Thursday, February 5, 2026

Rm. Andika Jumpa Mas Riwi di Manokwari

Pada hari Minggu 1 Februari 2026 jam 09.43 Rm. Andika, Direktur Domus Pacis Santo Petrus, mengirim gambar sebuah bandara dengan kapal terbang di WA Rm. Bambang. Di situ ada narasi singkat "Sampun dumugi Sorong" (Sudah sampai Sorong). Pada Sabtu malam tanggal 31 Januari 2026 beliau memang meninggalkan Domus Pacis pergi ke Papua. Tiba-tiba pada hari Selasa 3 Februari 2026 saya menerima kiriman gambar foto dari sebuah nomor WA di HP. Ketika saya telusuri nomer itu, ternyata ada nama Riwi Nugroho. Saya langsung ingat bahwa dia dulu berasal dari Stasi Ngluwar, Paroki Salam. Dia mengirim foto Rm. Andika sedang duduk memegang piring berisi nasi dan lauk pauk dan Mas Riwi berdiri di kanannya disertai narasi "Sugeng dalu Rama.  Berkah Dalem. Punika sinarengan kalliyan Rama Andika" (Selamat malam, Rama. Berkah Dalem. Ini bersama Rama Andika). Sebenarnya foto itu diterima oleh Rm. Bambang pada jam 17.54. Tetapi perbedaan waktu di Papua memang sudah malam). Dari informasi ternyata pada Selasa itu Rm. Andika berada di Manokwari.

Ingatan yang Membahagiakan

Sesudah kiriman foto Rm. Andika, kemudian terjadi omong-omong lewat WA antara Mas Riwi dan Rm. Bambang. Dari omong-omong itu ada kata-kata yang dalam hati Rm. Bambang bergema secara khusus. Mas Riwi menulis "Waduh sy kaget tadi ketemu Rm Andika. Lebih kaget bahagia Rm Bambang nanya Rm Andika ... apalah waktu itu ketemu sy di Papua. Sembah nuwun sanget (Terima kasih sekali) Rama Bambang." Kalau Mas Riwi mengatakan apakah waktu itu Rm. Andika berjumpa dengan Mas Riwi, itu memang terjadi dalam salah satu omongan saya dengan Rm. Andika. Rm. Andika mulai memimpin dan tinggal di Domus Pacis pada 10 Agustus 2025. Dalam salah satu omongan, beliau bercerita kepada saya mengalamannya berkarya sekitar 4 tahun di Papua. Pada waktu itulah saya bertanya apakah beliau juga berjumpa dengan yang bernama Mas Riwi. Ternyata ketika berjumpa Mas Riwi pada Selasa 3 Februari 2026, Rm. Andika ingat pertanyaan saya dulu dan disampaikan ke Mas Riwi. Ternyata, dengan saya ingat Mas Riwi bilang "kaget bahagia". 

Sebenarnya hubungan saya dengan Mas Riwi terutama terjadi pada sekitar tahun 1983-1988 ketika saya tinggal di Paroki Salam. Saya memang mendampingi dia ketika masih SMP dan kemudia masuk SPG van Lith di Muntilan hingga dulu masuk Seminari tetapi untuk membantu ibunya yang janda ketika sudah frater dia kerja hingga kini. Kini Mas Riwi sudah beristri dan beranak. Dalam perkiraan saya, dia pasti sudah berusia lebih dari 50 tahun. Ketika saya sudah masuk rumah rama tua Domus Pacis Puren, Mas Riwi beberapa kali mengunjungi saya ketika libur dan mengunjungi keluarganya. Katanya, Mas Riwi di Manokwari menjadi seorang guru. Kalau ada rama yang berkarya di Papua dan omong tentang Manokwari atau Sorong, saya memang ingat sosok Mas Riwi dan bertanya kepada rama itu apakah mengenalnya. Ternyata, hanya tahu diingat, Mas Riwi sidah bahagia. Hal itu ternyata dari  narasinya dalam WA ketika diberi tahu oleh Rm. Andika bahwa saya pernah bertanya tentang dia.

Ingatan Sejati Itu Pengenangan 

Saya yakin bahwa dengan informasi dari Rm. Andika bahwa saya bertanya apa jumpa dia, Mas Riwi ingat masa remajanya hingga masuk Seminari. Ingatan itu pasti membawa kenangan kedekatannya waktu itu dengan saya. Kenangan itu ternyata menghadirkan kebahagiaan karena juga masih diingat. Entah bagaimana, tiba-tiba saya teringat Doa Syukur Agung yang katanya adalah inti dari Misa. Misa biasa disebut Perayaan Ekaristi. Tentang Ekaristi, saya menemukan pemahaman dari google :

Ekaristi dalam Gereja Katolik adalah sakramen tertinggi, puncak seluruh kehidupan kristiani, dan perayaan syukur atas karya penyelamatan Yesus Kristus. Berasal dari bahasa Yunani eucharistia (ucapan syukur), perayaan ini menghadirkan kembali kurban salib Kristus, di mana roti dan anggur secara substansial berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus.

Ucapan syukur ternyata amat berkaitan dengan puncak seluruh kehidupan Kristiani. Dengan demikian saya berani mengatakan bahwa orang sungguh-sungguh ikut Tuhan Yesus kalau hidupnya dikuasai oleh aura hati bersyukur. Dalam Perayaan Ekaristi ada aklamasi yang mengungkapkan misteri hidup beriman pada Tuhan Yesus Kristus, yang dalam salah satu rumusan berbunyi "Wafat Kristus kita maklumkan, kebangkitan-Nya kita muliakan, Kedatangan-Nya kita rindukan". Saya menangkap bahwa syukur itu meliputi baik peristiwa masa lalu, masa kini, dan harapan ke masa depan. Syukur memang mengalirkan kebahagiaan. Dalam peristiwa dalam diri Mas Riwi Nugroho, ketika dalam masa kininya (Selasa 3 Februari 2026) mendapatkan informasi apa pernah jumpa dengan Mas Riwi, Mas Riwi diingatkan masa lalunya ketika bersama di Paroki Salam. Bagaimanapun juga dalam keyakinan saya Mas Riwi mengalami secara batiniah pengenangan iman. Yang dihayati oleh Mas Riwi bagi saya adalah buah imannya karena mengalami karya keselamatan Kristus. Bukankah ungkapan misteri iman dalam Doa Syukur Agung dinamakan anamnese yang katanya berarti pengenangan. Dalam google saya menemukan keterangan berikut :

Dalam Katolik, anamnesis adalah istilah liturgi untuk "kenangan" atau "peringatan" akan karya keselamatan Yesus Kristus (wafat, kebangkitan, kenaikan-Nya) yang dihadirkan secara nyata dalam perayaan Ekaristi, bukan sekadar mengingat, tetapi mengalami kembali peristiwa penyelamatan tersebut saat ini melalui doa dan ritual seperti pada Perjamuan Terakhir. Ini adalah inti Misa di mana jemaat berpartisipasi langsung dalam misteri Kristus, menggenapi perintah Yesus "perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku".

Domus Pacis, 5 Februari 2026

No comments:

Post a Comment

Lamunan Pekan Biasa IV

Sabtu, 7 Februari 2026 Markus 6:30-34 30 Kemudian rasul-rasul   itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua y...