Tuesday, December 27, 2022

Perayaan Malam Natal di Domus


Pada Sabtu 24 Desember 2022 ruang besar Domus Pacis St. Petrus sungguh lain dari hari-hari biasa. Lampu kelap-kelip terpajang indah di pagar lantai 2 menghadirkan keindahan ruangan besar lantai 1. Mas Hari mempelopori beberapa karyawan membuat arena khusus yang diberi latarbelakang geber putih dengan beberapa gambar foto dan tulisan "Selamat Natal 2022 dan Tahun Baru 2023. Kiri dan kanannya ada 2 cemara Natal dengan hiasan lampu-lampu kecil yang berkerlap-kerlip. Beberapa dos kado juga jadi hiasan. Sementara itu banyak kursi sudah ditata. Meja-meja untuk sajian catering dan bakso juga ada. Pada sekitar jam 15.00 catering sudah datang. Kemudian pada jam 17.00 Pak Loly, dari Lingkungan Nologaten Paroki Pringwulung, datang bersama keluarga. Pak Loly mempersiapkan keyboard di depan pinggir utara dari arena. Ini semua adalah persiapan untuk acara ramah tamah sesudah Misa.

Pada sore menjelang malam pada tanggal itu Domus Pacis memang menyelenggarakan Misa khusus untuk Malam Natal. Ketika masuk kapel, Rm. Bambang melihat banyak tempat duduk sudah terisi tamu-tamu yang telah mendaftarkan diri untuk ikut Misa. Bagian yang disiapkan untuk kor sudah penuh oleh para anggota kor dari Lingkungan Santo Agustinus Nologaten. Bahkan kor sudah melantunkan beberapa lagu pra-Misa. Para romo Domus yang siap di kapel selain Rm. Bambang adalah Mgr. Blasius, Rm. Harto, Rm. Ria, Rm. Yadi, Rm. Suntoro, dan Rm. Supriyanto. Rm. Hartanta menyiapkan diri untuk memimpin Misa. Beliau siaga masuk dari luar sebelah barat kapel bersama Mas Tian dan Mbak Rachel yang memeragakan Yusuf dan Maria. Ternyata para peserta Misa memegang lilin. Rm. Hartanta telah meminta karyawan untuk membagikan kepada semua yang ikut Misa satu per satu.

Pada jam 17.40 lilin altar dinyalakan. Demikian juga lilin-lilin yang dipegang peserta Misa. Sesudah semua lilin menyala, Rm. Bambang maju melantunkan lagu "Maklumat Kelahiran Yesus Kristus" yang disusul dengan nyanyian "Malam Kudus" dari kor dan umat. Sementara itu Rm. Hartanta sebagai pimpinan Misa berjalan menuju Gua Natal diikuti peraga Maria-Yosef. Sesudah peraga Maria membaringkan patung kanak-kanak Yesus dalam Gua, Rm. Hartanta memimpin doa-doa. Ini menjadi para-liturgi yang diikuti lagu pembuka Misa yang tatacaranya seperti Misa Minggu. Yang barangkali bisa dikatakan khusus adalah petugas liturgi. Selain kor dan Doa Umat, tugas-tugas lain dilakukan oleh para romo. Rm. Yadi membacakan Bacaan Pertama dan Rm. Ria menjadi lektor Bacaan Kedua. Mgr. Blasius menjadi pembaca Injil. Homili disampaikan oleh Rm. Suntara. Menurut pengamatan Rm. Bambang, yang disetujui oleh Rm. Hartanta, para romo petugas liturgi sungguh mempersiapkan diri dengan baik. Kejadian agak tersendat bahkan terhenti sesaat karena gangguan batuk atau batuk-batuk tidak ada sama sekali. Dalam Misa Harian di Domus hal itu kerap atau bisa dikatakan sangat kerap terjadi.

