Friday, April 4, 2025

Ternyata Ada Yang Senang Misa Paskah Domus

Tampaknya, sekalipun sederhana tak akan semeriah yang terjadi di paroki-paroki, Malam Paskah di Domus Pacis Santo Petrus akan termasuk menghadirkan kegembiraan. Ketika membuat berita yang ditayangkan dalam Blog Domus 4-4-2025 dengan judul Paskah 2025 Makin Mendekat, beberapa tanggapan muncul. Rm. Jarot, salah satu anggota penghuni Domus, bertanya "Pendaftarane ditutup dereng?" (Apakah pendaftaran sudah ditutup atau masih terbuka?). Rm. Bambang menjawab "Taksih saget ndhaftar. Paling lat 13 April" (Masih bisa mendaftar. Paling lambat Minggu 13 April). Rm. Jarot bilang ada umat kenalannya ingin ikut Misa Malam Paskah di Domus. Sementara Mbak Hilda, pendaftar pertama yang berasal dari Borobudur, mengirim pesan WA "Aku udh engga sabar ikut Misa malam Paskah pertama di Domus. Bahagia banget". Ada juga tanggapan yang membuat Rm. Bambang amat senang karena disertai foto calon anggota kor yang akan mengiringi Misa Malam Paskah Domus Sabtu 19 April 2025. Rm. Bambang memberitakan kor yang akan mengiringi beranggotakan bapak-bapak yang biasa bertugas parkir dan keamanan gereja. Domus akan menjadi tempat tugas nyanyi pertama kali. Hal ini memunculkan tanggapan lewat FB dari Ibu Yustina Retno Yuniatmi dari Sleman yang bilang "Namanya Kukgeruk Choir Mo, hahaha... kelompok anak & bapak... Bs mengumpulkan mrk itu sungguh luar biasa, walo dg suara pas2-an yg penting semangat dan kompak..." 

Yang jelas umat Katolik yang akan datang dalam Misa Malam Paskah Sabtu 19 April 2025 akan berjumlah tembus dari angka 100. Selain anggota Kugeruk Choir bersama keluarga yang mendaftarkan diri sebanyak 40 orang, para pendaftar ke Rm. Bambang lewat WA 087834991969 tercatat hingga berita ini ditulis ada 79 orang. Pendaftaran memang diharuskan untuk persediaan makan bersama sesudah Misa. Ketujuhpuluh tujuh pendaftar itu adalah sebagai berikut :

  1. Borobudur: 1. Hilda
  2. Kebonarum: 1. Lusia Kismiyati, 2. Pak Supri
  3. Banteng: 1. Edo, 2. Iin, 3. Sommy, 4. Raphael, 5. Paulus Subiyanto, 6.  Cecilia Ratih Widihayati, 7. Elleannlora Gina Chintiya C, 8. Ign BP Dian Krishna, 9. 1.Iwan Kurniawan, 10. Jenny, 11. Josse, 12. Bapak Guntoro, 13. Bapak Al. Sigit Sudarmadi, 14. Ibu Sigit Sudarmadi
  4. Pringwulung: 1. De eL, 2. Ariel, 3. Bu Ratna, 4. Pak Ardi
  5. Kotabaru: 1. Ibu F. Mari Krismartin, 2. Mbak Agnes, 3. Reni 4. Hardiwarno, 5. Bu Elisabeth Mahargyorini, 6. Lukas Nugroho, 7. Yudit Mahargyaningtyas, 8. Gabriel Pio Jantaka Abimata
  6. Muntilan: 1. Ibu Erna Rudiyanti
  7. Kalasan: 1. Ibu Scholastica Dwi Wuryanti, 2. Bapak Yohanes, 3. Ibu Sisca, 4. Bapak Sunaryo, 5. Ibu Liliana, 6. Ibu Veronica Titik
  8. Bekasi: 1. Ibu Elizabeth Sumi
  9. Warak: 1. Lindyawati, 2. Tri Harsono, 3. Mahaputri, 4. Bu Tanti, 5. Pak Yoseph, 6. Leoni
  10. Gamping: 1. Ibu Sri Daruningsih, 2. Ibu Sri Setyati, 3. Bapak Felix Wisnu I
  11. Medari: 1. Tian, 2. Rachel, 3. Chrissel, 4. Nel, 5. Mbak War, 6. HS. Klara Dea, 7. Martinus Setyo Adinugroho, 8.  St. Agus Wibowo Hadi, 9.  C. Trikusdwinarti, 10.  Th. Sri Mulyani, 11. Laurentius Reiha Wisnuhadi
  12. Pangkalan: 1. A.A. Danastri, 2. Andika Krisnugraha, 3. Hieronimus Gyandra Nugraha, 4. Teresa Isvara
  13. Gondang: 1. Bp Y Dono Budoyo, 2. Ibu A Niken Wahyuningsih, 3. Bp V Hardono, 4. Ibu B Anik Setyawati, 5. Y. Yoseph Satria Adiatma, 6. A Terania Belinda, 7. M Elgiva Leana Dona
  14. Bintaran: 1. Bpk. Budi Purnomo, 2. Sdr. Yohanes Rama, 3. Ibu. Lucyanie
  15. Pringgolayan: 1. Nani Han, 2. Chosa, 3. Pipit
  16. Mlati: 1. Ibu Ayu
  17. Kumetiran: 1.domus Sisca Megayanti
  18. Baciro: 1. Laetitia, 2. Bapak Bambang Ananto, 3. Ibu Titik Ariniwati

