Sekarang kisah tentang Bu Rini. Nama lengkapnya Natalia Rini Kusparwati. Di Domus Pacis dia adalah salah satu relawan di samping Bu Titik Waluyanti. Bu Rini menjadi relawan Domus Pacis sejak Januari 2012 untuk para rama sepuh yang tinggal di Domus Pacis Puren, Paroki Pringwulung. Ketika pada 1 Juni 2021 para rama sepuh Domus Puren dipindahkan ke Domus Pacis Santo Petrus, Kentungan, Bu Rini dan Bu Titik tetap ikut sebagai relawan. Selain ikut mengurus sumbangan snak bersama Bu Titik, keduanya juga biasa mengurus sajian konsumsi untuk hajatan-hajatan Domus Pacis Santo Petrus.
Selain itu Bu Rini juga menjadi tenaga khusus pencarian dana dengan penjualan batik bersama Rm. Bambang. Bu Rini yang selalu mengjadi penghubung dengan pengrajin, menjadi pelayan utama untuk para pembeli batik, dan mengurus pengiriman paket pesanan-pesanan. Terkisah, umat Wilayah Monica, Paroki Ignatius Magelang, pesan seragam batik sebanyak 70 potong. Ibu Sisca Gaven menjadi wakil umat Wilayah. Ibu Sisca membayar via rekening bank a.n. Rm. Bambang. Setelah kain batik pesanan siap, Bu Rini mengirimkan pada tanggal 2 Januari 2026. Pada tanggal 7 Januari 2026 jam 06.22 Bu Sisca mengirimkan pesan WA di HP Rm. Bambang "Selamat pagi Romo. Mau tanya, apakah kainnya sudah dikirim? Terima kasih". Rm. Bambang menjawab akan mengecek. Ketika ditanyakan ke Bu Rini lewat medsos, Bu Rini menjawab sudah mengirim. Ketika ditanya mengapa belum sampai, Bu Rini baru tahu bahwa alamat kirim keliru ke Susteran Sang Timur Nanggulan, Kulon Progo. Itulah mengapa pada Rabu 7 Januari itu di pagi hari Bu Rini ditemani oleh Mbak War, ART-nya, menuju Nanggulan mencari susteran. Bu Rini senang sekali karena sekarung paket kain batik masih utuh. Dari Nanggulan Bu Rini langsung menuju Pastoran St. Ignatius Magelang selah melakukan kontak janjian lewat medsos dengan Bu Sisca Gaven. Puji Tuhan, akhirnya sampailah paket ke tangan pemesan. Bu Rini dengan bertopi sempat berfoto dengan Bu Sisca Gaven.DOMUS PACIS PETRUS
Wednesday, January 7, 2026
Santo Thorfinn
diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 22 Juli 2013 Diperbaharui: 31 Maret 2017 Hits: 9952
- Perayaan08 Januari
- LahirHidup pada abad ke-13
- Kota asalNorwegia
- Wafat
- 8 Januari tahun 1285 di Biara Cistercian TerDoest, Bruges, Belgia
Sebab alamiah - Beatifikasi-
- Kanonisasi
- Pre-Congregation
Ia mendapatkan seorang biarawan tua, Walter de Muda, yang mengenal Thorfinn. Sesungguhnya, Walter, yang begitu terkesan oleh kelemah lembutan dan keteguhan iman uskup Thorfinn, telah menulis sebuah puisi tentangnya. Walter menaruh puisinya itu dalam kubur Thorfinn. Para biarawan pergi mencari puisi tersebut. Mereka menemukan perkamen yang tampak baru dan baik keadannya seperti saat diletakkan di sana.
Para biarawan merasa bahwa ini merupakan tanda bahwa Tuhan menghendaki agar Thorfinn dikenang serta dihormati. Orang mulai mohon bantuan doanya dan mukjizat-mukjizat pun terjadi. Walter diminta untuk menuliskan apa saja yang dapat diingatnya tentang Thorfinn.
Ia menulis bahwa Thorfinn datang dari Norwegia. Sebagai imam, kemungkinan ia melayani di katedral. Tampaknya Thorfinn menandatangani suatu dokumen penting semasa ia bertugas di katedral. Ia juga menjadi saksi atas Perjanjian Tonsberg pada tahun 1277. Perjanjian tersebut adalah perjanjian antara Raja Magnus VI dengan uskup agung untuk membebaskan Gereja dari campur tangan negara.
Tetapi, beberapa tahun kemudian, Raja Eric meyangkal perjanjian tersebut. Ia melawan uskup agung serta mereka semua yang mendukungnya. Uskup agung diusir, demikian juga Thorfinn, yang saat itu adalah Uskup Hamar, Norwegia.
