Wednesday, December 27, 2023

Natalan Kuria KAS

Pada hari Selasa pagi 26 Desember 2023 Rm. Hartanta dan Rm. Bambang melayani Misa di luar Domus Pacis Santo Petrus. Kalau Rm. Hartanta ke Jalan Wonosari, Rm. Bambang memimpin Misa di salah satu keluarga di Mejing, Paroki Gamping. Tetapi pada jam 12.00 Rm. Bambang sudah berada kembali di Domus. Ketika membuka HP Rm. Bambang menemukan pesan WA pada jam 12.13 dari Rm. Hartanta "Kalau jadi kuria mau rawuh berkunjung jam 13-an. ..... Kalau sudah di rumah, nyuwun tulung nggih. Saya masih di jalan wonosariii".


Beberapa menit selewat jam 13.00 seorang karyawan memberi tahu kepada Rm. Bambang bahwa Bapak Uskup sudah datang. Ketika keluar kamar, Rm. Bambang melihat kamar-kamar deretan kamarnya sudah tutup pintu. Rm. Bambang meminta karyawan untuk masuk kamar-kamar melihat romo-romo sudah tidur. Ketika Rm. Bambang menghampiri Mgr. Rubiyatmoko, menyusullah beberapa romo sepuh lain penghuni Domus. Dari Kuria Keuskupan yang hadir adalah Uskup, Vikjen, Sekretaris, ekonom, dan wakil ekonom. Sementara itu para romo Domus yang menyambut adalah Rm. Yadi, Rm. Ria, Rm. Jarot, dan Rm. Bambang. Perjumpaan yang terjadi seperti perjumpaan keluarga yang lama tidak ketemu. Suasana segar penuh kelakar amat mencolok. Omongan paling "hot" adalah tentang diet para romo Domus dan "pesta-pesta"ulang tahun imamat, Malam Natal/Paskah, peringatan arwah, ulang tahun pemberkatan rumah, dan pembaruan janji baptis.

Santa Fabiola, Janda

teks diambil dari  https://santoyosephpalembang.or.id/2015/10/28/orang-kudus-28-desember


Fabiola Iahir di Roma pada pertengahan abad ke-4 dari sebuah keluarga ningrat. Masa mudanya sangat tidak terpuji. Mula-mula ia menikah dengan seorang pemuda yang bejat hidupnya. Karena tidak tahan maka ia berusaha cerai. Setelah ia berhasil secara sipil, ia menikah Iagi dengan lelaki lain. Sebagai orang Kristen, tindakannya ini sangat tidak terpuji dan mencoreng nama baik Gereja. Namun Tuhan rupanya tidak sudi membiarkan Fabiola bertindak semakin sembrono. Tuhan mulai campur tangan.

Tidak lama kemudian dua laki-laki yang menjadi suaminya itu meninggal dunia. Fabiola sendiri menyesali sikap hidupnya dan bertobat. Ia menaati aturan hidup sebagai anggota Gereja, melakukan silih di hadapan seluruh umat sehingga diterima kembali sebagai anggota Gereja. Pertobatannya secara terbuka dilakukannya di muka basilik Lateran. Paus Santo Siricius menerimanya kembali dalam pangkuan ibu Gereja.

Corak hidupnya yang baru diwarnai dengan pengabdian tulus dalam karya-karya cinta kasih. Harta bendanya ia manfaatkan untuk kepentingan Gereja Roma. Ia mendirikan rumah sakit khusus untuk membantu orang-orang miskin. Para pasiennya adalah gelandangan-gelandangan yang ditemuinya di jalan-jalan atau yang meringkuk di dalam penjara. Rumah sakit ini menampung siapa saja sehingga menjadi semacam rumah sakit umum pertama dalam sejarah Barat.

