Sunday, April 3, 2022

Santo Richard dari Chichester

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 05 Agustus 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014 Hits: 6081

  • Perayaan
    03 April
  •  
  • Lahir
    Tahun 1197
  •  
  • Kota asal
    Droitwich, Worcestershire, England
  •  
  • Wafat
  •  
  • 3 April 1253 di Dover, Kent, England | Oleh sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Tahun 1262 oleh Paus Urbanus IV

Richard de Wych dilahirkan di Inggris pada tahun 1197. Ia dan saudaranya menjadi yatim piatu sejak Richard masih kecil. Saudaranya memiliki beberapa tanah pertanian. Richard berhenti sekolah agar dapat membantu kakaknya menyelamatkan sawahnya dari kehancuran.

Richard bekerja demikian giat hingga kakaknya yang penuh rasa terima kasih hendak memberikan tanah pertanian itu kepadanya. Tetapi, Richard tidak mau menerimanya. Ia juga memilih untuk tidak menikah, sebab ia ingin pergi belajar di perguruan tinggi untuk memperoleh pendidikan yang baik. Ia tahu bahwa karena uangnya hanya sedikit, ia akan harus bekerja keras untuk membiayai hidup dan sekolahnya.

Richard belajar di Universitas Oxford. Kemudian, ia memperoleh kedudukan penting di Universitas. St. Edmund, yang adalah uskup agung Canterbury, memberinya tugas dan tanggung jawab dalam keuskupannya. Ketika St. Edmund wafat, St. Richard mengunjungi Wisma Belajar Dominikan di Perancis. Di sana ia ditahbiskan sebagai seorang imam. Kemudian, ia ditahbiskan sebagai Uskup Chichester, Inggris. Oleh sebab itu ia disebut Richard dari Chichester. Raja Henry III menghendaki seorang lain yang menjadi uskup. Orang tersebut adalah sahabat raja, tetapi tidak memenuhi persyaratan sebagai seorang uskup. Richard adalah Uskup Chichester yang sesungguhnya. Raja Henry III tidak memperbolehkan Richard menempati Katedralnya sendiri. Raja juga mengancam penduduk Chichester dengan hukuman apabila mereka bersikap ramah terhadap Richard. Walaupun demikian, orang-orang yang gagah berani tetap saja menolongnya, seperti pastor Simon dari Tarring - salah seorang imam Chichester. Richard dan Simon kemudian bersahabat karib. Ketika Bapa Suci mengancam akan meng-ekskomunikasi-kannya (= mengucilkan, memutuskan seseorang dari hak-hak sebagai anggota gereja), raja berhenti mencampuri urusan gerejani dan tidak lagi mengganggu bapa uskup.

Sebagai uskup, St. Richard melaksanakan segala tugasnya dengan baik. Ia senantiasa lemah lembut dan murah hati kepada semua orang. Sekali waktu ia bersikap tegas juga. Ia seorang pemberani dan tanpa ragu-ragu menegur umatnya apabila mereka melakukan yang salah dan tidak menyesali perbuatannya.

Dikatakan bahwa ketika St. Richard jatuh sakit, ia tahu saat kematiannya akan tiba, sebab Tuhan telah memberitahukan kepadanya tempat serta waktu yang tepat bilamana ia akan meninggal. Teman-temannya, termasuk Pastor Simon dari Tarring, berada di sisi pembaringannya. St. Richard wafat dalam usia limapuluh lima tahun pada tahun 1253. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Urbanus IV pada tahun 1262.

Saturday, April 2, 2022

Minggu Prapaskah V/C – 3 Apr 2022 (Yoh 8:1-11)

 diambil dari https://unio-indonesia.org; ilustrasi dari koleksi Blog Domus

KASUS DI BAIT ALLAH

Rekan-rekan yang baik!

Kebanyakan para ahli tafsir beranggapan bahwa kisah perempuan yang berzinah dalam Yoh 8:1-11 yang dibacakan pada hari Minggu Prapaskah V/C pada awalnya tidak termasuk Injil Yohanes meskipun mereka setuju asalnya dari tradisi mengenai kehidupan Yesus juga. Kisah ini tidak termuat di dalam naskah-naskah tertua Injil Yohanes dalam bahasa Yunani. Juga dari segi gaya bahasa ada perbedaan. Misalnya, Yohanes biasa menyebut “orang banyak” dengan kata Yunani “okhlos”, bukan “laos” seperti di sini. Kata untuk “pagi-pagi” biasanya “prooi”, tapi di sini dipakai “orthrou”. Nama “Bukit Zaitun” tidak dijumpai dalam Injil Yohanes kecuali di sini. Juga ahli Taurat tidak disebut musuh Yesus selain di sini.

