Tuesday, August 2, 2022

Santo Nikodemus

 diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 03 Agustus 2017 Diperbaharui: 03 Agustus 2017 Hits: 11233

  • Perayaan
    3 Agustus
    31 Agustus (pada beberapa kalender - dirayakan bersama Santo Yusuf dari Arimatea)
  •  
  • Lahir
    Hidup pada abad pertama
  •  
  • Kota asal
    -
  •  
  • Wafat
  •  
  • Martir | Menurut Tradisi Gereja Perdana
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Nikodemus hidup sejaman dengan Yesus. Ia  adalah seorang Yahudi Farisi yang menjadi anggota Sanhedrin (Dewan tertinggi Agama Yahudi pada jaman Yesus) di Yerusalem. Nikodemus percaya kepada Yesus dan menjadi pengikut-Nya secara rahasia. Ia bertemu dengan Yesus pada malam hari untuk menghindari kemurkaan anggota Sanhedrin lainnya.

Saat Yesus berada di Yerusalem, Nikodemus menemuiNya di malam hari untuk berbicara secara pribadi. Dengan rendah hati, anggota Sanhedrin ini menyapa Yesus : 

Yesus menjawab semua pertanyaan Nikodemus dan menyingkapkan rahasia kehidupan kekal kepadanya. (Yoh 3:3-21).

Pada waktu perayaan Hari Raya Pondok Daun, Yesus kembali datang ke Yerusalem. Imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mencoba untuk menangkap Yesus tetapi gagal karena para penjaga yang dikirim untuk menangkap Yesus malah terpesona mendengarkan ajaran-Nya. Saat para Farisi yang murka sedang berkumpul dan mengecam Yesus, Nikodemus dengan suara lantang berkata :

Kata-katanya untuk sementara dapat meredakan kemarahan para Farisi sehingga mereka membubarkan diri. Namun sebagian mereka masih mempertanyakan pengajaran Yesus dengan membantah Nikodemus :

Setelah Yesus Kristus mati disalibkan, Nikodemus bersama Yusuf dari Arimatea berupaya memberikan penguburan yang layak bagi Yesus. Kitab suci menulis :

Setelah pemakaman Yesus, nama Nikodemus tidak ditemukan lagi dalam kitab suci. Pada abad ke-16 muncul sebuah kitab apokrif yang disebut Injil Nikodemus (Nicodemi Evangelium). Tradisi Jemaat Kristen perdana menyebutkan bahwa Nikodemus tewas sebagai martir Kristus pada abad pertama. Gereja Katholik Roma dan Orthodoks Timur, menghormati Nikodemus sebagai seorang Kudus dan perayaannya diperingati pada setiap tanggal 3 Agustus.

Tentang Menerimakan Komuni

Ini tentang kebiasaan Misa Komunitas di Domus Pacis St. Petrus. Yang sekarang biasa dijadual memimpin adalah Rm. Hartanta, Rm. Yadi, dan Rm. Bambang. Ada juga yang juga mendapat giliran membaca Injil dan menyampaian homili, yaitu: Rm. Yadi, Rm. Joko, dan Mgr. Blasius. Para karyawan Katolik yang mendapatkan tugas lektor adalah Mas Hari, Mas Abas, Mas Ardy, dan Bu Riwi. Tentu saja Bu Titik dan Bu Rini, para relawan, juga mendapatkan giliran menjadi lektor. Rm. Ria dan Mgr. Blasius juga kerap mendapatkan giliran menjadi lektor. Sementara itu, yang biasa membagikan Komuni adalah Rm. Hartanta satu-satunya romo yang masih segar dan bisa jalan. Kalau Rm. Hartanta sedang ada kegiatan luar, Rm. Bambang biasa diminta untuk menggantikan menerimakan Komuni dengan bantuan karyawan Katolik yang mendorong kursi rodanya,


