Ini adalah hari Sabtu tanggal 3 Januari 2026. Ketika beberapa rama masih berada di meja makan sesudah santap siang, Rm. Andika mendapatkan telepon. "Terus masuk saja" kata Rm. Andika, Direktur Domus Pacis, kepada penelpon. Ternyata rombongan tamu pengunjung sudah datang. Tetapi ketika Rm. Andika menerima telepon, rombongan masih melakukan ziarah kubur di Makam Rama Unio di seberang depan bangunan Domus Pacis Santo Petrus. Kursi sejumlah 70 buah sudah disiapkan untuk menerima mereka. Satu hal yang tampak khusus bagi Domus Pacis adalah jumlah mayoritas tamu yang datang. Mayoritas terdiri dari kaum muda. Kalau disebut khusus karena banyak rombongan tamu di Domus biasa beranggotakan kaum dewasa bahkan lansia. Jarang terjadi rombongan kaum muda bertamu. Tetapi siang itu kalau ada beberapa bapak dan ibu ikut, mereka datang untuk mendampingi para muda yang bersamanya.
Ternyata rombongan tamu ini juga lebih dari khusus. Kaum muda yang datang adalah anak-anak Papua. Pada umumnya mereka adalah usia SMA. Rm. Andika bilang mereka datang dari sebuah asrama. Setiap kali Rm. Andika meneyebut kata "Cenderawasih". Hal ini terkesan bahwa yang diomongkan adalah Papua tanah asal burung cenderawasih. Namun, ketika tamu sudah masuk, setiap kali Rm. Bambang mendengar kata kata yang asing dalam tangkapan telinganya. Yang jelas itu adalah nama yayasan. Ketika Rm. Bambang meminta salah satu pendamping, semua pendamping adalah orang Jawa, untuk menuliskan nama yayasan itu, tertulislah kata "Yayasan Binterbusih". Rm. Bambang memang baru pertama kali mendengar kata "binterbusih". Ketika membuka google, ada penjelasan dari PT Freeport Indonesia https://ptfi.co.id › site › uploads › images. Di situ ada tulisan "Cenderawasih (Binterbusih). Yayasan Binterbusih adalah lembaga pembinaan dan pendampingan pelajar dan mahasiswa Papua di Jawa, yang dipimpin oleh Paul Sudiyo". Dalam hal ini kata "Binterbusih" adalah kependekan dari kata "Bina Teruna Indonesia Bumi Cenderawasih". Ini adalah sebuah yayasan untuk mendampingan kaum remaja Papua siap berperan sebagai penggerak dan pemimpin di Papua. Yayasan ini punya asrama di daerah Sambirata, Semarang.Sebenarnya acara pertemuan para pelajar Papua dari Yayasan Binterbusih dapat dikatakan sederhana. Seorang ibu pendamping, yaitu Bu Sri Rejeki, menjadi MC. Acara pertama pidato oleh Bapak Andreas disusul pidato oleh Bapak Paul Sudibyo sebagai Ketua. Pidato selanjutnya datang dari Rm. Andika, Direktur Domus Pacis yang kemudian meminta Rm. Bambang untuk mempernalkan rama yang menyambut satu persatu. Setelah itu ada hiburan tarian dan nyanyian paduan suara. Acara ditutup dengan doa lalu berkat oleh Mgr. Blasius. Tetapi acara sederhana itu ternyata menciptakan kemeriahan. Pidato Rm. Andika, yang pernah beberapa tahun berkarya di Papua, sungguh lugas menyentuh hati para pelajar Papua bahkan juga gelak tawa. Perkenalan yang diketengahkan oleh Rm. Bambang juga terisi dengan kata-kata banyolan serta ejekan sana-sini untuk para rama dan pendamping. Tarian dan nyanyian juga amat semarak penuh semangat. Semua gembira penuh kecerahan ......



