Tuesday, July 2, 2024
Uskup Ikut Makan Siang
Pada Rabu 26 Juni 2024 jam 13.24 Rm. Bambang mengirim gambar Mgr. Rubiyatmoko ke Rm. Rm. Hartanta. Menyertai kiriman lewat WA itu Rm. Bambang mencantumkan tulisan "Mgr Rubi dhahar sareng" (Mgr. Rubi makan bersama). Dari gambar yang ada Rm. Hartanta pasti tahu bahwa itu adalah makan bersama para rama Domus Pacis Santo Petrus. Rm. Hartanta yang sedang mendadak menerima tamu dan kemudian pergi keluar menjawab "Wahhh ..... Konangan kula pas lungaaa" (Aduuuh .... Ketahuanlah saya pas tak ada di Domus). Kebetulan di sore hari Rm. Hartanta juga harus ke Paroki Bonoharjo. Itulah sebabnya beliau baru mendengar informasi tentang hadirnya Bapak Uskup di pagi hari berikutnya. Rm. Bambang mengatakan bahwa Bapak Uskup juga menengok Rm. Tri Hartono, Rm, Tri Wahyono, dan Rm. Supriyanta di kamar masing-masing sesudah selesai di kamar makan. Sebenarnya Bapak Uskup datang di Domus ketika para rama sudah hampir selesai makan siang. Tetapi beliau bersedia menyantap makan siang Domus. Sambil makan bapak Uskup berceritera tentang pindah-pindahan para rama. Barangkali itu untuk menanggapi kelakar Rm. Bambang "Monsinyur rawuh punapa wonten rama sepuh ngriki?" (Apakah ada rama sepuh di sini yang akn Monsinyur mutasi?). Ketika Bapak Uskup menjawab "Mboteeeen" (Tidaaaak), Rm. Bambang menyergap "Oh inggih dhing. Pindhaipun kantun sepisan?" (Oh, ya. Kami tinggal sekali lagi akan pindah). "Pindhah napa?" (Itu pindah apa) kata Bapak Uskup yang langsung dijawab oleh Rm. Bambang "Ngidul riku. Nanging sing wenang mindhah Gusti" (Ke sebelah Selatan. Tetapi yang berkuasa memindah adalah Tuhan). Semua tertawa karena tahu itu omong tentang Makam para rama. Omongan sana-sini juga disampaikan dengan Rm. Jarot yang juga menyinggung malam harinya Rm. Bambang akan nonton ketoprak. Ketika Bapak Uskup bertanya apakah Rm. Suntara juga akan ikut, Rm. Suntara menjawab "Mboten. Kula mboten wantun amargi pendah setunggal jam kula mesthi buang air kecil" (Tidak. Saya tidak berani karena setiap satu jam saya kecing). Suasana yang diwarnai banyak tawa juga terjadi ketika Mgr. Rubi selesai berpamitan dengan bersalaman. Ketika salaman terakhir dengan Rm. Bambang beliau berkata "Sehat nggih" (Sehat ya). Rm. Bambang menjawab "Mboten. Nek sehat ndah diken kerja malih" (Tidak. Kalau sehat nanti disuruh kerja lagi). Bapa Uskup bertanya "Sinten sing aken?" (Siapa yang menyuruh?) dan Rm. Bambang bilang "Njenengan" (Anda).