Sebagaimana biasa terjadi dan memang menjadi kebiasaan Domus Pacis, sesudah perasaan Misa khusus yang menghadir atau diikut tamu-tamu selalu ada ramah tamah dengan makan bersama. Selain menu yang disajikan oleh catering, Domus juga selalu mendatangkan bakso. Yang khusus untuk Malam Natal saat itu adalah sajian nyanyian-nyanyian yang diiringi oleh Pak Loly. Bahkan, yang bagi Rm. Bambang sungguh menjadi kejutan, adalah tampilnya tarian seperti yang kerap menjadi tarian kera massal di Malioboro. Para tamu tampak asyik omong-omong dalam kelompok-kelompok sambil menyantap menu-menu yang disajikan. Satu hal yang mulai terjadi pada September 2022, Rm. Bambang selalu menggelar batik-batik yang dilayani oleh Bu Rini untuk mencari dana bagi pesta di Domus. Ternyata tidak sedikit yang memberi perhatian dengan memilih-memilih dan membelinya.

Santa Fabiola, Janda

diambil dari https://namasanto.thekatolik.com/2021/12

Oleh Admin   Posting Komentar

Fabiola Iahir di Roma pada pertengahan abad ke-4 dari sebuah keluarga ningrat. Masa mudanya sangat tidak terpuji. Mula-mula ia menikah dengan seorang pemuda yang bejat hidupnya. Karena tidak tahan maka ia berusaha cerai. 

Setelah ia berhasil secara sipil, ia menikah Iagi dengan lelaki lain. Sebagai orang Kristen, tindakannya ini sangat tidak terpuji dan mencoreng nama baik Gereja. Namun Tuhan rupanya tidak sudi membiarkan Fabiola bertindak semakin sembrono. Tuhan mulai campur tangan.

Tidak lama kemudian dua laki-laki yang menjadi suaminya itu meninggal dunia. Fabiola sendiri menyesali sikap hidupnya dan bertobat. Ia menaati aturan hidup sebagai anggota Gereja, melakukan silih di hadapan seluruh umat sehingga diterima kembali sebagai anggota Gereja. Pertobatannya secara terbuka dilakukannya di muka basilik Lateran. Paus Santo Siricius menerimanya kembali dalam pangkuan ibu Gereja.

Corak hidupnya yang baru diwarnai dengan pengabdian tulus dalam karya-karya cinta kasih. Harta bendanya ia manfaatkan untuk kepentingan Gereja Roma. Ia mendirikan rumah sakit khusus untuk membantu orang-orang miskin.

Para pasiennya adalah gelandangan-gelandangan yang ditemuinya di jalan-jalan atau yang meringkuk di dalam penjara. Rumah sakit ini menampung siapa saja sehingga menjadi semacam rumah sakit umum pertama dalam sejarah Barat.

Pada tahun 395 Fabiola berziarah ke Yerusalem dan mengunjungi Santo Hieronimus, Santa Paula dan Santa Eustakium. Ketika itu Hieronimus sedang bermusuhan dengan Uskup Rufinus berkenaan dengan ajaran Origenes yang ditentangnya. Orang berusaha mempengaruhi Fabiola agar memihak Rufinus. 

Namun Fabiola tetap mendukung Hieronimus, gurunya. Fabiola mendirikan sebuah biara dan membantu Hieronimus dalam usaha menerjemahkan Kitab Suci. Tetapi kemudian ia pindah dari biara itu: biara itu menjadi tempat ziarah yang sangat ramai; kondisi hidup umat sangat tidak menyenangkan: umat Kristen terpecah-pecah, dan dari luar ada ancaman serangan bangsa Hun, dll.

Untuk sementara Fabiola dengan kawan-kawannya mengungsi ke Jaffa, sambil menantikan ketenteraman di Yerusalem. Setelah keadaan pulih dan aman, Fabiola pulang ke Roma dan kawan-kawannya kembali ke Yerusalem. Di Roma masih terdapat banyak masalah.

Meskipun demikian, Fabiola tetap meneruskan karya cintakasihnya selama tahun-tahun terakhir hidupnya. Bersama Santo Pammachius, ia mendirikan rumah sakit umum besar di Porto untuk peziarah yang miskin dan sakit. 