Baru pada abad ke-4 kisah perempuan berzinah itu mulai didapati di dalam naskah-naskah Kitab Suci Yunani. Tetapi kisah itu agaknya sudah dikenal sebelumnya di kalangan Gereja Latin di Barat dan termasuk bahan bacaan selama liturgi. Oleh karenanya tidak mengherankan bila menjadi bagian Injil. Biasanya tempatnya di antara Yoh 7:52 dan 8:12, boleh jadi untuk menyiapkan pembaca agar mengerti kata-kata Yesus nanti dalam Yoh 8:15 “Kamu menghakimi menurut ukuran manusia, Aku tidak menghakimi seorang pun.” Tapi ada pula beberapa naskah yang menaruhnya sebagai tambahan di bagian belakang Injil Yohanes. Karena teks ini telah lama diterima sebagai bagian dari Injil Yohanes dalam liturgi, wajarlah bila kita mendalaminya seperti bagian Injil juga.

BUKIT ZAITUN, BAIT ALLAH, PENYALIBAN

Peristiwa yang sedang dibicarakan ini terjadi di dalam minggu terakhir kehidupan Yesus. Selama waktu itu dari pagi hingga sore ia berada di Yerusalem tetapi malam hari dilewatkannya di Bukit Zaitun, di sebelah timur kota, bersama murid-muridnya. Seperti disebutkan dalam Mrk 11:11, setelah meninjau Bait Allah, Yesus bersama dua belas muridnya ke Betania pada sore hari, yaitu sebuah perkampungan di sisi timur Bukit Zaitun. (Bukan Betania di seberang sungai Yordan yang disebut dalam Yoh 1:28.)

Latar di atas membuat peristiwa yang dibacakan hari ini berhubungan erat dengan penyaliban dan kebangkitan Yesus. Dia yang tidak menjatuhkan hukuman kepada pendosa yang dihadapkan kepadanya itu sama dengan dia yang nanti wafat di kayu salib menanggung dosa-dosa orang lain dan kemudian bangkit – tidak lagi tertindih dosa dan hukuman. Yang bersedia menerima warta ini bakal ikut mendapat kekuatan untuk tidak membiarkan diri terus ditindih dosa dan hukuman, dengan kata lain, untuk sungguh bertobat.

Peristiwa yang dibacakan hari ini terjadi di dalam Bait Allah, pusat kekayaan spiritual. Ke sanalah orang-orang berkiblat, di situlah orang bertanya, di tempat inilah diberikan jawaban dari Tuhan. Dan jawaban ini berujud manusia yang dapat dikenali, dapat diajak berdialog, dapat dibayang-bayangkan. Tetapi juga bisa dijauhi, dimusuhi, dan dibunuh. Kehadiran Tuhan seperti ini membuat orang perlu berpikir lebih dalam.

MENULIS DI TANAH?

Dalam ayat 6 dipakai kata Yunani “kategraphen” yang artinya “ia mencatat”, bukan sekedar menulis, yang memang muncul dalam ayat 8 sebagai “egraphen”. Dalam kedua ayat itu ada keterangan “di tanah”, artinya, bisa dilihat siapa saja, tidak ditutup-tutupi. Pertanyaan kita, apakah Yesus betul-betul mencatat dan menulis sesuatu? Dan apa itu? Tidak dilaporkan apa yang ditulis Yesus di tanah. Ada yang menafsirkan bahwa dalam ayat 6 dan 8 ia menuliskan kata-kata yang nanti diucapkannya dalam ayat 7, yaitu “Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Ada pelbagai upaya tafsir. Ada yang merujuk pada tatacara Romawi yang mewajibkan ketua pengadilan menulis terlebih dahulu keputusan yang bakal diucapkannya. Bila begitu maka kata-kata dalam ayat 7 itulah keputusan yang dimintakan para ahli Taurat dan orang Farisi. Walaupun tidak lebih dari sekadar dugaan belaka, penjelasan ini menarik.

