Ketika membuka penakatolik.com
saya menemukan judul yang saya pakai dalam tulisan ini. Saya tertarik pada
pernyataan “Hari Kakek-Nenek dan Lansia Sedunia, yang diprakarsai oleh Paus
Fransiskus pada tahun 2021, diadakan pada hari Minggu keempat bulan Juli.
Perayaan ini jatuh dekat dengan pesta St. Yoakim dan St. Anne, kakek nenek
Yesus. ….. Pada tahun 2024, hari itu akan diperingati pada tanggal 28 Juli 2024
dengan tema: “Jangan Buang Aku di Hari Tuaku” (Mazmur 71).” Jujur saja, saya
sungguh tersentak akan tema untuk tahun 2024, yaitu “Jangan Buang Aku di Hari
Tuaku”. Memang, dalam pelaksanaan hari khusus ini ada yang menghaluskan tema
dengan “Jangan Lupakan Aku di Hari Tuaku”. Apapun kata-katanya, bagi saya tampaknya
itu mengungkapkan kegetiran pengalaman akan masa kelansiaan.
Realita Kelansiaan
Bagaimanapun harus diakui
bahwa pada umumnya kaum lansia diwarnai oleh kerentanan raga dan jiwa.
Daya-daya ragawi makin merosot apalagi kalau kemudian mengidap penyakit-penyakit
yang menuntut kewaspadaan harian. Kondisi minimnya daya fisik membuat orang
mudah tersisih dari peran demi banyak orang. Bahkan baru usia sekitar 60 tahun
saja sudah banyak yang dipensiunkan dari kerjaan. Dalam hal ini sebenarnya
orang mulai dan lama-lama makin tak terpakai. Apalagi kalau raga makin lemah
dan rendah fungsi karena masuk dalam kondisi kedifabelan, dari segi kegunaan,
dapat dipakai untuk apa? Kalau barang benda, yang sudah tak terpakai layak
kalau jadi obyek buangan. Di kalangan kaum produktif, apalagi di kalangan kaum
muda remaja anak, kaum tua apalagi lansia dapat dipandang bagaikan berasal dari
dunia lain. Omong-omong bisa sulit nyambung. Selera juga bisa amat berlainan.
Maka layaklah kalau di rumah bersama anak cucu seorang lansia bisa kerap
sendiri ditinggalkan dalam kesibukan masing-masing. Kalau dimasukkan ke rumah
tua atau panti wredha, bisa terkesan menjadi terbuang.
Semua itu tentu berdampak pada
hidup kejiwaan. Realita banyak ada kesendirian bisa mengakibatkan kesepian.
Padahal kesepian berkaitan dengan masalah kesehatan yang katanya berakibat
seperti banyak merokok dan obesitas. Kalau masih ikut kumpul dalam kebersamaan,
orang yang kesepian bisa terjangkit yang namanya post power syndrome.
Dalam kesendiriannya seorang lansia merasa diri menjadi sosok tersingkir. Kalau
hidup di rumah tua, ada yang memandang dan merasakan seperti berada dalam
penjara. Seandainya berada di rumah tua, sanak saudara memang mudah melupakan.
Apalagi kalau orang tua sudah tiada semua, hubungan dengan saudara kandung dan
kemenakan serta sepupu dan lainnya mengendor. Oleh sanak-saudara lansia memang
bisa tak masuk hitungan bahkan terlupakan. Di era seperti sekarang yang
diwarnai segalanya yang serba uang dan glamoritas, lansia kaya dan mungkin
bekas berpangkat tinggi masih bisa menjadi tempat bertandang. Tetapi bisa saja
sosok demikian hanya jadi aset untuk mendapatkan pengaruh sosial atau bahkan
untuk mendapatkan uang. Karena kelemahan jiwaninya sosok demikian bisa ditipu
cukup dengan sekata sanjungan.