Santa Maria Crescentia Höss

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 06 Maret 2015 Diperbaharui: 06 Maret 2015 Hits: 18281

  • Perayaan
    5 April
  •  
  • Lahir
    20 Oktober 1682
  •  
  • Kota asal
    Kaufbeuren, Bavaria, Jerman
  •  
  • Wafat
  •  
  • hari Minggu Paskah 5 April 1744 di Kaufbeuren Jerman - Oleh sebab alamiah
    Jenazahnya disemayamkan di Gereja biaranya di Kaufbeuren
  •  
  • Venerasi
    2 Agustus 1801 oleh Paus Pius VII (decree of heroic virtues)
  •  
  • Beatifikasi
    7 Oktober 1900 oleh Paus Leo XIII
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • 25 November 2001 oleh Santo Paus Yohanes Paulus II

Masa Kecil

Santa Maria Crescentia Höss lahir pada tanggal 20 Oktober 1682 di Kaufbeuren, sebuah kota kecil di Bavaria Jerman. Ia dibabtis dengan nama Anna Höss dan berasal dari keluarga yang sangat bersahaja namun saleh. Ayahnya yang bernama Matthias Höss, adalah bekerja sebagai seorang penenun; dan ibunya adalah seorang ibu rumah-tangga bernama Lucia Hoermann. Walau kemiskinan membuat Anna tidak dapat bersekolah, namun dari kedua orang tuanya yang saleh, Anna dapat belajar membaca dan menulis serta mendapatkan bimbingan untuk menjadi seorang katolik yang baik. Sifatnya yang begitu manis dan baik membuat Anna kecil dicintai oleh orang-orang di kotanya. Mereka memanggilnya dengan sebutan “malaikat kecil”.

Anna sangat senang berdoa dan sering menghabiskan waktunya di dalam gereja dan berdoa di sana. Walau masih kanak-kanak namun dapat terlihat bahwa ia telah menjalani kehidupan rohani dengan sangat baik. Karena itu Anna mendapat dispensasi dari pastor paroki dan diperbolehkan untuk menerima komuni pertamanya lebih awal. Sang malaikat kecil itu pun menerima komuni pertamanya saat berusia 7 tahun. Ia sangat bahagia karena boleh menyambut Yesus masuk ke dalam hatinya. Ia merasakan kasih Yesus yang sungguh nyata saat menerima komuni kudusnya yang pertama. 

Menjadi Biarawati

Suatu ketika saat Anna sedang berlutut dan berdoa di sebuah kapel di sebuah biara Fransiskan, tiba-tiba ia mendengar suara yang keluar dari salib yang tergantung di depan altar; “Ini akan menjadi tempat tinggalmu.” Suara itu begitu menyentuh hatinya. Ia yakin bahwa itu adalah suara Tuhan yang sedang memanggilnya. Hatinya segera dipenuhi oleh kerinduan dan ia ingin mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan dengan menjadi biarawati.

Anna lalu melamar untuk menjadi seorang biarawati di biara Susteran Ordo Ketiga Fransiskan tersebut. Namun awalnya ia ditolak karena biara tersebut sedang kekurangan biaya memberi syarat bagi para calon yang akan bergabung untuk memberikan sumbangan bagi pembangunan dan perkembangan biara tersebut. Karena miskin dan tidak memiliki apa-apa, Anna tidak mampu memberikan sumbangan apapun agar ia dapat diterima dalam biara tersebut.

Namun bila Tuhan sudah berkehendak, maka ituah yang akan terjadi. Tuhan memberikan jalan bagi yang tak terduga sama sekali, yang membawa Anna memasuki kehidupan dalam biara. Di sebelah biara tersebut terdapat sebuah kedai minuman yang selalu ramai setiap hari. Keributan dari orang-orang yang ada di kedai itu sangat mengganggu para suster di dalam biara. Karena itu, para suster berencana untuk membeli kedai minuman tersebut. Namun mereka tidak memiliki cukup uang karena kedai tersebut dijual dengan harga tinggi. Hal tersebut terdengar oleh walikota Kaufbeuren yang adalah seorang Protestan. Pada tahun 1703 pak walikota membeli kedai tersebut dan menyumbangkannya kepada biara. Sebagai imbalannya, Walikota yang baik ini menolak semua uang dan kompensasi yang ditawarkan biara, dan hanya meminta pada suster kepala biara (Jerman : Oberin) untuk menerima lamaran Anna Hoss.

Pihak biara tidak dapat menolak permintaan tersebut. Anna kemudian diterima dalam biara, menjalani novisiat, lalu mengucapkan kaul sebagai seorang suster dari Ordo ketiga Fransiskan dengan nama biara : Maria Crescentia.

Penderitaan Demi Cinta

Di dalam biara, suster Crescentia mendapat perlakuan yang buruk dari para suster yang lain. Hal ini disebabkan karena ia masuk ke biara tersebut atas intervensi dari walikota. Ia sering diejek sebagai pengemis dan dipanggil dengan julukan munafik, penjilat. Ia selalu diberikan pekerjaan-pekerjaan yang berat dan tidak menyenangkan. Bahkan kesalehan hidup dan kebaikan hatinya dianggap sebagai suatu upaya atau cara untuk mencari muka dan menjilat orang lain. Saat masuk biara, Crescentia mendapat sebuah kamar tidur sendiri, namun di kemudian hari kamar tersebut diberikan kepada seorang novis lain. Crescentia pun harus meminta belaskasih suster yang lain agar diperbolehkan tidur dilantai di kamar mereka. Akhirnya, kepadanya diberikan sebuah tempat di sudut ruangan yang lembab dan gelap yang menjadi tempat tidurnya selama 3 tahun.

