Tuesday, December 3, 2024

Lamunan Pekan Adven I

Rabu, 4 Desember 2024

Matius 15:29-37

29 Setelah meninggalkan daerah itu, Yesus menyusur pantai danau Galilea dan naik ke atas bukit lalu duduk di situ. 30 Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang timpang, orang buta, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. 31 Maka takjublah orang banyak itu melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel.

32 Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan." 33 Kata murid-murid-Nya kepada-Nya: "Bagaimana di tempat sunyi ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?" 34 Kata Yesus kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" "Tujuh," jawab mereka, "dan ada lagi beberapa ikan kecil." 35 Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. 36 Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya pula kepada orang banyak. 37 Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, tujuh bakul penuh.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, perkembangan hidup beragama kerap dijadikan tanda bersemangatnya hidup beriman. Orang makin memperhatikan hal-hal keagamaan.
  • Tampaknya, umat dipandang sungguh beriman karena amat bersemangat menjalani doa dan ibadat serta acara-acara keagamaan lain. Umat juga giat membangun dan membaharui tempat-tempat ibadat.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sekalipun kegiatan doa dan ibadat amat semarak sehingga memberi kesan besarnya semangat iman, kesejatian kehidupan beriman justru tampak terutama makin diperhatikannya kaum papa dan menderita. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar bahwa kesungguhan penghayatan iman akan mengalirkan sikap dan perbuatan yang mengutamakan kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel.  

Ah, kalau iman sungguh mewarnai kehidupan masyarakat, tempat-tempat ibadat pasti makin banyak dibangun dengan mudah.

Monday, December 2, 2024

Rapat UNIO dan Rapat Sekretaris Paroki

Tak sedikit pembaca Blog Domus https://domuspacispetrus.blogspot.com tahu bahwa banyak rombongan tamu di Domus Pacis Santo Petrus. Para pembaca tahu bahwa Domus Pacis Petrus adalah rumah untuk para rama sepuh. Para rama sepuh adalah sosok-sosok imam yang sudah tidak berkarya untuk dan bersama umat. Mereka berada di rumah tua di Kompleks Seminari Tinggi yang jauh dari persekutuan umat, dari Paroki, dan dari ketetanggaan masyarakat. Para rama sepuh yang tidak tinggal di Domus tampaknya memandang para rama sepuh Domus tercerabut dari umat. Apalagi tak ada satupun dari rama sepuh Domus yang masih bisa pergi sendiri tanpa bantuan bantuan mobil termasuk sopir pengantar. Kondisi fisik  para rama sepuh juga membuat tak memiliki niat untuk berlibur di keluarga. Tetapi, puji Tuhan, penyelenggaraan ilahi menghadirkan tekhnologi digital sehingga hanya dengan jari-jari ber-HP dan ber-laptop Domus bisa tampil di hadapan umat lintas daerah Gerejawi sehingga tak sedikit umat mengenalnya. Hal ini tentu ikut menyentuh banyak umat baik individual maupun rombongan mengunjungi para rama sepuh. Kunjungan mereka tentu menjadi warta lisan offline bagi umat Katolik di persekutuan masing-masing. Maka jadilah Domus Pacis sebagai salah satu Komunitas dalam persekutuan berbagai paguyuban umat Katolik.

Domus Pacis Santo Petrus dipimpin oleh seorang direktur dengan SK Uskup Agung Semarang. Direktur Domus Pacis adalah Rm. Florentius Hartanta, seorang imam muda usia hampir 44 tahun. Beliau adalah Direktur purna waktu bagi Domus Pacis. Tetapi Rm. Hartanta juga terlibat aktif dalam kegiatan pastoral Kevikepan Jogja Barat. Beliau juga menjadi bagian dari kepengurusan UNIO KAS, Persaudaraan Para Imam Praja Keuskupan Agung Semarang. Layaklah kalau tak sedikit aktivis awam masuk dalam jaringan pelayanan pastoral Rm. Hartanta. Tak sedikit para rama praja yang juga menjadi teman pelayanan pastoral dan bahkan sahabat pribadi. Semua ini ternyata membuat Domus Pacis tak hanya menjadi tempat tinggal para rama sepuh termasuk pergaulan dan kegiatan kasepuhan. Domus Pacis juga menjadi salah satu tempat yang bisa menghadirkan ruang bagi berjumpanya para aktivis Gereja dan juga para rama rekan kerja Rm. Hartanta. Apalagi Domus Pacis memiliki jumlah karyawan memadahi sehingga Rm. Hartanta dapat juga memanfaatkan untuk perjumpaan karya pastoral misalnya dalam penyediaan konsumsi. Bahkan pertemuan pastoral bisa lebih dari sekali dalam sehari. Yang terakhir terjadi pada hari Kamis 28 November 2024. Pada pagi hari hingga siang hampir jam 13.30 ada rapat Pengurus UNIO KAS. Pertemuan terjadi di lantai 2 gedung Domus. Sedang pada sore hari ada pertemuan para sekretaris Paroki-paroki Kevikepan Jogja Barat bertempat di ruang kantor Direktur. 