Thorfinn memulai perjalanan yang berat ke Flanders. Kapalnya bahkan karam dalam perjalanan. Pada akhirnya, ia tiba dan tinggal di biara di mana akhirnya ia kemudian wafat. Ia mengunjungi Roma, tetapi kembali dalam keadaan sakit parah.
Thorfinn tidak punya banyak, tetapi ia membagikan sedikit barang miliknya di antara para anggota keluarga dan kelompok amal kasih. Kemudian ia wafat pada tanggal 8 Januari tahun 1285.
Umat Katolik di Hamar, Norwegia, masih menghormati St. Thorfinn dan merayakan pestanya sampai hari ini.
Lamunan Sesudah Penampakan Tuhan
Kamis, 8 Januari 2026
Lukas 4:14-22a
14 Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. 15 Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia.
16 Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. 17 Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: 18 "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku 19 untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." 20 Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. 21 Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya." 22 Dan semua orang itu membenarkan Dia.
Butir-butir
Permenungan
- Tampaknya, orang dapat merasa mantap dalam bekerja karena berkemampuan. Dia memiliki bakat talenta yang memadahi.
- Tampaknya, orang bisa merasa mantap dalam bekerja karena punya keahlian. Dia memiliki pendidikan akademis yang cocok bahkan dengan ijasah strata tinggi.
- Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul akrab dengan kedalaman batin, sekalipun memiliki bakat dan bahkan ijasah tinggi bisa menghadirkan kemantapan kerja, orang baru sungguh mampu bekerja kalau sadar dalam segala hidupnya ada dalam topangan bimbingan kuasa Roh yang bersemayam dalam relung hati. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati orang sadar bahwa apapun kemampuan dalam kerja adalah bagian dari karunia kuasa Roh Kudus.
Ah, kerja baru sungguh hebat kalau menghasilkan banyak uang.
Tuesday, January 6, 2026
Yang Pokok Hati Ceria
Suasana makan para rama Domus Pacis Santo Petrus biasa diwarnai keceriaan. Kelakar-kelakar biasa saja terjadi. Bahkan bullying tidak membuat sakit baik ragawi maupun jiwani. Bisa pula terjadi suasana omongan dikaitkan dengan ayat Kitab Suci. Salah satu pengalaman berkaitan dengan kata-kata Tuhan Yesus “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut” (Mat 18:7).
Dalam makan bersama Rm. Bambang mengejek salah satu teman rama. “Njenengan niku hebat lho. Sungguh ahli roh” (Anda adalah sosok hebat. Sungguh ahli dalam urusan roh). Rama lain pun ikut menimpali dan menambah suasana riuh penuh gelak tawa. Bahkan tawa makin meledak ketika salah satu rama berkata “Nèk nyawang wong kowé mesthi isa tembus pandhang. Jeroan-jeroané ya dadi cetha” (Kalau memandang orang kamu pasti bisa melihat tembus pandang. Berbagai kedalamannya akan tampak jelas). Tiba-tiba salah satu rama usia 80an bertanya kepada Rm. Bambang “Dha omong apa?” (Apa yang dibicarakan?). Maklumlah, pendengaran rama itu sudah banyak menurun. Pada waktu Rm. Bambang menjawab sambil menunjuk rama yang jadi sasaran ejekan “Dhèké muni nèk kowé ki bagus” (Dia bilang kamu punya paras bagus). Tiba-tiba rama 80an itu berbicara dengan suara keras bagaikan membentak-bentak diarahkan ke rama yang dilaporkan oleh Rm. Bambang “Sejak dulu aku memang sudah bagus. Tidak seperti kamu”. Ternyata bentakan itu tak membuat ketakutan rama lain dan malah membuat tawa terpingkal-pingkal. Rm. Bambang berkata “Wah, aku telah membuat sesat” yang disambung Rm. Andika “Padahal yang membuat sesat anak-anak harus ditenggelamkan ke dalam laut”. Rm. Bambang langsung menyahut “Untunglah yang saya sesatkan lansia. Ternyata malah membuat gembira semua. Apakah ini penyesatan yang membawa warta Injil?”
Santo Lusianus dari Antiokhia
diambil dari katakombe.org/para-kudus Diterbitkan: 10 Maret 2016 Diperbaharui: 05 Januari 2020 Hits: 14793
- Perayaan7 Januari (Gereja Roma)
15 Oktober (Gereja Orthodox) - LahirHidup pada pertengahan abad ke-3
- Kota asalSamosta - Asia Kecil (sekarang Samsat Provinsi Adıyaman – Turki)
- Wafat
- Martir - Dibiarkan mati kelaparan dalam penjara pada tahun 312.