Suster Crescentia sangat menderita dengan semua perlakuan tersebut, namun ia tetap diam dan tak melawan dengan sikap marah. Ia tidak keberatan untuk menderita, karena ia ingin membuktikan cintanya kepada Tuhan Yesus. Ia selalu berusaha untuk mencintai suster-suster yang telah berbuat jahat terhadapnya.

Pada tahun 1707, biara suster Crescentia memiliki seorang oberin (Pemimpin atau Superior) yang baru yang sangat saleh dan bijaksana. Madame oberin yang baru ini dapat melihat harta rohani yang tersimpan dalam kerendahan hati dan kesucian hidup suster Crescentia. Karena itu pada tahun 1717 ia pun mengangkat suster Crescentia menjadi seorang pembimbing novis.

Para novisiat yang dibimbingnya segera jatuh hati pada suster yang sangat bersahaja, lembut dan penuh kerendahan hati ini. Mereka sangat mencintainya karena ia membimbing mereka dengan penuh belas kasih. Ia menjadi teladan bagi mereka untuk bertumbuh dalam kehidupan rohani, dalam iman, harapan, dan kasih. Ketika madame oberin meninggal dunia pada tahun 1741, Crescentia pun terpilih dengan suara bulat untuk menggantikan posisinya.

Setelah menjadi superior biara itu, Crescentia melakukan banyak pembenahan untuk perkembangan kehidupan rohani p ara suster dan juga pengelolaan keuangan yang lebih baik sehingga ia mampu mengatasi masalah keuangan yang selama ini menjadi kesulitan mereka. Di bawah pimpinannya, biara tak pernah lagi kekurangan dalam hal finansial. Reputasinya sebagai seorang kudus dan seorang pembimbing rohani segera tersebar ke mana-mana. Banyak orang yang datang untuk meminta bimbingan dan nasihatnya, bahkan raja, uskup, dan kardinal sering datang untuk meminta nasihat dari Suster Crescentia.

Karunia Rohani

Suster Crescentia selalu menjalani hidupnya dalam kesucian dan ketaatan. Dalam setiap detik hidupnya, ia selalu mengarahkan hati kepada Tuhan. Kesalehan dan kesuciannya semakin memancar dari dalam dirinya. Suster Crescentia memperoleh banyak karunia rohani. Ia sering memperoleh karunia penglihatan (visioner), dan sering tenggelam dalam ekstase rohani. Ia diberi rahmat oleh Tuhan untuk mengalami penderitaan seperti yang dialami Yesus saat di salib. Pengalaman mistik ini biasa dialaminya hampir pada setiap hari Jumat mulai dari jam 9 sampai jam 3 sore. Dalam waktu itu Crescentia merasakan kesakitan dan derita yang dialami oleh Yesus sendiri saat menjelang wafatnya di kayu salib. Seringkali penderitaan yang dialami oleh Crescentia begitu hebat sampai membuat dia tak sadarkan diri. Dengan pengalaman ini Crescentia semakin memupuk cintanya kepada Yesus. Ia menyadari benar-benar bahwa kesakitan dan penderitaan yang dialami oleh Yesus adalah untuk menebus dosa-dosanya dan dosa manusia seluruhnya. Ia merasa betapa Yesus sangat mencintai dia, dan betapa ia pun ingin terus membalas cinta Yesus itu. 

Tutup usia dan kanonisasi

Tahun-tahun terakhir hidupnya dilewatinya bersama dengan penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya. Crescentia mulai diserang penyakit pada bagian kepalanya yang terus menerus merasa sakit, sampai kemudian ia merasa sakit pada gusi dan giginya yang membuat ia sulit berbicara. Juga kedua tangan dan kakinya mulai sakit dan akhirnya menjadi lumpuh. Tubuhnya mulai membungkuk dan semakin membungkuk sampai melengkung seperti posisi seorang bayi didalam rahim ibunya. Keadaan Crescentia sungguh memprihatinkan, namun ia tetap tabah. Dan bahkan dalam kesakitannya ia masih dapat berkata dengan semangat St. Fransiskus, “Oh... anggota-anggota tubuhku, pujilah dan sembahlah Tuhan sebab Ia memberikan rahmat dan kesanggupan untuk menderita...”

Pada hari Minggu Paskah tahun 1744, dengan penuh sukacita dan kebahagiaan, suster Maria Crescentia Hoss tutup usia didunia ini dan pergi menghadap Bapa disurga bersama dengan Yesus yang bangkit di hari Paskah itu. Hidupnya yang penuh dengan teladan kesucian itu telah menjadi contoh bagi banyak orang, terutama bagi para suster dalam biara yang telah dipimpinnya.

Proses kanonisasi Suster Maria Crescentia Hoss telah dimulai pada tahun 1775. Namun sekularisasi biara-biara di Jerman yang terjadi selama masa pergolakan Revolusioner di abad ke-18, dan kebijakan anti-Katolik pemerintah Jerman selama masa Kulturkampf di abad ke-19 sangat menghambat proses ini.

