Saturday, March 26, 2022

Minggu Prapaskah IV/C – 27 Mar 2022 (Luk 15:1-3; 11-32)

diambil dari https://unio-indonesia.org; ilustrasi dari koleksi Blog Domus

PERUMPAMAAN  “SI ANAK HILANG”: PAHALA DAN HUKUMAN?

Rekan-rekan yang baik!

Perumpamaan tentang si anak hilang dalam Luk 15:11-32 sudah banyak dikenal. Gagasan pokoknya ialah kebaikan Tuhan tertuju bagi siapa saja, dan khususnya bagi pendosa yang mau mendekat kepada-Nya. Perumpamaan ini diceritakan guna menanggapi gerundelan kaum Farisi dan Ahli Kitab ketika melihat Yesus, sang guru yang terhormat itu, suka bergaul dengan para pemungut pajak dan pendosa lainnya (Luk 15:1-3).

Begini kisah perumpamaan itu. Ada seorang ayah yang mempunyai dua orang anak lelaki. Yang bungsu meminta bagian warisannya sebagai bekal hidup di perantauan. Di negeri orang ia hanya berfoya-foya dan ketika ada kelaparan di sana ia jatuh melarat dan terpaksa hidup sebagai budak. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah ayahnya dan mau menjadi budak di situ. Ketika melihat anaknya dari kejauhan, sang ayah tergopoh-gopoh menjemputnya. Disuruhnya orang-orangnya memberi sang anak jubah yang terbaik, cincin, dan sepatu. Ini semua tanda ia diakui kembali sebagai anak, bukan diterima sebagai budak yang tak mengenakan hal-hal itu. Kedatangannya kembali juga dipestakan. Sementara itu anak yang sulung pulang dari ladang dan mendengar hal ihwal pesta itu. Ia tidak puas dan tak mau masuk ke rumah ikut pesta. Tetapi ayahnya keluar membujuknya. Anak sulung itu mengutarakan alasannya mengapa ia tak suka. Bertahun-tahun ia bekerja tanpa melanggar perintah tapi tak satu kali pun mendapat kesempatan bersuka ria dengan teman-temannya. Dan kini, bagi anak pemboros dan tak berbakti itu ada pesta besar! Ayahnya membujuknya, anak sulung itu toh selalu ada bersamanya dan semua miliknya juga kepunyaannya.

Perumpamaan ini diceritakan bukan untuk membuat orang bertobat seperti si anak hilang, atau agar kita tidak bersikap iri seperti si anak sulung. Perumpamaan ini mengajak berpikir mengenai hal-hal yang lebih dalam, bukan mengenai hal-hal yang bisa dikenakan begitu saja ke dunia sekitar, bukan pula untuk dituduhkan diam-diam dalam hati sekalipun.

WAJAH BARU BAGI MOTIF KLASIK

Kisah saudara tua yang dengki akan kemujuran adiknya bukan hal yang baru bagi pendengar Kitab Suci pada zaman itu. Ada kisah Kain dan Abel, kisah Esau anak sulung Ishak dan Yakub adiknya, ada kisah Yusuf dan saudara-saudara tuanya. Saudara tua umumnya ditampilkan sebagai tokoh konyol sedangkan yang muda tokoh yang beruntung. Perumpamaan anak hilang ini memang memakai motif kisah yang sudah dikenal itu. Tetapi arah kisahnya berbeda dengan yang biasa dikenal. Walaupun akhirnya anak yang bungsu mujur, anak yang sulung tidak kehilangan haknya seperti halnya Kain, Esau atau saudara-saudara tua Yusuf. Kehadiran kembali yang bungsu tidak menggeser yang sulung. Mengapa begitu? Karena sang ayah tidak membeda-bedakan kedua anaknya itu kendati perasaan anaknya yang sulung lain. Juga si bungsu yang kembali itu sebenarnya merasa sudah tak pantas menjadi anak lagi dan malah minta diperlakukan sebagai budak saja. Tapi persepsi masing-masing mereka ini akan diluruskan. Marilah kita dekati.

TEOLOGI “HUKUMAN DAN PAHALA”?

Biasa orang bernalar, bila ada kesalahan, maka layak diberikan hukuman. Begitu pula, kebaikan mestinya mendatangkan pahala. Tanpa kita sadari gagasan ini sering mendasari cara memandang kejadian-kejadian dan melandasi penilaian terhadap orang lain. Perumpamaan ini disampaikan untuk menyorotinya.