Kedua kata kerja Yunani dalam ayat 6 tadi ada dalam bentuk yang biasanya dipakai membicarakan kejadian yang sedang berlangsung di masa lampau. (Istilah tatabahasa Yunani ialah bentuk imperfekt). Tapi bentuk ini juga tak jarang menandakan tindakan yang tidak utuh terjadi, bahkan sering digunakan untuk membicarakan perbuatan yang hanya diniatkan belaka. Dalam pemakaian seperti itu maka ayat 6 sebetulnya mengatakan “(Yesus membungkuk,) SIAP mencatat di tanah” dan ayat 8 “(Lalu ia membungkuk lagi) MAU menulis”. Jadi ia belum mencatat atau menulis apapun. Dalam tatabahasa Yunani bentuk ini dinamai “imperfekt konatif” (“imperfekt coba-coba”). Contoh lain, Luk 5:6, ketika tangkapan ikan banyak, “jala mereka HAMPIR koyak (dierreesseto)”. Jala tidak koyak betul-betul sehingga ikan-ikannya tidak lepas kembali! Menurut Yoh 21:11 jala memang tidak koyak. Mrk 15:23, sebelum menyalibkan Yesus, disebutkan “mereka BERMAKSUD memberinya (edidoun) anggur yang dicampur mur, tetapi Yesus menolaknya.” Anggur tidak benar-benar diberikan, karena jelas dikatakan di situ Yesus menolaknya. Ada banyak lagi contoh imperfekt konatif seperti itu.

Secara ringkas, tidak bisa dikatakan bahwa Yesus benar-benar mencatat atau menulis sesuatu. Juga tidak bisa dikatakan Yesus tidak menggubris para ahli Taurat dan orang Farisi yang datang kepadanya. Sebaliknya, pencerita malahan menyarankan bahwa Yesus siap mencatat dan menulis bila memang ada yang patut dituliskan saat itu. Penjelasan ini ada hubungannya dengan perubahan postur tubuh Yesus. Dari duduk mengajar, Yesus membungkuk mencatat dan menulis. Apa artinya? Dengan perubahan postur tubuh itu ia hendak menunjukkan bahwa ia mau mencatat dan menuliskan kebijaksanaan para ahli Kitab dan orang Farisi bila mereka memang memiliki sesuatu yang dapat diajarkan. Tapi para ahli Taurat dan orang Farisi itu tidak berani menerima peralihan peran itu. Bahkan mereka “terus menerus bertanya kepadanya” (ayat 7).

Pada saat itulah Yesus bangkit berdiri lalu berkata, “Siapa saja di antara kamu tidak berdosa hendaklah ia yang pertama yang melemparkan batu kepada perempuan ini” (ayat 7). Segera sesudah berkata demikian ia membungkuk lagi dan siap menulis di tanah, supaya bisa dilihat semua yang hadir. Sekali lagi ia meminta mereka mengajarkan apa yang bisa ia tuliskan, ia siap untuk itu. Apa yang terjadi? Satu per satu mereka pergi meninggalkan tempat itu, mulai dari yang paling senior. Yesus tidak menyaingi para ahli Taurat dan orang Farisi atau mengecilkan peran mereka. Ia justru minta mereka menunjukkan apa mereka dapat mengajarkan sesuatu yang patut dicatat dan ditulis bagi orang banyak. Ternyata tak ada seorang pun yang tampil. Mengapa? Di hadapan orang yang tulus hati ini, suara hati ahli Taurat dan orang Farisi itu sendiri tidak mengizinkan mereka mengajarkan hukuman atau tindakan keras yang mempersyaratkan kebersihan diri sendiri dulu.

AJAKAN AGAR GANTI HALUAN

Dalam cerita ini dua kali Yesus berbicara mengenai “dosa”. Yang pertama kepada para ahli Taurat dan orang Farisi (ayat 7), yang kedua kalinya kepada perempuan yang dihadapkan kepadanya (ayat 11). Dua kali pula Yesus “bangkit berdiri” dan mulai menyapa masing-masing pihak (ayat 7 dan 10). Begitulah cara pencerita menunjukkan Yesus memberi perlakuan yang sama baik kepada perempuan tadi maupun kepada para ahli Taurat dan orang Farisi. Ironis, kaum terpandang itu sebetulnya tidak lebih baik dari pada orang yang mereka anggap pendosa yang patut dihukum mati. Pernyataan Yesus bahwa siapa yang tak berdosa hendaknya melempar batu pertama mengikis habis perbedaan yang boleh jadi disembunyi-sembunyikan. Di hadapan utusan Tuhan yang sedang menampilkan kewibawaannya mengajar di Bait Allah ini semua orang sama, sama berdosanya. Pengadilan dengan pikiran manusia saja tidak mencukupi. Semua orang membutuhkan kerahiman Tuhan.

Yesus meminta kepada para penuduh agar melihat apakah mereka sendiri tanpa dosa. Mereka perlu memeriksa diri, menengok ke belakang. Kepada perempuan itu Yesus mengatakan “mulai sekarang” jangan lagi berdosa. Ada pandangan ke masa depan. Pembaca yang menyelami kisah ini akan melihat bahwa baik para ahli Taurat dan orang Farisi maupun perempuan itu sama-sama diajak melepaskan jalan hidup mereka yang lama, yang menindih diri mereka sendiri, agar dapat menempuh arah baru.

