Wednesday, February 23, 2022

Santo Montanus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 28 Juli 2013 Diperbaharui: 21 Februari 2016 Hits: 5067

  • Perayaan
    24 Februari
  •  
  • Lahir
    Hidup pada Abad ke-3
  •  
  • Kota asal
    Kartago - Afrika Utara
  •  
  • Wafat
  •  
  • Tahun 259 | Martir
    Dipenggal kepalanya.
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Kaisar Valerianus menganiaya umat Kristiani dengan bengis sepanjang masa Gereja perdana. Ia meluluskan eksekusi St. Siprianus dari Kartago pada bulan September 258. Tak lama kemudian, pejabat yang menjatuhkan hukuman mati kepada St. Siprianus tewas dan pejabat baru penggantinya nyaris menjadi kurban dari suatu persekongkolan untuk menghabisi nyawanya.

Otoritas Romawi mencurigai persekongkolan ini adalah bentuk balas dendam atas kematian St. Siprianus. Mereka lalu menangkap delapan orang yang tidak tahu apa-apa. Semuanya adalah orang-orang Kristen, sebagian besar adalah para klerus, dan semuanya adalah pengikut setia St. Siprianus.

Tahanan Kristen itu dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah yang gelap. Di sana mereka mendapati para saudara Kristiani mereka yang sudah lama ditangkap. Kotor dan pengap melingkupi kelompok tahanan ini. Mereka sadar bahwa mereka akan segera menghadapi kematian dan kebakaan. Orang-orang Kristen itu ditahan berbulan-bulan lamanya dalam penjara. Mereka dipaksa bekerja di siang hari, dan tanpa sebab seringkali tak diberi makan dan minum. Dalam situasi yang tak berperikemanusiaan macam itu, komunitas kecil umat Kristen ini bersatu padu dan saling tolong-menolong satu sama lain. Yang awam melindungi para uskup, imam dan diakon yang selalu menjadi sasaran kekejian para penjaga.

Ketika tahanan Kristiani pada akhirnya dibawa ke tempat pelaksanaan hukuman mati, masing-masing diijinkan untuk berbicara.
St. Montanus, yang tinggi kekar, berbicara dengan gagah berani kepada segenap umat Kristiani yang ada di antara khalayak ramai. Ia menasehati mereka untuk setia kepada Yesus dan untuk lebih memilih mati daripada mengingkari iman.
St. Lucius, yang kecil dan rapuh, berjalan tertatih-tatih ke tempat eksekusi. Ia lemah akibat masa-masa berat dan sulit di penjara namun matanya berbinar-binar menatap langit.  Sesungguhnya, ia harus bertopang pada dua teman yang membantunya tiba di tempat di mana para algojo telah menanti untuk memenggal kepalanya. Mereka yang menyaksikan berseru-seru memintanya untuk mengingat mereka di surga.

Sementara tahanan Kristen ini seorang demi seorang dipenggal kepalanya, khalayak ramai semakin berani. Mereka menangisi para martir yang menderita ketidakadilan. Tetapi mereka bersukacita juga. Mereka sadar bahwa para martir ini akan memberkati mereka dari surga. Santo Montanus dari Kartago, Santo Lucius dari Kartago, Santo Julianus dari Kartago, Santo Victorius dari Kartago, Santo Flavianus dari Kartago dan lima orang Santo lagi yang tidak kita ketahui namanya wafat sebagai martir pada tahun 259.