Santo Thomas Rasul
diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 02 September 2013 Diperbaharui: 13 Oktober 2019 Hits: 28664
- Perayaan03 Juli
- LahirHidup abad pertama
- Kota asalGalilea - Israel
- Wilayah karyaSiria, Armenia, Persia, India
- Wafat
- 21 Desember 72 di Mylapore, India - Martir
- Kanonisasi
- Pre-Congregation
Ketika Yesus ditangkap, Thomas kehilangan keberaniannya. Ia melarikan diri bersama para rasul yang lain. Hatinya hancur oleh rasa duka atas wafatnya Kristus yang dikasihinya. Kemudian, pada hari Minggu Paskah, Yesus menampakkan diri kepada para rasul-Nya setelah Ia bangkit dari antara orang mati. Waktu itu Thomas tidak bersama mereka. Begitu ia datang, para rasul yang lain menceritakan padanya dengan penuh sukacita, “Kami telah melihat Tuhan!” Mereka pikir Thomas akan ikut bergembira bersama mereka. Tetapi, Thomas tidak percaya. “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya,” demikian katanya, “dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”
Delapan hari kemudian, Yesus kembali menampakkan diri kepada para rasul. Kali ini, Thomas juga ada bersama mereka. Yesus memanggilnya dan memintanya untuk mencucukkan jarinya ke dalam luka di tangan-Nya dan luka di lambung-Nya. St.Thomas yang malang! Ia jatuh tersungkur di kaki Sang Guru dan mengucapkan ungkapan imannya yang indah.., yang terus kita ulangi sampai hari ini dalam doa-doa kita; “Ya Tuhanku dan Allahku!”. Kemudian kata Yesus, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh 20:28-29)
Sesudah hari raya Pentakosta, para rasul dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus. Mereka menjadi kuat serta teguh dalam iman dan kepercayaan pada Yesus. Thomas diyakini berlayar ke India pada tahun 52 M untuk mengabarkan Injil kepada orang Yahudi diaspora di Kerala. Ia mendarat di pelabuhan kuno Muziris (kota ini punah pada tahun 1341 akibat banjir besar) dekat Kodungalloor. Kemudian ia ke Palayoor (sekarang dekat Guruvayoor) dan pada tahun 52 itu pula sampai ke bagian selatan yang sekarang menjadi negara bagian Kerala, di mana ia mendirikan Ezharappallikal atau "Tujuh Setengah Gereja". Gereja-gereja tersebut adalah di Kodungallur, Kollam, Niranam (Niranam St. Marys Orthodox Church), Nilackal (Chayal), Kokkamangalam, Kottakkayal (Paravoor), Palayoor (Chattukulangara) dan Thiruvithancode Arappally-gereja yang setengah.
Menurut tradisi, St. Thomas mati syahid di St. Thomas Mount di Chennai dan dimakamkan di dalam San Thome Cathedral Basilica. Tradisi ini diperkuat dengan tulisan St. Efrem dalam karyanya "Carmina Nisibina" bahwa Thomas dibunuh di India disekitar tahun 72, dan jasadnya kemudian dikuburkan di Edessa, dibawa ke sana oleh seorang saudagar yang tidak disebut namanya. Sebuah kalender gereja Suriah kuno mendukung tulisan St. Efrem di atas dan menyebutkan nama saudagar itu, dimana ditulis: "3 Juli, St. Tomas ditusuk dengan lembing di India. Badannya ada di Urhai (nama kuno untuk Edessa) setelah dibawa ke sana oleh saudagar Khabin dalam suatu perayaan agung.
Pada tahun 232 sebagian besar relikwi Rasul Thomas diserahkan oleh seorang raja India untuk dibawa ke kota Edessa, Mesopotamia. Sedikit relikwi tetap disimpan di makam St. Thomas dalam gereja di Mylapore, Tamil Nadu, India, sampai hari ini.
Lamunan Pesta
Santo Tomas, Rasul
Rabu, 3 Juli 2024
Yohanes 20:24-29
24 Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. 25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." 26 Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" 27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." 28 Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" 29 Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."
Butir-butir Permenungan
- Tampaknya, pada zaman kini orang mudah mendapatkan berita. Bahkan banyak berita berseliweran bisa dijumpai lewat media sosial.
- Tampaknya, pada zaman kini orang harus waspada akan benar salahnya berita. Orang bisa mendapatkan berita bohong atau hoax hasil rekayasa para pembohong publik.
- Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun bukti visual sungguh dapat menjamin kepercayaan, berhadapan dengan realita ilahi sekalipun tanpa bukti apapun orang akan selalu ceria hanya dengan percaya begitu saja. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan terbuka total pada suara nurani tanpa syarat.