Dalam satu tahun saja rumah sakit itu terkenal dari Parthia sampai ke Britania. Fabiola wafat pada tahun 399. Ia sangat dicintai dan dihormati.

Sumber gambar google.com

Lamunan Pesta

Kanak-kanak Suci, Martir

Hari Keempat Oktaf Natal

Rabu, 28 Desember 2022

Matius 2:13-18

13 Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat j  Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia." 14 Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, 15 dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku."

16 Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. 17 Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: 18 "Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi."

Butir-butir Permenungan

 

·       Tampaknya, tidak ada yang tak berduka kalau ditinggalkan oleh anak. Apalagi kalau meninggal dunia.

·       Tampaknya, orang akan mengutuk keras kalau ada tindakan mengurbankan anak-anak kecil. Anak-anak adalah kaum yang tak berdosa dan tak dapat dipersalahkan dalam apapun.

·       Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, sekalipun tindakan buruk terhadap anak-anak sungguh merupakan kekejaman yang amat mendalam, kalau itu terjadi karena adanya ancaman untuk kebenaran dan keadilan, anak-anak yang belum bisa apa-apa justru menjadi martir kehidupan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan sadar bahwa kesejatian anak-anak adalah guru besar kerohanian.

Ah, yang namanya kematian itu bisa menerjang siapapun, umur berapapun, dan dengan cara apapun.

Monday, December 26, 2022

PUPIP Paroki-paroki DIY

Pada jam 13.49 Rabu 21 Desember 2022 Rm. Bambang menerima pesan WA dari Ibu Corry dari Ungaran. Beliau berkata "Semoga setiap hari Domus tdk sepi dri pengunjung dan kain batik bsa laris...🙏👍". Sebetulnya pada waktu itu beliau menanggapi berita Blog Domus dalam kolom HISTORIA DOMUS. Dalam Blog itu sebenarnya tak ada berita tentang batik. Barangkali Bu Corry membayangkan bahwa setiap ada tamu di Domus selalu terjadi pembelian batik yang keuntungannya dimanfaatkan oleh Rm. Bambang untuk menambah uang pembeayaan setiap terjadi hajatan di Domus. Rm. Bambang memang secara khusus membantu Rm. Hartanta, direktur Domus, dalam pengadaan konsumsi kalau ada Ulang Tahbisan Romo Domus dan hajatan hari khusus lain. Dalam hal batik, PUPIP (Paguyuban Umat Peduli Imam Praja) adalah pemberi pertama dalam jumlah banyak karena untuk seragam. Kalau tidak keliru itu terjadi sebelum pandemi Covid-19 ketika Rm. Bambang bersama para romosepuh masih tinggal di Domus Pacis Puren, Pringwulung. Sesudah itu penjualan batik berhenti.


Sesudah berada di Domus Pacis St. Petrus, Kentungan, Rm. Bambang melakukan lagi usaha mencari tambahan dana dengan penjualan batik. Dia memulai pada tanggal 25 Agustus 2022. Tampaknya respon cukup menggembirakan. Banyak pengunjung teruatama dalam kelompok-kelompok kunjungan membelinya. Bahkan kini mulai terjadi pesanan-pesanan untuk seragam. Dalam hal pesanan batik untuk seragam, tampaknya hal itu mulai merebak di kalangan kelompok-kelompok PUPIP Paroki yang tersekutukan dalam PUPIP DIY. PUPIP Paroki Warak dan Paroki Nandan barangkali bisa dicatat sebagai yang yang mengawali kegiatan pesan batik di Domus untuk seragam. Kemudian datang juga PUPIP Paroki Klepu yang pesan lebih dari 40 lembar. Banyak pihak merasa cocok dengan kain batik berbahan katun dengan ukuran panjang 240 Cm dan lebar 115 Cm. Ternyata seragam batik tampaknya menjadi ketika terjadi pertemuan besar di Wates pada Santu 10 Desember 2022. Para peserta luar Wates, katanya, banyak yang terpana pada PUPIP Wates yang mengenakan pakaian seragam batik. Katanya, dari peristiwa itu muncul berita yang menginginkan bisa beli batik di "Rm. Bambang, Domus Pacis". PUPIP Paroki Pugeran adalah yang terkena dan langsung ke Rm. Bambang di Domus pada 20 Desember 2022.