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja

Pembatalan Acara

Dari Selasa tanggal 22 Februari 2022 Domus Pacis St. Petrus menutup diri tidak menerima tamu. Ini akan diberlakukan hingga Jumat 4 Maret 2022. Tentu saja kalau masih diperlukan penutupan masih dapat diperpanjang. Hal ini amat berkaitan dengan makin meningkatnya banyak korban Covid-19 akibat omicron. Yang dapat keluar masuk hanyalah karyawan yang memiliki Kartu Domus Pacis. Untuk relawan harian, yaitu Bu Rini dan Bu Titik, mulai bisa masuk Domus pada Senin 28 Februari 2022. Semua ini diputuskan oleh Rm. Hartanta, Direktur Domus Pacis, demi keselamatan para rama sepuh yang tinggal di dalamnya. Maklumlah, semua sudah mengidap penyakit komorbit bahkan ada yang fisiknya sudah lemah. Karena Domus Pacis yang praktis berada dalam keadaan seperti isolasi mandiri, Rm. Hartanta membatalkan semua acara keluar. Sebenarnya untuk Rabu, Kamis, dan Jumat 23-25 Februari 2022 beliau harus ikut rapat-rapat di luar Domus.

Berkaitan dengan keterbukaan Domus Pacis untuk melayani keperluan umat, dalam waktu dekat juga ada pembatalan untuk kepentingan 2 kali Misa Ujub. Yang pertama adalah Misa Peringatan ke-40 hari wafat Bapak JB Han Supatman. Sesuai kesepakatan dengan Rm. Bambang, Misa ini akan terjadi di Kapel Domus pada 28 Februari 2022 Senin malam jam 19.00. Keluarga dekat akan datang 10 orang. Sedang yang lain termasuk para sahabat dan kenalan akan dibuka tayangan zoom. Yang kedua adalah permintaan Ibu Veronica Triningsih Murni Lestari, yang biasa dipanggil Eyang Wikuntoro. Bu Wikuntoro adalah salah satu relawan penyedia masakan makan malam sebulan sekali untuk penghuni Domus Pacis. Rm. Hartanta sudah bersedia Misa untuk Bu Wikantoro pada 1 Maret 2022 bersama para rama Domus untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 70. Tetapi, karena ada keputusan penutupan sementara Domus Pacis, kedua permintaan Misa itu dibatalkan. Rm. Bambang pada 22 Februari 2022 jam 04.44 mengirim WA kepada Mbak Pipit menantu alm Bapak Han "Maaaaaaf buanget. Rencana misa tgl 28 Febr harus batal. Mulai hari ini Domus Pacis ditutup total untuk sementara waktu. Berkah Daleeeem" Sedang pada jam 08.10 kepada Bu Wikatoro dia mengatakan "Eyang, badhe matur. Saderengipun nyuwun pangapunten sanget. Domus Pacis dipun tutup saking dinten punika (22 Februari) ngantos 4 Maret. Pramila rencana Misa ulang taun kangge eyang kangge tanggal 1 Maret mboten saget dipun leksanani" (Eyang, saya mau memberi informasi. Sebelumnya mohon maaf sedalam-dalamnya. Saat ini Domus Pacis ditutup dari 22 Februari hingga 4 Maret. Maka rencana Misa Ulang Tahun untuk eyang tidak dapat dilaksanakan).

Lamunan Pekan Biasa VII

Kamis, 24 Februari 2022

Markus 9:41-50

41 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya."

42 "Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut. 43 Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; 44 (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.) 45 Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; 46 (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.) 47 Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, 48 di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam. 49 Karena setiap orang akan digarami dengan api. 50 Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, ada gambaran bahwa kini adalah jamannya persaingan. Orang harus punya kemampuan sendiri.
  • Tampaknya, orang dapat disebut bermutu kalau mampu mandiri tak tergantung pada orang lain. Bahkan orang sungguh bermutu kalau mampu mengungguli banyak pesaing.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun yang disebut hebat berkualitas tinggi adalah yang dapat unggul di antara banyak orang lain, orang baru sungguh bermutu kalau punya hati tenang penuh kedamaian dan bisa mengakomodasi siapapun termasuk yang berseberangan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang dapat bergaul baik dengan siapapun.

Ah, asal masih ikut iuran kampung orang sudah dapat dikatakan baik.

