Wednesday, February 25, 2026

Bersama dan Dibersamai Tuhan Yesus

Pada Sabtu 21 Februari saya diminta mendampingi rekoleksi untuk lansia Katolik Paroki Bonoharjo. Tema yang disodorkan adalah Berjalan Bersama Tuhan Sepanjang Usia. Secara spontan dengan tema ini saya teringat salah satu kata-kata yang mengungkapkan iman Kristiani, yaitu Napak Tilas Pada Dalem Sang Kristus atau dalam bahasa Indonesia Mengikuti Jejak Kristus. Hal ini membuat benak saya langsung ke kata-kata Tuhan Yesus ketika pertama kali berjumpa Filipus ‘ ”Ikutlah Aku!” (Yoh 1:43). Semua ini bisa dimaknai bahwa umat sungguh beriman kalau selalu MEMBERSAMAI Tuhan Yesus. Saya juga teringat akan nyanyian untuk anak-anak Sekolah Minggu atau Pendampingan Iman Anak (PIA). Syairnya adalah sebagai berikut : 

Jalan serta Yesus

Jalan serta-Nya

Setiap hari

Jalan serta Yesus

Serta Yesus slamanya

Jalan dalam suka

Jalan dalam duka

Jalan serta-Nya setiap hari.

 

Jalan dalam suka

Jalan dalam duka

Serta Yesus slamanya.

Siapa Membersamai?

Bahwa hidup adalah perjalanan, sebagai orang Jawa saya cukup tahu. Segala yang baik harus memakai “laku” yang memang bisa diartikan sebagai perbuatan berprihatin atau memfokuskan diri pada kerohanian. Tetapi laku berkaitan dengan kata mlaku, yang berarti berjalan. Tembang pocung “Ngèlmu iku kelakoné kanthi laku” (Kebijaksanaan adalah buah perbuatan berprihatin) tentu juga bisa didekatkan dengan pandangan Jawa “Urip kuwi mung kaya mampir ngombé” (Hidup itu bagaikan mampir untuk minum dalam perjalanan). Di dunia ini orang menghayati perjalanan “Sangkan paraning dumadi” (Dari tempat awal berjalan untuk kembali ke tempat awal). Tentu saja hal ini mendapatkan peneguhan pandangan Gereja sebagai persekutuan orang-orang yang disatukan oleh Kristus yang dibimbing oleh Roh Kudus dalam peziarahan mereka menuju Kerajaan Bapa (GS 1). Hidup adalah perjalanan bersama Allah Tritunggal Mahakudus. Ketika saya merenungkan semua ini, muncul pertanyaan dalam hati “Bagaimana hal itu sungguh saya hayati?” Karena penghayatan hidup juga berkaitan dengan daya nalar dan daya hati, “Bagaimana saya menyadari dan menjaga kesadaran jalan bersama Tuhan?” Barangkali bagi santo dan santa termasuk beato dan beata, hal ini tidak menjadi soal. Tetapi untuk pengalaman dalam diri saya, saya kerap banyak berpikir atau merasa atau berkeinginan hal-hal duniawi yang terwarnai dengan berbagai hal yang sebenarnya tak terpuji. Memang, itu bisa teredam ketika dalam hati saya menyebut kata “Gusti” dan omongan spontan dengan-Nya. Jujur saja, ketika berdoapun termasuk Misa, pikiran dan perasaan serta keinginan bisa ke mana-mana. Dengan demikian, di dalam pengalaman, saya sungguh biasa punya hati tidak membersamai Tuhan.

Belajar dari Gereja

Di dalam permenungan tiba-tiba saya teringat kata-kata yang biasa muncul dalam doa bersama dan peribadatan. Itu adalah kata-kata yang diucapkan oleh pemimpin ibadat dan dijawab oleh umat peserta. Kerap muncul pemimpin mengatakan “Tuhan bersamamu” dan umat menjawab “Dan bersama rohmu”. Dulu yang kerap muncul “Tuhan sertamu” yang dijawab “Dan sertamu juga” atau juga “Tuhan beserta kita“ yang dijawab “Sekarang dan selama-lamanya”. Dari kata-kata ini hati saya berkata bahwa sebenarnya yang aktif dalam kebersamaan hubungan saya dan Tuhan adalah Tuhan. Tuhanlah yang selalu membersamai kita. Kita bisa belok sana-sini karena kesalahan dan dosa, tetapi Tuhan selalu setia tak pernah meninggalkan kita. Santo Paulus berkata “Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.” (1Kor 1:9) Di dalam Kitab Suci kita bisa membaca bagaimana setiap kali manusia jatuh dalam dosa dan lupa Allah. Tetapi dalam Kitab Suci pula kita bisa menemukan Allah yang tetap perhatian dan peduli pada umat apapun dan bagaimanapun keadaannya. 