Apa kesalahan atau dosa si anak bungsu di mata abangnya dan di mata si bungsu itu sendiri? Ia dianggap bersalah karena tidak berlaku sebagai anak yang baik yang tinggal di tempat ayahnya untuk membantu mengerjakan ladang dan nanti meneruskan pekerjaaan sang ayah. Si bungsu pergi menuruti keinginannya sendiri. Ia jadi anak yang tak berbakti, lain daripada anak yang sulung. Lalu apa yang terjadi terhadap anak yang tak berbakti? Terhukum? Anak bungsu tadi memang mengalami nasib malang. Ini akibat kesalahannya?

Pendengar atau pembaca akan tergoda melihat kelakuannya berfoya-foya di luar negeri sebagai penyebab kemelaratannya. Juga kelakuan tak berbakti kepada ayahnya kiranya telah membuatnya terhukum. Namun, sebenarnya kemalangan si anak bungsu ditampilkan bukan sebagai hukuman dari atas, bukan pula konsekuensi keteledoran sendiri, melainkan akibat keadaan yang tak bisa dikontrol, yakni bencana kelaparan (ayat 14). Pencerita ulung seperti Lukas sengaja menampilkan hal penting seolah-olah sebagai unsur tambahan. Pembaca dibiarkan terkecoh oleh pikiran-pikirannya sendiri, tapi nanti akan dituntunnya kembali.

Bagaimana dengan abangnya? Ia tipe anak yang baik, yang bekerja terus, setia tinggal di tempat. Orang seperti ini dalam gagasan orang banyak tentu mendapat pahala. Sekali lagi orang tergoda menganggap keberuntungannya sebagai pahala dan si anak sulung itu sendiri memang berpikir dalam ukuran-ukuran itu. Ia mengeluh bahwa tak pernah mendapat kesempatan bersenang-senang walaupun bertahun-tahun melayani dan tak pernah melanggar perintah (ayat 29). Dan ketika si bungsu yang kembali itu dipestakan dan diberi sepatu, cincin, dan jubah kebesaran segala, wah, ini pahala atas dasar perbuatan apa? Kan anak itu pemboros dan tak bertanggungjawab, bejat akhlak. Mestinya ia kena hukuman! Perumpamaan ini mengusik benak orang yang berpikir dalam perspektif teologi “hukuman dan pahala” seperti itu.

SI BUNGSU DAN KEGEMBIRAAN SANG AYAH

Ketika memutuskan untuk pulang, anak bungsu yang terlunta-lunta itu sebenarnya sudah siap bila nanti diperlakukan sebagai budak. Ia memang sudah kehilangan hak sebagai anak (ayat 19). Tapi apa yang terjadi? Ketika melihat dari jauh anaknya ini datang kembali, sang ayah lari bersicekat menyongsongnya. Bahkan sebelum anak itu sempat mengucap minta ampun, sang ayah sudah memeluk dan menciumnya (ayat 20). Dua hal ini tidak biasa. Masakan seorang tua yang terhormat seperti sang ayah itu berlari-lari? Paling banter mestinya cuma mengirim orang suruhan untuk menjemput. Masakan ia juga tidak membiarkan dulu anak itu mengutarakan rasa sesalnya terlebih dahulu (ayat 21)? Pembaca atau pendengar perumpamaan ini akan terhenyak dan berpikir. Dan di sinilah terletak warta perumpamaan itu. Kita diajak menyadari bahwa Tuhan yang diperkenalkan Yesus dengan perumpamaan ini bertindak seperti sang ayah yang pengampun dan pemurah itu. Teologi “pendosa mesti dihukum” dan “orang baik mesti diberi pahala” tidak memadai sama sekali untuk memperkenalkan Tuhan. Walau besar daya tariknya, teologi seperti itu tidak klop. Hanya akan membuat orang merasa terus-terusan menyesal seperti si bungsu, atau kesal melulu seperti si sulung.

Perasaan tersinggung orang-orang Farisi dan Ahli Kitab (ayat 1-3) didasarkan pada etos teologi yang disorot tajam tadi. Yesus sang utusan Tuhan bergaul dengan orang-orang yang tersisih dan dicap pendosa karena ia mau menghadirkan Tuhan sebagai ayah yang baik, bukan Tuhan yang baru mau mengampuni setelah menghukum sampai orang kapok. Tapi gambaran ini membuat orang baik-baik tidak tenteram lagi. Mereka tersengat melihat Yesus guru terhormat itu bergaul dengan para pemungut pajak. Kaum baik-baik itu memang menjadi bahan pembicaraan orang. Lho nyatanya ada seorang guru terkenal yang tak menjauhi pendosa yang akrab dengan kami-kami ini, tidak seperti orang-orang yang mencibirkan kami itu.

