Tuesday, August 26, 2025

Yang Hanya Ada di Domus?

Sebetulnya sudah ada beberapa kali kunjungan yang berasal dari kelompok-kelompok Sekolah Evangelisasi Pribadi (SEP). Kelompok-kelompok seperti ini biasa terjadi di paroki-paroki, tetapi penyelenggaraan di paroki tertentu akan terbuka keikutsertaan umat dari paroki-paroki lain. Penyelenggaraan di kelompok tertentu bisa terjadi beberapa kali sehingga mempunyai kelompok-kelompok dengan angkatan-kangkatan tertentu. Pada Minggu 24 Agustus 2025 para rama Domus Pacis Santo Petrus juga mendapatkan kunjungan kelompok SEP. Tetapi kelompok SEP yang datang pada hari itu berbeda dengan kelompok-kelompok SEP yang pernah datang di Domus. Kelompok-kelompok SEP yang datang sebelumnya biasa beranggotakan bapak-bapak dan ibu-ibu atau yang bisa dikategorikan dalam kelompok tua. Lain halnya dengan kelompok yang berjunjung pada Minggu itu. Para anggota SEP itu adalah Kelompok SEP OMK Jogja. Karena OMK adalah singkatan dari Orang Muda Katolik, maka yang hadir adalah orang-orang muda. Kata salah satu wakil pengunjung mereka terdiri dari remaja, mahasiswa, dan ada juga yang sudah bekerja. Selain Rm. Adika Bhayangkara sebagai direktur Domus, ada 8 rama sepuh yang ikut menyambut : Rm. Djoko Setyo, Rm. Suhartana, Rm. Jarot, Rm. Harto, Rm. Yadi, Mgr. Blasius, Rm. Ria, dan Rm. Bambang.


Seperti biasa kalau ada rombongan kunjungan, selalu ada tanya jawab antara para tamu dan para rama. Sebetulnya ada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para pengunjung. Tetapi dalam kunjungan SEP OMK Jogja ini untuk berita bisa diketengahkan dua hal dari pertanyaan yang belum pernah muncul dalam kunjungan-kunjungan sebelumnya :

  • Apakah yang para rama ketahui tentang SEP? Kecuali Rm. Andika dan Rm. Djoko, ternyata tujuh rama sepuh hanya mendengar saja bahwa pada masa kini ada SEP. Bahkan, tampaknya 2 orang rama sepuh sebenarnya tidak tahu. Rama sepuh lain hanya tahu ada angkatan-angkatan dalam penyelenggaraan-penyelenggaraan dalam satu tempat atau paroki. Yang sudah tahu adalah Rm. Djoko dan Rm. Andika. Keduanya tahu bahwa kelahiran SEP ada kaitannya dengan gerakan Persekutuan Doa Karismatik. Kedua rama bisa menunjuk tokoh besarnya, yaitu Rm. Noto Budya. Ternyata Rm. Djoko dan Rm. Andika mengalami SEP OMK di Semarang. Itu ternjadi pada tahun 2007 ketika Rm. Djoko Setyo menjadi Rektur Seminari TOR Jangli dan Rm. Andika masih seorang frater. Tampaknya  itu adalah SEP OMK pertama di Keuksupan Agung Semarang.
  • Hal apa yang membuat para rama gembira berada di Domus Pacis Santo Petrus yang tak diketemukan di tempat lain? Ternyata para rama sepuh menyebut terjadinya tamu-tamu kunjungan. Kalau itu di pandang sebagai khas Domus barangkali karena suasananya tidak seremonial tetapi akrab persaudaraan santai omong-omong spontan. Suasana humor membuat pertemuan jauh dari warna upacara. Hal ini juga diiyakan oleh para tamu yang ternyata sebenarnya sudah menyusun acara-acara seperti pertemuan resmi. Selain itu yang dirasa tak diketemukan di lain tempat, terutama paroki dan keluarga, di Domus para rama sungguh-sungguh mendapatkan perhatian berkaitan dengan hal jiwani maupun terutama berkaitan dengan kondisi penyakit-penyakit yang disandang. Yang di lain tempat akan banyak merepotkan dan sulit terakomodasi, di Domus semua amat terjaga. Para karyawan Domus Domus sungguh terlatih mengurus rama sepuh termasuk penyakit-penyakitnya. Bahkan Domus memiliki ambulans khusus yang sewaktu-waktu untuk membawa ke RS Panti Rapih bagi yang membutuhkan. Perawat home care rutin datang bahkan seminggu sekali. dan juga ada dokter datang dari RS Panti Rapih.

