Sunday, June 26, 2022

Lamunan Pekan Biasa XIII

Senin, 27 Juni 2022

Matius 8:18-22

18 Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. 19 Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: "Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." 20 Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." 21 Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: "Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku." 22 Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, ada yang menggambarkan bahwa ikut Tuhan itu nyaman karena ada dalam lindungan-Nya. Segala kebutuhan akan tercukupi.
  • Tampaknya, ada yang menggambarkan bahwa ikut Tuhan itu mendapatkan kepastian pegangan. Orang tak akan mengalami ketidakpastian karena ada kejelasan dalam melangkah.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun yakin akan lindungan-Nya, orang yang sungguh ikut Tuhan akan tetap siaga mengalami derita kekurangan dan menghadapi hidup yang dipandang tidak umum. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang dalam Tuhan akan siap diri hidup tidak sesuai dengan kehendak dan keinginan sendiri.

Ah, asal sungguh ikut Tuhan segalanya akan memuaskan.

Santo Pelagius

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 31 Agustus 2013 Diperbaharui: 19 Juni 2016 Hits: 5899

  • Perayaan
    26 Juni
  •  
  • Lahir
    Sekitar tahun 912
  •  
  • Kota asal
    di Asturias, Spanyol
  •  
  • Wafat
  •  
  • Disiksa sampai mati di tahun 925
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Bocah martir dari Spanyol ini hidup pada masa ketika bangsa Moor berkuasa atas sebagian tanah airnya. Bangsa Moor memusuhi umat Kristiani Spanyol. Pelagius baru berusia sepuluh tahun ketika pamannya harus meninggalkannya sebagai tawanan bangsa Moor di kota Cordova. Ia tidak akan dibebaskan sebelum pamannya menyerahkan apa yang dikehendaki bangsa Moor.

Tiga tahun berlalu dan remaja belia Kristen ini masih seorang tawanan. Sekarang, ia telah menjadi seorang remaja tigabelas tahun yang tampan penuh semangat hidup. Walau banyak teman tawanan lainnya adalah orang-orang dewasa yang bertabiat buruk, Pelagius tidak meniru tabiat mereka. Meski muda, ia memiliki kehendak yang kuat dan tahu bagaimana memelihara diri sebagai seorang pengikut Kristus yang baik.

Penguasa bangsa Moor mendengar juga berita-berita baik mengenai Pelagius. Ia memanggil remaja itu. Pelagius memang tampan dan tahu sopan santun. Penguasa Moor jatuh hati dan hendak membebaskannya dari penjara. Bagaimanapun, ia hanyalah seorang anak. Kepada Pelagius ditawarkan kebebasan, juga pakaian-pakaian indah untuk dikenakannya. Dan bukan hanya itu saja, kepadanya juga akan dihadiahkan kuda-kuda gagah dan sejumlah uang. Semua itu akan menjadi miliknya jika ia bersedia mengingkari imannya dan menjadi seorang Muslim seperti para penawannya.

“Semua yang kalian sebut itu tak ada artinya bagiku,” kata anak itu tegas. “Aku seorang Kristiani sejak dahulu. Aku seorang Kristiani sekarang. Aku akan tetap menjadi seorang Kristiani.” Penguasa itu terperanjat. Ia mengubah taktiknya. Bukannya janji-janji, sekarang ia melontarkan ancaman-ancaman, tetapi semuanya sia-sia belaka. Dengan murka, ia lalu memerintahkan agar Pelagius dipenggal.

Pelagius yang saat itu masih berusia tigabelas tahun, wafat sebagai martir Kristus pada tahun 925.

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja

Saturday, June 25, 2022

Minggu Biasa XIII/C – 26 Jun 2022 (Luk 9:51-62)

 diambil dari https://unio-indonesia.org; ilustrasi dari koleksi Blog Domus


TUJUAN PERJALANANNYA

Rekan-rekan yang baik!
Bacaan dari Luk 9:51-62 bagi hari Minggu Biasa XIII tahun C kali ini berawal dengan kalimat “Ketika sudah hampir tiba waktunya Yesus diangkat ke surga, ia mengarahkan pandangannya untuk pergi ke Yerusalem.” Dalam Injil Lukas perjalanan dari Galilea menuju ke Yerusalem melewati Samaria (Luk 9:51-19:28) membingkai pengajaran serta tindakan-tindakan Yesus selama perjalanan tadi. Banyak bahan dalam sepuluh bab ini hanya ditemukan dalam Injil Lukas. Marilah kita dekati beberapa gagasan khas dalam bagian itu.