Santo Fransiskus Xaverius

diambil dari  https://www.mirifica.net/santo-fransiskus-xaverius-03-desember

Misionaris besar ini dilahirkan di Kastil Xaverius, Spanyol pada tahun 1506. Ia belajar di Universitas Paris ketika umurnya delapanbelas tahun. Di sanalah ia bertemu dengan St. Ignatius Loyola, yang pada waktu itu akan membentuk Serikat Yesus. St. Ignatius berusaha mengajak Fransiskus untuk bergabung. Pada mulanya, pemuda yang suka bersenang-senang ini tidak pernah memikirkannya. Kemudian, St. Ignatius mengulangi kata-kata Yesus dalam Kitab Suci kepadanya: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” Akhirnya, Fransiskus memahami dengan jelas bahwa panggilan hidupnya adalah bersama dengan para Yesuit.

Ketika Fransiskus berusia tigapuluh empat tahun, St. Ignatius mengutusnya sebagai misionaris ke Hindia Belanda. Raja Portugal hendak memberinya hadiah-hadiah dan juga seorang pelayan untuk menyertainya. Tetapi, Fransiskus dengan halus menolak pemberian raja dengan mengatakan: “Cara terbaik bagi seseorang untuk mendapatkan martabat sejati adalah dengan mencuci baju serta memasak makanannya sendiri.” Sepanjang karyanya yang gemilang di Goa, India, Indonesia, Jepang serta pulau-pulau lain di timur, St. Fransiskus mempertobatkan banyak orang. Sesungguhnya, ia membaptis begitu banyak orang hingga ia menjadi terlalu lemah bahkan untuk mengangkat tangannya sendiri. Ia mengumpulkan anak-anak kecil di sekitarnya serta mengajarkan iman Katolik kepada mereka. Kemudian ia menjadikan mereka misionaris-misionaris kecil. Ia mengajak mereka untuk menyebarluaskan iman yang telah mereka peroleh. Tidak ada yang tidak dilakukan St. Fransiskus untuk membantu sesama. Suatu ketika, ia berhadapan dengan segerombolan perompak yang garang, ia sendirian dan tanpa senjata kecuali salibnya. Gerombolan perompak itu mundur kembali dan tidak jadi menyerang penduduk Kristennya. St. Fransiskus juga membawa kembali orang-orang Kristen yang hidup tidak baik untuk bertobat. Satu-satunya “alat”-nya adalah kelemahlembutan, keramahan serta doa-doanya.

Sepanjang perjalanan dan kerja kerasnya yang melelahkan, St. Fransiskus senantiasa dipenuhi oleh sukacita yang datang dari Tuhan. Ia mendambakan untuk dapat pergi ke Cina, ke daerah di mana tak seorang asing pun diijinkan masuk. Akhirnya, persiapan-persiapan dilakukan, tetapi misionaris besar kita jatuh sakit. Ia wafat, hampir-hampir tanpa ditemani siapa pun, pada tahun 1552 di sebuah pulau di pesisir Cina. Usianya baru empatpuluh enam tahun. Fransiskus Xaverius dinyatakan kudus oleh Paus Gregorius XV pada tahun 1622. Ia dikanonisasi bersama para kudus yang hebat lainnya dalam suatu upacara kanonisasi di Roma. Ignatius dari Loyola, Theresia dari Avila, Filipus Neri dan Isidorus si Petani, dikanonisasi pada hari yang sama.

Sumber: yesaya.indocell.net

Lamunan Pesta

Santo Fransiskus Xaverius, Imam dan Pelindung Misi

Selasa, 3 Desember 2024

Markus 16:15-20

15 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. 16 Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. 17 Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, 18 mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." 19 Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. 20 Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, pada zaman dulu yang menjadi misionaris adalah orang yang bersedia pergi ke luar negri untuk mewartakan Injil. Maka, dia akan belajar bahasa yang dipakai oleh orang-orang sasarannya.
  • Tampaknya, pada masa kini pewarta Injil adalah pembawa damai sejahtera bagi orang-orang yang dijumpainya. Itu berarti menjadi pembawa damai bagi orang serumah, sepekerjaan atau sependidikan, dan yang dijumpai dalam pergaulan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun biasa berbaikan dengan siapapun yang dijumpai, itu belum cukup dalam pewartaan Injil yang sejatinya mencakup semua makhluk ciptaan Tuhan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar bahwa pewartaan Injil adalah perjuangan ikut menghadirkan damai sejahtera bagi segala ciptaan dari bumi, tumbuhan, hewan, dan manusia. 

Ah, pewartaan Injil itu jelas untuk menambah anggota Gereja dengan baptisan baru.