Santa Monika

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 05 Desember 2013 Diperbaharui: 24 November 2020 Hits: 36255

  • Perayaan
    27 Agustus
    04 Mei (Gereja Orthodox Timur)
  •  
  • Lahir
    Sekitar tahun 322
  •  
  • Kota asal
    Tagaste - Afrika Utara (sekarang wilayah Aljazair)
  •  
  • Wilayah karya
    Afrika Utara - Roma Italia
  •  
  • Wafat
  •  
  • Tahun 387 di Ostia, Italia - Oleh sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santa Monika lahir di Tagaste, Afrika Utara dalam sebuah keluarga Kristen yang saleh. Ketika berusia 20 tahun, ia dinikahkan dengan Patrisius, seorang pemuda kafir yang cepat panas hatinya. Dalam kehidupannya bersama Patrisius, Monika mengalami tekanan batin yang hebat karena ulah Patrisius dan juga putranya Agustinus. Patrisius mencemoohkan dan menertawakan usaha keras Monika mendidik Agustinus menjadi seorang pemuda yang luhur budinya. Namun semuanya itu ditanggung Monika dengan sabar, sambil tekun berdoa memohon campur tangan Tuhan. Bertahun-tahun lamanya tidak ada tanda apa pun bahwa doanya dikabulkan Tuhan. Baru pada saat-saat terakhir hidupnya, Patrisius bertobat dan minta dipermandikan. Monika sungguh bahagia dan mengalami rahmat Tuhan pada saat-saat kritis suaminya.

Ketika itu Agustinus berusia 18 tahun dan sedang menempuh pendidikan di kota Kartago. Cara hidupnya semakin menggelisahkan hati ibunya karena telah meninggalkan imannya dan memeluk ajaran Manikeisme yang sesat itu. Lebih dari itu, di luar perkawinan yang sah, ia hidup dengan seorang wanita hingga melahirkan seorang anak yang diberi nama Deodatus. Untuk menghindarkan diri dari keluhan ibunya, Agustinus pergi ke Italia. Namun ia sama sekali tidak bisa luput dari doa dan air mata ibunya.

Monika berlari meminta bantuan kepada seorang uskup. Kepadanya uskup itu berkata: “Pergilah kepada Tuhan! Sebagaimana engkau hidup, demikian pula anakmu, yang bagimu telah kaucurahkan banyak air mata dan doa permohonan, tidak akan binasa. Tuhan akan mengembalikannya kepadamu.” Nasehat pelipur lara itu tidak dapat menenteramkan hatinya. Ia tidak tega membiarkan anaknya lari menjauhi dia, sehingga ia menyusul anaknya ke Italia. Di sana ia menyertai anaknya di Roma maupun di Milan.

Di Milan, Monika dan putranya bertemu dengan Uskup Santo Ambrosius yang kudus. Akhirnya oleh teladan dan bimbingan Santo Ambrosius, Agustinus bertobat dan bertekad untuk hidup hanya bagi Allah dan sesamanya. Saat itu bagi Monika merupakan puncak dari segala kebahagiaan hidupnya. Hal ini terlukis di dalam kesaksian Agustinus sendiri perihal percakapan mereka tentang perjalanan kembali ke Afrika : 

Dalam tulisan lain, Agustinus mengisahkan pembicaraan penuh kasih antara dia dan ibunya di Ostia Roma :

Beberapa hari kemudian, Monika jatuh sakit. Kepada Agustinus, ia berkata: “Anakku, satu – satunya yang kukehendaki ialah agar engkau mengenangkan daku di Altar Tuhan.”

Ibu yang luar biasa ini wafat pada tahun 387 M di Ostia, Roma. Kisah hidupnya membuktikan kepada kita bahwa doa yang tak kunjung putus, akan selalu didengarkan Tuhan.

Lamunan Peringatan Wajib

Santa Monika

Rabu, 27 Agustus 2025

Matius 23:27-32

27 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. 28 Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan. 29 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh 30 dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. 31 Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. 32 Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, seorang tokoh harus selalu siaga berhadapan dengan banyak orang. Dia menjadi public figure.
  • Tampaknya, layaklah kalau public figure akan selalu mematut diri dalam penampilan. Dia tak hanya akan tampil baik dalam dandanan tetapi juga dalam mempersiapkan kata-kata bila seorang pembicara.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, kemampuan seindah dan semenarik apapun dalam tampilan dandanan dan omongan, kalau tidak menggarap sikap dan perbuatan baik, orang sungguh bica mengalami bencana hidup. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan sadar bahwa terlalu memperhatian tampilan luar dan lahiriah tanpa menjaga karakter dan perbuatan akan membuat orang terperosok dalam kemunafikan. 

Ah, asal menarik di hadapan banyak orang, rejeki akan mengalir.

