Sunday, June 2, 2024

Doa Bersama Rama Domus

Doa bersama di kalangan kaum lansia barangkali memang bisa lucu. Rasa geli barangkali bisa muncul. Yang disajikan di sini adalah pengalaman Komunitas Rama Domus Pacis Santo Petrus. Pengalaman terakhir yang akan disajikan terjadi pada Jumat 31 Mei 2024. Sebelum Misa para rama, bersama 2 orang karyawan Katolik, mengadakan doa rosario. Rm. Hartanta sebagai Direktur Domus memberikan keterangan proses pelaksanaan. Salah satu rama menjadi pemimpin doa. Beliau akan memulai doa dengan "Aku Percaya hingga Tri Salam Maria dan Kemuliaan termasuk Terpujilah" diteruskan dengan pengucapan peristiwanya. Pemimpin memulai doa Bapa Kami dan kemudian peserta lain bergantian memulai doa Salam Maria yang disambung oleh semua peserta. Tetapi ketika doa rosario mulai, ternyata pada waktu masuk 10an Salam Maria, yang seharusnya bergantian, pemimpin doa mengucapkan doa Salam Maria yang seharusnya bukan beliau yang memulai. Sang pemimpin sudah mengucapkan 2 kali Salam Maria. Ketika akan mulai mengucap yang ketiga, Rm. Hartanta mendaplangkan tangan memberi kode untuk menyetop. Kemudian Rm. Hartanta mengucapkan giliran Salam Maria yang diteruskan secara bergilir oleh rama-rama lain. Dalam perjalanan doa ternyata terjadi doa bertumpuk. Salah satu rama mengucapkan permulaan doa Salam Maria. Tetapi, mungkin karena tidak mendengar karena halusnya suara, ada yang langsung mengucapkan Salam Maria. Ketika hal ini terjadi, beberapa rama lain menyetop. Pada waktu makan bersama peristiwa itu menjadi pembicaraan yang membuat tawa. Bahkan Rm. Bambang berkata "Saya kalau tidur mudah dibangunkan ya". Maklumlah, ketika sampai gilirtan dia mengucapkan Salam Maria, Rm. Bambang terlelap. Yang terdengar adalah bentakan Rm. Suntara "Mbang!!", dan yang mengherankan Rm. Bambang langsung mengucap "Salam Maria ....." Meskipun demikian, suasana khusuk selalu mewarnai doa bersama para rama Domus. Kalau ada tawa, itu terjadi ketika jadi pembicaraan di ruang makan.

Santo Karolus Lwanga

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 27 Agustus 2013 Diperbaharui: 28 Oktober 2019 Hits: 15225

  • Perayaan
    03 Juni
  •  
  • Lahir
    Tahun 1865
  •  
  • Kota asal
    Bulimu, Buganda, Uganda
  •  
  • Wafat
  •  
  • 3 Juni 1886 | Martir. Dibakar hidup-hidup sampai mati dan menjadi abu.
  •  
  • Venerasi
    29 Februari 1920 oleh Paus Benediktus XV
  •  
  • Beatifikasi
    6 Juni 1920 oleh Paus Benediktus XV
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Tahun 1964 oleh Paus Paulus VI

Kekristenan masih merupakan hal baru di Uganda, Afrika, ketika suatu misi Katolik dimulai di sana pada tahun 1879. Para imam yang diutus adalah para imam Misionaris Afrika. Karena jubah mereka yang putih, mereka lebih dikenal dengan sebutan  “Imam-imam Putih”.

Raja Mwanga tidak mengerti apa itu Kristen. Tetapi, ia menjadi amat marah ketika seorang katekis Katolik, Yosef Mkasa, menasehatinya untuk memperbaiki cara hidupnya yang bejat. Raja Mwanga adalah seorang homoseksual dan sering memaksa para pemuda pelayan istana untuk memuaskan birahinya. Murka raja Mwanga berubah menjadi rasa benci dan dendam terhadap Yosef Mkasa dan agamanya. Segelintir pejabat istana yang ambisius mengobarkan murka raja dengan dusta mereka. Raja kemudian memerintahkan untuk membunuh sekelompok orang Katolik Anglikan beserta Uskup mereka. Yosef Mkasa sendiri dihukum penggal pada tanggal 18 November 1885. Penganiayaan atas semua orang Kristen pun dimulailah. Tercatat seratus orang Katolik Roma terbunuh. Dua puluh dua orang martir di antaranya kelak dinyatakan kudus.  

Dengan wafatnya Yosef Mkasa, Karolus Lwanga menjadi pemimpin guru agama dari para pelayan istana yang beragama Katolik. Pada tanggal 26 Mei 1886, raja mendapati bahwa sebagian dari para pelayannya telah menjadi Katolik. Ia memanggil Denis Sebuggwawo. Ia bertanya apakah Denis mengajarkan agama kepada pelayan-pelayan istana yang lain. Denis menjawab ya. Raja segera menyambar pedangnya lalu menusukkannya dengan keji ke tenggorokan pemuda itu. Kemudian, raja menyerukan bahwa tidak seorang pun diijinkan meninggalkan istana. Genderang perang ditabuh sepanjang malam.

Dalam suatu ruangan tersembunyi, Karolus Lwanga secara sembunyi-sembunyi membaptis empat pelayan istana. Seorang di antaranya adalah St. Kizito, seorang remaja periang serta murah hati yang baru berumur tiga belas tahun. Dialah yang paling muda dalam kelompok mereka. St. Karolus Lwanga telah seringkali menyelamatkan Kizito dari nafsu jahat raja.

Santo Karolus Lwanga bersama sebagian besar dari 22 martir Uganda dibunuh pada tanggal 3 Juni 1886. Mereka dipaksa berjalan tiga puluh tujuh mil jauhnya (± 60 km) ke tempat pelaksanaan hukuman mati. Setelah beberapa hari dipenjara, mereka dilemparkan ke dalam kobaran api. Tujuh belas dari para martir tersebut adalah para pelayan istana. Salah seorang yang wafat di hari naas tersebut adalah Santo Mbaga Tuzinde. Ayahnya sendiri yang bertugas sebagai algojo pada hari itu. Ia dipukuli dahulu sampai mati lalu tubuhnya dibakar bersama dengan Karolus Lwanga dan yang lainnya.

Para Martir ini dibeatifikasi oleh Paus Benediktus XV pada tanggal 6 Juni 1920 dan dikanonisasi oleh Paus Paus Paulus VI pada 18 Oktober 1964.

Lamunan Peringatan Wajib

Santo Karolus Lwanga dan Kawan-kawan. Martir

Senin, 3 Juni 2024

Markus 12:1-12

1 Lalu Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan: "Adalah seorang membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. 2 Dan ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. 3 Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa. 4 Kemudian ia menyuruh pula seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan. 5 Lalu ia menyuruh seorang hamba lain lagi, dan orang ini mereka bunuh. Dan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh. 6 Sekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. 7 Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. 8 Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. 9 Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. 10 Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: 11 hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita." 12 Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak, jadi mereka pergi dan membiarkan Dia.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, yang terbuang biasa dimengerti sebagai yang sudah tak berguna. Itu termasuk sampah yang hanya akan mengotori pandangan ataupun ruangan.
  • Tampaknya, sekalipun orang, kalau jadi buangan juga karena dianggap mengganggu kehidupan bersama. Kehadirannya memberikan pengaruh buruk.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun yang buangan dianggap tak berguna atau bahkan sebagai penghadir keburukan, orang yang sungguh beriman memiliki keyakinan bahwa daya kekuatan Tuhan bisa menjadikannya kekuatan besar yang menghadirkan kebaikan umum. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang beriman bisa mengalami daya karya Tuhan lewat apapun yang baik dan yang jadi batu sandungan untuk membawa damai sejahtera banyak orang. 

Ah, yang namanya afkiran itu jelas tak ada gunanya.

Lansia Saat Melemah?

Di dalam ilmu pengetahuan ada yang disebut psikologi perkembangan. Di dalam penanganan medis ada upaya membuat orang menjadi sehat dan makin sehat. Pada pokoknya perjalanan hidup biasa orang berupaya makin baik. Tetapi, di dalam realita ada kondisi makin merosot yang dialami oleh seseorang. Pada hemat saya orang harus memperhatikan proses dan tanda-tanda kemerosotan. Dari sini upaya membuat makin baik harus dilandaskan pada situasikongkret dalam diri seseorang. Di sini yang saya omongkan adalah kehidupan kaum lansia termasuk dengan kondisi kelemahannya. Hingga saat ini saya belum menemukan pola kebaikan yang mantap dalam penghayatan hidup sebagai lansia dengan kondisi kongkret. Saya hidup bersama dengan para rama sepuh di Domus Pacis Santo Petrus. Beberapa kemerosotan yang terjadi sungguh teralami dengan kentara dalam kehidupan kami. Ada 2 hal yang menurut saya amat mencolok :

  • Kemerosotan daya fisik. Untuk salah satu rama saya menjumpai beliau masih bisa berjalan sekalipun pelan-pelan. Tetapi dalam pengalaman beliau harus selalu berada di kursi roda. Kaki menjadi kaki dan tangan tak dapat leluasa direntangkan dan diangkat. Saya sendiri pada tahun 2010 masih bisa memakai kruk dan mengendarai motor dan mobil sendiri. Sekarang saya sudah tak melakukan itu karena merosotnya ketajaman penglihatan. Saya juga sudah berkursi roda. Naik mobil dengan jok tinggi juga mulai saya hindari. Dengan jok tinggi orang harus menjunjung saya dan ini amat sulit karena besar dan beratnya tubuh saya. Sebetulnya beberapa teman rama lansi di Domus juga mengalami ke,erosotan fisik yang cukup berat.
  • Kemerosotan kognitif. Beberapa dari kami kini mengalami kesulitan berkaitan dengan ingatan. Kalau ditanya oleh tamu "Rama sudah berapa lama berada di Domus?" Ada rama yang bilang 4 tahun. Ada yang bilang mulai tahun 1980an. Padahal yang bilang 4 tahun sudah masuk Domus sebelum pandemi Covid-19. Sedang yang bilang masuk mulai tahun 1980an tidak tahu bahwa Domus Pacis Puren, Pringwulung, diresmikan pada tahun 2001, dan Domus Pacis St. Petrus Kentungan pada 19 Mei 2021. Yang paling menggelikan adalah yang berusia hampir 90 tahun. Beliau bertahan dengan kata-kata "Saya sudah 71 tahun berkarya". Apakah beliau ditahbiskan sebelum umur 20 tahun?

Saturday, June 1, 2024

Santo Marselinus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 27 Agustus 2013 Diperbaharui: 26 Oktober 2019 Hits: 34097

  • Perayaan
    02 Juni
  •  
  • Lahir
    Hidup pada akhir abad ke-2
  •  
  • Wilayah karya
    Roma - Italia
  •  
  • Wafat
  •  
  • Martir | Dipancung di kota Roma sekitar tahun 304
    Dimakamkan di Saints Marcellinus and Peter cemetery on the Lavican Road Roma
    Kaisar Konstantinus kemudian membangun sebuah Basilica di atas makam mereka.
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santo Marcellinus adalah seorang imam dan excorsis (pengusir setan) di kota Roma. Ia dihukum mati bersama-sama dengan pembantunya Petrus (St. Peter the Excorsis)  karena iman kristiani mereka pada masa penganiayaan Kaisar Diocletianus.

Nama kedua martir ini tercantum dalam Doa Syukur Agung Pertama dalam Misa Kudus. Mereka secara luas dihormati dan dimohon bantuan doanya oleh umat Kristiani perdana. Pesta kedua martir ini tertera dalam kalender para kudus Roma sejak jaman Paus Vigilius pada tahun 555.

Pada masa penganiayaan ini, keduanya dengan gagah berani tetap mempraktekkan iman Kristiani mereka. Mereka melayani komunitas Kristiani dengan pengurbanan diri yang besar.  Saat itu banyak umat Kristiani yang ditangkap dan dibunuh, termasuk Marcelinus dan Petrus.  Keduanya dihukum mati dengan cara dipenggal kepala. Tetapi, agaknya sebelum dibunuh mereka dipaksa untuk menggali liang kubur mereka sendiri di sebuah hutan yang disebut Silva Nigra.

Beberapa waktu kemudian, kubur mereka dapat ditemukan setelah  algojo yang mengeksekusi mereka akhirnya bertobat dan menjadi seorang Kristiani. Ia menghantar umat Kristiani ke sisa-sisa jenazah kedua orang kudus itu, yang kemudian dimakamkan kembali dalam katakombe St. Tiberius.

Pada tahun 827 Paus Gregorius IV mengirimkan sebagian relikwi kedua martir ini ke Frankfurt, Jerman. Sri Paus yakin bahwa relikui kedua orang martir ini akan mendatangkan berkat bagi Gereja di negeri itu.

Lamunan Hari Raya

Tubuh dan Darah Kristus

Minggu, 2 Juni 2024

Markus 14:12-16.22-26

12 Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid Yesus berkata kepada-Nya: "Ke tempat mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?" 13 Lalu Ia menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan: "Pergilah ke kota; di sana kamu akan bertemu dengan seorang yang membawa kendi berisi air. Ikutilah dia 14 dan katakanlah kepada pemilik rumah yang dimasukinya: Pesan Guru: di manakah ruangan yang disediakan bagi-Ku untuk makan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku? 15 Lalu orang itu akan menunjukkan kamu sebuah ruangan atas yang besar, yang sudah lengkap dan tersedia. Di situlah kamu harus mempersiapkan perjamuan Paskah untuk kita!" 16 Maka berangkatlah kedua murid itu dan setibanya di kota, didapati mereka semua seperti yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu mereka mempersiapkan Paskah.

22 Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: "Ambillah, inilah tubuh-Ku." 23 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu. 24 Dan Ia berkata kepada mereka: "Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang. 25 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah."

26 Sesudah mereka menyanyikan nyanyian pujian, pergilah mereka ke Bukit Zaitun.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, pada umumnya orang Katolik amat mengagungkan Misa Kudus. Banyak peristiwa penting termasuk hajatan menyertakan Misa sebagai acara pokok.
  • Tampaknya, kebanyakan orang Katolik tahu bahwa ikut Misa merupakan kewajiban keagamaan. Pada hari Minggu dan hari besar yang disamakan dengan hari Minggu ada kewajiban ikut Misa.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab denga kedalaman batin, sekalipun mengikuti Misa itu penting dan bahkan menjadi kewajiban, tetapi Misa harus bermuara pada puji-pujian untuk mengantar orang menjalani iman di tengah suka duka perjuangan hidup harian. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang Katolik menghayati syukur ikut Misa dalam kehidupan sehari-hari.  

Ah, kalau rajin ikut Misa ya jelas sudah Katolik sungguhan.

Kepedulian Umat Bagi Karyawan Domus

Keberadaan karyawan Domus Pacis Santo Petrus terutama demi terjaga dan terlayaninya para rama sepuh. Bagaimanapun juga kondisi para rama sepuh Domus tak hanya rentan karena kelansiaan. Kecuali 1 orang, untuk urusan mandi dan buang air besar pun sudah harus dibantu. Kursi roda sudah melekat pada semua. Bahkan beberapa sudah terus berada di kamar. Dari omong-omong, kesemuanya tak akan terlayani dengan baik kalau tinggal di pastoran-pastoran biasa atau kalau di rumah keluarga. Di Domus Pacis para karyawan memang diperuntukkan untuk segala kebutuhan para rama, yang tak hanya sudah lansia tetapi juga sudah disabel. Rm. Hartanta sebagai direktur amat memperhatikan kerja para karyawan demi damai sejahteranya para rama sepuh. Beliau juga mengupayakan peningkatan kemampuan para karyawan. Empat orang karyawan (Mas Haryono, Mas Hari, Mas Ardi, dan Mbak Sari) selama 3 bulan dikirim setengah hari untuk kursus ketrampilan pramurukti di RS Panti Rini. Kehadiran Mas Enggar menjadi tambahan tenaga kerja juga terjadi. Dalam hal ini Keuskupan Agung Semarang memang menyediakan dana untuk honorarium karyawan. Tetapi mengingat beban kerja dan termasuk lemburan-lemburan, Domus Pacis membutuhkan tambahan dana. Puji Tuhan, mulai pertengahan Juli 2021 cukup banyak umat Katolik yang berekedulian. Hingga kini umat peduli tambahan honor karyawan Domus terus berjalan. Pada Mei 2024 ada 30 penyumbang. Dari 30 penyumbang ada 3 kiriman dari kelompok dan yang lain perorangan. Adapun jumlah sumbangan untuk bulan Mei 2024 secara keseluruhan sebesar Rp. 19.340.000. Para penyumbang itu adalah sebagai berikut :

1. Bu Dicky, 2. PUPIP Ungaran, 3. Bapak Jono, 4. Ibu Lili Herawati, 5. Ibu Theresia Niken, 6. Ibu Ida, 7. Ibu Maria Nunik Ibu, 8. Ibu Lucy, 9. Anna Maria (Ibu-ibu Bernardus Babadan), 10. Ibu Wartini, 11. Ibui Chatarina Gunarti, 12. Ibu Christine, 13. Ibu Anggraeni, 14. Ibu Tri Nor Prasetyawan, 15. Ibu Malya, 16. Ibu Naryo, 17. Ibu Harno, 18. Ibu drg Tristiani, 19. Laura, Semarang (PT Maksi Solusi Enjinering), 20. Ibu Bellissima, 21. Ibu Dr. Noor Widiastuti, 22. Ibu Yenyen, 23. Ibu ML Setiyani Indrawati, 24. Ibu Endang W, 25. Ibu Istiyono, 26. Ibu Devi Nataly Pratiwi Tjipto, 27. Ibu Eny Bernadet, 28. Ibu Warto, 29. Ibu Bernadet Suwarni, 30. Devosan Kerahiman Mungkid.

Santa Theodosia dari Tirus

diambil dari katakombe.org/para-kudus  Diterbitkan:  11 April 2015  Diperbaharui:  11 April 2015  Hits:  12199 Perayaan 02 April   Lahir Sek...