Friday, October 24, 2025

Santo Gaudensius

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 12 Agustus 2014 Diperbaharui: 23 Oktober 2016 Hits: 21050

  • Perayaan
    25 Oktober
  •  
  • Lahir
    Akhir abad ke-4
  •  
  • Kota asal
    Brescia - Italia
  •  
  • Wafat
  •  
  • Tahun 410 di kota Brescia Italia - Sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santo Gaudensius lahir pada pertengahan-akhir abad ke-4 di kota Brescia, Italia dalam sebuah keluarga Katolik yang saleh. Ia adalah murid dari Santo Philastrius (bentuk lain : Philaster atau Filaster) Uskup Brescia yang sangat berpengaruh pada masa itu.  Setelah dewasa, Gaudensius ditahbiskan menjadi seorang imam oleh uskup Philastrius. Ia kemudian menjadi seorang imam yang saleh dan bijaksana. Karena itu ia sangat dicintai dan dikagumi oleh umat dikotanya.

Pada sekitar tahun 387 Gaudensius berangkat berziarah ke Yerusalem dan berbagai tempat suci bersejarah di Israel. Sementara ia berada di Tanah Suci, uskup kota Brescia, Santo Philastrius,  meninggal dunia. Segenap imam dan umat kota itu dengan suara bulat memilih Gaudensius sebagai uskup baru.  Uskup-uskup di Italia dipelopori oleh Santo Ambrosius, Uskup kota Milan,  berkumpul dan meresmikan pilihan itu.  Mereka lalu mengirim kabar kepada Gaudensius yang pada waktu itu sedang berada di Capadocia, Asia Kecil dan memintanya segera pulang ke Brescia guna mengemban tugas barunya sebagai Uskup kota Brescia.

Mendengar kabar itu, Gaudensius, yang mulanya merasa berat, segera pulang karena rasa hormatnya yang besar kepada Uskup Santo Ambrosius yang saleh itu. Tiba Brescia ia segera ditahbiskan oleh Santo Ambrosius.  Sebagai uskup, Gaudensius menaruh perhatian besar pada bidang pengajaran agama bagi seluruh umatnya.  Dalam rangka itu, ia dengan rajin menjelajahi seluruh keuskupannya untuk berkotbah. Ia sendiri pun bersikap tegas kepada dan menghukum orang-orang yang berkelakuan buruk, yang hanya mengejar kenikmatan duniawi sambil melupakan tuntutan ajaran Injil Kristus. Prestasi kerjanya sungguh mengagumkan.

Pada tahun 405 Gaudensius bersama dengan sebuah delegasi diutus ke Konstantinopel oleh Paus Innosensius I untuk membela Uskup Konstantinopel Santo Yohanes Krisostomus yang saat itu menghadapi intrik dan fitnah serta menjalani hukuman pembuangan oleh kaisar Byzantium. Delegasi ini dihadang oleh para pendukung kaisar dan dipaksa untuk kembali ke Italia. Kapal yang mereka tumpangi diserang dan tenggelam di dekat Lampsacus, Yunani. Beruntung seluruh anggota delegasi bisa diselamatkan dan berhasil pulang ke Italia. Meskipun delegasi ini tidak berhasil dalam misinya, Santo Yohanes kemudian mengirimkan surat ucapan terima kasih kepada santo Gaudensius.

Santo Gaudensius tutup usia di kota Brescia pada tahun 410.

Lamunan Pekan Biasa XXIX

Sabtu, 25 Oktober 2025

Lukas 13:1-9

1 Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. 2 Yesus menjawab mereka: "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? 3 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. 4 Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? 5 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian."

6 Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. 7 Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! 8 Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, 9 mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!"