Ah, asal beragama orang sudah membuktikan diri sebagai orang beriman.
Monday, July 1, 2024
Jadi Lansia di Rumah Tua : Sharing 1
Putusan Rm. Pius Riana Prapdi, Pr.
Sebelum masuk Domus Pacis Puren saya adalah imam yang bertugas di Komisi Karya Misioner Keuskupan Agung Semarang (KKM KAS) dan Karya Kepausan Indonesia Keuskupan Agung Semarang (KKI KAS). Keduanya memanfaatkan Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner (MMM PAM) sebagai sarana karya perutusan. Ketiganya bergerak di bidang misioner Gereja. Karena saya terlibat di KKM KAS sejak 1983 (di KKI KAS sejak 1998 yang dalam tahun ini juga sudah mulai merintis MMM PAM), saya merasa berkarya dalam bidang misioner selama 27 tahun hingga masuk Domus Pacis Puren. Karya paroki hanya saya alami di Paroki Santa Maria Assumpta Klaten (1981-1982) dan Paroki Santa Theresia Salam setahun kemudian. Di Paroki Salam inilah saya mulai terlibat dalam KKM KAS.
Sebetulnya ketika akan meninggalkan MMM PAM, di dalam pendekatan untuk pemindahan atau mutasi, Rm. Riana Prapdi mengatakan bahwa saya akan tinggal di Paroki Wedi tetapi tidak sebagai pastor untuk Paroki Wedi. Rm. Riana kini menjadi Uskup Keuskupan Ketapang, Kalimantan Barat. Pada waktu itu beliau menjabat Administrator Diosesan Keuskupan Agung Semarang sesudah ditinggalkan Mgr. Ignatius Suharyo yang pindah menjadi Uskup Agung Keuskupan Agung Jakarta. Dari pembicaraan saya mendapatkan tugas “Pengembangan misioner kemasyarakatan”. Dengan karya ini saya diharapkan bisa mengembangkan bentuk iman kekatolikan yang bisa dihayati secara sederhana dalam hidup harian. SK pemindahan akan ditetapkan pada 1 Juni 2010, tetapi kepindahan dilakukan sesudah Rm. Nur Widi (direktur baru MMM PAM) masuk.
Beberapa hari sesudah omong-omong memberi informasi untuk kepindahan saya, Rm. Riana datang lagi. “Kula mireng criyosipun panjenengan kepingin lenggah ing Domus Pacis Puren” (Saya dengar Anda ingin tinggal di Domus Pacis Puren). Saya memang sering bilang ke beberapa rama termasuk para Vikep dan juga ada yang anggota Kuria KAS “Aku seneng lho nek manggon Puren” (Aku senang kalau tinggal di Domus Pacis Puren). Ketika Rm. Riana tanya mengapa senang di Puren, saya bercerita pengalaman tinggal dan berkantor di Paroki Santo Ignatius Magelang. Rasanya tidak enak karena kerap tak dapat terlibat dalam acara-acara Paroki. Kalau pas di rumah, kebetulan tak ada acara paroki. Membantu Misa Paroki juga tak dapat dijadualkan dengan mudah. Maklumlah, kegiatan Karya Misioner sungguh banyak dan padat yang membuat saya kerap pergi ke paroki-paroki lain di KAS. Bahkan pergi ke Keuskupan lain juga tak jarang terjadi. Dari omong-omong ini, ternyata dalam SK pemindahan saya tertulis tinggal di Domus Pacis Puren.