Santo Yohanes Rasul

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 08 Agustus 2013 Diperbaharui: 12 Agustus 2021 Hits: 34021

  • Perayaan
    27 Desember
  •  
  • Lahir
    Hidup abad pertama
  •  
  • Kota asal
    Galilea - Israel
  •  
  • Wilayah karya
    Galilea, Yerusalem, Efesus, Asia Kecil
  •  
  • Wafat
  •  
  • Sekitar tahun 100, di Efesus (Sekarang Turki)
    Sebuah Basilika yang indah pernah dibangun diatas makamnya di Efesus oleh kaisar Justinian I pada abad ke-6; Basilika tersebut saat ini hanya tinggal reruntuhan.
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

St. Yohanes adalah seorang nelayan di Galilea. Ia, bersama dengan St. Yakobus saudaranya, dipanggil untuk menjadi rasul Kristus. Yesus memberi julukan “anak-anak guruh” kepada kedua putera Zebedeus ini.

St. Yohanes adalah rasul yang termuda. Ia amat dikasihi oleh Yesus, dan iapun amat mengenali Yesus Sang Guru. Pada perjamuan malam terakhir, Yohanes diperbolehkan menyandarkan kepalanya di dada Yesus. Yohanes juga satu-satunya rasul yang berdiri di kaki salib sementara yang lain melarikan diri. Yesus yang sedang menghadapi ajal menyerahkan pemeliharaan Bunda-Nya kepada murid yang dikasihi-Nya ini. Sambil memandang Bunda Maria, Ia berkata, “Inilah ibumu.” (Yoh 19:26-27). Jadi, hingga akhir hidupnya di dunia, Bunda Maria tinggal bersama St. Yohanes. Hanya Yohanes seorang yang memperoleh hak istimewa untuk menghormati serta melayani Bunda Allah yang tanpa noda.

Setelah penyaliban Yesus dan hari paskah berlalu, pagi-pagi sekali Maria Magdalena dan beberapa wanita membawa rempah-rempah ke makam Yesus untuk meminyaki Tubuh-Nya sesuai kebiasaan orang Yahudi. Mereka kembali dengan berlari-lari kepada para rasul untuk menyampaikan suatu berita yang mengejutkan. Tubuh Yesus telah hilang dari makam. Petrus dan Yohanes pergi untuk menyelidiki hal itu. Hati Yohanes yang bergetar hebat membuat ia berlari dengan sangat cepat dan tiba terlebih dahulu, tetapi karena ia menghormati Petrus; ia tidak mau mendahului Petrus untuk masuk kedalam kubur.  Walau ia merupakan murid yang paling dikasihi Yesus; tapi Yohanes adalah orang yang sangat rendah hati.  Ia masih menunggu sampai Petrus datang dan masuk ke dalam makam terlebih dahulu. Baru sesudahnya, ia masuk dan melihat kain kafan yang telah tergulung rapi.

Kemudian, dalam minggu itu juga, para murid sedang memancing di Danau Tiberias tanpa hasil. Seseorang yang berdiri di pantai mengatakan kepada mereka untuk menebarkan jala ke sisi lain perahu. Ketika mereka menarik kembali, jala tersebut penuh dengan ikan-ikan besar. Yohanes adalah orang pertama yang mengenali siapa Orang itu. Tapi dengan kerendahan hati yang luar biasa ia terlebih dahulu mendekati Petrus dan berkata, “Itu Tuhan!”.  Petrus si Batu Karang segera saja terjun ke Danau dan berenang ke Pantai menuju Tuhan; sedangkan Yohanes dan para Rasul yang lain tetap datang dengan perahu. (Yoh 21:1-14)

Kedekatan St. Yohanes dengan Yesus tercermin dalam pertanyaan Petrus ini :

"Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini..?"  (Yoh 21:21).