Sunday, December 1, 2024

Rm. Hartanta Mengursuskan Pramurukti Tenaga Domus


Mas Enggar adalah salah satu karyawan Domus Pacis Santo Petrus. Dulu ketika mendaftar kerja di Domus, Rm. Hartanta juga meminta Rm. Bambang untuk mewawancarai. Dia bisa melewati bulan-bulan percobaan sebelum resmi menandatangani kontrak kerja menjadi karyawan honorer Domus Pacis Santo Petrus. Dalam perjalanan menjadi karyawan Domus, Mas Enggar sebagaimana para karyawan lain juga diikutkan menjalani kursus dan pelatihan menjadi pramurukti. Kursus dan pelatihan terjadi di Rumah Sakit Panti Rini, Kalasan Yogyakarta. Tampaknya, Mas Enggar menanggapi itu sebagai kesempatan beraura iman. Ketika akan memulai menjalani kursus dan pelatihan, Mas Enggar datang di kamar Rm. Bambang. Dia sujud di depan kursi roda Rm. Bambang minta doa dan berkat. Ternyata dia berhasil menyelesaikan kursus dan pelatihan. Pada Senin 25 November 2024 Mas Enggar termasuk yang diwisuda setelah lulus dalam kursus dan pelatihan pramurukti di RS Panti Rini. Sepulang dari wisuda, Mas Enggar menunjukkan sertifikat yang diperoleh kepada Rm. Bambang.

Santa Bibiana, Perawan dan Martir

 diambil dari https://www.imankatolik.or.id/kalender/2Des.html

Bibiana berasal dari sebuah keluarga Kristen yang seluruh anggotanya mati sebagai martir. Ayahnya, Flavianus, yang berpangkat Prefek kota Roma, dipenjarakan oleh Kaisar Yulianus dan menemui ajalnya di sana pada tahun 360 karena berbagai penderitaan. Ibunya, Daprosa, mula-mula ditahan di rumah bersama kedua anaknya: Bibiana dan Demetria. Setelah beberapa lama ia pun mati dipenggal kepalanya. Tinggallah Bibiana bersama adiknya, Demetria. Kedua gadis tak berdosa ini dipenjarakan dalam sebuah sel yang sempit, gelap lagi kotor, dan tidak diberi makanan sedikit pun. Dengan penyiksaan itu diharapkan mereka akhirnya menyangkal imannya.

Namun perhitungan penguasa itu meleset. Kedua kakak-beradik itu tetap teguh dan berani mempertahankan imannya. Oleh karena itu mereka dihadapkan sekali lagi ke depan pengadilan. Berbagai ancaman yang sangat mengerikan ditimpakan kepada mereka, namun semuanya itu sia-sia belaka di hadapan keteguhan hati kedua gadis bersaudara ini. Mereka dibawa kembali ke penjara. Tak lama kemudian Demetria meninggal dunia di dalam sel yang mengerikan itu. Sekarang tinggallah Bibiana seorang diri. Ia diserahkan kepada seorang penjahat wanita yang ditugaskan untuk merobah sikap dan pikiran Bibiana. Namun segala daya-upaya mulai dari bujuk-rayu yang lembut manis hingga penganiayaan yang kejam-bengis tidak berhasil mematahkan semangat iman Bibiana. Akhirnya ia disesah sampai mati pada tahun 363.

Lamunan Pekan Adven I

Senin, 2 Desember 2024

Matius 8:5-11

5 Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: 6 "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita." 7 Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang menyembuhkannya." 8 Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. 9 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." 10 Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel. 11 Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, ada agama-agama dan kepercayaan-kepercayaan tertentu berasal dari masyarakat dan daerah tertentu. Orang-orang asal agama atau kepercayaan tertentu akan merasa lebih benar dibandingkan dengan daerah lain apalagi dengan agama atau kepercayaan lain.
  • Tampaknya, agama dan kepercayaan sering dikaitkan dengan ciri-ciri dasar. Bahasa dan cara berpakaian sering masuk sebagai ciri dasar.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun banyak hal daerah asal agama atau percayaan sering dianggap pegangan kekudusan, kekudusan sejati adalah sikap batin yang melandasi agama dan kepercayaan bersangkutan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar bahwa sekalipun datang dari kebangsaan dan daerah serta negara beda, asal amat teguh berpegang pada landasan rohani agama atau kepercayaan, orang dapat jauh lebih mendalam pengahayatannya dibadingkan dengan orang dan daerah asal agama atau kepercayaan itu.

Ah, orang Kristiani asal Yerusalem pasti lebih ikut Tuhan Yesus dibandingkan yang berasal dari negara lain.

Santa Theodosia dari Tirus

diambil dari katakombe.org/para-kudus  Diterbitkan:  11 April 2015  Diperbaharui:  11 April 2015  Hits:  12199 Perayaan 02 April   Lahir Sek...