masa pemerintahan Kaisar Markus Aurelius Karena orang-orang Kristen menolak menyembah kaisar dan dewa-dewa Romawi.  Orang-orang Smyrna bersama para prajurit memburu orang-orang Kristen dengan pekikan, "Enyahkan orang-orang kristen kafir."

Banyak sudah orang Kristen ditangkap dan dibunuh di arena. Polikarpus sebagai uskup dan pemimpin umat Kristen di kota itu, menjadi target utama dan dikejar-kejar oleh prajurit Smyrna.  Meskipun hamba Tuhan ini tidak takut mati, dan memilih tetap berdiam di kota;  umatnya meminta agar ia terus bersembunyi. Mereka takut kalau-kalau ia ditangkap dan dibunuh; maka kematiannya akan mempengaruhi ketegaran gereja dan umat di masa penganiayaan ini.

Polikarpus telah meninggalkan kota itu dan bersembunyi di sebuah ladang milik teman-temannya. Bila pasukan mulai menyergap, ia pun melarikan diri ke ladang lain.  Namun seseorang jemaat yang murtad kemudian mengkhianati Polikarpus dan melaporkannya kepada penguasa. Ketika orang-orang yang hendak menangkapnya datang, Polikarpus terlebih dulu mengundang mereka bersantap bersamanya. Kemudian ia meminta mereka untuk mengijinkannya berdoa sejenak. Ia kemudian berdoa dua jam lamanya.

Beberapa penangkap merasa sedih menangkap orang tua yang begitu baik ini. Dalam perjalanannya kembali ke Smyrna, kepala prajurit yang memimpin pasukan itu berkata, "Apa salahnya menyebut Kaisar sebagai Tuhan dan mempersembahkan bakaran kemenyan?"
Dengan tenang Polikarpus mengatakan bahwa ia tidak akan melakukannya.

Gubernur Romawi yang mengadilinya berusaha mencarikan jalan keluar untuk membebaskan uskup tua itu. "Hormatilah usiamu, Pak Tua," seru gubernur Romawi itu. "Bersumpahlah demi berkat Kaisar. Ubahlah pendirianmu serta berserulah, "Enyahkan orang-orang kristen kafir!"
Sebenarnya, gubernur Romawi itu ingin Polikarpus menyelamatkan dirinya sendiri dengan melepaskan dirinya dari orang-orang Kristen yang dianggap "kafir" itu. Namun, Polikarpus hanya memandang kerumunan orang yang sedang mencemohkannya. Sambil menunjuk ke arah mereka, ia berseru, "Enyahkan orang-orang kafir!"   Gubernur Romawi itu berusaha lagi: "Angkatlah sumpah dan saya akan membebaskanmu. Hujatlah Kristus!"

Polikarpus pun berdiri dengan tegar dan berkata : "Selama 86 tahun aku telah mengabdi kepada Kristus dan Ia tidak pernah menyakitiku. Bagaimana aku dapat mencaci Raja yang telah menyelamatkanku?" 

Pertukaran pendapat antara sang uskup dan gubernur Romawi berlanjut. Pada suatu saat, Polikarpus menghardik lawan bicaranya: "Jika kamu... berpura-pura tidak mengenal saya, dengarlah baik-baik: Saya adalah seorang Kristen. Jika Anda ingin mengetahui ajaran Kristen, luangkanlah satu hari khusus untuk mendengarkan saya."

Gubernur Romawi itu pun mengancam akan melemparkan dia ke binatang-binatang buas. "Panggil binatang-binatang itu!" seru Polikarpus. "Jika hal itu akan mengubah keadaan buruk menjadi baik, tetapi bukan keadaan yang lebih baik menjadi lebih buruk."
Ketika ia diancam akan dibakar, Polikarpus menjawab, "Apimu akan membakar hanya satu jam lamanya, kemudian akan padam, namun api penghakiman yang akan datang adalah abadi."

Akhirnya Polikarpus dinyatakan sebagai orang yang tidak akan menarik kembali pernyataan-pernyataannya. Rakyat Smyrna pun berteriak: "Inilah guru dari Asia, bapa orang-orang Kristen, pemusnah dewa-dewa kita, yang mengajar orang-orang untuk tidak menyembah (dewa-dewa) dan mempersembahkan korban sembelihan."

Gubernur Romawi menitahkan agar ia dibakar hidup-hidup. la diikat pada sebuah tiang pancang dan dibakar. Api berkobar namun, menurut para saksi mata, badan orang suci ini tidak termakan api.  "la berada di tengah, tidak seperti daging yang terbakar, tetapi seperti roti di tempat pemanggangan, atau seperti emas atau perak dimurnikan di atas tungku perapian. Kami mencium aroma yang harum, seperti wangi kemenyan atau rempah mahal."  Dan seperti yang dikatakan Polikarpus sebelumnya; api hanya menyala selama satu jam lalu padam, dan Uskup Polikarpus tetap segar-bugar berdiri diatas sisa-sisa kayu pembakaran.  Seorang algojo kemudian menikam sang uskup tepat dilambungnya; dan Polikarpus kemudian wafat sebagai martir.  Ia pergi untuk tinggal selama-lamanya bersama Raja Ilahi yang telah dilayaninya dengan gagah berani.

