Wednesday, January 14, 2026

Santo Maurus

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 15 Maret 2017 Diperbaharui: 16 Januari 2020 Hits: 10981

  • Perayaan
    15 Januari
  •  
  • Lahir
    Sekitar tahun 512
  •  
  • Kota asal
    Roma, Italia
  •  
  • Wilayah karya
    Perancis
  •  
  • Wafat
  •  
  • 15 januari 584; (mungkin) di biara Benediktin Glafeuil Perancis | Sebab alamiah
    Relikwi disemayamkan di Gereja St-Germain-des-Prés, Paris Perancis pada awal abad-18
    Pada tahun 1793 relikwinya dihancurkan dalam Revolusi Perancis
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santo Maurus OSB adalah murid Santo Benediktus Nursia; pendiri Ordo Benediktin. Ayahnya adalah seorang senator Romawi yang saleh bernama Equitius dan ibunya bernama Giulia. Pada usia dua belas tahun ia dihantar orang tuanya ke biara Benediktin di Subiaco Italia untuk belajar dibawah bimbingan santo Benediktus. Ditempat inilah ia bertemu dengan sahabatnya Santo Plasidus yang juga menjadi murid Benediktus.

Legenda populer tentang Santo Maurus dan Plasidus menuturkan;  suatu saat ketika sedang mengambil air di danau Subiaco, Plasidus jatuh dan tenggelam dalam danau. Santo Benediktus segera menyuruh Maurus untuk menyelamatkan Plasidus. Maurus heran, ketika menyelamatkan Plasidus, ia bisa berjalan di atas air danau tersebut.

Pada tahun 528 Maurus ditahbiskan menjadi seorang biarawan Benediktin oleh Santo Benediktus sendiri. Benediktus kemudian mengirim Maurus ke Perancis untuk mewartakan Injil dan membangun biara Benediktin disana. Meski banyak mendapat hambatan, Maurus akhirnya berhasil dalam karya perutusannya dan berhasil membangun sebuah biara di kota Glanfeuil Perancis pada tahun 543. Biara ini adalah biara Benediktin pertama di Perancis dan saat ini dikenal dengan nama : Abbaye Saint-Maur de Glanfeuil  atau biara Santo Maurus Glanfeuil.

Legenda santo Maurus juga menuturkan bahwa ia mampu menyembuhkan umat yang sakit dengan doa. Ada pula beberapa kisah (mitos) yang menyatakan bahwa ia pernah membangkitkan kembali orang mati. Pada saat Santo Benediktus tutup usia di biara Benediktin Monte Casino italia, Maurus yang berada di Perancis memperoleh sebuah vision. Dalam penglihatannya ia melihat Santo Benediktus sedang meniti jalan menuju surga.

Santo Maurus tutup usia pada tanggal 15 januari 584; kemungkinan besar di biara yang didirikannya di Glafeuil Perancis.

Lamunan Pekan Biasa I

Kamis, 15 Januari 2025

Markus 1:40-45

40 Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." 41 Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir." 42 Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. 43 Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: 44 "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka." 45 Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, orang memang akan bergembira kalau mengalami pertolongan dalam kesulitan. Apalagi kalau kesulitan itu amat berat dan tak dapat ditanggung sendiri.
  • Tampaknya, wajarlah kalau orang bisa menceritakan ke sana-sini jasa penolongnya. Itu menjadi tanda kekagumannya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun karena tindakan menolong orang lepas dari beban derita dapat membuat orang amat mengagumi, orang tak akan menikmati kekaguman dan ketertarikan banyak orang karena itu justru bisa membuat keliru hidup. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan hati-hati terhadap kekaguman dan sanjungan yang sejatinya mudah membuat orang sesat jiwani.

Ah, kalau terkenal akan kemampuannya, orang bisa meraup rejeki besar.

Tuesday, January 13, 2026

Rm. Harto Opname

Rm. Fransiscus de Sales Suharto Widodo, biasa dipanggil Rm. Harto, adalah salah satu rama yang menjadi warga Domus Pacis Santo Petrus. Beliau termasuk rama yang sudah masuk Domus Pacis sejak lama. Sebelum Rm. Bambang masuk rumah rtama sepuh di Domus Pacis Puren sejak 1 Juli 2010, Rm. Harto sudah berada di situ. Maka Rm. Harto termasuk para rama sepuh Domus Pacis Puren, Pringwulung, yang pada 1 Juni 2021 dipindahkan di Domus Pacis Santo Petrus, Kentungan.

