Saturday, September 3, 2022

Lamunan Pekan Biasa XXIII

Minggu, 4 September 2022

Lukas 14:25-33

25 Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: 26 "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. 27 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. 28 Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? 29 Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, 30 sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. 31 Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? 32 Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. 33 Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, ada yang menggambarkan bahwa keluarga adalah harta paling berharga. Kehidupan keluarga menjadi landasan menentukan baik buruk dalam kehidupan di lain tempat.
  • Tampaknya, dalam hidup keagamaan juga ada gambaran bahwa keharmonisan keluarga menjadi tanda beriman. Hubungan antar anggota keluarga selalu terjalin dalam kerukunan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun saling mendukung dalam hubungan antar anggota keluarga menghadirkan kegembiraan, kalau tidak menempatkan suara nurani sebagai komandan utama hidup, keluarga justru dapat membawa ke keterpurukan hidup. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan siaga bertentangan dengan keluarga demi menempatkan suara nurani di atas segalanya.

Ah, bagaimanapun juga menjaga hubungan dengan keluarga adalah kemuliaan hidup.

Martabat Citra Allah


Manusia memang menjadi salah satu dari segala ciptaan Tuhan di dunia ini. Tetapi manusia diyakini memiliki keistimewaan yang tak ada pada masing-masing ciptaan sepeti hal material, timbuhan, dan hewan. Bahkan malaikat juga kalah unggul sebagai makhluk ciptaan surgawi. Keunggulan manusia sungguh menjadi ciri dasar dari martabatnya. Karena keuanggulannya manusia sungguh mendapatkan penghargaan amat tinggi dibandingkan dengan ciptaan lain di dunia. Ketika wafat dan sesudah kematiannya manusia juga mendapatkan penghormatan sehingga ada kebiasaan peringatan arwah. Keunggulan manusia ini menjadi tema yang dibicarakan dalam pertemuan kelompok kecil lansia Paroki Pringgolayan yang didampingi oleh Rm. Bambang dari rumah tua para romo projo Keuskupan Agung Semarang yang bernama Domus Pacis Santo Petrus.

Dari Sumbang Pendapat

Ketika Rm. Bambang melontarkan pertanyaan "Apakah keunggulan utama manusia di tengah segala ciptaan di dunia?", muncul pendapat-pendapat sebagai berikut :

  • Kekuatan intelektual. Dalam hal otak, secara biologis hewan juga mempilikinya. Tetapi otak manusia bisa untuk berpikir dan membuat pertimbangan. Bahkan dengan otaknya orang dapat menimbang-nimbang tentang kebaikan dan keburukan. Dalam diri manusia, dengan otaknya orang mendapatkan kelengkapan dari perasaan dan kehendak, sehingga dia memiliki cipta, rasa, dan karsa.
  • Kekuatan afeksi. Ada yang bilang bahwa hewan juga punya perasaan. Tetapi yang ada dalam binatang adalah naluri atau insting. Dengan rasanya orang dapat mengenal kesusahan dan kesenangan. Sehingga rasa manusia akan berelasi terpadu dengan pikiran dan kehendak.
  • Kekuatan kultural. Karena kekuatan cipta, rasa, dan kehendaknya, apapun yang dibuat menjadi rangkangan yang disebut budaya. Kebudayaan atau keadaban menjadi ciri khas manusia yang tak ada dalam ciptaan-ciptaan lainnya. Bahkan ciptaan-ciptaan lain mendapatkan olahan manusia sehingga menjadi media terciptanya budaya.
  • Kekuatan spiritual. Manusia adalah ciptaan yang disayang Tuhan. Kebaikan dan kelestarian ciptaan-ciptaan lain memang masuk dalam kehendak Tuhan. Tetapi semua adalah demi kebaikan manusia. Dengan bobogt spiritual dalam diri manusia ada hati nurani untuk menjaga keluhurannya.
Belajar Dari Gereja

Berhadapan dengan pemikiran para peserta pertemuan, Rm. Bambang menanggapi dengan berpegang pada ajaran Gereja. Dia merujuk pada Katekismus Gereja Katolik no. 1701-1709. Beberapa pokok bisa dipaparkan di bawah ini.

Bisa untuk sambung kehidupan

Dengan empat macam kekuatan yang dipandang menjadi keunggulan manusia di antara ciptaan lain, kita bisa omong-omong dengan banyak orang lain termasuk yang berbeda agama dan atau kepercayaan. Empat macam kekuatan itu bisa menjadi landasan umum untuk menjunjung marta manusia. Semua ini dapat ikut menjadi penjelasan mengapa setiap orang dan kelompok orang serta organisasi harus menjunjung tinggi hak asasi manusia. 