Saat itu Yesus menjawab :

"Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau : ikutilah Aku". 

Pernyataan Yesus ini membuat para rasul yang lain sempat berpikir kalau Yohanes tidak akan mati. 

Dengan turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta, para rasul menjadi penuh dengan Kuasa dan keberanian mewartakan Injil.  Mereka mulai menyebarkan kabar gembira dan mengadakan banyak mijizat dalam nama Yesus. Dalam kitab Kisah Para Rasul, Santo Lukas mencatat bagaimana Petrus dan Yohanes menyembuhkan seorang pengemis lumpuh di Gerbang Indah Bait Allah dengan berkata : ".. Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" (Kis 3:6).

Setelah jemaat perdana di Yerusalem terbentuk, para Rasul terus mewartakan injil ke segala penjuru dunia. Yohanes berkarya dari Yerusalem sampai ke kota Efesus (sekarang : Selçuk, Provinsi İzmir, Turki). Ia tinggal di kota ini dan menjadi memimpin umat beriman (Uskup) sampai akhir hidupnya. Di kota ini pula Yohanes diyakini menulis Injil keempat, tiga buah surat Gembala, dan Kitab terakhir dari Perjanjian Baru : kitab Wahyu.

Yohanes hidup hampir seabad lamanya. Walau Ia tidak wafat sebagai seorang martir,  tetapi sungguh ia menjalani hidup yang penuh penderitaan. (Tradisi lain menyatakan bahwa Rasul Yohanes mati sebagai martir; tapi tradisi ini kurang diterima karena tidak mampu menyebutkan di mana tempat kemartiran Rasul Yohanes). Di tahun-tahun terakhir hidupnya, ketika ia tidak lagi dapat berkhotbah, para muridnya tetap dengan setia membawanya ke tengah jemaat. Pesannya yang terakhir sangat sederhana;  “Anak-anakku, kasihilah seorang akan yang lain.”  Ia wafat di Efesus sekitar tahun 101 M.

Banyak kisah-kisah mujizat yang menurut tradisi diadakan oleh Rasul Yohanes. Sebagian mungkin hanyalah "mitos".  Beberapa diantaranya : 

  1. Ketika Yohanes sedang dalam perjalanan untuk berkhotbah di Asiakapalnya rusak dalam badaisemua orang berhasil menyelamatkan diri ke pantai, kecuali Yohanes. Yohanes kemudian dinyatakan meninggal. Tapi dua minggu kemudian gelombang laut melemparkan Yohanes ke pantai dan jatuh di dekat kaki Prochoros salah seorang muridnyadalam keadaan hidup.
  2. Ketika Yohanes mengatakan penyembahan berhala adalah pekerjaan iblis, para pemuja dewi Artemis melemparinya dengan batu.  Batu-batu yang dilemparkan mental dan mengenai para pelempar.
  3. Yohanes berdoa di sebuah kuil Artemislalu turunlah api dari langit yang membakar 200 orang yang sedang menyembah berhala itu. Ketika sebagian  orang yang tersisa memohon belas kasihania membangkitkan kembali 200 orang yang sudah mati. Mereka semua kemudian bertobat dan dibaptis.
  4. Mengusir setan yang sudah berdiam dalam  sebuah kuil pagan selama 249 tahun.
  5. Dalam sebuah pelayaran, persediaan air di atas kapal habis. Yohanes kemudian mengubah air laut menjadi air tawar untuk diminum.
  6. Seorang pesulap bernama Ceonopsberpura-pura dapat menghidupkan kembali tiga orang yang sudah meninggal.  Tiga "Orang"  mati tersebut sebenarnya adalah iblis yang bersekutu dengan pesulap tersebut.  Melalui doa, Santo Yohanes mengagalkan tipu muslihat penyihir itu dan setan-setan sekutunya lari menghilang.
  7. Sekali setahun makamnya menyebarkan  aroma harum yang dapat menyembuhkan orang sakit.

