Thursday, April 25, 2024

Lamunan Pekan Paskah IV

Jumat, 26 April 2024

Yohanes 14:1-6

1 "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. 2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. 3 Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. 4 Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ." 5 Kata Tomas kepada-Nya: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?" 6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. 

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, bisa saja orang kebingungan berhadapan dengan berbagai masalah. Orang bisa tak menemukan jalan keluar.
  • Tampaknya, bisa saja orang dikuasai oleh kegelisahan bahkan tekanan batin berhadapan dengan berbagai tantangan yang membahayakan. Orang bisa gagap sehingga sulit menemukan mana yang benar dan mana yang salah.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, semembingungkan dan semenggelisahkan serta serasa gelap apapun orang menghadapi hidup, kalau bisa melekatkan diri pada relung hati orang berada pada jalan benar yang menjamin cahaya hidup. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar atau tak sadar berada pada jalan benar untuk hidupnya.

Ah, kegelisahan dan kebingungan tentu bermuara pada tekanan batin atau stres.

Benedicere

diambil dari https://wartaindo.news/March 17, 2020

Wartaindonews — BENEDICERE adalah kata dalam bahasa Latin. Kata BENEDICERE terdiri dari kata BENE yang berarti BAIK dan DICERE yang berarti BICARA atau OMONG. Jadi, secara harafiah kata BENEDICERE berarti Berbicara Dengan Baik. Nah, ini sebenarnya adalah himbauan bagi semua orang, ‘Berbicaralah dengan baik!’ bukan sebaliknya. Dengan berbicara dengan baik, sebenarnya orang sudah menjadi berkat bagi orang lain atau sesama. Kan ini sesuatu yang luar biasa. Kita bisa memberkati orang lain. Dengan organ tubuh yang disebut mulut, kita bisa menjadi ‘BERKAT’. Maka, semua orang dalam hidup ini hendaknya menjadi ‘BERKAT’. Kalau semua orang menjadi pembawa berkat bagi orang lain, hidup atau dunia ini menjadi indah, karena orang yang menerima berkat akan menapaki hidup dengan berkat yang mewujud dalam: semangat, rasa percaya diri, bergairah, bergembira, gigih, pantang menyerah, tidak putus asa, dll. Banyak bukti dalam kehidupan sehari-hari, orang menjadi berubah menjadi baik atau lebih baik karena ucapan yang memberkati.

Di Cina, ada seseorang pemain sepak bola bernama Lou Zhu. Suatu hari, mereka bertanding dalam pertandingan besar. Menyadari ini adalah ‘event’ besar, mamanya ingin mendampingi anaknya. Maka, mama Lou Zhu memutuskan untuk ikut ke pertandingan itu. Sebelum masuk ke stadion, mama Lou Zhu mengucapkan kalimat ini: ‘Lou Zhu, kamu pasti bisa mencetak gol ke gawang lawan’. Setelah itu, mama Lou Zhu masuk ke stadion dan mencari tempat di tribun bagian atas. Pertandingan dimulai, pandangan mama Lou Zhu selalu tertuju pada anaknya. Pasti mama Lou Zhu sambil terus mengikuti gerakan anaknya, mama Lou Zhu berdoa agar anaknya bisa mencetak gol. Dan apa yang terjadi, Lou Zhu bisa mencetak gol. Luar biasa!!! Dari mulut seorang ibu yang memberkati sebuah prestasi besar terwujud. Inilah kekuatan berkat atau ‘BENEDICERE’.

Nah, apa yang terjadi kemudian setelah Lou Zhu mencetak gol ke gawang lawan, Lou Zhu bukannya kembali ke tengah lapangan untuk memulai pertandingan lagi. Lou Zhu lari keluar lapangan, naik ke tribun bagian atas untuk menemui mamanya. Adegan yang sangat indah ini terjadi di sana, seorang anak berpelukan dengan mamanya dalam suasana penuh sukacita. Sukacita buah dari ucapan yang memberkati. Suasana stadion menjadi gempar karena aksi seorang pemain bola yang langka.