Sibuk Sendiri
SK Pemindahan untuk tinggal di Domus Pacis Puren memang per 1 Juni 2024. Bahwa kepindahan saya tidak langsung, itu dikarenakan saya harus menanti kehadiran Rm. Nur Widi. Tetapi saya menetapkan untuk mulai tinggal di rumah tua pada 1 Juli 2010. Meskipun demikian selama sebulan saya tetap bekerja seperti biasa. Bahkan pada tanggal 30 Juni 2010 malam saya ikut menyelesaikan pelayanan pendampingan untuk para pengurus Lingkungan di Paroki Minomartani, Yogyakarta. Maka, pada tanggal ini saya tidur malam pada hapir jam 24.00. Tetapi pada jam 04.00 saya sudah mandi dan siap untuk pindah. Kunci-kunci rumah saya kumpulkan. Barang termasuk pakaian bisa saya masukkan satu tas yang bisa saya gantungkan di pundak. Kunci-kunci saya serahkan kepada Mas Yuli, karyawan Museum. Kemudian dengan motor bebek roda tiga meluncurlah saya sendiri menuju Domus Pacis Puren. Dalam perjalan saya berhenti dua kali. Yang pertama untuk makan sarapan bubur gudeg di Jalan Kaliurang, dan yang kedua di minimarket untuk beli sabun dan pasta gigi. Saya memang hanya membawa satu tas, karena semua barang saya sudah dipindahkan ke jatah kamar saya di Puren beberapa hari lalu. Sebelum masuk Domus saya mampir di Pastoran Pringwulung untuk unjuk muka ke Rm. Suka, Minister Domus yang menjadi Pastor Paroki Pringwulung.
Sebenarnya dengan masuk Domus Pacis Puren pada saat itu saya sungguh mengalami alam kehidupan baru. Biasanya di Museum Misi kalau keluar dari kamar saya jumpai kantor dan ruang makan. Kini, begitu keluar kamar saya dihadapkan pada lingkaran kebun dengan kolam kecil dalam gedung Domus. Kalau sebelumnya dari jam 08.00-15.00 (Sabtu sampai jam 12.00) ada bersama teman-teman kantor, kini lingkunganku terutama adalah kamar. Apalagi untuk makan dan snak pun ada di kamar masing-masing. Memang, pada hari-hari pertama saya masih bisa melihat Rm. Agoeng, Rm. Yadi, Rm. Harto, dan Rm. Harjaya. Tetapi Rm. Agoeng akan banyak dengan teman-teman kerjanya di kantor Komsos KAS. Sementara itu Rm. Yadi akan banyak tak berada di Domus karena membantu pelayanan Misa di Purbowardayan dan Salam. Sedang kedua lainnya, Rm. Harjaya dan Rm. Harto, memiliki kondisi yang membuat tak mudah keluar bercengkerama. Saya berkata kepada diri saya sendiri “Aku kudu krasa nikmat neng kamar iki. Sadurungé iku aku ora arep lunga-lunga kejaba sing kudu taktandangi sebagai rama” (Saya harus bisa nikmat di kamar ini. Sebelum itu terjadi, saya tak akan pergi-pergi kecuali karena kewajiban sebagai rama).
Saya memang banyak ngendon dalam kamar. Pergi keluar hanya karena diminta untuk Misa. Barangkali ada terdengar bahwa saya sudah meninggalkan kerja yang berpusat di Museum Misi Muntilan. Saya kini tinggal di rumah rama tua Domus Pacis Puren. Memang, untuk memimpin Misa saya masih bisa. Bahkan saya bisa berangkat sendiri dengan motor bebek roda tiga. Sementara itu saya masih bisa berjalan walau memakai krug atau tongkat penyangga badan. Pemakaian krug sudah terjadi di dua tahun terakhir ketika masih menjalani dinas. Tetapi mayoritas hari-hari saya terjadi di dalam kamar no. 10 di Domus Pacis Puren. Di dalam kamar saya biasa baca-baca buku dan kadang menulis dalam liptop. Tetapi saya menjadi akrab dengan tayangan-tayangan dalam televisi. Saya menjadi hafal dengan acara-acara TV pada jam-jam tertentu di chanel-chanel tertentu. Saya merasa bersyukur karena di dalam kamar saya ada TV bawaan dari kamar saya di Museum. Pada suatu ketika Rm. Suka, Minister Domus Pacis Puren, menjenguk saya di kamar. “Njenengan kok saget krasan wonten kamar?” (Bagaimana Anda bisa kerasan di dalam kamar?) katanya karena tahu saya hanya keluar ketika ada permintaan Misa. Itupun jarang terjadi. Selain itu secara praktis saya ditelan kamar. Bukankah kamar mandi dan WC menyatu dengan kamar? Bukankah makan minum diantar di kamar masing-masing rama? Bahkan kalau menerima tamu, itu juga dilakukan di dalam kamar. Kamar untuk masing-masing rama memang besar, yaitu 6X6 M2. Sedang untuk kamar mandi WC punya luas 3X3 M2. Di dalam kamar ada kursi-kursi dan meja kecil untuk menerima tamu.