MENUJU YERUSALEM

Ungkapan “mengarahkan pandangan” di sini artinya “berkeputusan/bertekad”. Jadi ditegaskan Yesus bertekad pergi ke Yerusalem. Dalam Luk 9:51 kota itu dieja sebagai “Ierousaleem”. Ini cara Lukas membicarakan kota itu dalam hubungan dengan mereka yang menolak kedatangan Yesus. Bila ditulis sebagai “Hierosolyma”, kota itu tampil sebagai tempat yang bersedia menerimanya. Pada awal perjalanan tadi sebutan kota itu ialah “Ierousaleem”, tapi nanti menjelang akhir perjalanan, Luk 19:28, nama kota itu “Hierosolyma”. Yesus menjumpai ke dua sisi kota itu. Para pemimpin menolaknya, tetapi di kota itu pula nanti ia diterima sepenuhnya oleh Bapanya.

Kedua sisi kota itu menyertainya di sepanjang perjalanannya. Dikatakan dalam Luk 13:22, Yesus mewartakan kebaikan Tuhan dengan mengajar dari kota ke kota dan dari desa ke desa dalam perjalanan menuju ke “Hierosolyma” (sisi kota yang menolaknya). Tetapi dalam Luk 17:11-19 dari sepuluh orang kusta disembuhkannya hanya satu kembali memuliakan Tuhan. Ini diceritakan terjadi dalam perjalanan menuju ke “Ierousaleem” (sisi kota yang menerimanya). Dari sini jelas tidak semua orang yang memperoleh kebaikan dapat sungguh-sungguh menerimanya.

Disebutkan juga dalam Luk 9:51 bahwa hampir tiba waktunya ia “diangkat ke surga”. Dalam teks Yunaninya, pengertian ini diungkapkan dengan kata “analeempsis”, harfiahnya “pengangkatan ke atas”. Ini terjadi nanti setelah mengalami penderitaan, wafat, dan kebangkitan berkat kemurahan dan perhatian Yang Mahakuasa yang disebutnya Bapa dan yang diajarkannya kepada orang banyak. Gagasan “analeempsis” menjadi lebih jelas bila dijajarkan dengan “exodos”, yakni “tujuan perjalanan” yang disebut dalam Luk 9:31 dalam peristiwa penampakan kemuliaan di gunung Luk 9:28-36. Tujuan perjalanan yang dimaksud di situ ialah kota Yerusalem, ditulis dalam bentuk “Ierousaleem”, sama seperti Luk 9:51, yakni kota yang akhirnya kurang bersedia menerimanya. Namun demikian, ia malah diangkat ke atas, ke surga, justru ketika orang-orang yang didatanginya makin keras menolaknya! Inilah pokok pikiran yang hendak disampaikan Lukas kepada pembaca Injilnya.

Menuju Yerusalem yang tampil dengan dua sisi itu memberi arti lebih pada semua kisah dan pengajaran yang disampaikan Lukas dalam Luk 9:51-19:28. Pembaca zaman kini sebaiknya memakai gagasan “menuju ke tempat ia ditolak orang-orangnya, tetapi diluhurkan Bapanya” itu sebagai makna dasar dari tiap kejadian dan pengajaran yang disampaikan sepanjang perjalanan tadi.

MENYAMPAIKAN “AJARAN YANG BENAR”?

