Sunday, January 11, 2026

Para Dokter Datang Bukan Urusan Penyakit

Pada Sabtu 10 Januari 2025 sekitar jam 14.00 ada seorang ibu datang di Domus Pacis Santo Petrus untuk menjumpai Rm. Bambang. Ibu itu datang bersama seorang anaknya yang berusia kelas 5 SD. Ternyata beliau adalah Ibu Yurike seorang dokter yang menjadi dosen kedokteran Universitas Atmajaya Yogyakarta. Ternyata beliau datang untuk membicarakan kunjungan KMKI (Kelompok Medis Katolik Indonesia) DIY di Domus Pacis pada Minggu 11 Januari 2026. Karena agak heran mengapa yang dicari dia, Rm. Bambang bertanya "Mengapa yang dicari saya?" Ternyata ibu dokter itu berkata "Yang meminta Rm. Andika untuk menemui Rm. Bambang". Sebenarnya kelompok dokter ini akan datang bersama Rm. Erwin dari Seminari Tinggi. Rm. Andika pernah memberikan informasi bahwa mereka akan datang untuk Misa dan kemudian omong-omong dengan para rama sepuh. Ternyata masih ada ternyata lain, yaitu ternyata acaranya akan Misa dulu baru jumpa omong-omong dengan para rama sepuh atau masih bisa diubah sebaliknya. Ternyata itu akan ditentukan ketika kelompok sudah datang pada Minggu 11 Januari 2026 sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Rm. Erwin.


Minggu 11 Januari 2026 memang menanjubkan bagi Domus Pacis. Di pagi hari sebenarnya hujan turun amat deras. Tetapi sebelum jam selewat jam 08.30 sudah ada beberapa dokter masuk aula Domus. Kemudian pelan-pelan hingga hampir jam 09.10 beberapa kursi yang disediakan terduduki. Duapuluhan orang termasuk Rm. Erwin dan dokter Caraka, ketua KMKI DIY, sudah siaga. Semua yang datang langsung menikmati teh dan snak yang disediakan oleh Domus. Pertemuan dimulai. Para dokter dan keluarga mengenalkan diri satu per satu. Pak dokter Caraka memberikan sambutan. MC dipegang oleh Rm. Erwin. Para tamupun bertambah dan bertambah hingga memenuhi kursi yang disediakan. Rm. Bambang yang mengenalkan para rama sepuh dengan suasana kelakar meneruskan membuka pertanyaan-pertanyaan dari para dokter terarah kepada para rama. Ternyata tanyajawab berlangsung amat menggairahkan penuh gelak tawa tetapi berisi pemahaman nuansa isi kehidupan para rama sepuh. Pada jam 11.00 ada istirahat menikmati bakso sambil terus terjadi oamong-omong antar tamu yang berkelompok-kelompok dengan beberapa rama tertentu perorangan. Sementara itu tak sedikit tamu memilih-milih kain batik yang disajikan oleh Bu Rini dibantu 2 orang karyawan. Menjelang jam 12.00 ada Misa untuk para tamu dipimpin oleh Rm. Erwin di Kapel Domus Pacis. Sehabis Misa makan siang sudah menanti dan semua menikmati dengan kegembiraan. Ketika acara selesai, ternyata poengurus masih tinggal dan mengadakan rapat di ruang tamu Domus. Rapat ini selesai ketika jarum jam hampir menunjuk angka 15.30.

Santa Tatiana

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 12 Januari 2014 Diperbaharui: 15 Januari 2020 Hits: 22825

  • Perayaan
    12 Januari
    25 Januari (Pada beberapa gereja)
  •  
  • Lahir
    Hidup abad ke-3
  •  
  • Kota asal
    Roma
  •  
  • Wafat
  •  
  • Martir | Dipenggal pada tanggal 12 Januari 226 di Roma, Italia
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santa Tatiana hidup pada abad ke-3 di kota Roma. Ia adalah seorang diakoness Gereja yang menjadi martir pada masa pemerintahan Kaisar Alexander Severus.