Akhirnya, pada tahun 1900, Suster Crescentia dibeatifikasi oleh Paus Leo XIII. Seratus tahun kemudian ia dikanonisasi oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 25 November 2001. Menyusul kanonisasinya, biaranya di Kaufbeuren diganti namanya menjadi Biara Santa Crescentia (Jerman: Crescentiakloster) untuk menghormatinya.

Lamunan Pekan Prapaskah IV

Sabtu, 5 April 2025

Yohanes 7:40-53

40 Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: "Dia ini benar-benar nabi yang akan datang." 41 Yang lain berkata: "Ia ini Mesias." Tetapi yang lain lagi berkata: "Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! 42 Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal." 43 Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. 44 Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorangpun yang berani menyentuh-Nya.

45 Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: "Mengapa kamu tidak membawa-Nya?" 46 Jawab penjaga-penjaga itu: "Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!" 47 Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: "Adakah kamu juga disesatkan? 48 Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? 49 Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!" 50 Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya, berkata kepada mereka: 51 "Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?" 52 Jawab mereka: "Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea."

53 Lalu mereka pulang, masing-masing ke rumahnya,

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, untuk panggilan menjadi imam, suster, bruder memang ada daerah-daerah tertentu dipandang subur. Paroki-paroki tertentu bisa menjadi ladang munculnya kaum muda yang terpanggil menghayati imam dan hidup bakti.
  • Tampaknya, untuk munculnya tokoh-tokoh kenegaraan memang ada perguruan-perguruan tertentu dipandang subur. Ada perguruan-perguruan tertentu bisa dipandang sebagai lumbung hadirnya pemimpin-pemimpin bangsa dan negara.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, sekalipun tidak dibesarkan di daerah subur panggilan dan perguruan yang tidak terpandang, karena kebiasaan mengembangkan diri hidup dengan terang hati, orang bisa saja unggul sebagai tokoh iman dan atau kenegaraan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang bisa saja menjadi tokoh unggul dalam hidup beriman atau berbangsa atau bernegara.

Ah, tokoh iman akan muncul dari keluarga yang sungguh beragama.

Paskah 2025 Makin Mendekat

Ketika berita ini ditulis, enambelas hari kemudian umat Katolik merayakan Malam Paskah. Salah satu kegiatan yang amat serius dalam persiapan adalah kelompok kor yang bertugas mengiringi Misa Malam Paskah. Para rama juga banyak yang mulai bersiap-siap paling tidak untuk kekompakan dengan kelompok kor. Dalam hal ini Domus Pacis Santo Petrus juga merayakan Malam Paskah bahkan Minggu Palma, Kamis Putih, dan Jumat Agung. Lebih dari itu di hari Selasa 15 April 2025 Domus Pacis juga akan merayakan Misa untuk pembaharuan janji imamat para rama. Tentu saja perayaan Misa Domus akan sederhana jauh dari kadar kemeriahan seperti di paroki-paroki. Di antara para rama Domus hanyalah Rm. Hartanta, Direktur Domus, yang ikut sibuk persiapan Paskah. Beliau beberapa kali datang ke paroki yang akan dilayani untuk persiapan bersama para petugas terutama kor. 

Untuk Domus Pacis yang jelas akan ada pengiring kor adalah hari pembaharuan janji imamat Selasa tanggal 15 dan Malam Paskah Sabtu 19 April. Kalau tidak salah dengar, Rm. Hartanta menyinggung akan ada kelompok kor membantu untuk Kamis Putih. Untuk tanggal 15 kor yang akan mengiringi berasal dari Umat Lingkungan Pajeksan, Paroki Kumetiran. Sedang untuk tanggal 19 ada kelompok bapak-bapak dari Sleman Paroki Medari yang baru saja berkumpul jadi kelompok kor. Mereka menamakan diri Kor Kugeruk. Kata kugeruk menunjuk tangkapan orang Jawa terhadap suara burung puter. Kelompok ini tahu bahwa yang akan memimpin Misa Malam Paskah adalah Rm. Bambang. Bu Nana, penghubung Kor Kugeruk, pada Kamis 3 April 2025 jam 09.35 mengirim pesan WA di HP Rm. Bambang "Mbenjang Sabtu kel koor Kukgeruk badhe latihan koor. Menawi Romo badhe ngrawuhi kulo sumanggakken. Ngiras menawi wonten revisi. Wonten panggenan kulo jam 19.00 Romo. Harap maklum bapak bapak biasanipun namun parkir lan keamanan sakmeniko purun koor" (Besuk Sabtu Kelompok Kor Kugeruk akan latihan kor. Kalau bisa Rama diharapkan mendatangi sambil mungkin ada revisi. Tempatnya rumah saya jam 19.00. Harap maklum, bapak-bapak biasanya hanya jadi petugas parkir dan keamanan dan sekarang mau kor). Itulah sebabnya mengapa Rm. Bambang besuk Sabtu 5 April 2025 minta Mas Tian, putra Bu Rini, untuk mengantar pulang malam ke Domus seusai ikut latihan kor.

Thursday, April 3, 2025

Santo Isidorus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 05 Agustus 2013 Diperbaharui: 04 November 2019 Hits: 15622

  • Perayaan
    04 April
  •  
  • Lahir
    Sekitar Tahun 560
  •  
  • Kota asal
    Cartagena, Spanyol
  •  
  • Wafat
  •  
  • 04 April 636 di Seville, Spanyol | Oleh sebab alamiah
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

St. Isidorus dilahirkan pada tahun 560. Dua orang kakaknya, Leander dan Fulgentius, adalah uskup dan santo juga. Saudari mereka, Florentina, seorang biarawati dan santa juga. Keluarga Isidorus kemungkinan berasal dari Roma. Kelak Isidorus ditahbiskan sebagai uskup kota Seville, Spanyol.