Pada awal perjalanan tadi diceritakan Yesus mengutus beberapa murid mendahului ke sebuah desa di Samaria untuk mempersiapkan kedatangannya di situ. Lukas memakai motif tentang utusan mengabarkan kedatangan tokoh keramat atau Tuhan sendiri. Motif ini juga dijumpai dalam pengisahan Injil-Injil mengenai Yohanes Pembaptis yang datang mendahului Yesus. Pembaca dari zaman dulu yang masih peka akan motif ini langsung mengerti bahwa Yesus yang kedatangannya didahului pewartanya itu ialah seorang tokoh keramat. Nanti sebelum mengadakan perjamuan terakhir, Yesus mengutus dua orang muridnya untuk menyiapkan ruang perjamuan (Luk 22:8-13, lihat Mrk 14:13-16, Mat 26:18-20). Sekali lagi, pembaca diajak memahami peristiwa perjamuan malam itu sebagai peristiwa keramat.

Bagaimana dengan kedatangan Yesus ke sebuah desa di Samaria? Di situ orang Samaria tidak mau menerimanya. Mereka menolak. Dalam alam pikiran dulu, penolakan terhadap tokoh keramat serta-merta mendatangkan kutukan. Karena itu Yakobus dan Yohanes ingin berbuat seperti yang lazim dilakukan, yakni mengucapkan kutukan terhadap orang Samaria (ayat 54). Dalam pandangan umum orang Yahudi, orang Samaria memang patut dikutuk karena tidak lagi memeluk “ajaran yang benar”, maksudnya, ajaran agama Yahudi (entah yang di Galilea atau yang ada di Yudea/Yerusalem sendiri). Orang Samaria yang tinggal di antara kedua wilayah tadi dianggap murtad. Dalam Perjanjian Lama diceritakan orang Samaria memusuhi Nabi Elia sang utusan Tuhan dan oleh karenanya dua kali pasukan yang dikirim raja untuk menangkapnya hancur binasa kena kutukan api yang datang dari langit! (2 Raj 1:10 dan 12). Yakobus dan Yohanes berpikir dengan cara itu. Orang Samaria mereka anggap tak mau “menerima ajaran yang benar” yang dibawakan Guru mereka dan oleh karenanya patut dikutuk seperti dulu. Tetapi sikap intoleran ini tidak disetujui Yesus. Ia malah menegur mereka.

Berpikir dalam kerangka menyampaikan “ajaran yang benar” dengan sikap intoleran mengurung orang dalam angan-angan “mempertobatkan”, “mengancamkan kutukan”. Sering maksud baik berakhir dengan mengutuk orang yang tak berpendapat sama, terang-terangan atau secara tak langsung menjelek-jelekkan keyakinan orang lain. Dalam bacaan hari ini dikisahkan Yesus melepaskan ikatan-ikatan seperti itu. Ia mengajak orang mengikuti dia untuk mewartakan Kerajaan Allah. Ia mengajarkan Tuhan itu Maharahim. Oleh karenanya, orang yang mau mengabarkan kehadiran-Nya tidak sepatutnya mengancamkan hukuman, apalagi mengutuk orang atas nama-Nya.

MENGIKUTI PANGGILAN DENGAN HATI MENDUA?

Bagian kedua dari petikan hari ini (ayat 57-62) menceritakan tiga pembicaraan perihal mengikuti Yesus dan mengabarkan Kerajaan Allah. Rasa-rasanya mengikuti Kristus dan mengabarkan Kerajaan Allah itu menuntut penyerahan diri total sejak awal. Betulkah demikian?

Orang yang pertama dalam kisah itu memang menyatakan diri ingin mengikutinya. Yesus menegaskan, mengikutinya berarti bersedia berjaga terus-menerus tanpa mengharapkan istirahat. Suatu perkara yang melampaui kemampuan manusiawi? Nanti ketiga murid yang diajak menemaninya di Getsemani jatuh tertidur dan baru bangun ketika para penangkap datang. Memang mengikuti dia tak dapat dijalankan sebagai ikhtiar manusiawi belaka. Maka mengikutinya hanya dapat terjadi bila ada kekuatan dari atas sana dan yang bersangkutan membiarkan diri dibawa kekuatan ini. Yesus sendiri disertai Roh ketika berada di padang gurun ketika menghadapi pilihan hidup: ikut Tuhan atau mengabdi Iblis (Luk 4:1).

