Monday, January 12, 2026

Allah Luwes Membimbing Manusia

Kelompok Devosan Kerahiman Ilahi Paroki Kalasan meminta saya mendampingi rekoleksi pada hari Selasa 13 Januari 2026. Kelompok ini mengadakan rekoleksi dalam rangka ulang tahun yang ke 7. Tema yang dipilih adalah Semakin Mengasihi, Semakin Terlibat, Semakin Menjadi Berkat. Berhadapan dengan tema ini sesaat saya mendapatkan urutan perkembangan hidup rohani bahwa semakin orang menghayati kasih dia akan semakin mendalaman keterlibatan dalam kebersamaan iman, dan baru kemudian jadilah dia sebagai berkat bagi banyak orang. Entah bagaimana tiba-tiba saya membayangkan peristiwa yang terjadi pada beberapa warga di kalangan umat Katolik. Ada orang tidak Katolik ikut Misa dan lama-lama menjadi katekumen yang akhirnya dipermandikan jadi Katolik. Itu semua berawal karena pacarnya Katolik. Rasa cinta dan kasih ingin mempersunting orang Katolik membuat dia yang tak Katolik masuk dan terlibat dalam kehidupan keagamaan Katolik. Karena ternyata dia mantap dalam keterlibatan banyak umat merasakan buah-buah keterlibatannya. Itulah rahmat. Kasih membuat terlibat dan terlibat memembuatnya jadi rahmat. 

PENGALAMAN SAYA KOK LAIN

Jujur saja, masa kecil kanak-kanak hingga remaja SMP kelas 3 sebenarnya saya adalah sosok hampa kasih. Saya lahir ketika bapak dan ibu sudah berpisah. Saya mengalami 3 kali ibu tiri. Selain itu saya menjadi sosok berkaki pincang sejak berumur setahun. Di dalam pengalaman masa kanak-kanak saya kerap diejek karena kepincangan. Berjumpa dengan orang-orang dewasa/tua saya kerap mendapatkan pertanyaan “Ibumu dhéwé ki sing endi, ta?” (Yang mana ibu kandungmu?). Sementara itu di rumah saya biasa tidak merasa aman bersama ibu tiri. Itu didasari oleh pengalaman bersama ibu tiri yang amat kreatif menemukan kesalahan saya dan kreatif juga menghadirkan kekerasan yang menyakiti tubuh saya. Bapak saya rasa-rasanya tak pernah berpihak dan membela saya. Mengasihi atau dikasihi sungguh tak masuk dalam rasa saya di masa itu. Kondisi seperti ini memang membuat saya mengalami keminderan. Namun demikian keminderan ini tidak membuat saya menjauh dari hadapan orang lain. Saya bahkan selalu melawan berbagai ejekan atau suara menjengkelkan. Saya tidak peduli disebut anak nakal. Saya tidak takut untuk berkelai. Bahkan pada waktu SMP saya ikut latihan beladiri. Kalah atau menang dalam berkelai bagi saya tidak soal. Yang pokok BERANI. Kalau ada orang-orang tua tanya siapa ibu saya, saya tidak menggubris. Di rumah saya juga kerap bertindak semau saya. Kalau bapak marah bahkan mengeroyok memarahi bersama ibu tiri, saya tak ambil pusing. Dalam hati saya sering bilang “Paling-paling dipukuli”.

Tetapi ketika saya sudah ikut pelajaran agama Katolik dan ikut sembahyangan rutin yang diadakan umat, ternyata banyak yang suka pada saya. Saya memang dikenal braok, yaitu bersuara dengan volume keras kalau omong. Untuk itu di dalam sembahyangan-sembahyangan saya biasa ditugasi untuk memimpin nyanyi. Pada waktu itu memimpin nyanyi berarti mendiktekan kata-kata yang diucapkan umat dalam nyanyian. Pada waktu itu hanya ada satu buku isi teks nyanyian ditulis tangan. Tugas saya mengucapkan kata-kata per kalimat misalnya “NDHÈREK DÈWI MARIYA” dan umat mengucapkan dengan lagu “Dhèrèk Dewi Maria” ....

Pada suatu hari ke-braok-an itu membuat pengurus umat menugasi saya menjadi pembaca Kitab Suci dalam Misa Minggu di gereja Mrican. Dengan alasan bahwa saya belum baptis, saya menolak. Ketika ada yang mendesak dan setengah memaksa, akhirnya saya berkata jujur. Saya malu untuk tugas pembaca Kitab Suci karena harus berdiri dari bangku duduk bersama umat dan berjalan menuju mimbar. “Kula isin mergi kula pincang kedah mlampah ing ngajenging kathah umat” (Saya malu karena pincang harus berjalan di muka banyak umat). Bapak yang mendesak mengangguk-anggukkan kepala tanda memaklumi. Tetapi beliau berkata “Ning sing maca tetep kowé, ya” (Tetapi pembacanya tetap kamu). Ketika saya menjawab “Kula pincang, pak. Kula isin” (Saya pincang, pak. Maka saya malu). Ternyata bapak itu berkata “Sikilmu pancèn pincang, Mbang. Ning maca ki nganggo cangkem. Suaramu sero lan isa las-lasan” (Kakimu memang pincang. Tetapi membaca itu memakai mulut. Bukankah suaramu bisa keras lantang dengan tempo tak tergesa-gesa?). Akhirnya saya menjadi pembaca Kitab Suci, yang pada waktu itu belum ada lektor seperti sekarang dengan segala persyaratannya. Pada waktu itu dalam Misa juga belum ada pengeras suara.