Tuesday, February 22, 2022

Santo Polikarpus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 28 Juli 2013 Diperbaharui: 19 Oktober 2019 Hits: 19424

  • Perayaan
    23 Februari
  •  
  • Lahir
    Antara tahun 75 - 80
  •  
  • Kota asal
    Smyrna - Turki
  •  
  • Wafat
  •  
  • Sekitar tahun 155 di Smyrna | Martir
    Awalnya dibakar hidup-hidup; tapi karena tidak terbakar api ia lalu ditusuk dengan pedang sampai mati
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Polikarpus dilahirkan antara tahun 69 hingga 80. Ia adalah murid langsung dari Rasul Yohanes, saudara  Yakobus; dua bersaudara, yang sangat dikasihi Yesus. Ia dibabtis menjadi seorang Kristen oleh Rasul Yohanes ketika pengikut Kristus masih sangat sedikit jumlahnya. Apa yang telah dipelajarinya dari  Yohanes diajarkannya kepada yang lain. Polikarpus menjadi seorang imam dan kemudian diangkat menjadi Uskup Smyrna yang sekarang ini menjadi wilayah negara Turki. Ia menjadi Uskup Smyrna untuk masa yang cukup lama. Jemaat Kristiani perdana mengenalnya sebagai seorang gembala umat yang kudus serta pemberani.

Pada masa itu, umat Kristen mengalami penganiayaan serta pembantaian dalam masa pemerintahan Kaisar Markus Aurelius karena orang-orang Kristen menolak menyembah kaisar dan dewa-dewa Romawi.  Orang-orang Smyrna bersama para prajurit memburu orang-orang Kristen dengan pekikan, "Enyahkan orang-orang kristen kafir."

Banyak sudah orang Kristen ditangkap dan dibunuh di arena. Polikarpus sebagai uskup dan pemimpin umat Kristen di kota itu, menjadi target utama dan dikejar-kejar oleh prajurit Smyrna.  Meskipun hamba Tuhan ini tidak takut mati, dan memilih tetap berdiam di kota;  umatnya meminta agar ia terus bersembunyi. Mereka takut kalau-kalau ia ditangkap dan dibunuh; maka kematiannya akan mempengaruhi ketegaran gereja dan umat di masa penganiayaan ini.

Polikarpus telah meninggalkan kota itu dan bersembunyi di sebuah ladang milik teman-temannya. Bila pasukan mulai menyergap, ia pun melarikan diri ke ladang lain.  Namun seseorang jemaat yang murtad kemudian mengkhianati Polikarpus dan melaporkannya kepada penguasa. Ketika orang-orang yang hendak menangkapnya datang, Polikarpus terlebih dulu mengundang mereka bersantap bersamanya. Kemudian ia meminta mereka untuk mengijinkannya berdoa sejenak. Ia kemudian berdoa dua jam lamanya.

Beberapa penangkap merasa sedih menangkap orang tua yang begitu baik ini. Dalam perjalanannya kembali ke Smyrna, kepala prajurit yang memimpin pasukan itu berkata, "Apa salahnya menyebut Kaisar sebagai Tuhan dan mempersembahkan bakaran kemenyan?"
Dengan tenang Polikarpus mengatakan bahwa ia tidak akan melakukannya.

Gubernur Romawi yang mengadilinya berusaha mencarikan jalan keluar untuk membebaskan uskup tua itu. "Hormatilah usiamu, Pak Tua," seru gubernur Romawi itu. "Bersumpahlah demi berkat Kaisar. Ubahlah pendirianmu serta berserulah, "Enyahkan orang-orang kristen kafir!"
Sebenarnya, gubernur Romawi itu ingin Polikarpus menyelamatkan dirinya sendiri dengan melepaskan dirinya dari orang-orang Kristen yang dianggap "kafir" itu. Namun, Polikarpus hanya memandang kerumunan orang yang sedang mencemohkannya. Sambil menunjuk ke arah mereka, ia berseru, "Enyahkan orang-orang kafir!"   Gubernur Romawi itu berusaha lagi: "Angkatlah sumpah dan saya akan membebaskanmu. Hujatlah Kristus!"