Sejak di Domus Puren Rm. Harto sudah mengalami tremor dan beberapa penyakit. Beliau sudah bersahabat dengan kursi roda yang didorong oleh karyawan dalam bermobilisasi. Dalam perjalanan waktu Rm. Harto sudah harus berada dalam kamar dilayani dalam segalanya bahkan santapan harus menggunakan sonde. Beliau ikut kumpul bersama para rama lain hanya pada waktu Misa. Kalau tidak mendapatkan giliran memimpin Misa, Rm. Bambang biasa membantu Rm. Harto dalam penerimaan Komuni, yaitu menyuapkan Tubuh Kristus ke mulutnya. Tetapi pada hari Selasa 13 Januari 2026 terjadi hal lain. Ketika penerimaan Komuni berjalan, Rm. Bambang maju ke altar dan membakar Tubuh Kristus di nyala api lilin. Kemudian begitu kembali ke tempatnya, Rm. Bambang meminta Mas Hari, salah satu karyawan, untuk membawa keluar Rm. Harto dari Kapel. Ternyata Komuni yang disuapkan ke Rm. Harta tidak direspon dengan mengunyah dalam mulutnya. Mulut Rm. Harto hanya ternganga kecil tanpa respon. Ternyata beliau pingsan di kursinya. Ketika para rama lain sedang makan malam, Rm. Harto diantar ke Rumah Sakit Panti Rapih dengan mobil yang dikendarai oleh Mas Fallah, salah satu karyawan Domus, ditemani oleh satu karyawan lain. Pada pagi hari Rm. Bambang dapat penjelasan bahwa kini Rm. Harto opname di ruang Lukas 203.

Santo Sava

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 16 Maret 2017 Diperbaharui: 29 Oktober 2019 Hits: 12590

Pangeran Rastko Nemanjić adalah putera bungsu Raja Stefan I, pendiri dinasti Nemanjić dan peletak dasar negara Serbia. Ia lahir sekitar tahun 1169 atau tahun 1174, di Deževa (sekarang Novi Pazar, Raška District, Serbia). Ketika berusia 17 tahun, pangeran Rastko meninggalkan istana ayahnya untuk menjalani kehidupan membiara di sebuah biara di Gunung Athos, Yunani. Ia lalu ditahbiskan menjadi seorang biarawan dan menggunakan nama biara;  Sava atau Sabbas. Pada tahun 1196, ayahnya turun tahta dan menggabungkan diri dengannya di gunung Athos.

Tetapi beberapa waktu kemudian, Sava dipanggil kembali ke Serbia untuk menengahi persengketaan antara kakak-kakaknya, Stefan II dan Vulkan yang nyaris meletus menjadi perang saudara  yang dapat menghancurkan Kerajaan Serbia.  

Sava dikenang sebagai pelopor kebangkitan bangsa Serbia. Pada waktu itu, rakyat Serbia sangat tertinggal dalam hal pendidikan dan semangat penghayatan iman. Sava lalu mendirikan biara-biara di tempat yang mudah dicapai umat. Dengan cara ini, para rahib dapat dengan mudah mengunjungi umat, dan berkarya diantara mereka.  Pada tahun 1219, ia ditahbiskan menjadi Uskup Agung Serbia oleh Patriark Konstantinopel, Manuel II.  Sebagai uskup, Sava bekerja keras memperbaharui gereja dan mengembangkan iman umat. Ia juga banyak membantu kakaknya Raja Stefan II dalam berbagai urusan negara. Uskup Agung Sava adalah penyusun undang-undang dan kitab hukum Kerajaan serbia.

Pada tahun 1229 Sava berziarah ke tanah suci Yerusalem. Ia mengunjungi hampir semua situs-situs suci tempat Yesus pernah hidup dan berkarya di dunia ini. Patriark Yerusalem saat itu, Athanasius, bersama para pemimpin gereja dan para biarawan menyambut hangat kedatangan Uskup Agung Serbia yang karya dan kerja kerasnya telah bergaung ke seluruh negeri. Dalam perjalanan pulang, Sava mengunjungi biara Gunung Athos, Hilandar, kemudian melalui Thessalonika, ia kembali ke Serbia.