Terinspirasi peristiwa Lou Zhu yang terbakar semangatnya oleh kata berkat mamanya, saya pernah melakukannya. Ceritanya, saya mempunyai seorang siswi, sebut saja namanya Sakura (bukan nama sebenarnya). Dia berasal dari dari kota kecil di Jawa Timur. Sakura kalau sedang mengikuti pelajaran di kelas menunjukkan sikap yang tidak simpatik. Apa yang Sakura lakukan sangat kontras bila dibandingkan dengan siswa siswi yang lain. Siswa siswi yang lain sangat fokus pada pelajaran, sedangkan Sakura sangat tidak peduli pada pelajaran. Kalau tidak tidur, ya meletakkan kepala di meja. Pada kesempatan lain, matanya tertuju ke arah lain, tidak pada guru yang sedang menerangkan. Tatapan mata Sakura nanar atau kosong. Super cuek. Guru-guru sudah tidak mau mengurusi Sakura. Bahkan Sakura pernah dibahas dalam rapat dewan guru untuk diserahkan kembali ke orangtua, bila Sakura tidak berubah atau menjadi lebih baik. Menyadari keadaan yang bisa dikatakan gawat, saya mencoba berusaha mendekati Sakura untuk mendampinginya. Melalui pendekatan yang sangat hati-hati, Sakura mau membuka hati dan mau bercerita tentang apa yang terjadi pada dirinya. Apa yang melatarbelakangi sikap Sakura yang super cuek di dalam kelas. Akhirnya, akar penyebab Sakura menjadi siswi yang super cuek ditemukan dan masalahnya berasal dari keluarga. Ayah Sakura memiliki WIL (Wanita Idaman Lain). Sebagai seorang anak yang menginginkan agar keluar tetap utuh, Sakura sering mengingatkan ayahnya untuk tidak melanjutkan hubungan dengan WIL-nya. Tetapi apa yang terjadi apabila Sakura memperingatkan ayahnya, Sakura justru menerima bogem mentah alias dipukul. Menerima perlakuan kejam dari ayahnya dan menyaksikan keadaan keluarga semakin buruk, Sakura sangat sedih, prihatin dan akhirnya menjadi ‘nglokro’, putus asa. Sakura tidak punya semangat untuk hidup dan hidup semaunya sendiri. Sakura benar-benar lepas kendali. Sakura lakukan apa saja yang Sakura kehendaki, narkoba, hubungan seks bebas dan tidak serius sekolah.

Mendengar kisah Sakura yang menyedihkan itu, saya ingin menjadi berkat melalui mulut saya dengan memberi penghiburan, dorongan, semangat, agar Sakura bangkit dari keterpurukannya, lebih-lebih sehubungan dengan prestasi belajarnya. Bayangkan hasil belajar Sakura, 2 kali rapotan menunjukkan hasil yang jeblok atau sangat buruk. Dari 13 mata pelajaran hanya 2 yang hitam (waktu itu, rapotan masih menggunakan sistim catur wulan). Sakura masih punya waktu 1 catur wulan. Waktu ini harus digunakan dengan optimal jika ingin bisa naik kelas. Untuk itu, saya tiap kali mengingatkan Sakura untuk belajar yang baik agar bisa naik kelas. Inilah kata berkat yang saya katakan pada Sakura. ‘Saya tahu ayahmu itu kejam, baik terhadap ibumu maupun kamu sendiri. Tapi kamu jangan ‘bunuh diri’ dengan menggagalkan studimu, yang berarti kamu merusak masa depanmu sendiri. Ayo bangkit. Masih ada kesempatan 1 catur wulan lagi. Kamu pasti bisa mengejar ketinggalan. Kamu pasti bisa naik. Saya yakin itu’.

Akhirnya, berkat dorongan saya, Sakura berhasil naik kelas. Maka, marilah kira selalu berbicara baik dan menjadi berkat. Dari mulut yang sama bisa keluar berkat atau kutuk, tergantung pada pribadi masing-masing. Di era komunikasi yang luar biasa ini, sayang banyak orang tidak menggunakan mulutnya untuk menyampaikan berkat bagi orang lain, tetapi justru untuk hal-hal yang tidak baik. Banyak muncul di WA ujaran kebencian, berita bohong, dll. Banyak orang suka ngrumpi tentang orang lain, terutama membicarakan kekurangannya.