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja

Saturday, February 21, 2026

Santo Paus Petrus Rasul

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan01 September 2013 Diperbaharui: 13 Oktober 2019Hits: 54997

  • Perayaan
    29 Juni
    22 Februari (Pesta Tahta St.Petrus)
  •  
  • Lahir
    Hidup abad pertama
  •  
  • Kota asal
    Galilea - Israel
  •  
  • Wilayah karya
    Yerusalem, Asia Kecil, Roma
  •  
  • Wafat
  •  
  • Sekitar Tahun 67 - Martir. Disalibkan secara terbalik, Kepala dibawah dan kaki diatas
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Petrus adalah pemimpin para rasul dan Paus kita yang pertama. Nama asli rasul besar ini adalah Simon, tetapi Yesus mengubahnya menjadi Petrus, yang artinya batu karang, yang mengisyaratkan bahwa Yesus meletakkan landasan gereja-Nya di atas Petrus. “Engkaulah Petrus,” kata Yesus, “Dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku.” 

Petrus adalah seorang sederhana yang giat bekerja. Ia murah hati, jujur, polos seperti anak kecil dan amat dekat dengan Yesus.   Namun, Petrus juga seorang yang penakut. Beberapa kali Injil mencatat sifat petrus yang satu ini. Ketika melihat yesus berjalan diatas air Petrus dengan penuh iman berseru :

..... "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air. Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. --Mat 14:28

Namun ketika merasakan dinginnya tiupan angin yang menerpa wajahnya, dan melihat gelombang di sekelilingnya; Petrus mulai takut.  Imannya yang tadi bernyala-nyala seketika padam.

...... Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!"  --Mat 14:30

Dan atas sikap penakut dan kurang percayanya itu Petrus mendapat sebuah teguran dari Yesus.

..... "Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" --Mat 14:31

Ketika Yesus ditangkap, sekali lagi Petrus ketakutan. Saat itulah ia berbuat dosa dengan menyangkal Kristus sebanyak tiga kali. Petrus kemudian menyesali perbuatannya dengan sepenuh hati. Ia menangisi penyangkalannya sepanjang hidupnya. Yesus mengampuni Petrus.

Sesudah kebangkitan-Nya, Yesus bertanya tiga kali kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Sesungguhnya, Yesus memang tahu! Petrus benar. Dengan lembut Yesus berkata, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Yesus mengatakan kepada Petrus untuk mengurus Gereja-Nya, sebab Ia akan naik ke surga. Yesus menetapkan Petrus sebagai pemimpin para pengikut-Nya.

Pada hari Pentakosta Petrus dan para rasul lainnya menjadi penuh dengan kuasa Roh Kudus. Mereka berkata-kata dalam bahasa roh sehingga membingungkan orang-orang yang melihat mereka.  Maka bangkitlah Petrus dan menyampaikan kotbahnya yang pertama setelah kebangkitan Yesus. Para pendengarnya begitu terkesima dengan kata-kata nelayan dari Galilea  ini; yang penuh dengan hikmat dan kuasa. Dalam hari itu juga mereka memberikan diri untuk dibabtis. Jumlah orang yang dibabtis pada hari itu sungguh luar biasa; Tiga ribu orang. (Kis 2 : 14 - 41)

Di kemudian hari Petrus pergi mewartakan kabar gembira hingga ke kota Roma, kota terbesar dan juga ibukota dari Kerajaan Romawi. Petrus tinggal di sana dan mempertobatkan banyak orang. Ketika penganiayaan yang kejam terhadap orang-orang Kristen dimulai, umat memohon pada Petrus untuk meninggalkan Roma dan menyelamatkan diri. Dan sekali lagi Petrus ketakutan.

Menurut tradisi, ia memang sedang dalam perjalanan meninggalkan kota Roma ketika ia berjumpa dengan Yesus di tengah jalan.  Petrus bertanya kepada-Nya, "Domine, Quo vadis..? (Tuhan, hendak ke manakah Engkau pergi?)” Yesus menatapnya dan menjawab, “Aku hendak ke Roma untuk disalibkan lagi..”   Dan Petrus yang malang seketika jatuh tersungkur di kaki Yesus dan menangis tersedu-sedu.  Sama seperti saat ia menangisi penyangkalannya di Yerusalem puluhan tahun yang lalu, Petrus kini kembali harus menyesali rasa takutnya. Dengan berderai airmata ia berbalik dan kembali ke kota Roma.

Kembali ke Roma, Paus kita yang pertama ini segera ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.  Karena ia seorang Yahudi dan bukan warga negara Romawi, sama seperti Yesus, ia dapat disalibkan. Petrus kini sudah menguasai rasa takutnya. Kali ini Ia tidak lagi menyangkal Kristus. Ia tidak lagi melarikan diri dan siap untuk wafat sebagai saksi Kristus.  Petrus minta agar ia disalibkan dengan kepalanya di bawah, sebab ia merasa tidak layak menderita seperti Yesus. Para prajurit Romawi tidak merasa aneh akan permintaannya, sebab para budak disalibkan dengan cara demikian.