Keyakinan Katolik

Sebagai umat Kristiani, orang menjadi pengikut Kristus. Hidupnya harus berpusat pada Kristus. Dari Katekismus Gereja Katolik (KGK) ada beberapa ajaran pokok untuk pegangan menghayati keluhuran kemanusiaan.
  • Citra Allah (KGK 1701-1702) . Sebagai pewahyuan ilahi Kristus adalah gambaran dari Allah yang tak kelihatan. Karya penyelamatan Kristus adalah untuk memulihkan hakikat manusia sebagai citra ilahi yang dirusakkan oleh dosa pertama. Kristus memperbaikan keindahan asli manusia dan memurnikan dengan rahmat Allah. Hakikat citra Allah ini ada pada setiap manusia. 
  • Punya jiwa (KGK 1703-1704). Manusia adalah satu-satunya ciptaan di dunia yang memiliki jiwa. Ketika dicipta manusia mendapatkan nafas Allah. Jiwa menjadikan manusia bersifat rohani sejah pembuahannya dalam kandungan. Inilah yang membuat ma nusia memiliki kekuatan spiritual, karena dia mengambil bagian dalam terang dan kekuatan Roh ilahi.
  • Anugrah kebebasan (KGK 1705-1706). Karena memiliki jiwa yang menghadirkan kekuatan akal budi dan kehendak, manusia mendapatkan anugrah kebebasan. Di dalam keyakinan Katolik kebebasan adalah lambang unggul citra ilahi dalam manusia (GS 17). Dengan akal buda manusia memiliki dorongan untuk melakukan yang baik dan menyingkiri yang jahat. Karena kebebasan manusia bisa menampakkan martabatnya dengan tindakan bermoral. Ini terjadi kalau dengan kebebasannya manusia taat pada hati nurani.
  • Perjuangan hidup (KGK 1707). Satu hal yang harus diingat adalah sejak awal manusia condong kepada yang jahat dan dapat keliru. Inilah yang membuat dalam batin manusia adalah suasana keterpecahan antara dorong berbuat buruk dan kesadaran akan pentingnya mempertahankan dan melakukan yang baik. Meskipun demikian, meskipun dorongan besar terarah pada yang buruk bahkan jahat, manusia tetap memiliki kerinduan akan kebaikan. Maka hidup baik perorangan maupun bersama adalah perjuangan.
  • Mencontoh Kristus (KGK 1708-1709). Dengan sengsara dan wafat-Nya Kristus telah membebaskan manusia dari kekuatan jahat. Rahmat-Nya telah memperbaiki yang dirusakkan oleh dosa. Kristus telah menjadi jalan dan contoh bagi manusia untuk kembali menghayati diri sebagai citra Allah. Bahkan yang percaya kepada Kristus juga terangkat menjadi putra Allah berkat daya Roh ilahi.

Friday, September 2, 2022

Santo Paus Gregorius Agung

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 16 Agustus 2013 Diperbaharui: 19 Oktober 2019 Hits: 30082

  • Perayaan
    03 September
  •  
  • Lahir
    Tahun 540
  •  
  • Kota asal
    Roma - Italia
  •  
  • Wafat
  •  
  • 12 Maret 604 | Oleh sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

St. Gregorius dilahirkan pada tahun 540 di Roma dalam keluarga bangsawan Kristiani yang saleh.  Ayahnya Gordianus, adalah seorang anggota Majelis Tinggi Roma dan ibunya adalah St. Silvia dari Roma.  Dua orang saudari ibunya juga adalah orang Kudus, yaitu St. Emiliana dan St. Tarsilla. Leluhurnya adalah Paus St. Felix III

Sebagai seorang anak keluarga bangsawan; Gregorius mendapatkan pendidikan dari guru-guru terbaik di kota Roma. Ia adalah seorang pelajar yang sangat cerdas dan berprestasi. Bahkan dalam usia yang masih amat muda ia telah diangkat menjadi Prefektur (Walikota) kota Roma. Sepertinya ia akan mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang politisi Romawi yang handal. Namun Tuhan rupanya memiliki rencana lain untuk Gregorius.

Ketika ayahnya meninggal, Gregorius menjadi sangat sedih. Melihat jasad ayah yang dicintainya terbujur kaku menyadarkan Gregorius akan kefanaan duniawi. Gregorius lalu memutuskan untuk menjalani hidup religius. Ia mengundurkan diri jabatan politiknya, lalu merombak rumahnya yang besar menjadi sebuah biara Benediktin. Selama beberapa tahun ia hidup sebagai seorang biarawan Benediktin yang saleh dan kudus. Kekudusannya membuat Bapa Paus Pelagius kemudian mengangkatnya menjadi salah seorang dari tujuh diakon untuk kota Roma.

