Sunday, May 26, 2024

Santo Filipus Neri

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 17 September 2013 Diperbaharui: 22 Maret 2017 Hits: 12763

  • Perayaan
    26 Mei
  •  
  • Lahir
    22 July 1515
  •  
  • Kota asal
    Florence, Italy
  •  
  • Wafat
  •  
  • 27 Mei 1595 di gereja San Maria di Vallicella, Italia - Oleh sebab alami
  •  
  • Beatifikasi
    11 Mei 1615 oleh Paus Paulus V
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • 12 Maret 1622 oleh Paus Gregorius XV

Filipus Neri dilahirkan pada tanggal 22 Juli 1515 di Florence, Italia. Ayahnya, Fransiskus Neri, bekerja sebagai seorang notaris. Walau keluarganya termasuk golongan bangsawan, tetapi mereka hidup dalam kemiskinan.

Filipus kecil suka sekali berkelakar! Bagi teman-temannya, sentuhan tangan Filipus atau bahkan kehadirannya saja sudah cukup untuk menyembuhkan hati siapa saja yang sedang berduka. Filipus kecil juga suka bertindak seturut kata hatinya. Karena kelakuannya itu hampir saja sebuah kecelakaan merenggut nyawanya. Filipus melihat seekor keledai beban dengan gerobaknya yang sarat dengan buah-buahan; tiba-tiba saja ia meloncat naik ke atas punggung keledai. Keledai yang terkejut itu kehilangan keseimbangannya dan terpeleset. Sedetik kemudian, keledai, gerobak dan buah-buah muatannya serta Filipus jatuh terguling-guling ke gudang bawah tanah dengan Filipus tertindih keledai dan gerobak!

Pada tahun 1533, ketika usianya delapan belas tahun Filipus dikirim ke San Germano, kepada seorang sanak, untuk belajar berdagang. Tetapi tidak ada sama sekali minatnya dalam berdagang. Ia malahan lebih sering menggunakan waktunya untuk berdoa di sebuah kapel di atas bukit. Filipus memperoleh nubuat dalam suatu penglihatan bahwa ia mendapat panggilan merasul di Roma, jadi ia meninggalkan keluarganya dan pindah ke Roma.

Di Roma, Filipus belajar Filsafat dan Teologi selama tiga tahun, sebelum akhirnya memutuskan untuk hidup layaknya seorang pertapa. Pada tahun 1548, Filipus membentuk kelompok Persaudaraan Tritunggal Maha Kudus. Kelompok tersebut beranggotakan kaum awam yang menawarkan bantuan bagi para peziarah yang datang ke Roma. Organisasi ini berjalan baik dan kelak menjadi rumah sakit Santa Trinita dei Pellegrini yang terkenal di Roma.

Karena merasakan panggilan yang kuat untuk menjadi imam, Filipus masuk biara dan pada tahun 1551 ditahbiskan menjadi seorang imam. Kemudian Pater Filipus ditugaskan di gereja San Girolamo.

Bagi umatnya, Pater Filipus adalah seorang imam yang spontan, tak dapat ditebak, menyenangkan serta penuh humor. Semua orang kudus selalu penuh pengharapan dan sukacita, tetapi pada Neri pengharapan dan sukacita itu tampak lebih nyata. Ia selalu melihat sisi baik dari semua peristiwa, baik peristiwa gembira maupun sedih yang dialaminya. Lelucon-leluconnya, biasanya idenya sendiri, selalu dikenang.

Demi pertumbuhan rohani umatnya, Pater Filipus senantiasa menyediakan waktu bagi siapa saja dan kapan saja. Ia memperhatikan mereka dan memberikan dukungan serta nasehat menurut kepentingan mereka masing-masing. Nasehat-nasehatnya itu membawa dampak yang besar sehingga berguna bagi perkembangan gereja secara menyeluruh. Pater Filipus amat popular sebagai seorang bapa pengakuan sebab ia pandai membaca hati orang dan memberikan penitensi yang membantu mereka berbalik dari dosa-dosa mereka. Ia membantu umatnya mengatasi kelemahan-kelemahan mereka dengan membuat mereka tertawa!