Lamunan Pesta

Santo Yohanes Rasul, Penulis Injil

Hari Ketiga Oktaf Natal

Selasa, 27 Desember 2022

Yohanes 20:1-8

1 Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. 2 Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan." 3 Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. 4 Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. 5 Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. 6 Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, 7 sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. 8 Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, ada gambaran bahwa beriman itu percaya akan ada-Nya Tuhan. Dia menciptakan dunia dan segala isinya termasuk manusia.
  • Tampaknya, ada gambaran bahwa beriman itu percaya akan kemahakuasaan Tuhan. Segalanya ditentukan oleh Tuhan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul mesra dengan kedalaman batin, sekalipun beriman menyangkut kepercayaan akan Tuhan yang Mahakuasa Pencipta langit dan bumi, kesejatian beriman membuat hati orang percaya juga akan dinamika karya ilahi di tengah dunia dengan melihat berbagai pertanda duniawi. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan relung hati orang percaya akan Tuhan yang selalu menyertai kehidupan manusia.

Ah, Tuhan itu tempat-Nya ada di sorga mengawasi dunia seisinya.

Sunday, December 25, 2022

PESAN PASTORAL USKUP AGUNG SEMARANG PADA AKHIR TAHUN 2022 DAN MENYAMBUT TAHUN 2023


“BERSATU DAN BERSINERGI DEMI INDONESIA DAMAI” 

Saudara-saudariku, seluruh Umat Katolik di Keuskupan Agung Semarang yang terkasih, 

SELAMAT NATAL DAN SELAMAT MENYAMBUT TAHUN BARU 2023 

Hari-hari ini dengan penuh sukacita kita merayakan Natal, hari kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus, Sang Juruselamat dunia. Allah sungguh telah berkenan memenuhi janji-Nya untuk tinggal bersama umat-Nya dalam diri Sang Imanuel, yang berarti Allah menyertai kita (Mat 1:23). 

Melalui tema Natal “…. pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain” (Matius 2:12), kita belajar dari ketiga orang bijak dari Timur bahwa perjumpaan dengan Yesus Sang Imanuel membawa perubahan dan pembaruan hidup. Sebagaimana ketiga orang bijak tersebut pulang ke negerinya tidak melalui jalan yang sama, melainkan melalui jalan yang lain, demikian pula ke depan kita ingin 2 mencari dan menemukan jalan-jalan baru, baik dalam hidup menggereja maupun bermasyarakat dan bernegara.

 Mengakhiri tahun 2022 yang penuh dinamika, saya mengajak Anda semua untuk pertama-tama bersyukur atas berkat dan penyertaan Tuhan selama perjalanan tahun 2022. Gerak pastoral kita di Keuskupan Agung Semarang secara perlahan terus mengalami pemulihan setelah selama hampir 3 tahun digempur oleh pandemi Covid-19. Pemulihan semangat hidup menggereja serta pemulihan di bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan terus mengalami kemajuan. Semua itu merupakan anugerah Allah yang sudah sepantasnya kita syukuri. 

Memasuki tahun baru 2023 yang penuh tantangan ini, kita diundang untuk menjalaninya dengan penuh harapan dan keyakinan akan penyertaan Tuhan, terutama dalam persiapan menyambut Tahun Pemilu Serentak 2024. Bangsa kita akan melaksanakan agenda besar pada tanggal 14 Februari 2024, yaitu Pemilu untuk memilih Presiden, Wakil Presiden, anggota DPR RI, DPD RI, DPRD Propinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Selanjutnya pada tanggal 27 November 2024 akan diselenggarakan Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) untuk memilih Gubernur, Bupati, Walikota, dan Wakil-wakil mereka. Agenda demokrasi itu akan menjadi batu uji untuk menunjukkan sejauhmana kedewasaan kita sebagai bangsa benar-benar bisa kita laksanakan demi keberlanjutan Indonesia. 

