Friday, February 24, 2023

Santa Walburga

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 27 Maret 2017 Diperbaharui01 Februari 2020 Hits: 11584

  • Perayaan
    25 Februari
    1 Mei
  •  
  • Lahir
    Tahun 710
  •  
  • Kota asal
    Devonshire, Inggris
  •  
  • Wilayah karya
    Bavaria Jerman
  •  
  • Wafat
  •  
  • 25 Februari 779 di Heidenheim Jerman
    Sebab alamiah
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santa Walburga lahir pada tahun 710 di Devonshire, Inggris dalam keluarga aristokrat. Ia adalah putri Santo Richard (Santo Richard Peziarah), raja Kerajaan Saxons di Wessex Inggris. Dua orang saudaranya juga menjadi orang kudus; yaitu Santo Winebald dan Santo Willibaldus. Seorang pamannya, yaitu adik dari ibunya, adalah Santo BonifasiusUskup dan rasul bangsa Jerman yang terkenal itu.

Ketika ia berumur 11 tahun, Ayahnya Richard bersama kedua saudaranya berangkat ziarah ke tanah suci Yerusalem. Walburga dititipkan di biara susteran Benediktin di Wimborne Dorsetshire Inggris. Ia dididik oleh para biarawati dan ditahbiskan menjadi seorang suster. Ia tinggal di biara ini selama 26 tahun sampai keberangkatannya ke Jerman pada tahun 748.

Walburga tiba di Jerman sesudah dua saudaranya, Willibald dan Winebald, untuk membantu Santo Bonifasius, dalam karya penginjilan diantara bangsa Jerman yang masih kafir. Bersama santo Bonifasius, mereka mendirikan biara-biara di beberapa wilayah Jerman yang baru menerima iman Kristiani. Selanjutnya Walburga diutus ke biara Benediktin di Heidenheim untuk membantu Winebald yang telah ditunjuk sebagai pimpinan biara tersebut.

Sesudah santo Winebald meninggal dunia pada tahun 761, Walburga ditunjuk untuk menggantikannya. Dibawah kepemimpinan suster Walburga, biara Heidenheim menjadi terkenal ke seluruh Jerman.  Bukan hanya terkenal karena mempraktekkan disiplin hidup membiara yang ketat, namun juga karena suster Walburga, sang pemimpin biara, diberkati Tuhan dengan karunia penyembuhan. Ia memiliki kuasa atas berbagai macam penyakit dan mampu menyembuhkan orang sakit dengan doa dan minyak pengurapan.

Santa Walburga tutup usia dengan tenang pada tanggal 25 Februari 779 dan dimakamkan di biara tersebut. Pada tahun 870 relikwi-nya dipindahkan ke Gereja Salib Suci Eichstatt, Jerman.(qq)

Lamunan Sesudah Rabu Abu

Sabtu, 25 Februari 2023

Lukas 5:27-32

27 Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!" 28 Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia. 29 Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. 30 Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: "Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" 31 Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; 32 Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, ada gambaran bahwa di dalam menjalani agama kalau berdosa orang harus bertobat. Bertobat berarti berarti meninggalkan kehidupan baik dari tindakan diri maupun dari pergaulan yang buruk.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa untuk bertobat orang harus mengikuti tatacara yang ditentukan oleh agama. Yang sungguh bertobat akan serius menjalani hidup keagamaan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, sekalipun agama menghadirkan tatacara untuk bertobat bagi pendosa, orang baru sungguh menjalani tobat kalau hatinya mengikuti hati Tuhan yang amat peduli pada kaum pendosa. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati dengan bertobat orang akan tetap terbuka berbaikan dengan kaum pendosa untuk menghadirkan kegembiraan hidup berdekatan bersama Tuhan.

Ah, bertobat itu yang meninggalkan perbuatan dosa dan lingkungan kaum pendosa.