Sukacita Pater Filipus segera memikat hati umatnya, terutama kaum muda. Ia mengadakan kegiatan-kegiatan untuk membimbing hidup kerohanian mereka: doa, Misa, diskusi, pendalaman iman, paduan suara, dsbnya. Ia mengadakan prosesi kunjungan ke Tujuh Gereja di Roma dengan perhentian-perhentian di masing-masing gereja untuk berdoa, devosi, menyanyi, menari dan berpiknik (piknik yang dihadiri oleh ± 6000 orang)! Jumlah kaum muda yang bergabung semakin lama semakin banyak, di antara mereka banyak pula yang kemudian tertarik untuk menjadi imam, hingga pada akhirnya terbentuklah Konggregasi Oratorian. Nama Oratorian dipilih karena mereka biasa berkumpul secara teratur di sebuah ruang kecil yang disebut oratory (“ora” adalah bahasa Latin yang berarti “berdoa”; oratory artinya tempat doa). Pater Filipus dan Oratorian segera menjadi pusat kehidupan beriman di Roma.

Beberapa penguasa gereja yang iri kepada Pater Filipus merasa terancam dengan berkembangnya gerakan Oratorian. Oleh karena itu Pater Filipus diperintahkan untuk menghentikan segala kegiatan Oratorian. Pater Filipus tentu saja kecewa, tetapi ia menghadapi semua rintangan itu dengan humor, kerendahan hati dan ketaatan. Akhirnya, pada tahun 1575, Paus Gregorius XIII merestui Konggregasi Oratorian dan mengijinkannya untuk melakukan segala kegiatannya kembali. Mereka bahkan dihadiahi gereja Santa Maria dari Vallicella, tetapi lebih dikenal hingga sekarang sebagai “Chiesa Nuova” (gereja baru). Pada hari mereka memasuki gereja baru mereka pada tahun 1577, para Oratorian melakukan arak-arakan di kota dengan membawa serta segala tetek-bengek peralatan rumah tangga mereka (sendok, mangkuk, kursi yang seluruhnya terbuat dari kayu). Di barisan depan parade yang aneh ini tampaklah Pastor Neri, berarak sambil menendang-nendang bola sepak.

Pater Filipus memahami betapa pentingnya berbicara dengan bijaksana. Suatu hari seseorang datang kepadanya. Orang itu mempunyai masalah tidak dapat menghentikan kebiasaan buruknya yaitu bergosip dan menceritakan keburukan-keburukan orang lain. Pater Filipus menyuruhnya naik ke atap rumah dengan satu tas besar penuh dengan bulu burung. Kemudian Pater memintanya untuk membuka tas serta menggoncang-goncangkan tas tersebut agar bulu-bulu itu dapat keluar semuanya. Baru saja ia melakukannya, maka angin segera meniup bulu-bulu itu dan membawanya terbang hingga jauh menyebar ke seluruh penjuru kota. Sesudahnya, Pater Filipus memintanya untuk pergi mengumpulkan setiap bulu yang telah terbang terbawa angin. Orang itu memandang Pater Filipus dengan terkejut dan gugup. Pater Filipus berkata, “Kata-kata yang jahat sama seperti bulu-bulu itu. Begitu keluar dari tas, mereka menyebar ke segala penjuru kota dan tidak pernah bisa ditarik kembali”

Suatu hari seorang anak muda yang dibimbingnya datang kepada Pater Filipus dan bertanya apakah ia diperkenankan mengenakan baju kasar (dalam tradisi kuno wajib dikenakan oleh para pendosa berat yang belum diampuni dosanya oleh gereja). Pater Filipus menyadari bahwa kegiatan yang tampak seperti “laku silih” pun dapat menjadi sumber kesombongan, padahal Pater Filipus senantiasa menjauhi sikap bangga dan tinggi hati. Oleh karenanya Pater Filipus memberinya ijin dengan syarat bahwa baju kasar tersebut harus dikenakan di luar kemejanya! Dengan demikian baju kasar tersebut bukan saja menyebabkan ketidaknyamanan di tubuhnya tetapi juga menyebabkannya diperolok dan ditertawakan orang-orang di sekitarnya. Kisah ini menjadi terkenal, karena kelak di kemudian hari, pemuda itu menyatakan dengan penuh syukur bahwa “laku silih” yang dianjurkan Pater Filipus mengajarkan kepadanya arti sebenarnya dari penderitaan dan dengan demikian mengubah hidupnya.

