Wednesday, January 21, 2026

Panitia Natal Paroki Ungaran

Pada Jumat pagi Rm. Bambang diminta untuk menerima sumbangan untuk Domus Pacis Santo Petrus, karena Rm. Andika sebagai Direktur Domus sedang pergi. Para tamu terdiri dari 7 ibu dan ditemui oleh Rm. Suhartana di kamar tamu. Ketujuh ibu itu berasal dari Paroki Lampersari. Sebenarnya Rm. Bambang heran. Dalam benaknya ada pertanyaan "Bukankah para tamu akan datang pada sore hari?" ...... "Bukankah jumlahnya 40an orang?" ...... "Bukankah para tamu berasal dari Paroki Ungaran?" Pertanyaan-pertanyaan itu berkaitan dari pemberitahuan dari Rm. Andika. Rm. Andika memang bilang kepada Rm. Bambang "Mangke ngancani Rm. Hartana nggih" (Nanti menemani Rm. Hartana untuk menerima tamu, ya). Para tamu yang akan datang memang untuk Rm. Suhartana. 


Ternyata di sore hari rombongan dari Ungaran jadi datang. Sebenarnya Rm. Bambang akan keluar kamar kalau Rm. Suhartana sudah menyembut. Bukankah mereka datang untuk Rm. Suhartana dan kalau Rm. Bambang ikut menyambut, itu adalah permintaan Rm. Andika. Tetapi tiba-tiba ada yang masuk di kamar Rm. Bambang dan menyalaminya. Maklumlah beberapa memang sudah mengalami beberapa kali mengunjungi Domus dalam rombongan-rombongan lain. Bahkan ada beberapa yang setiap hari termasuk membaca dan menanggapi renungan Rm. Bambang yang dikirim lewat WA, FB, Tik Tok, dan Blog. Mereka lalu kontakan dengan Rm. Bambang. Inilah mengapa Rm. Bambang keluar menyambut tamu sebelum Rm. Suhartana datang menyambut. Kemudian muncul pula dengan didorong oleh karyawan dengan kursi rodanya Rm. Ria, Rm. Yadi, dan Mgr. Blasius. Maka Rm. Suhartana justru muncul terakhir dan duduk di kursi yang sudah disediakan karena beliaulah satu-satunya rama sepuh Domus yang tidak berkursi roda. Pertemuan dibuka oleh salah satu bapak yang jadi koordinator para tamu yang terdiri dari para anggota Panitia Natal Paroki Ungaran. Bapak itu mengatakan bahwa kepergian mereka dari Ungaran adalah dalam rangka Aksi Natal. Sebelum di Domus mereka mengunjungan para calon imam dari Ungaran di Seminari Menengah Mertoyudan. Sesudah itu terjadi omong-omong spontan penuh gelak tawa antara para tamu dengan rama Domus. Sebelum berfoto ria, Rm. Suhartana mengucapkan doa dan Mgr. Blasius menyampaikan berkat. 

Santo Vinsensius de Zaragoza

diabil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 24 Juli 2013 Diperbaharui: 11 Maret 2017 Hits: 11067

  • Perayaan
    22 Januari
    11 January (Orthodox)
  •  
  • Lahir
    Hidup abad ke-3
  •  
  • Kota asal
    Heusca, Aragon (Sekarang Zaragossa - Spanyol)
  •  
  • Wafat
  •  
  • Tahun 304 | Martir di Valencia - Spanyol
  •  
  • Beatifikasi
    -
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

Vinsensius wafat sebagai martir di Spanyol pada tahun 304, yaitu tahun yang sama St. Agnes wafat sebagai martir di Roma. Mereka berdua merupakan korban dari penganiayaan kejam yang dilakukan oleh Kaisar Dacian.

Vinsentius dibesarkan di Zaragoza, Spanyol. Ia menerima pendidikan dari Uskup St. Valerius. Bapa Uskup melantik Vinsensius sebagai diakon. Meskipun Vinsensius masih muda, St. Valerius mengenali bakat-bakatnya dan kebaikan hatinya. Uskup Valerius memintanya untuk mewartakan dan mengajarkan tentang Yesus dan Gereja.

Kaisar Dacian menangkap baik Valerius maupun Vinsensius. Ia memenjarakan mereka untuk jangka waktu yang lama. Tetapi, keduanya tidak membiarkan diri berputus asa. Mereka berdua tetap setia kepada Yesus. Kemudian, kaisar mengirim Uskup Valerius ke pembuangan, tetapi Diakon Vinsensius diperintahkannya agar disiksa dengan kejam.

Vinsensius mohon kekuatan dari Roh Kudus. Ia ingin tetap setia kepada Yesus tak peduli betapa dahsyat derita yang akan menimpanya. Tuhan mengabulkan permohonannya dengan memberikan kekuatan yang ia minta.

Diakon Vinsensius tetap merasakan kedamaian selama menjalani segala macam siksaan yang dikenakan kepadanya. Ketika aniaya telah berakhir, ia dikembalikan ke penjara di mana ia mempertobatkan penjaga penjara. Pada akhirnya, kaisar menyerah dan mengijinkan orang mengunjungi Vinsensius. Umat Kristiani datang dan merawat luka-lukanya. Mereka berusaha sebaik mungkin agar Vinsentius merasa nyaman. Tak lama kemudian Vinsensius wafat.

Lamunan Pekan Biasa II

Kamis, 22 Januari 2026

Markus 3:7-12

7 Kemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya. Juga dari Yudea, 8 dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon datang banyak orang kepada-Nya, sesudah mereka mendengar segala yang dilakukan-Nya. 9 Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. 10 Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menjamah-Nya. 11 Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: "Engkaulah Anak Allah." 12 Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, sebaik apapun seseorang, dia akan punya musuh. Permusuhan dipandang buruk tetapi dalam realita selalu ada.
  • Tampaknya, dalam permusuhan orang akan berjuang untuk tahu seluk beluk yang dimusuhi. Dengan tahu segalanya tentang musuh, apalagi rahasia-rahasianya, orang bisa mengalahkannya.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, di dalam permusuhan sekalipun diketahui segalanya bahkan rahasianya oleh musuh dapat membuat terpuruk, kalau rahasia itu adalah hubungan mesra dengan relung hati, musuh sekuat apapun tak akan membuat terpuruk. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati, orang tak akan mengalami keterpurukan menghadapi musuh jahat sekuat apapun.

Ah, kalau sungguh baik orang tak akan punya musuh.

Tuesday, January 20, 2026

Agar Siap Misa Akhir Januari 2026

"Rama, benjing sonten kula nyuwun wonten ingkang ngeteraken dhateng Sengkan, nggih" (Rama, saya mohon besok sore ada yang mengantar saya pergi ke Sengkan, ya) kata Rm. Bambang kepada Rm. Andika, Direktur Domus Pacis, ketika makan bersama hari Sabtu 17 Januari 2026. Rm. Andika meng-iya-kan dan tampaknya mengkode Mas Siswanto untuk jadi petugas mengantar dengan mobil. Salah satu rama bertanya "Ajeng Misa napa?" (Apakah akan memimpin Misa) yang langsung dijawab oleh Rm. Bambang "Mboten. Ajeng latihan gamelan" (Tidak. Saya akan ikut latihan dengan gamelan). Para ramapun segera maklum. Mereka sudah tahu bahwa besok Sabtu 31 Januari 2026 akan ada beberapa rama Domus yang memperingati ulang tahun imamat. Kor dari Lingkungan Sengkan, Paroki Banteng, akan mengiringi Misa dengan iringan gamelan.

Pada Minggu tanggal 18 Januari 2026 Rm. Bambang jadi pergi ke Sengkan. Dengan mobil Ayla Mas Siswanto, karyawan Domus, mengantarnya dan berangkat pada jam 18.15. Keduanya menuju ke rumah Keluarga Bapak-Ibu Rusman-Sri. Sampai rumah keluarga itu gamelan sudah berbunyi dimainkan oleh campuran anak, remaja, dan muda. Ternyata ada yang kelas V SD, ada yang SMP, ada yang SMA, ada yang SMK, dan ada yang sudah kuliah. Kesemuanya adalah alumni siswa-siswi SD Kanisius Sengkan. Tentu saja yang kelas V SD adalah murid SD Kanisius Sengkan. Mereka berasal dari beberapa Paroki seperti Brayut, Banteng, dan Pakem. Sementara itu Pak Eko yang menjadi pelatih berasal dari Lingkungan Kuningan, Paroki Pringwulung. Ketika Rm. Bambang datang, mereka sedang belajar memainkan not lagu Alleluya dilanjutkan dengan irama-irama lain untuk mengiringi bacaan Injil hingga perubahan irama untuk ayat yang dikidungkan dengan irama lain yang menjadi fokus homili. Rm. Bambang memang menyiapkan rangkaian khusus bagian Alleluya sebagai pengantar Injil hingga penutup Injil untuk Misa ulang tahun imamat beberapa rama Domus pada Sabtu 31 Januari 2026. Latihan khusus bagian ini berlangsung lebih dari 1 jam. Sesudah selesai istirahat makan, mereka masih berlatih kagu-lagu lain yang menjadi nyanyian Misa. Rm. Bambang menyanggupkan diri untuk kembali ikut latihan pada Minggu 25 Januari 2026 bersama kor dan pengiring gamelan. 

Santa Agnes dari Roma

diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 08 Oktober 2013 Diperbaharui: 20 Januari 2017 Hits: 33065

  • Perayaan
    21 Januari
  •  
  • Lahir
    Sekitar Tahun 291
  •  
  • Kota asal
    Roma
  •  
  • Wafat
  •  
  • Wafat sebagai martir di Roma. Ada berbagai tradisi tentang cara kemartiran St.Agnes; antara lain :
    Dipenggal lalu dibakar, atau disiksa dan ditikam sampai mati, atau ditikam di tenggorokan pada tanggal 21 Januari 254 atau 304 (sumber beragam).
  •  
  • Kanonisasi
  •  
  • Pre-Congregation

St. Agnes hidup pada masa Gereja Perdana, yaitu masa ketika orang-orang Kristen mengalami penindasan serta penganiayaan yang kejam dalam pemerintahan bangsa Romawi. Ia wafat sebagai martir sekitar tahun 304-305 dalam pemerintahan Kaisar Diocletian. Usia Agnes pada waktu itu baru 13 tahun. Meskipun tidak banyak catatan sejarah yang ada mengenai St. Agnes, ia amat populer. Hal ini terutama karena St. Ambrosius serta para kudus Gereja lainnya banyak menulis tentangnya.

Agnes seorang gadis remaja yang cantik jelita dan berasal dari keluarga kaya. Banyak pemuda bangsawan Romawi terpikat padanya; mereka saling bersaing agar dapat memperisteri Agnes. Tetapi Agnes menolak mereka semua dengan halus dan mengatakan bahwa ia telah mengikatkan diri pada seorang Kekasih yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Procop, putera Gubernur Romawi, termasuk salah seorang di antara para pemuda yang amat marah dan merasa terhina oleh penolakan Agnes. Mereka melaporkan Agnes kepada Gubernur dengan tuduhan pengikut Kristus.

Pada mulanya Gubernur bersikap ramah serta lembut kepadanya. Ia menjanjikan harta serta kedudukan jika saja Agnes mau menyangkal imannya dan menikah dengan Procop. Agnes menolak, berkali-kali diulanginya pernyataannya bahwa ia tidak dapat memiliki mempelai lain selain dari Yesus Kristus. Karena pernyataannya itu, Agnes diseret ke depan mezbah berhala dan diperintahkan untuk menyembahnya. Bukannya menyembah berhala, Agnes malahan mengulurkan tangannya dan membuat Tanda Salib, tanda kemenangan Kristus. Gubernur kemudian memperlihatkan kepadanya api penyiksaan, kait besi, serta  segala macam alat penyiksa lainnya, tetapi gadis muda itu tetap tabah dan tidak gentar sedikit pun.

Karena Agnes tetap keras kepala, Gubernur mengancam akan mengirim Agnes ke rumah pelacuran. Tetapi Agnes menjawab, “Yesus Kristus amat pencemburu, Ia tidak akan membiarkan kemurnian para mempelainya dicemarkan seperti itu. Ia akan melindungi dan menyelamatkan mereka.”

Katanya lagi, “Kalian dapat menodai pedang kalian dengan darahku, tetapi kalian tidak akan pernah dapat menodai kesucian tubuhku yang telah kupersembahkan kepada Kristus.”

Gubernur amat marah mendengar perkataannya itu. Ia memerintahkan agar Agnes, saat itu juga, dikirim ke rumah pelacuran dengan perintah bahwa semua orang berhak menganiayanya sesuka hati mereka.

Orang banyak datang untuk menyaksikan peristiwa itu. Tetapi, ketika melihat pancaran sinar wajah Agnes yang kudus dan agung serta sikapnya yang tenang, penuh kepercayaan kepada Kristus yang melindunginya, orang banyak itu takut dan tidak berani mendekat. Seorang pemuda tampil dan berusaha mengganggu Agnes. Pada saat itu juga, dengan kilat yang dari surga, pemuda itu tiba-tiba menjadi buta dan jatuh ke tanah dengan tubuh gemetar. Teman-temannya dengan ketakutan membopongnya serta membawanya kepada Agnes yang kemudian menyanyikan lagu puji-pujian kepada Kristus, sehingga pemuda itu dapat melihat serta sehat kembali.

Gubernur amat murka dan menjatuhkan hukuman mati pada Agnes. Algojo mendapat perintah rahasia untuk dengan segala cara membujuk Agnes, tetapi Agnes menjawab bahwa ia tidak akan pernah menyakiti hati Mempelai Surgawi-nya. Orang banyak menangis menyaksikan seorang dara yang lembut dan jelita dengan belenggu dan rantai yang terlalu besar bagi ukuran tubuhnya yang kecil, digiring ke tempat hukuman mati. Ia terlalu muda untuk memahami arti kematian, namun demikian ia siap menghadapinya tanpa gentar sedikit pun. Sesungguhnya, Agnes diliputi sukacita yang besar karena ia akan segera diperkenankan menyongsong mempelainya. Sama sekali tidak dihiraukannya ratap tangis mereka yang memohonnya untuk menyelamatkan nyawanya.

“Aku tidak akan mengkhianati Mempelai-ku dengan menuruti keinginan kalian,” katanya, “Ia telah memilihku dan aku adalah milik-Nya.”  Kemudian Agnes berdoa, membungkukkan badannya untuk menyembah Tuhan, dan segera menerima hujaman pedang yang menghantarkan jiwanya yang suci kepada kekasihnya. Agnes telah mempertahankan kemurniannya dan memperoleh mahkota martir di surga.

Jenazah Agnes disemayamkan di pemakamam keluarga di Via Nomentana dekat kota Roma. Kurang lebih lima puluh tahun kemudian, yaitu pada tahun 354, Kaisar Konstantin Agung mendirikan sebuah gereja besar di tempat itu. Tubuh Agnes disemayamkan di bawah altar Gereja. Pada abad ketujuh, gereja itu kemudian dipugar, diperbesar serta diperindah dan sekarang dikenal sebagai Basilika St. Agnes.

Selama berabad-abad, setiap tahun sekali, yaitu pada pesta St. Agnes (21 Januari), dua anak domba tak bercela dipersembahkan dan diberkati di Basilika St Agnes. Kemudian kedua anak domba itu dipelihara oleh para biarawati Benediktin dari Santa Cecilia di Trastevere hingga hari Kamis Putih, yaitu pada saat mereka digunting bulunya. Dari bulu mereka dibuatlah 12 pallium yaitu semacam stola istimewa yang dikirimkan kepada Bapa Suci. Bapa Suci memberikan pallium tersebut kepada para Uskup Agung yang mengenakannya sebagai lambang anak domba yang digendong oleh Gembala Yang Baik.

Lamunan Peringatan Wajib

Santa Agnes, Perawan dan Martir

Rabu, 21 Januari 2026

Markus 3:1-6

1 Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. 2 Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. 3 Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: "Mari, berdirilah di tengah!" 4 Kemudian kata-Nya kepada mereka: "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?" Tetapi mereka itu diam saja. 5 Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. 6 Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia.

Butir-butir Permenungan

  • Tampaknya, yang namanya penggerak agama termasuk di kalangan pejuang kebaikan. Para penggerak agama akan selalu berpegang pada ajaran dan tradisi kebaikan.
  • Tampaknya, yang namanya penggerak agama akan selalu menyambut berbagai hal baik demi kebaikan umum. Para penggertak agama akan menjalin jejariring hubungan dalam perjuangan kebaikan.
  • Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul dekat dengan kedalaman batin, sekalipun berbagai gerakan keagamaan selalu memiliki khasanah seruan kebaikan, kalau sadar atau tidak sadar tertalu menganggap diri atau kelompoknya adalah yang utama bahkan penentu segalanya, penggerak agama justru bisa bersekongkol dengan kelompok kepentingan duniawi untuk menterpurukkan penggerak lain dalam keagamaan. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati sekalipun berkecimpung dalam hidup keagamaan orang harus waspada terhadap dirinya agar tak teracuni oleh kepentingan mental duniawi yang berbahaya menjahati orang baik.

Ah, asal selalu tekun agama, orang tak akan jahat.

Monday, January 19, 2026

7 Ibu dari Paroki Lampersari

Peristiwanya terjadi pada Jumat 16 Januari 2026. Pada hari ini sebenarnya yang menjadi bintang Domus adalah Rm. Suhartana. Berita pertama adalah beliau akan mendapat tamu dari Paroki Ungaran. Ketika menerima informasi dari penghubung rombongan yang akan bertamu, Rm. Andika, Direktur Domus, minta kejelasan : Rombongan yang akan datang untuk semua rama Domus atau hanya untuk Rm. Suhartana. Permintaan itu karena pertama kali penghubung bilang untuk semua rama. Tetapi setelah dicari kejelasan lanjut, ternyata tamu sejumlah 40an orang dari Paroki Ungaran hanya untuk Rm. Hartana. Mereka akan datang di sore hari. 


Ketika Rm. Bambang baru asyik di depan laptop dalam kamarnya, sekitar jam 09.30 Mbak Pariyah, salah satu karyawan, masuk kamar Rm. Bambang. "Rama diminta oleh Rm. Andika ikut menemui Rm. Suhartana". Mbak Pariyah langsung mendorong Rm. Bambang dengan kursi rodanya. Ternyata para tamu yang berjumlah 7 orang berada di kamar penerimaan tamu pribadi. Di situ juga telah duduk Rm. Suhartana. Sebetulnya di benak Rm. Bambang ada kata-kata "Jarene patangpuluh wong lan teka sore" (Katanya berjumlah sekitar 40an orang dan akan datang di sore hari). Ternyata kehadiran Rm. Bambang membuat suasan kamar tamu jadi meriah. Para tamu dan Rm. Bambang saling ejek penuh kelakar keakraban. Ternyata ketujuh orang perempuan ini adalah ibu-ibu dari Paroki Lampersari. Tiba-tiba salah satu ibu berkata "Kami akan menyerahkan tali asih untuk Domus Pacis" yang ditanggapi oleh Rm. Bambang "Yang pokok, Rama Hartana sudah dapat rokok belum?" yang disambut ibu-ibu itu "Sudaaaaaah". Tamu untuk Rm. Suhartana memang selalu membawa oleh-oleh rokok, karena Rm. Hartana adalah perokok berat. Rm. Bambang dihadirkan di kamar tamu karena harus mewakili Rm. Andika untuk menerima sumbangan untuk kebutuhan Domus.

Panitia Natal Paroki Ungaran

Pada Jumat pagi Rm. Bambang diminta untuk menerima sumbangan untuk Domus Pacis Santo Petrus, karena Rm. Andika sebagai Direktur Domus sedang...