Tuhan Membersamai Pewarta Iman

Penyertaan Tuhan dalam hidup ini bagi saya paling jelas dinyatakan oleh Injil pada hari Tuhan Yesus naik ke sorga. Sebelum naik ke sorga Tuhan berkata kepada para murid “..... ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:20) “Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.” (Mrk 16:20)

Para murid Tuhan Yesus memang mendapatkan tugas pokok untuk menjadi pewarta iman. Ini amat ditegaskan oleh Santo Paulus “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1Kor 9:16). Ketika menyatakan bahwa hidup kita sebagai Gereja adalah sebuah peziarahan iman dalam kebersamaan dengan Allah Tritunggal, saya mengambil domuken Konsili Vatikan II dalam ajarannya tentang Gereja di tengah dunia. Di situ saya katakan “Tentu saja hal ini mendapatkan peneguhan pandangan Gereja sebagai persekutuan orang-orang yang disatukan oleh Kristus yang dibimbing oleh Roh Kudus dalam peziarahan mereka menuju Kerajaan Bapa”. Sebenarnya persekutuan itu di dunia itu terjadi dalam tugas untuk menjadi pewarta keselamatan. Konsili mengatakan :


“KEGEMBIRAAN DAN HARAPAN, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Tiada sesuatu pun yang sungguh manusiawi, yang tak bergema di hati mereka. Sebab persekutuan mereka terdiri dari orang-orang, yang dipersatukan dalam Kristus, dibimbing oleh Roh Kudus dalam peziarahan mereka menuju Kerajaan Bapa, dan telah menerima warta keselamatan untuk disampaikan kepada semua orang.” (GS 1) 

Orang yang ikut Tuhan Yesus Kristus ambil bagian tugas Gereja terlibat untuk menghadirkan kabar sukacita di tengah kehidupan kongkretnya. Sebenarnya setiap orang telah menerima warta keselamatan yang kemudian juga harus disampaikan kepada semua orang. Ini adalah tugas misioner. Tuhan mengatakan “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15). Rm. Nurwidi, seorang ahli ilmu misi, mengatakan bahwa kata dunia berarti tempat seseorang berpijak. Karena warta keselamatan berkaitan dengan bimbingan Roh Kudus, saya menghubungkannya dengan karunia yang ada dalam setiap orang.

Karunia Bekal Pewartaan

Dalam bimbingan menuju Kerajaan Bapa sebagai bagian persekutuan dalam Kristus, setiap orang mendapatkan karunia Roh. Ini adalah bekal orang untuk ambil bagian ikut menghadirkan sukacita di tengah hidupnya. Bukankah Santo Paulus berkata “kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama” (1Kor 12:7). Penyertaan Kristus dalam tugas pewartaan bagi saya adalah lewat orang-orang yang menghadirkan anugrah-anugrah yang jadi bekal saya dalam penghayatan hidup. Karena pewartaan iman tak hanya omong agama bahkan tak hanya pengajaran agama, saya juga menyadari bahwa dalam pewartaan orang harus jadi saksi iman. Orang harus mengalami sendiri penyertaan Kristus. Dalam hal ini saya merasa perlu untuk menghadirkan beberapa pengalaman saya sebagai berikut :