Isidorus menjadi Uskup Seville selama tiga puluh tujuh tahun dan dari sanalah ia memberikan pengaruh yang begitu besar terhadap Gereja pada jamannya. Selama masa itu, ia melanjutkan karya uskup sebelumnya, yaitu St. Leander, kakaknya. Kedua kakak-beradik ini mempertobatkan penganut bidaah Visigoth dan membawa mereka pulang ke pangkuan Gereja Katolik Roma.

Pada masa kecilnya, Isidorus memperoleh pendidikan yang amat baik. Kakak-kakaknya bertanggung jawab atas pendidikannya. Ia dibimbing oleh St. Leander. Isidorus kecil menganggap Leander sebagai orang yang paling kejam di seluruh dunia. Leander terus-menerus menyuruhnya belajar! dan belajar!! Tetapi, di kemudian hari Isidorus menyadari bahwa Leander sungguh seorang sahabat yang mengagumkan. Ia mengajarkan kepada Isidorus bahwa kita akan dapat melakukan begitu banyak hal bagi Gereja Yesus apabila kita belajar dengan tekun.

Isidorus hidup jauh sebelum Konsili Trente, di mana baru mulai dibuka seminari-seminari untuk pendidikan imam. Tetapi, Isidorus yakin bahwa di setiap keuskupan haruslah ada sebuah seminari dan sebuah sekolah Katolik sebagai sarana pendidikan lanjutan. Kedua impiannya tersebut kelak terwujud dengan dibukanya perguruan tinggi-perguruan tinggi Katolik dan juga seminari-seminari.

St. Isidorus adalah juga seorang organisator ulung. Ia diminta untuk memimpin dua pertemuan Gereja yang penting yang disebut Sinode. Yang pertama di Seville, Spanyol pada tahun 619 dan sesudahnya di Toledo, Spanyol pada tahun 633. Sinode-sinode tersebut semakin mempererat persekutuan Gereja. St. Isidorus menulis banyak buku. Ia menulis tentang sejarah Goths. Ia menulis tentang pahlawan-pahlawan Kitab Suci. Ia bahkan juga menyusun sebuah kamus.

Uskup Isidorus selalu terbuka bagi umatnya. Kaum miskin di Seville tahu ke mana mereka harus pergi mohon bantuan. Selalu ada antrian panjang sepanjang hari, setiap hari, di tempat kediaman uskup. Isidorus berdoa dan bermatiraga. Ia sungguh seorang yang kudus dan uskup yang amat dicintai. Ia wafat pada tahun 636. St. Isidorus digelari Doktor Gereja oleh Paus Inosensius XIII pada tahun 1722.

Lamunan Pekan Prapaskah IV

Jumat, 4 April 2025

Yohanes 7:1-2.10.25-30

1 Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau tetap tinggal di Yudea, karena di sana orang-orang Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya. 2 Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun. 10 Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu, Iapun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam. 

25 Beberapa orang Yerusalem berkata: "Bukankah Dia ini yang mereka mau bunuh? 26 Dan lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu, bahwa Ia adalah Kristus? 27 Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, tetapi bilamana Kristus datang, tidak ada seorangpun yang tahu dari mana asal-Nya." 28 Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru: "Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. 29 Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku." 30 Mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorangpun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, orang sering sudah merasa kenal dengan seseorang karena tahu nama dan alamatnya. Dia pernah berkenalan dalam suatu pertemuan.
  • Tampaknya, orang dapat merasa makin kenal karena tahu siapa saja keluarganya. Apalagi kalau tahu kedudukan sosialnya, orang juga merasa makin kenal mendalam.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun tahu nama alamat serta konteks sosial seseorang, orang belum sungguh mengenal orang itu kalau tidak mampu menangkap hal-hal yang mengisi relung hatinya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati dalam berkenalan dengan orang lain orang akan mengutamakan paham akan isi hati yang mewarnai segala tutur dan tindakannya.  

Ah, antar orang asal biasa berjumpa jelas pasti akan saling mengenal.

Ketika Pergi Ada Paket Datang

"Kok Misane esuk, ta?" (Mengapa Misa diadakan esuk hari?) tanya Rm. Suntara ketika makan pagi. Misa Domus memang biasa dilakukan pada sore jam 17.30 dari Senin hingga Sabtu. Hanya dalam keadaan khusus jam Misa berubah. Sedari keluar dari rumah sakit Rm. Suntara memang belum ikut Misa karena kondisi masih cukup lemah. Tetapi dia bisa ikut makan pagi bersama. Maka, layaklah beliau tidak tahu mengapa hari itu, Rabu 2 April 2025, Misa diselenggarakan pada pagi. Terhadap pertanyaan Rm. Suntara yang menjawab adalah Rm. Hartanta "Mangke Rm. Bambang ajeng tindakan pepanggihan trah. Kula nggih ajeng dolan-dolan lan wonten Rm. Singgih ajeng nginep riki" (Rm. Bambang nanti akan pertemuan trah. Saya juga akan dolan-dolan. Bahkan nanti sore ada tamu Rm. Singgih akan menginap). 