Ketika sedang makan siang hari Selasa 2 Agustus 2022, Rm. Hartanta berkata kepada Rm. Bambang "Kula mangke mucal Kitab Suci teng Mlati kalih Pugeran. Nyuwun tulung njenengan nampekaken Komuni nggih" (Saya nanti mengajar Kitab Suci di Mlati dan Pugeran. Anda menggantikan saya menerimakan Komuni, ya). "Lho, mangke kula teng Beteng ajeng ndherek pengetan pitung dinten semahipun Rini" (Lho, nanti saya akan ke dusun Beteng ikut peringatan tujuh hari wafat suaminya Bu Rini) jawab Rm. Bambang. Rm. Hartantapun jadi teringat karena sejak Minggu Rm. Bambang memang sudah pamit. Maka Rm. Hartanta berkata kepada Rm. Yadi "Yen ngaten mangke romo ingkang sisan nampekaken Komuni, nggih. Mangke wonten ingkang mbantu ndhorong" (Kalau begitu nanti romo sekalian menerimakan Komuni, ya. Akan ada yang membantu mendorong kursi roda Anda).

Lamunan Pekan Biasa XVIII

Rabu, 3 Agustus 2022

Matius 15:21-28

21 Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. 22 Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita." 23 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak." 24 Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." 25 Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku." 26 Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." 27 Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya." 28 Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, pada zaman kini yang menonjolkan identitas primordial akan dicap negatif. Era global dengan pesatnya tekhnologi informasi membuat orang terbuka antar ras, antar suku, antar golongan, dan antar agama.
  • Tampaknya, memang masih ada yang memanipulasi identitas primordial untuk kepentingan meraup dukungan politik. Tetapi yang seperti itu dapat ditengarai masuk golongan radikal intoleran.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun pada zaman dulu di era agraris orang hidup dalam lingkungan primordial, orang yang hidup dalam terang nurani akan terbuka berbaikan dengan yang beda ras, suku, golongan, dan agama. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar bahwa kesungguhan beriman akan membuat orang tidak eksklusif tetapi terbuka pada siapapun sebagai sesama manusia umat Tuhan.

Ah, yang paling penting adalah menjaga yang sama agama.

Beato Yohanes dari Rieti

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 25 Agustus 2013 Diperbaharui: 03 Agustus 2014 Hits: 4218

  • Perayaan
    02 Agustus
  •  
  • Lahir
    Hidup pada Abad ke-14
  •  
  • Kota asal
    Castel Porziano dekat Roma - Italia
  •  
  • Wafat
  •  
  • Tahun 1350 | Oleh sebab alamiah
  •  
  • Beatifikasi
    Tahun 1832 oleh Paus Gregory XVI
  •  
  • Kanonisasi

Yohanes hidup pada awal pertengahan abad keempatbelas. Ia mempunyai seorang saudari yang juga kudus, yaitu Beata Lusia dari Amelia. Mereka adalah putera-puteri keluarga Bufalari dari wilayah Umbria, Italia. Yohanes merasakan panggilan kepada hidup religius. Ia tertarik pada Ordo St. Agustinus dan ingin menjadi seorang bruder.

Yohanes diterima masuk ke dalam ordo dan segera merasa kerasan di sana. Ia senang berdoa dan bermeditasi mengenai Yesus, Maria dan para kudus. Ia belajar bagaimana berbicara kepada Tuhan, Bapa-nya, dan teristimewa ia berusaha mendapatkan kesempatan untuk ikut melayani dalam Misa. Orang banyak dari kota-kota terdekat datang untuk ikut ambil bagian dalam Misa di Gereja St. Agustinian. Mereka memperhatikan seorang broeder yang senantiasa ada di sana. Ia begitu damai dan lemah lembut. Bruder Yohanes senantiasa menyongsong kedatangan mereka. Ia membuat mereka serasa di rumah.