Thursday, February 23, 2023

Prapaskah : Wajib Matiraga


“Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6:16-18)

 

a.      Bukan kebanggaan

Masa Prapaskah  adalah masa Retret Agung. Istilah lain dari retret adalah samadi. Di dalam olah rohani Jawa biasa disebut bertapa. Orang-orang yang menyingkir dari pergaulan harian umum disebut pertapa sebagaimana terjadi pada biarawan-biarawati Katolik yang menekankan kehidupan kontemplasi misalnya yang ada di Rawaseneng dan Gedana.

Secara umum pada masa seperti itu salah satu yang biasa dijalani adalah kegiatan berpuasa. Dan kegiatan berpuasa ini biasa dimengerti berkaitan dengan kegiatan tidak makan dan minum. Orang yang bisa tidak makan minum pada masa tertentu atau diakui keseriusannya dalam berpuasa sehingga akan diakui sebagai orang sungguh beragama. Karena tidak makan minum dalam kurun waktu tidak sebentar, orang dapat mengalami kondisi lemah paling tidak dalam tampilan ragawi. Karena tampilan seperti ini bisa membuat orang lain tahu bahwa dia sedang berpuasa dan akan sungguh mendapatkan pujian dan sanjungan sebagai orang yang serius beragama. Karena puasa dengan tanda-tanda seperti itu menghadirkan kebanggaan, bisa terjadi kalau tubuh tetap segar meski mengurangi atau tidakmakan minum, orang dapat merekayasa tampilan agar tampak berkondisi lemah. Tampilan-tampilan rekayasa seperti ini, apalagi kalau sebetulnya tidak menjalani puasa, amat dikecam oleh Tuhan Yesus. Kegiatan berpuasa bukanlah eksposisi kebaikan. Bahkan Tuhan Yesus menuntut agar dalam berpuasa memiyaki rambut dan mencuci muka sehingga tampak segar walau lapar dan haus.

Puasa alamiah kaum lanjut usia

Di dalam aturan tentang puasa ada aturan Gereja bahwa yang berusia 60 tahun keatas bebas dari kewajiban berpuasa. Gereja membedakan antara puasa dan pantang. Meskipun demikian secara rohaniah, karena Kitab Suci adalah landasan dasar hidup rohani, puasa adalah kewajiban untuk semua orang. Maka yang perlu dicari adalah bagaimana kaum lanjut usia harus menjalani kewajiban berpuasa.

Matiraga kembangkan “habitus baru”

Bagaimanapun juga puasa adalah tindakan yang mengakibatkan kondisi raga terasa tidak nyaman, tidak enak, dan tidak segar. Inilah mengapa puasa juga disebut matiraga. Puasa selalu menyangkut segi jasmaniah. Tetapi dalam masa Prapaskah puasa dijalani dalam rangka Retret Agung. Dan yang harus disadari adalah bahwa setiap retret, agung atau tidak agung, adalah latihan rohani, latihan hidup dalam bimbingan Roh Kudus. Orang beriman akan yakin dalam bimbingan Roh dia akan dinamis, selalu baru dan diperbarui, sehingga mengalami suasana damai sejahtera dalam hidupnya.

Puasa 40 hari sebagai Retret Agung terutama menjadi proses pengembangan diri untuk semakin mengikuti Tuhan Yesus Kristus sesuai dengan perkembangan situasi hidup dan budaya. Dalam hal ini kaum lanjut usia dalam puasa diajak untuk menyadari perkembangan situasi hidupnya secara kongkret kini dan di sini. Hal-hal apa yang saat ini sudah ada dalam keadaan baik? Hal-hal apa yang menjadikan diri ada dalam kondisi tidak baik? Dalam proses selama 40 hari lewat berbagai permenungan dan doa dengan terang iman selama Prapaskah, kaum lanjut usia melatih diri untuk mampu meneladan Tuhan Yesus yang mengalami kemuliaan Paskah lewat salib, yaitu derita dan wafat-Nya. Kalau kita sudah ada dalam keadaan baik, kita berupaya menemukan pengembangan sikap dan tindakan apa untuk mempertahankannya. Kalau keadaan kita tidak baik, kita berupaya menemukan perubahan dan melatih diri untuk menghayatinya. Dengan demikian puasa dalam masa Prapaskah menjadi proses melatih kebiasaan baru atau habitus baru untuk menjadi orang lanjut usia yang segar ceria sekalipun lewat susah derita selama 40 hari.

