Wednesday, November 12, 2025

Dalam Allah Hanya Kebahagiaan

Saya amat tersentuh ketika membaca Katekismus Gereja Katolik berkaitan dengan doa lisan, doa renung, dan doa batin. Ternyata semua doa itu menuntut landasan sama, yaitu ketenangan hati. Hati tenang menghadirkan aura kebahagiaan. Buahnya adalah hati bersyukur dalam segala hal baik ketika menyandang kesukaan maupun ketika menyandang ketidaknyamanan bahkan kedukaan. Tentu saja semua itu adalah anugrah Tuhan Allah. 

Kemanunggalan Ilahi

Saya harus jujur bahwa saya bukanlah orang yang punya fokus hidup mendekatkan hati ke Tuhan. Saya tidak memiliki kebiasaan saat-saat khusus doa pribadi seperti pada umumnya teman serumah. Kalau teman-teman serumah sering cerita bagaimana mereka berdoa sebelum dan sesudah tidur, saya biasa mudah terlelap ketika sudah melekat di kasur dan tersandar di bantal. Kalau beberapa teman serumah sharing doa rosario setiap hari, saya melakukan doa rosario ketika berada di tengah kebersamaan yang mendaraskan rosario. Ketika pada umumnya umat hafal mengucapkan doa-doa sesudah selesai persepuluhan rosario, saya hanya terdiam karena tidak tahu apalagi hafal. Doa sebelum dan sesudah makan saya lakukan terutama ketika makan bersama. Ketika makan sendiri saya memang membuat tanda salib. Tetapi kerap tidak ada kata-kata muncul di bibir. Ketika ikut Misa saya memang mengucapkan kata-kata jawaban liturgi dengan suara lantang karena saya menjaga diri agar tidak tertidur.   

Tetapi ada satu hal yang rasa-rasanya membuat saya biasa teringat Tuhan. Ketika kesadaran sudah terbangun dari tidur semalam, setelah melihat jarum jam menunjuk angka 02.00, saya masih meneruskan berbaring dan berselimut. Yang selalu saya ingat justru tidak lupa menggerak-gerakkan kelapak kaki dan jari-jarinya. Meskipun demikian dalam relung hati muncul kata “Gusti .....” Itu bisa beberapa kali. Ketika sudah turun dari tempat tidur dan lalu menghadapi laptop, saya mengerjakan ketikan. Sering kali terhenti dan muncul kata-kata dalam hati seperti “Gusti ..... Gimana ini”. Tak jarang saya heran dengan yang saya tulis. Dalam keadaan seperti ini kata-kata seperti “Ooooo .... Engkau ngomong gitu ya”. Tentu saja omongan-omongan spontan dalam hati itu terjadi dengan bahasa Jawa bagaikan glenikan (omong kecil-kecil) dengan teman dekat.

Sebenarnyalah saya biasa omong sendiri dalam hati. Apa yang saya pikir, saya rasakan, dan saya inginkan, itu menjadi kata-kata yang berbunyi dalam hati. Memang, itu lebih banyak menjadi kata-kata curhatan yang muncul dalam hati. Maklumlah, saya banyak sendiri berada sendiri dalam kamar yang pernah saya hitung besarannya sekitar 91% dari seluruh hidup. Sebenarnya pada umumnya lansia walau masih berada di tengah keluarga, mayoritas hidupnya ada dalam kesendirian. Memang, ada yang bilang kesendirian akan membuat rasa kesepian. Tetapi saya yakin itu hanya terjadi pada lansia yang tidak rela dengan realitas kesendiriannya. Lansia demikian akan dihinggapi keinginan membara berada bersama orang-orang lain entah dengan keluarga sendiri entah dengan teman-teman lain. Padahal berapapun banyak perjumpaan, dia akan terlempar dalam kesendirian lagi. Lain halnya dengan lansia yang sadar akan kewajaran dirinya, yang ada dalam banyak kesendirian. Apakah dia akan mengalami kediaman tanpa omongan? Kalau kediaman tanpa suara omongan bibir, jelas ya. Tetapi kesibukan omongan akan tetap ada dan ini terjadi dalam relung hati.