SANG AYAH DAN ANAK SULUNGNYA

Anak sulung itu marah dan tidak bersedia masuk ke dalam rumah ikut berpesta. Lalu apa yang terjadi? Ayahnya keluar menemuinya dan membujuknya (ayat 28). Ia bersikap sama seperti terhadap anak yang kembali tadi. Ayah itu pergi menemui yang membutuhkannya dan tidak diam menunggu di dalam rumah. Namun demikian si anak sulung tetap kurang senang dan mengutarakan kekesalannya. Ia merujuk adiknya bukan dengan kata “adikku itu”, melainkan dengan “anakmu itu” (ayat 30 “ho huios sou” – nadanya sinis, dan mungkin ketus, lebih daripada terjemahan idiomatik Indonesia “anak bapak”). Menarik, dalam perumpamaan ini si anak sulung ini hanya tampil di luar rumah. Tidak pernah ia disebut ada di dalam rumah. Anak bungsu yang kembali tadilah yang bergerak dari luar ke dalam. Dan ayah mereka keluar masuk rumah untuk membawa masuk mereka! Lalu siapa yang sebenarnya menjadi anak yang sungguh? Bukankah ia yang ada di dalam rumah? Tetapi ayahnya tidak menegur anak sulungnya. Ia membujuknya dengan sabar “Nak!” (ayat 31) dan kemudian meyakinkannya bahwa anak sulung itu selalu bersama dengannya dan seluruh hartanya itu juga miliknya. Dengan demikian keberatan anak sulung itu tak lagi beralasan. Tapi ada satu hal lagi yang ingin ditambahkan. Ayah itu barusan ketambahan harta baru yang khusus, yakni “adikmu” (ayat 32 “ho adelphos sou”) yang tadi mati – putus haknya sebagai anak – kini hidup kembali dan mau menjadi anak lagi, yang hilang dahulu kini kembali. Dengan memakai kata “adikmu” itu sang ayah sebenarnya ingin mengajak anak sulung itu berbagi harta baru, yakni kegembiraan menemukan kekayaan baru ini! Sang ayah ini tokoh yang secara lahir batin merdeka sepenuhnya. Ia tidak marah, ia tidak tersinggung, ia tidak menuntut. Tetapi ia memberi, mengajak dan bisa berbagi kegembiraan.

Kisah anak sulung ini sebenarnya bukan untuk menunjukkan betapa sempitnya pandangan hidupnya. Maka tak perlu dipakai menuduh-nuduh diri kita sendiri atau orang di sekitar kita. Yesus juga tidak memakainya untuk membuat karikatur orang Farisi dan Ahli Kitab. Ia mau mengajak mereka bernalar. Gambaran itu dipakai untuk menonjolkan perhatian sang ayah. Mengenal tokoh ini membuat orang bisa makin memikirkan kebesaran hati Tuhan.

Riwayat anak bungsu dan anak sulung tadi juga menggambarkan kebesaran Tuhan. Ia mencintai si bungsu yang “pendosa” dan mengasihi si sulung yang “orang yang kaku hati” itu. Dia bukannya duduk mengadili atau menghukum. Ia itu Tuhan yang “tergopoh-gopoh” mendatangi orang yang remuk hatinya. Tidak tahan Ia mendengar orang seperti itu menuturkan penyesalannya. Dapat dipahaminya pula kenapa orang marah melihat Dia memperlakukan pendosa sedemikian baik. Dia tidak balik mencela. Malah Ia berusaha bernalar dengan orang yang kurang puas itu. Lihat, kita mestinya gembira, kan mendapat harta tambahan, dan tambahan ini pemberianku bagimu – pahala yang kauinginkan sejak lama itu.

Salam hangat,

Gianto

Lamunan Pekan Prapaskah IV

Minggu, 27 Maret 2022

Lukas 15:1-3.11-32

1 Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. 2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." 3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:

11 Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. 12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. 13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. 14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat. 15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. 16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya. 17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. 18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, 19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. 20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. 21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. 22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. 23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. 24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. 25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. 26 Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. 27 Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. 28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. 29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. 30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. 31 Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. 32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, pada umumnya orang akan merasa senang dan bahagia kalau berada dalam keluarga yang kaya. Apalagi di dalam rumah ada aura kasih satu sama lain.
  • Tampaknya, pada umumnya orang juga merasa senang dan bahagia kalau berada dalam lingkungan hidup yang bermoral dan selalu menjaga sikap mulia. Apalagi dalam lingkungan itu ada dalam aura kerukunan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun selalu berperilaku sesuai aturan dan mengenyam fasilitas enak, orang dapat berada dalam kesejatian hidup cela kalau mudah iri pada sambutan baik terhadap orang yang dipandangnya buruk. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan diwarnai keterbukaan hati penuh kasih sehingga akan amat berbahagia kalau yang papa terlantar dan tersingkir menemukan kebahagiaan. 