Dengan demikian pada Rabu itu, selain Rm. Suhartana yang sudah pergi liburan sejak Senin 31 Maret 2025, Rm. Bambang dan mungkin Rm. Hartanta akan out dari Domus. Mendekati jam 10.00 penjemput Rm. Bambang datang. Rm. Bambang langsung pergi meninggalkan Domus Pacis menuju dusun Berbah di rumah omnya. Pada hari itu Rm. Bambang mengikuti Syawalan Trah. Dia sudah lebih dari 5 tahun tidak ikut. Ternyata pertemuan trah yang selesai pada sekitar jam 12.30 masih ada pertemuan lain di rumah omnya yang lain. Pertemuan kedua terdiri dari keluarga-keluarga sepupu Rm. Bambang sesama kakek-nenek. Itulah sebabnya Rm. Bambang baru kembali sampai Domus pada jam 14.30 lebih. Ketika sampai Domus Rm. Bambang dikejutkan oleh adanya dua bungkus paket yang terletak di bangku depan kamarnya. Dari isinya Rm. Bambang mengira berasal dari salah satu umat yang sering memperdagangkan hal sama. Ketika dikontak, ternyata bukan beliau yang mengirim. 

Kebetulan pada jam 20.56 ada pesan WA masuk HPnya "Sugeng ndalu Rama Bambang....nyuwun Sewu siang wau dalem sowan ing Domus Pacis badhe pinanggih Rama Bambang, nanging Rama nembe tindak. Nyuwun Sewu badhe nyuwun pirsa sak umpami Rm. Bambang, Homili kangge para Guru/Karyawan Kristiani SE Kota menopo saget. Tgl 24-4-2025 ing TBY" (Selamat malam Rm. Bambang .... Tadi siang saya datang di Domus untuk berjumpa Rm. Bambang, tetapi Rm. Bambang baru pergi. Mau tanya, kalau diminta homili untuk guru/karyawan Kristiani se-kota, apakah bisa. Itu tanggal 24-4-2025 di Taman Budaya Yogyakarta). Dalam kontakan Rm. Bambang bertanya apakah ketika datang membawa paket untuknya. Ternyata pengirim WA mengatakan tidak. Maka, saat ini Rm. Bambang tidak tahu dari siapa datangnya paket untuknya.

Wednesday, April 2, 2025

Santo Richard dari Chichester

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 05 Agustus 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014 Hits: 9711

  • Perayaan
    03 April
  •  
  • Lahir
    Tahun 1197
  •  
  • Kota asal
    Droitwich, Worcestershire, England
  •  
  • Wafat
  •  
  • 3 April 1253 di Dover, Kent, England | Oleh sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Tahun 1262 oleh Paus Urbanus IV

Richard de Wych dilahirkan di Inggris pada tahun 1197. Ia dan saudaranya menjadi yatim piatu sejak Richard masih kecil. Saudaranya memiliki beberapa tanah pertanian. Richard berhenti sekolah agar dapat membantu kakaknya menyelamatkan sawahnya dari kehancuran.

Richard bekerja demikian giat hingga kakaknya yang penuh rasa terima kasih hendak memberikan tanah pertanian itu kepadanya. Tetapi, Richard tidak mau menerimanya. Ia juga memilih untuk tidak menikah, sebab ia ingin pergi belajar di perguruan tinggi untuk memperoleh pendidikan yang baik. Ia tahu bahwa karena uangnya hanya sedikit, ia akan harus bekerja keras untuk membiayai hidup dan sekolahnya.

Richard belajar di Universitas Oxford. Kemudian, ia memperoleh kedudukan penting di Universitas. St. Edmund, yang adalah uskup agung Canterbury, memberinya tugas dan tanggung jawab dalam keuskupannya. Ketika St. Edmund wafat, St. Richard mengunjungi Wisma Belajar Dominikan di Perancis. Di sana ia ditahbiskan sebagai seorang imam. Kemudian, ia ditahbiskan sebagai Uskup Chichester, Inggris. Oleh sebab itu ia disebut Richard dari Chichester. Raja Henry III menghendaki seorang lain yang menjadi uskup. Orang tersebut adalah sahabat raja, tetapi tidak memenuhi persyaratan sebagai seorang uskup. Richard adalah Uskup Chichester yang sesungguhnya. Raja Henry III tidak memperbolehkan Richard menempati Katedralnya sendiri. Raja juga mengancam penduduk Chichester dengan hukuman apabila mereka bersikap ramah terhadap Richard. Walaupun demikian, orang-orang yang gagah berani tetap saja menolongnya, seperti pastor Simon dari Tarring - salah seorang imam Chichester. Richard dan Simon kemudian bersahabat karib. Ketika Bapa Suci mengancam akan meng-ekskomunikasi-kannya (= mengucilkan, memutuskan seseorang dari hak-hak sebagai anggota gereja), raja berhenti mencampuri urusan gerejani dan tidak lagi mengganggu bapa uskup.

Sebagai uskup, St. Richard melaksanakan segala tugasnya dengan baik. Ia senantiasa lemah lembut dan murah hati kepada semua orang. Sekali waktu ia bersikap tegas juga. Ia seorang pemberani dan tanpa ragu-ragu menegur umatnya apabila mereka melakukan yang salah dan tidak menyesali perbuatannya.

