Sunday, April 27, 2025

Beato Luchesius

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 04 April 2016 Diperbaharui: 18 Juni 2017 Hits: 9298

  • Perayaan
    28 April
  •  
  • Lahir
    Sekitar tahun 1180
  •  
  • Kota asal
    Poggibonsi, Umbria, Italia
  •  
  • Wafat
  •  
  • 28 April 1260 di Poggibonsi, Umbria, Italia - Sebab alamiah
  •  
  • Beatifikasi
    Tahun 1273 oleh Paus Gregorius X
  •  
  • Kanonisasi

Luchesio Modestini awalnya adalah seorang pedagang di kota kecil Poggibonzi, Tuscania, Italia. Seperti kebanyakan pedagang, Luchesio begitu terobsesi untuk mengumpulkan banyak uang. Ketamakannya membuat ia dikenal sebagai seorang yang rakus dan pelit. Isterinya, Buonadonna, juga bersifat demikian. Dikemudian hari, rahmat Tuhan menyentuh hati Luchesio. Ia menjadi sadar bahwa selama ini ia telah melupakan keselamatan jiwanya. Ia telah hidup demi mengejar harta duniawi yang tidak dapat dibawa ke dalam kehidupan kekal. Kata-kata Yesus bergema dalam hatinya :

Maka Luchesio pun mulai berubah. Ia bertekad untuk mempersembahkan sisa hidupnya kepada Yesus. Ia juga berhasil menginsyafkan isterinya untuk mulai berubah dan mengikuti cara hidupnya yang baru. Setiap hari orang akan melihat suami-isteri pedagang yang terkenal pelit ini hadir dalam misa kudus di gereja. Luchesio dan Buonadonna juga membuat penduduk kota Poggibonzi terheran-heran ketika mereka mulai membagi-bagikan sedekah kepada para fakir miskin dan mengerjakan banyak karya amal.

Karena khawatir dapat jatuh kembali kedalam ketamakan, mereka memutuskan untuk meninggalkan dunia bisnis. Luchesio dan Buonadonna lalu menjual semua harta mereka dan membagi-bagikannya kepada orang-orang miskin. Mereka hanya menyisakan sebidang tanah kecil yang kiranya cukup untuk menopang kehidupan mereka. Luchesius beralih profesi menjadi seorang petani sederhana dan menggarap lahannya dengan kedua-tangannya sendiri.

Pada waktu itulah Santo Fransiskus dari Asisi datang dan berkotbah di Tuscania. Kotbahnya tentang pertobatan begitu memukau, sehingga setelah ia selesai berkotbah, banyak orang ingin meninggalkan semua harta duniawinya dan masuk biara. Tetapi Santo Fransiskus menasihati mereka untuk tetap hidup sesuai dengan panggilan hidup mereka. Ia sudah berpikir untuk memberi mereka peraturan khusus yang dapat membimbing mereka untuk hidup melayani Tuhan dengan sempurna sambil tetap hidup di dunia ramai.

Dalam lawatannya ke Tuscany, Santo Fransiskus menyempatkan diri untuk mengunjungi Luchesius di Poggibonzi. Luchesius dan isterinya sudah dikenal oleh sang santo ketika ia membeli bahan bangunan untuk gereja yang sedang diperbaikinya. Santo Fransiskus sangat bergembira mendapati orang yang dahulu begitu rakus kini telah berubah. Di hadapan santo Fransiskus, Luchesius meminta petunjuk agar ia dan isterinya dapat menjalani hidup di dunia ini dengan lebih berkenan pada Tuhan.

Santo Fransiskus lalu menerangkan kepada mereka perihal rencananya untuk mendirikan sebuah ordo bagi kaum awam. Menurut tradisi, seketika itu juga Luchesius dan isterinya meminta untuk diterima dalam ordo tersebut. Karena itulah Luchesius dan Buonadonna disebut sebagai anggota perdana dari Ordo Pertobatan, atau yang dikemudian hari dikenal sebagai Ordo Ketiga Fransiskan (Tertiaris Fransiskan atau disebut juga Ordo Fransiskan Sekular).

Regula (aturan hidup) yang diberikan oleh santo Fransiskus bagi para Tertiaris perdana ini amat sederhana. Pada 1221 regula bagi para tertiaris ini diperbaharui oleh Kardinal Hugolino dalam rumusan-rumusan hukum. Dan pada tahun yang sama Paus Honorius III menyetujui aturan hidup ini. Karena inilah tahun 1221 sering dinyatakan sebagai tahun berdirinya Ordo Ketiga Fransiskan.