Seorang pemuda bangsawan jatuh sakit dan mendadak meninggal. Ibunya sangat sedih, sebab puteranya belum menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit serta Sakramen Pengakuan Dosa. Ia memohon agar Pater Filipus berdoa bagi puteranya. Pater Filipus mendekati jenasah pemuda itu dan memegang tangannya seraya berkata, "Paulo, Paulo!" Maka pemuda itu pun bangun dan hidup kembali selama setengah jam sehingga dapat menerima kedua sakramen yang amat diperlukan bagi perjalanannya menuju surga.

Tuhan melakukan banyak mukjizat-Nya melalui Pastor Neri. Namun demikian yang ingin dilakukan Pater Filipus hanyalah membawa sebanyak-banyaknya orang kepada Yesus. Oleh karena itulah, guna menghindari rasa kagum umatnya, Pater Filipus seringkali berlagak tolol. Ia mengenakan pakaian yang modelnya menggelikan atau pernah suatu ketika ia mencukur separuh janggutnya sebelum pergi ke suatu pesta perjamuan yang diselenggarakan khusus untuk menghormatinya. Atau, ketika para tamu dari Polandia datang untuk bertemu dengan orang kudus yang amat popular ini, mereka malahan mendapatkan Pater Filipus sedang duduk mendengarkan seorang imam lain membacakan lelucon dari buku-buku humor. Pater Filipus ingin orang lain menertawakannya dan dengan segera lupa bahwa ia adalah seorang kudus.

Kepada para pengikutnya Pater Filipus sering berkata, “Bersukacitalah senantiasa, karena sukacita adalah jalan untuk berkembang dalam kebajikan”. Meskipun Pater Filipus seorang yang penuh humor, tetapi ia sangat serius dalam kehidupan doanya. Pater Filipus mudah sekali mengalami `ekstase' (keadaan orang yang sedang terpengaruh Roh Kudus, sehingga berbuat sesuatu yang luar biasa); berjam-jam dalam sehari dihabiskannya untuk berdoa. Jika seseorang bertanya bagaimana caranya berdoa, Pater Filipus akan menjawab, “Rendah hati serta taat, maka Roh Kudus akan membimbingmu.”

Pater Filipus memiliki semangat doa yang luar biasa. Tidak peduli di mana pun ia berada, ia dapat dengan mudah berkomunikasi dengan Tuhan - bahkan dikatakan bahwa hatinya seolah-olah siap meledak karena cintanya yang meluap-luap kepada Tritunggal Maha Kudus! Pernyataan tersebut memang tidak berlebihan karena didasarkan pada suatu kejadian yang amat menakjubkan :

Ketika ia masih belajar di Roma pada tahun 1544, menjelang Hari Raya Pentakosta, Filipus sedang berlutut dan berdoa memohon Karunia-karunia Roh Kudus di Katakombe St. Sebastianus. Tiba-tiba sebuah bola api muncul dan secepat kilat masuk ke dalam mulutnya, lalu meluncur ke dalam hatinya. Seketika Filipus merasakan hatinya membesar, tetapi ia sendiri tidak merasa sakit. Sejak itu, setiap kali Filipus mengalami suatu peristiwa mistik (persatuan dengan Tuhan secara mendalam), maka hatinya akan berdebar kencang menyebabkan seluruh tubuhnya bergetar. Di saat-saat seperti itu Filipus akan memohon kepada Tuhan untuk menenangkan hasratnya atau membawanya pulang ke surga. Kadang kala dada Filipus menjadi demikian panas terbakar sehingga ia harus melemparkan dirinya ke dalam salju.