Sebagian tradisi menyatakan : Mati dengan dipenggal pada tahun 312 - Beatifikasi-
- Kanonisasi
- Pre-Congregation
Di kota tempat di mana rasul Paulus dan Barnabas pernah tinggal dan mewartakan iman Kristiani, Lusianus ditahbiskan menjadi seorang diakon, lalu beberapa tahun kemudian ditahbiskan menjadi imam. Kepadanya diberikan tanggung-jawab sebagai kepala sekolah Teologi di Anthiokia, sebuah sekolah tinggi ternama pada masa itu. Salah seorang muridnya yang menonjol adalah Arius, si pencetus aliran bidaah Arianisme. Lusianus juga menjalin persahabatan dengan uskup Antiokhia saat itu, Paulus, yang juga berasal dari Samosta. Kelak, Arius dengan ajaran Arianismenya serta Uskup Paulus dari Samosta dan para pengikutnya dinyatakan sesat dan diekskomunikasi oleh Gereja. Lusianus sempat diekskominukasi karena hubungannya dengan kedua tokoh sesat itu, namun segera ia dapat membuktikan kesetiaannya akan ajaran Gereja yang sejati sehingga ekskomunikasinya dicabut dan hubungannya dengan Gereja dipulihkan.
Sebagai seorang ahli Teologi dan sastra, Lusianus dapat melihat banyak kekurangan yang ada dalam terjemahan Alkitab pada masa itu. Baik dalam terjemahan Septuaginta maupun Alkitab Perjanjian Baru terjemahan Yunani. Ia menuliskan banyak catatan kritis tentang hal ini lalu berupaya membuat terjemahan yang lebih baik. Terjemahan Santo Lusianus ini kelak banyak digunakan oleh bapa gereja Santo Yohanes Krisostomus.
Tulisan Santo Lusianus juga sangat berguna bagi Santo Hieronimus, yang pada akhir abad ke-4 ditugaskan oleh paus Santo Damasus I untuk menerjemahkan Kitab Suci dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Latin. Hieronimus menyebutkan sumber dari terjemahannya pada kitab Perjanjian Lama berbahasa Yunani sebagai "Exemplaria Luciana". Terjemahan Lusianus juga dikatakan menjadi dasar dari “Textus Receptus” yang dikerjakan oleh Desiderius Erasmus meski sebagian ahli meragukannya.
Selama penganiayaan Kaisar Maximinus Daia, Santo Lucianus ditangkap dan dipenjarakan di Nikomedia. Sebagai seorang warga negara Romawi, Lusianus tidak bisa dihukum mati tanpa diadili. Karena itu ia hanya ditahan saja dalam penjara sampai sembilan tahun. Selama dalam penjara, ia harus mengalami banyak penyiksaan keji demi imannya akan Yesus Kristus. Dua kali ia dibawa ke pengadilan dan dua kali pula ia mampu membela dirinya dan imannya dengan menjawab semua pertanyaan hakim dengan sebuah kalimat pendek yang penuh makna : “Saya seorang Kristen..!!!”. Hakim tidak mampu memberikan keputusan apapun, dan Lusianus dikembalikan ke penjara.
Hari kematian santo Lusianus tidak bisa dipastikan. Sebagian tradisi menyakini bahwa ia telah dibiarkan mati kelaparan dalam penjara pada tahun 312, namun ada tradisi lain menyakini bahwa Lusianus gugur sebagai saksi Kristus dengan cara dipenggal. Sebuah tradisi lain lagi yang tidak jelas asal-usulnya menyatakan bahwa Santo Lusianus dibunuh dengan cara ditenggelamkan di laut dan tubuhnya dibawa kembali ke daratan oleh ikan lumba-lumba. Bagaimanapun cara kematiannya, namun satu hal yang pasti adalah; bahwa Santo Lusianus telah gugur dalam kekokohan iman yang tak tergoyahkan.
Ia dimakamkan di kota Drepanum, kota yang kemudian berganti nama menjadi Helenapolis untuk menghormati santa Helena, ibunda Kaisar Konstantinus Agung. Gereja Katolik Roma merayakan pesta Santo Lusianus pada setiap tanggal 7 Januari dan Gereja Ortodoks memperingati Santo Lusianus pada setiap tanggal 15 Oktober.(qq)
Lamunan Sesudah Penampakan Tuhan
Rabu, 7 Januari 2026
Markus 6:45-52
45 Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. 46 Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. 47 Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat. 48 Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka. 49 Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak, 50 sebab mereka semua melihat Dia dan merekapun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" 51 Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung, 52 sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.