Setelah Luchesius mengenakan jubah Tertiaris Fransiskan yang berwarna abu-abu itu, dia pun dengan cepat maju dalam kehidupan rohaninya. Dia menjalankan laku silih dengan keras sebagai tanda pertobatan. Ia sering berpuasa dengan hanya makan roti dan minum air putih. Ia tidur pada lantai kasar, dan dalam setiap kegiatannya ia selalu membawa Tuhan di dalam hati.

Kemurahan hatinya pada orang-orang miskin tidak mengenal batas. Pada suatu hari tidak tersisa sepotong roti pun bagi ia dan isterinya. Ketika masih juga seorang miskin datang, ia meminta isterinya untuk mencari makanan apa saja yang bisa mereka berikan kepada orang miskin ini. Buonadonna kalut dan menyalahkan Luchesius.

“Matiraga!”, umpat sang isteri. “Hal itu telah membuatmu gila. Kita terus saja membagi-bagikan makanan sehingga tidak ada lagi yang tersisa. Kini kita sendiri yang harus kelaparan..”.

Dengan lemah lembut Luchesius meminta isterinya untuk kembali ke ruangan tempat mereka menyimpan bahan makanan. Betapa takjubnya Buonadonna ketika mendapati ruangan yang tadinya kosong kini penuh dengan roti kualitas terbaik. Sejak saat itu Buonadonna seakan berlomba dengan suaminya dalam menjalankan laku silih, matiraga dan karya amal. Luchesius kemudian diberkati Tuhan dengan karunia ektase rohani, levitasi dan penyembuhan.

Ketika suatu wabah penyakit berkecamuk di Poggibonzi dan daerah sekitarnya, Luchesius pergi ke sana dengan seekor keledai yang penuh dengan bahan makanan dan obat-obatan untuk orang-orang sakit. Ketika semua yang dibawanya tidak cukup untuk semua orang, dia mengemis di pinggir jalan demi kepentingan mereka yang menderita itu.

Pada suatu hari Luchesius menggendong seorang cacat yang sakit, yang ditemukannya di pingir jalan. Seorang pemuda urakan berpapasan dengannya dan dengan nada mengejek bertanya, “Iblis malang macam mana pula yang kau gendong itu?” Dengan tenang Luchesius menjawab, “Saya sedang menggendong Tuhanku Yesus Kristus.” Seketika itu juga wajah pemuda itu rusak bentuknya, dan ia menjadi bisu. Dengan penuh penyesalan dia menjatuhkan diri di kaki Luchesius. Dengan tanda Salib, Luchesius memulihkannya dan ia pun dapat berbicara lagi.

Suatu saat Luchesius terbaring dalam keadaan sakit keras. Ia dapat merasakan bahwa waktunya untuk berpulang sudah tiba. Saat ia hendak berpamitan kepada isterinya, Buonadonna berkata kepadanya, “Mohonlah kepada Tuhan, yang telah menganugerahi kita untuk saling mendampingi dalam hidup, semoga ia mengijinkan kita untuk bersama-sama kembali kepadaNYA.”

Luchesius pun berdoa seperti yang diminta, dan beberapa saat kemudian, Buonadonna tiba-tiba jatuh sakit. Setelah dengan khusuk menerima sakramen ekaristi dan minyak suci, Buonadonna meninggal dunia mendahului suaminya. Beberapa waktu kemudian, tepatnya pada tanggal 28 April 1260, dengan senyum kebahagiaan Luchesius menutup matanya untuk selama-lamanya.

Banyak mujizat dilaporkan terjadi di makamnya di gereja Fransiskan di Poggibonzi. Penghormatan yang terus menerus pada dirinya mendapat pengukuhan dari gereja saat ia digelari Beato (yang terberkati) pada tahun 1273 oleh Paus Gregorius X.

Lamunan Pekan Paskah II

Senin, 28 April 2025

Yohanes 3:1-8

1 Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. 2 Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya." 3 Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." 4 Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?" 5 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. 6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. 7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. 8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, orang bisa berkeyakinan akan sungguh baik kalau serius dalam beragama. Dia akan tekun menjalani apapun tatanan dalam agama.
  • Tampaknya, orang juga bisa yakin kalau mau baik harus selalu maju berkembang dalam keagamaan. Dia bisa rajin mengikuti program-program keagamaan dengan segala visi dan misi serta agenda-agenda pelaksanaannya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun rajin mengikuti program tahapan hidup beragama, orang akan sungguh memiliki dinamika hidup berlandaskan iman kalau selalu melandaskan diri pada aura relu hati yang tuntunannya tak terasa di dalam hidup harian. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu menemukan hal-hal segar dalam hidup sehari-hari yang membuatnya selalu baru dan diperbarui. 