  • Dari balita hingga remaja. Saya memang tak begitu merasakan secara mendalam dalam kaitan dengan bapak dan ibu saya. Saya lahir ketika bapak dan ibu saya sudah berpisah. Katanya, ketika saya yang sudah mulai bisa berjalan terkena sakit dan kena suntikan obat yang membuat saya tak bisa jalan. Pertumbuhan kaki kiri tak senormal kaki kanan. Pada sekitar umur 1 tahun inilah saya diambil oleh éyang (bahasa Jawa yang berarti nenek) putri saya, ibu dari bapak. Sejak ini saya tak pernah serumah dengan ibu kandung. Bahkan saya berjumpa ibu kandung menjelang umur 17 tahun. Dari bapak saya mengalami 3 kali ibu tiri. Yang jelas saya biasa dalam naungan nenek. Bahkan dari nenek saya mendapatkan warisan tanah langsung yang sebenarnya adalah bagian bapak. Ini terjadi ketika saya klelas III SR (Sekolah Rayat yang kini Sekolah Dasar atau SD). Bahkan ketika kelas VI SD, waktu bapak bercerai dari ibu tiri pertama, rumah juga diwariskan kepada saya dengan putusan pengadilan. Saya adalah anak tunggal bapak. Nenek meninggal pada tahun 1974 dan bapak wafat pada Desember 1980. Saya ditahbiskan pada 22 Januari 1981. Pada tahun 1990 semua warisan saya jual dan uangnya saya jadikan simpanan di bank. Ternyata saya kemudian menjadi imam yang harus mengembangkan kantor dan karya misioner Keuskupan Agung Semarang (KAS) dari Komisi Karya Misioner (KKM KAS), Karya Kepausan Indonesia (KKI KAS), hingga Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner (MMM PAM). Sekalipun tidak bertugas di paroki tertentu, saya punya hubungan cukup luas dengan umat. Apalagi dalam karya saya punya jejaring dengan banyak warga umat sebagai relawan misioner. Di dalam berkarya selamat 27 tahun saya tidak memiliki topangan keuangan memadahi seperti kalau di paroki. Memang, ada anggaran dari Keuskupan. Memang, ada honorarium yang sering saya terima. Tetapi dari berbagai program dan kegiatan, pembeayaan membutuhkan tambahan. Puji Tuhan, modal peninggalan éyang dan bapak sungguh amat bermakna. Peningalan itu tak hanya bisa menopang kekurangan anggaran keuangan karya. Itu juga bisa membantu banyak orang sakit yang berkekurangan dan harus membutuhkan perawatan dokter bahkan opname. Tak sedikit juga warga yang terbantu beaya pendidikannya. Ketika saya masuk rumah rama sepuh Domus Pacis, sisa-sia tabungan yang menipis juga bisa sedikit ikut membantu kehidupan Domus Pacis.
  • Dari awal jadi Katolik. Di masa lalu saya bukanlah anak dan remaja yang kerasan dan bangga dengan kondisi keluarga. Saya berada dalam keluarga dengan keibutirian. Saya jadi sosok “pelawan bapak”. Saya merasakan seorang bapak yang selalu berpihak pada ibu tiri. Ketika masuk SMP, saya mengalami ibu tiri ketiga. Bapak dan ibu tiri memutuskan tinggal di Kumetiran. Saya memilih tinggal di Ambarrukmo di tanah warisan éyang dan rumah warisan bapak. Ketika bapak dan istrinya menjadi Katolik, saya makin menjauh pula dengan alasan saya tak akan jadi Kristen. Tetapi kekatolikan bapak saya membuat saya jadi sering merasakan kedekatan dengan orang Katolik. Kebetulan saja peristiwa G30S terasa membuat hidup keagamaan menjadi semacam keharusan. Maka ketika SMP Kelas III saya ikut pelajaran agama Katolik. Sebagai calon baptis saya berkenalan dengan Pak Kaslan dan keluarganya. Banyak anak-anak kecil usia TK dan SD sering main di rumah pak Kaslan yang punya pekarangan luas termasuk lapangan badminton. Entah bagaimana saya menjadi tokoh anak-anak kecil yang kemudian diberi nama PUTAKA (Putra Cinta Kasih). Di sini pula saya jadi dekat dengan Mas Bejo, Mbak Warni, dan Murtini. Dulu kami sama-sama anggota GSNI (Gerakan Siswa Nasional Indonesia) kelompok ormas afiliasi Partai Nasional Indonesia (PNI). Ketika berkembang Orde Baru, PNI pecah karena ada yang dipimpin oleh Osa-Osep dan ada yang dipimpin Ali Sastroamijaya – Surachman. Kami berempat masuk golongan PNI Ali-Surachman yang kena pandangan Marxisme yang disesuaikan dengan situasi dan Kondisi Indonesia. Politik nasional Orde Baru membuat PNI kami terkucil. Kalangan Katolik pada umumnya terasa pro Orde Baru. Kebetulan saya menolak menjadi anggota Pemuda Katolik yang dalam pikiran saya jadi bawahan Partai Katolik. Dengan perkembangan politik waktu itu saya jadi agak anti partai politik. Karena tak mau ikut Pemuda Katolik saya termasuk yang sering kena cap Markatul (Marhen Katolik). Puji Tuhan, ketika saya SMA kelas I muncul gerakan Mudika (Muda-muda Katolik). Saya bersama Mas Bejo, Mbak Warni, dan Murtini masuk menjadi aktivis Mudika Kring (kini Lingkungan) Ambarrukmo, Paroki Baciro. Satu hal yang harus dicatat adalah dalam segala kegiatan Katolik saya dan ketiga teman itu biasa berpusat dalam keluarga Pak Kaslan. Kami biasa menyebut diri anak-anak Pak Kaslan. Secara pribadi saya jauh lebih dekat dan taat ke Pak Kaslan daripada ke bapak saya. Kami satu sama lain tak punya hubungan darah setetespun. Tetapi entah bagaimana hubungan kami satu sama lain membuat kami jauh lebih erat dan mendalam mengalahkan hubungan dengan keluarga kami masing-masing. Kebetulan saja saya senang main sana-sini. Pak Kaslan, yang pada waktu itu adalah karyawan perpustakaan Seminari Tinggi, juga mengenalkan kami dengan calon-calon imam yang pada waktu itu masih di Seminari Tinggi Code. Bahkan saya juga diajak melihat pembangunan Seminari Tinggi Kentungan. Kedekatan hubungan inilah yang membuat saya punya cakrawala hidup imamat. Kedekatan persaudaraan inilah yang membuat saya di dalam karya pastoral amat menekankan paguyuban persaudaraan yang harus ditampakkan dalam wajah berbagai institusi Gereja.