Menurut legenda, Tatiana adalah putri dari seorang konsul Romawi yang secara diam-diam menerima Yesus sebagai Juru Selamatnya dan memberikan dirinya untuk dibabtis menjadi seorang Kristen. Ia kemudian hidup sebagai seorang Kristen yang saleh dan membesarkan putrinya Tatiana dalam iman dan kasih Kristiani. Karena kecakapannya; Tatiana kemudian diangkat oleh jemaat menjadi diakon gereja.  

Pada saat penganiayaan makin menghebat, diaconess Tatiana ikut tertangkap.  Ia kemudian dibawa ke sebuah kuil pagan dan dipaksa untuk mempersembahkan korban bakaran untuk dewa pagan Apollo. Dengan tegas Tatiana menolak. Di depan altar pagan tersebut ia malah menutup matanya dan berdoa kepada Yesus Kristus untuk membantunya. Legenda mengatakan bahwa sesaat setelah ia berdoa sebuah gempa bumi mengguncang kuil Apollo, dan patung dewa Romawi itu pecah berantakan. Bangsa Romawi tidak melihat hal ini sebagai sebuah keajaiban; mereka  malah menjadi sangat marah dan penuh dendam kepada diaconess Kristen Tatiana.  Tatiana kemudian dibawa ke penjara dimana ia kemudian disiksa dengan sangat mengerikan.

Santa Tatiana dipukuli, dan diiris-iris dengan pisau cukur.  Para algojo mencungkil kedua bola matanya, dan terus menyiksa wanita belia ini dengan siksaan-siksaan yang keji.  Dalam deritanya santa Tatiana berdoa, meminta Tuhan  untuk membuka mata para penyiksanya. Pada saat itu mereka melihat empat Malaikat berada disekitar Tatiana. Delapan orang algojo yang menyiksa Tatiana kemudian berlutut di depannya dan memintanya untuk mengampuni dosa mereka.  Setelah melihat semua itu, mereka kemudian menjadi percaya di dalam Kristus.

Pihak berwenang Romawi menjadi marah, dan hari berikutnya delapan orang algojo itu disiksa dan dibunuh. Lalu mereka melemparkan Tatiana ke kandang singa. Tapi, bukannya merobek Tatiana, binatang buas itu malah merangkak turun ke kakinya, dan berbaring di sana. Setelah beberapa kali gagal untuk membunuh Santa Tatiana, pada tanggal 25 Januari (12 Januari dalam kalender Julian) tahun 226  Santa Tatiana menerima mahkota kemartirannya dengan cara dipenggal.

Santa Tatiana telah dihormati sebagai orang kudus abad ke-3; dan dirayakan pestanya pada setiap tanggal 12 Januari (25 Januari pada beberapa gereja). Keteladanan Tatiana telah membawa banyak orang untuk menerima iman Kristiani dan meninggalkan kekafiran. 

Santa Tatiana adalah pelindung para pelajar. Di Belarusia, Rusia, dan Ukraina, hari perayaan Santa Tatiana dikenal dengan nama “Tatiana Day”, yang  juga dikenal sebagai "Hari Pelajar", dan merupakan hari libur nasional.

Setiap Martir Adalah Persembahan Bagi Gereja

Lamunan Pekan Biasa I

Senin, 12 Januari 2025

Markus 1:14-20

14 Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, 15 kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!"

16 Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. 17 Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." 18 Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. 19 Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. 20 Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, orang bisa bangga kalau masuk dalam golongan kepemimpinan. Dalam lembaga itu bisa berarti jajaran kepengurusan atau bahkan bagian jajaran puncak pemimpinan.
  • Tampaknya, dengan masuk kaum elit seperti itu orang dapat merasakan kekuasaan. Orang ikut punya kewenangan memerintah dan menentukan kehidupan banyak orang.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun lapisan kaum elit kepengurusan atau kepemimpinan bisa membuat keputusan yang mengikat banyak orang, begitu masuk golongan elit sejatinya orang terjerat oleh kewajiban bertindak demi kebaikan umum. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar bahwa makin tinggi kedudukannya makin besarlah tuntutannya untuk berbuat bagi banyak orang lain.