Pengalaman perempuan itu membawanya ke jalan baru yang dijanjikan Tuhan dalam nubuat yang diucapkan di dalam bacaan pertama Yes 43:16-21. Setelah membebaskan umat-Nya dari pembuangan di Babel, Tuhan memperkenalkan diri sebagai Dia yang pernah menuntun keluar umat-Nya (keluar dari Mesir) lewat laut dan menghancurkan pengejar-pengejar mereka (ayat 16-17). Ditegaskan agar mereka kini tak usah lagi mengungkit-ungkit perkara lama (ayat 18) tetapi hendaknya melihat hal baru yang dibuat Tuhan, yakni jalan di padang gurun (ayat 19) di situ ia membuat air memancar di padang gurun untuk memberi minum umat pilihan-Nya (ayat 20). Mereka akan memberitakan kemasyhuran-Nya bersama-sama dengan ciptaan lain yang ikut menerima kebaikannya (ayat 21). Dalam bacaan kedua (Fil 3:8-14) Paulus bersaksi, setelah menemukan Kristus Kebenaran Sejati itu, ia menganggap semua hal lain tidak banyak artinya lagi. Ia merasa telah ditangkap oleh kebenaran itu. Ia juga telah melupakan yang ada di belakang dan sekarang mau berlomba-lomba mendekat ke hadirat Yang Ilahi. Perempuan tadi pergi dan berganti cara hidup, para penuduhnya juga satu demi satu meninggalkan pandangan mereka sendiri, Paulus juga melepaskan dirinya yang lama. Mereka semua ini telah bertemu dengan Dia yang menerangi relung-relung gelap dan meluruskan hati. Inilah peristiwa menggembirakan yang boleh diharapkan dalam menyongsong Minggu Suci sepekan lagi.

Salam hangat,
A.Gianto

Tambahan: sekadar tanya jawab dengan umat mengenai Yoh 8:1-11:

TANYA: Bagaimana sih kok pendosa zinah dilepas begitu saja dan habis perkara? Apa tidak aneh?

JAWAB: Memang akan kurang masuk akal bila petikan itu dibaca sebagai peristiwa pengadilan. Tetapi peristiwa yang dikisahkan bukan pengadilan .(Tidak seperti pengadilan Yesus di hadapan Mahkamah Agama nanti yang memang pengadilan). Penghakiman tidak dijalankan di Bait Allah. Yang dilakukan di situ ialah ibadat, perlindungan, dan pengajaran dalam ujud dialog atau simposium atau seminar para ahli agama. Nah dalam suatu seminar seperti itu tampillah guru-guru ternama seperti Yesus, ahli Taurat & orang Farisi, dan perempuan pezinah yang mereka datangkan sebagai narasumber otentik bagi studi kasus mereka. Dalam kesempatan ini ada juga banyak pengikut dan murid yang dalam Yoh 8:2 disebut “orang banyak/rakyat”. Mereka belajar dari kepintaran guru-guru tadi. Karena situasi ini bukan situasi pengadilan dan bukan tindak lanjut penggerebekan tempat zina, tidak ada risiko bahwa perempuan itu akan betul-betul dilempari batu menurut hukum rajam seperti termaktub dalam Ul 22:21-24. Namun demikian, seminar itu bukan sekadar anggar kata mengenai perzinahan dengan tiga profesor kondang yang bila selesai ya bubar, lalu orang ambil piagam untuk dapatkan kredit guna kenaikan pangkat. Peristiwa itu langsung berdampak pada sikap hidup masing-masing peserta. Yesus berhasil menghadapkan ahli Taurat dan orang Farisi ke suara batin mereka sendiri seperti dijelaskan dalam ulasan di atas. Dan ini terjadi di Bait Allah, bukan di ruang pengadilan. Hal ini penting disadari penafsir. Dalam pengadilan yang sungguh, juga di kalangan orang Yahudi dulu, perasaan hakim, penuduh, pembela tidak bisa berperan langsung. Para anggota Sanhedrin yang mendakwa Yesus menghujat memang tidak bisa lain kecuali mendakwa menurut hukum mereka. Jadi peristiwa kali ini bukan kisah pengadilan pezinah melainkan kisah penjernihan suara hati manusia dalam rangka menyiapkan diri memahami peristiwa paskah Yesus nanti. Maka hal yang disebut dalam ayat 2 bahwa peristiwa ini terjadi di Bait Allah dan dalam rangka pengajaran amat penting bagi penafsiran warta petikan ini.