Uskup Agung Sava pensiun dan mengundurkan diri dari jabatannya pada tahun 1234. Ia kembali melakukan perjalanan ziarah ke Yerusalem. Kali ini ia berziarah sebagai seorang biarawan pertapa, bukan lagi sebagai seorang uskup agung. Dalam perjalanan kembali ke Serbia, Sava jatuh sakit dan meninggal dunia pada tanggal 27 Januari 1236 di Tarnovo, Bulgaria.  

Tanpa mempedulikan protes dari Kerajaan Serbia, Raja Bulgaria saat itu, Ivan Asen II, segera memakamkan Sava dalam Gereja 40 Martir Kudus di Bulgaria dengan sebuah upacara pemakaman kenegaraan. Keponakan Sava, Raja Vladislav dua kali mengirim delegasi ke ayah mertuanya Ivan Asen II, meminta agar jasad pamannya Sava dapat dipulangkan ke tanah airnya, namun Ivan menolak.  Vladislav dengan didampingi Uskup Agung Serbia kemudian datang secara pribadi ke Bulgaria dan akhirnya mendapatkan persetujuan Ivan. Raja Serbia bersama Uskup Agung Serbia kemudian memimpin langsung arak-arakan membawa Relikwi Santo Sava dari Bulgaria ke Serbia. Arsip kerajaan Serbia melukiskan perjalanan ini sebagai perjalanan iman dari Bulgaria ke Serbia.

"Raja dan Uskup Agung, bersama para uskup dan klerus, para bangsawan, rakyat miskin dan kaya, semua berjalan beriringan, membawa sang Santo dalam sukacita, dengan diiringi mazmur dan nyanyian"

Kepulangan Raja Vladislav bersama Relikwi santo Sava disambut penuh sukacita oleh rakyat Serbia. Dengan sebuah upacara kenegaraan, Relikwi bapa bangsa Serbia tersebut disemayamkan di biara Mileševa.

Pada abad 16 Kerajaan Serbia ditaklukkan oleh Ottoman Turki. Dalam masa penjajahan bangsa muslim Turki ini, Relikwi Santo Sava dibakar oleh seorang pemimpin militer bernama Koca Sinan Pasha, menyusul pemberontakan rakyat Serbia pada tahun 1594. Saat ini pemerintah Serbia telah membangun sebuah Katedral yang megah di situs tempat relikwi santo Sava dimusnahkan. Katedral yang bernama Gereja Katedral Santo Sava, adalah sebuah gereja bergaya Neo-Bizantium dan merupakan gereja terbesar di Eropa Selatan. Katedral Santo Sava juga adalah salah satu Gereja Ortodox terbesar di dunia.

Lamunan Pekan Biasa I

Rabu, 14 Januari 2025

Markus 1:29-39

29 Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. 30 Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. 31 Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. 32 Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. 33 Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. 34 Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

35 Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. 36 Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; 37 waktu menemukan Dia mereka berkata: "Semua orang mencari Engkau." 38 Jawab-Nya: "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang."  39 Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, orang bisa merasa sudah ber-Tuhan karena memeluk agama. Bahkan dia tidak malu menyatakannya di hadapan orang lain.
  • Tampaknya, orang sudah merasa selalu mendekat ke Tuhan karena menjalani doa dan ibadat. Kegiatan-kegiatan keagamaan lain pun diikuti.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun dengan menjalani wajib-wajib agama sudah bisa dianggap dekat Tuhan, orang baru sungguh dekat dan terbuka pada penyelenggaraan Tuhan kalau biasa meluangkan waktu untuk menyendiri berdialog batin dengan Tuhan dalam relung hati. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang akan mendasarkan segala penghayatan hidup termasuk hidup keagamaan pada kebiasaan menyempatkan diri sambung Tuhan secara batin.

Ah, asal rajin kumpul umat jelas dekat Tuhan.