Mendengar kata-kata Rm. Suka “Njenengan kok saget krasan wonten kamar?” (Bagaimana Anda bisa kerasan di dalam kamar?), saya hanya tersenyum. Sebenarnya di dalam hati saya muncul kata-kata “Krasan apa? Jan-jane ya mung takkrasan-krasanké” (Kerasan apa? Sebetulnya saya hanya berjuang untuk bisa kerasan). Dalam hal ini saya maklum kalau ada penghuni bilang “Nèng Domus ki ya nèng kunjaran” (Hidup di Domus itu seperti berada di dalam penjara). Ada juga rama lansia bukan penghuni Domus berkata “Manggon Domus kuwi dadi tersingkir seka umat” (Dengan tinggal di Domus seorang rama tersingkir dari umat). Meskipun demikian untuk pribadi saya ada keyakinan di Domus saya akan mengalami kebebasan. Saya tidak akan berdekatan dengan jadual-jadual pelayanan imamat seperti kalau berada di Paroki. Saya bisa pergi kemanapun tanpa mengganggu mekanisme kehidupan rumah. Apalagi Rm. Suka memberi kunci rumah sehingga kalau pergi dan pulang tidak harus minta pelayanan karyawan Domus. Saya bisa pergi dan pulang kapanpun dan jam berapapun. Saya sudah punya sahabat, sepeda motor bebek roda tiga. Tetapi saya bertekad untuk kerasan lebih dahulu berada di kamar Domus. Dengan itu saya akan mendapatkan landasan kebahagiaan sejati. Kalau pergi ke sana sini bukan merupakan pelarian karena brocken home.
Beato Antonio Rosmini
diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 21 Januari 2019 Diperbaharui: 22 Januari 2019 Hits: 4034
- Perayaan23 Desember
- Lahir24 Maret 1797
- Kota asalRovereto, Trentino, Italia
- Wafat
- 1 Juli 1855 di Stresa, Viterbo, Italia | Sebab alamiah
- Venerasi26 Juni 2006 oleh Paus Benediktus XVI (decree of heroic virtues)
- Beatifikasi18 November 2007 oleh Paus Benediktus XVI
- Kanonisasi
Pada bulan Februari 1820 Antonio menemani saudara perempuannya, Margherita, pergi ke Verona dimana mereka bertemu dengan Beata Maddalena di Canossa pendiri Konggregassi Suster Puteri Kasih atau Konggregasi suster Canossian. Beata Maddalena mengajak Antonio bergabung untuk ikut mendirikan Konggregassi imam Canossian yang saat itu tengah dirintis, namun dengan sopan pemuda bergelar Doktor ini menolak.
Pada tanggal 21 April 1821 Antonio ditahbiskan menjadi imam di Chioggia, Italia. Pada tahun 1823 ia diketahui melakukan perjalanan ke Roma bersama Uskup Agung Venesia, untuk sebuah audiensi pribadi dengan Paus Pius VII. Dalam audiensi itu, Paus mendorong mereka untuk melakukan reformasi di bidang filsafat.
Di tahun 1826 Antonio pergi ke Milan untuk melanjutkan penelitian dan menerbitkan hasil studi filsafatnya. Dia adalah seorang penulis produktif yang menulis tentang banyak hal, termasuk tentang Sifat Jiwa Manusia, Etika, Hubungan Antara Gereja dan Negara, Filsafat Hukum, Metafisika, Rahmat, Dosa asal, Sakramen dan Pendidikan. Dua bukunya kelak diterbitkan pada tahun 1829 ("Maxims of Christian Perfection" dan "Origin of Ideas") dan mendapat banyak pujian dari para Sarjana di masa itu.