Sehubungan dengan ‘BENEDICERE’, saya ingat iklan Coca Cola: ‘Siapa saja, kapan saja, dimana saja’. Orang bisa menyalurkan kata berkat kepada siapa saja. Kepada anak kita, pada pagi hari waktu mau berangkat sekolah: ‘Belajar yang baik, hati-hati di jalan’. Di WA, pada anggota saling mengirim ucapan sebelum tidur: ‘Good night, may sweet dreams carry you through the night’. Bahkan nenek-nenek menyalurkan berkat kepada cucunya dengan ‘MENGUDANG’. Saya mempunyai tetangga, seorang nenek yang hampir setiap hari mengudang cucunya: ‘Tong dudu blek… blek dudu tong… suk nek gedhe dadi apa? Doktel… dadi Doktel!! (Tong bukan blek… blek bukan tong… besuk kalau sudah besar jadi apa? Dokter… jadi Dokter!!. Setiap orang hendaknya menjaga ucapannya, sehingga dari mulutnya keluar ucapan-ucapan yang baik, yang memberkati. Dengan berbicara yang baik menjadi berkat. Dari ‘BENEDICERE’ menjadi ‘BENEDICTIO’.

Penulis: Ph. Ispriyanto

KONTRIBUTOR

Wednesday, April 24, 2024

Santo Markus, Penulis Injil

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 10 Agustus 2013 Diperbaharui: 13 September 2020 Hits: 26707

  • Perayaan
    25 April
  •  
  • Lahir
    Hidup abad pertama
  •  
  • Kota asal
    Siprus
  •  
  • Wilayah karya
    Palestina, Asia kecil, Roma, Mesir
  •  
  • Wafat
  •  
  • 25 April 68 di Alexandria, Mesir | Martir
    Menurut tradisi Markus diikat tali dilehernya lalu diseret sepanjang jalan sampai ia mati
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Markus hidup pada jaman Yesus. Ia bukan salah seorang dari kedua belas rasul Kristus, melainkan saudara sepupu St. Barnabas Rasul (Kis 12:25).  Markus menjadi terkenal karena ia menulis satu dari keempat Injil. Sebab itu ia disebut pengarang Injil.

Injil Markus cukup singkat, tetapi memberi banyak keterangan terperinci yang tidak terdapat dalam Injil lainnya. Ketika masih muda, Markus pergi bersama dua rasul besar, Paulus dan Barnabas, dalam suatu perjalanan kerasulan untuk mewartakan ajaran Yesus pada bangsa-bangsa lain.

Namun sebelum perjalanan berakhir, tampaknya Markus berselisih dengan Paulus. Markus mendadak kembali ke Yerusalem meninggalkan Paulus dan Barnabas di Pamfilia. Hal ini menyebabkan Paulus dan Barnabas berselisih. (kis 15:35-41). Paulus dan Markus akhirnya dapat mengatasi perselisihan mereka. Malahan, dari penjara di Roma, Paulus menulis : "... Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku". (2 Tim 4:11).

Markus juga menjadi murid kesayangan St. Petrus, paus pertama kita. Petrus menyebut St. Markus sebagai “anakku.” (1 ptr 5:13) Karena itu, sebagian orang beranggapan bahwa dengan ini Petrus hendak mengatakan bahwa dialah yang membaptis Markus.

Markus ditahbiskan sebagai uskup dan diutus ke Alexandria, Mesir. Di sana ia berkarya dengan gemilang dan mempertobatkan banyak orang. Markus dianggap sebagai pendiri Gereja Aleksandria, yang sekarang menjadi gereja Koptik (Markus disebut sebagai Paus Pertama Gereja Koptik). Bagian-bagian liturgi Gereja Koptik dapat ditelusuri kembali ke Santo Markus sendiri. Dia juga dihormati sebagai pendiri kekristenan di Afrika. Menurut tradisi Markus akhirnya harus mengalami penderitaan yang panjang serta menyakitkan sebelum ia wafat sebagai martir pada tahun 68 di Aleksandria.

Pada 828 Jenazah St. Markus dicuri dari Alexandria oleh seorang pedagang Venesia dan dibawa ke Kota Venesia. Seluruh rakyat Venisia menyambut kedatangan Relik tubuh Orang Suci ini dan segera menjadikannya sebagai Santo Pelindung bagi kota mereka. Sebuah Basilika yang indah kemudian dibangun di Kota Venisia sebagai tempat penghormatan bagi Santo Markus.

Pada bulan Juni tahun 1968, Paus Koptik Cyril VI dari Aleksandria mengirimkan delegasi resmi ke Vatican untuk menerima kembali Relik dari St. Markus dari Paus Paulus VI. Delegasi ini terdiri dari sepuluh Metropolitan (Uskup Agung) dan uskup, tujuh di antaranya adalah uskup Koptik dan tiga Uskup Gereja Ethiopia, serta tiga pemimpin awam Gereja Koptik.