TANYA: Apa “melempari dengan batu” (Yoh 8:5 dan 7) itu sama dengan praktek “hukum rajam”?

JAWAB: Ancaman dirajam sampai mati termaktub dalam Taurat, juga dalam kasus perzinahan, disebut dalam Ul 22:21-24, bandingkan Yehezkiel 16:40 23:47. Beberapa tindak pidana lain juga dikenai sanksi rajam sampai mati seperti menyembah berhala: Ul 13:10 17:5; menghujat Tuhan Im 24:14 bdk. Yoh 10:33; mengorbankan anak: Im 20:2; praktek jalangkungan & nini thowokan Im 20:27; melanggar hari Sabat: Bil 15:32-36 dan beberapa kasus lain. Namun apakah ancaman hukuman mati dengan rajam bisa divoniskan begitu saja dan sungguh dieksekusikan adalah perkara lain. Pertama-tama boleh dicatat bahwa bagi orang Yahudi dari zaman ke zaman hukum kasuistik (“bagi perkara X, hukumnya Y”) dalam Taurat lebih berfungsi sebagai sumber “berteologi” dan tidak diberlakukan begitu saja sebagai pasal-pasal hukum KUHP. Mereka memiliki semacam KUHP yang rinci yang dijabarkan dari Taurat, dan kemudian dikenal antara lain dengan nama Misyna. Hukum-hukum yang ada di dalamnya perlu dipelajari dengan komentar para ahli hukum mereka. Di situ ada aturan-aturan rumit cara mempidana orang. Ada peraturan yang tidak memudahkan orang bisa dikenai hukuman begitu saja. (Misalnya hanya bila tertangkap basah, mesti ada lebih dari satu saksi, dst.) Juga ada beberapa aturan pelaksanaan atau eksekusi dengan tenggang waktu cukup lama agar memungkinkan pengampunan pada hari raya tertentu.

Dalam pelbagai masyarakat di pelbagai kebudayaan, ancaman atau sanksi hukuman yang amat keras sering tidak dijalankan harfiah. Ini memiliki dampak pada teologi. Nabi-nabi Perjanjian Lama dulu berbicara mengenai ketaksetiaan Israel yang mestinya mendatangkan kehancuran umat (=putusan hukuman mati), tetapi belas kasihan Tuhan menyelamatkan umat dari kehancuran total. Di Firdaus difirmankan, bila makan buah pengetahuan baik dan buruk akan mati seketika. Tetapi Hawa dan suaminya tidak mati seketika walaupun makan buah itu. Kesimpulan teologis yang bisa ditarik pembaca: Tuhan berbelaskasihan sehingga hukuman yang ditetapkan-Nya sendiri diubah-Nya menjadi “nasib” ular, wanita dan lelaki dan pengusiran dari Firdaus pada akhir Kej 3. Tetapi, sebelum itu, perhatikan Kej 3:21, Tuhan yang baru saja menjatuhkan firman kutukan tadi itu tiba-tiba berubah menjadi penuh perhatian kembali kepada manusia. Ia membuatkan manusia dan istrinya pakaian dari kulit binatang dan “mengenakannya kepada mereka”, artinya, ia mengukur persis persis bahu, dada, lengan, pinggul ke bawah, sehingga pakaian kulit binatang itu tidak kedodoran.

TANYA: Ada yang pernah mendengar penjelasan sbb.: “…..batu yang dilempar itu bukan batu besar, tapi batu kecil-kecil. Batu tersebut tidak ditujukan ke badan/tubuh si wanita, melainkan dilempar ke depannya. Orang yang yang melempar batu menyatakan setuju wanita itu harus dihukum mati dan dibawa ke penguasa Romawi agar hukuman disahkan. Jadi batu itu sebagai alat menghitung (seperti voting).” Bagaimana pendapat Romo tentang tafsiran ini?