Di tengah umat Kring Ambarrukmo (kini Lingkungan Ambarrukmo), begitu nama paguyuban umat di mana saya menjadi anggota, saya sungguh merasa senang. Kebanyakan umat tampak senang dengan keterlibatan saya dalam kegiatan-kegiatan. Entah bagaimana, selain ikut kegiatan rutin Kring, saya menjadi amat dekat dengan anak-anak kecil usia Sekolah Dasar. Dari sini saya dan anak-anak biasa main di rumah Bapak Kaslan yang juga amat senang dengan anak-anak. Dari sini saya juga mengadakan sembahyangan rutin untuk anak-anak. Yang paling menyenangkan kalau ada perayaan seperti Natalan saya didampingi Bapak Kaslan mengorganisasi anak-anak untuk mengisi acara atraksi hiburan-hiburan. Bahkan saya dengan Mas Bejo, Mas Untung, Mbak Warni, dan Mbak Murtini sering main drama untuk mengisi acara-acara Kring. Sebenarnya saya pernah curhat dengan Bapak Kaslan karena pernah kuatir kalau ada pertanyaan tentang keibutirian dan kepincangan dari beberapa umat. Ternyata Bapak Kaslan berkata “Sedaya pun ngertos. Nèk ènten sing takèn, niku mung gatel lambéné” (Sebenarnya pada umumnya sudah tahu. Kalau ada yang tanya, itu hanya karena gatal bibir). Yang jelas dengan ikut terlibat di tengah umat saya merasa senang dan merasa disenangi oleh banyak warga Katolik. Umat juga tampak amat menghargai karena saya ikut menyemarakkan acara-acara seperti nyanyi dan main drama. Bahkan saya menjadi pembaca utama kalau Kring Ambarrukmo mendapatkan giliran melayani Misa yang meliputi tata laksana, kolekte, misdinar, dan baca Kitab Suci.

TERANG IMAN

Bagaimanapun juga yang dibicarakan adalah soal adanya 3 hal : kasih, keterlibatan, dan berkat. Sejauh saya pahami kasih adalah hukum ilahi. Tuhan Yesus berkata “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yoh 13:34-35) Kasih adalah identitas kemuridan orang Kristiani. Kemudian, bagaimana dengan keterlibatan? Keterlibatan adalah tanda orang yang hidup dalam Roh, yang membuat para murid Kristus hidup dalam persekutuan. Dalam kebersamaan iman tak ada diskriminasi atas dasar apapun. Semua menyatu bagaikan menjadi macam-macam organ tubuh. Santo Paulus menjelaskan “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” (1Kor 12:12-13)

Dalam hal berkat Kitab Suci sering memperlawankan dengan kutuk. Kalau kutuk itu berarti celaka dan mencelakaan orang, berkat membuat orang lain mengalami damai sejahtera. Dengan mengikuti panggilan meninggalkan tanah asal, Abraham menjadi berkat bagi banyak orang lain. Berhadapan dengan hanya 5 roti dan 2 ikan, ucapan berkat Tuhan Yesus menjadikan itu bisa jadi santapan 5000 orang laki-laki belum terhitung perempuan dan anak-anak bahkan tersisa 12 bakul penuh. Dari sini saya memahami bahwa berkat adalah karunia demi kebutuhan banyak orang. Padahal kalau omong karunia, itu semua berasal dari Roh Kudus. “Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.” (1Kor 12:7).

Ketika saya merenungkan dan menimbang-nimbang yang disampaikan oleh Santo Paulus berkaitan dengan kasih, keterlibatan, dan berkat atau karunia Roh, ternyata yang omong tentang karunia Roh mendahului yang lain. Santo Paulus dalam 1 Kor 12:1-11 membeberkan adanya macam-macam karunia Roh. Setiap orang memiliki kebisaan atau kemampuan atau bakat atau talenta. Ternyata semua berasal dari satu Roh. Apapun daya kemampuan seseorang, itu adalah penyataan atau anugrah Roh. “Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya” (1Kor 12:11). Di dalam ayat 7 dinyatakan “kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama”. Dari sini bagi kaum beriman datang panggilan untuk terlibat dalam kebersamaan. Karena satu sama lain memiliki jaringan hubungan kesatuan Roh, kebersamaan kaum beriman kepada Kristus digambarkan oleh Satu Paulus seperti satu tubuh yang terdiri dari banyak anggota. Hal ini dinyatakan dalam 1Kor 12:12-31. Semua anggota memiliki kesamaan martabat sehingga “justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus” (ayat 22-23). Memang, dalam kebersamaan ada tatanan organisatoris. Tetapi semua peran baik dalam kepengurusan/kepemimpinan maupun dalam pergerakan-pergerakan adalah wujud ambil bagian masing-masing anggota umat. Semua kegiatan ambil bagian dalam kebersamaan adalah usaha “untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama” (ayat 31). Di dalam tradisi iman kita memahami adanya tiga macam keutamaan yaitu iman, harapan, dan kasih. Sebagaimana dikatakan oleh Santo Paulus, kasih adalah keutamaan yang paling besar. “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1Kor 13:13)