Ah, bagaimanapun juga menjadi golongan elit itu menyenangkan karena dalam banyak hal akan terlayani.

Saturday, January 10, 2026

Bukan Bisnis Sejati?

Sebetulnya secara lahiriah yang terjadi berkaitan dengan KAIN BATIK yang dijual di Domus Pacis Santo Petrus. Tetapi yang terjadi sejauh dirasakan oleh Rm. Bambang selalu dilandasi dan diselubungi oleh hati peduli pada para rama sepuh. Memang, umat yang membeli mengatakan batik Domus termasuk bagus dan tidak mahal. Tetapi pada umumnya mereka tahu bahwa itu adalah salah satu upaya untuk mendapatkan dana sebagai ambilbagian pembeayaan hajatan di Domus Pacis. Segala hajatan Domus selalu bertujuan untuk mengupayakan agar para rama sepuh tidak merasa tercerabut dari umat. Tentu saja penghadiran umat yang bagi Domus cukup banyak selalu disertai makan bersama. Padahal Domus tidak seperti Paroki yang ada kolekte ketika Misa dan persembahan rutin dari umat. 


Rm. Bambang yakin sekali bahwa para pembeli batik pada umumnya sungguh demi para rama sepuh. Pada saat ini tampaknya makin banyak umat mendengar pembelian batik sebagai tanda dan sarana menungkapkan kepedulian kasih kepada para rama sepuh. Tentu saja Bu Titik dan Bu Rini, para relawan Domus, biasa cerita sana-sini tentang batik Domus. Tetapi rombongan-rombongan umat yang pernah berkunjung ke Domus ternyata juga meruapakan pewarta-pewarta kehidupan para rama sepuh di Domus Pacis Santo Petrus. Itulah sebabnya kini kerap ada kelompok-kelompok umat yang memesan seragam dengan jumlah yang bagi Domus cukup banyak. Tetapi tak sedikit warga umat datang ke Domus khusus berjumpa dengan Rm. Bambang untuk beli batik. Sebagai contoh bisa disajikan yang terjadi pada Jumat 9 Januari 2026 :

  • Bu Titik, relawan Domus yang pagi itu mengantar sumbangan snak, datang bersama Bu Krisanti warga umat Paroki Pringwulung. Kebetulan Rm. Bambang memang sudah siaga menunggu warga yang akan datang hari itu untuk memilih-milih kain batik. Rm. Bambang pertama-tama mengira yang membuat janjian itu adalah Bu Krisanti karena ketika datang Bu Titik bilang "Iki Bu Santi arep milih batik nggo sragam petugas tatalaksana Paskah" (Bu Santi akan memilih batik untuk seragam petugas tatalaksana Paskah 2026). Kemudian Bu Titik mengeluarkan beberapa potong dan Bu Santi memilih-milih sambil mengirimkan gambar-gambar ke teman-temannya di Lingkungannya.
  • Bu Giacinta bersama 3 orang temannya masuk menyusul bergabung. Ternyata Bu Gialah yang mengirim WA ke Rm. Bambang pada Kamis 8 Januari 2026 jam 16.10 "Sugeng sonten mo. Kalau besok jumat kami mau ke Domus melihat batik bisa? Jam brp ya". Dari perjanjian via WA beliau akan datang jam 08.00. Batik-batik di kamar Rm. Bambang langsung diambil dan mereka juga memilih-milih.

Ternyata sambil memilih-milih kain batik, mereka juga tanya ini itu sekitar acara para rama. Bahkan mereka berbicara dengan Bu Titik untuk ikut hadir dan menyumbang dalam salah satu even di Januari 2026. Dari omong-omong sungguh jelas bahwa pembelian batik sadar atau tidak sadar jadi tanda dan sarana kepedulian umat pada kehidupan para rama Domus.