Ah, orang hebat itu yang bisa bertahan dalam pandangan hidupnya dalam keadaan apapun.

Tak Mendatangi Tapi Didatangi

Bagaimanapun juga para rama sepuh Domus Pacis memang sudah jauh dari derap kegiatan umat umum. Maka layaklah kalau di hari-hari besar seperti Pekan Suci 2025 tak ada satupun yang ikut di luar Domus. Para rama sepuh Domus mengadakan Misa sendiri di Kapel Domus. Tentu saja Pembaharuan Janji Imamat sebelum Kamis Putih juga dilakukan dengan ikut Misa streaming yang dipimpin oleh Uskup. Di antara para rama sepuh Domus hanya 2 orang yang masih mempunyai kegiatan rutin di luar Domus : Rm. Jarot sebulan sekali pertemuan kelompok air alkalin di Gondang sebulan sekali, dan Rm. Bambang yang mendampingi pertemuan kelompok lansia sebulan sekali di Pringgolayan. Dalam hal pergi keluar Domus dan bahkan menginap, itu hanya terjadi pada Rm. Suhartana. Beliau sering ikut dan dijemput keluarga. Tampaknya, dalam hubungan dengan umat umum, hal itu hanya terjadi pada Rm. Bambang. Dia secara rutin selalu mem-publish tiga macam status dalam media sosial. Dia juga yang masih kadang diminta umat untuk Misa ujub keluarga. Tentu saja pelayanannya terbatas pada sisa daya yang masih ada. Dia tak pernah bisa keluar Domus tanpa pengantar dengan mobil. Dia sudah tak bisa melayani umat dengan harus berdiri seperti Misa Paroki. Kursi roda sudah melekat dalam mobilisasi dirinya. Meskipun demikian, masih ada umat yang minta untuk pelayanan Paskahan pada tahun 2025 ini. Itu terjadi pada dua peristiwa : 1) Menjadi penghadir homili dalam Perayaan Paskah Guru dan Karyawan Kristiani sekolah-sekolah dari TK hingga SMA/SMK Kota Yogyakarta pada Kamis 24 April 2025 ; 2) Paskah Umat Lingkungan Santo Agustinus Nologaten, Paroki Pringwulung, pada Sabtu 26 April 2025. Untuk semua rama sepuh Domus bisa dikatakan yang terjadi "bukan rama mendatangi umat, tetapi rama didatangi umat".

Saturday, April 26, 2025

Santa Zita

diambil dari katakombe Diterbitkan: 11 Agustus 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014 Hits: 13676

  • Perayaan
    27 April
  •  
  • Lahir
    Tahun 1218
  •  
  • Kota asal
    Bozzanello, Monte Sagrate, Tuscany, Italy
  •  
  • Wafat
  •  
  • 27 April 1272 di Lucca, Italy | Sebab alamiah
  •  
  • Beatifikasi
    Tahun 1652 oleh Paus Innosensius X
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • 5 September 1696 oleh Paus Innosesius XII

St. Zita dilahirkan di dusun Monte Sagrati, Italia, pada tahun 1218. Walau berasal dari keluarga yang sangat bersahaja namun kedua orangtuanya sangat saleh dan membesarkan Zita dengan cinta kasih Kristiani.

Merupakan tradisi pada waktu itu bahwa keluarga-keluarga miskin akan mengirimkan anak-anak gadis mereka kepada keluarga-keluarga yang terpercaya, yang mampu mempekerjakan mereka. Para gadis itu akan tinggal dalam keluarga tersebut untuk beberapa waktu lamanya dan dipekerjakan untuk melakukan tugas-tugas rumah tangga. Zita pergi bekerja di rumah keluarga Fatinelli di Lucca ketika usianya dua belas tahun.

Bapak dan Ibu Fatinelli adalah orang yang baik, mereka memiliki beberapa pekerja. Zita senang dapat bekerja dan mengirimkan upahnya kepada orangtuanya. Ia berusaha hidup penuh tanggung jawab. Ia membiasakan diri untuk berdoa di luar jadwal kerjanya. Setiap pagi ia bangun pagi-pagi benar agar dapat ambil bagian dalam perayaan Misa.