Limpahnya penghayatan puasa

Kalau puasa juga menjadi kegiatan matiraga, untuk hal ini kaum lanjut usia memiliki kesempatan yang amat luas. Sesehat apapun seorang lanjut usia, secara ragawi sudah mengalami pelemahan dibandingkan dengan usia-usia sebelumnya. Dia sudah harus mewaspadai kondisi badan agar tetap segar. Apalagi kalau dilihat secara umum, kaum lanjut usia sudah mengalami kerawanan fisik sehingga penyakit(-penyakit) mudah menjangkiti. Dalam hal ini kerap muncul yang disebut dengan diet atau pantang makanan atau minuman tertentu demi menjaga kondisi tubuh tidak dikuasai oleh perkembangan penyakit tertentu. Tentang pantang, yang sudah lanjut usia tanpa penyakit pun juga harus mulai mengurangi santapan ini dan itu agar terhindar dari penyakit yang biasa menjadi idapan lanjut usia.

Diet atau pantang asupan itu dapat dijalani sebagai tindakan berpuasa bagi kaum lanjut usia. Orang berlanjut usia selama masa Prapaskah melatih diri meninggalkan menu yang mungkin sebelumnya menjadi favorit tetapi kini membahayakan kondisi fisiknya. Dia berlatih membiasakan diri menyantap makanan-makanan yang dipandang amat sesuai untuk kebugaran tubuh sesuai dengan realitas masa kini. Ini adalah pelatihan menghayati kebiasaan atau habitus baru. Apalagi kalau makanan-makanan sehat untuk masa kini dulu tidak pernah masuk dalam seleranya. Di sini kegiatan santap menu baru menjadi jalan pertobatan karena berbalik mengikuti kehendak kebaikan. Dengan demikian, sekalipun secara yuridis formal sudah bebas berpuasa, kaum lanjut usia justru masuk dalam keleluasaan menjalani matiraga berlatih mengikuti Tuhan Yesus Kristus sesuai dengan perkembangan dirinya. Latihan rohani ini, karena tanpa penyangkalan batin orang tak akan mampu menjalani olah ragawi dalam berpuasa, akan membuat orang meraih kebiasaan baru yang menjadi kebiasaan perilaku sesudah masa Prapaskah.

 

b.     Penghalang utama

Bagaimanapun juga puasa menjadi ungkapan untuk tindakan menyangkal diri dan memikul salib berupa ketidakenakan. Ini dapat dihayati sebagai hal yang membuat orang merasa tidak bebas. Bagi orang lanjut usia yang inginnya mengikuti kehendak sendiri, dia dapat memperoleh alasan syah secara Gerejani. Dia bisa berkata bahwa “Aku kan sudah umur 60 tahun, jadi sudah bebas dari puasa”. Kaum lanjut usia memang sudah bebas dari puasa yang diatur oleh Keuskupan. Dan aturan ini dapat menjadi dalih untuk tidak bermatiraga.

Tetapi bagaimana dengan puasa sebagai bentuk pelaksanaan kewajiban beragama yang sesuai dengan realitas diri sebagai kaum lanjut usia? Untuk membangun kebiasaan baru yang menyegarkan badan ada hal yang menjadi hambatan besar. Kaum lanjut usia bisa memiliki selera berat terhadap makanan atau minuman tertentu. Jeratan selera ini dapat menggagalkan untuk membiasakan diri dengan menu lain bahkan baru di luar kebiasaan makan. Apalagi kalau yang baru itu amat bertentangan dengan selera lidah.