Delegasi dari Afrika menerima relik Santo Markus pada tanggal 22 Juni 1968.  Keesokan harinya, mereka merayakan liturgi bersama Paus di Kapela Santo Athanasius di Roma. Para Metropolitan, uskup, dan imam delegasi semua berpartisipasi dalam liturgi tersebut (sebuah perayaan misa ekumenis yang mengharukan).

Relik kemudian dibawa kembali ke Aleksandria dan disemayamkan di Saint Mark's Coptic Orthodox Cathedral Aleksandria Mesir. Gereja Kathedral Koptik ini dibangun di atas sebuah gereja yang pernah dibangun oleh Santo Markus sendiri di tahun 60.

Lamunan Pesta

Santo Markus, Pengarang Injil

Kamis, 25 April 2024

Markus 16:15-20

15 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. 16 Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. 17 Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, 18 mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." 19 Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. 20 Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, pada umumnya orang Kristiani tahu misi utama yang diamanatkan oleh Tuhan Yesus. Orang harus mewartakan Injil di manapun.
  • Tampaknya, tak sedikit yang memahami Injil sebagai buku-buku yang ada dalam Kitab Suci. Pemberitaan Injil menjadi penyebarluasan agama Kristiani.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun dalam Kitab Suci orang Kristiani ada buku-buku yang dinamai Injil, kesejatian pewartaan Injil adalah perjuangan ikut membawa kegembiraan umum karena bebas dan dibebaskan dari pengaruh-pengaruh kekuatan jahat. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar bahwa mewartakan Injil berarti ikut memperjuangkan kebaikan umum.

Ah, mewartakan Injil itu ya menambah baptisan baru.

Karyawan Ganjuran

Barangkali di mata banyak orang ini adalah peristiwa biasa. Ini perkara KUNJUNGAN. Sejak di Puren, Pringwulung, para rama di Domus Pacis biasa menerima tamu. Macam-macam tamu yang biasa datang ada yang rombongan besar dan ada rombongan kecil. Kedatangan tamu ada yang kunjungan biasa dan biasa omong-omong dengan para rama sepuh yang menyambut. Ada juga yang datang minta rekoleksi kecil yang sering pula diteruskan dengan Misa. Selain itu ada rombongan tamu yang menjadikan Domus sebagai salah satu destinasi acara perjalanan, bahkan ada yang sekedar mampir untuk melihat sekilas Domus. Nah, salah satu rombongan tamu Selasa 23 April 2024 termasuk macam terakhir. Ini adalah rombongan dari Ganjuran. Pada hari itu jam 08.27 Rm. Bambang mendapat WA dari Rm. Darmadi, salah satu Pastor Ganjuran, "Berkah Dalem, sekitar jam 10.00 saya dg karyawan paroki Ganjuran mau kunjungan ke Domus. Nuwun Romo". Ternyata Rm. Darmadi bersama Rm. Sugihartanta, Pastor Kepala Ganjuran, datang bersama para karyawannya. Mereka mengadakan perjalanan dalam rangka 100 tahun ulang tahun paroki ke makam-makam para rama yang pernah berkarya di Ganjuran. Ketika di makam para rama di Kentungan, mereka menyempatkan diri mampir Domus. Rm. Sugihartanta menyelipkan amplop sumbangan ke Rm. Hartanta, Direktur Domus. Ketika duduk-duduk omong-omong, para karyawan tampak akrab berkelakar dengan Rm. Bambang. Maklumlah, dulu Rm. Bambang selain mendampingi Jagongan Iman Wilayah Ngireng-ireng juga menjadi pengisi pertemuan Malam Jumat Kliwon di Candi Ganjuran. Ternyata di dalam pertemuan itu ada satu hal yang amat mengesan di mata Rm. Bambang. Ini diungkapkan dengan kata-kata "Sebetulnya kunjungan ini kurang membuat semangat untuk saya" katanya yang langsung disergap oleh salah satu tamu "Kenging napa, rama" (Apa sebabnya?). Rm. Bambang memberi penjelasan "Biasanya tamu-tamu Domus lebih banyak perempuannya. Tapi ini? Masakan terlalu banyak laki-lakinya" dan tawapun meledak.