Monday, January 12, 2026

Allah Luwes Membimbing Manusia

Kelompok Devosan Kerahiman Ilahi Paroki Kalasan meminta saya mendampingi rekoleksi pada hari Selasa 13 Januari 2026. Kelompok ini mengadakan rekoleksi dalam rangka ulang tahun yang ke 7. Tema yang dipilih adalah Semakin Mengasihi, Semakin Terlibat, Semakin Menjadi Berkat. Berhadapan dengan tema ini sesaat saya mendapatkan urutan perkembangan hidup rohani bahwa semakin orang menghayati kasih dia akan semakin mendalaman keterlibatan dalam kebersamaan iman, dan baru kemudian jadilah dia sebagai berkat bagi banyak orang. Entah bagaimana tiba-tiba saya membayangkan peristiwa yang terjadi pada beberapa warga di kalangan umat Katolik. Ada orang tidak Katolik ikut Misa dan lama-lama menjadi katekumen yang akhirnya dipermandikan jadi Katolik. Itu semua berawal karena pacarnya Katolik. Rasa cinta dan kasih ingin mempersunting orang Katolik membuat dia yang tak Katolik masuk dan terlibat dalam kehidupan keagamaan Katolik. Karena ternyata dia mantap dalam keterlibatan banyak umat merasakan buah-buah keterlibatannya. Itulah rahmat. Kasih membuat terlibat dan terlibat memembuatnya jadi rahmat. 

PENGALAMAN SAYA KOK LAIN

Jujur saja, masa kecil kanak-kanak hingga remaja SMP kelas 3 sebenarnya saya adalah sosok hampa kasih. Saya lahir ketika bapak dan ibu sudah berpisah. Saya mengalami 3 kali ibu tiri. Selain itu saya menjadi sosok berkaki pincang sejak berumur setahun. Di dalam pengalaman masa kanak-kanak saya kerap diejek karena kepincangan. Berjumpa dengan orang-orang dewasa/tua saya kerap mendapatkan pertanyaan “Ibumu dhéwé ki sing endi, ta?” (Yang mana ibu kandungmu?). Sementara itu di rumah saya biasa tidak merasa aman bersama ibu tiri. Itu didasari oleh pengalaman bersama ibu tiri yang amat kreatif menemukan kesalahan saya dan kreatif juga menghadirkan kekerasan yang menyakiti tubuh saya. Bapak saya rasa-rasanya tak pernah berpihak dan membela saya. Mengasihi atau dikasihi sungguh tak masuk dalam rasa saya di masa itu. Kondisi seperti ini memang membuat saya mengalami keminderan. Namun demikian keminderan ini tidak membuat saya menjauh dari hadapan orang lain. Saya bahkan selalu melawan berbagai ejekan atau suara menjengkelkan. Saya tidak peduli disebut anak nakal. Saya tidak takut untuk berkelai. Bahkan pada waktu SMP saya ikut latihan beladiri. Kalah atau menang dalam berkelai bagi saya tidak soal. Yang pokok BERANI. Kalau ada orang-orang tua tanya siapa ibu saya, saya tidak menggubris. Di rumah saya juga kerap bertindak semau saya. Kalau bapak marah bahkan mengeroyok memarahi bersama ibu tiri, saya tak ambil pusing. Dalam hati saya sering bilang “Paling-paling dipukuli”.

Tetapi ketika saya sudah ikut pelajaran agama Katolik dan ikut sembahyangan rutin yang diadakan umat, ternyata banyak yang suka pada saya. Saya memang dikenal braok, yaitu bersuara dengan volume keras kalau omong. Untuk itu di dalam sembahyangan-sembahyangan saya biasa ditugasi untuk memimpin nyanyi. Pada waktu itu memimpin nyanyi berarti mendiktekan kata-kata yang diucapkan umat dalam nyanyian. Pada waktu itu hanya ada satu buku isi teks nyanyian ditulis tangan. Tugas saya mengucapkan kata-kata per kalimat misalnya “NDHÈREK DÈWI MARIYA” dan umat mengucapkan dengan lagu “Dhèrèk Dewi Maria” ....