Polikarpus pun berdiri dengan tegar dan berkata : "Selama 86 tahun aku telah mengabdi kepada Kristus dan Ia tidak pernah menyakitiku. Bagaimana aku dapat mencaci Raja yang telah menyelamatkanku?" 

Pertukaran pendapat antara sang uskup dan gubernur Romawi berlanjut. Pada suatu saat, Polikarpus menghardik lawan bicaranya: "Jika kamu... berpura-pura tidak mengenal saya, dengarlah baik-baik: Saya adalah seorang Kristen. Jika Anda ingin mengetahui ajaran Kristen, luangkanlah satu hari khusus untuk mendengarkan saya."

Gubernur Romawi itu pun mengancam akan melemparkan dia ke binatang-binatang buas. "Panggil binatang-binatang itu!" seru Polikarpus. "Jika hal itu akan mengubah keadaan buruk menjadi baik, tetapi bukan keadaan yang lebih baik menjadi lebih buruk." Ketika ia diancam akan dibakar, Polikarpus menjawab, "Apimu akan membakar hanya satu jam lamanya, kemudian akan padam, namun api penghakiman yang akan datang adalah abadi."

Akhirnya Polikarpus dinyatakan sebagai orang yang tidak akan menarik kembali pernyataan-pernyataannya. Rakyat Smyrna pun berteriak: "Inilah guru dari Asia, bapa orang-orang Kristen, pemusnah dewa-dewa kita, yang mengajar orang-orang untuk tidak menyembah (dewa-dewa) dan mempersembahkan korban sembelihan."

Gubernur Romawi menitahkan agar ia dibakar hidup-hidup. la diikat pada sebuah tiang pancang dan dibakar. Api berkobar namun, menurut para saksi mata, badan orang suci ini tidak termakan api.  "la berada di tengah, tidak seperti daging yang terbakar, tetapi seperti roti di tempat pemanggangan, atau seperti emas atau perak dimurnikan di atas tungku perapian. Kami mencium aroma yang harum, seperti wangi kemenyan atau rempah mahal."  Dan seperti yang dikatakan Polikarpus sebelumnya; api hanya menyala selama satu jam lalu padam, dan Uskup Polikarpus tetap segar-bugar berdiri diatas sisa-sisa kayu pembakaran.  Seorang algojo kemudian menikam sang uskup tepat dilambungnya; dan Polikarpus kemudian wafat sebagai martir.  Ia pergi untuk tinggal selama-lamanya bersama Raja Ilahi yang telah dilayaninya dengan gagah berani.

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja.

Rm. Joko Ikut Tugas

Ini tentang Misa Komunitas para rama Domus Pacis St. Petrus. Dari 12 orang rama ada 11 orang yang masuk golongan lansia dan berkebutuhan khusus. Satu rama yang masih muda berusia 41 tahun adalah Rm. Hartanta sebagai Direktur rumah. Meskipun ada 12 rama, Misa Komunitas tidak biasa diikuti oleh semuanya. Dulu yang tidak ikut hanya Rm. Tri Wahyono karena kondisinya yang harus dilayani dalam segalanya di dalam kamar. Kemudian menyusul Rm. Jayasewaya dan kini bertambah Rm. Tri Hartono. Semua yang tidak ikut terjadi karena kondisi sakitnya yang memang mengharuskan banyak berbaring di tempat tidurnya. Memang, dalam even-even khusus Rm. Tri Wahyono bisa diikutsertakan. Dari 9 orang yang biasa ikut Misa Komunitas hanya 4 orang yang kini mendapatkan giliran memimpin, yaitu Rm. Hartanta, Rm. Yadi, Mgr. Blasius, dan Rm. Bambang. Rm. Ria dilibatkan menjadi salah satu lektor bergiliran dengan karyawan Katolik, Bu Titik, dan Bu Rini. Dua nama terakhir adalah relawati Domus Pacis.