St. Petrus wafat sebagai martir di Bukit Vatikan sekitar tahun 67. Pada abad keempat, Kaisar Konstantinus membangun sebuah gereja besar di atas tempat sakral tersebut. Penemuan-penemuan kepurbakalaan baru-baru ini menegaskan kisah sejarah tersebut.

Friday, February 20, 2026

Santo Petrus Damianus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 28 Juli 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014 Hits: 16616

  • Perayaan
    21 Februari
  •  
  • Lahir
    Tahun 1007
  •  
  • Kota asal
    Ravenna, Italy
  •  
  • Wafat
  •  
  • 22 February 1072 di Ravenna, Italy | Oleh sebab alamiah
    Makamnya dipindahkan beberapa kali; dan sejak tahun 1898 berada di Chapel of Saint Peter Damian di The catherdral of Faenza, Italy
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Tahun 1823 oleh Paus Leo XII

Petrus Damianus dilahirkan pada tahun 1007 dan menjadi yatim piatu sejak masih kanak-kanak. Ia diasuh oleh seorang kakaknya yang berwatak buruk. Kakaknya suka menganiaya dia serta membiarkannya kelaparan. Seorang kakaknya yang lain, Damianus yang adalah seorang pastor di Ravenna, mengetahui keadaannya yang sebenarnya. Ia membawa Petrus pulang ke rumahnya.

Sejak saat itulah hidup Petrus berubah sepenuhnya. Ia diperlakukan dengan penuh cinta, kasih sayang serta perhatian. Begitu bersyukurnya Petrus hingga kelak ketika ia menjadi seorang religius, ia memilih nama Damianus sebagai ungkapan kasih sayang kepada kakaknya.

Damianus mendidik Petrus serta memberinya semangat dalam belajar. Petrus kemudian mengajar di perguruan tinggi ketika usianya baru duapuluh tahunan. Ia menjadi seorang guru yang hebat. Tetapi Tuhan membimbingnya ke jalan yang tidak pernah terpikirkan olehnya.

Petrus hidup pada masa di mana banyak orang dalam Gereja terlalu dipengaruhi oleh tujuan-tujuan duniawi. Petrus sadar bahwa Gereja adalah ilahi dan Gereja memiliki rahmat dari Yesus Kristus untuk menyelamatkan semua orang. Ia ingin agar Gereja bersinar dengan kemuliaan Kristus.

Sekitar 1035, Petrus berhenti mengajar dan memutuskan untuk pensiun dari kehidupan dunia dan menjadi seorang biarawan Benediktin. Kesehatannya saat itu sangat buruk, apalagi karena ia tidak begitu mempedulikannya. Ia tetap berusaha untuk bermati raga dan mencoba untuk menggantikan tidur dengan doa.  Suatu saat ia akhirnya dapat dipaksa untuk menghabiskan beberapa waktu untuk menjalani pemulihan; yang mana ia pergunakan sepenuhnya untuk mendalami Kitab Suci. 

Petrus kemudian ditunjuk untuk menjadi prior di biara Fonte-Avellana, di mana ia berkarya selama sisa hidupnya.  Dia memperluas biara, sangat meningkatkan perpustakaan, dan mendirikan banyak tempat pertapaan; pertapaan di San Severino, Gamugno, Acerata, Murciana, San Salvatore, Sitria, dan OCRI. 

Pada sinode di Roma tahun 1047, Petrus mendorong Paus Gregorius VI untuk mendukung revitalisasi semangat Gereja dan disiplin administrasi.  Pada masa itu Petrus menulis  Liber Gomorrhianus, yang menggambarkan sifat buruk para imam, terutama dalam keprihatinannya akan kehidupan mereka  yang terikat dengan hal-hal duniawi, dengan uang, dan kejahatan simoni (penjualan jabatan Gerejani).

Petrus menghasilkan banyak karya tulis dalam bidang teologi untuk membantu umat memperdalam iman mereka. Dua kali pemimpin biara mengirimnya ke biara-biara tetangga. Ia membantu para biarawan untuk memulai pembaharuan yang mendorong mereka untuk hidup lebih dekat dengan Tuhan. Para biarawan amat bersyukur sebab Petrus adalah seorang yang lembut hati serta pantas dihormati.    

Petrus pada akhirnya ditarik dari biara. Ia diangkat menjadi Uskup dan kemudian Kardinal. Ia diutus dalam tugas-tugas yang amat penting oleh paus sepanjang hidupnya. St. Petrus Damianus wafat pada tahun 1072 dalam usia enampuluh lima tahun. Oleh karena ia seorang pahlawan kebenaran dan seorang pencinta perdamaian, ia dinyatakan sebagai Pujangga Gereja pada tahun 1828. Puisi Dante (yang hidup dari tahun 1265 hingga 1321) mengagumi kebesaran St. Petrus Damianus.  Dalam puisinya, “Komedi Ilahi” Dante menempatkan Petrus Damianus pada  "one of the highest circles of Paradiso" sebagai pendahulunya Santo Fransiskus dari Assisi.