Pada tahun 395 Fabiola berziarah ke Yerusalem dan mengunjungi Santo Hieronimus, Santa Paula dan Santa Eustakium. Ketika itu Hieronimus sedang bermusuhan dengan Uskup Rufinus berkenaan dengan ajaran Origenes yang ditentangnya. Orang berusaha mempengaruhi Fabiola agar memihak Rufinus. Namun Fabiola tetap mendukung Hieronimus, gurunya. Fabiola mendirikan sebuah biara dan membantu Hieronimus dalam usaha menerjemahkan Kitab Suci. Tetapi kemudian ia pindah dari biara itu: biara itu menjadi tempat ziarah yang sangat ramai; kondisi hidup umat sangat tidak menyenangkan: umat Kristen terpecah-pecah, dan dari luar ada ancaman serangan bangsa Hun, dll.

Untuk sementara Fabiola dengan kawan-kawannya mengungsi ke Jaffa, sambil menantikan ketenteraman di Yerusalem. Setelah keadaan pulih dan aman, Fabiola pulang ke Roma dan kawan-kawannya kembali ke Yerusalem. Di Roma masih terdapat banyak masalah. Meskipun demikian, Fabiola tetap meneruskan karya cintakasihnya selama tahun-tahun terakhir hidupnya. Bersama Santo Pammachius, ia mendirikan rumah sakit umum besar di Porto untuk peziarah yang miskin dan sakit. Dalam satu tahun saja rumah sakit itu terkenal dari Parthia sampai ke Britania. Fabiola wafat pada tahun 399. Ia sangat dicintai dan dihormati.

Sumber : www.imankatolik.or.id

Lamunan Pesta

Kanak-kanak Suci, Martir

Kamis, 28 Desember 2023

Matius 2:13-18

13 Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia." 14 Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, 15 dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku."

16 Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. 17 Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: 18 "Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, ada gambaran yang namanya selamat adalah kondisi damai sejahtera. Itu adalah situasi dan kondisi yang bebas dari marabahaya.
  • Tampaknya, ada gambaran penyelamatan adalah upaya pembebasan dari marabahaya. Itu adalah upaya penghadiran kedamaian dan kesejahteraan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sekalipun penyelamatan adalah upaya pembebasan dari marabahaya, kalau itu dilandaskan pada ketaatan pada bisikan relung hati selalu saja ada penentangan yang juga selalu menyertakan korban. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati seberat apapun penderitaan disandang, kalau itu merupakan akibat keganasan penentang kebaikan, si korban justru jadi saksi luhur akan hadirnya kebaikan. 

Ah, bagaimanapun juga yang namanya korban keganasan itu jelas celaka.

Tuesday, December 26, 2023

Kunjungan Pertama Sesudah Natal


Ini adalah hati Selasa 26 Desember 2023. Rm. Hartanta sudah mengatakan beberapa hari sebelumnya bahwa akan melayani Misa di Jalan Wonosari. Sementara itu Rm. Bambang pada akhir November 2023 sudah meminta ijin pada hari itu untuk memimpin Misa Peringatan Arwah di Mejing, Paroki Gamping. Bersamaan dengan kepergian dua romo itu, pada hari yang sama akan datang rombongan tamu dari Kumetiran. Rm. Hartanta meminta Rm. Jarot untuk menjadi "komandan" penerimaan tamu. Kata Rm. Jarot tamu itu memang datang dan masuk Domus pada sekitar jam 09.30. Yang hadir adalah Panitia Natal Kumetiran 2023. Bersama Rm. Jarot yang ikut menyambut adalah Rm. Yadi, Rm. Ria, Rm. Harto, dan Mgr. Blasius.

Beberapa peristiwa dalam penerimaan tamu dari Kumetiran hari itu terekam dalam gambar-gambar foto. Rm. Bambang meneriman kiriman lewat HP dari Rm. Jarot. Rm. Jarot menyertakan narasi tertulis "Tamu pagi ini dari Kemetiran sudah selesai, dan ada Romo CeCe sebagai pendamping..trimakasih". Rm. Cece adalah Pastor Paroki Kumetiran. Ketika menerima gambar-gambar itu sebenarnya Rm. Bambang heran karena ada 1 gambar di ruang makan menunjukkan para romo sedang santap. Dan itu baru dipahami beberapa jam kemudian ketika Rm. Bambang melihat kembali. Ternyata untuk gambar itu ada narasi "Ada kunjungan dari Romo Minarto dari Mojosongo, Solo. Membawa parsel oleh-oleh di meja makan berupa parsel. Terimakasih". Ketika omong-omong di sore hari Rm. Jarot menjelaskan bahwa Rm. Minarto, Pastor Paroki Mojosongo, mampir Domus dalam perjalanan mau mengunjungi keluarga. Barangkali Rm. Minarto memiliki hubungan batin dengan Domus Pacis karena pernah tinggal beberapa bulan bersama para romo sepuh di Domus Pacis Puren, Pringwulung.