Pada tahun 1827 Antonio Rosmini yang masih berada di Milan bertemu dengan Abbé Loewenbruck yang mengajaknya untuk mendirikan sebuah Institusi Religius yang akan mempromosikan Pendidikan dan Spiritualitas yang lebih baik bagi para imam. Pater Antonio dapat merasakan tuntunan Roh Kudus untuk melalui permintaan ini. Ia pun memutuskan untuk bergabung. Namun, karena percaya penuh bahwa Tuhan akan melakukan segala sesuatu yang diperlukan, Antonio tidak pernah mengajak siapa pun untuk bergabung dengan Komunitas Religius yang akan didirikan. Ada dua atau tiga orang yang telah mengenalnya dengan baik yang kemudian bergabung atas keinginan mereka sendiri. Tiga orang anggota perdana Institute of Charity (atau dalam bahasa Latin : Societas a charitate nuncupata, disingkat : I.C.) ini mulai menjalani hidup sesuai Aturan Dasar yang ditulis oleh Antonio Rosmini.
Paus Pius VIII, yang terpilih pada bulan Maret 1829, memanggilnya ke Roma untuk sebuah audiensi. "Anakku Antonio," kata Sri Paus, "Jika kamu berpikir untuk mulai dengan sesuatu yang kecil, dan menyerahkan sisanya kepada Tuhan, kami dengan senang hati menyetujuinya; namun tidak demikian jika kamu berpikir untuk memulai dalam skala besar." Dengan menundukkan muka Antonio menjawab bahwa ia berupaya untuk mengawali karyanya dengan kerendahan hati. Ketika kembali ke Milan, Antonio mulai bekerja keras mengembangkan Institusi yang didirikannya.
Pada tahun 1832, para Rosminian mulai menyebar ke Italia Utara dan pada tahun 1835 biara Rosminian pertama di Inggris didirikan. Masyarakat Inggris menyambut baik para Rosminian karena pola hidup mereka yang kudus. Mereka mempromosikan dan mempraktekkan “Quarantore” (Devosi 40 Jam tanpa jeda di hadapan Sakramen Maha Kudus) dengan penuh disiplin, mempromosikan penggunaan Skapulir, Novena, Prosesi publik dan merayakan bulan Mei sabagai bulan Devosi pada Bunda Maria.
Institute of Charity mendapat pengukuhan resmi dari Paus Gregorius XVI pada tanggal 20 Desember 1838. Pada tanggal 20 September 1839 Antonio Rosmini diangkat menjadi Superior Jenderal Rosminian seumur hidup.
Antonio Rosmini tutup usia pada tanggal 1 Juli 1855 dalam usia 85 tahun. Institusi yang didirikannya saat ini telah menyebar dan berkarya di berbagai negara seperti di New Zealand, Irlandia, Amerika Serikat, Africa Timur, Venezuela dan India. (qq)
Lamunan Pekan Biasa XIII
Selasa, 2 Juli 2024
Matius 8:23-27
23 Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nyapun mengikuti-Nya. 24 Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. 25 Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: "Tuhan, tolonglah, kita binasa." 26 Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. 27 Dan heranlah orang-orang itu, katanya: "Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?"
Butir-butir Permenungan
- Tampaknya, ada gambaran bahwa yang dekat Tuhan akan tekun beragama. Dia rajin menjalani acara-acara agama.
- Tampaknya, ada gambaran bahwa yang dekat Tuhan akan taat menjalani wajib-wajib agama. Dia biasa berdoa di banyak kesempatan dan banyak berziarah di banyak tempat.
- Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, sekalipun agama bisa menjadi pertanda kedekatan orang dengan Tuhan, tanda utama kedekatan orang dengan Tuhan bisa terjadi lewat peristiwa yang tak terduga oleh orang lain yang berbuahkan kebaikan bagi banyak orang. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang memiliki banyak kemungkinan dan cara untuk berbuat baik dengan banyak orang.