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, dengan beragama orang merasa berada dalam tuntunan kekudusan. Kalau keliru bahkan dosa, orang tahu bahwa dia harus bertobat.
  • Tampaknya, dalam agama ketika berdosa orang mendapatkan jalan untuk bertobat. Dia akan mengikuti ritus pertobatan dengan mengaku dosa dan menerima pengampunan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun rajin mengaku dosa setiap kali berdosa, orang baru sungguh-sungguh bertobat kalau dalam hidup keseharian mengalir perbuatan yang berakibat baik bagi orang lain. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang menyadari bahwa pertobatan adalah menjaga hubungan batin dengan Tuhan yang terwujud dalam perbuatan baik bagi kebaikan orang lain.

Ah, asal mengakui salah ketika bersalah orang sudah bertobat dan kembali kudus.

Thursday, October 23, 2025

Wilayah Lukas Prambanan

Berbuat baik memang harus memiliki sasaran. Di Keuskupan Agung Semarang ada gerakan Gereja yang bahagia, menginspirasi, dan menyejahterakan. Perjuangan menyejahterakan tampaknya terutama tertuju ke kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel (KLMTD). Dalam hal ini tampaknya para rama Domus Pacis Santo Petrus termasuk menjadi sasaran. Dalam hal ini Rm. Bambang mencoba untuk memahami. Apakah karena Domus Pacis terisi para rama sepuh yang sudah tak punya posisi dalam Gereja? Apakah karena para rama sepuh Domus Pacis termasuk lemah karena kerentanan kelansiaan terutama fisik sudah tergerus oleh warna-warna penyakit sehingga dalam banyak hal butuh bantuan tenaga karyawan? Apakah karena untuk mengalami pemenuhan hidup seperti di masa karya seperti Paroki anggaran tak akan mencukupi sehingga butuh sumbangan untuk mengalami hadirnya keluarga dan umat seperti untuk mengadakan hajatan ulang tahun imamat masing-masing rama? Apakah karena sudah jauh dari derap kegiatan umat dengan berada di gedung Domus bahkan sekitar 90% berada di kamar masing-masing? Apakah karena mayoritas dalam mobilitas sudah harus ada yang membantu bahkan mayoritas sudah berkursi roda?


Kalau pertanyaan-pertanyaan itu ada yang terjawab "Ya" di kalangan umat, maka maklumlah kalau ada romobongan-rombongan umat yang datang di Domus. Ada yang memang hanya mau berkunjung khusus di Domus. Ada yang datang sekedar mampir karena perjalanannya dalam kerangka program lain. Tetapi, baik yang datang khusus hanya ke Domus maupun yang mampir, kesemuanya tampak dijiwai oleh semangat kepedulian sosial untuk ikut menghadirkan hal yang dirasa menyejahterakan para rama Domus. Sebagai contoh dapat diambil pengalaman yang terjadi pada Minggu 19 Oktober 2025. Pada hari itu ada 3 rombongan tamu di Domus : Kelompok Orangtua Panggilan Katedral Semarang, Perwakilan Wilayah Lukas Prambanan, dan Umat Lingkungan Santo Markus Demak Ijo Wilayah Puluhwatu Paroki Klaten. Kecuali yang dari Prambanan, kedua rombongan lain memiliki tujuan utama untuk ikut Yubelium Porta Santa dan datang di Domus untuk mampir jumpa para rama sepuh. Maka yang datang memang khusus untuk Domus Pacis adalah Wilayah Lukas Prambanan. Wilayah ini pada Sabtu 18 Oktober 2025 merayakan setahun sebagai Wilayah dalam Paroki. Wilayah ini berlindung pada orang kudus, yaitu Santo Lukas yang peringatannya pada tanggal 18 Oktober. Pada waktu perwakilan Wilayah datang, mereka diterima di ruang tamu Domus. Kebetulan saja yang datang berjumalh 10 orang. Kebetulan saja, ketika mereka datang, para rama sepuh baru menerima dan sedang tanya jawab dengan rombongan dari Semarang. Maka hanya Rm. Jarot yang menyambut dan menemui para tamu dari Prambanan. Bingkisan-bingkisan oleh-olehpun diterima.