Santo Yohanes Rasul

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 08 Agustus 2013 Diperbaharui: 12 Agustus 2021 Hits: 39996

  • Perayaan
    27 Desember
  •  
  • Lahir
    Hidup abad pertama
  •  
  • Kota asal
    Galilea - Israel
  •  
  • Wilayah karya
    Galilea, Yerusalem, Efesus, Asia Kecil
  •  
  • Wafat
  •  
  • Sekitar tahun 100, di Efesus (Sekarang Turki)
    Sebuah Basilika yang indah pernah dibangun diatas makamnya di Efesus oleh kaisar Justinian I pada abad ke-6; Basilika tersebut saat ini hanya tinggal reruntuhan.
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

St. Yohanes adalah seorang nelayan di Galilea. Ia, bersama dengan St. Yakobus saudaranya, dipanggil untuk menjadi rasul Kristus. Yesus memberi julukan “anak-anak guruh” kepada kedua putera Zebedeus ini.

St. Yohanes adalah rasul yang termuda. Ia amat dikasihi oleh Yesus, dan iapun amat mengenali Yesus Sang Guru. Pada perjamuan malam terakhir, Yohanes diperbolehkan menyandarkan kepalanya di dada Yesus. Yohanes juga satu-satunya rasul yang berdiri di kaki salib sementara yang lain melarikan diri. Yesus yang sedang menghadapi ajal menyerahkan pemeliharaan Bunda-Nya kepada murid yang dikasihi-Nya ini. Sambil memandang Bunda Maria, Ia berkata, “Inilah ibumu.” (Yoh 19:26-27). Jadi, hingga akhir hidupnya di dunia, Bunda Maria tinggal bersama St. Yohanes. Hanya Yohanes seorang yang memperoleh hak istimewa untuk menghormati serta melayani Bunda Allah yang tanpa noda.

Setelah penyaliban Yesus dan hari paskah berlalu, pagi-pagi sekali Maria Magdalena dan beberapa wanita membawa rempah-rempah ke makam Yesus untuk meminyaki Tubuh-Nya sesuai kebiasaan orang Yahudi. Mereka kembali dengan berlari-lari kepada para rasul untuk menyampaikan suatu berita yang mengejutkan. Tubuh Yesus telah hilang dari makam. Petrus dan Yohanes pergi untuk menyelidiki hal itu. Hati Yohanes yang bergetar hebat membuat ia berlari dengan sangat cepat dan tiba terlebih dahulu, tetapi karena ia menghormati Petrus; ia tidak mau mendahului Petrus untuk masuk ke dalam kubur.  Walau ia merupakan murid yang paling dikasihi Yesus; tapi Yohanes adalah orang yang sangat rendah hati.  Ia masih menunggu sampai Petrus datang dan masuk ke dalam makam terlebih dahulu. Baru sesudahnya, ia masuk dan melihat kain kafan yang telah tergulung rapi.

Kemudian, dalam minggu itu juga, para murid sedang memancing di Danau Tiberias tanpa hasil. Seseorang yang berdiri di pantai mengatakan kepada mereka untuk menebarkan jala ke sisi lain perahu. Ketika mereka menarik kembali, jala tersebut penuh dengan ikan-ikan besar. Yohanes adalah orang pertama yang mengenali siapa Orang itu. Tapi dengan kerendahan hati yang luar biasa ia terlebih dahulu mendekati Petrus dan berkata, “Itu Tuhan!”.  Petrus si Batu Karang segera saja terjun ke danau dan berenang ke pantai menuju Tuhan; sedangkan Yohanes dan para Rasul yang lain tetap datang dengan perahu. (Yoh 21:1-14)

Kedekatan St. Yohanes dengan Yesus tercermin dalam pertanyaan Petrus ini :

"Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini..?"  (yoh 21:21).