Santo Montanus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 28 Juli 2013 Diperbaharui: 21 Februari 2016 Hits: 6153

  • Perayaan
    24 Februari
  •  
  • Lahir
    Hidup pada Abad ke-3
  •  
  • Kota asal
    Kartago - Afrika Utara
  •  
  • Wafat
  •  
  • Tahun 259 | Martir
    Dipenggal kepalanya.
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Kaisar Valerianus menganiaya umat Kristiani dengan bengis sepanjang masa Gereja perdana. Ia meluluskan eksekusi St. Siprianus dari Kartago pada bulan September 258. Tak lama kemudian, pejabat yang menjatuhkan hukuman mati kepada St. Siprianus tewas dan pejabat baru penggantinya nyaris menjadi kurban dari suatu persekongkolan untuk menghabisi nyawanya.

Otoritas Romawi mencurigai persekongkolan ini adalah bentuk balas dendam atas kematian St. Siprianus. Mereka lalu menangkap delapan orang yang tidak tahu apa-apa. Semuanya adalah orang-orang Kristen, sebagian besar adalah para klerus, dan semuanya adalah pengikut setia St. Siprianus.

Tahanan Kristen itu dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah yang gelap. Di sana mereka mendapati para saudara Kristiani mereka yang sudah lama ditangkap. Kotor dan pengap melingkupi kelompok tahanan ini. Mereka sadar bahwa mereka akan segera menghadapi kematian dan kebakaan. Orang-orang Kristen itu ditahan berbulan-bulan lamanya dalam penjara. Mereka dipaksa bekerja di siang hari, dan tanpa sebab seringkali tak diberi makan dan minum. Dalam situasi yang tak berperikemanusiaan macam itu, komunitas kecil umat Kristen ini bersatu padu dan saling tolong-menolong satu sama lain. Yang awam melindungi para uskup, imam dan diakon yang selalu menjadi sasaran kekejian para penjaga.

Ketika tahanan Kristiani pada akhirnya dibawa ke tempat pelaksanaan hukuman mati, masing-masing diijinkan untuk berbicara.
St. Montanus, yang tinggi kekar, berbicara dengan gagah berani kepada segenap umat Kristiani yang ada di antara khalayak ramai. Ia menasehati mereka untuk setia kepada Yesus dan untuk lebih memilih mati daripada mengingkari iman.
St. Lucius, yang kecil dan rapuh, berjalan tertatih-tatih ke tempat eksekusi. Ia lemah akibat masa-masa berat dan sulit di penjara namun matanya berbinar-binar menatap langit.  Sesungguhnya, ia harus bertopang pada dua teman yang membantunya tiba di tempat di mana para algojo telah menanti untuk memenggal kepalanya. Mereka yang menyaksikan berseru-seru memintanya untuk mengingat mereka di surga.

Sementara tahanan Kristen ini seorang demi seorang dipenggal kepalanya, khalayak ramai semakin berani. Mereka menangisi para martir yang menderita ketidakadilan. Tetapi mereka bersukacita juga. Mereka sadar bahwa para martir ini akan memberkati mereka dari surga. Santo Montanus dari Kartago, Santo Lucius dari Kartago, Santo Julianus dari Kartago, Santo Victorius dari Kartago, Santo Flavianus dari Kartago dan lima orang Santo lagi yang tidak kita ketahui namanya wafat sebagai martir pada tahun 259.

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja

Lamunan Sesudah Rabu Abu

Jumat, 24 Februari 2023

Matius 9:14-15

14 Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" 15 Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.