Di Domus Pacis Rm. Hartanta selalu berupaya memberdayakan para rama sepuh sesuai dengan kemungkinan daya yang dimiliki. Di dalam doa makan Rm. Yadi, Rm. Ria, dan Mgr. Blasius selalu mendapatkan peran secara bergiliran. Sesudah 7 bulan tinggal bersama di Domus Pacis, Rm. Hartanta memikirkan kemungkinan pemberdayaan untuk Rm. Joko Sistiyanto. Rm. Joko menjalani kebersamaan dengan para rama lain di dalam Misa Komunitas. Dia memiliki ritme waktu sendiri untuk saat makan sehingga tidak bisa ikut makan bersama. Tetapi beliau masih bisa ikut Misa Komunitas sekalipun harus berkursi roda didorong oleh karyawan. Ketika masuk bulan Februari 2022 Rm. Hartanta berniat meminta Rm. Joko untuk terlibat dalam Misa. Namun Rm. Hartanta juga memperhitungkan keadaan beliau kalau harus bicara lama nafas bisa ngos-ngosan atau juga bisa sesak nafas. Rm. Joko juga harus diantar 3 kali seminggu ke RS Panti Rapih untuk cuci darah. Penyakitnya memang macam-macam. Maka Rm. Hartanta mencoba memintanya untuk membaca Injil termasuk homili singkat. Ternyata Rm. Joko bisa melaksanakan tugas ini pada Kamis tanggal 10 dan Jumat tanggal 18 bulan Februari ini. Homilinya juga bagus sekali.

Lamunan Pekan Biasa VII

Rabu, 23 Februari 2022

Markus 9:38-40

38 Kata Yohanes kepada Yesus: "Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita." 39 Tetapi kata Yesus: "Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. 40 Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita. 

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, tak sedikit agamawan memandang yang beda agama akan beda keyakinan. Mereka akan memiliki gambaran tentang Tuhan yang beda satu sama lain.
  • Tampaknya, karena perbedaan agama bahkan beda aliran dalam satu agama, orang bisa berdebat membela keyakinannya. Bahkan satu sama lain bisa saling menyalahkan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun beda aliran bahkan beda agama, antar para penganut yang memiliki kegiatan sama dengan disertai rumus kata-kata beda tetapi punya esensi sama, amat tidak benar kalau terjadi persaingan bahkan permusuhan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan selalu terbuka untuk menjalani dialog persaudaraan dengan yang beda-beda keyakinan.

Ah, bagaimanapun orang harus meyakini bahwa yang paling benar adalah agamanya.

Monday, February 21, 2022

Santo Paus Petrus Rasul

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 01 September 2013 Diperbaharui: 13 Oktober 2019 Hits: 27512

  • Perayaan
    29 Juni
    22 Februari (Pesta Tahta St.Petrus)
  •  
  • Lahir
    Hidup abad pertama
  •  
  • Kota asal
    Galilea - Israel
  •  
  • Wilayah karya
    Yerusalem, Asia Kecil, Roma
  •  
  • Wafat
  •  
  • Sekitar Tahun 67 - Martir. Disalibkan secara terbalik, Kepala dibawah dan kaki diatas
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Petrus adalah pemimpin para rasul dan Paus kita yang pertama. Nama asli rasul besar ini adalah Simon, tetapi Yesus mengubahnya menjadi Petrus, yang artinya batu karang, yang mengisyaratkan bahwa Yesus meletakkan landasan gereja-Nya di atas Petrus. “Engkaulah Petrus,” kata Yesus, “Dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku.” 

Petrus adalah seorang sederhana yang giat bekerja. Ia murah hati, jujur, polos seperti anak kecil dan amat dekat dengan Yesus.   Namun, Petrus juga seorang yang penakut. Beberapa kali Injil mencatat sifat Petrus yang satu ini. Ketika melihat Yesus berjalan diatas air Petrus dengan penuh iman berseru :

..... "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air. Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. --Mat 14:28

Namun ketika merasakan dinginnya tiupan angin yang menerpa wajahnya, dan melihat gelombang di sekelilingnya; Petrus mulai takut.  Imannya yang tadi bernyala-nyala seketika padam.

...... Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!"  --Mat 14:30

Dan atas sikap penakut dan kurang percayanya itu Petrus mendapat sebuah teguran dari Yesus.

..... "Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" --Mat 14:31

Ketika Yesus ditangkap, sekali lagi Petrus ketakutan. Saat itulah ia berbuat dosa dengan menyangkal Kristus sebanyak tiga kali. Petrus kemudian menyesali perbuatannya dengan sepenuh hati. Ia menangisi penyangkalannya sepanjang hidupnya. Yesus mengampuni Petrus.

Sesudah kebangkitan-Nya, Yesus bertanya tiga kali kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Sesungguhnya, Yesus memang tahu! Petrus benar. Dengan lembut Yesus berkata, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Yesus mengatakan kepada Petrus untuk mengurus Gereja-Nya, sebab Ia akan naik ke surga. Yesus menetapkan Petrus sebagai pemimpin para pengikut-Nya.

Pada hari Pentakosta Petrus dan para rasul lainnya menjadi penuh dengan kuasa Roh Kudus. Mereka berkata-kata dalam bahasa Roh sehingga membingungkan orang-orang yang melihat mereka.  Maka bangkitlah Petrus dan menyampaikan kotbahnya yang pertama setelah kebangkitan Yesus. Para pendengarnya begitu terkesima dengan kata-kata nelayan dari Galilea  ini; yang penuh dengan hikmat dan kuasa. Dalam hari itu juga mereka memberikan diri untuk dibabtis. Jumlah orang yang dibabtis pada hari itu sungguh luar biasa; Tiga ribu orang. (Kis 2 : 14 - 41)

Di kemudian hari Petrus pergi mewartakan kabar gembira hingga ke kota Roma, kota terbesar dan juga ibukota dari Kerajaan Romawi. Petrus tinggal di sana dan mempertobatkan banyak orang. Ketika penganiayaan yang kejam terhadap orang-orang Kristen dimulai, umat memohon pada Petrus untuk meninggalkan Roma dan menyelamatkan diri. Dan sekali lagi Petrus ketakutan.

Menurut tradisi, ia memang sedang dalam perjalanan meninggalkan kota Roma ketika ia berjumpa dengan Yesus di tengah jalan.  Petrus bertanya kepada-Nya, "Domine, Quo vadis..? (Tuhan, hendak ke manakah Engkau pergi?)” Yesus menatapnya dan menjawab, “Aku hendak ke Roma untuk disalibkan lagi..”   Dan Petrus yang malang seketika jatuh tersungkur di kaki Yesus dan menangis tersedu-sedu.  Sama seperti saat ia menangisi penyangkalannya di Yerusalem puluhan tahun yang lalu, Petrus kini kembali harus menyesali rasa takutnya. Dengan berderai airmata ia berbalik dan kembali ke kota Roma.

Kembali ke Roma, Paus kita yang pertama ini segera ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.  Karena ia seorang Yahudi dan bukan warga negara Romawi, sama seperti Yesus, ia dapat disalibkan. Petrus kini sudah menguasai rasa takutnya. Kali ini Ia tidak lagi menyangkal Kristus. Ia tidak lagi melarikan diri dan siap untuk wafat sebagai saksi Kristus.  Petrus minta agar ia disalibkan dengan kepalanya di bawah, sebab ia merasa tidak layak menderita seperti Yesus. Para prajurit Romawi tidak merasa aneh akan permintaannya, sebab para budak disalibkan dengan cara demikian.

St. Petrus wafat sebagai martir di Bukit Vatikan sekitar tahun 67. Pada abad keempat, Kaisar Konstantinus membangun sebuah gereja besar di atas tempat sakral tersebut. Penemuan-penemuan kepurbakalaan baru-baru ini menegaskan kisah sejarah tersebut.

Santa Theodosia dari Tirus

diambil dari katakombe.org/para-kudus  Diterbitkan:  11 April 2015  Diperbaharui:  11 April 2015  Hits:  12199 Perayaan 02 April   Lahir Sek...