Belajar dari Tuhan Yesus
Hari Kakek-Nenek tahun ini jatuh pada hari Minggu 28
Juli 2024. Injil dari Misa hari ini diambil dari Yoh 6:1-15. Kutipan itu adalah
sebagai berikut :
1 Sesudah
itu Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias. 2 Orang
banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan,
yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. 3 Dan Yesus naik ke atas gunung dan
duduk di situ dengan murid-murid-Nya. 4 Dan Paskah, hari raya orang Yahudi,
sudah dekat. 5 Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang
banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: "Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat
makan?" 6 Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia
sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. 7 Jawab Filipus kepada-Nya:
"Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun
masing-masing mendapat sepotong kecil saja." 8 Seorang dari
murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata
kepada-Nya: 9 "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai
dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?" 10 Kata
Yesus: "Suruhlah orang-orang itu duduk." Adapun
di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu
laki-laki banyaknya. 11 Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan
membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya
dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. 12 Dan setelah mereka
kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah
potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang." 13
Maka merekapun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan
potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. 14
Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya,
mereka berkata: "Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam
dunia." 15 Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak
membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke
gunung, seorang diri.
Dari 15 ayat itu sebenarnya
saya hanya tergetar oleh kata-kata Andreas dalam ayat 9 "Di sini ada
seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah
artinya itu untuk orang sebanyak ini?" Dalam gambaran saya pada waktu itu
Tuhan Yesus mengajak para murid untuk menangani proyek besar, yaitu menyediakan
konsumsi untuk kira-kira 5000 orang. Padahal itu hitungan hanya untuk
laki-laki. Memang tak dikisahkan apakah ada perempuan dan anak yang ikut.
Filipus mengetengahkan anggaran 200 dinar yang diyakini tidak cukup. Dari
liputan6.com saya menemukan penjelasan “Sementara itu, jika dilihat pada situs
Bank Indonesia, 1 dinar berapa rupiah yaitu Rp 49.761,34 untuk nilai jual dan
Rp 49.250,07 untuk nilai belinya. Jadi, setiap kamu ingin mendapatkan 1 Dinar
Kuwait , maka kamu harus memiliki mata uang rupiah sebanyak Rp 49.761,34.”
Kalau tidak keliru itu hitungan 9 Februari 2023. Dengan demikian anggaran yang
dikatakan oleh Filipus sebesar 200 dinar, kini bisa sebesar Rp. 9.952.400. Itu
untuk penyediaan roti, yang untuk kita sebagai makanan harian adalah nasi, bagi
5000 orang laki-laki. Seandainya setiap orang disediakan seharga Rp. 5000, maka
uang yang dibutuhkan adalah R. 25.000.000. Itu belum terhitung kalau ternyata
masih ada perempuan dan anak-anak. Padahal dengan 200 dinar setiap orang baru
mendapatkan jatah Rp. 1.990,48. Ini semua kalau uangnya tersedia lhoooo.
Ternyata yang ada hanyalah “lima roti jelai dan dua ikan” milik seorang anak.
Naaaah, ternyata anak anak juga menyertai. Pastilah ada ibu-ibu juga mengikuti.
Tetapi
yang amat kecil sungguh tak memenuhi syarat untuk sekian banyak orang, di
hadapan Tuhan Yesus justru tetap amat sangat dihargai. Setelah diserahkan
kepada Tuhan Yesus, ternyata semua sekian ribu orang itu dipuaskan dan masih
banyak 12 bakul penuh, artinya semua bisa memiliki modal untuk masing-masing
persekutuan (bagi saya angka 12 menunjuk ke 12 rasul yang kemudian digantikan
dengan jabatan uskup-uskup). Semua ini berasal dari seorang anak yang
melepaskan miliknya dan diserahkan kepada Tuhan Yesus. Ternyata yang kecil,
yang sebenarnya tak memiliki status sosial, yang hanya diurus di dalam Tuhan
Yesus bisa menjadi modal besar memenuhi damai sejahtera ribuan orang-orang
dewasa, yang sebetulnya punya daya kerja dan terlalu besar di kalangan yang
kecil.