Dikatakan bahwa ketika St. Richard jatuh sakit, ia tahu saat kematiannya akan tiba, sebab Tuhan telah memberitahukan kepadanya tempat serta waktu yang tepat bilamana ia akan meninggal. Teman-temannya, termasuk Pastor Simon dari Tarring, berada di sisi pembaringannya. St. Richard wafat dalam usia limapuluh lima tahun pada tahun 1253. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Urbanus IV pada tahun 1262.

Lamunan Pekan Prapaskah IV

Kamis, 3 April 2025

Yohanes 5:31-47

31 Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak benar; 32 ada yang lain yang bersaksi tentang Aku dan Aku tahu, bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar. 33 Kamu telah mengirim utusan kepada Yohanes dan ia telah bersaksi tentang kebenaran; 34 tetapi Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun Aku mengatakan hal ini, supaya kamu diselamatkan. 35 Ia adalah pelita yang menyala dan yang bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya itu. 36 Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting dari pada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku. 37 Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nyapun tidak pernah kamu lihat, 38 dan firman-Nya tidak menetap di dalam dirimu, sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya. 39 Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, 40 namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu. 41 Aku tidak memerlukan hormat dari manusia. 42 Tetapi tentang kamu, memang Aku tahu bahwa di dalam hatimu kamu tidak mempunyai kasih akan Allah. 43 Aku datang dalam nama Bapa-Ku dan kamu tidak menerima Aku; jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia. 44 Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa? 45 Jangan kamu menyangka, bahwa Aku akan mendakwa kamu di hadapan Bapa; yang mendakwa kamu adalah Musa, yaitu Musa, yang kepadanya kamu menaruh pengharapanmu. 46 Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku. 47 Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang ditulisnya, bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Kukatakan?"

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, pada umumnya agamawan tahu bahwa Kitab Suci adalah landasan iman.  Orang sudah merasa percaya kepada Tuhan karena biasa membaca Kitab Suci.
  • Tampaknya, orang dapat yakin bahwa dengan membaca Kitab Suci dia dekat dengan Tuhan. Apalagi kalau mampu menghafal ayat-ayatnya, orang bisa merasa sungguh lekat Tuhan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun biasa membaca Kitab Suci bahkan hafal akan banyak ayat, kalau hanya terpancang pada huruf-huruf tertulis dan tidak tersentuh detak rohani di dalamnya, orang bisa jauh dari Tuhan bahkan berseberangan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar bahwa Kitab Suci adalah sabda Tuhan lewat cara manusia dengan segala latarbelakangnya sehingga dalam membaca harus dengan mata hati. 

Ah, asal hafal ayat-ayat Kitab Suci orang akan mesra dengan Tuhan.

Wawancara Panggilan

Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang akan diajukan ke rama sepuh. Ini dibuat oleh mahasiswa jurusan psikologi Universitas Sanata Dharma. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah sebagai berikut :

  • Bagaimana pengalaman Romo mendapatkan panggilan menjadi seorang Imam? (pengalaman awal Romo) 
  • Apa yang memotivasi romo masuk ke seminari? 
  • Apakah punya panutan atau tokoh yang menjadi panutan sehingga ingin jadi seorang Imam? 
  • Selama di seminari, apa yang semakin menguatkan romo untuk menjadi imam?
  • Setelah menjadi Imam, pernah berkarya di mana saja? 
  • Apa yang membuat Romo mempertahankan Iman Romo dan bertahan untuk menjadi seorang Imam? 
  • Hal apa yang membuat Romo menikmati menjadi seorang Imam? 
  • Berapa lama romo menempuh pendidikan untuk menjadi seorang Imam? 
  • Apa yang membuat Romo senang menjadi seorang Imam? 
  • Dukungan sosial apa saja yang romo dapatkan? (keluarga dan kerabat) 
  • Bagaimana respon keluarga dan kerabat ketika memutuskan untuk menjadi imam? bagaimana bentuk dukungan/ketidaksetujuan?
  • Apakah ada kesulitan/masalah/hambatan yang Romo alami dalam menjadi seorang Imam?
  • Apakah Romo pernah mendapatkan godaan sehingga terpikirkan untuk berhenti menjadi seorang Imam? 
  • Pernahkah muncul perasaan dalam hal merasa kurang layak menjadi seorang imam? 
  • Pengalaman duka apa yang pernah romo alami selama menjadi seorang imam? 
  • Adakah romo merasakan kerinduan dengan keluarga? (Bagaimana cara mengatasinya?)
  • Sebenarnya dari kaul, menurut Romo kaul apa yang tantangannya lebih/paling berat? 
  • Selama menjadi seorang Imam, berhubungan dengan kaul ketaatan, apakah pernah berlawanan dengan prinsip Romo?
  • Bagaimana perasaan romo setelah menerima tahbisan? 
  • Apa perubahan yang Romo rasakan setelah menjadi seorang Imam? 
  • Apa suka dan duka dalam menjadi seorang Imam?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi pegangan 5 orang mahasiswa untuk mewawancarai rama Domus pada Senin 24 Maret 2025. Rm. Hartanta sebagai Direktur Domus menunjuk Rm. Jarot dan Rm. Bambang menjadi responden. Dua orang mahasiswa menghadapi Rm. Jarot di kamar tamu Domus. Tiga orang lain (1 laki-laki dan 2 perempuan) mewawancarai Rm. Bambang dengan duduk di bangku depan kamarnya. Dalam tulisan ini yang diberitakan hanya situasi wawancara dengan Rm. Bambang. Wawancara dibuka dengan pertanyaan "Bagaimana pengalaman Romo mendapatkan panggilan menjadi seorang Imam?" Rm. Bambang tertawa dengan bilang "Saya tidak tahu apakah ini panggilan". Dia kemudian bercerita bahwa awalnya mendaftar karena tantangan dari seorang sepupunya yang yakin Bambang tak mungkin bisa mendaftar. Dia adalah anak tunggal sehingga sang sepupu yakin bahwa ayahnya tak mungkin menandatangani persetujuan masuk Seminari. Namun Bambang berhasil mendapatkan tandatangan (dengan teror yang sepupunya tak tahu hingga kini sudah almarhum). Dari sini muncul kisah macam-macam termasuk keluar setelah jadi frater pada tahun 1973-1974. Perjalanan sebelum menjadi imam menjadi kisah yang tampaknya membuat amat menarik bagi pewawancara. Wawancara terpotong karena yang wawancara dengan Rm. Jarot sudah selesai. Ternyata omong-omong sudah lebih dari 2 jam. Banyak pertanyaan yang disiapkan tak sempat disampaikan. Sementara yang lain-lain tak ditanyakan tetapi tersinggung dengan ceritera Rm. Bambang yang mengalir lancar. Meskipun demikian pewawancara tampak puas dan wajahnya tampak ceria. 

