Thursday, March 12, 2026

Lamunan Pekan Prapaskah III

Jumat, 13 Maret 2026

Markus 12:28b-34

28b Lalu seorang ahli Taurat datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?" 29 Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. 30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. 31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini." 32 Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. 33 Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan." 34 Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan r  sesuatu kepada Yesus.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, dalam hidup bersama selalu ada tata main. Itu adalah tata aturan yang makin luas cakupannya makin terinci tata aturannya dan di sebuah negara menjadi tata hukum.
  • Tampaknya, sekalipun di sebuah negara ada banyak sekali aneka tatanan, semua akan memiliki makna kebaikan kalau tak bertentangan dengan hukum utama. Dalam sebuah negara ada undang-undang dasar yang jadi hukum utama yang harus dipancarkan ke tata hukum perundangan lainnya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun sebuah undang-undang dijadikan pokok yang menjiwai semua tata hukum perundangan lainnya, itu tak akan menghadirkan damai sejahtera umum kalau perumusan dan pelaksanaannya tak melandaskan diri pada cahaya relung hati jalan kedekatan ilahi dan insani. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati apapun hukum dasarnya kalau jadi ungkapan dan wujud kemesraan hubungan dengan Tuhan sesama manusia, itu akan menghadirkan damai sejahtera kebaikan umum.

Ah, yang namanya hukum itu ya tertulis atau kebiasaan adat bertindak baku.

Wednesday, March 11, 2026

Kunjungan Rm. Kartasudarma

"Aku saiki wis ora isa lunga-lunga dhewe" (Sekarang aku sudah tak bisa pergi-pergi sendiri) kata Rm. Kartasudarma kepada Rm. Bambang. Keduanya berjumpa di kamar Rm. Bambang di Domus Pacis Santo Petrus. Rm. Karta datang dituntun oleh sopirnya. Beliau memang tidak tampak lincah seperti beberapa tahun lalu. Rm. Bambang yang duduk di kursi roda menanggapi "Aku ya wis ra isa nengendi-endi dhewe. Wis ora nyopir lan motoran. Mripatku wis ora tajam meneh nggo berkendaraan neng dalan gedhe" (Aku juga sudah tak bisa ke mana-mana sendiri. Aku sudah tak bisa bermobil dan bermotor sendiri. Penglihatanku sudah tidak tajam untuk berkendaraan di tengah lalu lintas). "Tahun rong ewu patlikur aku wis tau sroke. Aku wis tau lumpuh. Pas Misa neng susteran tujune nganggo kursi nggo lungguh. Bar misa arep ngadeg wis ora isa. Langsung digawa neng Elisabet" (Tahun 2024 aku pernah stroke. Aku pernah menderita lumpuh. Itu terjadi ketika memimpin Misa di susteran yang untungnya pakai kursi untuk duduk. Sesudah Misa aku akan berdiri ternyata tidak bisa. Langsung saja aku dibawa ke RS Elisabet di Semarang) Rm. Karta menambahkan ceritanya. 


Rm. Kartasudarma datang ke Rm. Bambang pada Rabu 11 Maret 2026 dalam rangka mengunjungi Rm. Heruyanta yang kini ada di Domus Pacis Santo Petrus karena menderita stroke. Rm. Karta bilang bahwa omongan dengan Rm. Heru hanya sebentar dan tak bisa menangkap dengan jelas karena pelo. Kemudian Rm. Heru tertidur. Rm. Heru, Rm. Karta, dan Rm. Bambang adalah sesama angkatan tahbisan. Ketiganya ditahbisan menjadi imam pada 22 Januari 1981 oleh almarhum Bapak Kardinal Darmajuwana di Seminari Tinggi Kentungan. Kalau Rm. Bambang sudah menjadi penghuni Domus Pacis sejak 1 Juli 2010, Rm. Karta dan Rm. Heru hingga kini masih terhitung memiliki dinas dengan SK Keuskupan. Rm. Heruyanta adalah pastor rekan di Paroki Salam dan Rm. Kartasudarma pastor rekan di Paroki Weleri. Bahwa Rm. Heru kini ada di Domus Pacis, statusnya adalah semacam titipan karena di Domus tenaga karyawannya selain untuk melayani para rama sepuh juga punya ketrampilan mengurus para rama yang mengalami derita fisik karena penyakit-penyakit tertentu.  