Butir-butir Permenungan

  • Katanya, salah satu kegiatan masa Prapaskah adalah berpuasa. Puasa di dalam Gereja Katolik ditentukan selama 40 hari mulai hari Rabu, karena pada 6 hari Minggu ada libur puasa.
  • Katanya, dalam berpuasa orang menjalani matiraga dengan pantang atas atas menu dan kenikmatan lain. Dalam Gereja Katolik Uskup mengatur apa yang harus dilakukan dalam matiragi pada Rabu Abu dan Jumat Agung, sedang hari-hari lain ditentukan dalam komunitas atau keluarga atau secara perorangan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun bentuk-bentuk matiraga memang bisa mendukung praktek berpuasa, itu semua bisa tidak memiliki makna religius kalau tidak membuat orang mengalami sukacita relung hati karena keterbukaan pada hadirat Tuhan dalam hidup seseorang. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar bahwa bentuk-bentuk matiraga dalam berpuasa harus sesuai dengan perkembangan situasi hidup dan budaya setempat agar menjadi sarana mengalami inti puasa, yaitu membuka hati terhadap hadirat Tuhan dalam kehidupan kongkret,

Ah, puasa itu ya jelas wajib agama untuk tidak makan dan minum pada waktu tertentu.

Wednesday, February 22, 2023

Prapaskah : Wajib Bersedekah


“Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6:2-4)

Pada zaman kini demi transparansi dana-berdana biasa dilakukan dengan pencatatan. Hal ini dapat terjadi misalnya ketika ada media membuka kesempatan menyumbang bencana alam. Di dalam Gereja hal itu juga terjadi. Uang dana yang dikumpulkan di Lingkungan atau kelompok umat juga dicatat dan dilaporkan. Namun demikian Tuhan Yesus dalam ayat-ayat itu tidak berbicara tentang kegiatan kebersamaan yang berkaitan dengan tata organisasi. Tuhan berbicara tentang tindakan personal dalam bersedekah sebagai salah satu kewajiban agama.


a.     Menjadi pribadi utuh

Satu hal yang menarik adalah bahwa memberi sedekah dikaitkan dengan olah sikap agar tidak seperti orang munafik. Sikap munafik terungkap dalam tindakan penonjolan diri. Tindakan berdana tidak dilandasi oleh motivasi batin untuk menyumbang atau memberi secara cuma-cuma tanpa mengharapkan balasan. Pemberian derma dijadikan sarana atau alat untuk unjuk diri agar mendapatkan sanjungan dari banyak orang lain. Bagi kaum lanjut usia agar terbebas dari sikap munafik kiranya perlu menyadari kesejatian lasia. Kitab Suci berkata bahwa “Rambut putih adalah mahkota yang indah, yang didapat pada jalan kebenaran.” (Ams 16:31) Kaum lanjut usia sejatinya menjadi tanda keindahan bagi kehidupan bersama terutama di tengah generasi di bawahnya. Hal ini terjadi karena orang yang sungguh menghayati kesejatian lanjut usia akan menjadi sosok bijaksana (band. Mzm 90:12). Memang, kebijaksanaan kaum lanjut usia diperoleh karena ketekunannya menjalani hidup penuh perjuangan sehingga “kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan” (Mzm 90:10). Hal ini tentu cocok dengan ajaran Jawa bahwa ngèlmu (bukan “ilmu” yang berkaitan dengan pengetahuan, tetapi ngèlmu[1] adalah kebijaksanaan) itu adalah buah dari susah payah perjuangan hidup.

Perjuangan hidup itu tetap terjadi di masa lanjut usia, yaitu kalau kaum lanjut usia bersedia hidup dalam dampingan, bimbingan, dan petunjuk kaum muda. Hal ini dikatakan oleh Tuhan Yesus Kristus “jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” (Yoh 21:18) Orang yang sudah masuk lanjut usia seharusnya sudah sampai pada tahap mampu tidak hidup menurut kehendaknya sendiri. Sebagai pengikut Tuhan Yesus dia sudah sampai pada tahap endapan penghayatan hidup mengikuti kehendak Allah sebagaimana Ibu Maria yang berkata “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38) Orang yang dapat menghayati perkembangan diri di lanjut usia akan mengalami kepribadian utuh dan tak ada keretakan antara yang terungkap dan terwujud secara lahiriah dengan yang sebenarnya ada dalam batin. Seorang psikolog, H. Erikson, menyatakan bahwa kaum lanjut usia yang berkembang secara positif akan mengalami hidup bijaksana.