Saat itu Yesus menjawab :

"Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau : ikutilah Aku". 

Pernyataan Yesus ini membuat para rasul yang lain sempat berpikir kalau Yohanes tidak akan mati. 

Dengan turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta, para rasul menjadi penuh dengan kuasa dan keberanian mewartakan Injil.  Mereka mulai menyebarkan kabar gembira dan mengadakan banyak mijizat dalam nama Yesus. Dalam kitab Kisah Para Rasul, Santo Lukas mencatat bagaimana Petrus dan Yohanes menyembuhkan seorang pengemis lumpuh di Gerbang Indah Bait Allah dengan berkata : ".. Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" (kis 3:6).   

Setelah jemaat perdana di Yerusalem terbentuk, para Rasul terus mewartakan injil ke segala penjuru dunia. Yohanes berkarya dari Yerusalem sampai ke kota Efesus (sekarang : Selçuk, Provinsi İzmir, Turki). Ia tinggal di kota ini dan menjadi memimpin umat beriman (Uskup) sampai akhir hidupnya. Di kota ini pula Yohanes diyakini menulis Injil keempat, tiga buah surat Gembala, dan Kitab terakhir dari Perjanjian Baru : kitab Wahyu.

Yohanes hidup hampir seabad lamanya. Walau Ia tidak wafat sebagai seorang martir,  tetapi sungguh ia menjalani hidup yang penuh penderitaan. (Tradisi lain menyatakan bahwa Rasul Yohanes mati sebagai martir; tapi tradisi ini kurang diterima karena tidak mampu menyebutkan dimana tempat kemartiran Rasul Yohanes). Di tahun-tahun terakhir hidupnya, ketika ia tidak lagi dapat berkhotbah, para muridnya tetap dengan setia membawanya ke tengah jemaat. Pesannya yang terakhir sangat sederhana;  “Anak-anakku, kasihilah seorang akan yang lain.”  Ia wafat di Efesus sekitar tahun 101 M.

Banyak kisah-kisah mujizat yang menurut tradisi diadakan oleh Rasul Yohanes. Sebagian mungkin hanyalah "mitos".  Beberapa di antaranya : 

  1. Ketika Yohanes sedang dalam perjalanan untuk berkhotbah di Asiakapalnya rusak dalam badaisemua orang berhasil menyelamatkan diri ke pantai, kecuali Yohanes. Yohanes kemudian dinyatakan meninggal. Tapi dua minggu kemudian gelombang laut melemparkan Yohanes ke pantai dan jatuh di dekat kaki Prochoros salah seorang muridnyadalam keadaan hidup.
  2. Ketika Yohanes mengatakan penyembahan berhala adalah pekerjaan iblis, para pemuja dewi Artemis melemparinya dengan batu.  Batu-batu yang dilemparkan mental dan mengenai para pelempar.
  3. Yohanes berdoa di sebuah kuil Artemislalu turunlah api dari langit yang membakar 200 orang yang sedang menyembah berhala itu. Ketika sebagian  orang yang tersisa memohon belas kasihania membangkitkan kembali 200 orang yang sudah mati. Mereka semua kemudian bertobat dan dibaptis.
  4. Mengusir setan yang sudah berdiam dalam  sebuah kuil pagan selama 249 tahun.
  5. Dalam sebuah pelayaran, persediaan air diatas kapal habis. Yohanes kemudian mengubah air laut menjadi air tawar untuk diminum.
  6. Seorang pesulap bernama Ceonopsberpura-pura dapat menghidupkan kembali tiga orang yang sudah meninggal.  Tiga "Orang"  mati tersebut sebenarnya adalah iblis yang bersekutu dengan pesulap tersebut.  Melalui doa, Santo Yohanes mengagalkan tipu muslihat penyihir itu dan setan-setan sekutunya lari menghilang.
  7. Sekali setahun makamnya menyebarkan  aroma harum yang dapat menyembuhkan orang sakit.