JAWAB: Tafsir itu akibat kerancuan dengan praktek “membuang undi” dalam meramal atau mengundi barang yang dadunya bisa dibayangkan besarnya seperti kerikil…! Memang lembaga peradilan Yahudi pada zaman Yesus tak berhak menjatuhkan hukuman mati. Bila menurut hukum mereka memang harus dikenai pidana mati, maka perlu dibawa dan disahkan oleh penguasa Romawi  (lihat juga Yoh 18:31). Tidak dikenal praktek pungut suara di Bait Allah, kalau toh mau dijajaki pendapat para tetua maka akan dilakukan di mahkamah,tidak di Bait Allah. 

salam,

A. Gianto

Lamunan Pekan Prapaskah V

Minggu, 3 April 2022

Yohanes 8:1-11

1 tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. 2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. 3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. 4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. 5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" 6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya.  Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. 7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." 8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. 9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. 10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" 11 Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, tidak jarang agama dipandang sebagai penghadir Tuhan yang membawa kebaikan dan kebenaran. Dalam agama orang menemukan pegangan dengan berbagai perintah dan larangannya.
  • Tampaknya, untuk setia kepada Tuhan orang akan menjalani segala tatanan yang ada dalam agama. Tuhan akan memberi berbagai berkat damai sejahtera pada yang taat agama dan amat membeci yang melanggar tatanan agama.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun tatanan keagamaan memang untuk mengembangkan hidup dalam kebaikan dan kebenaran, kesejatian agama menghadirkan Tuhan yang Mahapengasih yang mengalirkan keterbukaan pengampunan bagi yang melakukan kejahatan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati kemahaadilan Tuhan justru menjadi keterbukaan kasih bagi yang mendekat dan didekatkan kepada-Nya sekalipun penuh dengan hidup tak terpuji.

Ah, yang namanya dosa ya pasti terarah ke neraka.

Santo Fransiskus de Paola

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 05 Agustus 2013 Diperbaharui: 01 April 2016 Hits: 6644

  • Perayaan
    02 April
  •  
  • Lahir
    Tahun 1416
  •  
  • Kota asal
    Paola - Italia
  •  
  • Wilayah karya
    Italia, Perancis
  •  
  • Wafat
  •  
  • 2 April 1507 di Plessis, Perancis | Oleh sebab alamiah
    Pada Tahun 1562 kaum Protestan Huguenots membuka makam orang suci ini dan menemukan jasadnya yang tetap utuh; lalu membakarnya.
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Tahun 1519 oleh Paus Leo X

Orang suci ini dilahirkan di sebuah dusun kecil di Paola, Italia sekitar tahun 1416. Orang tuanya miskin, tetapi bersahaja dan kudus. Mereka mohon bantuan doa St. Fransiskus dari Asisi agar dikaruniai seorang putera. Ketika ia akhirnya dilahirkan, ia diberi nama Fransiskus. Anak itu tumbuh besar dan pergi ke sekolah di mana para pengajarnya adalah imam-imam Fransiskan. Di sanalah Fransiskus belajar membaca. Ketika berusia limabelas tahun, seijin orangtuanya, Fransiskus tinggal di sebuah gua. Ia ingin menjadi seorang pertapa dan melewatkan hidupnya hanya bersama Tuhan saja.

Ketika usianya duapuluh tahun, pemuda-pemuda lain ikut bergabung dengannya. St. Fransiskus meninggalkan gua kediamannya. Penduduk kota Paola membangun sebuah gereja dan juga biara untuk Fransiskus dan para pengikutnya. Ia menyebut ordo religiusnya yang baru dengan nama “Minims”. “Minims” artinya “yang terkecil dari semuanya.”

Semua orang mengasihi St. Fransiskus. Ia berdoa bagi mereka dan melakukan banyak mukjizat. Ia terkenal dapat membaca pikiran orang lain. Salah satu mujizatnya yang paling terkenal terjadi pada tahun 1464. Saat itu Santo Fransiskus dan para pengikutnya ingin menyeberangi Selat Messina menuju Sisilia, tapi tukang perahu menolak untuk membawa mereka. Santo Fransiskus meletakkan jubahnya di atas air, diikat salah satu ujungnya ke tongkatnya untuk dapat membuat berlayar. Ia dan para pengikutnya kemudian berlayar menyeberangi selat itu diatas jubah. Komponis Franz Liszt menulis sebuah komposisi musik yang indah terinspirasi oleh mujizat yang dibuat oleh Santo pelindungnya itu.

Ia menasehati para pengikutnya agar senantiasa lemah lembut dan rendah hati, serta melakukan banyak matiraga. Ia sendiri merupakan teladan terbaik dari segala keutamaan yang diajarkannya. Suatu ketika, seorang yang mengunjungi Fransiskus menghinanya. Ketika orang itu selesai berbicara, Fransiskus melakukan sesuatu yang aneh. Dengan tenang diambilnya batu bara panas dari tempat perapian dan digenggamnya dengan erat dalam tangannya. Namun demikian, tangannya tidak terbakar sedikit pun.
“Mari, hangatkanlah dirimu” katanya dengan lembut sambil menyerahkan batu yang merah membara tersebut pada pendakwanya.
“Engkau gemetar oleh sebab engkau membutuhkan sedikit belas kasihan.”
Dengan gemetar si pendakwa menolak menerima batu yang membara itu dari tangan Fransiskus. Mujizat ini kemudian merubah pandangannya terhadap Fransiskus. Sejak saat itu, ia amat mengagumi St. Fransiskus.