  • Ketika calon imam. Sebenarnya saya termasuk calon imam di Seminari Tinggi yang rasa-rasanya sering dipandang jadi soal di hadapan staf. Aktivitas saya yang saya jalani di luar Seminari kerap dipandang seakan-akan belum saatnya. Di dalam Seminari ada juga kegiatan-kegiatan yang tak begitu sesuai pakem kehidupan bersama. Dalam hal ini saya merasa selalu diselamatkan oleh sosok almarhum Rm. Kartasiswaya. Beliau dengar-dengar kerap membela saya. Perhatian terhadap saya sungguh besar. Dulu kaki kiri pincang saya dioperasi karena usulan beliau sehingga saya bisa naik sepeda motor dengan presneling kaki dan bahkan kemudian bisa mengendarai mobil yang pada waktu itu belum ada yang matic. Dulu untuk tahbisan diakon belum ada persiapan. Saya berinisiatif mengajak para calon diakon untuk mengadakan triduum di Kaliurang. Rm. Kartapun menyertai.
  • Ketika ada dalam dinas imamat. Pertama-tama saya mencatat nama almarhum Rm. Mikael Sugita dan Rm. Wedyawiratno. Rm. Gita adalah pastor kepala 2 tahun pertama imamat saya. Beliau adalah sosok yang membiarkan dan bahkan menyediakan berbagai fasilitas untuk kegiatan-kegiatan yang saya mulai sekalipun harus berhadapan dengan arus kebiasaan yang terlalu membuat mapan kehidupan pastoral. Setelah pindah karya, saya berada di bawah kepemimpinan Rm. Wedya. Kebetulan saja, selain sebagai pastor paroki, Rm. Wedya juga menjadi Ketua Komisi Karya Misioner Keuskupan Agung Semarang. Mulai saat itulah saya masuk karya dengan sistem kelembagaan Keuskupan. Saya banyak dipercaya oleh Rm. Wedya dalam pendampingan-pendampingan keterlibatan umat awam dalam Gereja terutama paroki. Saya juga banyak dipercaya untuk merancang program kegiatan dengan segala strateginya. Satu hal yang tampaknya konyol adalah beliau mempercayakan keuangan pastoran kepada saya. Ketika saya berkata “Dalam catat mencatat yang buruk”, beliau menjawab “Pokoké mboten nyolong” (Asal tak mencuri). Saya memang merasa berkembang sebagai tenaga khusus yang ikut derap karya Keuskupan sehingga selama 27 tahun tak pernah pindah bidang dan tempat karya hingga masuk rumah tua. Saya menjadi salah satu tenaga full timer Keuskupan untuk pelaksanaan berbagai program Keuskupan. Dalam hal ini peran Mgr. Ignatius Suharyo (Kini Kardinal Ignatius Suharyo). Beliau tampaknya sering mempercayakan beberapa program baru pada saya. Tentu saja saya kerap harus berhadapan dengan para rama yang kurang lebih terusik kemapanannya. Yang paling menonjol saya diserahi membangun dan menjalankan Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner. Beliau hanya meminta menjadikannya sebagai museum yang hidup. Ketika dalam 2 tahun saya belum menemukan bagaimana membuat museum yang hidup, saya bertanya kepada Mgr. Haryo “Museum yang hidup niku pripun, ta?” (Sebenarnya bagaimana museum yang hidup itu?”. Ternyata jawabanya adalah “Kula nggih mboten ngertos. Pun pokoké ditandangai mawon. Panjenengan pun kulina ngawur ta? Yèn leres, kula tumut remen. Yèn klèntu, kula apura” (Saya juga tidak tahu. Pokoknya jalani saja. Anda sudah biasa ngawur, kan? Kalau benar, saya ikut senang. Kalau keliru, saya ampuni). Kesemuanya itu membuat saya menjadi kerap berani membuat kegiatan-kegiatan yang belum biasa terjadi.
  • Kini di Domus Pacis Santo Petrus. Saya memang ikut ambil bagian dalam pengembangan hidup Domus Pacis sejak masih di Domus Pacis Puren, Pringwulung, hingga di Domus Pacis Santo Petrus, Kentungan. Pada 10 tahun pertama, terutama ketika masih di Puren, saya biasa ikut menanggung kekurangan beaya baik dari sumbangan umat, stipendium, dan sisa tabungan dari warisan éyang dan bapak. Selain itu tampaknya saya ikut membuat Domus makin dikenal oleh banyak umat sehingga banyak kunjungan. Kegiatan-kegiatan pastoral mewujudkan impian saya mengembangkan Domus juga menjadi salah satu tempat pastoral kaum tua dan lansia. Banyak warga Katolik sungguh hadir sebagai relawan tak hanya untuk penyelenggaraan kegiatan-kegiatan tetapi juga untuk kesejahteraan para penghuni Domus. Dari sini muncul 8 orang ibu yang bisa menggerakkan 89 keluaraga untuk menyajikan menu makan sehari 3 kali. Muncul pula relawan-relawan yang saya sebut relawan harian, relawan even, dan relawan momental. Tanpa mengesampingkan banyak nama, saya memang menghadirkan nama Bu Titik Waluyanti dan Bu Rini Kusparwati. Keduanya memang menjadi bagian para relawan sejak Domus Pacis Puren. Keduanya amat aktif memperhatikan, mempedulikan, dan terlibat dalam kebutuhan Domus Pacis. Keduanya tetap menjadi bagian kehidupan Domus Pacis hingga kini di Domus Santo Petrus. Hingga kini keduanya selalu terlibat dalam kebutuhan konsumsi seperti snak harian dan perayaan hajatan Domus. Usaha dana juga melibatkan 2 orang ibu ini. Tetapi di Domus Pacis sejak Puren hingga Santo Petrus, saya setiap hari memiliki kebiasaan bermedsos dengan tayangan Renungan Harian, Orang Kudus, Historia Domus atau Pastoral Ketuaan. Bahwa saya memiliki kemampuan ber-HP dan ber-Laptop, hal ini adalah hasil pelatihan dari Tuhan Yesus lewat Rm. Agoeng ketika masih di Domus Pacis Puren. Tuhan Yesus juga memakai Mas Fallah, salah satu tenaga Domus, untuk membuatkan Tik Tok.