b.     Sedekah model lanjut usia 

Berbicara tentang sedekah sebagai kewajiban beragama jelas berkaitan dengan masalah uang. Sedekah ini pada masa Prapaskah di banyak keuskupan biasa disebut sebagai dana APP (Aksi Puasa Pembangunan). Tetapi sebagai kewajiban beragama sedekah tidak hanya di masa Prapaskah. Dalam hal ini kaum lanjut usia pun termasuk yang kena wajib bersedekah. Berkaitan dengan kondisi ekonominya, merujuk ke Undang-undang Nomor 13 Tahun 1998, ada dua macam corak hidup kaum lanjut usia (lihat http://zelously.blogspot.com/2016/04): 1) Lanjut Usia Potensial adalah lanjut usia yang masih mampu melakukan aktivitas pekerjaan dalam kata lain masih mampu menghasilkan barang dan jasa; 2) Lanjut Usia Non Potensial adalah lanjut usia yang tidak bisa mencari nafkah sehingga hidupnya tergantung pada orang lain. 

Berkaitan dengan kekuatan ekonomi, yang perlu diperhatikan adalah berapa besar uang yang riil dimiliki secara tunai. Bisa jadi yang potensial besaran pemasukan secara nyata lebih kecil daripada yang non potensial karena dia mendapatkan pemberian lebih besar. Memang, bisa saja yang potensial pendapatannya masih ditambah pemberian rutin misalnya dari anak-anak atau sanak saudara bahkan mungkin masih ada dana pensiun. Meskipun demikian, sekalipun potensial atau bahkan potensial plus tambahan pemberian, hal yang harus dicermati adalah sebesar apa pengeluaran rutinnya. Barangkali dia harus menanggung sendiri pajak-pajak bulanan. Barangkali dia juga masih harus membeayai sendiri pengobatan-pengobatan karena kaum lanjut usia pada umumnya sudah rentan akan penyakit. Atau lebih berat lagi barangkali dia juga masih menanggung atau paling tidak membantu kehidupan anak dan atau cucu.

Dalam bersedekah kaum lanjut usia harus memperhitungkan kekuatan nyata yang bisa untuk ambil bagian dalam berdana. Besar atau kecilnya dana tidak ditentukan oleh Gereja. Tuhan Yesus hanya berkata “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut,” (Luk 12:48). Sesedikit apapun jumlah sedekah, yang paling pokok itu adalah wujud totalitas diri mempersembahkan hidup kepada Allah. Sekalipun memberi banyak kalau itu hanya sekedar memenuhi wajib lahiriah dan hanya bagian dari kelimpahan, dapat terjadi itu belum menyentuh lubuk hati rela berkorban. Inilah yang terjadi ketika Tuhan Yesus membandingkan sedekah janda miskin dan kaum kaya. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Mrk 12:43-44)


c.      Penghalang utama 

Kemunafikan adalah hal yang menjadi peringatan utama dari Tuhan Yesus untuk bersedekah. Dari sini kaum lanjut usia perlu memiliki kesadaran batin akan hal-hal yang bisa membuatnya bersikap munafik, yaitu bersedekah untuk menonjolkan diri. Kalau dikuasai oleh rasa ingin terpandang karena tak ketinggalan dalam bersedekah, kaum lanjut usia bisa tidak memperhitungkan perkembangan situasi hidupnya. Barangkali dia memang punya uang banyak. Tetapi barangkali kali dia mengesampingkan kebutuhan-kebutuhan yang juga membutuhkan beaya besar seperti pajak dan obat-obat rutin.

