Sunday, February 8, 2026

Pengalaman Guru Paling Jos

Pada suatu ketika saya mendengar Rm. Saptaka, salah satu teman serumah di Domus Pacis Santo Petrus, berkata "Rasane awrat je nek angsal giliran mimpin Misa. Soale kudu khotbah teng ngajenge rama-rama" (Sebenarnya saya biasa merasakan berat ketika menjalani giliran memimpin Misa. Soalnya harus berkhotbah di hadapan para rama). Tetapi bagaimanapun juga saya merasa senang sekali dengan khotbah Rm. Saptaka. Beliau selalu menghubungkan bacaan Kitab Suci dengan pengalaman. Yang diomongkan sungguh hidup dan biasa juga menciptakan tawa bagi semua peserta Misa, yaitu para rama dan karyawan serta sering juga beberapa tamu yang kebetulan ikut. Ketika pada suatu ketika saya mempersiapkan Misa, dan tentu juga apa yang akan saya omongkan dalam bagian homili, saya disadarkan bahwa saya juga mengalami rasa tidak mudah karena saya pun selalu melandaskan diri pada pengalaman saya. Sebelum Misa saya sering mengalami paling tidak sedikit kegelisahan dan kemudian perasaan menjadi ringan dan ada keceriaan batin setelah menyelesaikan tugas Misa.

Untuk saya perasaan berat dan sering diwarnai kegelisahan batin makin terjadi ketika diminta memimpin Misa khusus di hadapan banyak umat seperti dalam Misa Ujub Keluarga ataupun di hadapan rombongan pengunjung Domus yang minta Misa. Lebih merasa tidak ringan lagi kalau saya harus melayani program rekoleksi. Saya harus merenung-dan merenung. Saya harus menelusuri jejak-jejak hidup saya yang pernah terjadi atau saya alami. Saya juga menghubungkan dengan terang-terang iman baik Kitab Suci maupun ajaran serta apapun yang ada dalam Gereja. Memang, dari sini mengalir kegembiraan batin ketika saya bisa memetik semacam pelajaran hidup ikut Tuhan. Tak jarang saya menuliskan pelajaran yang saya ketemukan. Ketika merenungkan semua ini saya makin yakin kalau pengalaman adalah guru handal. Dalam google saya menemukan penjelasan : 

"Belajar dari pengalaman (experiential learning) adalah proses meningkatkan diri dengan merefleksikan kejadian nyata, baik keberhasilan maupun kegagalan, untuk memperbaiki tindakan di masa depan. Ini melibatkan siklus tindakan, refleksi, dan penerapan. Pengalaman adalah guru terbaik karena mengubah kesalahan menjadi peluang, meningkatkan adaptabilitas, dan mencegah terulangnya kesalahan yang sama."

Dalam permenungan saya menyadari bahwa bagaimanapun juga hidup selalu berisi pembelajaran. Dengan ikut Tuhan Yesus Kristus saya berada dalam kesatuan Gereja sebagai persekutuan dari paguyuban-paguyuban murid-murid Tuhan Yesus Kristus. Kemuridan adalah hakikat penghayatan iman. "Beriman berarti semakin mengikuti Tuhan Yesus Kristus Kristus dalam perkembangan situasi hidup dan budaya setempat" demikian kata Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang 1996-2000. Dalam pengalaman pelayanan khotbah hingga rekoleksi selalu ada rasa berat. Sikap kemuridan selalu disertai pengalaman kongkret dengan segala jatuh bangunnya. Belajar dari pengalaman berarti belajar menerima realita dengan menemukan makna masa kini dari belajar masa lampau untuk semakin ikut Tuhan. Dinamika penghayatan kemuridan bisa dipahami dari Bacaan Pertama Minggu Palma :

"Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi. Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu." (Yes 50:4-7) 

No comments:

Post a Comment

Pengalaman Guru Paling Jos

Pada suatu ketika saya mendengar Rm. Saptaka, salah satu teman serumah di Domus Pacis Santo Petrus, berkata " Rasane awrat je nek angsa...