Tuesday, April 23, 2024

Santa Maria Euphrasia Pelletier

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 27 April 2014 Diperbaharui: 31 Mei 2014 Hits: 9168

  • Perayaan
    24 April
  •  
  • Lahir
    31 Juli 1796
  •  
  • Kota asal
    Noirmoutier, Vendée, Perancis
  •  
  • Wafat
  •  
  • 24 April 1868 di Angers, Maine-et-Loire, Perancis - Sebab alamiah
  •  
  • Venerasi
    24 Februari 1924 oleh Paus Pius XI
  •  
  • Beatifikasi
    30 April 1933 oleh Paus Pius XI
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • 2 Mei 1940 oleh Paus Pius XII

Santa Maria Euparasia Pelletier lahir pada tanggal 31 Juli 1796 disebuah daerah pengungsian di pulau Noimoutier - Perancis.  Ia dibabtis dengan nama Rose Virginie PelletierAyahnya, Julian Pelletier adalah seorang dokter. Ibunya bernama Anne Mourain.  Perkawinan kedua orangtuanya berlangsung ketika sang ayah berumur 29 tahun, dan ibunya berumur 20 tahun. Ketika itu mereka tinggal di Soullans, sebuah daerah dataran rendah yang indah di Perancis.

Pada bulan Januari 1793 meletuslah Revolusi Perancis. Kehidupan Gereja turut terguncang karena revolusi berdarah ini.  Banyak imam yang dibunuh oleh orang-orang yang membenci gereja. Namun sayang bahwa penjahat-penjahat itu tidak ditangkap dan dihukum. Mereka dibiarkan berkeliaran dan melakukan berbagai aksi kejahatan. Mengingat bahaya yang menimpa imam-imam, maka keluarga Pelletier menyembunyikan pastor Paroki Soullans di rumahnya. Tetapi hal ini kemudian diketahui oleh para penjahat itu. Pastor itu ditangkap dan kemudian dibunuh. Merasa terancam, keluarga Pelletier lalu pindah ke pulau Noimoutier, tempat kelahiran Rosa Virginia Pelletier. Rosa dididik secara Katolik dalam lingkungan yang sangat baik. Semenjak kecil ia dilatih untuk bekerja keras dan berkelakuan baik terhadap orang lain.

Setelah hidup lama di Noimoutier, dokter Pelletier meninggal dunia. Ibu Anne mengalami goncangan batin yang hebat karena kematian suaminya. Semenjak itu ia sendirilah yang harus bersusah payah membesarkan Rosa kecil. Kepedihan yang sama menimpa Rosa, yang tak lama kemudian menerima sakramen Permandian dan Penguatan. Kemudian setelah situasi umum di Soullans aman dan damai, ibu Anne bersama Rosa pindah kembali ke daerah asalnya Soullans. Disini, Rosa dimasukkan ke dalam asrama untuk melanjutkan pendidikannya. Di asrama ini, Rosa berusaha selalu menampilkan diri sebagai gadis yang menyenangkan banyak orang. Sikap dan tingkah lakunya berbeda sekali dengan teman-temannya. Ia seorang gadis yang tenang, alim, tidak suka memberontak dan rajin membantu orang lain. Dengan senang hati ia membantu suster pemimpin asrama untuk menertibkan rekan-rekannya. Pendidikannya di asrama ini sungguh menyiapkan dia untuk menjadi seorang suster yang saleh di kemudian hari.

Sementara berada di asrama, peristiwa duka lain menimpa dirinya. Constan, saudaranya meninggal dunia. Enam bulan setelah kematian Constan, ibunya tercinta meninggal dunia juga. Semua peristiwa yang datang beruntun ini meninggalkan luka batin yang cukup dalam di hati Rosa. Ia terus saja memikirkan ayahnya, ibunya dan saudaranya. Tetapi inilah saat yang tepat bagi Tuhan untuk bertindak atas diri Rosa. Pada suatu hari, dia bersama kawan-kawannya berkunjung ke biara suster-suster Kongregasi Santa Maria Pengasih. Disini mereka merayakan Misa Kudus bersama suster-suster itu. Peristiwa ini menumbuhkan dalam hatinya minat untuk menjalani hidup sebagai seorang suster. Maksud hatinya untuk menjadi seorang suster diberitahukan kepada kakaknya Anne Yosefin dan Marsaud, suami Anne. Tetapi cita-citanya itu tidak disetujui. Saudaranya tidak menyetujui kalau Rosa masuk biara itu. Ia boleh masuk biara lain seperti biara Santa Ursula. Namun demikian, Rosa tidak putus asa. Ia terus berdoa agar Tuhan memberikannya jalan. Akhirnya kedua kakaknya menyetujui cita-cita Rosa. Pada tanggal 20 Oktober 1814, Rosa pergi ke Tours untuk menjalani hidup membiara.