Sebaliknya, barangkali yang terjadi adalah realita keuangan amat minim. Tetapi demi dihargai oleh orang lain kaum lanjut usia menyumbang melebihi kekuatan dengan meminta uang tambahan dari anak dan atau cucu dengan desakan dan tekanan. Paling celaka kalau dia menyumbang dengan uang hasil berhutang. Tuhan berkata “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.” Larangan kiri mengetahui yang diperbuat oleh tangan kanan barangkali juga dapat diperluas dengan larangan untuk mulut menceriterakan dan jari-jari menulis dijadikan kabar untuk orang lain.



[1] Dalam tembang pucung (salah satu model kidung tradisional Jawa) ada ajaran: Ngèlu iku; Kelakoné kanthi laku; Lekasé lawan kas; Tegesé kas nyantosani; Setya budya pangekesé dur angkara (Kebijaksanaan itu; Terjadi sebagai buah perjuangan hidup sehari-hari; Dasarnya adalah kas; Kata kas berarti daya batin; Kesetiaan dalam segala tindakan menjadi penangkal kejahatan).

Santo Polikarpus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 28 Juli 2013 Diperbaharui: 19 Oktober 2019 Hits: 22792

  • Perayaan
    23 Februari
  •  
  • Lahir
    Antara tahun 75 - 80
  •  
  • Kota asal
    Smyrna - Turki
  •  
  • Wafat
  •  
  • Sekitar tahun 155 di Smyrna | Martir
    Awalnya dibakar hidup-hidup; tapi karena tidak terbakar api ia lalu ditusuk dengan pedang sampai mati
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Polikarpus dilahirkan antara tahun 69 hingga 80. Ia adalah murid langsung dari Rasul Yohanes, saudara  Yakobus; dua bersaudara, yang sangat dikasihi Yesus. Ia dibabtis menjadi seorang Kristen oleh Rasul Yohanes ketika pengikut Kristus masih sangat sedikit jumlahnya. Apa yang telah dipelajarinya dari  Yohanes diajarkannya kepada yang lain. Polikarpus menjadi seorang imam dan kemudian diangkat menjadi Uskup Smyrna yang sekarang ini menjadi wilayah negara Turki. Ia menjadi Uskup Smyrna untuk masa yang cukup lama. Jemaat Kristiani perdana mengenalnya sebagai seorang gembala umat yang kudus serta pemberani.

Pada masa itu, umat Kristen mengalami penganiayaan serta pembantaian dalam masa pemerintahan Kaisar Markus Aurelius Karena orang-orang Kristen menolak menyembah kaisar dan dewa-dewa Romawi.  Orang-orang Smyrna bersama para prajurit memburu orang-orang Kristen dengan pekikan, "Enyahkan orang-orang kristen kafir."

Banyak sudah orang Kristen ditangkap dan dibunuh di arena. Polikarpus sebagai uskup dan pemimpin umat Kristen di kota itu, menjadi target utama dan dikejar-kejar oleh prajurit Smyrna.  Meskipun hamba Tuhan ini tidak takut mati, dan memilih tetap berdiam di kota;  umatnya meminta agar ia terus bersembunyi. Mereka takut kalau-kalau ia ditangkap dan dibunuh; maka kematiannya akan mempengaruhi ketegaran gereja dan umat di masa penganiayaan ini.

Polikarpus telah meninggalkan kota itu dan bersembunyi di sebuah ladang milik teman-temannya. Bila pasukan mulai menyergap, ia pun melarikan diri ke ladang lain.  Namun seseorang jemaat yang murtad kemudian mengkhianati Polikarpus dan melaporkannya kepada penguasa. Ketika orang-orang yang hendak menangkapnya datang, Polikarpus terlebih dulu mengundang mereka bersantap bersamanya. Kemudian ia meminta mereka untuk mengijinkannya berdoa sejenak. Ia kemudian berdoa dua jam lamanya.