Santo Theodosius

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 23 Juli 2013 Diperbaharui: 14 Januari 2020 Hits: 14528

  • Perayaan
    11 Januari
  •  
  • Lahir
    Tahun 423
  •  
  • Kota asal
    Asia Kecil (sekarang Turki)
  •  
  • Wilayah karya
    Yerusalem
  •  
  • Wafat
  •  
  • Tahun 529 di Cathismus; oleh sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santo Theodosius lahir dari keluarga Kristen yang saleh. Dari usia kanak-kanak ia sudah belajar agama dengan tekun. Pada masaa mudanya ia terinspirasi oleh kisah Abraham bapa kaum beriman, hingga iapun meninggalkan rumah untuk mengikuti panggilan Tuhan dan berangkat berziarah ke Yerusalem. Disana dia bertemu dengan para pertapa suci lainnya yang sama seperti dirinya; meninggalkan kehidupan duniawi dan mencari Tuhan dalam keheningan di padang gurun. Santo Simeon dari Antiokhia mengenali kesucian hatinya lalu mengundang Theodosius kepertapaannya untuk beberapa saat. Setelah itu Theodosius pergi ke Yerusalem di mana legenda mengatakan ia bertemu dan kemudian dibimbing oleh Santo Longginus the Centurian,  seorang suci yang saat itu sudah berusia hampir 500 tahun. 

Theodosius membangun sebuah biara besar di Cathismus, dekat Betlehem. Tak lama kemudian, biaranya telah dipenuhi dengan para biarawan dari Yunani, Armenia, Arabia, Persia dan negara-negara Slav. Pada akhirnya, wilayah itu berkembang menjadi sebuah “kota kecil”. Satu bangunan diperuntukkan orang-orang sakit, satu untuk orang-orang lanjut usia, dan satu untuk kaum miskin dan kaum tuna wisma.

Theodosius senantiasa murah hati. Ia memberi makan suatu antrian fakir miskin yang tanpa akhir. Terkadang tampaknya tak akan tersedia cukup makanan bagi para biarawan. Tetapi Theodosius menempatkan kepercayaan besar pada Tuhan. Ia tidak pernah membiarkan mereka yang datang pergi dengan tangan kosong, bahkan meski nyaris tak tersisa lagi makanan. Biara itu merupakan suatu tempat yang amat damai. Para biarawan hidup dalam keheningan dan doa. Semuanya berjalan begitu baik hingga Patriark Yerusalem menunjuk Theodosius sebagai pemimpin dari segenap biarawan di timur.

Santo Theodosius wafat pada tahun 529 dalam usia 106 tahun. Patriark Yerusalem dan banyak orang menghadiri pemakamannya. Theodosius dimakamkan di mana ia pertama-tama hidup sebagai seorang biarawan. Tempat itu disebut Gua Para Majus. Orang percaya bahwa Para Bijak tinggal di sana ketika mereka datang dalam perjalanan mencari Yesus.

Lamunan Pesta

Pembaptisan Tuhan

Minggu, 11 Januari 2026

Matius 3:13-17

13 Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. 14 Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: "Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?" 15 Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Dan Yohanespun menuruti-Nya. 16 Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, 17 lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, yang namanya tokoh akan memiliki pengaruh di hadapan banyak orang. Dia akan ditinggikan oleh massa.
  • Tampaknya, orang yang ditinggikan oleh massa dapat berbuat sesuai kehendaknya. Dia mudah membuat banyak orang melakukan kehendaknya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun banyak orang dan tokoh lain meninggikan dan mengakui kuasa besar tokoh tertentu, kebesaran sejati seorang tokoh justru mengalir dari semangat batin yang mengikuti kehendak Allah yang didengarnya dari dalam relung hati. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati seseorang akan menjalani hidup sebagai ungkapan dan wujud ketaatan pada kehendak Allah.

Ah, seorang tokoh bisa selalu hidup sesuai kehendak sendiri.