Pada suatu hari ke-braok-an itu membuat pengurus umat menugasi saya menjadi pembaca Kitab Suci dalam Misa Minggu di gereja Mrican. Dengan alasan bahwa saya belum baptis, saya menolak. Ketika ada yang mendesak dan setengah memaksa, akhirnya saya berkata jujur. Saya malu untuk tugas pembaca Kitab Suci karena harus berdiri dari bangku duduk bersama umat dan berjalan menuju mimbar. “Kula isin mergi kula pincang kedah mlampah ing ngajenging kathah umat” (Saya malu karena pincang harus berjalan di muka banyak umat). Bapak yang mendesak mengangguk-anggukkan kepala tanda memaklumi. Tetapi beliau berkata “Ning sing maca tetep kowé, ya” (Tetapi pembacanya tetap kamu). Ketika saya menjawab “Kula pincang, pak. Kula isin” (Saya pincang, pak. Maka saya malu). Ternyata bapak itu berkata “Sikilmu pancèn pincang, Mbang. Ning maca ki nganggo cangkem. Suaramu sero lan isa las-lasan” (Kakimu memang pincang. Tetapi membaca itu memakai mulut. Bukankah suaramu bisa keras lantang dengan tempo tak tergesa-gesa?). Akhirnya saya menjadi pembaca Kitab Suci, yang pada waktu itu belum ada lektor seperti sekarang dengan segala persyaratannya. Pada waktu itu dalam Misa juga belum ada pengeras suara.

Di tengah umat Kring Ambarrukmo (kini Lingkungan Ambarrukmo), begitu nama paguyuban umat di mana saya menjadi anggota, saya sungguh merasa senang. Kebanyakan umat tampak senang dengan keterlibatan saya dalam kegiatan-kegiatan. Entah bagaimana, selain ikut kegiatan rutin Kring, saya menjadi amat dekat dengan anak-anak kecil usia Sekolah Dasar. Dari sini saya dan anak-anak biasa main di rumah Bapak Kaslan yang juga amat senang dengan anak-anak. Dari sini saya juga mengadakan sembahyangan rutin untuk anak-anak. Yang paling menyenangkan kalau ada perayaan seperti Natalan saya didampingi Bapak Kaslan mengorganisasi anak-anak untuk mengisi acara atraksi hiburan-hiburan. Bahkan saya dengan Mas Bejo, Mas Untung, Mbak Warni, dan Mbak Murtini sering main drama untuk mengisi acara-acara Kring. Sebenarnya saya pernah curhat dengan Bapak Kaslan karena pernah kuatir kalau ada pertanyaan tentang keibutirian dan kepincangan dari beberapa umat. Ternyata Bapak Kaslan berkata “Sedaya pun ngertos. Nèk ènten sing takèn, niku mung gatel lambéné” (Sebenarnya pada umumnya sudah tahu. Kalau ada yang tanya, itu hanya karena gatal bibir). Yang jelas dengan ikut terlibat di tengah umat saya merasa senang dan merasa disenangi oleh banyak warga Katolik. Umat juga tampak amat menghargai karena saya ikut menyemarakkan acara-acara seperti nyanyi dan main drama. Bahkan saya menjadi pembaca utama kalau Kring Ambarrukmo mendapatkan giliran melayani Misa yang meliputi tata laksana, kolekte, misdinar, dan baca Kitab Suci.

TERANG IMAN

Bagaimanapun juga yang dibicarakan adalah soal adanya 3 hal : kasih, keterlibatan, dan berkat. Sejauh saya pahami kasih adalah hukum ilahi. Tuhan Yesus berkata “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yoh 13:34-35) Kasih adalah identitas kemuridan orang Kristiani. Kemudian, bagaimana dengan keterlibatan? Keterlibatan adalah tanda orang yang hidup dalam Roh, yang membuat para murid Kristus hidup dalam persekutuan. Dalam kebersamaan iman tak ada diskriminasi atas dasar apapun. Semua menyatu bagaikan menjadi macam-macam organ tubuh. Santo Paulus menjelaskan “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” (1Kor 12:12-13)

Dalam hal berkat Kitab Suci sering memperlawankan dengan kutuk. Kalau kutuk itu berarti celaka dan mencelakaan orang, berkat membuat orang lain mengalami damai sejahtera. Dengan mengikuti panggilan meninggalkan tanah asal, Abraham menjadi berkat bagi banyak orang lain. Berhadapan dengan hanya 5 roti dan 2 ikan, ucapan berkat Tuhan Yesus menjadikan itu bisa jadi santapan 5000 orang laki-laki belum terhitung perempuan dan anak-anak bahkan tersisa 12 bakul penuh. Dari sini saya memahami bahwa berkat adalah karunia demi kebutuhan banyak orang. Padahal kalau omong karunia, itu semua berasal dari Roh Kudus. “Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.” (1Kor 12:7).