Raja Louis XI dari Perancis tidak hidup dengan baik. Ketika raja sedang sekarat, ia meminta St. Fransiskus datang kepadanya. Pikiran akan segera menemui ajalnya telah membuat raja gemetar ketakutan. Ia menghendaki agar Fransiskus melakukan mukjizat dan menyembuhkannya. Sebaliknya, yang dilakukan orang kudus tersebut adalah dengan lemah lembut membantu raja yang ketakutan itu mempersiapkan diri sebaik-baiknya agar dapat meninggal dengan kudus. Hati raja berubah. Ia menerima kehendak Tuhan dan wafat dengan tenang dalam pelukan Fransiskus.

St. Fransiskus menikmati umur panjang untuk memuliakan serta mengasihi Tuhan. Ia wafat pada hari Jumat Agung pada tahun 1507, dalam usia sembilan puluh satu tahun.

Friday, April 1, 2022

Terlalu Cepat Sehari

Pada pagi hari tanggal 21 Maret 2022 Bu Lani Harsono menulis di WA Rm. Bambang "Romo.. Kondisi romo Tri Hartono bgmn, Sdh perkembangan yng baikkah?". Ketika Rm. Bambang menjawab "Ya terbaring terus", dia memberi informasi "Kalau tdk ada halangan tgl 30 saya mau tengok ke kentungan..". Ketika tahu sesudah baca HISTORIA DOMUS dalam https://domuspacispetrus.blogspot.com bahwa pada Minggu pagi 27 Maret 2022 Rm. Tri masuk rumah sakit, pada Senin 28 Maret Bu Lani menulis WA "Jadi batal tengok😭😭 pikir saya mumpung ada kesempatan". Sementara itu Rm. Hartanta, Direktur Domus Pacis St. Petrus, berkata bahwa Bu Lani akan datang bersama Rm. Darmadi dari Paroki BSB Semarang pada Rabu 30 Maret 2022. Dan pada Selasa 29 Maret Bu Lani menulis ke Rm. Bambang "Romo.. Besok kita blh berkunjung?? Meski tdk ada romo Tri". Dan benarlah pada Rabu 30 Maret 2022 Rm. Darmadi mengunjungi Rm. Bambang disertai 2 orang ibu : Bu Lani dan Bu Tania. Pada Kamis 31 Maret 2022 Rm. Bambang melihat Mas Yohakim, kemenakan Rm. Tri Hartono. "Ndherekke Rama Tri, ya?" (Mengantar Rm. Tri Hartono, ya?) kata Rm. Bambang yang langsung dijawab oleh Mas Yohakim "Inggih, rama" (Ya, rama). Sore itu Rm. Tri memang sudah kembali di Domus Pacis. Dalam hati Rm. Bambang bilang "Bu Lani bisa kecewa karena datang di Domus terlalu cepat sehari".

Lamunan Pekan Prapaskah IV

Sabtu, 2 April 2022

Yohanes 7:40-53

40 Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” 41 Yang lain berkata: Ia ini Mesias. Tetapi yang lain lagi berkata: Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! 42 Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal.” 43 Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. 44 Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorangpun yang berani menyentuh-Nya. 

45 Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: Mengapa kamu tidak membawa-Nya?” 46 Jawab penjaga-penjaga itu: Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” 47 Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: Adakah kamu juga disesatkan? 48 Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? 49 Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!” 50 Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya, berkata kepada mereka: 51 “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?” 52 Jawab mereka: Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea. 

53 Lalu mereka pulang, masing-masing ke rumahnya.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, seorang pemimpin juga bertugas menegakkan tatanan atau hukum yang dipegang bersama dalam masyarakat. Dia harus menegakkan hukum untuk menilai benar atau salahnya warga.
  • Tampaknya, seorang pemimpin juga harus tahu bagaimana proses yang sesuai tatanan untuk bertindak terhadap warganya. Dia harus berjuang agar warga masyarakat melek hukum.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sekalipun sebagai tokoh masyarakat hidupnya amat selalu berpegang pada hukum, kalau hatinya sudah dibakar kebencian pada yang berseberangan, dia dapat bertindak menjadi pelanggar hukum. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan terbuka pada aneka pandangan sehingga dapat sungguh hidup sesuai kesejatian tatanan yang ada dalam hidup bersama.

Ah, kalau punya kuasa ya jelas punya wewenang untuk menentukan merah hijaunya keadaan.