Beata Maria Tuci

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 29 Jun 2017 Diperbaharui: 21 Oktober 2019 Hits: 14195

  • Perayaan
    24 Oktober
    5 November (Pesta bersama para Martir Albania)
  •  
  • Lahir
    12 Maret 1928
  •  
  • Kota asal
    Desa Ndërfushaz, Distrik Mirdita, Albania
  •  
  • Wafat
  •  
  • Martir | Tewas pada tanggal 24 Oktober 1950 di rumah sakit Shkodër setelah disiksa selama berbulan-bulan di penjara Shkodër oleh Rezim Komunis
  •  
  • Venerasi
    26 April 2016 oleh Paus Fransiskus (Decree of martyrdom)
  •  
  • Beatifikasi
    5 November 2016 oleh Paus Fransiskus.
    Misa beatifikasi digelar di Kathedral Shkodër, Albania yang dipimpin oleh Kardinal Angelo Amato
  •  
  • Kanonisasi

Beata Maria Tuci adalah calon postulan Suster Fransikan dan salah seorang dari 38 Martir Albania. Ia adalah puteri pasangan Nikoll Mark Tuci dan Dila Fusha yang lahir pada 12 Maret 1928 di desa Ndërfushaz, distrik Mirdita, Albania. Maria disekolahkan di sekolah Katolik yang dikelola oleh para suster Fransiskan. Pola hidup rohani dari para suster yang mendidiknya ternyata sangat berkesan dalam diri Maria. Sejak kecil ia telah bercita-cita untuk menjadi biarawati.

Pada tahun 1946 Maria menyelesaikan pendidikannya dan bekerja sebagai seorang guru. Namun ia tidak pernah melupakan cita-cita masa kecilnya. Ia selalu ingin menjadi seorang biarawati. Karena itu sambil tetap bekerja disekolah, Maria juga mengajukan lamaran untuk menjadi biarawati di biara Suster Fransiskan Stigmatis. Pada masa ini Maria diketahui sering menggunakan gajinya untuk membayar uang sekolah bagi anak-anak di kelasnya. Dia juga diketahui sering berjalan kaki enam sampai tujuh kilometer untuk mengikuti perayaan misa di gereja.

Cita-cita rohani Maria untuk menjadi mempelai Kristus tidak pernah terlaksana. Biara tempat ia mengajukan lamaran ditutup pemerintah Komunis dan para suster diusir ke Italia.

Maria Tuci ditangkap pada tanggal 10 Agustus 1949 oleh tentara Komunis dengan tuduhan menjadi mata-mata. Ia disiksa untuk mendapat keterangan tentang kegiatan mata-mata yang dituduhkan kepadanya. Penyiksaan semakin mengerikan dari hari ke hari karena Maria tidak mampu menjawab pertanyaan para Interogator. Ia diam bukan karena menyembunyikan sesuatu seperti yang dituduhkan, tapi karena ia memang tidak tahu apa-apa. Ia hanyalah seorang guru sekolah dan seorang wanita katolik yang ingin menjadi biarawati. Maria dijatuhi hukuman penjara selama 3 tahun dan terus-menerus mengalami penyiksaan dalam penjara Komunis yang mengerikan.

Di pertengahan bulan Agustus 1950, Maria Tuci dibawa ke rumah sakit sipil di Shkodra setelah disiksa sampai sekarat dalam sebuah sesi interogasi. Pada tanggal 22 Agustus 1950 beberapa suster dan para kerabat datang menjenguknya di rumah sakit. Di kemudian hari mereka bersaksi : “Keadaannya sungguh menyedihkan. Ia hampir tidak dapat dikenali karena luka-luka lebam di sekujur tubuhnya”. Maria meminta mereka segera pulang karena khawatir akan keselamatan mereka. Para penyiksanya pernah mengancam akan menangkap semua anggota keluarga dan kerabatnya.

Dua bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 24 Oktober 1950, Maria Tuci meninggal dunia di rumah sakit tersebut. Jiwanya yang kudus telah kembali kepada Sang Pencipta, meninggalkan tubuhnya yang remuk dan penuh luka penyiksaan. Kata-kata terakhirnya adalah : "Saya bersyukur kepada Tuhan karena saya mati (sebagai orang) bebas".  