Friday, January 9, 2026

Sadar POV

Sebenarnya saya sering heran mengapa Tuhan Yesus kerap melarang orang mengomongkan yang disaksikan ketika Tuhan membuat mukjizat seperti menyembuhkan orang yang menderita penyakit atau yang kerasukan setan atau juga ketika membangkitkan seseorang yang sudah meninggal. Ambil saja kisah dalam Luk 8:49-56 :

“Ketika Yesus masih berbicara, datanglah seorang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu sudah mati, jangan lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru!" Tetapi Yesus mendengarnya dan berkata kepada Yairus: "Jangan takut, percaya saja, dan anakmu akan selamat." Setibanya di rumah Yairus, Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut masuk dengan Dia, kecuali Petrus, Yohanes dan Yakobus dan ayah anak itu serta ibunya. Semua orang menangis dan meratapi anak itu. Akan tetapi Yesus berkata: "Jangan menangis; ia tidak mati, tetapi tidur." Mereka menertawakan Dia, karena mereka tahu bahwa anak itu telah mati. Lalu Yesus memegang tangan anak itu dan berseru, kata-Nya: "Hai anak bangunlah!" Maka kembalilah roh anak itu dan seketika itu juga ia bangkit berdiri. Lalu Yesus menyuruh mereka memberi anak itu makan. Dan takjublah orang tua anak itu, tetapi “Yesus melarang mereka memberitahukan kepada siapapun juga apa yang terjadi itu.” 

Bagi yang melihat peristiwa pembangkitan hidup kembali anak kepala rumah ibadat yang bernama Yairus, pastilah itu adalah hal yang amat mentakjubkan di luar pemahaman banyak orang. Sebagai peristiwa amat sangat istimewa sekali pastilah itu bisa menjadi berita yang amat menghebohkan. Tetapi ketika Yairus takjub “Yesus melarang mereka memberitahukan kepada siapapun juga apa yang terjadi itu” (Luk 8:56). Dulu saya mengira larangan ini berkaitan dengan perutusan Tuhan Yesus berada di tengah dunia untuk mewartakan kasih penyelamatan ilahi. Kalau itu jadi omongan banyak orang, Yesus bisa hanya diterima sebagai semacam dukun yang amat sangat sakti. Pandangan seperti itu tentu akan menghambat orang percaya pada Tuhan Yesus sebagai hadirat Allah sebagai Penyelamat dunia.

Berguru Kepada Bunda Maria

Larangan mengomongkan karya mentakjubkan dari Tuhan jelas bukan menjadi keharusan mendiamkan sepanjang segala abad. Nyatanya, kita masa kini bisa ikut tahu karena masuk dalam tulisan buku Injil. Karena tulisan Perjanjian Baru terjadi setelah para murid Tuhan mewartakan iman secara lisan paling tidak sekitar 10 tahun sesudah Tuhan Yesus wafat di kayu salib, maka peristiwa anak Yairus dan peristiwa mukjizat lainnya sudah jadi omongan. Katanya, penulis pertama adalah Santo Paulus yang menulis Surat Pertama kepada Umat di Tesalonika.

Entah bagaimana, karena realita itu saya teringat akan sikap Bunda Maria ketika mengalami 2 macam peristiwa yang mentakjubkan baik. Yang pertama adalah yang diceritakan oleh para gembala di hadapan Bayi Yesus yang terbaring di palungan (Luk 2:8-20). Yang kedua adalah yang dilihat sendiri oleh Bunda Maria ketika Yesus remaja tertinggal di Kenisah Yerusalem (Luk 2:41-52). Bagi saya yang menarik adalah tanggapan Bunda Maria yang “menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (Luk 2:19 bandingkan ayat 51). Bagi Bunda Maria peristiwa itu tentu menjadi hal mentakjubkan yang terjadi dalam keluarganya. Kalau ini langsung diceritakan ke para tetangga, pastilah keluarga Bunda Maria akan makin mentakjubkan bagi banyak orang. Tetapi Bunda Maria pertama-tama diam menyimpan dalam hati. Itu menjadi proses batin dalam relung hati. Yang disimpan dalam hati menjadi bahan permenungan. Sadar atau tidak sadar, apapun kalau menjadi dinamika relung hati, bagi saya itu berarti menjadi dialog dengan Roh Allah. Bukankah setiap orang adalah bait Allah (lihat 1Kor 6:19). Semua ini bagi saya menjadi pemahaman hidup agar dalam omong atau menulis sebuah peristiwa bukan sekedar mengumbar kata-kata. Dengan proses diam menyimpan dalam hati dan merenungkan saya boleh mengalami kejadian sebagai perspektif iman. Dan kalau kemudian mengomongkan atau menulis, itu menjadi pewartaan iman.