Ah, bagaimanapun juga kaum bangsat harus dibiarkan melarat.

Friday, March 25, 2022

Santo Ludger

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 05 Agustus 2013 Diperbaharui: 06 Maret 2017 Hits: 5491

  • Perayaan
    26 Maret
  •  
  • Lahir
    Tahun 743
  •  
  • Kota asal
    Zuilen, Friesland (Sekarang Netherlands)
  •  
  • Wafat
  •  
  • 26 Maret 809 | Oleh sebab alamiah
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

St. Ludger dilahirkan di Eropa utara (Belanda) pada abad kedelapan. Ia adalah anak dari Thiadgrim dan Liafburg, keluarga bangsawan Frisian Kristen yang kaya raya namun juga saleh. Dua orang saudara St. Ludger juga dimaklumkan kudus yaitu St. Gerburgis dan Saint Hildegrin dari Chalons.

Pada tahun 753 Ludger bertemu dengan St. Bonifasius dan mendengarkan khotbah dari orang Kudus tersebut. Ludger sangat tersentuh dengan kata-kata St. Bonifasius. Ia lalu masuk biara Benediktin dan mempersembahkan hidupnya untuk melayani Tuhan.  Setelah belajar dengan tekun selama beberapa tahun di Utrecht, Ludger melanjutkan pendidikannya di Inggris. Setelah ditahbiskan sebagai imam Ludger memutuskan untuk pulang ke Utrecht sebagai seorang missionaris  pada tahun 773. Ludger melakukan perjalanan hingga jauh untuk mewartakan Kabar Gembira. Ia amat gembira dapat membagikan apa yang telah ia ketahui tentang Tuhan kepada siapa saja yang mendengarkannya. Orang-orang kafir bertobat dan umat Kristiani memulai cara hidup yang jauh lebih baik. St. Ludger mendirikan banyak gereja serta biara.

Serbuan bangsa Saxon membuat segala kerja keras St. Ludger kelihatan akan menjadi sia-sia. Tetapi, ia pantang menyerah. St. Ludger mencari tempat yang aman bagi para muridnya lalu ia pergi ke Roma untuk berziarah dan sekaligus memohon petunjuk dari bapa suci Adrianus I mengenai apa yang harus ia lakukan.

Selama lebih dari tiga tahun di Roma, Ludger tinggal di sebuah biara Benediktin sebagai seorang rahib yang baik serta kudus. Namun demikian, ia tidak melupakan para murid di negerinya. Begitu ia dapat kembali ke tanah airnya, Ludger segera pulang serta melanjutkan karyanya. Ia bekerja tanpa kenal lelah dan mempertobatkan banyak orang Saxon.

Setelah ditahbiskan menjadi uskup, terlebih lagi Ludger memberikan teladan bagi umatnya dengan kelemah-lembutan serta belas kasihannya. Suatu kali, orang-orang yang iri hati kepadanya menyampaikan hal-hal yang buruk mengenai Ludger kepada Raja Charlemagne. Raja memerintahkan kepada Ludger untuk datang ke istana guna membela diri. Dengan taat Ludger datang ke istana. Keesokan harinya, ketika raja memanggilnya, Ludger mengatakan bahwa ia akan datang segera setelah ia menyelesaikan doa-doanya.

Pada mulanya Beato Raja Charlemagne amat marah. Tetapi, St. Ludger menjelaskan kepadanya bahwa meskipun ia mempunyai rasa hormat yang besar kepada raja, ia tahu bahwa Tuhan harus dinomor-satukan. “Baginda tidak akan marah kepada saya,” katanya, “sebab Baginda sendiri yang mengatakan kepada saya untuk selalu menomor-satukan Tuhan.” Mendengar jawaban yang bijaksana itu, raja menjadi sadar bahwa Ludger adalah seorang yang amat kudus. Sejak saat itu, Charlemagne mengagumi serta amat mengasihinya. St. Ludger wafat pada Hari Minggu Sengsara pada tahun 809. Ia melaksanakan segala tugas dan kewajibannya untuk melayani Tuhan, bahkan pada hari wafatnya.

