Thursday, December 26, 2024

Kunjungan PGPM Paroki Baciro


Makan siang hari itu bagi para rama Domus sungguh istimewa. Itu hari Rabu 25 Desember 2024. Ternyata siang itu sajiannya nasi gudeg kotak dengan lauk lengkap. Maklumlah, hari itu adalah Hari Natal. Para rama yang biasanya ketat dalam hal kuliner mendapatkan kelonggaran santapan. Bahkan untuk makan malam Ibu Rachel dari Sleman mengirim berita WA ke Rm. Bambang. Ada 4 macam kuliner akan dikirimkan. Rm. Hartanta segera memanggil tukang masak agar tak menyediakan masakan untuk makan malam pada hari itu. Ternyata keistimewaan hari itu terjadi juga seusai makan siang. Ada serombongan tamu datang untuk Rm. Ria. Tetapi sesudah makan siang para rama lain bersama-sama juga mendapatkan kunjungan dari Baciro. Pengurus PGPM (Pelayanan Gereja dan Papa Miskin) Paroki Baciro datang bersama ketiga ramanya, yaitu Rm. Aan, Rm. Bertus, dan Rm. Wahadi. PGPM adalah lembaga resmi berbadan hukum untuk Paroki di Keuskupan Agung Semarang. Pertemuan PGPM Paroki Baciro dan para rama Domus berlangsung penuh keakraban. Rm. Aan dan Rm. Bertus adalah rama-rama muda yang bisa sambung dengan Rm. Hartanta. Sementara Rm. Wahadi termasuk rama lansia yang sambung dengan para rama sepuh. Apalagi ketika masih muda sebelum masuk Seminari Rm. Bambang adalah salah satu warga dan aktivis Paroki Baciro. Dalam kunjungan itu PGPM Paroki Baciro membagikan amplop satu persatu untuk semua rama Domus. Tentu saja itu adalah hadiah Natal.

Santo Yohanes Rasul

 diambil dari https://www.mirifica.net/santo-yohanes-rasul-27-desember

YOHANES adalah seorang nelayan di Galilea. Ia, bersama dengan St. Yakobus saudaranya, dipanggil untuk menjadi rasul Kristus. Yesus memberi julukan “anak-anak guruh” kepada kedua putera Zebedeus ini. St. Yohanes adalah rasul yang termuda. Ia amat dikasihi oleh Yesus. Pada perjamuan malam terakhir, Yohanes diperbolehkan menyandarkan kepalanya di dada Yesus. Yohanes juga satu-satunya rasul yang berdiri di kaki salib. Yesus yang sedang menghadapi ajal menyerahkan pemeliharaan Bunda-Nya kepada murid yang dikasihi-Nya ini. Sambil memandang Bunda Maria, Ia berkata, “Inilah ibumu.” Jadi, hingga akhir hidupnya di dunia, Bunda Maria tinggal bersama St. Yohanes. Hanya Yohanes seorang yang memperoleh hak istimewa untuk menghormati serta melayani Bunda Allah yang tanpa noda.

Pada hari Paskah, pagi-pagi sekali, Maria Magdalena dan beberapa wanita membawa rempah-rempah menuju ke makam Yesus untuk meminyaki Tubuh-Nya. Mereka kembali dengan berlari-lari kepada para rasul untuk menyampaikan suatu berita yang mengejutkan. Tubuh Yesus telah hilang dari makam. Petrus dan Yohanes pergi untuk menyelidiki hal itu. Yohanes tiba terlebih dahulu, tetapi ia menunggu Petrus untuk masuk ke dalam makam terlebih dahulu. Baru sesudahnya, ia masuk dan melihat kain kapan yang telah tergulung rapi. Kemudian, pada minggu itu juga, para murid sedang memancing di Danau Tiberias tanpa hasil. Seseorang yang berdiri di pantai mengatakan kepada mereka untuk menebarkan jala mereka ke sisi lain perahu. Ketika mereka menarik jala mereka kembali, jala itu penuh dengan ikan besar. Yohanes, yang mengenali siapa orang itu, segera berseru kepada Petrus, “Itu Tuhan!”

Dengan turunnya Roh Kudus, para rasul penuh dengan keberanian baru. Setelah Tuhan Yesus naik ke surga, Petrus dan Yohanes menyembuhkan seorang lumpuh dalam Nama Yesus.