HIDUP DALAM ROH

Dari permenungan yang saya paparkan di atas, saya menyadari bahwa sebenarnya dalam beriman saya pertama-tama dituntut menyadari karya Roh Allah. Kalau membuka Kitab Suci, dari berbagai Kitab termasuk bab-bab dan kesemua ayatnya, dua kalimat pertama mengatakan “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” (Kej 1:1-2). Yang pertama hadir di dunia adalah Roh Allah. Dari sini saya memahami mengapa penyembahan kepada Allah pertama-tama dilandasi oleh kesadaran karya Roh dalam diri orang beriman. Bukankah Tuhan Yesus berkata “penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran” (Yoh 4:23). Kita memang percaya kepada Allah Tritunggal Mahakudus : Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Di dunia ini kita sambung dengan Bapa dengan perantaraan Tuhan Yesus yang adalah “jalan dan kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6). Maka bagi saya kalau menyembah Bapa dalam kebenaran itu berarti dalam Kristus. Tetapi penyembahan juga dalam roh, yaitu roh atau berkat anugrah dalam diri saya sebagai bagian dari Roh Allah. Bahwa di dunia ini Roh Allah menjadi yang pertama dalam karya Allah, Tuhan Yesuspun dikandung masuk dalam kehidupan manusia karena karya Roh Kudus (Mat 1:18).

Karena hidup dalam Roh berarti berada dalam kekuatan Roh Kudus, bagi saya itu berarti saya mendapatkan daya dasar bersama berupa talenta. Dari Matius 25:14-30 saya menyadari bahwa sekecil dan sesedikit apapun Tuhan memberi kemampuan untuk hidup bagi setiap orang. Banyak dan sedikit di hadapan Tuhan tidak soal. Yang jelas karunia untuk setiap orang adalah penyataan Roh (bandingkan 1Kor12:7). Yang paling pokok saya dituntut untuk mengembangkan. Itulah persembahan kehidupan beriman. Sesedikit dan sekecil apapun upaya pengembangan, dalam pengalaman saya sudah bisa ikut ambilbagian dalam kebaikan hidup bersama. Dari pengalaman ketika remaja di tengah umat Lingkungan Ambarrukmo, kemampuan bersuara keras yang sering mendapatkan istilah negatif braok, ternyata juga bermanfaat dalam doa bersama sebagai pendikte nyanyian dan bahkan juga bisa memenuhi kebutuhan pembaca Kitab Suci dalam Misa Minggu ketika belum ada pengeras suara. Kini, ketika sudah lansia dan banyak berada di kamar gedung Domus Pacis Santo Petrus, hanya dengan kemampuan kecil ber-medsos saya boleh ikut ambil bagian kehidupan Domus ikut cari dana. Bukankah itu bisa masuk dalam kategori berkat?

Ternyata kasih, keterlibatan, dan jadi berkat dalam pembicaraan ini saya sadari sebagai 3 hal yang merupakan tiga penghayatan dalam kepaduan iman dan bukan urutan tahap sistematis. Orang bisa menggerakkan penghayat lewat hal satu tetapi kemudian sadarlah bahwa ketiganya sejatinya datang bersama. Yang berbeda tahap adalah kesadarannya. Allah menggerakkan kesadaran saya lewat keterlibatan di tengah umat Ambarrukmo dan dari situ saya menjadi berani tampil menggunakan suara keras sehingga saya sadar ada karunia dalam bersuara. Sikap umat Katolik dari bapak-bapak, ibu-ibu, kaum muda, dan anak-anak sungguh menyadarkan saya saya disenangi banyak orang lain. Saya merasakan kasih yang saya dapatkan dan kemudian juga saya jalani. Kesemuanya juga membawa saya bisa menyadari bahwa ayah saya memperhatikan dan mengasihi saya sehingga saya juga bisa senang ketemu keluarga.

Domus Pacis, 10 Januari 2026

No comments:

Post a Comment

Allah Luwes Membimbing Manusia

Kelompok Devosan Kerahiman Ilahi Paroki Kalasan meminta saya mendampingi rekoleksi pada hari Selasa 13 Januari 2026. Kelompok ini mengadakan...