Santo Theofanus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 15 Maret 2016 Diperbaharui: 15 Maret 2016 Hits: 10643

  • Perayaan
    12 Maret (Gereja Roma)
    25 Maret (Gereja Orthodox)
  •  
  • Lahir
    Hidup pada akhir abad ke-7
  •  
  • Kota asal
    Konstantinopel
  •  
  • Wafat
  •  
  • Wafat dalam penderitaan saat dibuang di Pulau Samotrace Yunani pada tanggal 12 Maret 817
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santo Theofanus lahir sekitar tahun 758 di Konstantinopel (sekarang: Istambul, Turki) dalam keluarga bangsawan tinggi Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium). Ayahnya adalah pangeran Ishak, Gubernur wilayah Kepulauan Laut Hitam. Sedangkan ibunya diketahui bernama Theodora. Ayahnya meninggal ketika ia baru berusia tiga tahun, karena itu Kaisar Konstantinus V atau Konstantinus Copronymus (740-775) mengambil alih perwalian atas dirinya. Theofanus dibawa kembali ke Konstantinopel  dan dididik di sekolah khusus bagi para pangeran untuk menjadi pejabat di lingkungan istana.

Ketika berusia 12 tahun, Theofannus dipaksa menikah dengan puteri seorang bangsawan istana yang sangat berpengaruh. Mereka kemudian menikah, namun Theofanus yang bercita-cita menjadi seorang biarawan, berhasil meyakinkan isterinya untuk menjaga kemurniannya (White Marriage atau Marriage Blanc) dan tetap hidup sebagai perawan.

Setelah ayah mertuanya meninggal di tahun 799, Theofanus dan isterinya memutuskan untuk berpisah dan bersama-sama memasuki kehidupan religius. Bekas isterinya memilih menjadi biarawati di sebuah biara di sebuah pulau dekat Konstantinopel, sedangkan Theofanus masuk biara Polychronis di distrik Sigiane (sekarang Mysia - Turki). Di kemudian hari, Theofanus membangun sebuah biara di pulau Calonymus (sekarang Calomio) dan enam tahun kemudian ia mendirikan sebuah biara besar di Sigrino di mana ia kemudian terpilih menjadi Abbas (kepala biara) biara tersebut.

Theofanus menjadi seorang abbas yang sangat dihormati dan dicintai oleh para biarawannya. Walau berdarah bangsawan dan berasal dari istana, namun ia hidup bagai seorang pertapa sejati. Ia menjalani disiplin hidup membiara dengan ketat, rajin berdoa dan bermati-raga, serta menjalankan laku silih dengan sungguh-sungguh. Abbas Theofanus adalah teladan bagi semua anak-anaknya.

Pada tahun 787, abbas Theofanus diutus menghadiri Konsili Nicea II dan menjadi salah satu bapa gereja yang menanda-tangani keputusan konsili tersebut. Konsili Nicea II menghasilkan keputusan yang menegaskan pembenaran terhadap penghormatan melalui gambar-gambar Kudus. Hasil Konsili ini lalu ditentang oleh Kaisar Byzantium yang baru, Leo V (813-820). Konflik Iconoclasm pun pecah lagi dan kaisar Leo V berupaya melancarkan kampanye militer melawan para pendukung keputusan konsili Nicea II.

Kaisar memerintahkan untuk menjemput paksa abbas Theofanus dan dibawa ke Konstantinopel. Di istana, Leo V mencoba membujuk Theofanus untuk mengutuk hasil Konsili Nicea II yang telah ditanda-tanganinya. Theofanus menolak dan ia pun dilemparkan ke dalam penjara. Selama dua tahun Theofanus meringkuk dalam penjara bawah tanah yang pengap dan harus menjalani penderitaan hebat oleh perlakuan kejam dari para pengawal.

Pada tahun 817, Theofanus dibuang ke pulau pembuangan Samothrace. Tubuh Thefanus yang lunglai akibat penganiayaan dalam penjara, tidak sanggup lagi menghadapi alam pulau Samothrace yang keras. Ia hanya mampu bertahan hidup selama tujuh belas hari di pulau tersebut lalu tewas dengan mengenaskan.

Konflik Iconoclasm Jilid II yang dimulai oleh Kaisar Leo V, baru berakhir pada tahun 842 saat Maharani Theodora naik tahkta kekaisaran. Kaisar wanita ini berpendapat bahwa orang seharusnya bebas mempergunakan sarana patung, ikon dan gambar-gambar kudus apabila mereka menghendakinya. Ia lalu memulihkan penggunaan ikon dalam ibadah Gereja, memecat Patriark Yohanes VII dan menggantikannya dengan santo Methodius seorang pendukung hasil Konsili Nicea II.