Ketika Paus wafat, diakon Gregorius dipilih untuk menggantikannya. Gregorius sama sekali tidak menginginkan kehormatan seperti itu. Ia lebih senang hidup dalam keheningan di biaranya. Ia berusaha menolak; namun semua orang hanya menginginkan Gregorius untuk menjadi paus. Semua orang tahu bahwa ia akan menjadi seorang paus yang baik dan mereka menaruh harapan padanya. Gregorius lalu berusaha menghindar dengan menyamar dan menyembunyikan diri dalam sebuah gua, tetapi akhirnya umat dapat menemukannya.  Mereka membawanya kembali ke Roma. Gregorius tidak bisa menolak lagi. Ia pasrah saja saat dilantik menjadi paus.

Dan pilihan umat di Roma memang tidak salah. Selama empatbelas tahun kemudian, Gregorius mampu memimpin Gereja dengan gemilang. Walau kesehatannya tidak selalu prima; namun Gregorius merupakan salah seorang paus terbesar dalam sejarah Gereja.  Ia menulis banyak buku dan juga merupakan seorang pengkhotbah yang ulung. Ia menggubah, mengumpulkan dan membukukan lagu-lagu liturgi hingga sampai saat ini nyanyian liturgi tersebut masih tetap diasosiasikan dengan dirinya (Lagu-lagu Gregorian).

Ia mencurahkan perhatiannya kepada segenap umat manusia. Malah sesungguhnya, ia menganggap dirinya sebagai pelayan bagi semua orang.  Ia adalah paus pertama yang menggelari dirinya sebagai “hamba dari para hamba Allah” (Servus Servorum Dei). Bagi Gregorius ini bukan hanya sekedar gelar; karena ia sangat menjiwai dan menjalaninya dalam setiap pelayanannya. Gelar ini  masih terus dipakai oleh para paus sampai hari ini.

St. Gregorius memberikan perhatian serta cinta kasih istimewa kepada orang-orang miskin serta orang-orang asing. Setiap hari ia biasa menjamu mereka dengan makanan yang enak. Ia juga amat peka terhadap penderitaan orang banyak yang disebabkan oleh ketidakadilan. Suatu ketika, semasa ia masih seorang biarawan, ia melihat banyak anak-anak diperjual belikan sebagai budak. Ia bertanya dari mana anak-anak itu berasal dan diberitahu bahwa mereka berasal dari Inggris. St. Gregorius merasakan suatu keinginan yang kuat untuk pergi ke Inggris untuk mewartakan kasih Yesus kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan itu. Setelah ia menjadi paus, salah satu hal pertama yang dilakukannya adalah mengirimkan biarawan-biarawan terbaiknya (St. Agustinus dari Centerbury bersama 40 rekan biarawan) untuk memperkenalkan Kristus kepada rakyat Inggris. Paus Gregorius juga mengirimkan para biarawan untuk menyebarkan iman Kristiani ke Perancis, Spanyol dan Afrika.

Tahun-tahun terakhir hidupnya dipenuhi oleh banyak penderitaan, namun demikian ia tetap bekerja untuk Gerejanya yang tercinta hingga akhir hayatnya. St. Gregorius wafat pada tanggal 12 Maret 604.

Lamunan Peringatan Wajib

Santo Gregorius Agung, Paus dan Pujangga Gereja

Sabtu, 3 September 2022

Lukas 6:1-5

1 Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya. 2 Tetapi beberapa orang Farisi berkata: "Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat? "3 Lalu Yesus menjawab mereka: "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, 4 bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?" 5 Kata Yesus lagi kepada mereka: "Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, ada anggapan bahwa menjalani tradisi agama adalah bukti hidup beriman. Orang menjaga diri sebagai umat Tuhan.
  • Tampaknya, ada anggapan bahwa mengubah praktek tradisi agama adalah larangan. Yang melakukan bisa dipandang sesat.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim derngan kedalaman batin, sekalipun berbagai tradisi keagamaan mengingatkan orang dalam beriman, kesejatian tradisi keagamaan adalah warisan nilai-nilai luhur ber-Tuhan agar penghayat sungguh hidup makin manusiawi. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar beriman berarti semakin mengikuti Tuhan dalam perkembangan situasi hidup dan budaya setempat.