Monday, August 25, 2025

Rm. Tri Wahyono Juga Opname

Pada Minggu 24 Agustus 2025 Rm. Harto masuk RS Panti Rapih dan opname. Ternyata sehari kemudian, Senin 25 Agustus 2025, ada yang menyusul dari Domus Pacis Santo Petrus. "Wau Rama Tri Wahyono dipun dherekaken dhateng Panti Rapih" (Tadi Rm. Tri Wahyono diantar ke RS Panti Rapih) kata Mas Fallah, salah satu karyawan Domus, ketika para rama sudah siaga untuk makan siang bersama. "Kala wau jam sewelas" (Tadi jam sebelas) Mas Fallah menambahkan informasi yang disusul pertanyaan dari Rm. Bambang "Kena apa?" (Mengapa?). Mas Fallah menjelaskan "Kalau wau benter lan ugi muntah" (Tadi suhu badan panas dan mengalami muntah). Ketika Rm. Bambang bertanya "Rama Andika ya nututi?" (Apakah Rm. Andika menyusul?), Mas Fallah menjawab "Kala wau tindakan nitih montor" (Tadi pergi dengan mengendarai moyor). Tetapi pada waktu makan malam, ketika Rm. Bambang bertanya kepada Rm. Andika "Wau nggih tindak Panti rapih?" (Apakah tadi juga ke RS Panti Rapih), Rm. Andika menjawab "Inggih" (Ya, benar). Dari Mas Siswanto, yang mengantar ke RS Panti Rapih bersama Mbak Tri, Rm. Bambang mendapatkan informasi bahwa kini Rm. Tri Wahyono opname di Ruang Lukas 210. Pada malam hari yang mendapat tugas menjaga Rm. Tri Wahyono dan Rm. Harto adalah Mas Abas.

Lamunan Pekan Biasa XXI

Selasa, 26 Agustus 2025

Matius 23:23-26

23 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. 24 Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan. 25 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. 26 Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, dalam agama selalu ada tata ritual. Itu untuk mengatur tatacara doa, ibadat, dan penghormatan-penghormatan lain.
  • Tampaknya, dengan mengikuti aturan-aturan ritual orang bisa merasa dibenarkan dalam hidup. Orang tidak melanggar kehendak Tuhan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun dengan mentaati tata ritual dalam hidup keagamaan ada keyakinan ber-Tuhan, orang akan sungguh beriman kalau di samping tindakan upacara lahiriah juga berjuang menghayati pesan hidup yang terkandung di dalamnya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan menghayati hidup keagamaan secara ragawi dengan menjalani tata ritual yang ada dan secara jiwani berjuang menjalani pesan iman di dalamnya.

Ah, asal wajib-wajib agama dijalani, orang jelas sudah beriman.

Sunday, August 24, 2025

Rm. Harto Opname

Pada sekitar jam 16.17 Minggu 24 Agustus 2025 Mbak Pariyah, salah satu karyawan, masuk kamar Rm. Bambang "Rama, niki Rm. Harto ajeng dibekta teng IGD amargi benter" (Rama, Rm. Harto akan dibawa ke IGD RS Panti Rapih karena panas). Sekitar seperempat jam sebelum berita dari Mbak Pariyah, ada perawat home care RS Panti Rapih datang memberi tahu Rm. Bambang bahwa akan memasang sonde untuk Rm. Harto. "Biar tidak batuk-batuk kalau harus langsung makan" kata Mbak Tyas, perawat itu. Sebenarnya sejak pagi sehari sebelumnya suhu Rm. Harto memang sudah di atas 37 sehingga untuk makan harus dilayani di kamarnya. Bahkan pada pagi Minggu itu suhunya mencapai 39. Yang mengantar ke rumah sakit adalah Mas Siswanto dan Mas Enggar, para karyawan Domus. Ternyata Rm. Andika, direktur Domus, juga berangkat menyertai. Di mata Rm. Bambang peristiwa ini menjadi kasus pertama yang membujat beliau menangani rama sepuh Domus dalam urusan harus opname. Kini Rm. Harto opname di RS Panti Rapih Ruang Lukas 210.