Zita seorang pekerja yang rajin. Ia merasa bahwa bekerja adalah bagian dari hidupnya. Tetapi pekerja-pekerja lain iri hati kepadanya. Sedapat mungkin mereka bekerja sedikit saja. Mereka mulai mencari-cari kesalahan Zita serta memusuhinya tanpa sepengetahuan majikan mereka. Zita merasa sedih, tetapi ia berdoa mohon kesabaran. Ia tidak pernah melaporkan mereka. Ia tetap melakukan tugas-tugasnnya sebaik mungkin tanpa peduli pendapat mereka.

Santa Zita selalu berusaha siapa saja yang membutuhkannya semampu yang bisa ia berikan.  Upahnya selama bekerja sebagai pembantu rumah tangga ia habiskan untuk membeli makanan untuk para pengemis dan tuna wisma.  

Seluruh hidupnya ia habiskan dengan bekerja untuk keluarga Fatinelli. Sementara para pekerja lainnya datang dan pergi, ia tetap setia. Ia melayani majikannya dengan cinta kasih. Ia mengasihi mereka seperti ia mengasihi keluarganya sendiri. Dengan teladannya, Zita membantu orang menyadari bahwa bekerja itu menyenangkan apabila dilakukan dengan semangat cinta kasih Kristiani. Zita wafat dengan tenang pada tanggal 27 April 1278 dalam usia enam puluh tahun.

Tubuh St. Zita ditemukan terawetkan pada tahun 1580 dan saat ini disemayamkan di gereja St. Frediano di Lucca, Italia, persis disamping rumah keluarga Fatinelli.

Lamunan Pekan Paskah II

Minggu, 27 April 2025

Yohanes 20:19-31

Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" 20 Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. 21 Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." 22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus. 23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."

24 Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. 25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." 26 Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" 27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." 28 Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" 29 Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."

30 Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, 31 tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.

Butir-butir Permenungan

  • Katanya, seseorang dapat disebut sebagai penulis handal kalau tulisannya menyentuh hati dan atau memperluas cakrawala banyak orang. Banyak orang membaca buku yang berisi tulisannya.
  • Katanya, setiap tulisan selalu mengetengahkan penghayatan dan atau pemikiran penulis. Dalam tulisan seorang penulis menyampaikan pandangan-pandangannya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, semenyentuh apapun tulisan sehingga banyak orang membacanya, semuanya akan sungguh bermakna kalau penulis menyadari adanya sudut pandang yang membatasi sehingga masih ada banyak hal yang tak tertuang. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang yang mampu menulis akan menjadi penulis sejati kalau memiliki kerendahan hati dengan menyadari adanya keterbatasan dalam tulisan sehebat apapun. 

Ah, penulis hebat akan banyak penghasilan uang.

Friday, April 25, 2025

Omongan Ngawurologis (6)

Kalau ini tentang kebingungan seorang pastor ketika mempersiapkan khotbah. Injil yang akan dibacakan adalah Lukas 19:1-10. Isinya tentang kisah Zakeus. Ini sudah populer di kalangan umat. Bahkan kanak-kanak bina iman juga amat menyukainya. Pastor yakin khotbah akan menarik karena dia memang amat pintar mendramatisir cerita. Maklumlah, dulu selain pemain drama dan sutradara serta juga kerap menulis drama-drama kisah-kisah Kitab Suci. Di dalam persiapan pastor akan memfokuskan kesediaan bertindak Zakeus setelah menerima Tuhan Yesus. Itu tertera dalam ayat 8 dimana Zakeus berkata “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”

Ternyata pastor itu menyiapkan khotbah sambil melihat TV di dalam kamarnya. Tiba-tiba ada berita tentang kongklomerat yang ketahuan merugikan negara hingga triliunan. Sang pastor kemudian teringat berita-berita viral tentang para koruptor. Ada yang tingkat kelurahan dengan besaran korupsi sekian ratus juta. Ada yang aparat tingkat tinggi hingga ratusan miliard. Dari para koruptor ternyata ada yang agamanya Kristiani. Di pengadilan ada yang dijatuhi hukuman penjara berikut denda sampai miliardan. Seperti masyarakat pada umumnya, sang pastor menilai para koruptor amat merugikan rakyat. Mereka adalah sosok-sosok yang tak peduli tata hukum bahkan dengan sengaja melanggarnya. Ingatan siaran TV dan berita viral dalam medsos membuat sang pastor bisa memiliki gambaran seorang Zakeus. Dia adalah aparat perpajakan karena “Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya” (ayat 2). Pastor ingat bahwa pada zaman Tuhan Yesus orang seperti Zakeus biasa memungut melebihi aturan.