Ia dimakamkan secara diam-diam oleh tentara komunis dan jasadnya baru dapat diidentifikasi setelah rezim komunis Albania runtuh di tahun 1992. Jenazahnya lalu dimakamkan kembali dengan layak di pemakaman Katolik di Shkoder. Dalam proses beatifikasi Para Martir Albania, makamnya dibuka kembali dan relikwinya disemayamkan di gereja Biara Susteran Fransiskan Stigmatines di Shkoder Albania.

Beata Maria Tuci adalah satu-satunya wanita dalam 38 Martir Albania yang dibeatifikasi bersama oleh Paus Fransiskus pada tanggal 5 November 2016. Pestanya dirayakan pada tanggal 24 Oktober sesuai hari kematiannya, dan pada hari pesta bersama Para Martir Albania pada tanggal 5 November. (qq)

Lamunan Pekan Biasa XXIX

Jumat, 24 Oktober 2025

Lukas 12:54-59

54 Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. 55 Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. 56 Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? 57 Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? 58 Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. 59 Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, yang namanya iklim bisa berbeda-beda menurut daerahnya. Kalau di Indonesia ada kemarau dan penghujan, di Eropa ada 4 musim.
  • Tampaknya, kehidupan masyarakat juga bisa berbeda-beda menurut budayanya. Tatacara orang Jawa berbeda dengan kebiasaan adat orang Kalimantan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun suasana iklim dan adat budaya berbeda dari suatu daerah dengan daerah lain, untuk menerima kesemuanya orang harus jeli menangkap hadirat Tuhan sesuai zaman dan segala perubahannya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan mampu menghayati hadirat Tuhan dengan menangkap dan menilai perkembangan zaman dari tanda-tanda peribahan alam dan cara hidup masyarakatnya.

Ah, yang pokok itu bekerja cari uang.

Wednesday, October 22, 2025

Kunjungan Ortupang Paroki Katedral Semarang

Sejak masuk di aula Domus Pacis Santo Petrus, kehadiran rombongan pengunjung dari Semarang sudah bisa akrab dan terjadi celetukan-celetukan omongan spontan dengan para rama sepuh. Entah bagaimana celetukan-celetukan itu membuat banyak tawa. Apalagi ketika celetukan-celetukan itu juga terisi dengan kesembronoan-kesembronoan. Itu terjadi pada Minggu 19 Oktober 2025. Rombongan yang datang adalah Kelompok Orang Tua Panggilan (Ortupang) dari Paroki Katedral Semarang. Ini adalah rombongan keluarga-keluarga yang salah satu atau lebih anggotanya menjadi imam dan atau bruder dan atau suster dan atau seminaris. Dalam romobongan itu ternyata ada juga bruder, suster, dan frater menyertai. Bahkan Bruder Eko FIC tampaknya menjadi tokoh utama dari rombongan ini. Beliau adalah sosok yang tampil memberikan sambutan mewakili rombongan pengunjung.


Ternyata tampilnya Br. Eko sungguh membuat gelak tawa karena dalam omongan sambutan kerap terjadi saling lempar kata dengan Rm. Bambang. Maklumlah keduanya pernah berada bersama di Muntilan ketika Rm. Bambang belum masuk Domus Pacis pada tahun 2010. Tanya jawab juga terjadi. Setiap muncul pertanyaan, terjawab jawaban dari para rama bisa lucu-lucu dan tentu juga menimbulkan gelak tawa. Tetapi, barangkali karena para tamu memiliki anggota yang jadi imam atau biarawan atau biarawati atau seminaris, beberapa kali muncul yang berkaitan dengan siapa yang bisa menjadi penghuni Domus Pacis Santo Petrus. Apakah untuk semua rama? Apakah seorang awam ketika sudah lansia bisa ikut tinggal di Domus? Apakah seorang imam yang bekerja di Keuskupan lain kelak bisa jadi warga Domus? Semua itu terjawab dengan penjelasan bahwa Domus Pacis Santo Petrus adalah rumah milik Keuskupan Agung Semarang. Domus dibuat untuk rama praja Keuskupan Agung Semarang yang mendapatkan SK dari Uskup Semarang menjadi imam yang dibebastugaskan dari tanggungjawab karya pelayanan untuk umat.Tentu saja pembebastugasan terjadi karena kondisi kelansiaan atau karena menderita penyakit yang membutuhan pelayanan khusus dalam keseharian.