Pada tanggal 26 Mei 1595, setelah menderita sakit cukup lama, Pater Filipus meninggal dunia dalam usia delapan puluh tahun. Ia dimakamkan di Chiesa Nuova. Seluruh kota Roma berduka. Namun, sekarang kota Roma tampak amat berbeda dibandingkan 60 tahun sebelumnya. Ada iman yang tumbuh dari kota tersebut yang segera menyebar dan mempengaruhi umat Katolik di seluruh dunia. Sebagai ungkapan syukur, Paus menyatakan Santo Filipus Neri sebagai Rasul kota Roma yang kedua sesudah Santo Petrus.

Lamunan Pekan Biasa VIII

Senin, 27 Mei 2024

Markus 10:17-27

17 Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" 18 Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja. 19 Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!" 20 Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku." 21 Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." 22 Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. 23 Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah." 24 Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. 25 Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." 26 Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" 27 Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, ada gambaran bahwa agama menjamin sorga. Dengan memeluk dan menjalani agama, orang dapat merasa di jalan benar menuju sorga.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa agama membuat orang dekat dan jadi milik Tuhan. Seandainya ada salah dan dosa, agama akan membersihkannya agar selalu layak di hadapan Tuhan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun amat taat dan menjalani dengan tertib hidup keagamaan, kalau hatinya amat lekat dengan kepemilikan harta duniawi, jalan lebar dan halus menuju sorgapun sulit dilewati. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan bermurah hati melepas harta semahal apapun sehingga mengalami jalan ke sorga sesempit dan seterjal apapun menjadi serasa jalan raya yang amat lebar yang tak membuat banyak kendaraan bertabrakan.

Ah, asal beragama jelas sudah ada tiket masuk sorga.

Lamunan Hari Raya

Tritunggal Mahakudus

Minggu, 26 Mei 2024

Matius 28:16-20


6 Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. 17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. 18 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. 19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, pada umumnya orang tahu bahwa ada berbagai macam kepercayaan dan agama. Bahkan dalam satu agama pun ada beberapa macam model menjalani keberimanan atau aliran.
  • Tampaknya, dalam keberagamaan orang akan memilih dan memeluk satu agama. Karena ada berbagai macam agama orang bisa berbeda satu sama lain karena perbedaan agama.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun banyak orang berbeda satu sama lain karena beda agama yang dianut, bagi yang melandaskan diri pada perintah relung hati orang yakin bahwa hidup berketuhanan adalah keterbukaan untuk menghayati keterbukaan untuk menjalin hubungan baik. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan relung hati orang sadar bahwa beriman adalah hidup dalam Tuhan yang mengalirkan sikap dan tindakan kebersekutuan.

Ah, bagaimanapun juga pasti ada agama yang lebih sempurna di antrara berbagai macam agama.