Butir-butir
Permenungan
- Tampaknya, ada yang menggambarkan bahwa rasa takut itu ada pada setiap orang. Tak ada orang yang belum pernah mengalami ketakutan.
- Tampaknya, ketakutan kerap berkaitan dengan hal yang membahayakan. Berhadapan dengan hal yang mengancam hidup wajarlah kalau orang merasa ketakutan.
- Tetapi BISIK LUHUR berkata bahwa, bagi yang biasa bergaul intim dengan kedalaman batin, sekalipun ancaman hidup atau ketahuan perbuatan jahatnya terkuak wajar membuat orang ketakutan, tetapi orang akan kembali tenang kalau mampu menyadari penyertaan Tuhan dengan cahaya relung hati. Dalam yang ilahi karena kemesraannya dengan gema relung hati dalam bahaya apapun atau berhadapan dengan masalah apapun, orang akan berada dalam ketenangan batin.
Ah, yang namanya ancaman dan bahaya itu selalu menakutkan.
Monday, January 5, 2026
Rm. Andika Misa di Rumah Mas Ardi
Pada Minggu 4 Januari 2026 Domus Pacis mendapatkan kunjungan dari rombongan umat Paroki Pringwulung yang terdiri dari 2 Lingkungan, yaitu : Lingkungan Kolombo dan Lingkungan Pringgondani. Rombongan kunjungan ini minta Misa dipimpin oleh Rm. Andika, Direktur Domus Pacis Santo Petrus. Rm. Andikapun sudah siaga. Bahkan pada pagi hari itu Rm. Andika mengkoordinasi karyawan yang menyiapkan tempat dengan kursi berjumlah 70 buah. Ketika tamu sudah datang dalam sambutannya Rm. Andika juga mengatakan "Saya harus pergi, maka nanti yang akan memimpin Misa adalah Rm. Bambang".
Bahwa Rm. Andika harus tak ikut menyertai pertemuan dengan rombongan tamu dan tak jadi memimpin Misa, itu berawal dari sebuah kejadian. Pada Sabtu jam 18.54 Sabtu 3 Januari 2026 beliau menelpon Rm. Bambang. Dalam telponnya Rm. Andika meminta Rm. Bambang agar Mas Ardi, salah satu karyawan Domus, pulang. Rm. Bambang meminta salah satu karyawan mengantar Mas Ardi dengan mobil. Pada malam itu ibu Mas Ardi dipanggil oleh Tuhan. Kemudian pada Minggu 4 Januari 2026 jam 04.13 Rm. Andika mengirim pesan WA ke Rm. Bambang "Romo Bambang, menurut informasi semalam untuk pemberkatan Ibuipun Ardi, Romo Boro belum ada jawaban. Wau dalu wonten umat kontak kula, punapa mangkih Romo Bambang kemawon ingkang mimpin misa kagem umat lingkungan Kolombo, kula tak berkahn layon ting Boro. Amargi wekdalipun sami jam 11.00. Matur nuwun" (Rm. Bambang, menurut berita untuk pemberkatan ibu dari Mas Ardi belum ada jawaban dari rama Paroki Boro. Tadi malam ada umat mengontak saya. Apakah Rm. Bambang yang memimpin Misa untuk umat dari Kolombo. Saya yang berkatan jenasah di Boro. Soalnya waktunya sama, yaitu jam 11.00. Terima kasih). Rm. Bambang menyanggupi. Rm. Andika pergi ke Boro untuk memimpin Misa dan pemberkatan jenasah dari ibu Mas Ardi. Rm. Andika berangkat bersama Rm. Saptoko.Demi Domus Pacis Santo Petrus
Sekarang kisah tentang Bu Rini. Nama lengkapnya Natalia Rini Kusparwati. Di Domus Pacis dia adalah salah satu relawan di samping Bu Titik Wa...
-
"Siapakah dia?" Barangkali, kalau pertanyaan ini disertakan pada gambar foto dalam berita ini, akan ada beberapa orang yang ikut b...
-
Rm. Stefanus Istata Raharja adalah salah satu Imam Praja Keuskupan Agung Semarang. Tuhan memanggil beliau pada Minggu 5 Oktober 2025 jam 15....
-
Sejak di Domus Pacis Puren, Pringwulung, keluarga ini memang biasa berkunjung ke Rm. Bambang setahun sekali. Itu terus terjadi hingga kini R...