Orang yang kedua bersedia mengikuti, tetapi minta kelonggaran waktu karena ada kewajiban mendesak, yakni menguburkan ayahnya. Maksudnya masih ada kewajiban moral dan sosial yang sulit dielakkan. Orang ini mau mengikutinya tetapi nanti saja bila sudah bebas dari kewajiban yang tak dapat ditinggalkan begitu saja. Jawaban Yesus berupa pepatah, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati”. Apa arti pepatah ini? Orang mati kan tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi mengubur. Jadi dengan pepatah itu hendak dikatakan, “Nonsense! Jangan berpikir begitu! Kalau engkau menunggu, bisa-bisa kehilangan kesempatan dan malah ikut mati dan tidak bisa berbuat bagi orang yang sebetulnya mau kau perhatikan. Lakukan kewajibanmu dan buatlah itu sebagai cara mengikuti aku sehingga sekarang juga engkau bisa mulai. Demikian juga engkau dapat mengabarkan Kerajaan Allah!” Kewajiban manusiawi tidak dilepaskan, melainkan dijadikan bagian dalam mengikuti dia dan mewartakan Kerajaan Allah, yakni panggilan mewartakan iman bahwa Tuhan itu Maharahim.

Dua pembicaraan di atas terdapat juga dalam Injil Matius (Mat 8:19-22) dengan pengertian yang sama. Yang ketiga, Luk 9:61-62, hanya ada dalam Injil Lukas. Seperti halnya yang pertama, orang yang ketiga ini menyatakan diri mau mengikuti Yesus, tetapi ingin berpamitan terlebih dahulu dengan keluarganya. Sekali lagi jawaban Yesus berupa pepatah yang intinya mengatakan orang yang mendua perhatiannya tidak cocok bagi Kerajaan Allah. Bagaimana penjelasannya?

Perhatian mendua memang tidak membuat orang tenang, khususnya dalam mengikuti panggilan. Namun penyelesaiannya bukanlah dengan cara menyingkirkan salah satu. Memang untuk sementara waktu bila yang satu dilepas orang akan merasa dapat lebih memusatkan diri. Tetapi nanti akan muncul perkara lain yang lambat laun akan membelah perhatian. Penyelesaian yang diajarkan dalam dialog ini bukan ditujukan untuk menghilangkan perhatian yang sudah ada dan mengisi dengan kepedulian baru, dengan tekad mengikuti Yesus dan niatan mengabarkan Kerajaan Allah. Yang diajarkan ialah menyatukan perhatian dan kepedulian yang sudah ada dan membuatnya makin menjadi bentuk nyata mengikuti Yesus dan mengabarkan Kerajaan Allah. Kata orang sekarang, mengintegrasikan kehidupan dengan panggilan mengikuti Kristus dan wartanya tentang Kerajaan Allah.

Ikut mewartakan Kerajaan Allah berarti juga mulai belajar mengenali kerahiman Tuhan dari dalam, dari kenyataan sehari-hari yang ada dalam hidup ini dengan mengikuti jejak dia yang menjadi utusannya, langkah demi langkah. Dibaca dengan latar teguran Yesus kepada murid yang mau mengutuk orang Samaria, langkah pertama dalam mengikuti jejaknya ialah menjauh dari sikap dan perbuatan intoleran. Menjauhi sikap intoleran itu menghormati hak manusia untuk memperoleh ruang hidup yang leluasa. Juga menaruh orang lain pada kedudukan yang setara, bukan hanya memberi konsesi, bukan sekadar mentolerir perbedaan.

Salam hangat,
A. Gianto

Lamunan Pekan Biasa XIII

Minggu, 26 Juni 2022

Lukas 9:51-62

51 Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, 52 dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. 53 Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. 54 Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: "Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?" 55 Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka. 56 Lalu mereka pergi ke desa yang lain.