Perlu Kontak Rm. Hartanta

Pada Jumat 25 Maret 2022 jam 11.10 ada pesan WA di HP Rm. Bambang "Mo , ibu² WKRI. Bade anjang sana tui Romo² mriki. Bibar Paskah. Sagetipun, tgl pinten njih Mo" (Romo, ibu-ibu WKRI akan beranjangsana mengunjungi Romo-romo Domus sesudah Paskah. Bisanya tanggal berapa ya?). Ternyata yang mengirimkan adalah Ibu Kustini salah satu tokoh dari Paroki Wedi. Rm. Bambang segera menjawab "Oke, buuuu. Matur nuwun. Mangga kemawon kula aturi paring ancer-ancer dinten lan tanggalipun. Ingkang pokok pirsa yen jam 11.40 rama-rama dhahar siang lan 17.45 Misa Komunitas" (Oke, bu. Terima kasih. Silahkan memberi ancar-ancar hari dan tanggalnya. Yang pokok harus diketahui adalah setiap jam 11.45 para romo makan siang dan jam 17.45 Misa Komunitas). 

Ketika sedang menyantap menu di meja makan, Rm. Hartanta memberi informasi bahwa besok Senin 28 Maret 2022 akan ada kunjungan dari Legio Maria Paroki Nandan. Beliau mengatakan kalau sudah dihubungi via telepon. Rm. Bambang menyambung dengan informasi bahwa Bu Kustini dari Wedi juga akan berkunjung bersama WKRI. Rm. Hartanta menanggapai "Ken menghubungi kula" (Diminta menghubungi saya) yang langsung dijawab Rm. Bambang "Sampun kula aturi kontak romo" (Saya sudah memintanya mengontak romo). Dalam hati Rm. Bambang teringat dalam WA dengan Bu Kustini yang diakhiri dengan kata-kata "Yen badhe rawuh silahkan hubungi Rm. Hartanta 0811-8131-280. Punika Rama direktur. Berkah Daleeeeem" (Kalau akan datang silahkan menghubingi Rm. Hartanta 0811-8131-280. Beliau adalah Romo Direktur. Berkah Dalem). Tetapi Rm. Bambang teringat Bu Murni dari Klaseman, Paroki Banteng, yang bilang bahwa pada tanggal 9 juga akan berkunjung. Maka sesudah makan dia langsung mengontak Bu Murni "Yen tgl 9 Estu badhe rawuh silahkan hubungi Rm. Hartanta 0811-8131-280. Punika Rama direktur. Berkah Daleeeeem" (Kalau tanggal 9 jadi berkunjung, silahkan menghubungi Rm. Hartanta 0811-8131-280. Beliau adalah Romo Direktur. Berkah Dalem). Sesaat kemudian muncul jawaban "O njih Romo.mtrnwn sanget.mangke Kulo tak matur" (Oh, ya. Terima kasih sekali romo. Nanti saya akan berkata kepada beliau). Kontak dengan Rm. Hartanta memang amat diperlukan untuk yang bertamu di Domus. Maklumlah kondisi para rama ada yang harus diawasi secara khusus. Dan semua itu ada dalam tanggungjawab beliau.

Lamunan Pekan Prapaskah III

Sabtu, 26 Maret 2022

Lukas 18:9-14

9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, tak sedikit orang yang ingin mendapatkan penghargaan lebih dibanding kiri kanannya. Sekalipun sudah punya jabatan di tengah masyarakat orang menginginkan jabatan yang lebih tinggi.
  • Tampaknya, tak sedikit orang menginkan hidup baik agar terpandang sebagai sosok berbudi. Bahkan dia ingin mendapatkan pujian melebihi orang lain.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun dihargai dan disanjung banyak orang karena perilaku baiknya, orang tetap berada dalam golongan kaum busuk kalau hatinya terlalu kagum pada dirinya sendiri dan membandingkan dengan orang lain yang berperilaku buruk. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar bahwa baik buruk dan benar salah seseorang bukan terutama ditentukan oleh realitas yang dilakukan tetapi sikap batin yang melandasinya suka meninggikan diri atau tidak.

Ah, asal tekun jalani agama dan memberi sumbangan ya pasti jadi baik.

