Thursday, January 29, 2026

75 Tahun Berkubang dalam Kasih

Hari ini, Jumat 30 Januari 2026, saya boleh mengalami ulang tahun kelahiran ke 75. Saya memang dilahirkan pada 30 Januari 1951. Sebagai warga Komunitas Rama Domus Pacis, pada hari kelahiran saya mendapatkan kesempatan mengundang sanak keluarga dan atau orang dekat maksimum 10 orang untuk makan siang bersama para rama dan karyawan Domus. Sebenarnya sanak keluarga saya ada banyak yang tinggal di Jogja dalam jangkauan tak terlalu jauh untuk datang ke Domus Pacis. Orang dekatpun juga tak sedikit bahkan ada 2 kerabat yang biasa datang harian sebagai relawan Domus, yaitu Bu Titik Waluyanti dan Bu Rini. Tetapi pada hari ulang tahun saya orang dekat hanya Bu Titik dan Rini yang datang, karena sudah tahu acara Jumat 30 Januari 2026. Memang, yang datang untuk saya memenuhi kuota uandangan. Namun yang datang adalah salah satu rombongan kecil yang pernah datang khusus beli batik di Domus. Ketika sedang memilih-milih batik terjadi kelakar meriah dengan rama Bambang. Entah bagaimana dalam omong-omong Bu Titik yang juga ada di situ nyeletuk ulang tahun saya tanggal 30 Januari. Karena mereka ingin sekali ikut datang, maka saya tak memberi tahu sanak keluarga saya. Kedatangan mereka memang juga menghadirkan tambahan-tambahan menu untuk makan siang yang sebenarnya sudah dikhususkan.

Ketika saya merenungkan peristiwa itu, saya jadi teringat perjalanan hidup saya. Selain memiliki banyak sanak keluarga sedarah, saya dalam hidup banyak memiliki teman bahkan sahabat dekat. Sejak masih kanak-kanak saya sudah sering dolan dan nekad dolan kumpul dan bermain dengan anak-anak kampung walau kalau pulang kena marah. Ketika remaja saya sudah menjadi tokoh pendamping kanak-kanak dan amat dekat dengan keluarga-keluarga Katolik di Lingkungan saya. Aura dekat ini sungguh amat terasa hingga saya jadi imam. Tugas di bidang Karya Misioner dalam lembaga selama 27 tahun hingga masuk rumah para rama sepuh Domus Pacis sungguh membuat saya mengalami banyak kepedulian umat. Kepedulian mereka menyangkut keterlibatan tenaga bahkan keuangan. Sekalipun tidak seperti di Paroki yang dalam keuangan sudah diurus dewan, dan sekalipun selalu berhadapan dengan anggaran keuangan terbatas, saya tidak pernah kesulitan berhadapan dengan besarnya pembeayaan dalam melaksanakan program dan kegiatan. Bahkan ketika sudah di Domus Pacis saya pengalaman aura dekat umat baik off dan on line menjadi keterlibatan saya dalam ikut menghadirkan kepedulian untuk kebutuhan kehidupan Domus Pacis. Segala pengalaman ini membuat saya sungguh bersyukur pada Tuhan karena di-gemateni oleh banyak orang. Kata gemati dalam bahasa Jawa sering dianggap sebagai kependeken digegem kanthi ati (digenggam dengan hati). Di dalam https://kumparan.com/pengertian-dan saya menemukan penjelasan tentang gemati sebagai berikut : 

"Kata gemati berasal dari bahasa Jawa yang berarti penuh kasih dan sayang. Kata gemati biasa digunakan untuk menjelaskan seseorang yang penyayang, mempunyai sifat peduli, dan perhatian. Jika diartikan lebih jauh, gemati juga dapat berarti sifat yang memberi tanpa minta untuk diberi kembali. Selain itu, gemati juga berarti sikap mau dan mampu memelihara, melindungi, dan peduli".

No comments:

Post a Comment

Ulang Tahun Imamat 4 Rama Domus

Misa sore Domus Pacis Santo Petrus yang dimulai pada jam 17.00 memang memukau dan membuat ceria 300an orang peserta termasuk kor dan pengiri...