Sebenarnya kalau dicermati lebih dalam, saya menemukan amat banyak nama yang sungguh ikut menyertai saya. Sebagai aktivis Lingkungan dan Paroki, gerakan-gerakan semasa calon imam, karya pastoral di Paroki Maria Assumpta Klaten, Paroki Santa Theresia Salam, masa berkantor di Magelang, berkantor di Muntilan, hingga di Domus Pacis, saya yakin bisa menemukan amat banyak nama. Bahwa dalam tulisan di atas hanya muncul nama-nama tertentu, hal itu tentu sesuai dengan prinsip penelusuran saya masa kini dan di sini. Orang dalam “masa kini dan di sini” kalau mengingat masa lalunya akan selalu diwarnai oleh apa yang bermakna secara kongkret di-“masa kini dan di sini”-nya. “Masa kini” saya adalah masa usia lansia dan sudah bebas dinas dari Keuskupan. “Di sini” saya ada di Domus Pacis Santo Petrus dengan keterlibatan saya ikut penghidupan Komunitas Rama Sepuh Keuskupan Agung Semarang dengan segala kondisinya. Maka kalau di antara pembaca tahu nama-nama lain yang berperan dalam hidup saya atau bahkan ikut sendiri menjadi penyerta saya, saya hanya bisa mohon maaf. Yang jelas, di samping nama-nama yang saya sajikan, amat banyak umat atau siapapun yang menjadi raga Tuhan Yesus Kristus menyertai saya sebagai salah satu murid-Nya yang ikut mewartakan kabar sukacita.

Domus Pacis Santo Petrus, 17 Februari 2026

No comments:

Post a Comment

Lamunan Pekan Prapaskah I

Sabtu, 28 Februari 2026 Matius 5:43-48 43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. 44 Tetapi Aku b...