57 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: "Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." 58 Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." 59 Lalu Ia berkata kepada seorang lain: "Ikutlah Aku!" Tetapi orang itu berkata: "Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku." 60 Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana." 61 Dan seorang lain lagi berkata: "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku." 62 Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, ada gambaran bahwa kalau baik hidupnya orang akan mudah diterima di manapun. Banyak orang akan bersimpati kepadanya.
  • Tampaknya, ada juga gambaran bahwa kalau baik hidup orang akan lancar. Dia ada dalam lindungan Tuhan yang menjauhkannya dari permasalahan dan kesulitan hidup.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun selalu menjaga diri dari perilaku negatif, sebaik apapun hidup seseorang tidak akan menghindarkannya dari tantangan bahkan ancaman sesuai dengan posisi dan misinya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati, makin setia orang terhadap perintah nurani makin siagalah dia berhadapan dengan yang selalu berseberangan.

Ah, kalau sungguh baik orang tak akan punya halangan.

Santo William dari Monte Vergine

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 31 Agustus 2013 Diperbaharui: 31 Mei 2014 Hits: 4970

  • Perayaan
    25 Juni
  •  
  • Lahir
    Tahun 1085
  •  
  • Kota asal
    Vercelli, Italia
  •  
  • Wafat
  •  
  • 25 Juni 1142 di Guglietto, Italia - sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

William dilahirkan di Vercelli, Italia, pada tahun 1085. Kedua orangtuanya meninggal dunia ketika ia masih bayi. Sanak saudara yang membesarkannya. Ketika dewasa, William menjadi seorang pertapa. Ia mengadakan suatu mukjizat, mencelikkan mata seorang buta, dan sekonyong-konyong mendapati dirinya menjadi seorang terkenal.

William terlalu rendah hati untuk dapat bergembira oleh kekaguman orang. Ia sungguh menghendaki tetap menjadi seorang pertapa agar dapat memusatkan diri pada Tuhan. Sebab itu, ia pergi untuk tinggal seorang diri di sebuah gunung yang tinggi dan liar. Tak seorang pun dapat mengusiknya sekarang. Tetapi, bahkan di sana ia tak dapat tinggal sendirian. Banyak orang berkumpul sekelilingnya dan mereka mendirikan sebuah biara yang dipersembahkan kepada Santa Perawan Maria. Karena biara William ini, orang memberikan nama baru kepada gunung itu; mereka menyebutnya Gunung Perawan (Monte Vergine) sampai hari ini.

Tak lama kemudian, sebagian biarawan mulai mengeluh akan cara hidup yang terlalu keras. Mereka menghendaki makanan yang lebih baik dan jadwal harian yang lebih longgar. William tak hendak melonggarkan peraturan bagi dirinya sendiri. Ia memilih seorang pemimpin baru bagi para biarawan. Kemudian, ia dan lima orang pengikut yang setia pergi untuk mendirikan sebuah biara lain, yang seketat sebagaimana awalnya. Salah seorang rekannya adalah St. Yohanes dari Mantua. Keduanya, William dan Yohanes dari Mantua, berjiwa pemimpin.

Sementara waktu berlalu, mereka menyadari bahwa akan lebih baik apabila mereka memisahkan diri, masing-masing mendirikan sebuah biara. Mereka adalah sahabat-sahabat karib, tetapi mereka melihat hal-hal dengan cara pandang yang berbeda. Yohanes pergi ke timur sementara William pergi ke barat. Keduanya berkarya dengan amat baik. Sesungguhnya, mereka berdua dimaklumkan sebagai santo!

Di kemudian hari, Raja Roger dari Naples membantu St. William. Pengaruh baik William atas raja mendongkolkan hati beberapa orang istana yang jahat. Mereka berusaha membuktikan kepada raja bahwa William adalah seorang yang sungguh jahat, bahwa ia adalah musang berbulu domba. Mereka mengutus seorang perempuan jahat untuk menggoda William, tetapi perempuan itu gagal, malahan bertobat dan meninggalkan hidup dosa. St. William wafat pada tanggal 25 Juni 1142.