Saturday, May 25, 2024

Salah Satu Hari Sesudah Ada Rama Wafat


Pada Jumat 24 Mei 2024 Rm. Hartanta tidak ikut makan siang. Pada saat itu beliau sedang menjalani fungsi Direktur Domus. Dari pagi hingga siang Rama Vikjen dan Rama Wakil Ekonom Keuskupan Agung Semarang hadir di Domus Pacis Santo Petrus. Ada juga 10 orang lain yang juga hadir. Kesepuluh orang itu adalah Keluarga Almarhum Rm. Jaya (2 orang) dan Keluarga Rm. Jaka Sistiyanto (8 orang). Menurut Mas Fallah Keluarga Rm. Jaya sudah pulang lebih dahulu sebelum makan siang. Ketika para rama sepuh sedang berada di ruang makan untuk santap siang, Mas Nugroho menghampiri Rm. Bambang. Mas Nugroho adalah salah satu karyawan Domus yang bersama Mas Fallah, karyawan lain, berada di antara para tamu. Mas Nugroho bertanya kepada Rm. Bambang "Rama, lemari es ing kamare Rm. Jaka punika gadhahipun Rm. Jaka napa Domus?" (Rama, almari es di kamar Rm. Jaka itu milik Rm. Jaka atau milik Domus?). Rm. Bambang hanya menjawab "Biarkan mereka yang memutuskan". Maklumlah, dulu Rm. Jaka pernah 7 tahun bersama Rm. Bambang di rumah rama sepuh Domus Pacis Puren, Pringswulung. Tetapi almarhum pernah pindah di Paroki Bantul dan ketika masuk Domus Pacis Santo Petrus beliau berangkat dari Pastoran Paroki Pringwulung. Pada hari itu di Domus memang ada pertemuan antara wakil keluarga Almarhum Rama Jaya dengan Wakil Keuskupan dan Pimpinan Domus. Sesudah itu Wakil Keuskupan dan Pimpinan Domus meneruskan pertemuan dengan Keluarga Rm. Jaka. Itu adalah kebiasaan kalau ada rama praja Keuskupan Agung Semarang wafat. Pada saat wafat kamar segera dikunci. Kamar dibuka setelah ketiga pihak sepakat berjumpa pada hari tertentu. Ketiga pihak bersama-sama meneliti harta benda yang ada di kamar almarhum untuk ditentuka mana yang milik Keuskupan, milik Komunitas, dan milik pribadi. Keluarga akan menentukan kebijakan peninggalan milik pribadi.

Friday, May 24, 2024

Santo Venerabilis Beda

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 23 Agustus 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014 Hits: 9164

  • Perayaan
    25 Mei
  •  
  • Lahir
    Tahun 672
  •  
  • Kota asal
    Wearmouth, Inggris
  •  
  • Wafat
  •  
  • 25 Mei 735 | Oleh sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Tahun 1899 oleh paus Leo XIII

Imam Inggris ini terkenal sebagai seorang kudus, imam, biarawan, guru, sekaligus penulis sejarah. Ia dilahirkan di Inggris pada tahun 673. Orangtuanya mengirimkannya ke biara Benediktin setempat agar ia memperoleh pendidikan yang baik. Beda begitu mencintai kehidupan biara hingga ia sendiri kelak menjadi seorang biarawan. Ia tinggal di biara yang sama sepanjang hidupnya.

St. Beda amat mencintai Kitab Suci. Ia mengatakan bahwa mempelajari Kitab Suci merupakan sukacita baginya. Ia senang mengajar serta menulis tentangnya. Ketika ia semakin tua, penyakit yang menyerangnya memaksa St. Beda tinggal di tempat tidur. Para murid datang berkumpul di sisi pembaringannya untuk belajar Kitab Suci. Ia tetap mengajar mereka dan juga mengerjakan terjemahan Injil St. Yohanes dari bahasa Latin ke bahasa Inggris. Banyak orang tidak mengerti bahasa Latin. St. Beda ingin agar orang banyak dapat membaca Sabda Yesus dalam bahasa mereka sendiri.

Ketika penyakitnya bertambah parah, St. Beda tahu bahwa ia akan segera pulang kepada Tuhan. Para biarawannya akan sangat kehilangan dia. Ia tetap terus bekerja walaupun sakitnya payah. Akhirnya, anak muda yang menuliskan segala yang didiktekannya berkata kepadanya, “Bapa terkasih, masih ada satu kalimat lagi yang belum diselesaikan.” “Tulislah segera.” jawab Beda. Ketika kemudian pemuda itu berkata, “Sudah selesai”, orang kudus itu menjawab, “Bagus! Kamu benar - sekarang sudah selesai. Sekarang tolong bantu aku bangun. Aku ingin duduk memandang tempat di mana aku biasa berdoa. Aku ingin memanggil Bapa Surgawi-ku.”

St. Beda wafat tak lama kemudian, yaitu pada tanggal 25 Mei 735. Bukunya yang paling terkenal, Sejarah Gereja Inggris, merupakan satu-satunya sumber terlengkap sejarah Inggris di masa lampau. Orang menyebut Beda dengan gelar kehormatan “Venerabilis” (Yang Pantas Dihormati). Ia juga diangkat sebagai Pujangga Gereja.