Ah, hanya yang punya tenaga dalam yang bisa membuat mukjizat.
Rm. Hartanta 15 Tahun Imam
Ini terjadi pada Sabtu sore mulai jam 17.30 tanggal 29 Juni 2024. Rm. Hartanta memimpin Misa dengan semangat dan tampak amat gembira. Selesai membaca Injil beliau "mengabsen" banyak peserta yang hadir. Setiap rombongan dipanggil dan diminta berdiri. Ada kelompok keluarganya. Ada kelompok dari Paroki tertentu. Ada kelompok orang-orang dekat. Ada ada kelompok yang berjumlah paling banyak. Itu adalah kelompok remaja yang berjumlah lebih dari 70 orang termasuk para pendampingnya. "Pengabsenan" itu diakhiri dengan kata-kata "Sekarang yang berbicara Romo Bambang". Pada Jumat 28 Juni 2024 waktu makan bersama beliau berkata kepada Rm. Bambang "Njing sing homili njenengan nggih" (Besok yang menyampaikan homili Anda, ya). Pada Sabtu hari berikutnya sekitar jam 16.00 Rm. Hartanta masuk kamar Rm. Bambang mengingatkan "tugas homili". Itulah latarbelakang mengapa Rm. Bambang pada Misa Sabtu sore itu tampil "berkhotbah". Dia memulai dengan mengajak semua peserta Misa menghafalkan nyanyian pendek. Sesudah hafal, Rm. Bambang mengajak menyanyikan dengan gerakan tangan dan kepala. Dengan nyanyian itu Rm. Bambang menekankan sikap menonjol dari Rm. Hartanta yang di Domus sungguh memperjuangkan diri sebagai "saudara" di antara para rama dan karyawan. Nyanyian itu adalah sebagai berikut :Suasana amat meriah apalagi didukung oleh kelompok Kor dari Paroki Pringgolayan yang amat apik diiringi dengan keyboard dan seruling. Misa sungguh tampak istimewa ketika sesudah Komuni ada pemotongan tumpeng. Tentu saja berfoto ria terjadi sesudah lagu penutup. Hari itu memang hari istimewa bagi penghuni Domus Pacis Santo Petrus. Kemeriahan tak hanya terjadi di dalam Misa. Sesudah Misa kemeriahan diteruskan di aula. Untuk para penghuni Domus kemeriahan tampak seperti sudah dipersiapkan sejak Kamis sore 27 Juni 2024. Ada 63 remaja bersama 15 pendamping dari Kevikepan Jogja Timur menginap di Domus. Mereka mendapatkan Pendampingan Misioner yang dikomandani oleh Rm. Hartanta. Pendampingan ini ditutup pada Sabtu sore 29 Juni 2024, yaitu Misa yang diwarnai dengan dunia remaja. Rm. Bambang yang diminta berhomili menyampaikan simpanan pelayanan tempo dulu. Maklumlah, dulu Rm. Bambang juga berkerja di bidang misioner. Semua menjadi KADO KHUSUS PERAYAAN 15 TAHUN IMAMAT RM. HARTANTA. Sajian menu santapan sesudah Misa tampaknya menghadirkan gairah keceriaan khusus bagi para tamu tentu terrmasuk para remaja yang ada.
Santa Theodosia dari Tirus
diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 11 April 2015 Diperbaharui: 11 April 2015 Hits: 12199 Perayaan 02 April Lahir Sek...
-
Rm. Stefanus Istata Raharja adalah salah satu Imam Praja Keuskupan Agung Semarang. Tuhan memanggil beliau pada Minggu 5 Oktober 2025 jam 15....
-
"Siapakah dia?" Barangkali, kalau pertanyaan ini disertakan pada gambar foto dalam berita ini, akan ada beberapa orang yang ikut b...
-
Sejak di Domus Pacis Puren, Pringwulung, keluarga ini memang biasa berkunjung ke Rm. Bambang setahun sekali. Itu terus terjadi hingga kini R...






.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)