Setelah menjalani masa postulan selama 11 bulan, Rosa memasuki masa novisiat. Ia diberi nama baru "Maria Euphrasia". Ia giat mempelajari Kitab Suci dan rajin membaca riwayat hidup orang-orang Kudus. Pada tanggal 9 September 1817, ia mengucapkan kaulnya yang pertama: kemiskinan, ketaatan, kemurnian dan pengabdian untuk keselamatan kaum wanita. Jubah mereka khas. Warna putih. Di bagian dada tergantung salib biru yang melambangkan sengsara Kristus. Disamping salib terdapat sejenis kalung dengan medali bergambar Santa Perawan Maria dan Kanak-Kanak Yesus, dikelilingi bunga bakung dan sekuntum mawar yang melambangkan cinta abadi.

Sebagai seorang suster muda, Euphrasia melaksanakan tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya dengan penuh semangat. Ia ditugaskan di bidang pendidikan anak-anak asuhan yang ada dalam biara itu, dan berusaha agar mereka bisa kembali ke masyarakat sebagai orang-orang yang berguna. Karena kesalehan dan kepribadiannya yang menarik, dia diangkat sebagai pemimpin biara pada tahun 1825. Dalam tugas baru ini, ia berusaha dengan bantuan Tuhan untuk mengembangkan biaranya. Cintanya kepada santa Theresia dari Avilla sangat besar. Karena itu ia lebih condong kepada cara hidup karmelit. Atas izin pimpinan biara Karmelit, ia memadukan aturan-aturan Ordo Karmelit dan Anggaran Dasar Biaranya sendiri; dan kemudian membentuk sebuah konggregasi baru yang ia diberi nama : Congregation of Our Lady of Charity of the Good Shepherd (Konggregasi Suster-suster Gembala baik).  Suster Maria Eupharasia kemudian diakui sebagai Superior-Jenderal Kongregasi yang pertama pada tanggal 9 Januari 1831. Empat tahun kemudian Konggregasi ini mendapat persetujuan dari Paus Gregory XVI pada tanggal 16 Januari 1835.

Banyak orang yang tertarik pada cara hidup konggregasi yang baru ini. Mula-mula ada empat orang menggabungkan diri di bawah bimbingannya. Mereka segera menyebarluaskan wilayah kerjanya ke beberapa kota, antara lain Tours dan Angers. Kemudian meluas lagi meliputi berbagai negara seperti  Italia, Jerman, Belgia, Inggris, Aljazair, Amerika Serikat, Kanada, Mesir, Irlandia, Austria, India, Chili, Malta, Belanda, Australia, Myanmar dan bahkan sampai ke Indonesia.

Suster Maria Eupharasia tutup usia pada tanggal 24 April 1868 karena penyakit yang dideritanya selama masa tuanya.  Pada akhir hidupnya, ia menyaksikan Konggregasi yang didirikannya telah berkembang pesat; memiliki lebih dari 2.000 orang suster dan lebih dari 100 biara yang tersebar lima benua.  Ia dinyatakan kudus  oleh Paus Pius XII pada tanggal 2 Mei 1940.

Lamunan Pekan Paskah IV

Rabu, 24 April 2024

Yohanes 12:44-50

44 Tetapi Yesus berseru kata-Nya: “Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku; 45 dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku. 46 Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. 47 Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. 48 Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman. 49 Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. 50 Dan Aku tahu, bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan, Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepada-Ku.”

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, pada umumnya orang beragama percaya bahwa Tuhan Mahaadil. Sebutan ini kerap digambarkan bagaikan hakim.
  • Tampaknya, sebagai Hakim yang Mahaadil Tuhan tak akan terpengaruh apapun. Tuhan akan memberi anugrah dan atau hukuman sungguh sesuai realita hidup seseorang.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun akan penjadi kunci penghakiman akhir zaman, Kemahaadilan Tuhan justru terjadi dalam keprihatinan-Nya untuk penyelamatan manusia dan kalau terjadi hukuman itu adalah konsekuensi ketertutupan orang pada suara dalam relung hatinya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang percaya bahwa dalam Tuhan hanya ada kehendak dan perjuangan untuk penyelamatan manusia.

Ah, kalau berdosa jelas Tuhan akan menghukum.

Santa Theodosia dari Tirus

diambil dari katakombe.org/para-kudus  Diterbitkan:  11 April 2015  Diperbaharui:  11 April 2015  Hits:  12199 Perayaan 02 April   Lahir Sek...