Thursday, March 24, 2022

Santo Dismas

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 18 Oktober 2014 Diperbaharui: 04 April 2017 Hits: 10967

  • Perayaan
    25 Maret
  •  
  • Lahir
    Hidup pada abad pertama
  •  
  • Kota asal
    Tidak ada catatan
  •  
  • Wafat
  •  
  • Disalibkan bersama-sama dengan Yesus disekitar tahun 30 di Golgota, Yerusalem - Israel
  •  
  • Venerasi
    -
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Menurut tradisi Santo Dismas adalah seorang dari dua penjahat yang disalibkan di sebelah kiri dan sebelah kanan Yesus. Dalam Injil dikisahkan bahwa penjahat yang satu tidak menyesali perbuatannya, namun penjahat yang satunya lagi menyesali perbuatan jahatnya.

…. Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: "Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!"
Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: "Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah."
Lalu ia berkata: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Lukas 23:39-43)

Dalam Injil Lukas pencuri yang bertobat itu tidak disebutkan namanya. Dalam Injil Nikodemus (Injil apokrif, Berasal dari Abad ke-4) nama pencuri yang baik adalah "Dismas", dan pencuri yang menghujat Yesus bernama "Gestas". Dalam Injil al-Tufuliyah (Injil apokrif, Abad ke-6) namanya adalah "Titus", dan pencuri yang buruk bernama "Dumachus". Tradisi Gereja Ortodoks Rusia, menyebut namanya sebagai "Rah".

Santo Dismas dipandang sebagai teladan bagi orang yang mau bertobat. Selain itu, ia juga menjadi santo pelindung bagi orang yang dihukum mati.

“Berkursi Roda : Merohanikan Raga Cacat”

Saya mengalami berkursi roda permanen sesudah tinggal di rumah tua para rama praja Domus Pacis Puren, Pringwulung. Sebenarnya ketika masuk Domus saya masih banyak memakai krug. Saya pernah terpeleset jatuh di halaman salah seorang umat dan menderita patah atas lutut kaki kiri pada Maret 2011 dan kemudian dioprasi. Itu adalah kaki yang memang cacat sejak saya masih berusia 1 tahun. Peristiwa oprasi itu hanya membuat kaki sudah susah untuk mengoperasikan kopling motor dan mobil. Untunglah kemajuan zaman menghadirkan motor dan mobil matic. Saya masih bisa ke sana-sini dengan mobil atau motor berbekal krug. Tetapi pada September 2012 saya terpeleset dan jatuh lagi di kamar mandi dan kemudian harus opname lebih dari sebulan. Sejak itu saya berkursi roda permanen dan kemana-mana membawa kursi roda. Memang, kalau terpepet saya baru bermotor dengan membawa krug. Tetapi sejak bulan-bulan terakhir tahun 2020 saya hanya berkursi roda. Entah mengapa pada dinihari sekitar jam 01.30 tanggal 20 Maret 2022 saya memikirkan realita diri saya dalam berkursi roda. Ini telah menjadi salah satu kekurangan bahkan kelemahan fisik saya di samping mata, telinga, dan kekuatan indrawi lain termasuk daya kognitif.

Terang Medis

Ketika bangkit dari tempat tidur dan kemudian menuju laptop, saya mencari artikel yang ada hubungannya dengan realita orang berkursi roda. Ternyata saya menemukan beberapa artikel. Kemudian saya memilih judul Mengenal Fungsi Kurtsi Roda dan Cara Tepat Memilihnya dari http://www.alodokter.com. Teks lengkap adalah sebagai berikut :


Fungsi kursi roda sangatlah penting bagi seseorang yang mengalami keterbatasan mobilitas jangka panjang. Namun, agar dapat menunjang aktivitas penggunanya secara maksimal, pemilihan jenis kursi roda harus sesuai dengan kondisi yang dimiliki.

 

Kursi roda merupakan salah satu alat bantu yang kerap digunakan oleh penyandang disabilitas atau siapa pun yang mengalami keterbatasan mobilitas, baik akibat cedera, faktor genetik, maupun pertambahan usia.

 

Namun, untuk mendapatkan manfaatnya secara maksimal, pemilihan kursi roda sebaiknya tidak sembarangan dan perlu dikonsultasikan lebih dulu ke dokter. Dengan begitu, nantinya dokter akan mempertimbangkan sekaligus merekomendasikan jenis kursi roda sesuai dengan kondisi yang Anda alami.

 

Fungsi Kursi Roda

 

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa fungsi kursi roda adalah membantu mobilitas seseorang yang terganggu atau tidak dapat berjalan karena sakit, cedera, atau usia. Penggunaan kursi roda pun tergantung pada gangguan mobilitas yang dialami penderita, baik yang sifatnya sementara atau permanen.