Ketika saya merenungkan dan menimbang-nimbang yang disampaikan oleh Santo Paulus berkaitan dengan kasih, keterlibatan, dan berkat atau karunia Roh, ternyata yang omong tentang karunia Roh mendahului yang lain. Santo Paulus dalam 1 Kor 12:1-11 membeberkan adanya macam-macam karunia Roh. Setiap orang memiliki kebisaan atau kemampuan atau bakat atau talenta. Ternyata semua berasal dari satu Roh. Apapun daya kemampuan seseorang, itu adalah penyataan atau anugrah Roh. “Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya” (1Kor 12:11). Di dalam ayat 7 dinyatakan “kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama”. Dari sini bagi kaum beriman datang panggilan untuk terlibat dalam kebersamaan. Karena satu sama lain memiliki jaringan hubungan kesatuan Roh, kebersamaan kaum beriman kepada Kristus digambarkan oleh Satu Paulus seperti satu tubuh yang terdiri dari banyak anggota. Hal ini dinyatakan dalam 1Kor 12:12-31. Semua anggota memiliki kesamaan martabat sehingga “justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus” (ayat 22-23). Memang, dalam kebersamaan ada tatanan organisatoris. Tetapi semua peran baik dalam kepengurusan/kepemimpinan maupun dalam pergerakan-pergerakan adalah wujud ambil bagian masing-masing anggota umat. Semua kegiatan ambil bagian dalam kebersamaan adalah usaha “untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama” (ayat 31). Di dalam tradisi iman kita memahami adanya tiga macam keutamaan yaitu iman, harapan, dan kasih. Sebagaimana dikatakan oleh Santo Paulus, kasih adalah keutamaan yang paling besar. “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1Kor 13:13)

HIDUP DALAM ROH

Dari permenungan yang saya paparkan di atas, saya menyadari bahwa sebenarnya dalam beriman saya pertama-tama dituntut menyadari karya Roh Allah. Kalau membuka Kitab Suci, dari berbagai Kitab termasuk bab-bab dan kesemua ayatnya, dua kalimat pertama mengatakan “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” (Kej 1:1-2). Yang pertama hadir di dunia adalah Roh Allah. Dari sini saya memahami mengapa penyembahan kepada Allah pertama-tama dilandasi oleh kesadaran karya Roh dalam diri orang beriman. Bukankah Tuhan Yesus berkata “penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran” (Yoh 4:23). Kita memang percaya kepada Allah Tritunggal Mahakudus : Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Di dunia ini kita sambung dengan Bapa dengan perantaraan Tuhan Yesus yang adalah “jalan dan kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6). Maka bagi saya kalau menyembah Bapa dalam kebenaran itu berarti dalam Kristus. Tetapi penyembahan juga dalam roh, yaitu roh atau berkat anugrah dalam diri saya sebagai bagian dari Roh Allah. Bahwa di dunia ini Roh Allah menjadi yang pertama dalam karya Allah, Tuhan Yesuspun dikandung masuk dalam kehidupan manusia karena karya Roh Kudus (Mat 1:18).

Karena hidup dalam Roh berarti berada dalam kekuatan Roh Kudus, bagi saya itu berarti saya mendapatkan daya dasar bersama berupa talenta. Dari Matius 25:14-30 saya menyadari bahwa sekecil dan sesedikit apapun Tuhan memberi kemampuan untuk hidup bagi setiap orang. Banyak dan sedikit di hadapan Tuhan tidak soal. Yang jelas karunia untuk setiap orang adalah penyataan Roh (bandingkan 1Kor12:7). Yang paling pokok saya dituntut untuk mengembangkan. Itulah persembahan kehidupan beriman. Sesedikit dan sekecil apapun upaya pengembangan, dalam pengalaman saya sudah bisa ikut ambilbagian dalam kebaikan hidup bersama. Dari pengalaman ketika remaja di tengah umat Lingkungan Ambarrukmo, kemampuan bersuara keras yang sering mendapatkan istilah negatif braok, ternyata juga bermanfaat dalam doa bersama sebagai pendikte nyanyian dan bahkan juga bisa memenuhi kebutuhan pembaca Kitab Suci dalam Misa Minggu ketika belum ada pengeras suara. Kini, ketika sudah lansia dan banyak berada di kamar gedung Domus Pacis Santo Petrus, hanya dengan kemampuan kecil ber-medsos saya boleh ikut ambil bagian kehidupan Domus ikut cari dana. Bukankah itu bisa masuk dalam kategori berkat?