Santo Yohanes dari Capestrano

 diambil dari https://www.mirifica.net/santo-yohanes-dari-capestrano-23-oktober-2/

YOHANES dari Capestrano dilahirkan di Italia pada tahun 1386. Ia seorang pengacara dan gubernur kota Perugia. Ketika para musuh yang menyerang kotanya menjebloskannya ke dalam penjara, Yohanes mulai berpikir tentang arti hidup yang sebenarnya. Para musuh politik Yohanes tidak ingin segera membebaskannya. Jadi, Yohanes punya banyak waktu untuk menyadari bahwa hal yang paling penting adalah keselamatan jiwa. Ketika pada akhirnya sekonyong-konyong ia dibebaskan, Yohanes masuk ke sebuah biara Fransiskan. Usianya tiga puluh tahun ketika itu. Bagi Yohanes, hidup sebagai seorang biarawan miskin sungguh merupakan suatu tantangan yang berat. Ia harus mengorbankan kebebasannya demi cintanya kepada Yesus. Dan ia berusaha melakukannya dengan segenap hatinya.

Setelah ditahbiskan menjadi seorang imam, Yohanes diutus untuk berkhotbah. Ia dan St. Bernardinus dari Siena, yang tadinya pembimbing novisnya, menyebarluaskan devosi kepada Nama Yesus yang Tersuci ke berbagai tempat. Yohanes berkhotbah menjelajahi Eropa selama empat puluh tahun. Semua orang yang mendengar khotbahnya tergerak hatinya untuk mengasihi serta melayani Kristus dengan lebih baik.

Suatu peristiwa terkenal dalam hidup orang kudus ini terjadi saat peperangan Belgrade. Turki telah bertekad untuk menguasai Eropa serta membinasakan Gereja Yesus. Paus mengutus St. Yohanes dari Capestrano untuk pergi menghadap semua raja Kristen di Eropa untuk memohon agar mereka bersatu dalam menghadapi pasukan Turki yang amat kuat. Para raja taat kepada biarawan yang miskin serta bertelanjang kaki ini. Ia mengobarkan cinta mereka kepada Tuhan serta menyemangati mereka dengan kata-katanya yang berapi-api. Namun demikian, meskipun suatu balatentara Kristen yang besar bersatu untuk melawan Mohamad II dan pasukan Turkinya, tampaknya mereka akan kalah. Pasukan musuh jauh lebih besar jumlahnya. Pada saat itulah Yohanes sendiri, meskipun usianya telah tujuhpuluh tahun, lari ke garis depan untuk membakar semangat pasukannya agar terus bertempur. Dengan mengangkat salibnya tinggi-tinggi, orang tua yang kurus kecil ini terus berteriak, “Menang, Yesus, menang!” Dan para laskar Kristen itupun merasa jauh lebih bersemangat dari sebelumnya. Mereka bertempur hingga pasukan musuh lari ketakutan.

Santo Yohanes dari Capestrano meninggal tidak selang lama kemudian, pada tanggal 23 Oktober 1456. Ia dinyatakan kudus pada tahun 1724.

“(Para imam) telah ditempatkan di sini untuk memberikan perhatian kepada sesamanya. Hidupnya sendiri haruslah menjadi teladan bagi sesamanya, dengan menunjukkan bagaimana mereka harus hidup di dalam rumah Tuhan.”

Sumber: katakombe.org

Santa Theodosia dari Tirus

diambil dari katakombe.org/para-kudus  Diterbitkan:  11 April 2015  Diperbaharui:  11 April 2015  Hits:  12199 Perayaan 02 April   Lahir Sek...