Friday, June 24, 2022

PUPIP Paroki Bintaran


Ketika sedang asyik memandu omong-omong antara para tamu dari kelompok Paroki Dirjodipuran dengan beberapa romo Domus, Rm. Bambang tak sengaja menengok ke belakang. Posisi Rm. Bambang dan para tamu ada di ruang televisi. Gerakan kepala Rm. Bambang pada waktu menengok adalah kekanan. Karena dia menghadap ke selatan, maka arah tengokan adalah belakang sebelah barat. Maka, tampaklah olehnya beberapa ibu duduk di bangku tamu sebelah barat ruang besar dalam Domus Pacis. Secara refleks jari-jari tangan kanan Rm. Bambang meraba bungkusan paket buku yang terselip di paha kanan di kursi rodanya. Itu terjadi pada Senin 20 Juni 2022 pada sekitar jam 10.40. Ketika makan pagi hari itu Rm. Hartanta, Direktur Domus, memang sudah mengumumkan bahwa selain dari Paroki Dirjodipuran, Sala, ada datang juga kelompok lain. Bisa jadi kedua rombongan akan datang bersamaan.

Ketika foto-fotoan dengan tamu Dirjodipuran selesai, Mgr. Blasius, Rm. Ria, Rm. Harto, dan Rm. Bambang langsung menghampiri rombongan tamu kedua. Ini adalah rombongan kecil tamu dari Paroki Bintaran. Mereka adalah para anggota PUPIP (Paguyuban Umat Pamitran Imam Praja). Ada 7 orang ibu yang berkunjung di Domus Pacis. Kebetulan Rm. Ria dan Mgr. Blasius pernah menjadi Pastor Paroki Medari. Langsung saja beberapa dari mereka asyik omong-omong dengan Mgr. Blasius dan Rm. Ria. Kebetulan Rm. Bambang mempunyai kepentingan mau menitipkan bungkusan buku sehingga bertanya "Napa wonten sing pirsa Bu Ima Dewi?" (Apa ada yang kenal dengan Bu Ima Dewi?). Pertanyaan Rm. Bambang langsung disergah oleh salah satu ibu "Bu Dewi setunggal Wilayah kaliyan kula" (Bu Dewi itu se-Wilayah dengan saya). Ternyata ibu yang menjawab adalah Bu Atun. Menurut Bu Atun, Bu Dewi adalah Ketua Wilayah dan Bu Atun adalah salah satu Ketua Lingkungan di Wilayah itu. Kemudian Rm. Bambang menitipkan buku untuk Bu Ima Dewi lewat Bu Atun. Di tengah omong-omong datang dan bergabunglah Rm. Hartanta. Kehadiran Rm. Hartanta membuat suasana menjadi sungguh menyenangkan penuh omongan bernuansa humor.

Lamunan Peringatan Wajib

Hati Tersuci Santa Perawan Maria

Sabtu, 25 Juni 2022

Lukas 2:41-51

41 Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. 42 Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. 43 Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya. 44 Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. 45 Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. 46 Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. 47 Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya. 48 Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau." 49 Jawab-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?" 50 Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. 51 Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, seharmonis apapun sebuah keluarga tetap juga mengalami permasalahan. Masalah bisa dengan anak dan atau dengan pasangan.
  • Tampaknya, kalau punya masalah dengan anak, orang tua bisa memberi tahu bagaimana menjadi anak yang baik. Kalau masalah dengan sesama yang tua, pembicaraan secara terbuka bisa terjadi.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, sekalipun bicara langsung bahkan bermusyawarah bisa menjadi tanda adanya kelancaran berkomunikasi, orang yang sungguh baik akan mengutamakan menyimpan dan mengendapkan lebih dahulu dalam hati dan merenungkan perkara yang dihadapi. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar bahwa untuk menghadapi permasalahan bukan pertama-tama dengan kemampuan problem solving tetapi dengan kebiasaan mengendapkan lebih dahulu dalam relung hati.

Ah, kalau menghadapi masalah yang langsung saja dibicarakan.

Santa Theodosia dari Tirus

diambil dari katakombe.org/para-kudus  Diterbitkan:  11 April 2015  Diperbaharui:  11 April 2015  Hits:  12199 Perayaan 02 April   Lahir Sek...