Barangkali yang perlu disadari adalah bahwa setiap orang adalah bait Allah. Roh Allah bertahta dalam hati setiap orang. Santo Paulus berkata “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1Kor 3:16). Saya yakin bahwa kalau orang omong dalam hati, tentang hal atau peristiwa baik atau buruk, dia omong dengan Allah. Inilah doa personal sejati. Bukankah Tuhan Yesus berkata “jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi(Mat 6:6)? Bagi saya kamar tersembunyi adalah hati dalam rumah sejati, yaitu tubuh manusia. Omong-omong dengan relung hati adalah omong-omong dengan Allah. Tetapi omong-omong dengan relung hati sejatinya adalah keterbukaan orang terhadap Allah yang datang untuk mencari umat-Nya. Ketika orang-orang tidak terima Tuhan Yesus mengunjungi Zakeus, Dia berfirman “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." (Luk 19:10). Bagaimanapun juga saya termasuk bagian pendosa. Bukankah Santo Paulus berkata “semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rom 3:23)? Kebiasaan omong tersembunyi ini sadar atau tak sadar bagi saya menjadikan orang ada dalam hidup doa. Bagi saya kebiasaan ini membuat saya menjalani yang oleh Katekismus Gereja Katolik di sebut doa renung. Katekismus mengajarkan bahwa “Doa renung, meditasi, pada dasamya adalah satu pencarian. Roh mencari agar mengerti alasan dan cara kehidupan Kristen, agar dapat menyetujui dan menjawab apa yang dikehendaki Tuhan” (2705). Pembiasaan seperti ini sungguh membuat orang mengalami kemanunggalan ilahi. Allah mencari dan orang terbuka menyambut.  

Bergelimang Kebahagiaan

Orang bisa saja kebingungan dengan kata-kata Tuhan Yesus dalam Injil Matius 5:1-12. Dalam hidup, realita negatif mudah membuat orang akan susah dan menderita. Tetapi apa kata Tuhan Yesus? “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.  Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Mat 5:3-12)

Kata-kata Tuhan Yesus dalam khotbah di bukit itu memang bisa menjadi batu sandungan bagi yang merasa damai bahagia ditentukan oleh kondisi nyaman di tengah dunia. Orang bisa mengatakan bahwa kebahagiaan ada tingkat-tingkatannya. Tingkat dasar adalah pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, papan. Kalau itu terpenuhi kebutuhan meningkat ke pengembangan hidup dengan terjaminnya pendidikan, kesehatan. Kedudukan sosial dan hidup berkeluarga bisa menjadi tingkat lebih tinggi. Gambaran bahagia bisa juga dihubungkan dengan dengan terjadinya keselarasan hidup dalam hubungan dengan keluarga, pergaulan, masyarakat, dan bahkan dengan dirinya sendiri. Tetapi dalam realita kita bisa mengalami krisis kebutuhan dan keselarasan hubungan. Di sinilah, yang memiliki kesadaran hidup dengan terang relung hati, akan menyadari bahwa semua yang lahiriah duniawi bukanlah landasan kebahagiaan sejati. Hidup dalam naungan Allah adalah kubangan kebahagiaan yang berlimpah-limpah. Kebetulan saya menemukan tulisan yang dibuat oleh Gaudensia Sihaloho KSSY dalam renungan 8 Juni 2020 yang diberi judul “Allah Sumber Kebahagiaan Sejati” (https://www.lbi.or.id/2020/06/08/allah-sumber-kebahagiaan-sejat). Terhadap Mat 5:3-12 dia mengatakan :

“Yesus mengingatkan kita bahwa sumber kebahagiaan sejati adalah Tuhan. Apa yang selama ini kita sebut sebagai sumber kebahagiaan kita adalah milik Tuhan, yang dapat hilang lenyap dalam sekejap jika dikehendaki-Nya. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Karena itu, hal-hal duniawi tidak dapat kita jadikan ukuran kebahagiaan, termasuk harta benda, bahkan usia kita sendiri. Menggantungkan hidup kepada Tuhan adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan kebahagiaan yang tidak bisa direbut oleh siapa pun. Menggantungkan hidup kepada Tuhan berarti juga melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya. Semoga kita senantiasa mengalami kebahagiaan karena menjadi putra-putri Allah.”

No comments:

Post a Comment

Santo Gildas

diambil dari katakombe.org/para-kudus  Diterbitkan:  25 Juli 2013  Diperbaharui:  31 Mei 2014  Hits:  12620 Perayaan 29 Januari   Lahir Tahu...