Jenazah St. Beda disemayamkan di Durham Katedral Inggris.

Lamunan Pekan BIasa VII

Sabtu, 25 Mei 2024

Markus 10:13-16

13 Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. 14 Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. 15 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya." 16 Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, pada umumnya orang tahu bahwa masa kanak-kanak adalah masa ketergantungan hidup. Hidup anak ada dalam tanggjawab orangtua.
  • Tampaknya, pada umumnya orang tahu bahwa perkembangan anak terutama berdasarkan kehidupan dalam keluarga. Orangtua harus mendidik terutama dengan menampilkan keteladanan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun orangtua bertanggungjawab dalam kehidupan anak-anak, tetapi dalam sikap kerohanian orangtua justru harus berkiblat pada sikap anak sekalipun masih kecil. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang menyadari bahwa anak-anak adalah model utama pengejar sorga. 

Ah, bagaimanapun juga untuk menjadi sosok beriman anak harus taat pada orangtua.

Thursday, May 23, 2024

Misa di Tanah Asal

Ini tentang Rm. Bambang. Dia masuk rumah tua pada 1 Juli 2010 di Domus Pacis Puren, Pringwulung. Bersama para rama sepuh lain di Puren dia kemudian ikut dipindahkan di Domus Pacis Santo Petrus, Kentungan, pada 1 Juni 2021. Tinggal di rumah sepuh baginya adalah sebuah pilihan. Rm. Bambang memang minta boleh berada di Domus Pacis. Baginya Domus Pacis memberikan keleluasaan untuk melakukan beberapa kegiatan imamat. Masa kecil hingga remaja usia SMA, dan kemudian keluar dari Seminari Tinggi Kentungan pada tahun 1973-1974, Rm. Bambang tinggal di Dusun Ambarrukmo (kampung antara Jembatan Sungai Gajah Wong dekat Afandi hingga Hotel Ambarrukmo). Ketika menjadi Katolik (baptisan 25 Maret 1967) dia menjadi bagian umat Kring Ambarrukmo yang meliputi Ambarrukmo, Nologaten, Gowok hingga, Janti termasuk Babarsari. Hubungannya dengan umat dari yang kecil hingga tua terasa seperti hubungan keluarga dan sanak saudara. Umat Ambarrukmo kaum tua masa kini kalau berjumpa selalu juga teringat giatnya Rm. Bambang masa lalu tetapi juga kenakalan dan keanehan-keanehan masa lalu. Bahkan ada yang bilang kepada rama lain di Domus bahwa bagi Ambarrukmo Rm. Bambang itu "cahe dhewe" (anak sendiri). Kadang kala ada yang meminta Rm. Bambang untuk memimpin Misa ujub pribadi. Tentu saja itu menjadi seperti reuni dengan teman-teman masa lalu bersama anak dan cucu. Kesempatan homili bisa cukup heboh karena dapat terjadi interaksi diwarnai ingatan-ingatan masa lalu. Tentu saja suasana seperti ini juga terjadi pada Rabu malam 22 Mei 2024. Rm. Bambang diminta memimpin Misa di Lingkungan Nologaten (dulu bagian Kring Ambarrukmo) untuk memperingati arwah Mbak Evi yang wafat 100 hari lalu. Ketika belum jadi imam, Rm. Bambang melihat Evi adalah anak kecil. Rm. Bambang selalu memanggil ayahnya dengan sebutan "Mas". Di tengah kelakar waktu homili, ana yang nyeletuk "Biyen gawene apel neng Nologaten" (Dulu kalau apel di Nologaten). Maklumlah, dulu pacar Rm. Bambang adalah gadis di Nologaten.

Santa Theodosia dari Tirus

diambil dari katakombe.org/para-kudus  Diterbitkan:  11 April 2015  Diperbaharui:  11 April 2015  Hits:  12199 Perayaan 02 April   Lahir Sek...