 

Beberapa kondisi kesehatan yang umumnya dianjurkan memerlukan kursi roda, meliputi:

 

·        Mengalami patah tulang atau cedera pada tungkai atau kaki

·        Mengalami kelumpuhan, misalnya akibat stroke, cerebral palsy, atau polio

·        Mengalami amputasi di kaki

·        Mengalami gangguan keseimbangan atau cara berjalan, termasuk tidak sanggup berjalan dalam jarak yang jauh

·        Mengalami masalah atau gangguan pada otot dan tulang di tungkai atau kaki

 

Dengan adanya alat bantu ini, seseorang yang mengalami kelumpuhan atau kelemahan tetap dapat bergerak menuju tempat yang dituju.

 

Tips Memilih Kursi Roda

 

Untuk menentukan kursi roda yang tepat, penggunanya harus mempertimbangkan kondisi diri sendiri dan lingkungan di sekitar tempat tinggal. Ada beberapa pedoman memilih kursi roda yang perlu diperhatikan, yaitu:

 

·        Intensitas pemakaian kursi roda, apakah digunakan secara permanen atau hanya sesekali.

·        Pertimbangkan memilih kursi roda manual atau elektrik. Kursi roda manual biasanya lebih murah dibandingkan dengan kursi roda elektrik.

·        Pastikan kursi roda yang digunakan terasa nyaman saat diduduki dan tidak terasa sakit saat menggerakkan badan.

·        Pastikan sandaran kursi dan bahu sesuai dengan ukuran badan, serta semua bagian kursi roda berfungsi dengan baik.

 

Fungsi kursi roda memang sangat membantu penggunanya yang mengalami hambatan kemampuan mobilitas. Bagi Anda yang ingin menggunakan kursi roda karena kondisi tertentu, sebaiknya konsultasikan lebih dulu ke dokter untuk mendapatkan rekomendasi yang tepat.

 

Terakhir diperbarui: 4 Maret 2022

Ditinjau oleh: dr. Airindya Bella

 

Di dalam mobilitas saya sudah menggunakan kursi roda. Patah tulang kaki kiri menjadi penyebab awal. Kini saya memakai kursi roda secara permanen. Dulu sekalipun pincang saya bisa berjalan kaki sekalipun harus menempuh jarak cukup jauh. Pada usia 56 tahun saya mulai mengalami masalah kaki. Berat badan mempengaruhi kekuatan saya dalam berjalan. Ketidakseimbangan dalam berjalan justru membuat otot-otot kaki kanan yang tidak cacat tidak lentur lagi sehingga membuat rasa kesakitan luar biasa. Saya kemudian berjalan memakai krug. Tetapi berat badan yang bertambah membuat saya terpeleset hingga 2 kali dan harus mengalami proses pengobatan dan perawatan dengan opname di rumah sakit. Maka kini satu-satunya yang membantu saya untuk mobilitas adalah kursi roda. Untuk menjalankannya saya masih bisa mendorong sendiri ketika berada di rumah. Tetapi kalau bepergian di luar rumah ada yang membantu mendorong.

Terang Iman

Ketika semua itu saya bawa dalam doa renung, saya menemukan beberapa kesadaran rohaniassdz. Temuan ini sungguh membuat saya mengalami peneguhan hidup.

Panggilan jadi keluarga Allah

Ketika membuka artikel tentang “kursi roda” dalam https://seide.id saya baru tahu bahwa kursi roda sudah ada di Cina sejak abad 6. Kemudian ada pengembangan desain di Eropa pada tahun 1600. Seorang penyandang kursi roda yang bernama Steve Wilkinson menjadi tokoh hingga mulai tahun 2008 tanggal 1 Maret menjadi Hari Kursi Roda Internasional. Ketika Hari Kursi Roda Internasional dirayakan di Indonesia pada tahun 2021 ada yang mengungkapkan kata-kata berikut :


Dengan menggunakan kursi roda, penyandang disabilitas daksa memiliki sarana untuk bergerak, berpindah tempat atau mobilitas, dan lebih jauh lagi, beraktivitas sebagaimana non-difabel. "Sebelum menggunakan kursi roda, mobilitas saya tidak sebebas atau semandiri sekarang," kata anggota Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan atau Komnas Perempuan, Bahrul Fuad pada Senin 1 Maret 2021. (lih https://difabel.tempo.co/read/1437915)