Mengingat kesediaan Zakeus seperti dikatakan di hadapan Tuhan dan banyak orang, sang pastor mencari tahu ganti rugi uang yang harus diberikan kalau orang merugikan orang lain. Dari https://gibeon.church/sermon-series/anugerah-yang-mengubah/sermons/zakheus dia mendapatkan penjelasan tuntutan hukum menurut hukumTaurat, yaitu “mengembalikan seharga yang diperas dan ditambah 20%”. Ternyata Zakeus akan memberikan separo kekayaan untuk orang miskin dan mengganti empat kali lipat terhadap yang pernah diperas. Sang pastor membayangkan bagaimana kalau kekayaan Zakeus 100M. Dengan separo diberikan orang miskin dia masih punya 50M. Bagaimana kalau yang diperas sudah lebih dari 25 orang? Bagaimana kalau rata-rata per orang sebagai pimpinan kantor pajak Zakeus mendapatkan 500juta? Dia harus menyediakan pengembalian per orang 2M sehingga uang 50M habislah. Maka, miskinlah dia. Sang pastor jadi bertanya-tanya mengapa Zakeus tak tanya dan ikut aturan hukum sehingga dia masih bisa punya kekayaan 35M. Apakah untuk orang buruk yang biasa tak peduli tata aturan dan hukum ketika jadi baik juga tak juga pikir aturan atau hukum? Apakah untuk jadi baik orang malah celaka? Sang pastor jadi bingung sehingga terpikir apakah mengganti saja Injil dan mencari yang berisi orang baik akan damai sejahtera dan rezeki akan berlimpah.

Santo Paschasius Radbertus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 11 Agustus 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014 Hits: 9710

  • Perayaan
    26 April
  •  
  • Lahir
    Tahun 790
  •  
  • Kota asal
    Soissons, Perancis
  •  
  • Wafat
  •  
  • Tahun 860 | Sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Tak seorang pun tahu siapa orangtua santo Paschasius. Sesaat setelah ia  dilahirkan, orang tuanya membuang bayi malang Paschasius di depan pintu Biara Notre Dame. Para biarawati mengasihi dan merawat sang bayi. Mereka menamainya Radbertus. Ketika sudah cukup besar untuk belajar, Radbertus dikirimkan kepada para biawaran Benediktin yang tak jauh dari sana untuk bersekolah.

Radbertus senang belajar dan teristimewa menaruh minat pada sastra Latin. Setelah dewasa, ia hidup tenang sebagai ilmuwan. Ia tetap seorang awam selama beberapa tahun. Kemudian ia merasakan panggilan untuk menjadi seorang biarawan. Ia menggabungkan diri dalam suatu komunitas yang dipimpin oleh dua abbas yang penuh semangat, yakni St. Adalhard dan saudaranya yang menggantikannya, Abbas Wala. Radbertus berupaya menjadi seorang biarawan yang kudus. Ia kerap menemani kedua abbas dalam perjalanan-perjalanan mereka. Ia menulis biografi kedua abbas setelah mereka wafat. Radbertus menjadi seorang ahli Kitab Suci. Ia menulis ulasan panjang mengenai Injil St. Matius. Ia juga menulis ulasan mengenai bagian-bagian lain dari Injil. Tetapi karyanya yang paling tersohor berjudul “Tubuh dan Darah Kristus”.

Radbertus tidak merasakan panggilan untuk menjadi imam. Tetapi ia dibujuk untuk menerima penunjukkan sebagai abbas selama tujuh tahun lamanya. Kemudian ia mendesak untuk kembali ke cara hidup dalam doa, meditasi, belajar dan menulis. Masa jabatannya sebagai abbas sungguh amat sulit baginya meski ia berupaya melakukan yang terbaik seturut kemampuannya. Ia menghabiskan sisa hidupnya dengan berdoa, menulis dan melaksanakan tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya. Radbertus wafat pada tahun 860.

Santa Theodosia dari Tirus

diambil dari katakombe.org/para-kudus  Diterbitkan:  11 April 2015  Diperbaharui:  11 April 2015  Hits:  12199 Perayaan 02 April   Lahir Sek...