Yohanes hidup hampir seabad lamanya. Ia sendiri tidak wafat dimartir, tetapi sungguh ia menempuh hidup yang penuh penderitaan. Ia mewartakan Injil dan menjadi Uskup Efesus. Di tahun-tahun terakhir hidupnya, ketika ia tidak lagi dapat berkhotbah, para muridnya akan membawanya kepada jemaat Kristiani. Pesannya yang sederhana adalah, “Anak-anakku, kasihilah seorang akan yang lain.” St. Yohanes wafat di Efesus sekitar tahun 100.

Sumber: Yesaya.indocell.net

Lamunan Pesta

Santo Yohanes, Rasul dan Penulis Injil

Jumat, 27 Desember 2024

Yohanes 20:2-8

2 Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan." 3 Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. 4 Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. 5 Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. 6 Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, 7 sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. 8 Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, orang bisa senang menjadi sosok terkemuka. Dia jadi orang terpandang di tengah masyarakat.
  • Tampaknya, orang bisa bangga kalau bisa unggul. Dalam banyak hal dia mampu mendahului yang lain.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, sekalipun memiliki kemampuan dan kesempatan menjadi terkemuka dan menang, orang akan merendahkan diri mendahulukan orang lain sehingga dia justru menemukan keyakinan hidup. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati seorang tokoh sejati akan memberikan kesempatan orang lain menjadi tokoh berposisi lebih tinggi darinya.

Ah, kalau bisa menang mengapa harus mengalah.

Wednesday, December 25, 2024

Karna Kunjungan Ibu-ibu Seyegan

Apapun pekerjaan, tugas, dan sebuah tindakan sebagai pengikut Kritus bagi saya adalah tanda dan sarana menjalani tugas PEWARTAAN INJIL. Bagi saya Injil bukan terutama buku Kitab Suci. Injil juga bukan terutama agama. Injil adalah damai sejahtera ilahi yang mengalir dari kemesraan orang dengan relung hati. Tugas pewartaan Injil berasal dari amanat Tuhan Yesus ketika akan naik ke sorga (lihat misalnya Mark 16:15). Dalam hal ini tampaknya sering muncul anggapan bahwa orang yang sudah pensiun dan atau lansia sudah bebas tugas. Apalagi kalau sudah tidak bisa ke sana-sini karena keterbatasan kondisi yang membuat difabel, dengan bebas kerja orang bisa menganggap juga bebas dari tugas pewartaan Injil. "Kalau sudah tak kerja apa-apa terus mau apa" demikian orang bisa berkata.


Itu semua dalam diri saya menjadi terpikir secara khusus dan menghadirkan kesadaran baru. Hal ini berkaitan dengan peristiwa kunjungan dari Ibu-ibu Stasi Seyegan, Paroki Medari. Sebagai kunjungan, itu adalah peristiwa biasa karena Domus sering mendapatkan kunjungan-kunjungan kelompok umat. Tanya-jawab yang terjadi juga berisi butir-butir yang kerap muncul dalam kunjungan-kunjungan lain. Tetapi ada sebuah pertanyaan yang dalam anggapan saya menghadirkan kesadaran baru dalam beriman. Pertanyaannya adalah "Apakah para rama merasa nyaman tinggal di sini?". Tentu maksudnya di rumah tua para rama Domus Pacis Santo Petrus. Pada saat pertanyaan dilontarkan, saya merasa itu mirip dengan pertanyaan "Apakah para rama tak pernah merasa jemu atau bosan berada di Domus?" Ketika ditanya tentang "rasa nyaman", jawaban para rama sepuh kesemuanya adalah "NYAMAN". Ada rama yang menambah "Di sini enak, kok". Ada yang nambah "Apa-apa tersedia". Ada yang nambah "Bebas banyak menentukan diri". Tentu saja saya, yang menjadi pemandu, biasa membelok-belokkan memunculkan suasana humor penuh tawa. Saya sendiri menambahkan "Di sini salah dan jelek tidak menjadi masalah. Makan sambil buang air kecil dan besar tak soal. Karyawan lansung bergerak. Di Kapelpun tak soal. Bahkan mau marahpun sudah ada petugas karyawan jadi pendengar". Ternyata TOPIK NYAMAN membuat suasana penuh tawa keceriaan. Dari kunjungan ini Bu Rini mendapatkan informasi bahwa ibu-ibu Seyegan merasa bahagia dengan mengunjungi para rama sepuh. Sesudah saya rasakan dan renungkan saya menyadari bahwa RASA NYAMAN DALAM KEHIDUPAN KONGKRET DALAM DIRI SUDAH JADI WARTA BAHAGIA BAGI ORANG LAIN. Maka dalam kondisi apapun seseorang, asal bisa mengolah hidup sehingga menemukan kenyamanan, orang sudah jadi pewarta Injil.