Ternyata kursi roda menjadi simbol kebebasan. Dengan berkursi roda orang bisa dibebaskan dari kondisi sulit untuk bermobilitas apalagi bepergian cukup jauh. Terus terang ketika berhadapan dengan kata bebas, saya teringat pembicaraan tentang kemerdekaan dan perbudaan dalam Kitab Suci. Santo Paulus berkata “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah.” (Rom 8:15), dan kemudian dalam ayat 21 “tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.” Dengan berkursi roda sehingga tidak terjerat karena difabilitas kaki, saya disadarkan sebagai ciptaan yang menerima Roh. Sejatinya setiap orang menerima Roh atau nafas Allah karena ketika diciptakan “ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kej 2:7). Padahal “Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!””(Rom 8:15) Dari permenungan ini saya diingatkan kembali bahwa sebagai murid Kristus harus mengembangkan kehidupan bersama sebagai anak-anak Allah. Dengan demikian saya, terutama dengan berkursi roda, dipanggil untuk menghayati dan bersaksi lewat keterbukaan hati menerima siapapun yang melakukan kehendak Bapa sebagai sesama keluarga dalam silsilah ilahi (band Mat 12:46-50).

Panggilan jadi berkat

Selama 27 tahun menjadi imam hingga masuk rumah tua Domus Pacis saya memang tidak menjadi pastor di paroki. Meskipun demikian setiap Pekan Suci dan Natal saya biasa membantu pelayanan Misa di paroki. Berkaitan dengan kaki kiri saya yang cacat, saya sering tersentuh dengan bacaan pertama Misa Kamis Putih. Dalam bacaan pertama dikisahkan tentang umat yang harus mempersembahkan korban anak domba atau kambing. Di situ ada ayat yang berbunyi “Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela dan berumur satu tahun; kamu boleh mengambil domba, boleh kambing.” (Kel 12:5) Mengapa harus tidak bercela atau tidak bercacat, Kitab Imamat memberikan penjelasan “korban itu haruslah yang tidak bercela, supaya Tuhan berkenan akan dia, janganlah badannya bercacat sedikit pun.” (22:21) Barangkali syarat seperti ini yang dulu melatarbelakangi gambaran orang Katolik cacat tak bisa diterima menjadi imam, suster, bruder. Paling tidak hingga saya tahbisan, masih ada kongregasi yang mensyaratkan pelamarnya harus sehat jasmani dan rohani.

Berkaitan dengan kecacatan saya pernah merasa punya kebanggaan karena pemahaman budaya Jawa. Waktu masih jadi pastor pembantu di Paroki Santa Maria Assumpta Klaten   saya mengikuti salah satu pertemuan para rama di Syantikara Jogja pada tahun 1981 atau 1982. Pada waktu itu almarhum Rm. Kuntoro SY menjadi pembicara. Rm. Kuntoro terkenal sebagai ahli bahasa dan sastra Jawa Kuna. Beliau berkata bahwa menurut pandangan kerohanian Jawa orang yang cacat ada kesejatian batin berada dalam keadaan samadi. Maka raja-raja Jawa memiliki kelompok abdi cacat yang disebut “abda dalem palawijo”. Dengan memiliki abdi-abdi semacam ini seorang raja yakin memiliki lindungan kekuatan roh ilahi. Pada waktu itu saya ingat bahwa saya juga mendapatkan tugas memimpin Misa pagi. Kebetulan bacaan pertama adalah Kitab Kejadian 32:22-32. Dalam kutipan ini dikisahkan bagaimana Yakub bergumul dengan Allah pada waktu malam. Dalam kisah ini Yakub tidak dapat dikalahkan. Lalu Allah yang berujud sosok seorang laki-laki “memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok” (ay 25). Ketika akan meninggalkan Yakub, Allah memberkatinya (ay 29).

Di dalam doa renung saya menyadari bahwa kalau hidup akrab dengan Tuhan, dalam keadaan cacat ada berkat Allah. Dalam hal ini mungkinkah kondisi cacat juga termasuk menjadi pewujudan Tuhan Yesus sehingga Tuhan berkata “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40)? Dengan permenungan ini, disamping panggilan menjadi penghayat dan pewarta jiwa kekeluargaan, saya juga meyakini bahwa dengan berkursi roda saya dipanggil menjadi berkat. Saya dipanggil untuk menghadirkan berkat lewat kata dan tindakan saya. Tetapi diri saya juga dipanggil menjadi tanda dan sarana orang menyatakan sikapnya kepada Tuhan Yesus.

Domus Pacis St. Petrus, 20 Maret 2022

Santa Theodosia dari Tirus

diambil dari katakombe.org/para-kudus  Diterbitkan:  11 April 2015  Diperbaharui:  11 April 2015  Hits:  12199 Perayaan 02 April   Lahir Sek...