Thursday, February 19, 2026

Santo Eucherius dari Orleans

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 27 Juli 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014 Hits: 10762

  • Perayaan
    20 Februari
  •  
  • Lahir
    Hidup pada Abad ke-8
  •  
  • Kota asal
    Orleans - Perancis
  •  
  • Wafat
  •  
  • 20 February 743 di Biara Sint-Tuiden Belgia | Oleh sebab alamiah.
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

St. Eucherius hidup di Orleans, Perancis, pada abad kedelapan. Ia diasuh dan dididik secara Kristiani. Satu kalimat dari surat pertama St. Paulus kepada jemaat di Korintus menimbulkan kesan mendalam padanya: “Dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu” (1 Korintus 7:31).

Pernyataan ini membuat Eucherius sadar bahwa hidup kita di dunia ini amat singkat. Ia sadar bahwa surga dan neraka akan berlangsung selamanya. Ia bertekad untuk menemukan sukacita surgawi dengan hidup hanya bagi Tuhan saja.

Pada tahun 714, St. Eucherius meninggalkan rumahnya yang mewah untuk masuk ke sebuah biara Benediktin. Di sana ia melewatkan tujuh tahun dalam persatuan yang erat dengan Tuhan. Setelah wafat pamannya, Uskup Orleans, pada tahun 721, Eucherius dipilih untuk menggantikannya. Pada waktu itu Eucherius masih berusia duapuluh lima tahun dan amat rendah hati. Ia tak hendak meninggalkan biara yang sangat dikasihinya. Dengan berurai airmata ia memohon agar diijinkan tetap tinggal sendirian bersama Tuhan dalam biara. Tetapi, pada akhirnya ia menyerah atas nama ketaatan. Eucherius menjadi seorang uskup yang bijaksana dan kudus. Ia banyak berbuat baik bagi para imam dan umatnya.

Seorang tokoh politik yang berkuasa, Charles Martel, biasa mengambil uang Gereja untuk membiayai perang. Ketika Uskup Eucherius menegurnya, Martel menjebloskannya ke dalam penjara. Uskup pertama-tama dibuang ke Cologne, dan lalu ke sebuah benteng dekat Liege. Tetapi gubernur kepada siapa Martel mempercayakan pengasingan uskup, tergerak hatinya oleh kelemah-lembutan Eucherius terhadap para musuhnya. Beberapa waktu kemudian, sang gubernur dengan diam-diam membebaskan uskup dari penjara dan mengirimkannya ke sebuah biara di Belgia. Di sini, orang kudus kita melewatkan hari-harinya dengan tenang dalam doa hingga wafatnya pada tahun 743.

Wednesday, February 18, 2026

Santo Gabinus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 30 Juli 2016 Diperbaharui: 22 Februari 2017 Hits: 12293

  • Perayaan
    19 Februari
  •  
  • Lahir
    Hidup pada abad ke-3
  •  
  • Kota asal
    Roma - Italia
  •  
  • Wafat
  •  
  • Martir | Dipenggal dalam rumahnya sendiri pada tahun 295
  •  
  • Venerasi
    -
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santo Gabinus adalah seorang bangsawan Romawi Kristen yang hidup di abad ketiga. Ia adalah saudara Santo Paus Caius dan ayah dari Santa Susana. Mereka bertiga tewas sebagai martir Kristus pada masa awal pemerintahan Kaisar Diocletianus; ketika kaisar keji ini mulai melancarkan penganiayaan terhadap umat kristen secara besar-besaran.

Kemartiran Santo Gabinus dan puterinya bermula ketika keluarga ini menolak lamaran Maximianus, putera kaisar Diokletianus, yang hendak mempersunting Susanna sebagai isterinya. Susanna menolak lamaran ini karena ia telah mengucapkan kaul kemurnian. Selain itu ia juga tidak mau menjadi bagian dari keluarga kaisar yang telah membantai saudara-saudaranya umat Kristiani.

Penolakan ini membuat Diokletianus murka. Ia lalu mengirimkan pasukan pembunuh ke rumah keluarga Gabinus yang kini sudah ketahuan sebagai orang Kristen. Santo Gabinus dan puterinya Santa Susana dipenggal di dalam rumah mereka sendiri pada tahun 295.  Setahun kemudian, saudaranya Paus Gaius juga tertangkap dan dihukum mati.

Setelah masa penganiayaan berlalu, rumah keluarga ini dipugar menjadi sebuah gereja yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Gereja ini dikenal dengan nama : Chiesa di Santa Susanna alle Terme di Diocleziano (The Church of Saint Susanna at the Baths of Diocletian)

Tuesday, February 17, 2026

Santo Flavianus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 04 Jun 2014 Diperbaharui: 04 Jun 2014 Hits: 13565

  • Perayaan
    18 Februari
  •  
  • Lahir
    Hidup pada abad ke-5
  •  
  • Wafat
  •  
  • Tahun 449. Martir - Dianiaya dengan sangat mengerikan hingga ia tewas 3 hari kemudian.
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Tahun 451 - Saat Konsili Chalcedon

Santo Flavianus adalah Patriakh (Uskup Agung) Konstantinopel  pada tahun 446. Ia memimpin Gereja selama dua tahun yang sarat dengan masalah. Suatu ketika, Chrysapius, seorang pengawal kepercayaan Kaisar Theodosius mengajukan permohonan kepada Flavianus agar menyerahkan kepada kaisar sejumlah perhiasan dan intan berlian dari harta kekayaan Gereja. Flavianus terkejut mendengar permintaan yang aneh itu, dan dengan tegas menolak memenuhinya. Sebagai gantinya, ia mengirimkan satu bingkisan roti yang telah diberkati untuk menunjukkan kepada kaisar kedalaman cinta kasihnya kepada Yesus. Penolakan Flavianus ini menimbulkan pertentangan antara Flavianus dengan Chrysapius dan Kaisar sendiri.

Sementara perkara ini belum tuntas, Patriarkh Flavianus dihadapkan lagi pada bidaah yang diajarkan Eutyches, seorang pertapa. Eutyches menyangkal adanya kodrat Kristus, yang Ilahi sekaligus manusiawi. Flavianus bereaksi sangat keras terhadap ajaran bidaah ini. Ia segera mengundang satu sinode di Konstantinopel pada tahun 448 untuk mengekskomunikasikan Eutyches. Di Roma Sri Paus Santo Leo I (Leo Agung) mendukung Flavianus dengan mengirimkan sepucuk surat dogmatik yang berisi penjelasan tentang kodrat Kristus, yang sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia, seperti ajaran yang diwariskan oleh para Rasul.

Pada tahun yang sama pula, Patriarkh Alexandria, Dioscorus, memimpin sebuah sinode tandingan untuk membela Eutyches dan menghukum Flavianus. Karena Flavianus dengan keras menentang sinode gelap itu, ia diserang dan disiksa dengan kejam, hingga ia meninggal karena luka-lukanya tiga hari kemudian.

Jenazahnya dimakamkan di Konstantinopel oleh Kaisar pengganti Theodosius. Sedangkan Chrysapius dihukum mati oleh kaisar baru itu karena ia sering menyalah-gunakan kuasanya untuk menindas gereja.

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja

Monday, February 16, 2026

Santo Theodulus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 21 April 2017 Diperbaharui: 09 Februari 2018 Hits: 9632

  • Perayaan
    17 Februari
  •  
  • Lahir
    Hidup pada akhir abad ke-3
  •  
  • Kota asal
    Kaisarea Israel
  •  
  • Wafat
  •  
  • Martir | Disalibkan sekitar tahun 309 M di Kaisarea Israel
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santo Theodulus adalah seorang Romawi Kristen yang tinggal di Palestina pada akhir abad ke-3 sampai awal abad ke-4. Ia digambarkan sebagai seorang tua yang bijaksana dan saleh yang menduduki jabatan terhormat dalam rumah tangga Firmilianus, Gubernur Romawi di Palestina.  

Setelah menyaksikan ketabahan dari lima orang martir dari Mesir,  Theodulus mengunjungi orang-orang Kristen yang ada di penjara untuk menyemangati dan mengajak mereka berdoa. Hal ini membangkitkan amarah Firmilianus. Theodulus lalu ditangkap dan dianiaya.

Walaupun Theodulus adalah seorang warga Romawi (yang secara hukum tidak bisa dihukum mati tanpa proses pengadilan), namun Firmilianus tetap memerintahkan hukuman mati bagi Theodulus dengan cara disalibkan.

Sebagaimana Yesus Juru Selamat kita, Theodulus juga wafat diatas kayu salib pada tahun 309 di Kaisarea Palestina.  

Sunday, February 15, 2026

Santo Onesimus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 27 Juli 2013 Diperbaharui: 17 November 2019 Hits: 15647

  • Perayaan
    16 Februari
  •  
  • Lahir
    Hidup abad pertama
  •  
  • Wafat
  •  
  • Tahun 90 di Roma | Martir
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Pencuri yang berdosa ini sangat beruntung ditobatkan oleh Santo Paulus. Rasul agung ini bahkan menyebut Onesimus sebagai : "Buah hatiku".

Onesimus hidup pada abad pertama. Ia adalah seorang hamba yang merampok majikannya lalu melarikan diri ke Roma. Di Roma ia bertemu dengan St. Paulus yang dipenjarakan karena imannya. Paulus menerima Onesimus dengan kelembutan serta kasih sayang seorang ayah. Paulus membantu menyadarkan pemuda tersebut bahwa ia telah berbuat salah dengan mencuri. Lebih dari itu, ia membimbing Onesimus untuk percaya dan menerima iman Kristiani.


Setelah Onesimus menjadi seorang Kristen, Paulus mengirimkannya kembali kepada tuannya, Filemon, yang adalah sahabat Paulus. Tetapi, Paulus tidak mengirim hamba itu kembali seorang diri dan tak berdaya. Ia “mempersenjatai” Onesimus dengan sepucuk surat yang singkat tapi tegas.

Paulus berharap agar suratnya dapat menyelesaikan semua masalah Onesimus, sahabat barunya. Kepada Filemon, Paulus menulis:


......... Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, lagi pula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus, mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus. Dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku. Dia kusuruh kembali kepadamu - dia, yaitu buah hatiku --. (Fil 1:9-12)

Surat yang menyentuh tersebut dapat ditemukan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Filemon menerima surat dan nasehat Paulus. Ketika Onesimus kembali kepada tuannya, ia dibebaskan. Kemudian, Onesimus kembali kepada St. Paulus dan menjadi penolongnya yang setia.    

St. Paulus mengangkat Onesimus menjadi imam dan kemudian uskup. Orang kudus yang dulunya hamba ini membaktikan seluruh sisa hidupnya untuk mewartakan Kabar Gembira yang telah mengubah hidupnya selamanya. Menurut tradisi, pada masa penganiayaan, Onesimus dibelenggu dan dibawa ke Roma lalu dianiaya hingga tewas.

Saturday, February 14, 2026

Santo Simeon

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 12 Agustus 2013 Diperbaharui: 18 Oktober 2019 Hits: 16804

  • Perayaan
    3 Februari
    15 Februari (Gereja Orthodox)
  •  
  • Lahir
    Hidup abad pertama
  •  
  • Kota asal
    Yerusalem
  •  
  • Wafat
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Simeon yang kudus hidup pada abad pertama. Dalam Injil Lukas dikisahkan bahwa Yosef dan Maria membawa Bayi Yesus ke Bait Allah di Yerusalem. Di sanalah mereka bertemu dengan Simeon. Orang kudus tersebut telah lama menunggu dengan sabar jawab atas permohonannya kepada Tuhan: ia ingin tetap hidup hingga melihat Sang Mesias, Juru Selamat dunia. Tetapi, ia tidak tahu seperti apakah Sang Mesias itu, atau bilakah dan apakah doanya akan dikabulkan.

Pasangan muda dari Nazaret itu menghampirinya bersama dengan bayi mereka. Simeon memandang mata Sang Bayi dan merasakan suatu gejolak sukacita memenuhi hatinya. Matanya bersinar-sinar. Ia menggendong Yesus dalam pelukannya sambil berdoa :

“Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa.”

Maria dan Yosef saling berpandang-pandangan. Mereka berdua amat takjub. Kemudian nabi tua itu berpaling kepada Maria. Sinar matanya menjadi sedih sementara ia berkata dengan lembut, “Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.” Maria tidak mengerti apa yang dimaksudkannya, dan ia berdoa kepada Tuhan untuk memohon kekuatan. Simeon yang kudus telah dikabulkan doanya oleh Tuhan. Ia tetap dalam keadaan penuh syukur dan sukacita sementara pasangan muda serta Bayi mereka meninggalkannya.

Friday, February 13, 2026

Santo Valentinus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 11 Februari 2016 Diperbaharui: 16 Oktober 2020 Hits: 26151

  • Perayaan
    14 Februari
  •  
  • Lahir
    Hidup pada abad ke-3
  •  
  • Kota asal
    Roma
  •  
  • Wafat
  •  
  • Martir - di penggal di Via Flaminian Roma sekitar tahun 269
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santo Valentinus dari Roma (Valentine of Rome) adalah seorang Imam (kemungkinan besar seorang uskup) dan dokter yang tinggal di kota Roma. Ia menjadi martir karena menentang perintah kaisar Klaudius II (Marcus Aurelius Valerius Claudius Augustus juga dikenal sebagai Kaisar Claudius Gothicus, Kaisar Romawi dari tahun 268 sampai 270 Masehi) yang melarang adanya pernikahan di seluruh wilayah Kekaisaran. Valentinus ditangkap, dipenjarakan, lalu disiksa dan dihukum mati dengan cara dipenggal. Kemartiran Santo Valentinus, yang hari pestanya kini dikenal sebagai "Valentine Day" atau hari kasih sayang sedunia, terjadi pada tahun 269 di Via Flaminia Roma.

Saint Valentine dan Sejarah Hari Valentine

Sebelum Paus Gelasius I menetapkan tanggal 14 februari sebagai Saint Valentine Day (pesta santo Valentinus); bangsa Romawi kafir telah merayakan 14 Februari dengan sebuah tradisi cabul untuk memuja dewi cinta Romawi yang disebut Februata Juno. Para laki-laki akan menarik undian dari sebuah wadah berisi nama para wanita yang siap menjadi pasangan mereka dalam berbagai bentuk perayaan di tanggal tersebut. Setelah bangsa Romawi menjadi Kristen, Gereja dengan tegas mengutuk tradisi pagan tersebut. Salah seorang Imam yang berjuang keras menghapus tradisi ini adalah Santo Valentinus.

Pada masa itu pula, Bangsa Romawi terlibat dalam banyak peperangan dan Kaisar Klaudius mengumumkan wajib militer bagi para pemuda Romawi. Banyak pemuda yang menolak ikut wajib militer karena tidak mau meninggalkan kekasih yang mereka cintai. Hal ini membuat Kekaisaran sulit merekrut tentara. Kaisar lalu mengeluarkan dekrit kerajaan yang memerintahkan bahwa tidak boleh ada lagi upacara pernikahan. Perintah ini ditentang oleh imam Valentinus yang merasa kasihan kepada pasangan-pasangan yang dipaksa untuk berpisah. Hingga suatu hari, Valentinus dengan diam-diam menerimakan sakramen perkawinan bagi sebuah pasangan yang sudah siap hidup dalam janji suci perkawinan. Dengan segera imam-imam yang lain mengikuti jejaknya dan banyak pernikahan terjadi di kota Roma seolah-olah dekrit kaisar di atas tidak pernah dikeluarkan. Ketika berita ini sampai ke telinga Klaudius; sang Kaisar pun murka. Valentinus ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Ia dipenjara, dianiaya, lalu dipenggal di Via Flaminian.

Pesta untuk santo Valentinus ditetapkan pada setiap tanggal 14 Februari oleh Paus Gelasius I (Paus Gereja Katholik ke-49. Memimpin sejak 1 Maret 492 sampai 19 November 496) . Tanggal 14 Februari, yang pada masa pra-Kristen adalah hari untuk menghormati dewi cinta bangsa Romawi kafir, telah dirubah dan dikuduskan oleh Gereja menjadi perayaan untuk memperingati Santo Valentinus, seorang martir yang gugur membela cinta kasih dalam wujud Sakramen Pernikahan yang kudus.

Pada masa Romawi Kristen, Pesta Santo Valentinus akan dirayakan dengan menerimakan sakramen perkawinan bagi banyak pasangan yang sudah dinyatakan siap. Banyak cinta akan disatukan dalam janji suci perkawinan dan banyak pasangan muda memasuki hidup baru. Banyak pesta akan digelar dengan meriah di seluruh penjuru kota Roma.

Saat ini, pesta santo Valentinus telah menjadi sekular. Saint Valentine Day juga telah dimaknai serta dirayakan dengan cara yang sangat berbeda oleh berbagai kalangan, khususnya oleh kalangan di luar Gereja Katholik.(qq)

Thursday, February 12, 2026

Beata Christina Spoleto

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 19 April 2017 Diperbaharui: 03 Januari 2021 Hits: 11714

  • Perayaan
    13 Februari
  •  
  • Lahir
    Tahun 1435
  •  
  • Kota asal
    Como, Milan , Italia
  •  
  • Wafat
  •  
  • 13 February 1458 di Spoleto Italia
    Sebab alamiah
  •  
  • Beatifikasi
    19 September 1834 oleh Paus Gregorius XVI
  •  
  • Kanonisasi

Agostina Camozzi lahir pada tahun 1435 di Como, Milan Italia. Ia adalah putri tunggal dokter Giovanni Camozzi, seorang dokter ternama dan kaya-raya di kota Milan. Agostina berwajah cantik dan anggun, membuat banyak pemuda jatuh hati dan ingin mempersuntingnya. Namun ia tidak pernah serius menanggapi isi hati mereka. Ia bangga akan kecantikannya dan gemar mempermainkan perasaan para lelaki yang jatuh hati padanya.

Agostina menikah pada usia belia, namun menjadi janda tidak lama setelah pernikahannya. Ia kemudian menjadi gundik seorang tentara dari Milan, dan melahirkan seorang anak laki-laki diluar nikah. Namun anaknya itu meninggal dunia saat masih bayi. Beberapa waktu kemudian Agostina kabur meninggalkan si tentara dan menikah lagi dengan seorang petani kaya di kota Mantua. Namun sekali lagi Agostina harus menjadi janda setelah suaminya yang kedua dibunuh oleh seorang lelaki yang tergila-gila pada kecantikannya.

Semua tragedi ini menyadarkan Agostina Camozzi akan cara hidupnya yang bergelimang dosa. Penyesalan kini menghantui dirinya dan kasih Tuhan mulai menyentuh hatinya. Ia mulai dapat melihat cara hidupnya yang kotor dengan rasa sesal dan malu.

Di suatu senja di tahun 1450, Agostina tengah berjalan melewati biara Susteran Agustinian. Sayup-sayup terdengar suara para biarawati memadahkan doa. Lantunan doa mereka mengetuk hati Agostina dan membawa langkahnya ke dalam biara. Ia masuk ke kapela dan ikut berdoa bersama para biarawati. Di dalam kapela tersebut, sebuah perasaan damai yang “indah” dan “tak terlukiskan” perlahan membelai jiwanya yang gersang. Rasa “Damai” itu begitu menghanyutkan, hingga Agostina tidak mampu lagi berpisah dengan-NYA. Ia ingin tetap di situ dan tidak kembali lagi pada dunia. Saat itu juga ia memutuskan untuk meninggalkan cara hidupnya yang lama dan menjadi seorang biarawati.

Namun untuk menjadi seorang biarawati,  Agostina harus menjalani masa persiapan yang lama dan berat. Walau banyak yang meragukan kesungguhannya, namun ia membuktikan pertobatannya dengan menjalani laku silih selama bertahun-tahun dengan penuh ketabahan. Ia juga mampu menjalani semua peraturan biara yang ketat dengan penuh disiplin. Akhirnya Agustina pun diperbolehkan untuk mengucapkan kaul sebagai seorang biarawati Agustinian.  Ia memilih nama biara, “Christina”.