Apabila orang-orang datang ke biara untuk mendapatkan pertolongan, Bruder Yohanes ada di sana menyalami dan menyambut mereka. Bagi mereka yang tinggal bermalam, ia akan membawa mereka ke kamar-kamar tamu dan melayani mereka. Ia akan memastikan bahwa mereka mendapatkan makanan, obat-obatan dan segala yang lain yang dapat diberikan biara.

Tahun-tahun berlalu. Bruder Yohanes melewatkan kehidupan religiusnya seturut irama jam-jam yang berlalu. Ia teguh dan mantap. Bruder Yohanes tetap penuh sukacita dalam panggilan hidupnya hingga wafatnya pada tahun 1350. Siapapun yang pernah bertemu dengannya pasti akan merasakan kesucian dari Bruder Yohanes. Tak heran banyak mukjizat-mukjizat mulai dilaporkan terjadi di makamnya. Rupanya Bruder Yohanes tak membiarkan kematian menghentikannya dari melakukan pewartaan bagi Yesus.

Monday, August 1, 2022

Penyumbang Dana Karyawan Juli 2022

Ketika pindah dari Domus Pacis Puren, Pringwulung, ke Domus Pacis St. Petrus, Kentungan, pada 1 Juni 2021, dari 12 romo sepuh hanya Rm. Tri Wahyono yang membutuhkan pelayanan total dalam segalanya. Untuk Rm. Jaya, Rm. Ria, dan Rm. Yadi memang ada pramurukti khusus. Tetapi para pramurukti, yang berjumlah 3 orang, dapat bekerjasa sama dengan 9 orang tenaga Domus lain. Dua tenaga Domus lain memang tidak ikut melayani para romo karena bekerja untuk cleaning servise dan cuci setrika. Sementara itu para romo yang relatif masih bisa apa-apa sendiri hanyalah 2 orang. Dengan demikian para karyawan memang harus selalu siaga bekerja melayani kebutuhan para romo. Apalagi di antara mereka selalu ada yang bergiliran libur. Dengan demikian volume kerja memang bisa dikatakan cukup berat. Apalagi jenis pekerjaan tidak hanya menyangkut fisik, tetapi par yanga karyawan juga dituntut memiliki ketahanan psikis karena kondisi para romo dan bahkan sering ada rewel.


Dalam tempo setahun lebih, ternyata jumlah romo yang kondisinya memberat bertambah. Ada tambahan 4 romo yang kini sudah juga harus dilayani dalam segalanya. Praktis dari 12 romo 8 orang harus mendapatkan penjagaan khusus. Inilah yang membuat Rm. Hartanta, Direktur Domus, sungguh membutuhkan tambahan dana keuangan untuk para karyawan. Keuskupan memang memberikan jatah, tetapi untuk menambah uang lembur dan kesejahteraan, sungguh tetap dibutuhkan tambahan dana. Maka Rm. Bambang sejak pertengahan Juni 2021 diminta oleh Rm. Hartanta untuk menghimpun dana sukarela lewat rekening bank: TAHAPAN BCA, KCP Gejayan, no. 4565146662 a.n. Petrus Noegroho Agoeng SW.  Nama dalam rekening bank adalah seorang romo yang kini menjadi ketua para romo projo Keuskupan Agung Semarang. Ternyata setiap bulan selalu banyak umat yang mengirimkan bantuan uang. Untuk bulan Juli 2022 Rm. Bambang mencatat jumlah dana sebesar Rp. 26.075.000 dari 37 pengiriman. Kalau dikaitkan dengan penguriman kelompok (PUPIP Ungaran, Ibu-ibu Babadan, Kelompok Devosan Kerahiman Ilahi Mungkid, dan kelompok Yosefin Medari), Rm. Bambang menebak paling tidak ada 147 orang yang menyumbang. Para pengiriman yang masuk dalam catatan adalah sebagai berikut :