Santa Maria dari Mesir

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 15 Februari 2017 Diperbaharui: 22 Maret 2020 Hits: 8474

  • Perayaan
    01 April
  •  
  • Lahir
    Sekitar tahun 344
  •  
  • Kota asal
    Alexandria - Mesir
  •  
  • Wafat
  •  
  • Sekitar Tahun 421 | Sebab alamiah
    Menurut legenda; Tubuhnya tetap utuh dan makamnya digali oleh seekor singa atas perintah Santo Sosimus
  •  
  • Venerasi
    -
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santa Maria dari Mesir (Maria Aegyptica) hidup pada abad ke-4. Awalnya ia adalah seorang pelacur yang berasal dari Aleksandria Mesir.  Pada hari pesta Salib Suci (Feast of the Exaltation of the Holy Cross ) ia datang ke Yerusalem. Bukan untuk berziarah, tapi dengan niat kotor hendak menjajakan diri kepada para peziarah yang datang untuk menghormati Relikwi Salib Suci yang telah ditemukan kembali oleh santa Helena.

Ketika ia mencoba memasuki Gereja Makam Kudus, tempat Relikwi Salib Suci di Takhtahkan, sebuah kekuatan yang tidak kelihatan menghalanginya dan membuat kedua kakinya terasa lumpuh. Menyadari bahwa ini terjadi karena keadaan dirinya yang bergelimang dosa, Maria tersadarkan dan segera menyesali cara hidupnya yang penuh noda. Dari luar Gereja Makam Suci, ia melihat ikon Theotokos (Bunda Maria) yang menatapnya dengan penuh kasih. Sambil memukul dada Maria berdoa memohon pengampunan. Ia bersumpah akan menebus semua dosa-dosanya dengan meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi pertapa di padang gurun.

Setelah mengucapkan kaul ini, ia mencoba melangkah ke dalam Gereja Makam Suci. Kali ini kedua kakinya dengan ringan membawanya ke hadapan altar. Dengan bercucuran airmata Maria berlutut dihadapan Relikwi Salib Suci; saat itulah ia mendengar sebuah suara berbisik: "Jika engkau menyeberangi sungai Yordan, engkau akan menjalani sisa hidupmu dalam kemuliaan."  Maria segera menuju ke sungai Yordan dan singgah sebentar di Biara Santo Yohanes Pembaptis yang berada di tepi sungai itu. Di sana ia menerima sakramen pengampunan dosa dan menjalani laku silih yang berat.  Selanjutnya, ia menyeberangi sungai Yordan menuju padang gurun untuk menggenapi kaulnya dan menebus dosa-dosanya dengan menjadi pertapa.  

Maria Aegyptica kemudian bertapa selama hampir 50 tahun di padang gurun di sisi Timur sungai Yordan. Dia hidup dalam keheningan dan doa yang khusuk, serta hanya makan daun-daun atau buah-buahan yang jatuh ke tangannya.

Puluhan tahun pun berlalu.  Suatu hari, Maria Aegyptica yang sudah tua renta bertemu dengan seorang biarawan bernama Santo Zosimus (Zosimus dari Palestina) yang tinggal di biara kecil di tepi sungai Yordan.  Maria meminta Sozimus membawakannya Komuni kudus di tepi sungai Yordan pada hari Paskah. Ketika Zosimus memenuhi keinginannya, Maria menemuinya diseberang sungai dengan cara berjalan di atas permukaan air, demi menerima Komuni Kudus. Setelah mengucapkan syukur dan terimakasih, Maria meminta Zosimus untuk kembali membawakannya Sakramen Ekaristi pada hari Paskah tahun selanjutnya.

Setahun kemudian Sozimus kembali tapi ia menemukan tubuh Maria Aegyptica sudah tidak bernyawa lagi. Tubuh pertapa wanita itu telah beberapa lama meninggal dunia, namun tetap utuh dan memancarkan bau yang harum semerbak. Zosimus lalu memakamkannya dengan bantuan seekor singa yang lewat, lalu kembali ke Biara.

Kisah hidup Maria Aegyptica dikisahkan oleh Zosimus kepada saudara-saudaranya, dan kisah tersebut dipelihara di antara komunitas mereka sebagai tradisi lisan. Tiga abad kemudian kisah ini dituliskan oleh Patriark Yerusalem, Santo Sophronius.(qq)

Santa Theodosia dari Tirus

diambil dari katakombe.org/para-kudus  Diterbitkan:  11 April 2015  Diperbaharui:  11 April 2015  Hits:  12199 Perayaan 02 April   Lahir Sek...