Santo Louis IX

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 26 Agustus 2013 Diperbaharui: 22 Agustus 2016 Hits: 21226

  • Perayaan
    25 Agustus
  •  
  • Lahir
    25 April 1214
  •  
  • Kota asal
    Poissy, Perancis
  •  
  • Wilayah karya
    Perancis, Israel
  •  
  • Wafat
  •  
  • 25 Agustus 1270 di Tunisia dalam perjalanan menuju tanah suci Yerusalem
    Disemayamkan di Basilica of Saint Denis, Paris, France
    Pada saat Revolusi Perancia makamnya dihancurkan
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Tahun 1297 oleh Paus Bonifasius VIII
Louis (Ludovikus) lahir pada tanggal 25 April 1214. Ayahnya adalah raja Perancis Louis VIII dan ibunya adalah ratu Blanka. Menurut cerita, ketika Pangeran Louis masih kecil, ibunya memeluknya erat-erat. Katanya, “Aku mengasihimu, puteraku terkasih, dengan cinta kasih sebanyak yang dapat diberikan seorang ibu. Tetapi, aku lebih suka melihatmu mati di bawah kakiku daripada melihatmu melakukan suatu dosa besar.” Louis tidak pernah melupakan kata-kata ibunya itu. Ia menghargai iman Katoliknya juga didikan yang diberikan kepadanya. Ketika usianya dua belas tahun, ayahnya meninggal dunia dan ia dinobatkan sebagai raja. Ibunya ratu Blanka yang menjalankan pemerintahan sampai Lous berusia duapuluh satu tahun.
 
Louis adalah seorang raja yang mengagumkan. Ia menikah dengan Margaret, puteri seorang pangeran. Mereka saling mengasihi satu sama lain. Mereka dikaruniai sebelas putera puteri. Louis juga seorang suami dan ayah yang baik. Dan selama ibunya masih hidup, ia selalu menunjukkan sikap hormat kepadanya. Bagaimana pun sibuknya dia, Louis selalu menyempatkan diri untuk ikut ambil bagian dalam Misa harian dan selalu mendaraskan Doa Ofisi.
 
Louis juga anggota Ordo Ketiga Fransiskan dan hidup dalam semangat kemiskinan seturut teladan santo Fransiskus. Ia murah hati serta adil. Ia memerintah rakyatnya dengan bijaksana, belas kasihan dan dengan menerapkan prinsip-prinsip Kristiani sejati. Ia hidup sesuai dengan keyakinannya sebagai seorang Katolik. Ia tahu bagaimana melerai perdebatan dan perselisihan. Ia mendengarkan mereka yang miskin dan terabaikan. Ia menyediakan waktu bagi siapa saja, tidak hanya bagi mereka yang kaya serta berpengaruh. Ia memajukan pendidikan Katolik dan mendirikan biara-biara.
 
Seorang sejarawan, Joinville, menulis mengenai riwayat hidup St. Louis. Ia mengenang bahwa ia mengabdi raja selama duapuluh dua tahun lamanya. Setiap hari ia ada dekat raja. Dan sepanjang masa itu, ia dapat mengatakan bahwa tidak pernah sekali pun ia mendengar Raja Louis menyumpah atau mengucapkan kata-kata yang tidak sopan. Demikian juga raja tidak mengijinkan kata-kata demikian diucapkan dalam istananya.
 
St. Louis merasa bahwa merupakan suatu kewajiban penting baginya menolong umat Kristiani yang menderita di tanah suci. Ia ingin ikut ambil bagian dalam Perang Salib. Ketika Paus Urbanus II meminta para bangsawan Eropa untuk berjuang membebaskan Yerusalem dari pendudukan tentara Turki, Louis segera menyambutnya dengan mengirimkan bala-tentara Perancis bergabung dengan Pasukan Salib (Crusaders). Louis sendiri yang memimpin para Crusaders Perancis.
 
Dua kali ia memimpin pasukan berperang melawan bala tentara Turki. Dalam peperangannya yang pertama, ia tertawan. Tetapi, bahkan dalam penjara sekali pun, ia bersikap sebagai seorang kesatria Kristiani sejati. Ia gagah berani dan berbudi luhur dalam segala sikapnya. Louis kemudian dibebaskan setelah kerajaan Perancis membayar tebusan kepada para penawannya.
 
Ia kembali ke Perancis untuk mengurus kerajaannya. Tetapi, demi membebaskan tanah suci Yerusalem, Louis kembali menghimpun pasukan dan berangkat lagi ke medan perang.
 
Namun demikian dalam perjalanan, raja yang sangat dicintai rakyatnya itu terjangkit demam tipus. Beberapa jam menjelang kematiannya, ia berdoa, “Tuhan, sebentar lagi aku memasuki rumah-Mu, bersembah sujud di Bait-Mu yang kudus, serta memuliakan Nama-Mu.” St. Louis wafat pada tanggal 25 Agustus tahun 1270 dalam usia lima puluh enam tahun.
 
St. Louis dinyatakan kudus oleh Paus Bonifasius VIII pada tahun 1297.

Santa Theodosia dari Tirus

diambil dari katakombe.org/para-kudus  Diterbitkan:  11 April 2015  Diperbaharui:  11 April 2015  Hits:  12199 Perayaan 02 April   Lahir Sek...