Menyadari Pentingnya POV

Kebetulan saja saya tidak memiliki bakat besar sebagai penulis. Saya lebih lancar omong daripada menulis. Untuk menulis setengah halaman bisa membutuhkan waktu 30 menit bahkan lebih. Kebetulan saja saya tinggal di rumah para rama sepuh Domus Pacis Santo Petrus dan sekitar 90% berada dalam kamar sendiri. Maka, saya jauh lebih banyak berhadapan dengan tulisan baik yang saya baca maupun yang saya buat sendiri.

Berkaitan dengan diam menyimpan dalam relung hati, saya terikat kata-kata “Diam adalah emas”. Dengan diam, mau tidak mau orang tetap akan omong. Yang diomongkan adalah yang ada dalam pikiran dan atau dalam perasaan dan atau dalam kehendak yang bersangkutan. Kebetulan saja setiap hari saya memiliki keharusan hati untuk menuliskan renungan Injil harian dan peristiwa yang terjadi di Domus Pacis. Selain itu saya juga kerap menuliskan pengalaman batin saya sendiri berkaitan dengan kelansiaan. Terhadap kutipan Injil harian, peristiwa Domus, dan hal yang muncul berkaitan dengan kelansiaan, saya sering terbentur bagaimana saya harus menuliskannya. Bisa untuk jadi satu tulisan, terutama tentang peristiwa Domus dan hal kelansiaan, terjadi gelutan batin terpikir dan terasakan selama lebih dari sehari. Ternyata ketika jadi tulisan, satu tulisan bisa diwarnai oleh pikiran tertentu atau oleh perasaan tertentu atau oleh minat tertentu.

Sebenarnya semua penulisan itu sudah berjalan secara tidak sadar selama lebih dari 10 tahun. Barulah sesudah masuk hari-hari pertama tahun 2026 saya menyadari bahwa dalam tulisan selalu terjadi dengan sudut pikiran tertentu atau sudut perasaan tertentu atau sudut perasaan tertentu. Mungkinkah itu yang pada saat ini disebut Point Of View (POV) atau sudah pandang? Bagi saya sudut pandang seseorang bisa diwarnai oleh pikiran atau perasaan atau kehendak. Dari sini saya merasa diteguhkan oleh https://www.antaranews.com/berita/4261039 yang menjelaskan tentang POV. Di situ dijelaskan bahwa “POV adalah singkatan dari "point of view" yang berarti sudut pandang dan biasanya digunakan untuk menunjukkan situasi dari perspektif tertentu. ..... Istilah ini sering digunakan dalam narasi orang pertama, yang membantu pembuat konten membenamkan penonton dalam cerita atau pengalaman tertentu. ..... Istilah "POV" awalnya berasal dari dunia perfilman, di mana hal ini menggambarkan sudut pandang dari mana sebuah adegan ditampilkan.”

Domus Pacis, 7 Januari 2026

Para Dokter Datang Bukan Urusan Penyakit

Pada Sabtu 10 Januari 2025 sekitar jam 14.00 ada seorang ibu datang di Domus Pacis Santo Petrus untuk menjumpai Rm. Bambang. Ibu itu datang ...