Naiknya santo Methodius sebagai Patriark Konstantinopel menandai berakhirnya konflik ikonoklasme jilid II. Pada 11 Maret 843, satu minggu setelah menjadi patriark, Santo Methodius bersama dengan Maharani Theodora dan Pangeran Michael III berjalan dalam sebuah prosesi agung dari Gereja Blachernae ke Basillika Hagia Sophia. Di Basilika yang megah tersebut, mereka meresmikan pemulihkan penggunaan ikon-ikon dalam gereja. Peristiwa ini dianggap sebagai Restorasi Gereja Ortodoks, dan menjadi hari libur bagi Gereja Ortodoks Timur. Masih dirayakan sampai hari ini pada setiap tahun pada hari Minggu Pertama Puasa Agung, dan dikenal dengan sebutan hari "Kemenangan Ortodoks".

Lamunan Pekan Prapaskah III

Kamis, 12 Maret 2026

Lukas 11:14-23

14 Pada suatu kali Yesus mengusir dari seorang suatu setan yang membisukan. Ketika setan itu keluar, orang bisu itu dapat berkata-kata. Maka heranlah orang banyak. 15 Tetapi ada di antara mereka yang berkata: "Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan." 16 Ada pula yang meminta suatu tanda dari sorga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. 17 Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. 18 Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. 19 Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu. 20 Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. 21 Apabila seorang yang kuat dan yang lengkap bersenjata menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. 22 Tetapi jika seorang yang lebih kuat dari padanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata, yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. 23 Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan."

Butir-butir Permenungan

  • Katanya, kekompakan adalah kekuatan hidup bersama. Kekompakan menjadi dorongan kemampuan bekerjasama.
  • Katanya, kekompakan adalah kebaikan. Karena ada kekompakan dalam kebersamaan orang bisa saling membantu dan melindungi satu sama lain.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun kekompakan menjadi kekuatan kebersamaan dalam sebuah kelompok dan organisasi, kalau itu tidak terjadi berdasarkan kesamaan jiwa mesra dengan relung hati, kompaknya hanya akan mengacau dan merusak keterbukaan pada orang dan kelompok atau organisasi lain. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan relung hati orang sadar sekompak apapun sebuah kelompok atau organisasi kalau tak berdasar iman, itu hanya pengacau dan perusak kebersamaan umum.

Ah, kekompakan itu ya jelas selalu akan mengutamakan kelompok sendiri.

Tuesday, March 10, 2026

Ulang Tahun Rm. Saptaka

"Hic et nunc" adalah bahasa Latin yang berarti "Kini dan di sini". Sekarang adalah hari Rabu tanggal 11 Maret 2026. Di sini dalam berita ini berarti di Domus Pacis Santo Petrus Kentungan. Hari ini di Domus Pacis ada peristiwa istimewa yang menghadirkan menu makan siang khusus. Yang terlibat makan siang adalah para rama dan karyawan termasuk relawan Domus Pacis ditambah sejumlah keluarga Rm. Robertus Saptaka. Semua ini menjadi pertanda bahwa Domus Pacis merayakan Ulang Tahun Kelahiran Rm. Saptaka. Rm. Saptaka memang sudah masuk dalam jajaran para rama sepuh Komunitas Domus Pacis. Dari segi usia beliau memang terhitung muda ketiga dari Rm. Andika (hampir 48 tahun tetapi menjadi Direktur Domus) dan kemudian Rm. Djoko Setyo yang akan genap 63 tahun besok 27 Desember 2026. Hari ini Rm. Saptaka genap 63 tahun. Rm. Saptaka termasuk memiliki tubuh semampai dengan wajah mempesona. Sekilas beliau tampak lebih banyak diam namun mudah senyum dan memang memiliki kebiasaan hening diri paling kuat di antara para rama Domus. Tetapi kalau sudah berbicara, sekalipun tidak berapi-api, tampilan segarnya menghadirkan kata-kata yang mudah menimbulkan gelak tawa. Dalam penilaian Rm. Bambang, khotbah Rm. Sapta, ketika mendapatkan giliran memimpin Misa Komunitas, adalah yang paling menyegarkan. Untuk menyambut Ulang Tahun ke 63 keliahiran beliau, Rm. Bambang pada waktu makan pagi bersama menyampaikan kidungan berikut :

Santo Sophronius

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 13 Maret 2016 Diperbaharui: 13 Maret 2016 Hits: 12349