Santo Stefanus

 diambil dari https://www.mirifica.net/santo-stefanus-26-desember-2

STEFANUS artinya mahkota. Ia adalah pengikut Kristus yang pertama yang menerima mahkota kemartiran. Stefanus adalah seorang diakon pada masa Gereja Perdana. Kita membaca kisah tentangnya dalam Kitab Kisah Para Rasul bab 6 dan 7. Petrus dan para rasul lainnya menyadari bahwa mereka membutuhkan penolong-penolong untuk mengurus para janda serta kaum miskin. Jadi, mereka mentahbiskan tujuh orang diakon. Stefanus adalah yang paling terkenal dari antara mereka.

Tuhan mengadakan banyak mukjizat melalui St. Stefanus. Ia berbicara dengan hikmat dan karunia yang membuat banyak dari para pendengarnya menjadi pengikut Yesus. Para musuh Gereja Yesus merasa geram melihat betapa berhasilnya khotbah St. Stefanus. Pada akhirnya, mereka bersekongkol untuk melawan dia. Mereka tidak dapat membantah perkataan-perkataannya yang bijaksana, jadi mereka memerintahkan beberapa orang untuk bersaksi dusta terhadapnya. Saksi-saksi palsu itu mengatakan bahwa Stefanus telah berbicara hujat terhadap Tuhan. St. Stefanus menghadapi gerombolan para musuhnya yang banyak itu tanpa rasa takut. Malahan, Kitab Suci mengatakan bahwa wajahnya menjadi serupa dengan wajah malaikat.

Stefanus berbicara tentang Yesus, menunjukkan bahwa Ia adalah Juruselamat yang dijanjikan Tuhan. Ia mencela para musuhnya karena tidak percaya kepada Yesus. Mendengar itu, mereka menjadi amat marah serta berteriak-teriak kepadanya. Tetapi, Stefanus memandang ke langit dan berkata bahwa ia melihat langit terbuka dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Para musuhnya menutup telinga mereka dan tidak mau mendengarnya lebih lanjut. Mereka menyeret St. Stefanus ke luar kota Yerusalem dan melemparinya dengan batu hingga mati. Orang kudus itu berdoa, “Tuhan Yesus, terimalah rohku!” Kemudian ia berlutut serta memohon kepada Tuhan untuk tidak menghukum para musuh yang membunuhnya. Setelah pernyataan kasih yang sedemikian besar itu, Stefanus pergi untuk menerima ganjaran surgawi.

“Kasih yang membawa Kristus dari surga ke dunia telah membawa Stefanus dari dunia ke surga… Kristus telah menjadikan kasih sebagai tangga yang memungkinkan segenap umat Kristiani untuk mendaki ke surga. Oleh karenanya, berpegang-teguhlah kepadanya, dengan segala ketulusan hati, hendaknya kamu saling membagikan wujud nyata kasihmu itu, dan dengan kemajuanmu dalam kasih, mendakilah bersama-sama.”  St. Fulgentius

Sumber: yesaya.indocell.net

Lamunan Pesta

Santo Stefanus, Martir Pertama

Kamis, 26 Desember 2024

Matius 10:17-22

17 Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. 18 Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah. 19 Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. 20 Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu. 21 Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka. 22 Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. 

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, yang namanya konflik memang selalu tidak enak. Dalam konflik yang ada adalah saling menyalahkan.
  • Tampaknya, dipandang buruk oleh banyak orang juga membuat perasaan amat tidak nyaman. Apalagi kalau semua yang sudah kenal mencap salah.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun tidak disukai bahkan dinegatifir oleh banyak orang sungguh tidak nyaman, kalau itu terjadi karena seseorang taat hidup di bawah wibawa relung hati, dia akan selamat dan mendapatkan ketenangan jiwani. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan relung hati orang akan kuat bertahan dalam kebaikan dan kebenaran di tengah banyak orang yang terlalu mengejar hal-hal lahiriah duniawi.

Ah, tidak disenangi oleh banyak orang jelas membuat hidup celaka.

Tuesday, December 24, 2024

Misa Malam Natal 2024 di Domus

Untuk Domus Pacis Santo Petrus, Malam Natal memang termasuk dijadikan peristiwa khusus. Tentu saja bagi paroki-paroki itu juga menjadi momen amat istimewa. Umat Katolik pada umumnya akan pergi Misa di gereja Paroki. Meskipun demikian ada juga yang tertarik untuk Misa Malam Natal di Domus Pacis. Dari pendaftaran terakhir pada 17 Desember 2024 Rm. Bambang mencatat ada 102 pendaftar untuk ikut Misa Malam Natal Domus. Ternyata dalam perjalanan sesudah tanggal penutupan pendaftaran ada juga yang menyusul. Bahkan pada di hari "H" tanggal 24 Desember jam 14.30 ada yang bilang nambah karena ada salah satu anggota keluarga datang. Ada juga ketika menjelang jam 16.00 mendaftar akan datang bersama anak cucu yang jumlahnya bagi Rm. Bambang banyak. Mengingat persediaan tempat dan konsumsi yang sudah siaga, pendaftar terakhir terpaksa ditolak. 

Satu hal yang perlu dicatat untuk Misa Malam Natal 2024 di Domus Pacis adalah terjadinya hujan. Hujan sudah turun sejak sekitar jam 16.30. Pada sekitar jam 17.00 Rm. Hartanta berkata kepada Rm. Bambang "Wah udane awet tur deres. Kathah sing mboten isa teka" (Hujan awet dan deras. Bisa banyak yang bisa batal datang). Bu Rini cerita besok di Parokinya pasti banyak sekali yang ikut Misa pagi karena kalau hujan bisa banyak yang tak ikut Misa Malam. Rm. Bambang menerima WA dari salah satu pendaftar Misa Malam Natal di Domus dari Paroki Gamping "Romooo... Ndalem sewu... Gamping hujan duereeess bangeeet 🤭🤦‍♀️🙈Sepertinya ga nyandak kl nunggu hujannya reda" (Ramaaa ..... Maaf... Hujan deras sekali terjadi di Gamping. Sepertinya ditunggu sampai kapan hujan tak reda). 

Ternyata yang terjadi berbeda dengan kekuatiran karena derasnya hujan. Suara sound system memang harus bersaing dengan suara derasnya hujan dalam pelaksanaan hujan. Tetapi Misa Malam Natal berjalan dengan lancar. Kor Pacem in Terris dari Paroki Kalasan bernyanyi dengan penuh semangat. Untunglah, semua umat memegang buku panduan lengkap dengan lagu-lagu sehingga bisa menyanyikan. Semua terdengar bisa mengatasi derasnya hujan yang suaranya menerobos Kapel Domus. Suara hujan menjadi lirih terjadi sesudah Misa sampai ke bagian persiapan persembahan. Tempat duduk tak ada yang kosong. Sebelum doa penutup Rm. Bambang mengabsen yang datang. Ternyata yang datang melebihi dari jumlah pendaftar. Sekalipun Rm. Bambang menolak beberapa yang mendaftar pada hari "H" ternyata ada yang langsung ikut. Untunglah, Bu Rini dalam pengadaan konsumsi sudah dilebihi. Meskipun demikian kuliner bakso dan serta lauk nasi bisa dihabiskan. Gelaran batik banyak terjual. Bahkan slondok, yang keuntungannya untuk sedikit menyumbang pembangunan Paroki Medari, juga habis terjual. Derasnya hujan tak menghalang Malam Natal Bersama Rama Sepuh di Domus Pacis.

Santa Theodosia dari Tirus

diambil dari katakombe.org/para-kudus  Diterbitkan:  11 April 2015  Diperbaharui:  11 April 2015  Hits:  12199 Perayaan 02 April   Lahir Sek...