Ah, beriman itu ya berjuang menjalani apapun yang dulu dijalani pendiri agama.

Thursday, September 1, 2022

Sumbangan Dana Karyawan Domus Agustus 2022

Rm. Suntara dan Rm. Bambang sering menyinggung kehidupan para romo yang ada di Domus Pacis St. Petrus. "Neng kene ki dadi romo tuwa apa meneh awak wis ringkih jan kopen tenan" ( Di sini sebagai romo tua apalagi dengan kondisi badan rentan sungguh diperhatikan) inilah komentar yang sering muncul. Dalam hal tersedianya pelayanan memadahi Rm. Hartanta, Direktur rumah, sering berbicara kepada para tamu "Teng ngriki kula melu mulya" (Di sini saya ikut termuliakan). Kata-kata seperti ini dulu juga kerap muncul dari mulut Rm. Agung ketika masih tinggal di Domus Pacis Puren, Pringwulung, bersama para romo sepuh yang kini menjadi bagian besar penghuni Domus Pacis St. Petrus. Maklumlah, mereka adalah romo-romo yang masih termasuk golongan muda. Kedua romo ini menyetujui pendapat Rm. Suntara dan Rm. Bambang yang mengatakan pelayanan seperti Domus sulit gterjadi di paroki. Apalagi untuk romo sepuh yang sudah menderita penyakit yang membutuhkan perhatian khusus.


Untuk para romo sepuh dengan kondisi yang membutuhkan perhatian khusus, kenyamanan tidak hanya berkaitan dengan sajian menu makan. Ketersediaan karyawan yang memiliki komitmen mendalam dan dedikasi tinggi sungguh amat dibutuhkan. Apalagi mayoritas romo sepuh Domus sudah menderita penyakit-penyakit yang harus terawasi dan bahkan harus ada beberapa yang dijaga 24 jam. Para karyawan tidak hanya dituntut memiliki kekuatan ragawi, tetapi juga kekuatan jiwani untuk bersabar dan menjaga keceriaan batin menghadapi sikap-sikap sulit dari sementara romo. Untuk memiliki karyawan seperti ini pada zaman kini tentu membutuhkan beaya khusus. Keuskupan memang memberikan anggaran rutin untuk keperluan umum termasuk honorarium karyawan. Tetapi, untuk menjaga ketenangan kerja karyawan yang berjumlah 14 orang, pengurus harus menambah beberapa tunjangan termasuk untuk lembur kerja yang biasa terjadi. Setiap hari harus ada 6 orang yang siaga 24 jam. Dalam hal ini Rm. Hartanta menugaskan Rm. Bambang mencari dana tambahan untuk upah karyawan. Kini Rm. Bambang termasuk yang sudah memiliki keterbatasan fisik dan tak bisa lagi bermotor dan bermobil sendiri. Yang dilakukan hanyalah lewat WA dan FB untuk mengetuk hati pemerhati. Ternyata dari pertengahan Juli 2021 hingga kini ada donatur-donatur yang menyumbang secara rutin. Memang, ada yang menyumbang dengan jumlah besar. Tetapi mayoritas, paling tidak 79%, adalah umat dari golongan ekonomi menengah ke bawah. Untuk bulan Agustus 2022, Rm. Bambang menerima 39 kali kiriman yang mayoritas lewat transfer bank. Empat pengirim adalah kelompok : PUPIP Ungaran, Ibu-ibu Benediktus Paroki Babadan, Devosan Kerahiman Ilahi Mungkid, dan Kelompok Yosefin Medari. Dari kiriman-kiriman itu dana yang terkumpul dalam catatan Rm. Bambang adalah Rp. 25.864.900. Semua pengirim adalah sebagai berikut :

1. PUPIP Ungaran, 2. Ibu Haryono, 3. Anna Maria (Ibu-ibu Bernardus Babadan), 4. Ida, Bogor, 5. Ibu Wellanda, 6. Bapak Jono, 7. Ibu Malya, 8. Ibu Maria Kristina Dannie, 9. Ibu Emiliana Kasmudjiastuti, 10. Ibu Endang W, 11. Bapak Siswoto, 12. Ibu Wartini, 13. Ibu Christine, Semarang, 14. Ibu Tri Nor Prasetyawan, 15. Ibu Tantiana Windy, 16. Ibu Yuliana Sutarni, 17. Ibu Agnes Umi Dalprindrarti, 18. Ibu Lucy, 19. Ibu Dewi Anggraeni, 20. Ibu Harno, 21. Ibu Sugono, 22. Ibu Mrihadi, 23. Ibu Lani Harsono, 24. Ibu Mamik, 25. Ibu Melly, 26. Ibu Yenten, 27. Bp. Jaya, 28. Ibu Yuristianti; 29. Ibu Bernadet Suwarni; 30. Dicky; 31. Devosan Kerahiman Mungkid; 32. Ibu Istiyono; 33. Ibu Chatarina Gunarti; 34. Bapak Suwarno; 35. Ibu Tini; 36. Ibu Eny Bernadette; 37. Bapak Yulius; 38. Kelompok Yosefin Medari.

