Misa sore Domus Pacis Santo Petrus yang dimulai pada jam 17.00 memang memukau dan membuat ceria 300an orang peserta termasuk kor dan pengiring musik. Itu terjadi pada Sabtu 31 Januari 2026. Pada waktu itu Domus Pacis merayakan ulang tahun imamat 4 orang rama sepuh : 1) Rm. Suharto Widodo (42 tahun), 2) Rm. Suntara (44 tahun), 3) Rm. Bambang (45 tahun), dan Rm. Ria (53 tahun). Semua rama ini pernah menjadi penghuni Domus Pacis Puren, Pringwulung. Pada tanggal 1 Juni 2021 mereka ikut dipindahkan di Domus Pacis Santo Petrus, Kentungan. Sebenarnya, dengan dirayakan ulang tahun tahbisannya pada 31 Januari 2026, itu tidak berarti pada tanggal itulah mereka ditahbiskan. Untuk Rm. Harto, Rm, Suntara, dan Rm. Bambang, mereka ditahbisan pada Januari sebelum tanggal 31. Rm. Harto dan Rm. Santara tahbisan pada tahun beda tetapi punya tanggal sama, yaitu 25 Januari. Sedang Rm. Bambang ditahbiskan pada tanggal 22 Januari. Maka ulang tahun imamatnya diundurkan ke tanggal ini halnya dengan Rm. Riawinarta. Beliau memiliki tanggal tahbisan pada 5 Februari. Dengan demikian, perayaan ulang tahun imamat Rm. Ria diajukan ke tanggal 31 Januari 2026 bersama 3 orang rama tersebut.
Kemeriahkan Misa Ulang tahun Imamat pada 31 Januari 2026 didukung dengan beberapa hal. Pertama, iringan musik adalah gamelan yang dipinjamkan oleh kelurga Bapak-Ibu Rusman-Sri. Keluarga ini meminjamkan gamelan indahnya dengan mengantar dan mengambil pulang sendiri. Bahkan penata gamelan juga dengan tenaga yang disediakan oleh keluarga Bapak-Ibu Rusman-Sri. Kedua, pemain gamelan adalah alumni murid-murid SD Kanisius Sengkan. Dulu Ibu Sri Rusman adalah Kepala Sekolah dan kini sudah pensiun. Tetapi Bu Sri hingga kini tetap menjadi donatur dan pemerhati maju dan berkembangnya SD Kanisius Sengkan. Para alumni yang memainkan gamelan pada 31 Januari 2026 di Domus digerakkan oleh Bu Sri. Mereka berasal dari berbagai tempat dan atau paroki yang dulu sama-sama mengenyam pendidikan di SD Kanisius Sengkan. Para pemain berasal dari berbagai angkatan sehingga ada yang kini SD ada yang SMA/SMK dan bahkan ada yang sudah mahasiswa. Mereka beberapa kali berlatih di rumah keluarga Bapak-Ibu Rusman-Sri termasuk sajian konsumsi latihan dari keluarga ini. Ketiga, Kor Wilayah Sengkan. Empatpuluhan bapak-ibu terlibat dalam kor mengiringi Misa di Domus. Mereka sungguh mempersiapkan diri dan menyanyikan lagu-lagu Misa dengan penuh semangat. Keempat, sound system dan tambahan lampu-lampu khusus dari Keluarga Bapak Hanjin umat Paroki Nandan. Ini adalah keluarga kerabat Ibu Rini. Mas Tian, anak ibu Rini, mengatur datangnya pengeras suara khusus termasuk lampu-lampu lewat kontakan medsos dengan Bapak Hanjin yang masih terhitung om-nya.
Urutan Misa memang biasa dengan adanya Ritus Pembuka, Liturgi Sabda, Liturgi Ekaristi, dan Ritus Penutup. Rm. Andika Bayangkara, Direktur Domus, mengucapkan kata-kata yang ditujukan kepada para umat sebelum Misa dimulai. Rm. Bambang bertindak memimpin Misa sebagai selebtran utama yang didampingi oleh Rm. Suntara di kanannya dan Rm. Ria di kirinya. Sebenarnya ketika Misa dimulai Rm. Harto juga berjubah di kiri Rm. Ria. Tetapi karena kondisi menurun Rm. Harto dibawa masuk kamar dan dibaringkan di tempat tidurnya. Meskipun tak ada perubahan urutan ritual, Misa saat itu sungguh mengesankan karena ada olahan khusus dalam pembacaan Injil dan homili. Untuk pembacaan Injil Rm. Bambang membuat garapan dari Alleluia hingga penutup bacaan. Selama itu musik tetap berbunyi sebagai background. Sesudah lantunan Allelulia musik berhenti sejenak dan Rm. Bambang mengucapkan kata-kata liturgi sebelum dibacakan yang langsung diiringi iringan musik lembut dari lagu Rawuha Roh dengan biola, selo, dan gemder. Di sini Rm. Bambang membacakan Injil Matius 5:1-9 dengan ucapan model seorang dalang. Begitu ayat 9 selesai gamelan masuk model palaran (seperti gregorian tapi dalam musik gamelan) mengiring pembacaan ayat 10-12a. Sesudah itu homili disajikan dibuka oleh Rm. Bambang dan ditanggapi oleh Rm. Saptaka dan Rm. Andika. Dalam homili ternyata ketiga rama ini menampilkan kegembiraan yang dialami oleh para rama Domus Pacis dengan omongan model harian ketika jumpa dalam makan bersama. Ternyata antar para rama biasa terjalin dialog bebas saling ejek yang diungkapkan oleh hati yang tulus saling menerima satu sama lain. Semua yang hadir harus berkali-kali tertawa ngakak penuh kegembiraan mendengarkan kesaksian dengan dialog lansung penuh omongan saling ejek ketiga rama yang sering juga melibatkan Rm. Suntara. Tentu saja seusai Misa ada makan bersama.
No comments:
Post a Comment