Tuesday, April 1, 2025

Santa Theodosia dari Tirus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 11 April 2015 Diperbaharui: 11 April 2015 Hits: 10179

  • Perayaan
    02 April
  •  
  • Lahir
    Sekitar tahun 288
  •  
  • Kota asal
    Tirus, Phoenicia (Sekarang Wilayah Libanon)
  •  
  • Wilayah karya
    Caecarea (Kaisarea) - Israel
  •  
  • Wafat
  •  
  • Martir - Meningggal tahun 307 setelah disiksa dengan "Blaise Comb" lalu ditenggelamkan ke Laut
  •  
  • Kanonisasii
  •  
  • Pre-Congregation

Santa Theodosia adalah seorang perawan dan martir Kristus dari abad ketiga. Menurut sejarahwan Eusebius, ia lahir sekitar tahun 288 di Tirus, Phoenicia, bagian Timur kekaisaran Romawi. (sekarang menjadi wilayah Libanon).

Dalam buku : Martyrs of Palestine; Eusebius menulis bahwa Santa Theodosia baru berusia tujuh belas tahun ketika ia datang ke kota Kaisarea Palestina pada hari Paskah tahun 307. Ia pergi ke alun-alun di mana ada sejumlah orang Kristen yang dirantai dan sedang menunggu untuk diinterogasi. Ia lalu menghibur mereka, berdoa bersama, dan menguatkan iman para saksi Kristus tersebut.

Para penjaga yang melihat kegiatan Theodosia kemudian menangkap dan membawanya ke hadapan Prefek (walikota) Kaisarea. Sang Prefek memerintahkan Thoedosia untuk meninggalkan iman Kristianinya dengan cara mempersembahkan korban kepada dewa-dewi Romawi. Theodosia menolak, dan dia pun ikut dirantai dan disiksa dengan kejam. Menurut catatan Eusebius, Santa Theodosia disiksa dengan “Cruel Comb” pada sisi tubuhnya hingga dari payudaranya "sobek sampai tulang rusuk dan isi perut nya terlihat”. Setelah disiksa dengan begitu mengerikan, tubuh Theodosia lalu ditenggelamkan di dasar laut.

×Note!

Cruel Comb = sisir besi yang dibuat dari paku-paku tajam. Di kemudian hari lebih dikenal dengan sebutan “Blaise Comb” atau “Sisir santo Basilius” karena menurut tradisi; santo Basilius juga menjadi martir setelah disiksa dengan alat ini

Eusebius menambahkan bahwa sang walikota telah menghabiskan semua amarahnya pada Theodosia hingga orang-orang Kristen yang dirantai dialun-alun tidak jadi diinterogasi. Mereka dikirim sebagai budak untuk bekerja di tambang tembaga, tanpa menjalani penyiksaan apapun.

Lamunan Pekan Prapaskah IV

Rabu, 2 April 2025

Yohanes 5:17-30

17 Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga." 18 Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah. 19 Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. 20 Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi dari pada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran. 21 Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya. 22 Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, 23 supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia. 24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. 25 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup. 26 Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri. 27 Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia. 28 Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, 29 dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum. 30 Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, dalam dunia kerja orang bisa mengalami berhenti. Di dalam institusi ada tatanan untuk pensiun bagi pekerja.
  • Tampaknya, dalam bekerja walau tak punya pensiun orang juga bisa berhenti. Kondisi kesehatan dapat membuat orang berhenti bekerja.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun dalam bekerja orang dapat berhenti karena pensiun atau karena kondisi kesehatan, kalau berada dalam wibawa relung hati, orang akan terkena daya Tuhan yang selalu berbuat baik dengan cara apapun. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati, dalam kondisi apapun bahkan dianggap lemah tak berdaya, orang akan dipakai Tuhan menjadi ungkapan atau wujud karyanya sesuai dengan situasi kongkretnya.

Ah, kalau sudah lemah jelas sudah tak bisa bekerja.

Ternyata Ada Yang Senang Misa Paskah Domus

Tampaknya, sekalipun sederhana tak akan semeriah yang terjadi di paroki-paroki, Malam Paskah di Domus Pacis Santo Petrus akan termasuk mengh...