Santo Brocardus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 02 April 2017 Diperbaharui: 16 April 2017 Hits: 5256

  • Lahir
    Hidup pada akhir abad ke-12
  •  
  • Kota asal
    Tidak ada catatan, kemungkinan berasal dari Perancis
  •  
  • Wilayah karya
    Yerusalem - Israel
  •  
  • Wafat
  •  
  • Tahun 1231 di Gunung Karmel Israel
    Sebab alamiah
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Bila anda memiliki informasi tentang Kanonisasi Santo Brocardus; dimohon menghubungi admin; Terimakasih.

Santo Brocardus (Brocard) adalah seorang pertapa di Gunung Karmel yang hidup pada akhir abad ke-12. Bersama Santo Barthold de Malifaye dan sekelompok pertapa Eremit, mereka membentuk sebuah komunitas monastik dan menetap di puncak Gunung Karmel. Berthold de Malifaye, mantan Perwira Tentara Salib (Crusaders) yang meninggalkan kemiliteran demi mengejar kesucian hidup, terpilih sebagai pemimpin (abbas) mereka yang pertama. Komunitas pertapa inilah yang di kemudian hari dikukuhkan menjadi sebuah Ordo Religius, yaitu Ordo Fratrum Beatissimæ Virginis Mariæ de Monte Carmelo (Latin), atau The Order of the Brothers of the Blessed Virgin Mary of Mount Carmel (Inggris), yang secara singkat disebut Ordo Karmel atau Karmelit.

Setelah wafatnya Santo Berthold de Malifaye pada tahun 1195, para karmelit perdana dengan suara bulat memilih Brocardus sebagai abbas yang baru. Pada tahun 1207, abbas Brocardus meminta Patriark Yerusalem, Santo Albertus dari Yerusalem, untuk menyusun sebuah aturan hidup membiara bagi para pertapa Karmel.  Aturan hidup yang disebut Regula Karmel atau Regula Santo Albertus ini selesai ditulis pada tahun 1210 dan disahkan oleh Paus Honorius III pada tahun 1226.

Tradisi mengatakan bahwa Santo Brocardus memiliki pemahaman yang mendalam tentang Kitab Suci. Karena itu Santo Albertus, sebagai Patriark Yerusalem, berencana membawa pertapa karmel tersebut mengikuti Konsili Lateran IV di Roma. Namun sebelum mereka berangkat ke Italia, Patriark Albertus tewas terbunuh saat sedang memimpin misa di Gereja Santo Yohanes di Acre pada tanggal 14 september 1214.   

Santo Brocardus memimpin komunitas Karmelit perdana selama 35 tahun. Ia tutup usia sekitar tahun 1231.(qq)

Lamunan Pekan Biasa XXII

Jumat, 2 September 2022

Lukas 5:33-39

33 Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: "Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum." 34 Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? 35 Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa." 36 Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: "Tidak seorangpun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu. 37 Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itupun hancur. 38 Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. 39 Dan tidak seorangpun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik."

Butir-butir Permenungan

  • Katanya, setiap agama punya warisan tradisi dari generasi ke generasi. Satu diantaranya adalah wajib puasa.
  • Katanya, dengan berpuasa orang menjalani bentuk-bentuk yang menjadi ketetapan agama dari masa ke masa. Satu di antaranya adalah tatanan tentang makan minum.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun dengan berpuasa orang sungguh menjalani hidup keagamaan, tetapi kesejatian sebagai tradisi keagamaan yang harus dipegang teguh adalah nilai-nilai iman yang ada di dalamnya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menjalani tradisi agama dengan mengamalkan nilai-nilai iman di dalamnya sesuai dengan perkembangan situasi hidup dan budaya setempat.

Ah, yang namanya berpuasa itu ya tidak makan dan tidak minum.

Santa Theodosia dari Tirus

diambil dari katakombe.org/para-kudus  Diterbitkan:  11 April 2015  Diperbaharui:  11 April 2015  Hits:  12199 Perayaan 02 April   Lahir Sek...