  • Perayaan
    11 Maret
  •  
  • Lahir
    Hidup pada abad ke-7
  •  
  • Kota asal
    Damsyik (sekarang Damaskus - Suriah)
  •  
  • Wafat
  •  
  • Sekitar tahun 638 atau tahun 639 (sumber bervariasi) - penyebab kematian tidak diketahui.
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santo Sophronius berasal dari kota Damsyik (sekarang Damaskus – Suriah). Awalnya ia adalah seorang guru dan ahli retorika. Kerinduannya untuk menjadi seorang pelayan Tuhan membuat Sophronius meninggalkan Damsyik dan mulai mengembara ke pertapaan-pertapaan dan biara-biara di sekitar Asia kecil. Ia berkelana sampai ke tanah Mesir, di mana ia tinggal selama beberapa tahun dan dibimbing oleh Patriark Alexandria, Santo Yohanes Penderma. Di sekitar tahun 580, Sophronius pindah ke Yerusalem dan masuk biara santo Theodosius di dekat kota Bethlehem.

Ketika muncul ajaran sesat Monotelitisme, Sophronius dengan gigih melawan ajaran sesat yang menyatakan bahwa Kristus hanya memiliki satu kodrat Ilahi, dan menolak kodrat manusia-NYA. Ia menulis banyak buku demi membendung pengaruh ajaran ini. Buku-bukunya kini telah hilang. Pada tahun 633 Sophronius berangkat ke ibukota Kekaisaran Romawi Timur Konstantinopel demi memperingatkan para pemimpin Gereja agar tidak terpengaruh oleh monotelitisme yang ternyata mendapat dukungan dari Kaisar Heraklius (Kaisar Byzantium 610 – 641).

Meskipun misinya ke Konstantinopel tidak membuahkan hasil, namun Sophronius terpilih menjadi Patriark Yerusalem pada tahun 634. Segera setelah penobatannya, Sophronius menuliskan sebuah surat kepada Paus Honorius I dan para patriark gereja di wilayah Timur. Dalam suratnya ia menegaskan pandangannya akan dua kodrat Yesus, kodrat manusia dan kodrat ilahi. Ia kembali menyatakan penolakkannya terhadap ajaran Monotelitisme, yang menurutnya adalah wujud lain dari ajaran sesat Monofisit. Surat ini sekarang telah hilang; begitu juga dengan florilegium (Anthologi) dari sekitar 600 teks yang dikumpulkan Sophronius dari para Patriark Timur yang mendukungnya. Dokumen ini juga hilang. (Perjuangan Sophronius baru membuahkan hasil pada tahun 680, kurang lebih 40 tahun setelah kematiannya, saat diselenggarakannya konsili Konstantinopel III. Hasil konsili ini menolak ajaran Monotelitisme dan menyatakannya sebagai ajaran sesat.)

Ketika Yerusalem ditaklukkan oleh Khalif Umar bin Khatab (637), Patriark Sophronius menemani Umar saat ia mengunjungi tempat-tempat suci di Yerusalem. Ia berhasil menyakinkan Umar untuk tidak menghancurkan situs-situs suci umat Kristen khususnya Gereja Makam Suci, dan dapat berlaku murah hati terhadap umat kristen.

Santo Sophronius tutup usia di sekitar tahun 638 atau tahun 639.

Lamunan Pekan Prapaskah III

Rabu, 11 Maret 2026

Matius 5:17-19

17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. 18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. 19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, dalam agama memang ada tradisi warisan pendiri dan atau jemaat awal. Itu bisa berupa ajaran, tatacara ritual, dan peraturan.
  • Tampaknya, orang dianggap beriman kalau setia pada warisan tradisi. Yang sungguh beriman akan menghafal rumusan-rumusan awal dan menjalani sepersis mungkin dengan yang dilakukan oleh pendiri dan atau jemaat awal.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun dengan mempertahankan rumus dan tata apapun dalam tradisi keagamaan bisa dipandang sebagai kesetiaan iman, tetapi kesejatian kesetiaan iman adalah mempertahankan nilai terdalam pesan iman dalam setiap rumus dan bentuk warisan tradisi agama untuk dihayati sesuai dengan kehidupan kongkret. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati dengan terang Kitab Suci dan warisan tradisi orang akan mengungkapkan dan mewujudkan sikap batin mengikuti Tuhan sesuai dengan perkembangan situasi hidup dan budaya setempat.


Ah, untuk beriman orang harus berupaya menjalani agama sepersis mungkin dengan pendiri dan atau jemaat awal.

Lamunan Pekan Prapaskah III

Jumat, 13 Maret 2026 Markus 12:28b-34 28b Lalu seorang ahli Taurat datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama...