Tuesday, February 10, 2026

Pertemuan Rama Rayon Sleman Jogja Barat


Ini terjadi pada hari Senin tanggal 9 Februari 2026. Ketika jarum jam sudah lewat angka 15 dan hampir sampai angka 30 jam 10.00 pagi, Pak Tukiran masuk kamar Rm. Bambang dan  berkata diminta oleh Rm. Andika, Direktur Domus, menjempputnya untuk ikut pertemuan. Ternyata pada jam 10.16 memang ada pesan WA dari Rm. Andika di HP Rm. Bambang "Romo punapa kersa nuweni para romo sekedap?" (Rama, apakah bersedia sebentar jumpa para rama?). Sebenarnya Rm. Bambang sudah tahu bahwa hari itu ada rama-rama Rayon Kabupaten Sleman pertemuan bertempat di Domus Pacis Santo Petrus. Beberapa hari sebelumnya, ketika masih di Papua, Rm. Andika sudah kontakan lewat WA dengan Bu Rini untuk menyiapkan konsumsi. Pertemuan terjadi di ruang lobi. Ketika Rm. Bambang datang para rama menyambut dengan ceria penuh tawa. Ternyata beberapa saat kemudian Rm. Djoko Setyo juga ikut bergabung. Kelakar saling ejek juga muncul antara para rama tamu dengan Rm. Bambang. Maklumlah, dulu Rm. Bambang termasuk aktif dan banyak rama-rama yang hadir dulu juga cukup akrab dengannya. Sebenarnya pertemuan rama rayon sudah beberapa kali terjadi selama 5 tahun di Domus Pacis Santo Petrus. Tetapi baru kali itu Rm. Bambang diminta ikut. Pada Senin itu acaranya ada 3 : 1) Bicara tentang keuangan Kas Rayon Sleman, 2) Kerjasama pelayanan Sakramen Tobat selama Prapaskah 2026, 3) Rencana piknik ke Lampung. Santap bersama disediakan di aula Domus dan para rama Sleman bisa berjumpa dan bersalaman dengan rama-rama Domus yang sedang di ruang makan menikmati sajian makan siang.

Santo Paus Gregorius II

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 02 Juni 2014 Diperbaharui: 21 Februari 2020 Hits: 15464

  • Perayaan
    11 Februari
  •  
  • Lahir
    Tahun 669
  •  
  • Kota asal
    Roma - Italia
  •  
  • Wafat
  •  
  • 11 Februari 731 di Roma, Italy - Oleh sebab alamiah
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Santo Paus Gregorius II adalah paus kita yang ke-89. Ia lahir di kota Roma pada tahun 669 dalam sebuah keluarga bangsawan.  Ayahnya bernama Marcellus dan ibunya adalah Honesta. Dalam usia muda, Gregorius sudah terlibat dalam berbagai urusan Gereja. Selama masa kepausan Paus Sergius I (687-701), Ia bekerja dalam istana kepausan sebagai sacellarius (bendahara) Kepausan. Kemudian ia ditempatkan sebagai kepala perpustakaan kepausan. Ia adalah pustakawan pertama di Tahkta Suci.

Pada masa kepausan Paus Konstantinus (708-715), Gregorius diangkat menjadi sekretaris kepausan. Dan Setelah kematian Paus Konstantinus pada tanggal 9 April 715, Gregorius terpilih menjadi paus, dan ditahbiskan pada tanggal 19 Mei 715.

Paus Gregorius II melakukan banyak hal luar biasa dalam memajukan misi gereja. Pada tahun 716, atas permintaan dari raja Theodorus, Paus Gregorius II mengirimkan sebuah delegasi misionaris ke Bavaria untuk menyebarkan iman Kristiani, membangun gereja dan mendirikan keuskupan di wilayah tersebut. Misi ini sangat sukses hingga dalam beberapa tahun kemudian Paus Gregorius II menunjuk Santo Corbinianus; seorang suci yang telah bertapa selama belasan tahun untuk menjadi Uskup di Keuskupan Agung Freising Bavaria. Awalnya Corbinianus menolak dan tidak mau meninggalkan pertapaannya karena telah terikat dengan kaul hidup monastik; namun melalui sebuah sinode, bapa suci berhasil meyakinkan Corbinianus untuk meninggalkan pertapaannya dan berangkat memenuhi panggilan barunya sebagai Uskup Agung Bavaria.

Kemudian Pada tahun 719, Paus Gregorius II mengutus Santo Bonafisius untuk mempertobatkan suku-suku di Jerman yang masih kafir. Santo Bonifasius berhasil dengan gemilang dalam misi tersebut hingga di tahun 722 Paus Gregorius mentabhiskannya menjadi Uskup pertama bagi bangsa Jerman.  Kepada Uskup Bonafasius, bapa suci Gregorius II memberikan sepucuk surat rekomendasi untuk diserahkan kepada Raja Charles Martel, seorang Raja Katolik Prancis yang saat itu menjadi penguasa atas suku-suku Jerman.  Karena  permohonan Paus ini, Raja Charles memberikan jaminan perlindungan kepada sang Uskup dalam karyanya mempertobatkan suku-suku Jerman itu.

Meskipun ada banyak keberhasilan dalam kepemimpinannya sebagai Paus, Gregorius pun tidak luput dari berbagai tantangan. Kekuatan kaum Lombardia bangkit lagi dan menguasai Hongaria, Austria hingga Italia Utara. Hubungan baik antara Paus Gregorius dengan Liutprand, Raja Lombardia menjadi retak bahkan terputus ketika Liutprand memulai kampanye militernya untuk menguasai Italia. Ketika kota Cumae di wilayah Naples jatuh ke tangan bangsa Lombardia, Paus memberikan bantuan finansial kepada Duke Yohanes I dari Naples untuk dapat bangkit melawan Raja Lombardia Liutprand. Dengan bantuan dari Takhta Suci ini akhirnya Duke Yohanes I  berhasil menghalau kaum Lombardia keluar dari Cumae.

Di tahun 725 orang-orang Lombardia kembali melancarkan kampanye militer untuk menguasai Italia utara. Mereka sempat berhasil menduduki kota Ravenna. Tetapi berkat bantuan Paus Gregorius II dan orang-orang Venesia, Kaisar dan bala tentaranya berhasil mengusir orang-orang Lombardia itu dari kota Ravenna.

Selain masalah dari luar, Paus Gregorius juga di hadapkan pada masalah internal Gereja yang pelik akibat konflik ICONOCLASM.  Konflik ini sudah dimulai sejak awal abad kedelapan oleh hasutan orang muslim dari kalifah Ummayah di Damaskus.  Kalifah ini pada tahun 722 mengeluarkan suatu peraturan yang melarang penghormatan gambar-gambar kudus di dalam gereja-gereja yang berada di wilayah yang telah ditaklukannya. Akibat peraturan ini, banyak gambar kudus dalam gereja-gereja yang dirusak; baik oleh orang-orang Islam maupun orang-orang Kristen sendiri.

Gerakan pengrusakan gambar-gambar kudus di dalam Gereja ini semakin meluas setelah didukung oleh Kaisar Romawi Timur, Leo III, dengan dekrit yang dikeluarkannya pada tahun 726.  Paus Gregorius kemudian dengan gigih menentang dekrit ini. Bapa suci Gregorius II mengeluarkan suatu intruksi yang dengan tegas menentang dekrit tersebut. Akibatnya Kaisar Leo III menjadi gusar dan menyusun suatu rencana pembunuhan atas diri Paus Gregorius. Tetapi rencana ini gagal total karena tidak seorang pun di Italia yang bersedia melakukan pembunuhan pada paus. Orang-orang di Italia malah semakin mendukung Paus dan melancarkan perlawanan terhadap Kaisar di Konstantinopel.  

Melalui sepucuk surat kepada Kaisar Leo III, Paus menerangkan tentang posisi Gereja dan tradisinya dalam hal penghormatan kepada gambar-gambar kudus. Ia pun mendesak Kaisar Leo III agar segera mencabut kembali dekrit itu sambil menegaskan agar hendaknya kaisar tidak lagi mencampuri urusan-urusan internal Gereja. Masalah gereja adalah urusan para pemimpin Gereja dan Kaisar sebaiknya memusatkan perhatiannya pada urusan-urusan kenegaraan saja. Kaisar Leo III, yang merasa mempunyai kekuasaan mutlak atas wilayah kekaisarannya, menolak mengikuti keinginan Paus. Karena itu, sekali lagi Paus menyurati Kaisar dan kembali menegaskan pandangan-pandangannya serta melarang kaisar untuk tetap ikut mencampuri urusan-urusan Gereja. Surat kedua yang dikirimkan kepada Kaisar itu ditutupnya dengan sebuah untaian doa bagi pertobatan Kiasar Leo III.

Ada juga sebuah legenda menarik tentang Paus Gregorius II dalam kisah kemenangan pasukan Kristen atas pasukan muslim dalam Pertempuran di Toulouse (721).  Menurut catatan dalam Liber Pontificalis, pada tahun 720 Paus Gregorius mengirimkan "tiga keranjang roti" yang telah diberkati kepada raja Eudes Agung (Odo The Great), pemimpin pasukan Kristen. Sebelum pertempuran dimulai, Eudes membagikan porsi kecil dari roti-roti tersebut kepada pasukannya. Pasukan Kristen kemudian memenangkan pertempuran ini. Setelah itu dilaporkan bahwa tidak ada seorangpun dari anggota pasukan yang telah makan roti tersebut menjadi terluka atau terbunuh dalam pertempuran.

Paus Gregorius tutup usia pada tanggal 11 Februari 731, dan dimakamkan di Basilika Santo Petrus. Pestanya dirayakan pada setiap tanggal 11 Februari.

Lamunan Pekan Biasa V

Rabu, 11 Februari 2026

Markus 7:14-23

14 Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: "Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. 15 Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya." 16 (Barangsiapa bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar!) 17 Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu. 18 Maka jawab-Nya: "Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, 19 karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?" Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal. 20 Kata-Nya lagi: "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, 21 sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, 22 perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. 23 Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, untuk menjaga tubuh orang harus waspada adanya makanan yang berbahaya. Itu bisa membuat tubuh menderita karena bisa merangsang daya kekuatan penyakit.
  • Tampaknya, ada kepercayaan bahwa makanan tertentu berbahaya merusak jiwa. Itu bisa membuat orang masuk jadi golongan abai Tuhan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sebahaya apapun makanan bisa membuat tubuh menderita bahkan merusak keluhuran jiwa, bahaya sejati dalam hidup manusia justru berada dalam sikap batin orang yang tidak taat pada relung hati untuk hidup wajar sesuai dengan realita kongkret dirinya. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar bahwa semua menu makan disajikan untuk manusia dan kalau membahayakan itu terjadi karena kebutaan dan ketulian orang sendiri berhadapan dengan realita dirinya.

Ah, pokoknya agar tak berdosa ada makanan tertentu yang harus disingkiri.

Monday, February 9, 2026

Oleh-oleh dari Rm. Andika

Sekarang tentang Rm. Laurentius Andika Bhayangkara. Beliau mendapatkan SK dari Keuskupan menjadi Direktur rumah rama sepuh Domus Pacis Santo Petrus. Rm. Andika mulai tinggal bersama di Domus Pacis sejak tanggal 10 Agustus 2025. Bagi para rama Domus Pacis ada hal yang tampaknya bisa ikut menggembirakan kebersamaan para rama Komunitas Domus Pacis. Tampaknya Rm. Andika termasuk rama yang dicintai oleh umat lebih-lebih yang pernah mengalami pelayanan beliau. Itulah sebabnya beliau sering masih diminta untuk melayani Misa Ujub Keluarga. Memang, beberapa paroki juga sering minta kehadiran Rm. Andika untuk menggantikan memimpin Misa umat ketika Rama Paroki ada urusan lain. Yang sungguh mencolok adalah tidak jarang ketika masuk kamar makan, pada saat para rama makan bersama, Rm. Andika biasa membawa oleh-oleh kuliner. Para rama kerap mendapatkan tambahan lauk pauk karena oleh-oleh dari Rm. Andika pemberikan umat yang minta pelayanan. Oleh-oleh bisa sedikit ataupun banyak tergantung dari mana Rm. Andika pergi. Itu juga terjadi pada Senin 9 Februari 2026. Rm. Andika baru saja pergi ke Papua dari 1 sampai dengan 8 Februari 2026. Ketika masuk ruang makan beliau membawa tas kecil dari dos. Kemudian Rm. Andika meminta karyawan mengiris-iris isinya. Para rama satu per satu mendapatkan cawan yang sudah tertumpang roti yang katanya bernama AMON GULUNG.

Santa Skolastika

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 03 Oktober 2013 Diperbaharui: 15 Oktober 2020 Hits: 33584

  • Perayaan
    10 Februari
  •  
  • Lahir
    Tahun 480
  •  
  • Kota asal
    Narsia, Umbria, Italia
  •  
  • Wafat
  •  
  • Tahun 543 di Monte Cassino, Italia - Oleh sebab alamiah
    Dikuburkan di bawah altar di makam yang sama dengan saudara kembarnya Santo Benediktus
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisas iPre-Congregation

  • Santa Skolastika adalah saudara kembar dari Santo Benediktus pendiri Ordo Benediktin. Mereka dilahirkan di Nursia, Italia pada tahun 480. Skolastika adalah seorang gadis yang cerdas dan peramah. Ia juga seorang yang religius; sejak belia ia telah menyerahkan dirinya kepada Tuhan.

    Ketika mereka berusia dua puluh tahun, Benediktus pergi mengasingkan diri sebagai pertapa dalam sebuah gua terpencil di Subiako. Di kemudian hari, ia pergi ke Monte Kasino dan mendirikan biara Benediktin di sana. Skolastika menyusul saudaranya dan tinggal di Plombariola yang berjarak kurang lebih 5 mil dari biara Benediktus. Dengan bantuan dan petunjuk Benediktus, Skolastika mendirikan dan memimpin biara wanita. 

    Setahun sekali Skolastika mengunjungi saudaranya untuk membicarakan masalah-masalah rohani. Karena regula (peraturan) biara tidak memperbolehkan perempuan memasuki biara Monte Kasino, maka Benediktus ditemani dengan beberapa muridnya akan menemui Skolastika di sebuah rumah yang tidak jauh letaknya dari gerbang biara. Pada suatu hari Skolastika datang berkunjung dan Benediktus menemuinya bersama beberapa orang murid. Sepanjang hari itu mereka memuji Tuhan dan berbicara mengenai hal-hal rohani. Ketika malam tiba mereka makan malam bersama. Pembicaraan terus berlanjut sementara malam semakin larut. Berkatalah Skolastika kepada saudara kembarnya;

    “Jangan tinggalkan aku malam ini; mari kita berbicara mengenai suka cita kehidupan rohani sampai pagi.”

    “Saudariku,”  jawab Benediktus, “Apakah yang engkau katakan itu? Aku tidak boleh tinggal di luar biaraku.”

    Karena Benediktus menolak permintaannya, wanita suci ini menangkupkan kedua tangannya di atas meja, menundukkan kepala dan berdoa. Ketika ia mengangkat kepalanya kembali, halilintar datang sambar-menyambar, gemuruh guntur bersahut-sahutan dan hujan badai membasahi bumi sehingga Benediktus dan murid-muridnya tidak dapat pulang. Karena sedih, Benediktus mengeluh :

    “Semoga Tuhan mengampuni engkau, saudariku. Apa ini yang telah engkau lakukan?”

    “Yah,”  sahut Skolastika, “aku mohon padamu tetapi engkau tidak mau mendengarkan aku; jadi aku mohon pada Tuhan-ku dan Ia sungguh mendengarkan aku. Sekarang pergilah jika engkau bisa, tinggalkan aku dan kembalilah ke biaramu.”

    Jadi, demikianlah malam itu mereka tidak tidur semalaman, asyik dengan pembicaraan mereka tentang sukacita kehidupan rohani.

    Tiga hari kemudian, Benediktus sedang berada di kamarnya di biara. Ketika ia menengadah menatap langit, ia melihat jiwa saudarinya meninggalkan jasadnya dalam rupa seekor burung merpati, dan terbang tinggi menuju suatu tempat rahasia di surga. Benediktus amat bersukacita, ia berterima kasih kepada Tuhan yang Mahakuasa dengan nyanyian serta puji-pujian. Kemudian ia memerintahkan para muridnya untuk menjemput jenasah saudarinya dan membawanya ke biara. Benediktus membaringkan jenasah Skolastika dalam kubur yang telah dipersiapkannya bagi dirinya sendiri; kubur di mana kelak tubuhnya pun dibaringkan.

    Skolastika wafat pada tahun 543. Pestanya dirayakan setiap tanggal 10 Februari.

Lamunan Peringatan Wajib

Santa Skolastika, Perawan

Selasa, 10 Februari 2026

Markus 7:1-13

1 Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. 2 Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. 3 Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; 4 dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga. 5 Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: "Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?" 6 Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. 7 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. 8 Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia." 9 Yesus berkata pula kepada mereka: "Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri. 10 Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. 11 Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban--yaitu persembahan kepada Allah--, 12 maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatupun untuk bapanya atau ibunya. 13 Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan."

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, setiap agama dan aliran kepercayaan mempunyai tradisi religius. Itu merupakan ritus atau tatacara untuk menghayati hidup keagamaan.
  • Tampaknya, ritus tradisi keagamaan biasa menjadi wajib bagi para penganutnya. Yang tidak disiplin menjalani bisa dicap sesat bahkan abai Tuhan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun kebiasaan praktek tradisional keagamaan bisa menampakkan kasalehan seseorang, kalau terlalu terfokus dan fanatik pada tata ritualistik, agamawan bisa konflik tajam dengan sesama penganut sendiri. Dalam yang ilahi kerena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar bahwa kalau dalam beragama perhatian hanya terarah pada hal ritualistik, orang bisa mengalami abai Tuhan dan konflik tak berkesudahan.

Ah, asal jalani kebiasaan tradisi dalam agama, orang dekat Tuhan.

Sunday, February 8, 2026

Pengalaman Guru Paling Jos

Pada suatu ketika saya mendengar Rm. Saptaka, salah satu teman serumah di Domus Pacis Santo Petrus, berkata "Rasane awrat je nek angsal giliran mimpin Misa. Soale kudu khotbah teng ngajenge rama-rama" (Sebenarnya saya biasa merasakan berat ketika menjalani giliran memimpin Misa. Soalnya harus berkhotbah di hadapan para rama). Tetapi bagaimanapun juga saya merasa senang sekali dengan khotbah Rm. Saptaka. Beliau selalu menghubungkan bacaan Kitab Suci dengan pengalaman. Yang diomongkan sungguh hidup dan biasa juga menciptakan tawa bagi semua peserta Misa, yaitu para rama dan karyawan serta sering juga beberapa tamu yang kebetulan ikut. Ketika pada suatu ketika saya mempersiapkan Misa, dan tentu juga apa yang akan saya omongkan dalam bagian homili, saya disadarkan bahwa saya juga mengalami rasa tidak mudah karena saya pun selalu melandaskan diri pada pengalaman saya. Sebelum Misa saya sering mengalami paling tidak sedikit kegelisahan dan kemudian perasaan menjadi ringan dan ada keceriaan batin setelah menyelesaikan tugas Misa.

Untuk saya perasaan berat dan sering diwarnai kegelisahan batin makin terjadi ketika diminta memimpin Misa khusus di hadapan banyak umat seperti dalam Misa Ujub Keluarga ataupun di hadapan rombongan pengunjung Domus yang minta Misa. Lebih merasa tidak ringan lagi kalau saya harus melayani program rekoleksi. Saya harus merenung-dan merenung. Saya harus menelusuri jejak-jejak hidup saya yang pernah terjadi atau saya alami. Saya juga menghubungkan dengan terang-terang iman baik Kitab Suci maupun ajaran serta apapun yang ada dalam Gereja. Memang, dari sini mengalir kegembiraan batin ketika saya bisa memetik semacam pelajaran hidup ikut Tuhan. Tak jarang saya menuliskan pelajaran yang saya ketemukan. Ketika merenungkan semua ini saya makin yakin kalau pengalaman adalah guru handal. Dalam google saya menemukan penjelasan : 

"Belajar dari pengalaman (experiential learning) adalah proses meningkatkan diri dengan merefleksikan kejadian nyata, baik keberhasilan maupun kegagalan, untuk memperbaiki tindakan di masa depan. Ini melibatkan siklus tindakan, refleksi, dan penerapan. Pengalaman adalah guru terbaik karena mengubah kesalahan menjadi peluang, meningkatkan adaptabilitas, dan mencegah terulangnya kesalahan yang sama."

Dalam permenungan saya menyadari bahwa bagaimanapun juga hidup selalu berisi pembelajaran. Dengan ikut Tuhan Yesus Kristus saya berada dalam kesatuan Gereja sebagai persekutuan dari paguyuban-paguyuban murid-murid Tuhan Yesus Kristus. Kemuridan adalah hakikat penghayatan iman. "Beriman berarti semakin mengikuti Tuhan Yesus Kristus Kristus dalam perkembangan situasi hidup dan budaya setempat" demikian kata Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang 1996-2000. Dalam pengalaman pelayanan khotbah hingga rekoleksi selalu ada rasa berat. Sikap kemuridan selalu disertai pengalaman kongkret dengan segala jatuh bangunnya. Belajar dari pengalaman berarti belajar menerima realita dengan menemukan makna masa kini dari belajar masa lampau untuk semakin ikut Tuhan. Dinamika penghayatan kemuridan bisa dipahami dari Bacaan Pertama Minggu Palma :

"Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi. Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu." (Yes 50:4-7) 

Pertemuan Rama Rayon Sleman Jogja Barat

Ini terjadi pada hari Senin tanggal 9 Februari 2026. Ketika jarum jam sudah lewat angka 15 dan hampir sampai angka 30 jam 10.00 pagi, Pak Tu...