Di dalam biara, Suster Chistina hidup bertapa dengan keras sebagai penitensi bagi dosa-dosanya di masa lalu. Ia hidup dalam meditasi dan berdevosi pada sengsara Yesus di Salib. Setelah bertahun-tahun hidup bermatiraga, rahmat Tuhan menyertai Suster Christina. Ia diberkati-NYA dengan berbagai karunia rohani.  Suster Christina menjadi terkenal sebagai seorang suster yang kudus, seorang penyembuh dan pembuat mujizat.

Pada tahun 1457 suster Christina bersama para biarawati Agustinian melakukan perjalanan ziarah ke kota Assisi, Roma dan Yerusalem. Setelah kembali ke Italia, Suster Christina memutuskan untuk tinggal di biara Spoleto Perugia, di mana ia mengabdikan dirinya untuk merawat warga yang sakit akibat wabah penyakit.  Ia tetap berkarya di Perugia sampai tutup usia pada tanggal 13 Februari 1458.  

Awalnya ia  dimakamkan di Gereja biara Agustinian di Spoleto, namun pada tahun 1921 makamnya dipindahkan ke Gereja Santo Gregorius Agung, juga masih di Spaleto.

Suster Christina dibeatifikasi pada tahun 1834 oleh paus Gregoriius XVI. Beatifikasi ini berlangsung setelah diadakan penyelidikan seksama selama ratusan tahun atas berbagai laporan mujizat yang terjadi melalui perantaraan Suster Christina.(qq)

Wednesday, February 11, 2026

Santo Meletius

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 27 Juli 2013 Diperbaharui: 23 Februari 2020 Hits: 12323

  • Perayaan
    12 Februari
  •  
  • Lahir
    Hidup pada awal Abad ke-4
  •  
  • Kota asal
    Melitene (sekarang Malatya, Turkey)
  •  
  • Wilayah karya
    Anthiokhia, Konstantinopel
  •  
  • Wafat
  •  
  • 12 Februari 381 | Oleh sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Pada abad keempat, Meletius dipanggil untuk menggembalakan Gereja. Penganiayaan Romawi telah usai dan Kaisar Konstantinus telah mengakui kekristenan sebagai agama yang sah pada tahun 315. Tapi awan badai berkumpul dalam Gereja yang saat itu sedang mengalami perpecahan. Sebagian menganggap diri Kristen, sebagian Arian.

Bidaah Arian menyangkal bahwa Yesus adalah Tuhan. Sebagian orang mempercayai kesesatan ini sebab hal-hal tidak begitu jelas bagi mereka pada waktu itu. Uskup Meletius (Gereja Orthodox menyebutnya : Patriark Meletius) mencintai Gereja dan setia kepada Yesus. Ia percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan sadar bahwa Gereja harus berbicara jelas mengenai siapa Yesus. Meletius ditahbiskan menjadi Uskup Antiokhia pada tahun 361. Kaum Arian menjadi berang. Selama duapuluh tahun berikutnya, Meletius adalah seorang uskup yang sabar dan penuh kasih. Tetapi hidupnya dipersulit oleh orang-orang yang tidak menerimanya. Ia kerap harus menyingkir ke tempat persembunyian sebab orang-orang lain mengklaim diri sebagai uskup di keuskupannya. Tetapi St. Meletius adalah uskup yang sebenarnya; dan ia akan dengan penuh kesabaran kembali sesegera mungkin. Ketika Kaisar Valens wafat pada tahun 378, kaum Arian mengakhiri penganiayaan mereka.

Pada tahun 381 diselenggarakanlah suatu pertemuan Gereja yang besar, yang dikenal sebagai Konsili Konstantinopel. Para uskup hendak membicarakan kebenaran-kebenaran penting iman kita. Uskup Meletius membuka pertemuan-pertemuan dalam Konsili Gereja dan memimpin sidang. Kemudian, menjadi kesedihan semua uskup, ia wafat di sana, di salah satu pertemuan.

Para bapa Gereja dan Santo-santo besar seperti Yohanes Krisostomus dan Gregorius dari Nazianzen ikut ambil bagian dalam Misa Pemakamannya bersama segenap uskup yang hadir dalam Konsili. Jemaat Konstantinopel berbondong-bondong datang ke gereja pula. St. Gregorius Nazianzen yang menyampaikan homili pemakaman. Ia berbicara mengenai seorang uskup yang lemah lembut, yang seperti Kristus, dan yang dikasihi semua orang. Ia benar; semua orang yang mencintai Gereja mengasihi St. Meletius. St. Gregorius berbicara mengenai ketenangan dan senyumnya yang hangat, suara kebapakan dan sentuhan kasih Uskup Meletius. Uskup kudus ini wafat pada tanggal 12 Februari 381.

Konsili Konstantinopel kemudian menghasilkan keputusan yang tegas dan jelas yang mengutuk Aranisme. Ajaran sesat ini akhirnya dengan sendirinya surut pengaruhnya dalam Gereja dan kemudian menghilang.

Lamunan Pekan Prapaskah I

Selasa, 24 Februari 2026 Matius 6:7-15 7 Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele   seperti kebiasaan orang yang tidak menge...