Lamunan Pesta

Santo Yohanes, Rasul dan Penulis Injil

Rabu, 27 Desember 2023

Yohanes 20:2-8

2 Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan." 3 Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. 4 Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. 5 Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. 6 Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, 7 sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. 8 Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, dengan panca indera orang memiliki alat yang memampukan orang sambung dengan realitas yang dihadapi. Lewat mata, telinga, hidung, pengecap, dan perasa orang mampu menangkap yang ada di sekitarnya.
  • Tampaknya, dengan akal budinya orang mampu membuat pertimbangan atas realita yang dihadapi. Otak manusia menjadi anugrah besar di antara segala ciptaan yang membuat orang berpikir dan berpengetahuan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sekalipun panca indera dan akal budi menjadi kekuatan manusia menangkap realita, hati orang adalah kekuatan terbesar untuk menggapai pemahaman kesejatian realita. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang mampu terbuka dan menerima secara total keutuhan realita termasuk yang adikodrati.     

Ah, yang namanya percaya itu ya jelas berarti beragama.

Monday, December 25, 2023

Lima Bulan Ber-TikTok

Pada Jumat 15 Desember 2023 jam 14.07 ada pesan WA dalam HP saya "Romo rajin nulis di blogger ya". Pengirimnya adalah Mbak Onik dari Wonosari. Dia dulu tetangga saya di Ambarrukmo. Empat puluh sembilan tahun yang lalu, ketika saya berubur 23 tahun, Mbak Onik belum 5 tahun. Terhadap pesan WA itu saya menjawab "Sekedar buat rutinitas. Nggo memperlambat pikun". Saya memang pernah membaca dalam sebuah artikel yang mengatakan bahwa kegiatan rutin yang dilakukan setiap hari termasuk hal yang ikut berperan menunda hadirnya kepikunan. Kini, sebagai sosok yang berumur 72 tahun menuju 73 tahun, karena kondisi fisik membuat saya sekitar 92% hidup sehari-hari berada dalam kamar. Sebenarnya saya terlambat bisa menggunakan alat komunikasi HP. Saya baru mampu menjalani SMS ketika sudah berumur 55 tahun pada tahun 2006. Puji Tuhan, setelah berada di rumah tua Domus Pacis, Rm. Agoeng membimbing saya mengenal kehidupan ber-medsos sekalipun serba hanya sekedar memakai untuk berkomunikasi.


Dalam perkembangan hingga Hari-hari terakhir Juni 2023 saya menjalani kerutinan dengan medsos WA, FB, dan Blog. Setiap hari yang mengerjakan tulisan renungan pada sekitar jam 03.30 sesudah kegiatan gerak-gerakkan badan sambil doa. Setelah itu saya mem-publish Injil untuk hari itu. Kegiatan ber-medsos lain terjadi pada antara jam 07.00-08.00 dengan pengiriman kisah santo atau santa. Setiap hari saya menayangkan 3 macam pengiriman status. Yang ketiga, selain renungan harian dan santo atau santa, adalah kisah yang terjadi di Domus atau pemikiran tentang usia tua. Tentu saja kesibukan rutin dalam kamar selain ber-medsos ada yang lain seperti tidur, nonton TV, dan membaca koran. Dalam hal media sosial, sejak 30 Juni 2023 ada pertambahan dalam kerutinan saya. Selain FB, WA, dan Blog, seorang karyawan mengajar saya menggunakan Tik Tok. Karyawan itu adalah Mas Fallah. Pada Selasa malam 19 Desember 2023 saya menghitung sudah mengirimkan 205 tayangan TikTok. Pada umumnya berisi video renungan harian yang berdurasi maksimum 30 detik. Sebagai sosok lansia bahkan termasuk sederhana dalam medsos saya merasa seperti berjumpa dengan umat minum 300 orang. Dari 205 tayangan saya mendapatkan hitungan jumlah pembuka sebagai berikut :

  • 300-400        :     4 kali (  2,0%)
  • 400-500        :     3 kali (  1,4%)
  • 500-1000      : 149 kali (72,7%)
  • 1000-10.000 :   44 kali (21,5%)
  • >10.000        :     5 kali (  2,4%) 

Santa Theodosia dari Tirus

diambil dari katakombe.org/para-kudus  Diterbitkan:  11 April 2015  Diperbaharui:  11 April 2015  Hits:  12199 Perayaan 02 April   Lahir Sek...