Lansia itu Modal Kehidupan
Dari peristiwa penggandaan 5 roti 2 ikan, saya merasa
bahwa yang secara duniawi seperti tidak bermakna ternyata dalam Tuhan bisa
menghadirkan damai sejahtera untuk kebutuhan umum. Hal ini memang saya kaitkan
dengan realita kaum lansia yang mungkin bisa dianggap mengganggu kenyamanan
keluarga atau hidup bertetanggaan atau bahkan bisa merepotkan masyarakat umum.
Bisa jadi rumah tua dirasakan menjadi tempat buangan. Dengan merujuk bacaan
Injil di atas, saya teringat pemazmur yang melantunkan kabar sukacita dengan
hadirnya lansia. Pemazmur berkidung “Orang benar akan bertunas seperti
pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon;
mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita.
Pada masa tua pun mereka masih berbuah” (Mzm 92:12-14). Karena kondisi
fisiknya, kaum lansia memang bisa masuk golongan lemah. Kalau mengalami kelemahan-kelemahan
anggota badan, lansia bisa masuk ikut masuk kaum difabel. Kalau tanpa harta dan
kekayaan, apalagi kebutuhan jadi besar mungkin karena penyakit, lansia bisa
masuk kategori kaum miskin. Pada pokoknya pada umumnya lansia mudah masuk kaum
KLMTD (kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel). Dalam hal ini, dengan
memperhatikan pemazmur, seseorang jadi “orang benar” atau tidak. Saya merasa
itu berarti biasa menyerahkan hidup sesederhana apapun kepada Tuhan Yesus atau
tidak. Dalam hal ini, pada Hari Kakek-Nenek saya menemukan 2 ajaran :
1.
Bagi
yang bukan lansia. Untuk
sungguh beriman, orang tak akan cuek terhadap kaum lansia lebih-lebih yang ada
dan kondisi derita fisik dan atau derita. Sesedikit apapun orang beriman
terpanggil untuk memberikan kepedulian pada lansia. Kalau terpaksa tidak bisa
mendampingi dalam keseharian sehingga seorang lansia menjadi anggota rumah tua,
kunjungan menjadi wujud kasih yang sungguh bermakna. Sebaliknya, kalau lansia
ternyata masih memiliki daya lebih-lebih daya materi, orang akan sangat tidak
terpuji kalau menjadikannya aset mendapatkan materi. Sekuat apapun seorang
lansia, dia pasti punya kelemahan untuk dimanfaatkan demi kepentingan
seseorang. Pada pokoknya, peduli pada yang masuk KLMTD, itu adalah perbuatan
iman. Tuhan berkata “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah
seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk
Aku.” (Mat 25:40)
2.
Bagi
kaum lansia. Sadar kondisi
adalah landasan untuk sungguh merasakan daya ilahi. Santo Paulus berkata “Sebab
itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun
menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam
kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan
kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” (2Kor
12:9-10) Bagi saya setiap lansia pasti memiliki kelemahan kelansiaan tertentu.
Karena dengan sadar kelemahan orang akan mengalami kekuatan ilahi, maka bagi
saya kurnia utama lansia adalah kelemahannya. Padahal karunia ilahi adalah
penyataan Roh untuk kepentingan bersama (bandingkan 1Kor 12:7).
Bagaimana kelemahan bisa menjadi kurnia hidup bersama, dalam hal ini orang lain
seperti seorang tokoh akan menjadi pendamping. Oleh karena itu masa lansia juga
menjadi masa taat sebagai kebijakan hidup. Tuhan Yesus berkata “Aku berkata
kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu
sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah
menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat
engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” (Yoh 21:18).
Penghayatan seperti ini, sekalipun 90% lebih diwarnai oleh kesendirian, akan
membuat lansia tetap ceria dan tak merana.
Kentungan, 25 Juli
2024