Beberapa penangkap merasa sedih menangkap orang tua yang begitu baik ini. Dalam perjalanannya kembali ke Smyrna, kepala prajurit yang memimpin pasukan itu berkata, "Apa salahnya menyebut Kaisar sebagai Tuhan dan mempersembahkan bakaran kemenyan?"
Dengan tenang Polikarpus mengatakan bahwa ia tidak akan melakukannya.

Gubernur Romawi yang mengadilinya berusaha mencarikan jalan keluar untuk membebaskan uskup tua itu. "Hormatilah usiamu, Pak Tua," seru gubernur Romawi itu. "Bersumpahlah demi berkat Kaisar. Ubahlah pendirianmu serta berserulah, "Enyahkan orang-orang kristen kafir!"
Sebenarnya, gubernur Romawi itu ingin Polikarpus menyelamatkan dirinya sendiri dengan melepaskan dirinya dari orang-orang Kristen yang dianggap "kafir" itu. Namun, Polikarpus hanya memandang kerumunan orang yang sedang mencemohkannya. Sambil menunjuk ke arah mereka, ia berseru, "Enyahkan orang-orang kafir!"   Gubernur Romawi itu berusaha lagi: "Angkatlah sumpah dan saya akan membebaskanmu. Hujatlah Kristus!"

Polikarpus pun berdiri dengan tegar dan berkata : "Selama 86 tahun aku telah mengabdi kepada Kristus dan Ia tidak pernah menyakitiku. Bagaimana aku dapat mencaci Raja yang telah menyelamatkanku?" 

Pertukaran pendapat antara sang uskup dan gubernur Romawi berlanjut. Pada suatu saat, Polikarpus menghardik lawan bicaranya: "Jika kamu... berpura-pura tidak mengenal saya, dengarlah baik-baik: Saya adalah seorang Kristen. Jika Anda ingin mengetahui ajaran Kristen, luangkanlah satu hari khusus untuk mendengarkan saya."

Gubernur Romawi itu pun mengancam akan melemparkan dia ke binatang-binatang buas. "Panggil binatang-binatang itu!" seru Polikarpus. "Jika hal itu akan mengubah keadaan buruk menjadi baik, tetapi bukan keadaan yang lebih baik menjadi lebih buruk."
Ketika ia diancam akan dibakar, Polikarpus menjawab, "Apimu akan membakar hanya satu jam lamanya, kemudian akan padam, namun api penghakiman yang akan datang adalah abadi."

Akhirnya Polikarpus dinyatakan sebagai orang yang tidak akan menarik kembali pernyataan-pernyataannya. Rakyat Smyrna pun berteriak: "Inilah guru dari Asia, bapa orang-orang Kristen, pemusnah dewa-dewa kita, yang mengajar orang-orang untuk tidak menyembah (dewa-dewa) dan mempersembahkan korban sembelihan."

Gubernur Romawi menitahkan agar ia dibakar hidup-hidup. la diikat pada sebuah tiang pancang dan dibakar. Api berkobar namun, menurut para saksi mata, badan orang suci ini tidak termakan api.  "la berada di tengah, tidak seperti daging yang terbakar, tetapi seperti roti di tempat pemanggangan, atau seperti emas atau perak dimurnikan di atas tungku perapian. Kami mencium aroma yang harum, seperti wangi kemenyan atau rempah mahal."  Dan seperti yang dikatakan Polikarpus sebelumnya; api hanya menyala selama satu jam lalu padam, dan Uskup Polikarpus tetap segar-bugar berdiri di atas sisa-sisa kayu pembakaran.  Seorang algojo kemudian menikam sang uskup tepat dilambungnya; dan Polikarpus kemudian wafat sebagai martir.  Ia pergi untuk tinggal selama-lamanya bersama Raja Ilahi yang telah dilayaninya dengan gagah berani.

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja

Santa Theodosia dari Tirus

diambil dari katakombe.org/para-kudus  Diterbitkan:  11 April 2015  Diperbaharui:  11 April 2015  Hits:  12199 Perayaan 02 April   Lahir Sek...