Ternyata kasih, keterlibatan, dan jadi berkat dalam pembicaraan ini saya sadari sebagai 3 hal yang merupakan tiga penghayatan dalam kepaduan iman dan bukan urutan tahap sistematis. Orang bisa menggerakkan penghayat lewat hal satu tetapi kemudian sadarlah bahwa ketiganya sejatinya datang bersama. Yang berbeda tahap adalah kesadarannya. Allah menggerakkan kesadaran saya lewat keterlibatan di tengah umat Ambarrukmo dan dari situ saya menjadi berani tampil menggunakan suara keras sehingga saya sadar ada karunia dalam bersuara. Sikap umat Katolik dari bapak-bapak, ibu-ibu, kaum muda, dan anak-anak sungguh menyadarkan saya saya disenangi banyak orang lain. Saya merasakan kasih yang saya dapatkan dan kemudian juga saya jalani. Kesemuanya juga membawa saya bisa menyadari bahwa ayah saya memperhatikan dan mengasihi saya sehingga saya juga bisa senang ketemu keluarga.

Domus Pacis, 10 Januari 2026

Santo Hilarius dari Poitiers

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 23 Juli 2013 Diperbaharui: 19 Oktober 2019 Hits: 22917

  • Perayaan
    13 Januari
  •  
  • Lahir
    Tahun 315
  •  
  • Kota asal
    Poitiers - Perancis.
  •  
  • Wafat
  •  
  • Tahun 368 | Oleh sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Hilarius dilahirkan dalam sebuah keluarga pagan yang belum mengenal Tuhan di Poitiers, sebuah kota di Perancis pada tahun 315. Keluarganya kaya-raya dan termasyhur karena itu Hilarius bisa mendapatkan pendidikan yang baik. Ia adalah seorang yang sangat cerdas dan sangat gemar membaca. Banyak buku yang sudah dbacanya, namun ada satu buku yang betul-betul menarik minatnya yaitu  Holy Bibble atau kitab suci.

Hillarius sangat terkesan dengan kisah hubungan yang terjalin antara Allah dan manusia yang tertulis dalam Kitab Suci. Ketika sampai pada bagian Musa dan semak yang terbakar, Hilarius sungguh amat terkesan dengan Nama bagaimana Tuhan menyebut Diri-Nya Sendiri: AKU ADALAH AKU. Hilarius membaca tulisan-tulisan para nabi juga. Kemudian ia membaca seluruh Perjanjian Baru. Pada saat ia selesai membaca, ia sepenuhnya menyadari bahwa ia telah percaya kepada Kristus dan memberikan dirinya untuk dibaptis.    

Hilarius hidup mengamalkan imannya dengan taat dan saleh hingga ia dipilih menjadi uskup. Hal ini tidak menjadikan hidupnya bertambah nyaman, sebab kaisar suka mencampuri urusan-urusan Gereja. Ketika Hilarius menentangnya, kaisar membuang Hilarius. Di tempat pembuangannya itulah keutamaan-keutamaan Hilarius, terutama kesabaran dan keberaniannya semakin gemilang.

Ia menerima pembuangannya dengan tenang dan mempergunakan waktunya untuk menulis buku-buku tentang iman. Karena ia menjadi semakin termasyhur, musuh-musuh Hilarius meminta kaisar untuk memulangkannya kembali ke kota asalnya. Di kota asalnya ia tidak akan memperoleh banyak perhatian. Maka, Hilarius dipulangkan ke Poitiers pada tahun 360.

Ia tetap menulis untuk mengajarkan iman yang benar kepada umat dan melawan bidah Arianisme. Hilarius wafat delapan tahun kemudian, dalam usia lima puluh dua tahun. Buku-bukunya memberikan pengaruh besar kepada Gereja hingga sekarang ini. Itu sebabnya mengapa ia digelari Pujangga Gereja.

Santo Maurus

diambil dari katakombe.org/para-kudus  Diterbitkan:  15 Maret 2017  Diperbaharui:  16 Januari 2020  Hits:  10981 Perayaan 15 Januari   Lahir...