1. Ibu Ida, Bogor; 2. Ibu Anna Maria (Ibu2 Babadan); 3. Bapak Siswoto; 4. Bapak Jono; 5. IbuMaria Kristina Dannie; 6. Ibu Wartini, Badran; 7. PUPIP Ungaran (86 orang); 8. Ibu Emiliana Kasmudjiastuti; 9. Ibu Christine Semarang; 10. Ibu Dewi Anggraeni; 11. Ibu Regina Titik; 12. Ibu Endang W; 13. Ibu Lanni Hendrawati; 14. Ibu Tri Nor Prasetyawan; 15. Ibu Lucy; 16. Ibu Wellanda; 17. Ibu Harno; 18. Ibu Sugono; 19. Ibu Mamik; 20. Ibu Lani Harsono; 21. Ibu Evy; 22. Ibu Melly, 23. Ibu Yenyen; 24. Bapak Bambang Triyono Cahyadi; 25. Ibu Mrihadi; 26. Ibu Anna Maria (Ibu-ibu Babadan); 27. Ibu Bernadet Suwarni; 28. Ibu Malya; 29. Ibu Yuliana Sutarni; 30. Ibu Chatarina Gunarti; 31. Kelompok Yosefin, Medari; 32. Ibu Istiyono; 33. Kerahimnan Ilahi, Mungkid; 34. Ibu ML Setiyani Indrawati; 35. Ibu Tini; 36. Ibu Astrid; 37. Bu Haryono.

Lamunan Pekan Biasa XVIII

Selasa, 2 Agustus 2022

Matius 14:22-36

22 Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. 23 Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. 24 Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. 25 Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. 26 Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut. 27 Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" 28 Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." 29 Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. 30 Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" 31 Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" 32 Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah. 33 Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah."

34 Setibanya di seberang mereka mendarat di Genesaret. 35 Ketika Yesus dikenal oleh orang-orang di tempat itu, mereka memberitahukannya ke seluruh daerah itu. Maka semua orang yang sakit dibawa kepada-Nya. 36 Mereka memohon supaya diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, orang dapat terguncang ketika berhadapan dengan hal di luar nalar. Apalagi kalau hal itu terjadi ketika sedang menderita kebingungan berhadapan dengan masalah besar.
  • Tampaknya, kehadiran sosok yang tidak jelas dalam suasana seperti itu bisa menambah ketakutan. Kekuatiran memang bisa menghadirkan perasaan mengerikan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sebesar apapun masalah datang dalam hidupnya, karena memiliki kebiasaan sambung hati dengan Tuhan dalam hati, orang akan memiliki ketenangan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati, sekalipun ada masalah yang rasanya di luar kekuatannya, orang akan bisa menghadapinya dengan pikiran jernih dan hati tak dikuasai kekuatiran.

Ah, mana bisa tenang kalau berhadapan dengan masalah besar.

Santo Alfonsus Maria de Liguori

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 25 Agustus 2013 Diperbaharui: 11 Februari 2019 Hits: 11421

  • Perayaan
    01 Agustus
  •  
  • Lahir
    tahun 1696
  •  
  • Kota asal
    Naples - Italia
  •  
  • Wafat
  •  
  • tahun 1787 | Oleh sebab alamiah
  •  
  • Venerasi
    1796 oleh paus Pius VI (decree of heroic virtues)
  •  
  • Beatifikasi
    15 September 1816 oleh Paus Pius VII
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • 26 May 1839 oleh Paus Gregoius XVI

Alfonsus dilahirkan dalam lingkungan keluarga bangsawan di Naples Italia pada tahun 1696. Ia adalah seorang anak ajaib yang memiliki kecerdasan yang sangat luar biasa. Ia meraih gelar doktor ilmu hukum dari Universitas Naples pada usia 16 tahun.  Pada usia 21 tahun Alfonsus sudah memiliki praktek hukum sendiri dan menjadi salah satu pengacara terkemuka di Naples. Meskipun begitu ia tidak pernah menghadiri pengadilan tanpa menghadiri Misa dipagi hari. 

Suatu kesalahan yang dibuatnya di pengadilan membuat hidup Alfonsus berubah. Ia merasakan gejolak panggilan religius dalam hatinya untuk meninggalkan dunia dan melayani Yesus. Alfonsus menjadi yakin dengan apa yang telah lama ada dalam pikirannya: ia ingin menjadi seorang imam. Ayahnya berusaha membujuk Alfonsus agar ia mengurungkan niatnya itu. Tetapi, tekad Alfonsus sudah bulat. Ia kemudian belajar teologi dan ditahbiskan menjadi imam pada usia 29 tahun.

Kehidupan Alfonsus dipenuhi dengan berbagai macam kegiatan. Ia berkhotbah dan menulis banyak buku. Ia membentuk suatu kongregasi rohani yang disebut “Kongregasi Pater-Pater Redemptoris” (CSsR; Redemptoris artinya Sang Penebus). Alfonsus memberikan pengarahan rohani yang bijaksana dan membawa damai bagi umatnya melalui Sakramen Rekonsiliasi. Ia juga menulis lagu puji-pujian, bermain organ dan melukis. St. Alfonsus menulis enampuluh buah buku. Ini sungguh luar biasa mengingat tugas dan tanggung jawabnya yang lain amatlah banyak. Ia juga sering menderita sakit. Ia sering sakit kepala, tetapi segera ia akan menempelkan sesuatu yang dingin ke dahinya dan terus tetap bekerja.

Meskipun pada dasarnya ia mempunyai kecenderungan untuk bersikap terburu-buru, Alfonsus berusaha untuk menguasai diri. Ia amat rendah hati, hingga ketika pada tahun 1798 Paus Pius VI ingin mengangkatnya menjadi seorang Uskup, dengan lembut ia mengatakan “tidak”. Ketika para utusan paus telah datang secara pribadi untuk menyampaikan keputusan paus kepadanya, mereka menyapa Alfonsus dengan “Tuan yang Termasyhur”. Alfonsus menjawab, “Tolong, jangan memanggilku seperti itu lagi. Sebutan itu akan membuatku mati.” Paus memberikan pengertian kepada Alfonsus bahwa ia sungguh menghendaki Alfonsus menjadi seorang Uskup.

Alfonsus mengutus banyak pengkhotbah ke seluruh wilayah keuskupannya. Umat perlu diingatkan kembali akan cinta kasih Tuhan dan akan pentingnya iman mereka. Alfonsus berpesan kepada para imam untuk menyampaikan khotbah yang sederhana. “Saya tidak pernah menyampaikan khotbah yang tidak dapat dimengerti bahkan oleh nenek tua yang paling lugu yang ada di gereja,” katanya.

Dengan semakin bertambahnya usia, Alfonsus menderita berbagai penyakit. Ia menderita radang sendi yang menyiksanya dan menjadikannya lumpuh. Ia kehilangan pendengarannya serta nyaris buta. Ia juga harus mengalami berbagai kekecewaan dan pencobaan. Namun, Alfonsus memiliki devosi yang amat mendalam kepada Santa Perawan Maria, seperti yang dapat kita ketahui melalui bukunya yang terkenal yang berjudul 'Kemuliaan Maria'. Segala penderitaan dan pencobaan itu berakhir dengan damai dan sukacita serta kematian yang kudus.

Alfonsus wafat pada tahun 1787 pada usia sembilanpuluh satu tahun. Paus Gregorius XVI menyatakannya kudus pada tahun 1839. Paus Pius IX memberinya gelar Doktor Gereja pada tahun 1871.

Santa Theodosia dari Tirus

diambil dari katakombe.org/para-kudus  Diterbitkan:  11 April 2015  Diperbaharui:  11 April 2015  Hits:  12199 Perayaan 02 April   Lahir Sek...