Menyadari dan menyikapi agenda bangsa yang sangat penting ini, maka Keuskupan kita merumuskan semangat gerak Gereja bersama masyarakat: “Bersatu dan Bersinergi demi Indonesia Damai”. Hal ini kita tempatkan dalam alur perwujudan Arah Dasar VIII KAS “Tinggal dalam Kristus dan Berbuah”. Dasar kemendesakan upaya mewujudkan Indonesia damai, antara lain, karena kita tidak ingin bahwa masyarakat kita dipolarisasi atau dipecahbelah oleh kepentingan politik sesaat karena Pemilu. 

Karena itu, diilhami oleh semboyan “100% Katolik, 100% Indonesia”, kita hidupkan terus semangat cinta tanah air dan kepedulian bagi bangsa. Hal ini secara pro aktif kita perjuangkan 3 dengan mewujudkan kasih politik yang didasarkan pada empat konsensus berbangsa, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar dan pengikat kesatuan bangsa. 

Selain gerak pastoral kebangsaan dalam rangka mempersiapkan Pemilu Serentak 2024 itu, Keuskupan Agung Semarang secara berkelanjutan mewujudkan semangat baru dalam berpastoral, yaitu menjadikan “Kevikepan sebagai Pusat Pelayanan dan Penggerak Pastoral”. 

  • Sebagai pusat pelayanan: kevikepan, baik kevikepan teritorial maupun kategorial, berperan menjadi lembaga pastoral yang memfasilitasi atau memenuhi kebutuhan pastoral paroki dan kelompok kategorial. 
  • Sebagai penggerak: kevikepan menjadi lembaga pastoral yang menggerakkan atau mendinamisasi paroki dan kelompok kategorial dalam melaksanakan layanan pastoralnya.

Kevikepan berperan sebagai pelayan dan penggerak pastoral, karena yang menjadi pelaksana kegiatan pastoral adalah paroki dan kelompok kategorial. Keduanya adalah sekaligus subjek, fokus dan locus dari gerak pastoral.

  • Subjek: paroki dan kelompok kategorial adalah pelaku yang menentukan gerak pastoralnya sendiri dengan mengacu kepada gerak pastoral bersama se-keuskupan. Paroki dan kelompok kategorial bukanlah objek, melainkan subjek atau pelaku pelayanan pastoral.
  • Fokus: paroki dan kelompok kategorial menjadi arah dan tujuan pastoral keuskupan, dengan maksud memberdayakan umat dalam aneka aspek kehidupan hingga mengalami tata keselamatan dalam hidupnya.
  • Locus: paroki dan kelompok kategorial merupakan tempat dimana seluruh gerak pastoral terjadi dan terlaksana.

Semangat berpastoral (“Kevikepan sebagai Pusat Pelayanan dan Penggerak Pastoral”) ini akan terus kita kembangkan agar semakin 4 optimal pelaksanaan tahun ketiga Arah Dasar VIII KAS (2021-2025) melalui kelima prioritas garapannya, yaitu peningkatan kekatolikan, kerasulan, kebangsaan, kerjasama dan sinergi, serta professionalitas. Semoga cita-cita kita untuk hadir sebagai bentara peradaban kasih, sebagaimana dirumuskan dalam RIKAS (Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang 2016-2035), benar-benar terwujud. 

Marilah kita sambut datangnya tahun baru 2023 dengan penuh syukur dan kita isi dengan pelayanan pastoral yang menggerakkan seluruh umat, dalam kerjasama dengan seluruh masyarakat untuk menghadirkan Indonesia damai. Kita tekuni juga semangat menggereja secara baru, agar kita semakin mampu mewujudkan diri sebagai umat Allah yang beriman cerdas, tangguh, misioner, dan dialogis. Kiranya Allah, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kita, akan menyelesaikannya (bdk. Flp 1:6). Berkah Dalem.

Semarang, 22 Desember 2022 

† Robertus Rubiyatmoko                                                                                                                        Uskup Agung Semarang

Santa Theodosia dari Tirus

diambil dari katakombe.org/para-kudus  Diterbitkan:  11 April 2015  Diperbaharui:  11 April 2015  Hits:  12199 Perayaan 02 April   Lahir Sek...